[EXOFFI FREELANCE]MY LADY [ Chapter 11]

MY LADY - CHAPTER 11

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

 

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10

Sebaiknya kalian membaca chapter ini sambil dengerin lagunya Bernard Park yang judulnya DIRT. Walaupun lagunya tidak terlalu nyambung dengan cerita, tapi suasananya sangat mendukung. Selamat membaca, semoga mata kalian tidak lelah membacanya karena khusus chapter ini panjangnya hingga 7k lebih kata.

 

Entah sudah berapa lama Sena berada di dalam kegelapan itu. Karena dimensi waktu seakan tidak berlaku di dalam sana. Awalnya hanya kegelapan yang dirasakannya. Tidak ada cahaya sama sekali. Semuanya begitu gelap pekat. Rasa sakit pun tidak dirasakannya, tidak seperti sesaat sebelum Sena kehilangan kesadarannya.

Disaat kegelapan menyelimutinya, tiba-tiba Sena merasakan sebuah titik cahaya yang menyilaukan menerpanya. Pada awalnya Sena tidak bisa melihat apa-apa karena bias cahaya yang begitu menyilaukan itu. Akan tetapi, sedikit demi sedikit penglihatannya menjadi semakin jelas. Tidak ada lagi kegelapan.

Sena melirik ruangan yang sedang di tempatinya melalui ujung matanya. Apakah aku sudah meninggal? Tapi tidak mungkin di akhirat ada ruangan seperti ini. Gumam Sena dalam hatinya mengutarakan pemikirannya tentang ruangan yang di tempatinya saat ini. Sena terlalu lemah hanya untuk menggerakan kepalanya, hingga pada akhirnya dia menatap kosong ke arah langit-langit ruangan itu.

Sebuah bunyi teratur dari alat monitor pendeteksi detak jantung terdengar memenuhi ruangan tersebut membuat Sena sadar bahwa dirinya belum meninggal. Air mata kembali menyeruak keluar saat Sena mengingat kejadian terkahir sebelum dia tidak sadarkan diri. Satu hal yang belum Sena ketahui adalah keadaan bayi dalam kandungannya. Apakah dia selamat atau tidak, Sena tidak mengetahuinya.

Suara pintu terbuka membuat Sena berusaha menggerakan kepalanya untuk melihat siapa yang memasuki ruangannya. Begitu tahu siapa yang datang, air mata pun semakin deras keluar dari mata indahnya yang sekarang menampakan dengan jelas kesedihan mendalam yang dirasakannya.

“Kau sudah sadar? Apakah ada yang sakit? Kau tunggu sebentar, akan aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu.” Ucap Soojung sebelum kembali menutup pintu ruang rawat Sena sebelum Sena sempat menjawab salah satu pertanyaannya, meninggalkan Sena kembali sendirian di dalam sana.

Bukan tubuhku yang sakit, tapi hatiku jauh lebih sakit. Jawab Sena dalam hatinya. Tidak berapa lama kemudian, Soojung telah kembali dengan seorang dokter yang menangani Sena. Dokter itu memberitahu Sena bahwa bayi dalam kandungannya selamat walaupun Sena sempat mengalami pendarahan hebat. Namun, sampai sejauh ini belum bisa diketahui pertumbuhan dan perkembangan janinnya akan berjalan dengan baik atau malah terjadi masalah akibat pendarahan itu. Dokter hanya berharap Sena dapat menjaga kandungannya setelah ini. Tidak bertindak gegabah lagi. Setelah mengatakan hal itu, dokter pun pergi meninggalkan Sena dan Soojung.

Soojung duduk di kursi yang terdapat di samping tempat tidur Sena. Kemudian menatap Sena penuh kekhawatiran. “Aku tidak akan bertanya kenapa kau melakukan itu, karena itu bukan kapasitasku untuk bertanya sekalipun aku adalah sahabatmu.” Ucapnya sambil menghela napas dalam, “Aku juga tidak akan bertanya, ‘apakah kau baik-baik saja?’ karena aku tahu, kau sedang tidak baik-baik saja.” Lanjutnya yang membuat air mata Sena semakin mengalir deras tidak menanggapi apapun ucapan Soojung,

“Kau pasti lapar. Sudah berhari-hari kau tidak makan sama sekali. Aku akan bertanya pada perawat apakah kau sudah boleh makan atau tidak. Sementara aku pergi, sebaiknya kau kembali istirahat.” Ucapnya sambil membenarkan letak selimut Sena sebelum pergi meninggalkannya. Tepat sebelum Soojung menutup pintu ruangannya, dengan susah payah Sena pun berkata dengan suara seraknya, “T-terima kasih, Soojung-a.” yang dibalas dengan senyuman oleh Soojung.

Selepas kepergian Soojung, rasa kantuk pun kembali dirasakan Sena. Masih dengan sisa air matanya, Sena kembali terlelap. Tapi bukan terlelap tidak sadarkan diri seperti sebelumnya, dia hanya tertidur untuk kembali mengistirahatkan tubuhnya. Entah sudah berapa lama Sena terlelap dalam tidurnya karena saat Sena kembali membuka matanya  keadaan di luar sana masih sama seperti saat dia menutup mata.

“Kau sudah bangun?” tanya Soojung begitu melihat Sena sudah terbangun.

“Hm, berapa lama aku tertidur?” jawab Sena dengan suara seraknya.

“Cukup lama. Hampir 24 jam kau tertidur. Sudah merasa lebih baik?” tanya Soojung yang masih sibuk dengan apel yang sedang dikupasnya.

“Hm, aku haus.”

“Tunggu sebentar.” Soojung menyerahkan segelas air putih untuk diminum oleh Sena. Setelah Sena meneguknya, Soojung pun kembali meletakkan gelas tersebut di atas nakas dekat tempat tidur Sena. Beberapa alat kedokteran sudah terlepas dari tubuh Sena dan hanya menyisakkan selang infus untuk memenuhi asupan nutrisi yang tidak didapatkan Sena dari makanan.

“Kau lapar?” tanya Soojung lagi yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh Sena. Melihat hal itu, Soojung pun tersenyum dan mengambulkan semangkuk bubur untuk Sena makan. “Dokter sudah memperbolehkanmu makan, tapi untuk sementara hanya bubur saja yang bisa kau makan.” Jelasnya sambil menyuapi Sena sesendok bubur. “Bayi yang ada di dalam kandunganmu perlu makan juga, jadi makan yang banyak supaya kau cepat pulih.” Tambahnya lagi hingga tidak menyadari perubahan raut wajah Sena.

Entah apa yang ada dipikiran Sena saat itu, tanpa pikir panjang, Sena mengambil pisau yang tergelatak di atas buah apel dan mengarahkannya untuk ditusukkan pada perutnya. Namun gerakannya kalah gesit dengan gerakan Soojung. Sebelum Sena melakukan niatnya, pisau itu berhasil direbut Soojung dan dibuangnya ke sembarang arah. Bersamaan dengan jatuhnya pisau itu, sebuah tamparan keras Soojung berikan pada Sena.

“KAU SUDAH GILA??” teriak Soojung dengan napas memburunya.

“YA! Aku sudah gila! Jangan halangi niatku, biarkan aku mati bersamanya!” ucap Sena begitu putus asa. Selama beberapa menit mereka hanya saling pandang tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sena dengan tatapan memohonnya dan Soojung dengan tatapan marahnya.

“Ikut aku!” ucap Soojung menyeret Sena untuk bangun dan tidak mempedulikan keadaannya saat ini. Walaupun dengan keadaannya yang masih lemah, Sena tetap mengikuti ke mana Soojung akan membawanya. Dengan  terseok-seok Sena berusaha mengikuti langkah kaki Soojung. Lalu saat Soojung sudah berada di tempat yang ditujunya, dia menyentakkan genggaman tangannya pada Sena hingga membuat Sena sedikit kelimbungan.

“Lihatlah!” bentak Soojung membuat Sena menorehkan kepalanya ke arah ruangan yang ada dibalik kaca di samping kirinya. Selama beberapa saat Sena hanya memperhatikannya dengan pandangan kosongnya.

“Kau tidak ingin melihatnya lahir ke dunia ini?” tanya Soojung sambil menahan tangisannya saat melihat keadaan Sena yang diam saja. “Aku tidak tahu seberapa besar kesalahan dari ayah bayimu, tapi bayimu tidak bersalah sama sekali. Jadi jangan kau limpahkan kemarahanmu pada makhluk yang tidak berdosa itu.” Ucapnya begitu menggebu-gebu. “Kau tahu, di dunia ini ada beribu-ribu bahkan mungkin berjuta-juta pasangan yang tidak bisa memiliki anak karena Tuhan tidak mempercayai mereka bisa merawat malaikat kecilnya itu dengan baik.” Soojung menatap Sena dalam sambil mencoba tersenyum di tengah tangisannya.

“Kau beruntung. Kau sangat beruntung karena Tuhan masih mempercayakan salah satu malaikat kecilnya untuk kau jaga. Jangan sia-siakan dia. Dia berhak untuk hidup juga, jangan kau merenggutnya di saat Tuhan masih memberikannya kehidupan padanya. Bagaimana bisa kau disebut sebagai seorang dokter yang akan menyelamatkan nyawa orang lain jika pada akhirnya kau membunuh darah dagingmu sendiri, hm? Kalau kau tidak menginginkannya untuk kau rawat, biarkan aku yang akan merawatnya. Biarkan aku menjadi ibunya untuk seterusnya. Kau hanya perlu menjaganya selama dia dalam kandunganmu, setelah itu kau bisa memberikannya padaku, arrachi? Aku harap kau mau memikirkannya.” Soojung menepuk pundak Sena dan berjalan meninggalkannya di depan ruangan itu, berharap Sena dapat memikirkannya dengan baik-baik.

Selepas kepergian Soojung, Sena kembali mengalihkan pandangannya pada dinding kaca tersebut. Air matanya semakin deras mengalir saat melihat beberapa bayi yang berada di dalam ruangan tersebut. Ada bayi yang sedang tertidur pulas, ada bayi yang sedang menangis, dan ada pula bayi yang sedang tersenyum entah melihat apa.

Tangis Sena semakin pecah saat melihat ke arah bayi yang sedang tersenyum itu. Sena menangis sambil tersenyum saat menatap bayi itu. Sena menyadari betapa bodohnya dia hingga ingin membunuh malaikat kecil seperti yang ada di ruangan itu. Sena jatuh terduduk sambil terus menangis karena merutuki kebodohannya selama ini. Memukul-mukul dadanya berharap rasa sakit yang dideritanya berkurang. Terkadang beberapa orang yang berjalan melewatinya bertanya ‘apa yang terjadi?’ atau ‘apakah ada bagian tubuhnya yang sakit?’ atau ‘apakah dia baik-baik saja?’. Semua pertanyaan itu tidak ada satu pun yang dijawab olehnya. Sena hanya terus menangis sebagai jawabannya.

Saat itu Sena menyadari satu hal, ibu macam apa yang tega membunuh darah dagingnya sendiri? Bahkan hewan buas sekalipun tidak akan menyakiti anaknya seujung kuku jari pun. Dan Sena sadar bahwa dia telah menjadi seorang ibu yang buruk. Sena telah gagal menjaga dan merawat anaknya sendiri. Untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu, mulai saat itu juga Sena bertekad akan menjaga anaknya apapun yang terjadi di masa depan nanti. Bahkan jika keluarganya tidak mau menerimanya lagi karena aib yang dibawanya, Sena rela, asalkan dia bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya kelak. Dan Sena juga bertekad untuk tidak memberitahu Baekhyun dengan keadaannya saat ini. Dia terlalu takut mendapatkan penolakan Baekhyun jikalau dia tidak menginginkan anaknya sendiri. Biarlah dia yang menanggungnya sendiri, walaupun itu terasa sangat berat di usianya yang masih muda.

Soojung memeluk Sena saat tahu keputusan apa yang telah diambil oleh sahabatnya itu. Mereka menangis bersama, seakan merasakan kepedihan yang sama. “Aku akan selalu ada di sampingmu.” Janjinya pada Sena.

Gomawoyo, Soojung-ah.”

Setelah satu bulan di rawat di rumah sakit untuk memulihkan kembali kesehatannya karena kandungannya yang lemah, Sena pun keluar dan pulang kembali ke asramanya. Walaupun masih belum terlalu jelas, tapi perut Sena sudah sedikit menonjol seiring dengan bertambahnya usia kehamilannya.

“Kau akan mengambil cuti kuliah?”

“Hm, tapi tidak untuk semester ini.”

“Kau tahu bahwa kau tidak boleh terlalu stres dan terlalu lelah?”

“Kau sudah mengingatkan aku untuk yang keseribu kalinya, Soojung-ah.” Jawab Sena sambil memutarkan matanya jengah mendengar nasehat sahabatnya yang selalu sama. Soojung tersenyum ke arah Sena yang membuat Sena akhirnya membalas senyumannya.

“Aku hanya khawatir.”

Arra. Gomawo.”

“Kau akan tinggal di mana saat cuti nanti?”

“Entahlah. Mungkin menyewa sebuah apartemen dekat kampus.”

“Aku ikut denganmu.”

“Sesukamu.” Jawab Sena pura-pura acuh akan keinginan Soojung. Padahal dalam hati dia sungguh mensyukuri Soojung mau tinggal bersamanya selama kehamilan ini. Setidaknya dia merasa tidak sendirian.

Dua bulan terakhir semester itu benar-benar terasa berat bagi Sena. Selain karena dia ketinggalan mata kuliah selama hampir sebulan lamanya, Sena juga harus benar-benar belajar dengan giat untuk melakukan beberapa ujian yang sempat tidak diikutinya. Semuanya terasa seperti di neraka.

Pengajuan untuk mengambil cuti kuliah pun diterima oleh pihak universitasnya, tapi dengan syarat Sena harus keluar dari kamar asramanya. Saat mendekati penghujung semester, Sena dan Soojung pun sibuk berkemas untuk pindah. Mereka menyewa sebuah apartemen yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk mereka tempati.

Tidak terasa usia kandungan Sena pun sudah menginjak delapan bulan dan itu artinya sekitar sebulan lagi dia akan melahirkan. Walaupun Sena sudah sering mengikuti senam hamil dan berlatih pernapasan saat proses melahirkan nanti, rasa gugup dan cemas pun tetap dirasakannya. Selama masa kehamilan ini Sena tidak pernah mengidamkan sesuatu yang akan membuat Soojung kerepotan. Pada awal kehamilan Sena memang sering mengalami muntah-muntah, tapi segera berakhir setelah Sena memasuki triwulan terakhir. Hingga suatu hari, entah kenapa Sena begitu menginginkan sesuatu dan itu karena tiba-tiba dia melihat sebuah foto terbaru dari Baekhyun yang diunggah oleh teman-temannya yang satu universitas dengan Baekhyun.

Sena terus memandangi foto tersebut dengan begitu intensnya. Mengingat kembali kejadian-kejadian yang pernah terjadi antara dirinya dan Baekhyun. Mulai dari kejadian manis hingga kejadian menyebalkan pun terus berputar-putar di pikirannya. Terkadang membuat Sena tersenyum saat mengingatnya. Saking terlarutnya Sena dengan lamunannya, hingga dia tidak menyadari keberadaan Soojung yang sedang berdiri di belakangnya sambil ikut memperhatikan foto Baekhyun yang sedang dipandangi Sena dari handphonenya.

Awalnya Soojung ingin memberikan kejutan pada Sena dengan membawakan makanan kesukaan Sena, tapi saat dia memasuki apartemen, dilihatnya Sena sedang duduk membelakanginya dan tidak menyadari kepulangannya. Dengan mengendap-ngendap Soojung berjalan ke arah Sena dan melihat apa yang sedang ia lakukan hingga tidak menyadari kedatangannya. Betapa terkejutnya Soojung saat melihat Sena sedang memperhatikan sebuah foto seorang pria yang menurutnya cukup tampan.

Siapa yang tidak akan berpikir tampan jika dalam foto itu Baekhyun sedang memakai sebuah kaca mata hitam, rambut coklatnya tertutupi topi warna abu. Sebuah hoodie warna hitam, celana jeans yang berlubang di setiap bagian lututnya, ditambah sebuah sepatu sneakers warna abu polos digunakannya. Tidak lupa sebuah tas ransel dibiarkan menggantung begiu saja di salah satu pundaknya. Siapapun yang melihat tampilan Baekhyun saat ini akan berpikir bahwa Baekhyun memang tampan.

“Dia cukup tampan juga.” Bisik Soojung yang membuat Sena memutarkan wajahnya untuk menghadap Soojung yang ada di belakangnya. Raut wajah terkejut tidak bisa ditutupi oleh Sena, dan Soojung yang melihatnya langsung tersenyum menggoda ke arahnya.

“Aku akan rela menyerahkan diriku padanya jika dia memang ayah dari anakku.”

“I-ini t-tidak seperti yang kau pikirkan.” Ucap Sena terbata-bata menjawab perkataan Soojung yang mana malah membuat senyuman Soojung semakin merekah saja.

“Kau pikir apa yang sedang aku pikirkan, eoh?” godanya yang membuat wajah Sena bersemu merah menahan malu.

“Oh…i-itu…hm…a-…” Sena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tidak tahu harus menjawab apa.

“Kau merindukannya?” tanya Soojung yang langsung membuat Sena berhenti melakukan tindakan konyolnya seketika. Sena menundukkan wajahnya menatap perutnya yang besar, lalu mengelusnya perlahan.

“Kau sangat merindukannya?” mendengar pertanyaan Soojung tentang Baekhyun membuat pertahanan Sena runtuh seketika. Entah kenapa akhir-akhir ini Sena sulit untuk mengendalikan emosinya yang terus beruba-ubah. Air  mata menetes dari wajahnya yang berusaha dia sembunyikan agar tidak ketahuan oleh Soojung. Walaupun Soojung tidak melihatnya dengan jelas, tapi dia tahu bahwa saat ini Sena sedang menangis.

“Kau pasti sangat merindukannya.” Sena hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pernyataan yang dilontarkan Soojung padanya. “Apakah aku bisa melakukan sesuatu untuk mengobati rasa rindumu padanya?”

“T-tidak usah, nanti juga akan lupa. Aku baik-baik saja, dan aku tidak mau merepotkanmu lagi karena kau sudah banyak membantuku selama ini.” Jawab Sena sambil menyeka air matanya berusaha melapangkan hatinya.

“Aku tidak keberatan dengan semua yang telah aku lakukan untukmu. Aku juga tidak keberatan untuk menjadi stalkernya hanya untuk membantumu.” Sena kembali menangis saat mendengar ucapan Soojung.

Selama beberapa menit Sena terus saja menangis karena masih mempertahankan egonya untuk tidak mengakui bahwa dia memang merindukan Baekhyun. Sebaik apapun Sena menyembunyikan sesuatu dari Soojung, dia pasti akan tetap mengetahuinya. Tapi Soojung berusaha sabar dengan menunggu Sena untuk mengatakannya sendiri, bukan karena paksaannya. Setelah berperang dengan egonya, akhirnya Sena tidak bisa lagi menutupi semuanya dan memilih untuk menyerah. “A-ku…s-sangat…me-merindukannya.” Ucapnya tersendat-sendat menahan gejolak perasaannya sendiri.

Tidak tahan melihat sahabatnya sedang menangis, Soojung pun ikut menangis sambil memeluk Sena dari samping. Mengerti akan keinginan Sena yang sulit untuk bisa diucapkan, Soojung pun hanya menepuk-nepuk pundak Sena menenangkannya. “Aku akan membantumu, kau tenang saja.” Tangis Sena pun pecah.

Keesokan harinya Soojung berangkat ke Korea karena keadaan Sena yang tidak memungkinkan untuk pulang ke sana. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Soojung pun lebih memilih untuk beristirahat sehari dulu di apartemen miliknya yang ada di Seoul sebelum dia melakukan aksinya. Dia mengabari Sena bahwa dia sudah tiba dengan selamat di Korea. Hari yang ditunggu pun tiba. Soojung mempersiapkan segala keperluannya sebelum berangkat ke SNU tempat di mana Baekhyun menimba ilmu.

Soojung berusaha menyamar berpenampilan seperti mahasiswa pada umumnya agar tidak ada yang mengenalinya bahwa dia bukan mahasiswa di SNU, dan itu berhasil. Berdasarkan informasi dari Sena, Baekhyun mengambil jurusan manajemen bisnis yang membuat Soojung tidak perlu repot-repot mengelilingi SNU hanya untuk mengetahui keberadaan Baekhyun.

Tidak perlu menunggu waktu yang lama, keberadaan Baekhyun pun segera diketahuinya. Bagaimana tidak memerlukan waktu lama, keberadaan Baekhyun yang selalu dikelilingi wanita membuatnya mudah untuk ditemukan. Dari jarak yang cukup jauh, Soojung mengambil beberapa foto Baekhyun secara diam-diam. Terkadang dia akan berdecak jengkel saat melihat ada beberapa wanita yang begitu menempel pada Baekhyun tapi Baekhyun tidak terlihat risih sama sekali karena ekspresi wajah Baekhyun datar-datar saja. Tidak menolak ataupun menerimanya sekalipun. “Dasar buaya. Pura-pura jual mahal. Pantas saja Sena pergi meninggalkannya.” Ucap Soojung begitu jengkel tapi masih terus mempotret Baekhyun.

Setelah foto yang dia ambil dirasa cukup, dia segera mengirimkan foto tersebut ke Sena lewat akun line-nya. Tidak hanya beberapa foto, tapi video kegiatan Baekhyun pun kadang Soojung kirimkan pada Sena. Soojung terus melakukan hal yang sama, menjadi stalker Baekhyun, selama hampir seminggu karena dia tidak bisa terlalu lama di Korea dengan mengabaikan kuliahnya di Zurich. Di hari terakhirnya di SNU, Soojung banyak mempotret Baekhyun hingga saking asyiknya mempotret, dia tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengamatinya. Kai, sahabat Baekhyun.

Pada awalnya Kai mengabaikan keberadaan Soojung, tapi kegiatan terang-terangan yang dilakukan Soojung selama hampir seminggu ini membuatnya risih juga. Diam-diam juga memperhatikan Soojung dari kejauhan. Dan satu hal yang disadarinya setelah sekian lama mengamati Soojung adalah bahwa Soojung bukan berasal dari universitas yang sama dengannya dan Baekhyun. Hal ini diketahui Kai setelah dia berhasil membobol server milik universitasnya, dan itu membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelidiki siapa sebenarnya wanita yang terus menguntit Baekhyun selama seminggu terakhir itu.

Dengan langkah ringannya, Kai mendekati Soojung dari arah belakangnya membuat Soojung tidak menyadari keberadaannya. Mengamati apa yang sedang dilakukan Soojung dari jarak yang begitu dekat. Saat Soojung membalikkan badannya, dan berjalan ke arahnya sambil mengamati hasil bidikannya, Kai pun segera melangkahkan kakinya berjalan berlawanan arah dengan Soojung dan berhenti tepat di hadapan Soojung yang belum menyadari keberadaannya. Karena keberadaan Kai yang begitu tiba-tiba di depannya, dan Soojung yang berjalan tidak melihat ke depan, akhirnya tubuhnya pun membentur badan Kai yang ada di depannya.

“Ah..jeosonghamnida.” ucap Soojung sambil menundukkan kepalanya tanpa melihat wajah orang yang telah ditabraknya. Sedikit mengelus keningnya, Soojung pun meneruskan langkahnya dengan melewati Kai begitu saja. Melihat Soojung yang berjalan begitu saja, terbesit perasaan kesal di hati Kai karena merasa diabaikan begitu saja.

Sebelum Soojung melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, Kai langsung menahan pergelangan tangan Soojung dan membaliknya paksa. Soojung mengernyit heran pada Kai, orang asing yang telah berani-beraninya memperlakukannya sedikit kasar diawal pertemuan mereka. “Bukankah aku tadi sudah meminta maaf?” tanya Soojung yang tidak bisa menyembunyikan nada herannya karena Kai tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Kai mengabaikan pertanyaan Soojung padanya.

“Apa urusanmu bertanya siapa aku?”

“Kau bukan orang Korea, mau apa kau sebenarnya?” tanya Kai lagi begitu penasaran saat mendengarkan dialek aneh Soojung ketika dia berbicara bahasa Korea.

Soojung menyetakkan genggaman tangan Kai pada pergelangan tangannya. “Aku tidak kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, tuan. Kalau kau mencegatku hanya untuk bertanya tidak sopan seperti itu pada orang asing, lebih baik aku pergi. Selamat Tinggal.” Ucap Soojung tidak bisa menyembunyikan nada kesalnya pada Kai.

Kai hanya menatap punggung Soojung yang berjalan semakin menjauh. Rasa penasaran begitu menguasainya, tapi sayang, rasa penasarannya harus dikubur dalam-dalam. Kai tidak bisa menyelidiki siapa sebenarnya wanita yang terus menguntit Baekhyun selama seminggu terakhir ini disaat Kai tidak mengetahui nama wanita yang sudah membuatnya penasaran itu. Kai hanya berharap waktu akan mempertemukan mereka kembali dan memberinya kesempatan untuk lebih mengenal wanita misterius itu.

Di lain pihak, setelah Soojung meninggalkan Kai, pria asing yang tiba-tiba bertanya siapa sebenarnya Soojung, membuatnya menggerutu kesal tidak jelas sepanjang perjalanan pulangnya ke apartemen. Seperti biasa, Soojung akan mengirimkan hasil bidikannya pada Sena setelah dia sampai di apartemennya. Tidak lupa dia juga bercerita tentang kejadian yang dia alami selama seharian ini. Setelah puas bercerita, Soojung pun berkemas karena penerbangannya kembali Zurich keesokan harinya.

Tiga minggu setelah kepulangan Soojung dari Korea, Sena pun melahirkan. Proses melahirkan ini maju dua minggu dari perkiraan awal. Semua proses melelahkan dan menyakitkan itu hanya ditemani oleh Soojung. Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat membuat Sena dan Soojung menyambutnya dengan penuh suka cita. Bayi itu diberi nama, Lee Jaehyun atau Jayden Lee. Tapi semua kebahagian Sena sirna saat dia mengetahui kondisi kesehatan bayinya.

Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, ternyata bayi Jaehyun menderita kelainan jantung bawaan dan divonis dokter tidak bisa bertahan hingga usia dewasa. Bahkan jika Jaehyun bisa melewati tahun pertamanya dengan selamat, itu merupakan sebuah anugerah yang diberikan Tuhan pada Jaehyun. Sena begitu terpukul dengan keadaan bayinya dan terus menyalahkan dirinya sendiri saat dia ingat pendarahan yang pernah dialaminya saat awal-awal kehamilannya. Tidak hanya Sena yang terpukul, tapi Soojung juga begitu terpukul. Walaupun mereka selalu berusaha saling menguatkan, tapi semuanya terlalu berat bagi mereka. Sena dan Soojung belum siap jika harus kehilangan Jaehyun yang masih bayi.

Penyakit jantung bawaan yang diderita Jaehyun berupa terjadinya kebocoran pada jantung. Penyakit jantung bawaan atau PJB adalah kelainan struktur dan fungsi jantung yang ditemukan sejak bayi dilahirkan. Kelainan ini terjadi pada saat janin berkembang dalam kandungan. PJB yang paling banyak ditemukan adalah kelainan pada septum bilik jantung atau dikenal dengan sebutan ventricular septal defect (VSD) atau sekat bilik jantung berlubang, seperti yang dialami Jaehyun saat ini.

VSD adalah kelainan jantung berupa lubang pada sekat antarbilik jantung yang menyebabkan kebocoran aliran darah pada bilik kiri dan kanan jantung. Kebocoran ini membuat sebagian darah kaya oksigen kembali ke paru-paru sehingga menghalangi darah rendah oksigen memasuki paru-paru. Bila lubangnya kecil, VSD tidak memberikan masalah berarti. Bila besar, bayi dapat mengalami gagal jantung. VSD adalah kelainan jantung bawaan yang paling sering terjadi. Gejala utama yang diderita Jaehyun karena kelainan ini adalah kesulitan menyusui dan gangguan pertumbuhan, napasnya pendek dan mudah lelah. Jaehyun mengalami VSD besar sehingga menyebabkan dia bisa cepat tidur setelah kurang menyusui, lalu bangun sebentar karena lapar, mencoba menyusu lagi tetapi cepat kelelahan, tertidur lagi, dan seterusnya.

Sekuat tenaga mereka berusaha agar Jaehyun tetap bertahan hidup. Walaupun penyakitnya bisa ditangani dengan jalan operasi, tapi mengingat Jaehyun masih sangat bayi, semuanya terlalu beresiko sehingga Sena hanya berharap Tuhan tidak mengambilnya sewaktu-waktu sebelum operasi itu dijalani bayinya.

Cuti kuliah yang diambil Sena awalnya hanya satu tahun, dia perpanjang lagi selama satu tahun karena dia ingin mencurahkan seluruh perhatiannya pada anaknya. Pada saat usia Jaehyun menginjak satu tahun, dia pun menjalani operasi pertamanya dan itu berhasil walaupun perasaan cemas terus menghantui Sena. Jaehyun tidak bisa tumbuh seperti anak normal lainnya. Jaehyun tetap tidak boleh melakukan aktivitas yang memerlukan fisik yang terlalu berat, sehingga Sena benar-benar mengawasi Jaehyun dua puluh empat jam penuh.

Tidak terasa umur Jaehyun pun sudah hampir tiga tahun. Tiga tahun berjalan terlalu cepat bagi Sena, karena walaupun Jaehyun tidak tumbuh seperti anak normal pada umumnya, tapi bagi Sena, Jaehyun tetap tumbuh seperti anak lainnya. Jaehyun kecil yang selalu bertanya kenapa dia tidak diperbolehkan untuk berlari atau pun bermain bola, membuat Sena menitikkan air matanya. Sena selalu berusaha memberikan pengertian pada Jaehyun bahwa sekarang dirinya tidak boleh dulu berlari atau bermain sepak bola karena itu tidak baik bagi kesehatannya. Terkadang Jaehyun menerima alasan itu, tapi terkadang pula Jaehyun tidak mempedulikan ibunya dan lebih memilih berlari atau bermain sepak bola dengan anak lainnya di sekitar lingkungan apartemennya. Namun, baru lima menit dia berlari, Jaehyun langsung jatuh pingsan dan terpaksa harus dibawa ke rumah sakit karena keadaannya yang kritis.

Hal itu membuat keadaannya semakin parah. Jaitan bekas operasi di dalam jantungnya terbuka kembali dan mengharuskannya di operasi untuk yang kedua kalinya. Mengetahui Jaehyun kembali kritis membuat Sena langsung pingsan karena terlalu terkejut. Setelah dia sadar, dia akan menyalahkan dirinya lagi karena tidak bisa menjaga Jaehyun lebih baik lagi. Dari awal memang dokter memberi peringatan jangan sampai Jaehyun melakukan aktivitas berat di masa pertumbuhannya. Karena pada proses ini, jantung Jaehyun masih dalam tahap berkembang sehingga ada kemungkinan akan terjadi lagi kebocoran atau tidak berkembangnya jantung Jaehyun.

Walaupun tindakan operasi masih bisa dilakukan, tapi hal itu memiliki resiko lebih tinggi pada operasi kedua dan seterusnya. Bahkan bisa menyebabkan kematian. Mengetahui puteranya berada dalam ambang kematian, mau tidak mau Sena pun mengambil resiko untuk melakukan operasi kedua. Dia lebih memilih Jaehyun meninggal di meja operasi dari pada melihat Jaehyun meninggal di depan matanya tanpa melakukan apapun untuk menolongnya.

Operasi kedua pun kembali dijalani oleh Jaehyun kecil. Meskipun dia sempat koma selama beberapa hari, pada akhirnya Jaehyun pun tersadar. Namun, sesuatu menggores hati Sena saat pertama kalinya Jaehyun sadar. Dia menanyakan keberadaan ayahnya. Sebesar dan sekuat apapun Sena menutupi Baekhyun sebagai ayahnya, Jaehyun tetap menanyakan ayahnya, hingga pada akhirnya Sena menyerah dan memperlihatkan foto wajah Baekhyun yang diambil Soojung tiga tahun lalu pada Jaehyun.

Melihat pancaran kebahagiaan dari Jaehyun membuat Sena menangis dalam diam. Sena tidak tahu harus berbuat apa jika saja Jaehyun meminta untuk bertemu dengan ayahnya dan itu terjadi. Walaupun Sena harus berbohong jika ayah Jaehyun jauh di Korea dan sedang sibuk dengan pekerjaannya, Jaehyun tetap memaksanya ingin bertemu dengan ayahnya. Tidak kuasa dengan permintaan puteranya, pada akhirnya Sena mengabulkan hal itu tapi dengan satu syarat, bahwa Jaehyun harus sembuh terlebih dahulu. Mendengar permintaannya dipenuhi Sena, Jaehyun pun senang bukan main, hingga tanpa sadar Sena pun ikut tersenyum walaupun dalam hatinya dia menangis, karena tahu resiko apa yang akan didapatkannya jika dia membawa Jaehyun ke Korea.

“Apa kau yakin?” tanya Soojung menghampiri Sena yang sedang berdiri di dekat jendela kamar rawat Jaehyun sambil menerawang ke depan. “Kau tahu kan resikonya seperti apa?”

“Aku tidak punya pilihan.” Jawab Sena sambil mengusap air matanya yang tidak sengaja menetes. Untuk kesekian kalinya dia menangis dalam tiga tahun ini, tapi entah kenapa ia merasa air matanya tidak pernah habis walaupun hampir setiap harinya dia menangis.

“Kenapa kau tidak menyuruh ayahnya untuk datang ke sini saja? Bukankah itu lebih aman?”

“Setahuku Baekhyun tidak bisa datang ke daerah netral. Dan musuhnya di Eropa tidak akan semudah itu mengijinkan Baekhyun untuk menginjakkan kakinya di daerahnya, kecuali ada sesuatu yang harus dibayar mahal oleh Baekhyun.”

Soojung mengangguk-anggukkan kepalanya paham akan situasi yang dialami Sena. Soojung mengetahui siapa sebenarnya Baekhyun sesaat setelah dia pulang dari Korea tiga tahun lalu, dan setelah itu dia mengerti semuanya.

“Bayaran semahal apapun akan terdengar pantas jika memang harus bertemu dengan anak kandungnya sendiri.”

“Bagaimana jika setelah kejadian waktu itu dia tidak mau menemuiku? Bagaimana jika dia hanya memanfaatkanku? Bagaimana jika dia tidak mau mengakui Jaehyun?”

“Kau tidak tahu apa yang ada dipikirannya, Na-ya. Tapi jika kau sudah memutuskan untuk membawa Jaehyun ke Korea, aku akan menemanimu.”

“Aku terlalu bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Di satu sisi aku ingin membahagiakan puteraku, tapi di sisi lain aku malah membawanya mendekat pada kematiannya. Di sisi lain aku ingin menjaganya dari dunia luar termasuk ayahnya, tapi di sisi berlawanannya aku tidak bisa melihat puteraku tidak bahagia karenaku.” Sena pun menumpahkan segala kekhawatirannya selama ini. “Aku ingin dia tidak menderita lagi, tapi aku belum siap untuk kehilangannya. Bayangan kematiannya selama tiga tahun ini selalu mencekikku. Membuatku tidak bisa bernapas, tapi aku selalu ingin berada di sampingnya walaupun itu membuatku dan dia sama-sama menderita.”

Sena pun berbalik menatap Jaehyun yang sedang tertidur pulas. Mengamati gurat wajahnya yang persis sama dengan Baekhyun. Semuanya mirip Baekhyun, kemiripan yang dipunyanya hanya mata dan rambutnya saja. Selain itu semua mirip Baekhyun. Sena merasa semakin sesak saat memikirkan Baekhyun dan Jaehyun bersamaan membuatnya selalu menangis. Perasaan antara benci dan cinta Sena pada Baekhyun semakin tipis jaraknya setelah kehadiran Jaehyun di hidupnya.

“Besok kita harus mendiskusikan ini pada dokter Smith yang merawat Jaehyun, apakah dia boleh dibawa ke Korea atau tidak.” Ucap Soojung mencoba menenangkan Sena dan dijawab anggukkan kepala oleh Sena. “Istirahatlah. Jaehyun membutuhkan ibunya untuk tetap sehat.”

Setelah berdiskusi dengan dokter, akhirnya Jaehyun diijinkan untuk pergi ke Korea jika kesehatan Jaehyun sudah pulih seperti sedia kala walaupun resiko yang diambil sangat besar. Dokter tetap memperingatkan Sena agar Jaehyun jangan sampai kelelahan dan jangan sampai lupa minum obat. Hari yang ditunggu-tunggu oleh Jaehyun akhirnya tiba. Tidak hentinya-hentinya dia bernyanyi sambil terus memanggil ayah yang tidak pernah ditemuinya sepanjang perjalanan menuju Korea, karena saking bahagianya.

Sena tidak langsung membawa Jaehyun menemui Baekhyun karena Jaehyun butuh waktu untuk istirahat. Sena, Jaehyun dan Soojung tinggal di apartemen Soojung selama mereka berada di Korea. Sesampainya mereka di Korea, Jaehyun terus saja merengek pada Sena kapan dia bisa bertemu dengan ayahnya seperti sekarang ini.

Eo-mmah, kapan Jay bisa bertemu appa?” tanyanya dengan mulut penuh makanan karena Sena sedang menyuapinya.

“Kunyah dulu makanannya baru berbicara, Jaehyun-na.” Tegur Sena yang membuat Jaehyun mengerucutkan bibirnya kesal. Sena yang tidak tahan pun akhirnya menyerah. “Besok. Tapi Jaehyun harus makan yang banyak dan tidak lupa minum obat, arrachi?”

Jaehyun pun tersenyum dan mengangguk penuh semangat ke arah Sena. Tidak pernah dilihatnya Jaehyun sesemangat seperti saat ini. Bahkan dijanjikan untuk bisa bermain bola pun tidak sampai sesemangat seperti sekarang. Sementara Jaehyun begitu semangat menantikan hari esok, di lain sisi Sena berusaha menguatkan hatinya untuk menghadapi hari esok.

Tidak seperi biasanya Jaehyun bangun lebih dulu dibandingkan Sena dan Soojung. Dengan begitu semangatnya dia membangun kedua ibunya itu agar cepat-cepat bersiap untuk membawanya ke ayahnya. Mereka pun berangkat menuju SNU untuk menemui Baekhyun, karena Sena tidak pernah memberitahunya jika dia sudah pulang ke Korea.

Perasaan Sena semakin tidak menentu saat mereka memasuki gerbang kawasan universitas itu. Ingin sekali dia mengurungkan rencananya itu, tapi saat melihat wajah Jaehyun yang terus tersenyum membuatnya mau tidak mau terus melangkah maju. Seakan mengerti keadaan Sena, Soojung pun memegang tangan Sena. Mencoba menguatkannya.

Soojung bercerita jika Baekhyun suka berkumpul dengan teman-temannya di taman yang ada di dekat gedung fakultasnya. Mobil yang dikendarai Soojung pun berhenti di parkiran fakultas itu. Mereka berjalan berdampingan dengan Jaehyun berada di tengah-tengah. Sena menggenggam tangan Jaehyun erat, takut sewaktu-waktu Jaehyun akan berlari menuju ayahnya.

Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka bertiga, menatapnya aneh karena tidak biasanya ada seorang anak kecil masuk ke lingkungan universitas itu. Sebisa mungkin Sena mengabaikan tatapan yang ditujukkan pada mereka itu. Walaupun wajahnya menunjukkan raut biasa-biasa saja, tapi hati dan jantungnya tidak berkata demikian. Semakin mereka memasuki kawasan itu, semakin cepat pula detak jantung yang Sena rasakan. Keringat dingin karena gugup keluar dari tubuhnya. Untuk pertama kalinya selama tiga tahun ini dia akan bertemu kembali dengan Baekhyun, ayah dari Jaehyun.

Sebuah taman dengan padang rumputnya yang hijau dan luas pun menyambut Sena. Di sudut-sudut taman ada kursi dan meja yang diperuntukkan untuk mahasiswa. Keadaan taman yang tidak terlalu ramai membuat Sena menghela napas lega. Sena mengedarkan pandangannya ke segala penjuru taman untuk mencari keberadaan Baekhyun. Namun, hasilnya nihil karena dia tidak menemukan keberadaan Baekhyun di sana. Hingga pada akhirnya Sena pun menyerah, dan memilih untuk beristirahat di salah satu bangku taman.

Sena memandang wajah Jaehyun yang tidak henti-hentinya tersenyum sambil mengedarkan mata jernihnya mencari sosok sang ayah. Perasaan lelahnya tertutupi dengan perasaan senang luar biasa. Tapi Sena tahu jika saat ini Jaehyun juga begitu kelelahan. Sena dan Soojung memandang Jaehyun dengan perasaan khawatir.

“Jay-ya. Bagaimana kalau kita pulang saja, hm? Besok mommy dan eomma akan menemanimu kembali ke sini untuk bertemu dengan appa, bagaimana?” bujuk Soojung karena tahu Sena tidak dapat membujuk Jaehyun untuk pulang dan istirahat.

Shireo!! Jaehyun mau menunggu appa.” Jawabnya yang membuat Sena dan Soojung menghela napas dalam.

“Baiklah, kalau Jaehyun tetap memaksa. Eomma tidak akan memaksamu untuk pulang. Tapi Jaehyun mau kan istirahat dulu di pangkuan eomma?” bujuk Sena kali ini yang tidak bisa ditolak oleh Jaehyun.

“Hm, Jaehyun sangat capek, eomma.” Keluh Jaehyun sambil beranjak untuk duduk di pangkuan Sena. Sena mengelus sayang kepala bagian belakang Jaehyun.

“Jaehyun lapar?” tanya Sena yang dibalas anggukkan kepala karena Jaehyun sudah mulai memasuki alam mimpinya.

Mommy, akan belikan makanan.” Soojung pun beranjak dari bangku itu untuk membeli makanan di kantin yang ada di fakultas itu. “Aku pergi sebentar.” Pamitnya sambil menepuk pundak Sena. Sena menatap punggung Soojung yang kian menjauh, kemudian beralih menatap wajah Jaehyun yang tertidur karena kelelahan. Diciumnya pelan kening Jaehyun yang penuh dengan keringat.

Sepuluh menit setelah kepergian Soojung, tiba-tiba Sena merasa ingin ke kamar mandi tapi dia tidak tega jika harus meninggalkan Jaehyun sendirian. Tapi Sena juga tidak bisa membawa Jaehyun ke kamar mandi. Sena pun mengedarkan pandangannya untuk melihat siapa yang bisa diminta tolongnya untuk menjaga Jaehyun sementara. Dengan sedikit terpaksa, Sena meletakkan Jaehyun di atas meja perlahan-lahan takut Jaehyun terbangun dari tidurnya. Sena mengecup kening Jaehyun sebelum meninggalkannya.

Sena berjalan ke arah sekelompok mahasiswa yang sedang duduk tidak jauh darinya. “Per-misi..” ucap Sena kaku yang membuat sekelompok itu menatapnya aneh. Sena tersenyum kaku ke arah mereka yang mau tidak mau membalas senyumannya. “B-bisa kah saya meminta tolong?”

“Apa yang bisa kami bantu?” jawab salah seorang mahasiswa karena tidak tega melihat wajah Sena yang seperti sedang menahan sesuatu.

“Saya hanya ingin pergi ke toilet sebentar, tapi anakku sedang tertidur di sana.” Tunjuknya ke arah Jaehyun yang sedang tidur di atas meja tidak jauh dari mereka membuat semua perhatian kelompok itu mengikutinya. “Bisakah kalian menjaganya selama saya pergi?” lanjutnya sedikit ragu dengan keputusannya saat ini.

“Anda tidak berencana untuk membuangnya, kan?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Saya hanya ingin pergi ke toilet sebentar lalu kembali lagi.” Jawab Sena cepat saat mendengar pertanyaan lain yang sedikit menyinggungnya. Enak saja berpikir aku akan membuang anakku sendiri. Bahkan melepaskannya untuk kembali ke Tuhan saja aku tidak sanggup. Gerutu Sena dalam hati.

“Baiklah. Kami harap anda segera kembali.” Sena pun tersenyum ke arah mereka sambil membungkukkan badannya.

Gamsahamnida. Saya akan segera kembali.” Sena langsung bergegas pergi karena tidak mau Jaehyun bangun sebelum dia datang.

Di sisi lain, Baekhyun yang baru saja selesai mengikuti mata kuliah pun berjalan ke arah taman tempat di mana dia, Chanyeol, dan Kai sering berkumpul bersama. Matanya terus tertuju ke arah handphone nya saat berjalan memasuki taman, hingga dia tidak menyadari keadaan taman saat ini. Baekhyun terlalu sibuk berkirim pesan dengan Kai dan Chanyeol karena memang saat ini mereka belum berkumpul. Mereka bertiga mengambil jurusan yang berbeda. Baekhyun di manajemen bisnis, Kai di ilmu informatika, sedangkan Chanyeol di hukum. Tapi mereka bertiga sering berkumpul di taman fakultas Baekhyun.

Tanpa memikirkan arah, Baekhyun terus berjalan ke arah salah satu bangku untuk menunggu kedua sahabatnya. Fokusnya tiba-tiba buyar saat dia mendengar suara tangisan anak kecil di dekatnya. Betapa terkejutnya Baekhyun saat mengamati anak yang terus menangis itu.

“Huwaa…eomma…eomma….” teriaknya sambil menangis membuat sebagian mahasiswa menatap Baekhyun dan anak itu bergantian. Baekhyun yang tidak tahu harus bagaimana menghentikan tangisan itu hanya menatap tajam ke arah mahasiswa yang sedang memperhatikannya.

Eomma…Jaehyun ingin eomma….huwaa…eomma…” teriaknya lagi membuat Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ingin rasanya dia meninggalkan bangku itu saat ini juga karena tidak tahan dengan tangisan Jaehyun, tapi semua itu diurungkannya saat memperhatikan wajah Jaehyun yang terlihat sangat familiar di matanya. Setelah memperhatikan dari jarak yang begitu dekat, Baekhyun pun tersadar jika Jaehyun sangat mirip dengannya saat dia masih kecil. Tiba-tiba dia merasakan perasaan aneh saat menatap wajah Jaehyun yang sedang menangis keras mencari ibunya.

Karena tidak tega melihat Jaehyun yang terus menangis, Baekhyun pun meraih Jaehyun untuk digendongnya. Saat Jaehyun di dalam gendongannya, perasaan antara senang dan sedih pun dirasakan Baekhyun. Perasaannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semuanya terlalu mendadak dan Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa selain menggendongnya. Berharap hal itu dapat meredakan tangisannya.

Eomma…” rengek Jaehyun saat dirasakannya ada yang sedang menggendongnya. Tangisan Jaehyun pun reda saat melihat wajah Baekhyun ada di depan wajahnya. Mereka berdua hanya terdiam sambil mengamati wajah masing-masing. Setelah menyadari siapa yang menggendongnya, Jaehyun pun tersenyum begitu lebarnya pada Baekhyun lalu memeluk leher Baekhyun begitu eratnya.

Appa…” panggilnya yang membuat tubuh Baekhyun kaku seketika. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya, di usianya yang masih sangat muda akan ada seseorang yang memanggilnya appa seperti saat ini. “Appa…” ulang Jaehyun sambil menenggelamkan wajahnya pada leher Baekhyun.

Awalnya Baekhyun ingin protes, tapi melihat begitu eratnya Jaehyun memeluknya membuatnya dia tidak tega melepaskan pelukannya. Takut menyakiti perasaan Jaehyun. “Appa, Jaehyun sangat merindukan appa.”  Ucapnya yang membuat tangan Baekhyun bergerak otomatis menepuk-nepuk punggung Jaehyun. Entah kenapa mendengar hal itu membuat Baekhyun tersenyum walaupun sebenarnya dia tidak yakin jika kata-kata itu ditunjukkan padanya atau untuk orang lain yang mungkin mirip dengannya.

“Bola! Appa bola!” seru Jaehyun begitu semangat saat melihat beberapa mahasiswa sedang bermain sepak bola.

“J-Jaehyun, ingin bermain bola?” tanya Baekhyun heran pada dirinya sendiri bisa-bisa bertanya seperti itu pada anak yang tidak dikenalnya.

Nde. Appa temani Jaehyun bermain, eoh?”

Melihat binar kebahagiaan dalam nada suara anak yang ada di gendongannya membuat Baekhyun tidak kuasa untuk menolaknya.

“Baiklah. Appa akan menemani Jaehyun bermain. Tapi sebelum itu, kita harus membeli bola yang lebih kecil untuk kita bermain. Kajja!” ajak Baekhyun yang membuat Jaehyun kembali memeluk leher Baekhyun sambil tertawa senang. Mendengar dirinya sendiri mengucapkan appa membawa kesenangan tersendiri bagi Baekhyun.

Tanpa Baekhyun sadari, dari kejauhan Soojung memperhatikannya saat dia sedang menggendong Jaehyun. Awalnya Soojung ingin mendekat saat mendengar tangisan Jaehyun, tapi dia urungkan niatnya saat melihat Baekhyun ada di sana. Soojung memperhatikan semuanya, dan tersenyum saat melihat keduanya juga sedang tersenyum.

Diam-diam Soojung mengikuti kemana Baekhyun melangkah membawa Jaehyun. Ternyata Baekhyun membawa Jaehyun ke sebuah minimarket  untuk membeli sebuah bola sepak kecil. Baekhyun dan Jaehyun terlihat seperti ayah dan anak walaupun dalam kenyataannya memang seperti itu. Sekali lihat wajah mereka saja, sudah bisa ditebak jika Jaehyun adalah anak dari Baekhyun. Tapi sampai saat ini Baekhyun masih belum menyadarinya. Dia masih menyangkal jika Jaehyun adalah anaknya. Dia beranggapan bahwa Jaehyun hanya salah seorang anak yang kebetulan mirip dengannya tapi bukan anaknya.

Setelah membeli bola yang dimaksud, Baekhyun dan Jaehyun kembali ke taman untuk bermain bola bersama. Saat mengetahui tujuan Baekhyun, Soojung ingin segera melarangnya, tapi semua rencananya lagi-lagi gagal saat melihat wajah bahagia Jaehyun. Jaehyun tertawa begitu lepasnya saat bermain bola dengan Baekhyun. Begitu juga sebaliknya. Diam-diam dia mempotret kegiatan Baekhyun dan Jaehyun, sambil sesekali ikut tersenyum ke arah mereka.

Namun senyumannya hilang saat Soojung melihat Sena berdiri kaku tidak jauh darinya dengan pandangan mata menatap ke arah Baekhyun dan Jaehyun yang sedang bermain bola. Soojung segera menghampiri Sena yang akan melangkahkan kakinya ke arah ayah dan anak itu untuk menghentikan permainan mereka karena akan berbahaya bagi Jaehyun. Tapi langkahnya terhenti oleh sebuah tangan membuat Sena menatap Soojung yang sedang menahannya dengan tatapan marahnya.

“Lepaskan!!” desis Sena marah karena Soojung tidak mau melepaskannya. Soojung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas permintaan Sena membuat Sena meneteskan air matanya.

“Lepaskan tanganmu, Jung Soojung!!”

“Tidak! Tidakkah kau melihat dia begitu bahagia bisa bermain dengan ayahnya?” Soojung menatap Sena lekat meminta agar dia dapat mengerti dan membiarkan Jaehyun membuat kenangan yang bahagia bersama ayahnya.

“Tidak!” jawab Sena menyangkalnya sambil berusaha melepaskan cengkramannya.

“Bukankah kau ingin memberinya kado terindah?” tanya Soojung lagi yang membuat Sena menghentikan pergerakkannya sebentar sebelum menatap Soojung dengan perasaan marah bukan main.

“Kau membuatku membawanya pada kematian, kau tahu?” bentak Sena.

Arra. Dan aku juga belum siap jika harus kehilangannya walaupun aku bukan ibu kandungnya.” Balas Soojung membentak Sena. “Tapi lihatlah!” tunjuk Soojung ke arah Baekhyun dan Jaehyun membuat Sena mengikutinya. “Tidak kah kau melihat betapa bahagianya Jaehyun saat bermain bersama ayahnya? Sekeras apapun kita mencoba untuk membahagiakannya, Jaehyun tidak pernah tertawa lepas seperti itu.” Jelas Soojung sambil menahan air matanya.

Sena jatuh terduduk dengan lemasnya saat memperhatikan apa yang sedang Jaehyun dan Baekhyun lakukan. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Hatinya hancur, tapi dia juga bahagia saat melihat Jaehyun juga bahagia. “Aku membawanya pada malaikat kematian, Soojung-ah.” Ucap Sena begitu tercekat.

“Tapi setidaknya kita memberikan kado terindah untuknya, Sena-ya.”

“Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik untuknya?”

“Kau adalah ibu terbaik untuknya.”

“Jaehyun-na…” lirih Sena memanggil puteranya. Mungkin ini saatnya dia melepaskan puteranya itu walaupun perasaan tidak rela begitu dirasakannya.

Soojung mengusap air matanya kasar sebelum berkata pada Sena. “Aku akan membawanya pulang. Tunggulah di mobil.” Setelah itu Soojung melangkah mendekati Baekhyun dan Jaehyun. Sena hanya bisa memandangnya dari kejauhan tanpa bisa berbuat apa-apa karena sejujurnya dia belum siap bertemu dengan Baekhyun kembali. Sena langsung berdiri begitu melihat Soojung sudah berada di dekat Jaehyun dan Baekhyun. Meninggalkan taman itu sebelum Baekhyun menyadari kehadirannya.

Sedangkan Soojung berusaha meredakan kegugupannya karena berada di dekat Baekhyun. Dengan suara yang sedikit bergetar, Soojung memanggil Jaehyun dan berhasil membuat perhatian Jaehyun teralih. “J-Jay-ya…” Jaehyun langsung berbalik dan sedikit berlari ke arah Soojung yang memanggilnya.

Mommy….” pekiknya begitu bahagia sambil berlari ke arah Soojung yang sedang merentangkan tangannya, menunggu balasan pelukkan dari Jaehyun. Detik berikutnya Jaehyun sudah ada di dalam pelukkannya. Sebisa mungkin dia menahan tangisnya saat melihat Jaehyun melakukan apa yang dilarang padanya.

Eomma mana?” tanya Jaehyun sambil melonggarkan pelukkannya.

Eomma ada di mobil sedang menunggu kita. Kita pulang ya? Waktunya minum obatmu.”

“Baiklah.” Jawab Jaehyun lesu karena berarti kesenangannya akan berakhir sebentar lagi.

“Anak pintar.”

“Apakah besok Jaehyun boleh bermain lagi dengan appa?”tanya Jaehyun membuat Soojung hanya tersenyum ke arahnya sebagai jawaban atas pertanyaan Jaehyun padanya. “Asyiik..”

Jaehyun langsung melepaskan pelukkannya pada Soojung dan beralih pada Baekhyun yang sedang memperhatikannya.

Appa, Jaehyun pulang dulu, nde? Besok appa temani Jaehyun bermain bola lagi, janji?” ucapnya sambil memeluk kaki Baekhyun.

Mendengar permintaan Jaehyun itu membuat Baekhyun tidak bisa menolaknya. Baekhyun pun membawa Jaehyun ke dalam gendongannya dan entah kenapa ini terasa seperti salam perpisahan yang sedang dilakukan Jaehyun padanya.  “Baiklah, besok kita bermain lagi.” Ucapnya sambil menurunkan Jaehyun dari gendongannya.

Soojung berjalan semakin mendekat, dan begitu berdiri di depan Baekhyun, ia membungkukkan badannya. “Terima kasih sudah menjaga Jaehyun selama aku pergi.”

“Tidak masalah.”

“Kalau begitu kami permisi. Jay-ya, ayo kita pulang.”

Nde, mommy.” Jaehyun kembali mendekati Baekhyun yang membuat Baekhyun berjongkok agar tingginya setara dengan Jaehyun. Tanpa Baekhyun duga, Jaehyun mencium singkat kedua pipi Baekhyun membuatnya terperangah akan kelakuan Jaehyun yang tiba-tiba itu. “Sampai jumpa besok appa. Bye-bye…”

Soojung langsung menggendong Jaehyun setelah ucapan perpisahan itu. Sebelum berbalik Soojung membungkuk ke arah Baekhyun dan dibalas hal yang sama oleh Baekhyun. Setelah itu Soojung berjalan meninggalkan Baekhyun yang terus berdiri sambil memandang Jaehyun yang semakin menjauh. Sesekali Jaehyun akan melambaikan tangannya yang akan dibalas lambaian tangan oleh Baekhyun pula.

Setelah Jaehyun menghilang dari pandangannya, perasaan tidak rela pun menyesakkan dada Baekhyun. Ada rasa sedih saat Baekhyun mengetahui jika ibu yang dipanggil oleh Jaehyun bukan orang yang diharapkannya. Baekhyun tersenyum kecut memikirkan harapan itu karena semua itu hanya sebuah harapan saja. Saat Baekhyun ingin mengejar Jaehyun, panggilan dari Chanyeol membuatnya tidak jadi mengejar Jaehyun walaupun rasa penasaran itu begitu mendominasinya. Besok. Janjinya lebih kepada diri sendiri dan Baekhyun tidak sabar menunggu hari esok tiba.

Sedangkan di parkiran, Sena menunggu dengan cemas kedatangan Soojung dan Jaehyun. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Sena bisa mendengar suara tawa yang mendekat dari seseorang yang begitu dihafalnya. Sena tersenyum ke arah Jaehyun dan Soojung yang sedang berjalan ke arahnya. Walaupun Sena tersenyum, tapi dalam hatinya dia sangat cemas dengan keadaan Jaehyun.

Eomma!!” teriak Jaehyun meminta Sena untuk ganti menggendongnya. “Jaehyun hari ini sangat bahagia.”

“B-benarkah?”

“Hm, ternyata appa sangat jago main bola. Dan besok appa berjanji akan bermain lagi sama Jaehyun.” Sena semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar keinginan Jaehyun.

Eomma akan mengijinkanmu bermain lagi dengan appa jika Jaehyun mau minum obat dan beristirahat.”

Nde. Jaehyun akan rutin minum obat biar Jaehyun bisa bermain lagi dengan appa.”

Hati Sena sakit saat mendengarnya. “Geurae. Jaehyun harus sembuh agar Jaehyun bisa bermain sepuasnya dengan appa. Sekarang kita pulang, ya?”

Soojung hanya memperhatikannya sambil tersenyum. Kemudian mereka memasuki mobil Soojung. Jaehyun masih saja berada dalam gendongan Sena, karena Sena memang tidak mau melepaskannya barang sedetik pun. Takut dia tidak akan merasakannya lagi.

Eomma, Jaehyun capek.” Keluhnya sambil mengeratkan pelukkannya pada Sena dan dibalas dengan pelukkan erat juga oleh Sena.

“Tidurlah. Eomma akan memelukmu selama kau tidur.”

“Jaehyun sayang eomma dan mommy. Jaehyun juga sayang appa.”

“Eomma juga sayang Jaehyun. Tidurlah.” Sena lalu menepuk-nepuk punggung Jaehyun,  berusaha menidurkannya. Helaan napas teratur Jaehyun dirasakannya membuat Sena sesekali mengecup kening Jaehyun.

“Kau yakin kita akan pulang ke apartemen?” tanya Soojung dengan pandangan terus menatap jalanan.

“Tidak. Kita akan ke rumah sakit. Aku tidak mau mengambil resiko dengan membawanya pulang ke rumah.” Jawab Sena sambil memperhatikan wajah terlelap Jaehyun.

Lima belas menit mereka berkendara perasaan Sena semakin tidak enak saat merasakan napas pendek-pendek Jaehyun dalam pelukkannya. Sena langsung memperhatikan dengan lekat wajah Jaehyun. Wajah Jaehyun begitu pucat, keringat dingin bercucuran dari wajahnya, dan Sena dapat merasakan detak jantung Jaehyun yang berdetak tidak normal.

Sena semakin mengeratkan pelukkannya pada Jaehyun, merasakan perubahan suhu tubuh Jaehyun yang perlahan berubah. Setetes air mata keluar dari matanya saat menyadari keadaan Jaehyun yang tidak sedang baik-baik saja. Helaan napas Jaehyun semakin samar dirasakan Sena. Sena semakin mendekatkan Jaehyun pada tubuhnya sambil menangis dalam diam. Mencium kening Jaehyun berkali-kali dengan penuh sayang. Selama itu pula Sena mencoba terus memantau keadaan Jaehyun.

Perlahan, napas Jaehyun semakin tidak dirasakannya. Detak jantung Jaehyun yang memang sudah melemah, perlahan mulai berhenti berdetak. Dan suhu tubuhnya pun perlahan menurun seiring dengan berjalannya waktu. Sena terus mengeratkan pelukkannya berharap malaikat kematian mengurungkan niatnya untuk membawa Jaehyun saat melihat kegigihannya yang tidak ingin melepaskan Jaehyun. Tapi itu semua percuma, karena pada akhirnya Jaehyun tetap pergi.

Setelah tidak merasakan adanya pergerakkan lagi dari Jaehyun, Sena melonggarkan dekapannya untuk menatap wajah Jaehyun selagi dia bisa. Entah harus sedih atau bahagia saat Sena melihat wajah Jaehyun yang sedang tersenyum dalam tidur panjangnya. Air mata semakin mengalir deras saat memerhatikannya. Dielusnya pipi Jaehyun sayang sebelum Sena menciumnya. Sedangkan Soojung masih belum menyadari keadaan di sekitarnya karena dia terlalu fokus pada mengemudi.

“Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik bagi Jaehyun?” tanya Sena dengan suara seraknya membuat Soojung menatapnya sekilas sambil mengernyit heran.

“Tentu saja. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau kau adalah ibu terbaik untuknya.”

“Tapi aku merasa belum menjadi ibu yang baik untuknya.” Jawab Sena sambil mengusap pipi dingin Jaehyun.

“Berhentilah berpikiran buruk. Saat ini yang harus kita pikirkan adalah kesehatan Jaehyun.”

“Dia sudah pergi Soojung-ah. Dia sudah pergi meninggalkan kita.” Ucap Sena membuat Soojung menginjak rem seketika di tengah jalan. Soojung menatap Sena tidak percaya, tapi saat Soojung mengalihkan tatapannya pada Jaehyun yang tidak bergerak sama sekali, dan wajahnya yang semakin pucat membuat Soojung menitikkan air mata seketika. Sena terus mengelus pipi Jaehyun yang berada dipelukkannya sambil tersenyum dengan air mata yang terus menetes. “Aku harap, aku sudah menjadi ibu yang baik untuknya.” Sena kembali mengecup kening Jaehyun selagi dia bisa, karena dia tahu ini adalah hari terakhirnya dapat mengamati wajah malaikat kecilnya itu.

Dengan tangan bergetar, Soojung kembali menjalan mobilnya tetap berusaha berkonsentrasi walaupun itu sangat sulit dia dapatkannya. Sedangkan Sena kembali mengeratkan pelukkannya pada Jaehyun. “Eomma harap sudah memberikan hadiah terbaik untukmu sebelum pergi meninggalkan eomma. Eomma sangat sayang Jaehyun.”

Itulah hari terakhir Sena bersama dengan Jaehyun dan Sena tidak menyesalinya sudah mempertemukan Jaehyun dengan ayahnya di saat-saat terakhirnya. Sebenarnya Sena sudah tahu resiko apa yang akan didapatnya jika mengabulkan keinginan Jaehyun untuk bepergian jauh padahal kesehatannya tidak mendukungnya sama sekali. Tapi sekali lagi, dia sungguh ingin membahagiakan anaknya walaupun itu akan menjadi kenangan terakhirnya.

Sena menguburkan Jaehyun di salah satu pemakaman umum yang ada di Seoul. Sena terus menatap kosong ke arah makam Jaehyun sambil terus mengusapnya. Air mata tidak pernah berhenti keluar dari matanya. Terlalu berat baginya untuk meninggalkan kawasan tersebut walaupun dia sudah ada di sama selama empat jam penuh.

“Apakah ini yang terbaik untuknya?” tanyanya mengeluarkan kegundahannya selama ini.

“Kau sudah mengusahakan yang terbaik untuknya selama ini. Aku yakin ini memang yang terbaik untuk mengakhiri penderitaannya.” Ucap Soojung sambil mengelus pundak Sena. “Kita harus pergi sekarang. Pesawat kita akan take off dua jam lagi.”

“Aku tidak yakin meninggalkannya sendiri. Apakah dia bahagia jika aku meninggalkannya?”

“Aku yakin dia sangat bahagia.”

Dengan berat hati, Sena pun harus mengucapkan kata-kata perpisahan pada makam Jaehyun.

Eomma akan menjengukmu saat eomma punya waktu luang.” Sena mendekatkan wajahnya untuk mencium nisan Jaehyun. “Eomma sangat menyayangi Jaehyun.”

Setelah mengatakan itu, Sena dibantu Soojung untuk berjalan meninggalkan kawasan pemakaman itu. Wajah Sena terus menatap ke arah nisan yang semakin menjauh itu. Walaupun berat tapi Sena harus tetap melanjutkan hidupnya dengan luka yang sangat lebar karena ditinggalkan oleh orang yang begitu dicintainya. Hari itu juga Sena meninggalkan Korea dengan luka untuk yang kedua kalinya. Dan tentang Jaehyun, Sena akan menyimpannya dalam hati. Mengenangnya sebagai kenangan terindah dalam hidupnya walaupun penuh luka harus dijalaninya. Sena bertekad untuk tidak akan memberitahu pada siapa pun, termasuk Baekhyun sekalipun.

~ Flashback Off ~

~ tbc ~

Aku tidak menyangka bahwa chapter ini bakal sepanjang ini. Selamat bagi kalian yang masih betah membacanya hingga akhir. Entah kenapa pas nulis chap ini aku juga ingin nangis. Mungkin karena lagu yang sedang aku dengerin yang membangun suasana sedih dalam cerita ini. Tapi lagunya pas banget, bahkan terkadang aku benar-benar merasa sedih saat menulisnya. Dan aku harap perasaanku ini sampai ke kalian yang membacanya. Ini chapter akhir cerita flashback mereka, untuk chap selanjutnya akan kembali ke masa sekarang.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya

Bye-bye…

Regards, Azalea

91 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE]MY LADY [ Chapter 11]”

  1. awalnya dibuat seneng karena soojung ketemu sama jongin maklum lah kaistal shipper tapi dibuat mewek mulai dari jay ketemu baekhyun sampai akhirnya meninggal

  2. Sumpah chapter ini sedih banget😢😢 ternyata kehidupan sena berat banget yaa.. Kasihan jaehyun meninggal.. Baekhyun juga feelingnya bagus banget.. Pokoknya nangis pas baca chapter ini😢😢😢

  3. Thor, gw komen rangkap sama chapter 10 ya.
    Gw suka banget sama kehadiran krystal dicerita ini, apa lagi pas ketemu Kai di kampus. Berharapnya si ada kisahnya ttg Kai x Krystal juga wkwk
    Ternyata kehidupannya Sena penuh cobaan banget ya, untung aja Bakhyun pernah ketemu sama Jayden sebelum dia meninggal.

  4. Jung soojung mommy😍😍😍
    Sedih bangett si sena😢
    Baek belom tahu jay yg sebenarnya, ehh jay dah pergi duluan untk selamanya.
    😭😭😭
    Baiklah kalau itu yg terbaik.
    Nanti mereka bakal bahagia kann😁😁???
    Aku bakal nunggu mereka bahagia😀😀😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s