[EXOFFI FREELANCE] Real Life Of Idol (Chapter 10)

rloi11

Title : Real Life of Idol (Part 10)

Author : Sellafeb (@sellafeb)

Cast : Jung Jijae (OC) | Oh Sehun (EXO) | Kim Kai (EXO) | Kang Seulgi (Red Velvet)

Support Cast : SMFAMILY

Genre : Romance, Angst, Idol-life, Hurt.

Rating : PG-15

Lenght : Chaptered

Happy Reading^^

Real Life of Idol – I wan’t you

Seulgi melihat semuanya. Kebersamaan Sehun dan Jijae, begitupun juga dengan banner itu. Dia menundukan kepalanya, kemudian menghela napasnya.

Seulgi meninggalkan panggung dan pergi ke toilet. Seulgi membasuh wajahnya. Setelah itu, dia menatap pantulan dirinya dicermin.

“Aku yang kekasihnya Sehun. Seharusnya bukan JJJ tapi KSG. Kenapa kalian membuat itu?” Racau Seulgi.

Seulgi mengepal tangannya, “Aku akan menghancurkanmu, Jung Jijae. Aku harus menyingkirkanmu. Harus!”

Real Life of Idol – I wan’t you

Jijae menatap jam yang melilit pergelangan tangannya. Duduk dengan perasaan yang sedikit gugup. Memikirkan apa yang harus ia lakukan saat Sehun datang. Jijae mengeluarkan ponselnya yang ada disakunya.

Kembali membaca pesan dari Sehun. Dia hanya mau memastikan kalau ini bukanlah khayalannya saja.

Jijae-ya, makan malamlah bersamaku! Tunggu aku dilobi gedung SM jam 8 malam. Ini bukan sebuah tawaran, jadi kau tidak boleh menolak. Kalau kau tidak datang aku akan menunggumu sampai kau datang. Jadi jangan sampai terlambat. Sampai ketemu, JJJ-ssi.

Jijae tersenyum. Ini bukan khayalan ‘kan? –Batin Jijae.

Jijae kembali melihat jam tangannya. Sudah jam 8 malam. Jijae melihat ke arah luar gedung. Tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Sehun. Jijae menghela napasnya.

Dia pasti datang ‘kan? Dia yang mengajakku, jadi tidak mungkin dia tidak datang ‘kan? Iya ‘kan? –Batin Jijae.

Jijae kembali melihat jam tangannya. Sudah jam 8 lewat 10 menit. Jijae menundukan kepalanya.

Apa aku sedang dicampakan? –Batin Jijae.

Jijae bangkit dari kursinya. Dia merasa kecewa. Seharusnya aku tidak berharap banyak padanya. –Batin Jijae.

Jijae hendak melangkah pergi dari sana. Tapi tiba-tiba dari luar gedung Sehun berlari seperti orang gila. Dia berhenti didepan Jijae seraya mengatur napasnya. Jijae kaget karena Sehun berlari seperti itu.

“Wae? Kenapa kau lari?” Heran Jijae.

Sehun menengok jam tangannya, “Aku telat 10 menit 23 detik. Mian.”

Jijae hanya melongo mendengar itu. Dia berlari karena aku? –Batin Jijae.

“Kau sudah menunggu lama? Mianhae.”

“Aniya, gwenchana. Tapi… Kenapa kau lari?” Jijae penasaran dengan jawaban Sehun.

“Tentu saja karenamu. Ini kencan pertama kita, mana boleh aku terlambat? Lagipula kenapa van itu mogok disaat yang tidak tepat? Ah, aku benar-benar tidak pandai berlari. Maaf karena membuatmu menunggu lama.” Sehun tersenyum dikalimat terakhirnya.

Jijae tersenyum malu. Dia tidak menyangka jawaban Sehun akan semanis ini.

Sehun merangkul bahu mungil Jijae. Jijae langsung kaget dibuatnya dan menatap bingung Sehun. Sehun juga tengah menatap Jijae.

“Wae? Apa salah aku merangkul kekasihku sendiri?”

Jijae tertawa.

“Wae? Kenapa kau tertawa?” Heran Sehun.

“Kekasih? Siapa bilang aku kekasihmu, Sehun-ssi?” Jijae menatap Sehun dengan tatapan menggoda.

Sehun melepaskan rangkulan itu seraya tertawa mengejek dirinya sendiri.

“Inikah yang namanya dicampakan? Wah, lalu apa maksudmu kau mau menjadi ice princess untukku? Apa itu namanya bukan cinta?” Sehun melipat kedua tangannya didepan dada.

“Apa kau pernah menyatakan perasaanmu padaku? Apa itu namanya kekasih?” Balas Jijae yang juga melipat kedua tangannya didepan dada.

“Geurae, kalau itu yang kau mau.” Sehun menatap Jijae, kemudian berlutut didepan Jijae.

Jijae kaget setengah mati karena itu, kemudian dia menengok ke kanan-kiri panik.

“Yak! Apa yang kau lakukan? Cepat bangun!” Panik Jijae.

“Kau bilang untuk menyatakan perasaan, aku akan melakukannya.”

“Tapi… Tidak seperti ini. Cepat bangun!” Jijae mengecilkan suaranya, “Oppa, cepat bangun!” Jijae menarik-narik mantel Sehun.

Semakin banyak yang lalu-lalang disana, seakan-akan Jijae ingin menutup wajah dan membuangnya saja. Dia benar-benar merasa malu sekarang. Dia terus menutupi wajahnya dengan paniknya.

“Apa kau malu karena aku melakukan ini?” Sehun menatap kesal Jijae, wajah kesal yang sangat imut.

“Geurae, benar-benar malu. Cepat bangun!” Jijae terus menarik-narik mantel Sehun.

Red Velvet keluar dari lift, Seulgi yang tadinya tengah tertawa bahagia dengan membernya langsung merubah ekspresinya. Ke-4 member Red Velvet seakan ingin menutup mata Seulgi agar tidak melihat ini. Mereka tahu bagaimana sakitnya perasaan Seulgi sekarang.

Sementara itu, member EXO hendak memasuki gedung, wajah lelah mereka sangat terlihat.

“Kalau saja van tidak mogok, kita tidak harus jalan kaki seperti ini.” Keluh Chen, “Tapi… Kita yang jalan kaki saja serasa mau mati, apalagi Sehun yang berlari?” Chen mengingat Sehun yang langsung berlari saat tahu van mereka mogok.

Baekhyun yang jalan paling dahulu dengan otomatis menjadi member EXO pertama yang melihat adegan romantis yang gagal dari Sehun dan Jijae.

“Ige mwoya? Kenapa maknae menggunakan cara kolot seperti itu?” Baekhyun mendesis heran.

Chanyeol dan Chen tertawa kecil melihat itu. Sedangkan Kai terbakar api cemburu. Kyungsoo melirik Kai, dia sedang menatap lesu ke arah Sehun dan Jijae.

Kai langsung mengedarkan pandangannya ke tempat lain. Matanya menangkap Seulgi yang tengah menatap tajam Sehun dan Jijae. Kai menghela napasnya kasar.

Dari luar gedung SM, member Section turun dari van.

“Kenapa maknae berangkat lebih dulu, ya? Apa dia membuat lagu?” Tanya Minji.

“Mungkin ada janji.” Balas Yoonji, “Kajja.” Yoonji dan member Section yang lain berjalan menuju gedung.

“Kenapa mereka berdiri disana?” Eunji melihat member EXO yang berdiri di pintu masuk.

Section mempercepat langkahnya. Eunji menepuk pundak Chanyeol, kemudian memberi salam sambil tersenyum.

“Annyeong, Eunji-ya.” Sapa Chanyeol sambil tersenyum.

“Dasar cari kesempatan!” Goda Seojin sambil menyenggol Eunji.

“Oppa, kenapa kalian tidak masuk?” Tanya Nami.

“Kami sedang asik menonton drama romantis.” Tutur Suho yang masih menatap Sehun dan Jijae.

“Itu drama kolot bukan romantis, Hyung.” Baekhyun tertawa kecil.

“Aku tidak mengerti.” Heran para member Section.

Yoonji menyelinap masuk ditengah-tengah member EXO, kemudian diikuti oleh member lain.

“Omo!” Kaget Yoonji yang kemudian menutup mulutnya yang terbuka.

“Daebak.” Member Section tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget mereka.

Jijae tak sengaja menengok ke arah pintu masuk. Dia kaget setengah mati karena member EXO dan Section ada disana. Dia juga sudah terlebih dahulu melihat Seulgi yang menatapnya tajam.

“Oppa, kalau kau tidak bangun aku tidak akan pernah berkencan denganmu.” Ancam Jijae yang masih terus menutupi wajahnya.

Sehun langsung berdiri, “Yak! Mana bisa seperti itu?” Geram Sehun.

Jijae memberi kode agar Sehun melihat ke arah pintu masuk. Sehun dengan lugunya menengok ke sana. Kemudian langsung menutupi wajahnya dengan mantel miliknya.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau mereka semua ada disana?” Sehun bicara begitu pelan.

“Aku juga baru lihat. Lagipula untuk apa berlutut segala, huh?” Jijae memukul lengan Sehun.

“Appo.” Jerit Sehun.

Jijae kembali menengok ke arah pintu masuk, “Aku tidak sanggup menampakan wajahku didepan mereka lagi. Ini semua karenamu, Oppa.”

“Yak! Kenapa kau menyalahkanku? Aku ‘kan hanya mengikuti apa yang kau mau.”

Member EXO dan Section berjalan mendekati mereka. Sehun dan Jijae menyadari itu.

“Matilah aku!” Gerutu Jijae.

“Ini akan jadi lelucon seumur hidupku. Ah, bodohnya aku.” Gerutu Sehun.

Lay memegang bahu Sehun. Sehun merasa merinding sekarang. Tamatlah riwayatku. –Batin Sehun.

“Kau sudah dewasa rupanya.” Ujar Lay dengan nada menggoda.

“Apa lututmu terasa pegal, Sehun-ah?” Goda Xiumin.

Kai hanya diam dan terus menatap Jijae yang berusaha menutupi wajahnya.

“Wae? Kenapa kau diam saja, Sehun-ah?” Chen semakin menggoda Sehun.

Sehun menatap Jijae sebentar, “Jijae-ya?” Sehun memanggil Jijae pelan, sangat pelan.

Jijae menatap Sehun, “Wae?”

Sehun menadahkan tangannya, Jijae tidak mengerti.

“Lari!” Sehun menggapai pergelangan tangan Jijae dan langsung lari dari sana, kemudian memasuki lift.

Berlari secepat kilat bahkan melewati Red Velvet yang ada didepan lift. Member EXO dan Section hanya tertawa melihat itu.

“Bukankah mereka itu lucu sekali?” Chanyeol tidak berhenti tersenyum.

Sementara itu, Sehun dan Jijae bersandar didinding lift, mengatur nafas mereka. Malu setengah mati karena kejadian tadi, rasa canggung yang terus menghantui pikiran mereka saat tahu member mereka ada disana dan melihat semuanya.

“Oppa, kau benar-benar gila. Bagaimana bisa kau melakukan itu didepan umum?” Gerutu Jijae.

“Itu juga karenamu yang tidak mau mengakuiku.” Balas Sehun.

“Mengakuimu? Mengakui apa? Kau ‘kan memang bukan kekasihku.”

“Sekarang jawablah!” Sehun menghadapkan Jijae padanya.

Jijae hanya menatapnya canggung. Ini memang bukan pertama kali Sehun seperti ini. Tapi tetap saja dia masih merasa malu disaat seperti ini.

“Jawab aku!” Sehun menatap Jijae dengan penuh ketulusan.

“M… Mwo?” Gagap Jijae.

“Kau mau menerimaku ‘kan? Kau punya perasaan itu padaku ‘kan? Jawab aku sekarang!” Sehun menatap Jijae dalam.

Jijae menelan salivanya berat. Jantungnya berdebar begitu cepat. Pipinya memerah. Dia hanya bisa menatap Sehun. Mulutnya seakan beku karena tatapan Sehun.

“Kau tidak mau jawab?” Tanya Sehun.

Jijae tetap diam dan hanya menatap Sehun.

“Geurae, kalau begitu aku anggap kau menerimaku.”

“Yak! Mana bisa begitu?”

“Tentu saja bisa.” Sehun menarik Jijae ke dalam dekapannya.

Jijae tidak bisa berkutik lagi.

Sehun mengelus surai rambut hitam Jijae, “Gomawo mianhae saranghae, Jijae-ya.”

Begitu tulus sampai Jijae ingin meneteskan air matanya.

“Kau menangis?” Tanya Sehun yang masih dengan posisinya.

“Aniya, aku sedang flu.” Elak Jijae.

Sehun langsung melepaskan dekapannya dan memegang erat kedua lengan Jijae sambil menatapnya intens.

“Apa karena kau selalu bermalam diruangan pembuatan lagu?” Sehun menyentuh dahi Jijae.

“Tidak demam. Kau berbohong padaku?” Sehun menurunkan tangannya.

“Aniya, aku memang begitu. Flu tapi tidak demam.” Elak Jijae yang kemudian pura-pura bersin.

“Diatas dingin. Apa kita tidak usah ke sana saja?” Tanya Sehun.

“Ke atas? Kita mau ke atas?” Tanya Jijae.

Sehun mengangguk.

“Gwenchana. Ayo kita ke atas.” Tutur Jijae.

“Jinjja? Gwenchana? Baiklah.”

Pintu lift terbuka. Mereka keluar dari sana. Sehun menutup mata Jijae dari belakang.

“Apa yang kau lakukan?” Kaget Jijae.

“Kau tidak boleh lihat.” Sehun menuntun Jijae.

Sehun membuka pintu atap gedung. Angin berhembus merasuk kedalam tubuh mereka.

“Kau sudah siap?” Tanya Sehun.

Jijae mengangguk. Kemudian Sehun melepaskan tangannya dari mata Jijae. Perlahan mata Jijae terbuka. Jijae membelalakan matanya dan tidak bisa mengatup mulutnya yang terbuka karena kaget.

Jijae menatap Sehun, “Ige mwoya? Kau yang mempersiapkan ini?” Tanya Jijae.

Sehun mengangguk, “Berkat bantuan Manager Hyung juga.”

Jijae tersenyum, kemudian kembali melihat ke sekelilingnya. Ada meja makan beserta daging dan coklat panas diatasnya. Lalu tong besar yang didalamnya ada kayu bakar yang sudah membara apinya. Dan juga ditambah pemandang kota Seoul yang indah dari atas sini.

Gemerlapnya bintang-bintang dilangit, membuat Jijae tidak bisa berhenti tersenyum.

“Oppa, gomawo.” Jijae tersenyum sambil menatap Sehun.

Sehun merangkul bahu mungil Jijae, “Geurae, aku melakukan semua ini untukmu. Jujur saja, kau wanita pertama yang aku perlakukan seperti ini.”

Jijae menatap Sehun, “Geurae? Kalau begitu kau juga harus melakukan ini untuk Eomma-mu. Seharusnya beliau menjadi wanita pertama yang mendapatkan kejutan ini darimu.”

“Geurae, aku juga akan melakukannya untuk Eomma-ku nanti.” Sehun dan Jijae saling menatap sambil tersenyum, “Dingin?” Tanya Sehun.

“Sedikit.” Balas Jijae.

Tiba-tiba saja Sehun memeluk Jijae erat, “Otte? Masih dingin?”

Perlahan tangan Jijae merespon pelukan Sehun. Tangan Jijae memeluk erat pinggang Sehun. Dia menyandarkan wajahnya didada bidang milik Sehun. Menutup matanya dan merasakan kehangatan dari seorang Oh Sehun.

Sehun tersenyum karena ini. Tangannya mengelus surai rambut hitam Jijae lembut.

“Saranghae, Oppa.”

Ucapan Jijae itu membuat Sehun tersenyum tak karuan.

“Nado. Aku juga sangat mencintaimu, sangat.”

Real Life of Idol – I wan’t you

Kai menyandarkan tubuhnya didinding ruang latihan EXO. Sedangkan, yang lainnya sibuk dengan dirinya masing-masing, ada yang sibuk latihan, ada yang sibuk dengan ponselnya, lalu ada juga yang bercanda satu sama lain.

Kai memejamkan matanya, kemudian menghela napasnya.

Tidak seharusnya kau seperti ini, Kim Kai. Biarkan Jijae bahagia, walaupun bukan kau yang ada disampingnya. Berhenti memikirkannya, berhenti! –Batin Kai.

Kai memijat pelipisnya pelan, kemudian mengacak-acak rambutnya kasar.

“Huh, kenapa aku masih saja memikirkannya?” Racaunya kecil.

Kyungsoo dan Lay menyadari itu, menyadari betapa frustasinya Kai sekarang ini. Mereka berjalan mendekati Kai, kemudian duduk didepannya.

“Gwenchana?” Tanya Lay.

Kai menatap Lay, “Kalau aku bilang baik-baik saja berarti itu bohong. Aku khawatir sekarang.”

“Wae? Bukankah sudah ada Sehun disamping Jijae? Apalagi yang kau khawatirkan?” Tanya Kyungsoo.

“Justru itu yang aku khawatirkan.”

“Mwo? Wae?” Tanya Lay tak mengerti.

“Aku tidak khawatir tentang EXO-L, karena aku sudah melihat respon mereka dikonser kemarin. Yang aku khawatirkan…” Kai menggantung perkataannya.

Kyungsoo dan Lay menunggu jawaban Kai.

“Mwo?” Tanya Lay penasaran.

“Kang Seulgi. Aku takut Seulgi melakukan sesuatu pada Jijae lagi. Itu sudah terlalu sering terjadi, aku tidak mau dia membahayakan Jijae lagi. Apalagi setelah aku lihat responnya tadi saat Sehun dan Jijae bermesraan dilobi. Aku semakin khawatir sekarang.” Kai menundukan kepalanya.

Kyungsoo dan Lay saling menatap, “Gwenchana, Kai-ya. Aku yakin Sehun bisa melindungi Jijae seperti kau melindunginya dulu. Tidak perlu khawatir.” Lay menepuk-nepuk bahu Kai.

Kai menatap Lay, kemudian berganti pada Kyungsoo, “Gomawo, Hyung.”

Sementara itu, Sehun dan Jijae masih berada diatas atap. Duduk disana sambil memandang langit yang bertabur bintang. Sehun menatap Jijae sebentar, kemudian melepas mantelnya. Sehun langsung memakaikannya pada punggung kecil Jijae. Jijae hanya tersenyum karena itu.

Jijae menatap ring basket disudut atap, “Siapa yang main basket disini?” Tanya Jijae.

“Kai.” Jawabnya singkat.

“Kai Oppa? Jinjja? Pantas saja dia kesini waktu itu.” Jijae mengingat Kai yang datang saat ia menangis disini waktu itu.

“Kau bersamanya disini?”

Jijae mengangguk, “Dia laki-laki yang sangat baik, sangat perhatian, dan tampan. Dia selalu menyemangatiku. Wanita yang dicintai olehnya pasti sangat beruntung.”

Sehun menghela napasnya dan menatap Jijae. Kau orang yang dicintai olehnya, Jijae-ya. –Batin Sehun.

Jijae menyadari bahwa Sehun sedang menatapnya, “Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” Heran Jijae, “Ah! Apa karena aku menyanjung namja lain didepanmu? Kau cemburu? Pada membermu sendiri?” Lanjut Jijae.

“Aniya.” Elak Sehun.

“Tapi… Apa ini pakaian yang kau pakai saat ke Busan?” Jijae menatap Sehun dengan tatapan menggoda.

“Mwo? Busan?” Kaget Sehun.

“Memakai pakaian serba hitam, dari jaket, masker dan topi. Wah! Kau menguntitku dengan baik, Sehun-ssi.”

Sehun kaget. Dia tahu aku kesana? Dari siapa? Apa Minah Noona memberitahunya? –Batin Sehun.

Flashback On.

Section selesai melakukan rehearsal untuk SMTOWN concert. Section turun dan EXO mulai naik ke atas panggung. Sehun tersenyum padanya, Jijae menatapnya 3 detik tapi senyum itu tidak pudar dari Sehun. Akhirnya Jijae membalas senyuman itu walaupun tidak selebar senyuman Sehun.

Ada apa dengannya? Kenapa tersenyum begitu lebar padaku? Apa dia benar-benar sedang berjuang? –Batin Jijae.

Jijae berdiri disana sambil menonton rehearsal EXO. Terus menatap Sehun dan memikirkan tentang usaha Sehun padanya.

Asisten Eonni menepuk bahu Jijae, “Dia benar-benar tulus kali ini, aku yakin.” Ucapnya sambil menatap Sehun.

“Nugu? Sehun Oppa?” Tanya Jijae.

Asisten Eonni mengangguk, “Dia bahkan datang jauh-jauh ke Busan untuk melihatmu.”

“Ne?” Kaget Jijae.

“Sebenarnya dia memintaku untuk diam, tapi aku tidak bisa. Aku ingin kau tahu bahwa dia benar-benar tulus padamu sekarang. Hanya itu.” Tutur Asisten Eonni.

Jijae yang tadinya menatap Asisten Eonni yang tengah bicara, langsung menatap Sehun yang tengah sibuk rehearsal diatas panggung.

Apa kau benar-benar melakukan itu untukku? Apa maksudmu melakukan itu? –Batin Jijae.

Flashback Off.

“Apa kau begitu merindukanku sampai menyusulku ke Busan diam-diam?” Goda Jijae.

Sehun menghela napasnya, “Ah! Minah Noona terlalu jujur. Sudah ketahuan. Baiklah aku mengaku. Aku memang kesana.”

“Wae?” Tanya Jijae.

“Apa maksudmu?”

“Kenapa kau kesana?” Suasana jadi terasa serius.

“Tentu saja aku khawatir padamu, bodoh. Bagaimana aku bisa diam saja saat kau menderita karena aku? Aku sudah mengecewakanmu tentang insiden didepan gedung SM dan sebagainya. Aku tidak mau itu terulang lagi.” Sehun menundukan kepalanya dikalimat terakhirnya.

Jijae menatap sendu Sehun yang ada disampingnya. Jijae merentangkan tangannya dan memeluk Sehun.

“Gomawo. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku.” Ucap Jijae.

Sehun membalas pelukan Jijae erat, “Aniya, jangan berterima kasih! Aku tidak pantas mendengar kata itu darimu. Lebih baik mendengar cacianmu, karena mungkin itu bisa menghapuskan rasa sakitmu atas kesalahanku padamu. Mianhae, Jijae-ya.” Tutur Sehun.

Jijae melepas pelukannya dan menatap Sehun intens, “Gwenchana, semuanya sudah berlalu. Aku baik-baik saja sekarang. Biarkan itu jadi pelajaran untuk kita. Berhentilah minta maaf! Itu juga bukan salahmu.”

Sehun menangkup pipi Jijae sambil menatapnya. Sehun mendekatkan dirinya pada Jijae. Sehun mengecup lembut dahi Jijae. Jijae memejamkan matanya sambil tersenyum. Setelah itu, Sehun kembali memeluk Jijae.

“Gomawo, Jijae-ya.”

Real Life of Idol – I wan’t you

Kai keluar dari ruang latihan EXO, dari jendela besar itu dia melihat Jijae dan Sehun masuk ke dalam mobil Sehun, mobil itu melaju dengan mudahnya karena ini sudah larut malam dan tidak ada fans disana.

“Sepertinya aku harus menyerah. Sehun sudah menang.” Gumam Kai.

Kai menundukan kepalanya, memikirkan bahwa cintanya yang tulus pada Jijae tetap tidak terbalas. Tentu saja dia kecewa, tapi dia sudah menanamkan benih pikiran dikepalanya jika Jijae bahagia berarti itu juga kebahagiaan untuknya.

Kira-kira 1 jam lamanya dia berdiri disana sambil terus memandang luar gedung dari jendela besar itu. Mobil Sehun tiba dan dia keluar dari mobilnya, kemudian masuk ke dalam gedung.

Tak berapa lama Sehun sudah terlihat jelas didepan Kai. Mereka saling memandang. Sama-sama acuh.

Sehun sudah berjalan melewati Kai, “Aku harap kau bisa menjaganya.” Ucap Kai tanpa berbalik dan menatap Sehun.

Sehun berbalik dan menatap Kai yang masih memunggunginya.

Kai menghela napasnya pelan, kemudian berbalik dan menatap Sehun, “Aku ingin Jijae bahagia, apapun yang terjadi dan siapapun yang ada disampingnya, aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia tersenyum. Jadi tolong jangan berubah menjadi Sehun yang dulu lagi, aku benci kepribadianmu itu.”

Sehun menatap Kai, “Kau… Benar-benar sangat menyukainya?” Tanya Sehun.

“Kalau aku bilang iya, apa kau akan meninggalkannya?” Kai berbalik tanya.

“Tentu saja tidak.”

Kai tersenyum, “Baguslah kalau begitu. Aku percayakan Jijae padamu, Sehun-ah. Maaf karena selama ini aku selalu menghalangi jalanmu.” Tutur Kai.

Sehun menatap Kai heran, “Yak! Kenapa mengatakan itu? Seharusnya aku yang minta maaf padamu. Terutama berterima kasih karena kau selalu melindungi Jijae. Aku sadar sikapku benar-benar tak termaafkan. Mianhae, Kai-ya.”

“Aniya, aku juga bersalah.”

“Aniya, aku yang salah. Jadi berhenti minta maaf. Dan… Aku ingin kita seperti dulu. Kau satu-satunya teman yang aku rasa sangat jauh dariku sekarang. Dulu kita selalu bersama, apapun kita lakukan bersama. Jadi… Aku harap kau mau jadi temanku lagi. Kita harus pergi makan bersama lagi.” Ujar Sehun sambil tersenyum.

“Setuju.”

Real Life of Idol – I wan’t you

Sehun menatap gantungan ponselnya sambil tersenyum, Kai yang ada disampingnya tertawa kecil.

“Berhenti menatap JJJ-mu itu!” Cibir Kai.

Sehun hanya tertawa mendengar itu.

“Kita sudah sampai, ayo turun!” Ujar Manager Hyung.

Saat Kai dan Sehun turun, dari jarak yang tak jauh dari mereka, Jijae ada disana sambil menunggu Manager-nya yang mengambil barang bawaan dari bagasi.

Sehun tersenyum melihat Jijae yang ada disana. Saat dia tak sengaja melihat ke atas, seseorang tengah menatap Jijae tajam dan melempar bola basket ke Jijae.

“Jijae, awas!” Teriak Sehun.

TBC

KOMEN JUSEYO~

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Real Life Of Idol (Chapter 10)”

  1. bayangkan… aku kelewatan baca chap 9… trus tau” udah chap 11…trus mak bedunduk lg chap 10…aku sedih karena kelewatan ceritanya
    jadi aku baca kilat chap 9…trus gk komen…baru komen ini…aku sepertinya hilang akal karna mantengin mv LOTTO yg kaya sotto..ngliatnya tuhhh seger kaya kuah soto gitu..hah

    aku gk nyangka seulgi bisa nekat kek gitu…semoga jijae gk diapa”in…

    aduhh lucunya sehun kalo udah ketahuan..malunya kek apa coba..aku seneng jg karna udah baikan sama kai..kai jg bisa berlapang dada walopun sakitnya sekujur tubuh, gk cuma hati doang (aku ngerti perasaanmu kai)…

    okeee…aku mau baca chap 11
    nanti ketemu lagi sama komen aku di chap 11

  2. weeeew aku blm baca ini duh😂malah udh baca yg chapt 11😂😂
    Keren lah pokoknya ini..akhirnya kaihun baikan😘
    Next kak gpl😆FIGHTING💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s