[EXOFFI FREELANCE] Holler – Chapter 13

HOLLER Chapter 13

¤

HOLLER

¤

Choi’s

¤

Park Minah – Byun Baekhyun – Oh Sehun

¤

Ocs – EXO members – Others

¤

Complicated-romance – School Life – Fluff

¤

Chaptered

¤

T(eenager)

¤

The OCs and the stories are purely mine, EXO members belong to EXO-L

¤

“If you wish for it, it may be come true.”

¤

Previous Chapters

Teaser and TrailerIIIIIIIVV

VIVIIVIIIIXXXI

XII

 

 

¤ XIII ¤

 

 

“Kau akan berangkat ke Jerman sebelum ujian tengah semestermu, kau akan meneruskan sekolahmu di sana. Hyungmu akan menemanimu kurang lebih selama satu tahun karna kebetulan ia memiliki clien di Ingolstadt.”

 

Sehun termenung sambil menghabiskan segelas air putih. Ibunya pun terdiam memandang putra bungsunya dengan tatapan yang sedih. Semua orang tau bahwa kehendak Ayahnya tidak dapat di ganggu gugat oleh siapapun.

 

Ne.”

 

Seketika Ibu Sehun tersentak, terkejut karna ia benar-benar tidak menyangka Sehun akan megiyakan perkataan Ayahnya itu. Sehun. Entah mengapa satu kata yang bertentangan dengan hatinya itu lolos dari mulutnya begitu saja. Entahlah. Sehun sendiri juga tidak tau, tidak tau dengan keinginannya sendiri saat ini.

 

“Kau akan berangkat Minggu depan. Kemasi barang-barangmu, berpamitanlah dengan teman-temanmu.”

Sehun mengangguk. Ibu Sehun benar-benar tidak percaya, sedari tadi ia terus membiarkan mulutnya melongo.

 

Sepanjang perjalanan pulang, di mobil, Sehun tidak berniat untuk membahas apa yang telah ia setujui tadi. Eomma Sehun pun sepertinya mengerti, sekarang Sehun sedang ingin berpikir sendiri. Ayah Sehun tidak ikut bersama mereka karna beliau langsung kembali menuju kantor.

 

Tapi Eomma Sehun juga tidak tahan untuk menyimpan unek-uneknya, ia tidak ingin anak bungsunya ini menjadi salah pandang tentang keputusan Ayahnya tersebut.

 

Adeul (Nak), kau tau kan betapa sayangnya Eomma dan Appa kepadamu? Kami ingin kau menjadi orang yang sukses, menjalankan perusahaan besar yang dikelola Ayahmu saat ini. Siapa lagi jika bukan kau? Sangat tidak mungkin jika kami mengalih tangan perusahaan kepada orang lain padahal kami memiliki ahli warisnya.”

Sehun hanya terdiam, masih mengalihkan pandangannya berlawanan denga Ibunya namun Sehun menyimak setiap perkataan Ibunya.

 

“Kau memerlukan beberapa pengetahuan dasar yang perlu kau ketahui untuk menjalankan sebuah perusahaan, dan kau akan mempelajarinya di Jerman. Setelah kau resmi menggantikan Ayahmu, kau boleh melakukan semua yang belum sempat kau ingin lakukan.”

Ne.”

Lagi-lagi Ibu Sehun hanya memandangi putra bungsunya sambil mengelus rambut Sehun. Ini semua demi kebaikan Sehun, bukan semata demi perusahaan mereka.

 

Eomma.”

Ne adeul?”

“Ada suatu tempat yang ingin kudatangi.”

“Dimana? Baiklah kita kesana.”

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

“Baek, bisakah kita mengganti tujuan kita?”

Mina menggandeng tangan Baekhyun. Mereka baru saja menghabiskan semangkuk Ramyeon dan satu porsi ayam goreng, seperti janjinya, Mina mentraktirnya.

“Huh?”

“Bukan ke tempat karaoke, tapi aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tapi tempatnya dipinggir kota, kita perlu naik taksi untuk sampai kesana.”

“Tempat apa itu?”

“Kau akan tau nanti, aku ingin memberitahumu sesuatu.”

“Baiklah, kita kesana.”

Mina tersenyum karna Baekhyun mau menuruti ajakkannya.

 

Tempat tujuan Mina tidak lain tidak bukan adalah panti asuhan tempat ia dirawat semasa kecil. Sesampainya disana Mina kembali disambut oleh para orang tua panti, Mina membawakan beberapa buah-buahan yang bisa dimakan untuk anak-anak. Semua anak panti kebetulan hari ini sedang ada kunjungan ke Peternakan Daegwallyeong, jadi panti asuhan tersebut terlihat sepi hari ini.

 

Mina juga memperkenalkan Baekhyun pada orang tua panti, Mina memperkenalkannya sebagai temannya. Banyak dari mereka yang tentu saja tak percaya dan langsung menggoda Mina. Mina meminta ijin untuk mengajak Baekhyun berjalan-jalan mengelilingi panti.

 

Tempat pertama yang Mina dan Baekhyun kunjungi yaitu perpustakaan, tepatnya pada rak album foto. Mina menceritakan semua kejadian tentang Kyuhyun, oppanya, dan Sehun, teman masa kecilnya. Wajah Baekhyun terlihat sedikit kecut saat Mina menceritakan sedikit tentang masa kecilnya bersama Sehun.

 

Mereka lalu pergi ketaman sambil membawa sepiring Apel yang sudah dikupas, yang di berikan oleh salah satu orang tua panti. Mina dan Baekhyun duduk di bangku dekat air mancur, letaknya tepat di tengah taman. Tidak ada pohon besar yang rindang disana, untung saja cuaca hari ini berawan jadi sinar matahari tidak terlalu mengganggu mereka berdua.

 

“Aku tidak menyangka kalau ternyata Sehun sudah terlebih dulu mengenalmu.”

“Aku juga tidak Baek, bahkan aku sempat tidak ingat mengenai hal itu. Sehun pun bertingkah seperti tidak pernah terjadi apa-apa.”

 

Baekhyun yang tadinya duduk di depan Mina, kini ia berpindah ke samping Mina. Ia menggenggam kedua tangan Mina.

“Kau tau? Aku benar-benar orang paling beruntung di dunia ini.”

“Ya, karna hidupmu sempurna Baek. Kau pandai dan memiliki banyak teman.”

“Tidak, kau salah. Hidupku sangat cacat dan tidak sempurna.”

Mina terdiam, ia berharap Baekhyun akan sedikit bercerita tentang kehidupannya karna Mina baru saja menceritakan semua tentang dirinya dan keluarganya kepada Baekhyun.

 

“Sejak kecil aku dirawat oleh ibuku, karna aku tidak pernah tau siapa ayahku. Ibuku hanya memberi tahuku kalau ayahku adalah orang yang baik dan aku tidak boleh membencinya. Aku pun menurut, aku tidak pernah membenci ayahku, siapapun itu orangnya. Aku mengenal Sehun, Kyungsoo, dan juga teman-temanku yang lain saat SMP, mereka benar-benar teman yang baik. Aku juga bertemu Geumhee pada saat itu. Ibu meninggal saat aku duduk di bangku kelas VIII SMP, beberapa bulan kemudian Geumhee memutuskan hubungan kami.”

Mina mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Baekhyun.

 

“Pada saat itu aku merasa sudah tidak punya alasan lagi untuk hidup. Aku tak lagi memiliki orang tua, bahkan gadis yang sangat kucintai pada saat itu meninggalkanku. Tapi Sehun dan teman-temanku, mereka adalah alasanku untuk tetap menjalani hari-hariku, mereka adalah sumber kekuatanku. Kami bahkan memilih SMA yang sama tanpa memberi tahu satu sama lain, saat mengetahu hal itu kami semua tertawa lepas.”

“Apa Sehun juga ikut tertawa?” Mina menginterupsi. Baekhyun mengangguk. Mina tersenyum meski ia tidak pernah bisa membayangkan seperti apa tawa Sehun itu.

 

Sunyi menerpa mereka berdua. Mina asyik memperhatikan kupu-kupu yang hinggap dan berterbangan di atas bung-bunga. Terkadang ia terkejut dengan beberapa ikan di kolam yang mengibaskan ekor mereka ke permukaan, mencipratkan beberapa tetes air. Baekhyun sendiri, ia memandangi Mina, menelusup jauh ke mata Mina. Ia ingat betul kedua mata Mina yang berbinar ketika ia menyebutkan sesuatu tentang Sehun.

 

“Sehun. Pertama kali aku melihatnya, jujur aku takut padanya.”

Baekhyun sedikit tersenyum kecut melihat Mina yang kembali menoleh padanya, memusatkan perhatiannya ketika Baekhyun kembali menyebutkan Sehun.

“Kau tau sendiri kan wajahnya yang mengerikan dan sikapnya yang sangat dingin terhadap siapapun. Tapi aku mencoba untuk terus mendekatinya, entah mengapa ia terasa seperti magnet yang menarik setiap orang yang memiliki kepribadian berbeda dengannya.”

Mina mengangguk. Ia pun merasakan apa yang Baekhyun katakan.

“Tapi sebenarnya ia hanya anak mami seperti kebanyakan orang kaya lainnya. Sehun takut terhadap hal-hal kecil seperti serangga, balon, manekin, buah nanas dan tomat. Ia bahkan sangat takut pada kegelapan. Jika kau menyadari ia sangat jarang hampir tidak pernah keluar rumah saat malam hari, apalagi sendiri.”

Mina mengangguk lagi sambil menahan tawanya.

“Terkadang aku kesal terhadapnya, karna ia mengetahui semua tentangku dan teman-teman tapi kami tidak dapat mengetahui apa-apa tentang Sehun. Ia pun tidak pernah mau berecerita pada kami. Kau tau? Terkadang aku berpikir apakah Sehun itu normal atau tidak.”

“Mengapa?”

“Banyak gadis cantik di sekolah yang menyukainya, bahkan sejak kami di SMP, tapi Sehun sama sekali tidak pernah tertarik pada mereka. Bukankah itu aneh?”

Kali ini Mina melepaskan tawanya.

 

Sehun sendiri, orang yang tengah dibicarakan sedang melihat mereka berdua dari pintu panti. Ia pun ternyata juga ingin mengunjungi tempat ini. Ibunya sedang asyik bercengkerama dengan orang tua panti di ruang tamu. Sehun berdiri sudah agak lama di sana, ia sama sekali tidak punya niatan untuk menghampiri Mina dan Baekhyun di taman. Ia memilih pergi ke perpustakaan.

 

“Baek, aku ingin ke kamar mandi sebentar.”

Baekhyun mengangguk. Mina meninggalkan Baekhyun di taman. Ia sedikit berdecak mengusap rambutnya karna ia belum sempat memberitahu Mina bahwa alasan hidupnya sempurna yaitu kehadiran Mina. Baekhyun sempat tertawa karna tiba-tiba ia teringat foto masa kecil Mina, bersama Sehun. Entah mengapa Baekhyun ingin melihat lagi foto tersebut. Ia pun beranjak dari duduknya, berjalan menuju perpustakaan.

 

“Sehun-ah?”

Baekhyun sedikit terkejut mendapati Sehun yang tengah membuka album foto yang tadi Mina tunjukkan pada Baekhyun.

“Kau, sejak kapan kau berada disini?”

“Sejak tadi.”

“Haha, aku tidak menyangkan akan bertemu denganmu disini.”

“Seharusnya aku yag berkata seperti itu. Apa kau datang bersama gadis itu?” Baekhyun mengangguk. Sehun menyodorkan album foto yang ia bawa kepada Baekhyun.

“Aku sudah melihatnya, ia menunjukkan padaku tadi” Baekhyun mengambilnya, kembali melihat beberapa foto.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?” Baekhyun meneruskan.

“Apa?”

“Bahwa kau telah mengenalnya terlebih dahulu.”

Sehun kembali terdiam. Ia berpikir mencari jawaban, karna ia sendiri tidak pernah berpikir mengapa Sehun harus menceritakannya kepada Baekhyun meskipun Baekhyun adalah sahabatnya dan Mina adalah kekasih Baekhyun.

 

“Apa kau menyukainya, Sehun?”

Sehun langsung menggeleng. Baekhyun mengamati Sehun. Manik mata Sehun bergerak tidak beraturan, ia juga terus menggigit bibirnya sedari tadi.

“Apa ada yang ingin kau katakan?” Baekhyun menambahkan.

“Aku akan ke Jerman minggu depan.”

Minggu depan?”

Kedua anak adam itu terkejut, langsung menoleh kearah sumber suara. Mina, ia sedang berdiri di depan pintu.

“Mengapa tiba-tiba sekali?”

“Akhirnya kau menuruti kata Ayahmu?”

Baekhyun menyahut, ia langsung menggenggam tangan Mina saat Mina menghampiri mereka berdua. Sehun hanya mengangguk.

 

Lengang di ruangan tersebut. Ketiga anak tersebut sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba mereka kehabisan topik pembicaraan. Mereka saling menatap satu sama lain. Baekhyun tidak tau harus merasa senang atau sedih atas perkataan Sehun, ia tidak bisa membayangkan betapa sepinya hari-harinya nanti karna tidak ada lagi Sehun yang selalu ia bully. Mina sendiri, bahkan ia tidak tau apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Ia benar-benar kosong.

 

“Bagaimana dengan sekolahmu?”

Baekhyun, akhirnya memecahkan keheningan diantara mereka.

“Aku akan meneruskan sekolah kejurusan di sana.”

“Tidakkah kita harus merayakan ini? Atau membuat perpisahan? Haha maaf aku tidak tau apa yang sedang kukatakan.”

Mina terseyum, tapi matanya tidak.

“Benar Sehun, kita harus berkumpul bersama teman-teman sebelum kau pergi. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Bagaimana kalau malam ini?”

“Tidak. Aku ingin hanya kalian yang mengetahuinya.”

“Aigoo! Dasar anak bodoh! Jangan seperti itu.” Baekhyun menjitak kepala Sehun.

“Kau akan ikut kan?” Tambah Baekhyun, ia bertanya kepada Mina. Mina menggeleng.

“Kalian akan sangat membutuhkan waktu ini. Lagipula nanti malam aku sudah berjanji pada Eomma akan menemaninya memilih baju untuk press conference.” Mina mencari alasan.

 

Setelah pembicaraan itu Eomma Sehun mengajak Sehun pulang. Eomma Sehun juga sempat menyapa Mina dan Baekhyun, mengajak mereka pulang bersama namun Baekhyun menolak. Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Mina. Akhirnya Baekhyun dan Mina pulang beberapa saat sesudah Sehun dan Eomma Sehun pulang.

 

Di perjalanan pulang, Baekhyun menyadari ada yang aneh dengan Mina. Sedari tadi ia terus terdiam melihat ke arah jendela, berbeda ketika mereka berangkat tadi Mina masih ceria dan sangat bersemangat bertanya mengenai lomba Baekhyun kemarin. Saat Baekhyun menggenggam tangan Mina pun, Mina tak bereaksi bahkan tak menoleh kearah Baekhyun.

 

“Aku lupa memberitahumu alasan mengapa aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini.” Mina akhirnya menoleh kearah Baekhyun saat Baekhyun membelai rambutnya. Mata Mina berkaca-kaca dan sayu, Baekhyun sedih saat melihatnya.

“Kau Park Minah. Aku beruntung karna kau ada di sisiku. Aku menyayangimu.”

Dan lagi, bibir Mina tersenyum tapi matanya tidak.

 

Mereka berdua berjalan bergandengan tangan di jalan setapak menuju rumah mereka. Di persimpangan jalan, mereka berhenti melangkah.

“Baek,”

“Mina-ya.”

Mina memanggil Baekhyun dan Baekhyun memanggil Mina di saat yang bersamaan.

“Apa?” Baekhyun mendahalukan Mina. Mina menggeleng.

“Kau duluan.”

“Aku ingin membicarakan tentang hubungan kita, Mina-ya.”

Mina tercekat, “Aku juga.” jawabnya.

 

Baekhyun menggenggam erat kedua tangan Mina, matanya mengunci kuat mata Mina.

“Park Minah, aku sangat menyayangimu. Aku tau kau bukanlah cinta pertamaku tapi aku ingin kau menjadi yang terakhir untukku. Lengkapi kehidupanku yang cacat dan tidak sempurna ini, terimalah aku apa adanya. Kembalilah menjadi milikki lagi Park Minah, aku sangat membutuhkanmu. Aku akan bekerja keras untuk membahagiakanmu, akan kukumpulkan segalanya nanti saat aku akan menikah denganmu. Park Minah, berjanjilah padaku kau tidak akan pernah meninggalkanku.”

 

-Park Minah’s POV-

Baekhyun membuatku tak berkutik dengan runtutan kata-katanya. Aku sedikit merinding mendengarnya. Sebenarnya yang ingin aku katakan berlawanan dengan apa yang Baekhyun katakan saat ini. Aku ingin sendiri untuk sementara waktu ini, entah sampai kapan. Sebenarnya status berpacaran dengan Baekhyun tidak menggangguku, tapi aku takut aku tidak bisa menemani Baekhyun dan tidak bisa selalu ada untuk Baekhyun sebagai kekasihnya.

 

Terlebih lagi sekarang ini aku menyadari bahwa aku sering tidak membalas perkataan Baekhyun jika ia berkata ia sayang padaku atau ia merindukanku. Aku sempat berkipikir mungkin aku bosan dengannya mengingat aku memang tipe orang yang mudah bosan dengan apapun tapi tak hanya itu, berhungungan dengan Baekhyun tidak semudah yang aku bayangkan dulu.

 

Memang Baekhyun adalah orang yang sangat periang, tapi terkadang ia suka marah dan langsung membentakku saat aku melakukan sesuatu yang salah dimatanya bahkan sebelum aku menjelaskan apa alasanku. Baekhyun juga membatasi apa yang aku senangi seperti, ia melarangku untuk tidak mengikuti pramuka, menyuruhku belajar dari pada membaca novel, dan melarangku mengikuti kelas menggambar yang kebanyakan anggotanya adalah laki-laki. Tak jarang ia membentakku jika aku membantahnya. Bahkan orang tuaku sendiri tidak pernah sekalipun membentakku.

 

Aku sempat menceritakan ini kepada Kyuhyun oppa, namun ia hanya tersenyum kepadaku sambil berkata ‘Ikuti kata hatimu, tapi bawa otakmu bersamanya.’ yang sampai sekarang aku belum dapat mencerna dengan baik kata-katanya itu.

 

Disisi lain, aku tidak tega untuk meninggalkan Baekhyun. Dia telah membagi lukanya kepadaku dan aku juga ingin membantu menyembuhkan luka itu. Baekhyun tidak sesempurna seperti yang aku bayangkan dulu, tapi entah mengapa justru itu aku ingin melengkapi kekurangannya, aku ingin mengerti Baekhyun dan merubah sikapnya. Disaat keyakinan itu muncul, Sehun ikut muncul di pikiranku. Aku juga ingin mengerti Sehun dan lebih mengenalnya tapi mengingat ia yang akan pergi ke Jerman sepertinya itu akan menjadi mimpiku saja.

 

Sentuhan tangan Baekhyun di pipi kiriku menyadarkanku dari lamunan. Ia menatapku dengan remang.

“Aku tau kau sedang berpikir, sesulit itukah menjawabnya Mina-ya?”

Aku memegang punggung telapak tangan Baekhyun di pipi kiriku.

“Baek, berapa lama Sehun berada di Jerman?”

Entah mengapa bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, aku malah menanyakan hal tersebut karna memang hal itulah yang terdapat dalam pikiranku.

“Ia pernah memberitahuku dulu, mungkin dua sampai tiga tahun.”

Lama. Itu waktu yang cukup lama.

 

“Baek, bisakah aku menjawabnya setelah Sehun berangkat ke Jerman?”

“Tidak! Kenapa kau justru membawa-bawa Sehun kedalam perbincangan kita Park Minah? Dan mengapa kau tak kunjung menjawab bertanyaanku?!”

See? Baekhyun mulai meninggikan suaranya. Sifat itulah yang membuatku berpikir dua kali untuk mengiyakan pertanyaannya. Aku tidak tahu apakah aku dapat bertahan dengan sikap Baekhyun yang seperti ini.

 

“Aku takut kau akan menjawab tidak nantinya.”

Katanya, menghalus sambil merapikan rambutku. Aku menghembuskan satu hembusan nafas yang terasa sangat berat saat aku menghirupnya.

“Baek, berikan aku waktu untuk berpikir lebih lama.”

“Apa kau sudah tidak menyukaiku lagi, Park Minah? Apa kau sudah mulai bosan denganku?”

Aku menggeleng penuh penekanan.

“Tidak Baek, bukan itu. Percayalah padakau bahwa jawabanku tidak akan pernah berubah saat kau bertanya padaku lagi nanti.”

“Bagaimana aku dapat mempercayai itu?”

“Percayalah, Baek. Hanya, percayalah.”

Kini Baekhyun yang menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia menundukkan kepalanya sebentar sebelum akhirnya kembali menatapku. Kedua tangan kami masih saling berpegangan. Dapat kurasakan keringat Baekhyun ditanganku.

 

“Baiklah. Bisakah aku-men-ci-um-mu?”

 

Baekhyun terlebih dahulu mendekatkan wajahnya kepadaku sebelum aku menjawabnya. Aku memejamkan kedua mataku.

 

chup~

 

Baekhyun menempelkan bibirnya di permukaan bibirku. Cukup lama. Aku dapat merasakan deru nafasnya menyapu pipiku. Aku membuka kedua mataku, meraih kedua sisi pipi Baekhyun dan perlahan menjauhkan wajahnya.

Take your time, baby.” Bisik Baekhyun sebelum ia menjauhkan wajahnya sepenuhnya dariku. Aku mengangguk kepadanya. Baekhyun tersenyum sambil mengelus kepalaku. Aku selalu menyukainya saat Baekhyun melakukan itu.

 

“Aku percaya padamu, Park Minah.”

Aku memeluk Baekhyun. Aku hanya sedang ingin memeluknya.

 

 

-Author’s POV-

Sehun. Lagi-lagi ia melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat. Ia berdiri jauh dari Mina dan Baekhyun, sama sekali tidak dapat mendengarkan apa yang mereka katakan namun Sehun masih dapat melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Sehun memegang dadanya yang entah tiba-tiba terasa sesak disana.

 

Sehun awalnya ingin ke rumah Baekhyun untuk mengambil mobil dan beberapa barangnya. Setelah turun dari bus kota dan berjalan sebentar, langkahnya terhenti melihat kedua anak manusia itu, Baekhyun mencium Mina. Sehun tidak ingin meneruskan langkahnya karna ia tidak mau menggangu mereka berdua, ia juga tidak dapat memutar balik mencari jalan lain untuk kerumah Baekhyun karna itu sangat jauh. Akhirnya ia hanya berdiri sambil menunggu.

 

Barulah Sehun kembali melangkah saat Baekhyun mengantarkan Mina pulang.

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

“Kapan kau datang?”

Baekhyun menyapa Sehun yang sedang berdiri di depan rumah Baekhyun. Baekhyun tidak meninggalkan kunci rumahnya.

“Baru saja.”

 

Sehun mengemasi beberapa barangnya sementara Baekhyun sibuk memasukkan bajunya sendiri di mesin cuci. Setelah selesai Baekyun membantu Sehun mengeluarkan kardus berisi baju dan beberapa buku sekolah Sehun.

“Mengapa kau tidak memakai kopermu? Bukannya kau menaruhnya di bawah tempat tidur?”

“Ada barang-barang Mina didalamnya, lagi pula kardus ini juga cukup untuk mengangkat semua barangku.”

“Kau tau? Mina sempat menanyakan berapa lama kau akan berada di Jerman.”

Sehun tidak menjawab, masih menata beberapa buku di dalam kardus.

 

“Sehun?”

“…….”

“Bisakah aku memohon sesuatu padamu?”

“Apa?”

Baekhyun menatap Sehun serius. Sehunpun menghentikan aktifitasnya, beralih juga menatap Baekhyun.

“Apakah kau menyukai Mina?”

Sehun mendengus kelas, ia tidak menjawab dan melanjutkan aktifitasnya. Baekhyun masih menunggunya.

“Sudah berapa kali kau bertanya seperti itu padaku?” Kata Sehun disela-sela aktifitasnya.

“Aku hanya ingin memastikannya.”

“Bertanyalah padaku pertanyaan yang sama itu seribu kali, akan terus kujawab dengan jawaban yang sama pula.”

“Apa itu?”

“Tidak, Byun Baekhyun. Aku tidak menyukainya.”

Sehun menatap Baekhyun. Setelah itu tidak ada pembicaraan serius diantara mereka. Hanya Baekhyun yang mengeluh dengan barang Sehun yang sangat banyak dan berat untuk memasukkannya kedalam mobil. Dan Sehun yang terus terdiam sambil terus beraktifitas.

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

Malamnya, seperti kata Mina tadi, ia pergi ke butik untuk mengambil baju yang akan di pakai Eommanya besok. Tapi ia pergi sendiri diantarkan oleh Taekim ahjussi karna Eomma Mina mendadak ada acara.

 

Di sisi lain, Baekhyun, Sehun dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama sejak sore tadi di tempat karaoke. Sehun juga menceritakan kepada mereka tentang kepergiannya minggu depan. Segerombolan anak Adam tersebut sempat sedih mendengarnya, namun mereka kembali tertawa riang dan bernyanyi bersama berkat Baekhyun yang mencairkan suasana.

 

Tidak sampai jam 8 malam mereka satu persatu berpamitan pulang karena ada acara lain yang menunggu mereka. Baekhyun sendiri sudah pulang satu jam sebelumnya karna ia diberi amanah oleh Jung sonsaengnim untuk mengambil sertifikat di rumahnya. Sehun dan Kyungsoo yang terakhir di tempat itu, Sehun yang membayar tagihannya.

 

“Kau juga akan berpamitan dengan Park Minah?”

Kyungsoo tiba-tiba memulai pembicaraan saat mereka berjalan keluar.

“Untuk apa? Dia sudah tau.”

“Lalu?”

“Lalu?”

Sehun membalikkan pertanyaan Kyungsoo, ia tidak mengerti maksud pertanyaannya.

“Apa reaksinya? Dia pasti merasa sangat sedih.”

Not really.”

“Kau tau? Saat kunjungan keluar sekolah, saat kau tersesat di hutan, Mina lah yang pertama kali menyadari kau menghilang dari rombongan. Ia terlihat sangat panik, ia langsung berlari mencarimu.”

Sehun tidak merespon.

“Apa kau sudah mengucapkan terimakasih padanya? Aku tau kau pasti akan bermalam di dalam hutan menunggu terang jika saja Mina tidak menemukanmu.”

Kyungsoo menambahkan. Sehun menghentikan langkahnya sambil menatap kebawah.

 

“Sehun.”

Mina memanggil Sehun saat mereka keluar dari tempat karaoke, butik baju Eomma Mina terletak persis bersebelahan dengan tempat karaoke yang digunakan Sehun dan teman-temannya.

Ahnyeong Kyungsoo-ya.” Mina menambahkan.

Ahnyeong. Aku pergi dulu, adikku menungguku di rumah.” Kyungsoo sengaja meninggalkan Mina dan Sehun berdua.

 

“Sehun, bisakah kita bicara sebentar?”

Sehun memandang kedua tangan Mina yang membawa paper bag cukup besar, ia ingin membantunya namun entah mengapa Sehun mengurungkan niatnya. Ia hanya terdiam, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya.

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

Visit my personal blog.

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Holler – Chapter 13”

  1. huhh., sehun knapa gx ngaku aja sih kalo dia suka sama mina 😦 , kan nanti nyesel jadinya 😥

    mina mau ngomong apa? tentang perasaanya kah??
    duhh aku pnasaran nih kak
    dtunggu klanjutanya ya^^

  2. mina pengen mastiin perasaannya…gk dipungkiri lagi tuh..
    aku jg ikut sedih loh…

    aku speechless..gk tau mau komen apa…berasa banget sedihnya, kek mau ditinggal beneran…

  3. Woahhhhhh makin seru nih ff 😍
    Jangan bilang klo Mina suka sama sehun (?)
    Sehun selalu dtng di moment yg salah makanya buat dadanya sesak 😢

    From : Exoup10tion (Akun yg lama lupa pass jdi gk bisa dibuka wkwk)

  4. Ping-balik: Chaptered | Choi's

Tinggalkan Balasan ke lyoungie98 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s