[EXOFFI FREELANCE] Apology (Oneshot)

APOLOGY12

Author : Reza-kun

Length : One Shoot, Songfict

Genre : Angst, Romance, Sad

Rating : 17

Main Cast : Kim Kai, Kim Hyejin

Additional Cast : Kim Joon Myeon

Disclaimer : It’s mine. Don’t be a plagiarism!

Author’s note :

Happy Reading!

.

You told me that you’ll be protect me. I trust you like a fool

You said you’d protect me forever

but it was all a lie, lie.

I’m fool, right?

.

Malam telah datang. Bersamaan dengan bulan yang merangkak naik menerangi sunyinya kegelapan. Angin yang menerpa membuat ranting-ranting pohon tak berdaun bergoyang. Menciptakan suara ketukan pintu berkali-kali padahal itu hanyalah sebuah ranting yang tak sengaja menabrak kaca jendela.

Begitu tenangnya suasana malam membuat gadis itu semakin merasa terpuruk. Membuatnya semakin teringat-ingat kejadian di masa lampau yang baru terjadi beberapa menit yang lalu.

Hyejin menghirup udara tamak-tamak seraya memejamkan kedua mata. Ia benci akan perasaan sakit yang bersarang di hatinya. Ia benci akan hal itu. Membuatnya harus berusaha untuk tenang padahal sebenarnya, dia ingin menangis meraung-raung detik ini. Dia tak ingin terlihat lemah hanya karena laki-laki. Dia tak ingin menjadi sosok Kim Hyejin yang rapuh. Tidak. Dia tak menginginkannya.

“Hyejin-ah.

Suara seseorang membuatnya menghembuskan napas berat sebelum membuka kedua kelopak matanya. Ia berusaha tersenyum simpul melihat lelaki yang tengah menatapnya sendu. “Oppa, waegeurae?

Neo gwenchana?

Bukannya menjawab, Joon Myeon malah balik bertanya. Lelaki itu menatapnya sendu lalu duduk di tepi ranjang adiknya. “Aku tahu sesuatu pasti telah terjadi,” ucapnya lalu menyerahkan segelas cokelat hangat ke Hyejin.

Hyejin menerima cokelat hangat itu lalu meminumnya dengan ‘tenang’. “Sungguh oppa, aku tak apa. Aku hanya merindukan kalian.”

Joon Myeon mendengus pelan lalu meletakkan gelasnya di meja nakas dan kembali duduk bersila di atas ranjang –berhadapan dengan Hyejin. “Aku tahu kau habis menangis.”

Hyejin mengalihkan pandangannya gugup. Merasa telah tertangkap basah dalam kebohongan yang dibuatnya. Apakah terlihat jelas jika Ia baru saja menangis? “T-tidak. Aku hanya sedang terkena flu. Lagipula, suhunya sangat dingin tadi. Membuat flu-ku semakin parah.”

“Lantas kenapa Jong In tak menemanimu?”

Karena dia bersama wanita lain.

“Dia sibuk,” jawabnya singkat dan padat. Berusaha tetap peduli namun hati ingin tak mengacuhkannya. Memikirkannya saja menguras batin dan pikiran, apalagi membicarakannya secara langsung?

Joon Myeon hanya menghela napas panjang sebelum pada akhirnya bangkit dari duduknya dengan gelas berada di tangannya. Ia tahu adiknya tak ingin membicarakan secara lanjut apa yang telah terjadi. Ia tahu jika adiknya tengah memendam kesedihan yang mendalam saat ini. Terlihat jelas dari matanya yang tengah berkaca-kaca dan tingkahnya yang secara tidak langsung mengisyaratkan ‘jangan ganggu aku’ dan ‘kumohon, tinggalkan aku sendiri’.

Hyejin tak pernah pulang ke rumah semenjak tiga bulan pernikahannya bersama Jong In. Pulang ke rumahpun ditemani suami tan-nya itu. Jadi, jika gadis itu pulang sendiri, bukankah perlu dipertanyakan?

“Aku tahu dirimu. Jika kau ingin berkeluh kesah dan butuh sandaran untuk menangis, datang saja ke kamar oppa,” ucap Joon Myeon lalu menutup pintu kamar Hyejin perlahan.

Hyejin menghembuskan napasnya perlahan bersamaan dengan turunnya air mata dari pelupuk matanya. Hanya setetes dan dia tak ingin membiarkannya menetes lagi. Segera saja, gadis itu menghabiskan coklat panasnya lalu membaringkan tubuhnya -setelah meletakkan gelasnya di nakas tentunya. Berharap agar kejadian di masa lampau, hanyalah sebuah khayalan belaka.

–  A P O L O G Y –

“Kau bisa percaya padaku kan? Aku berjanji akan bersama denganmu selamanya, sekalipun banyak kejadian yang tak kita duga terjadi dimasa depan. Namun, jika aku menyakitimu dan menyuruhmu untuk pergi, bisakah kau meninggalkanku? Aku tak ingin kau terluka karenaku.”

Hyejin tersenyum lalu mengeratkan genggaman tangannya. “Aku akan selalu bersamamu oppa. Aku percaya padamu, dan aku akan selalu bertahan untukmu. Jangan menyuruhku untuk pergi karena aku akan selalu berada di sisimu.”

.

I’m trust your promise like a fool.

You’re a liar.

.

Ini adalah sebuah perjodohan, ketika seorang Kim Jong In diharuskan oleh kedua orang tuanya menikah dengan Hyejin yang merupakan anak dari sahabat kedua orangtua Jong In. Namun seiring berjalannya waktu, cinta mereka bukan lagi hanyalah sebuah paksaan. Melainkan cinta murni dari kedua hati mereka. Bukan Jong In ataupun orang tuanya yang memilih Hyejin,  melainkan hatinya. Dan Ia tak bisa mengelak perasaannya itu.

Saat ini, mereka– Jong In dan Hyejin- sedang berada di bukit kecil menikmati indahnya matahari sore sebelum tenggelam ke peraduannya. Hanya ada suara dari ranting-ranting pohon yang bergerak dikarenakan hembusan angin yang menjadi backsound mereka saat ini. Tak ada orang lagi selain mereka. Hanya berdua. Menikmati kebersamaan mereka di bukit.

Hyejin duduk bersebelahan dengan Jong In dan meletakkan kepalanya pada bahu sebelah kiri Jong In. Degupan jantung mereka merupakan latar belakang suara tak kasat mata lainnya.

Benda angkasa yang merupakan bintang terbesar dan merupakan pusat tata surya itu tampak mulai menurun, menandakan Ia akan segera tenggelam ditelan kegelapan. Jong In mengenggam tangan kanan Hyejin erat, meresapi setiap aliran yang mengalir melalui tautan jari mereka. Hyejin pun semakin melesakkan kepalanya pada bahu sebelah kiri seakan mencari kehangatan pada ceruk leher Jong In.

Tepat saat benda langit raksasa itu telah menghilang digantikan gelapnya malam, hanya cahaya minim pantulan dari benda langit lainnya yang sedikit mengurangi kegelapan, Jong In mengucapkan sebuah janji. Janji untuk bersama selamanya. Tak peduli berapapun banyak rintangan yang akan menghadang di depan mereka, mereka akan selalu bersama selamanya. Bukan happy ending, karena cinta mereka tak akan pernah berakhir, sekalipun itu akhir yang manis.

Dan sayangnya, Jong In mengingkari janji yang ia buat dulu. Janji yang dengan bodohnya Hyejin percayai.

– A P O L O G Y –

“For some reason, today the TV dramas I always watched

Have such cliche scenes that seem to be laughing at me

.

Kau mencintaiku kan? Jawab aku!! Kau mencintaiku kan??!!! Kumohon, jawablah jika kau memang mencintaiku!

Hyejin melihatnya lagi. Drama yang selalu mereka tonton bersama. Ia menangis. Drama itu seperti mengingatkannya tentang pertengkarannya kemarin. Drama itu seperti mengejeknya. Jika di drama sang lelaki akan mencium gadisnya untuk menunjukkan bukti kasih sayangnya, Jong In melakukan hal yang lain. Lelaki itu membanting foto pernikahan mereka seperti tak ada rasa bersalah sedikit pun dengan meluncurkan sebuah kata-kata yang tak ingin dia dengar.

“Aku tak mencintaimu.”

Hyejin kembali menangis. Sungguh jika ia bisa memilih, wanita itu tak ingin bertemu dengan Jong In. Mencintai Jong In. Mempercayai Jong In dengan segenap hati. Memperhatikan pemuda itu. Memberikan semua raga, pikiran, dan jiwa hanya untuk Kim Jong In. Jika dia boleh memilih, Ia tak akan pernah ingin jatuh cinta. Kenapa sungguh menyakitkan?

“I always waited for you

At the same place as always

.

“Oppa! Kau sudah pulang?”

Gadis itu berteriak senang seraya melompat-lompat kecil ketika melihat Jong In telah datang dan berjalan menuju ke dalam rumah. Ia mendekati Jong In dan hendak melingkarkan tangannya di lengan pemuda itu namun Jong In menampisnya dengan kasar. Hyejin tersenyum kecil –berusaha menenangkan dirinya sendiri bahwa tak akan terjadi apapun- lalu mengikuti Jong In yang berjalan di depannya dengan langkah sedikit sempoyongan.

Hyejin sedikit mempercepat langkahnya untuk mendahului Jong In lalu membukakan pintu rumah agar pemuda itu tak perlu repot-repot membukanya juga sedikit berharap jika Jong In akan melemparkan sebuah senyuman seperti biasa. Namun, hari ini, Jong In berbeda. Mata pemuda itu terlihat merah, dingin, dan … sayu. Tak bertenaga dan … mabuk.

Hyejin mencoba untuk mengenyahkan pikiran buruknya lalu duduk di ranjang seraya memperhatikan Jong In yang tengah melepaskan kemejanya. Jong In tak pernah mabuk. Sekalipun tak pernah. Selama Ia telah menikah dengan pemuda itu, Jong In tak pernah menyentuh minuman berakohol seperti itu. Namun sekarang, haruskah Ia berkata bahwa Jong In mabuk saat ini?

“Oppa.”

Gadis itu beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati Jong In yang tengah kesusahan melepaskan kancing kemejanya. Ia memutar tubuh Jong In agar menghadapnya lalu dengan telaten melepaskan kancing Jong In satu per satu. “Kau … mabuk,” ujarnya seraya menggigit bibir bawahnya, takut. “Apakah ada masalah? Aku bisa membantu jika aku mampu.”

Hyejin mendongak di kancing terakhir lalu menatap Jong In yang tengah memalingkan wajahnya. Jong In menghembuskan napasnya berat lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun, pemuda itu berbalik menuju ke kamar mandi. Meninggalkan Hyejin dalam kebingungannya.

Hyejin berusaha mengabaikannya. Mengabaikan sebuah fakta bahwa Jong In tengah tak mengacuhkannya dan menyentuh minuman berakohol.  Namun, Ia tak bisa mengabaikan satu fakta yang ditemukannya keesokan hari. Fakta bahwa terdapat sebuah bekas lipstick di kemeja putih yang dikenakan Jong In. Sebenarnya … ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?

.

.

.

“Hyejin-ah.

Hyejin menoleh dengan semua cucuran air matanya. Joon Myeon melihatnya. Ketika adik kecilnya menangis hanya dikarenakan sebuah drama. Adiknya bukanlah seorang gadis cengeng. Dia tak akan menangis hanya dikarenakan sebuah drama, semenyedihkan apapun itu.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi,” ucap lelaki itu lembut.

OPPA~

Hey,

OPPA~

“Katakan saja heum, ada apa sebenarnya?”

OPPA~” Hyejin semakin mengeraskan tangisannya. Sungguh, perasaan sakitnya tak bisa dipendam lagi. Ia butuh pelampiasan. Ia butuh pundak seseorang untuk mencurahkan perasaannya. Ia tak bisa memendamnya lagi. Perasaan ini terlalu besar untuk disakiti hingga menyebabkan sayatan luka yang begitu mendalam.

“Kim Hyejin. Katakan sekarang atau aku akan ke rumah Jong In untuk mengetahui kebenarannya?”

Sudah menjadi klise untuk saat ini ketika penantian Hyejin selalu berujung menyedihkan. Seperti saat ini, lagi-lagi Jong In pulang dengan keadaan mabuk. Mata memerah dan kemeja yang sudah tak terbentuk lagi merupakan hal biasa yang menjadi asupan Hyejin setiap malam.

Hyejin berusaha bersabar. Tetap tersenyum meskipun hati begitu sakit menatap keadaan suaminya. Baru saja Hyejin akan menghampiri dan menyapa Jong In, namun seseorang yang keluar dari pintu sebelah kanan menginstrupsi kegiatannya.

Seorang wanita, dengan pakaian minim nan ketat berwarna hitam berlari kecil dengan kedua kaki jenjangnya. Beralaskan sebuah sepatu ber-heels tinggi, wanita itu menghampiri Jong In. Dan kejadian yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat Hyejin ingin merapalkan sumpah serapahnya kepada seorang pria yang sialnya begitu ia cintai.

Wanita itu menghampiri Jong In yang sudah cukup jauh di depannya dan langsung menyambar bibir tebal lelaki itu. Seperti tak memiliki beban apapun di dunia ini, Jong In membalas lumatan demi lumatan itu dengan sepenuh hati.

Hyejin, Ia selalu mencoba untuk bersabar. Ini mungkin bukan yang pertama kalinya, namun entah mengapa adegan yang terlihat saat ini, lebih menyakitkan dari sebelum-sebelumnya. Ia hanya dapat menunduk membiarkan kedua manusia itu berjalan melewatinya masih dengan cumbuan yang tak kunjung terhenti.

Berkali-kali sudah Hyejin bertahan, selalu berpikiran positif bahwa yang dilakukan Jong In hanyalah bentuk kepuasan lain karena mungkin ia mempunyai masalah yang tak dapat diungkapkannya pada Hyejin. Dan sudah berkali-kali pula Hyejin mencoba untuk tetap bertahan, selalu berada di sisi Jong In dan tak jarang pula ia mencoba untuk menyadarkan lelaki itu bahwa yang ia lakukan selama ini salah. Namun mungkin karena pada dasarnya Jong In keras kepala, ia hanya membuat kicauan Hyejin masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.

Bahkan ketika sarapan di pagi hari mereka masih berlangsung –tidak dengan sekarang- saat Hyejin menanyakan perasaan Jong In padanya saat ini, lelaki itu hanya menghentikan acara makannya sesaat, kemudian melanjutkan makannya tanpa menghiraukan perkataan Hyejin. Jong In yang sekarang juga cenderung lebih pendiam. Kejadian-kejadian manis yang selama berbulan-bulan lalu mereka lakukan kini tak pernah terjadi sama sekali. Ketika tidur di malam haripun Jong In selalu memunggungi Hyejin. Tak ada dekapan hangat selamat malam lagi. Tak jarang pula Hyejin tidur di kamar tamu jika Jong In membawa wanita jalangnya ke dalam kamar milik mereka.

Sakit. Begitu sakit hingga Hyejin merasa jika Jong In tak mencintainya lagi. Jong In tak menganggapnya sebagai istri dan hanya menganggapnya sebagai pembantu di rumah besarnya atau Ia hanyalah sebuah bayangan semu yang tak penting. Hyejin hanya bisa menangis. Meratapi mengapa Jong In berubah menjadi 180 derajat saat ini. Mengapa Jong In berubah seperti ini? Ya, Ia hanya meratapi nasib bersama dengan semua isak tangis untuk seorang yang sialnya saat ia cintai. Kim Jong In.

Janji yang dibuatnya dulu, apakah hanyalah sebuah angin lalu? Janji laki-laki itu kepadanya dulu. Janji yang mengisyaratkan jika mereka akan selalu bersama dan janji tentang-

“-Namun, jika aku menyakitimu dan menyuruhmu untuk pergi, bisakah kau meninggalkanku? Aku tak ingin kau terluka karenaku.”

Apakah sekarang Jong In ingin Ia meninggalkannya? Apakah karena Jong In bosan dengannya? Apakah karena Jong In tak mencintainya lagi dan ingin Ia pergi dari kehidupan lelaki itu? Dengan membuatnya hancur terlebih dahulu? Dengan membuatnya tersakiti dulu?

Hyejin tak kuat lagi. Ia tak kuat lagi untuk bertahan. Semua kesabaran dan air mata yang Ia keluarkan tak akan pernah berhenti jika begini. Semuanya akan terbuang sia-sia. Hyejin lelah akan keadaan yang mengharuskannya untuk bersabar. Tidak, Ia tidak ingin bersabar lagi. Ia juga punya hati yang butuh diberi kasih sayang. Bukannya sebuah luka bak pisau tajam yang menyayat hatinya. Ia butuh penjelasan atas semua perlakuan Jong In saat ini.

Hyejin membalikkan tubuhnya. Membuka pintu masuk dengan keras lalu menghampiri Jongin yang duduk berdua bersama wanita sexy di sofa ruang tengah.

Hyejin menarik tubuh Jong In yang berada di atas tubuh wanita itu dengan kekuatan yang ia miliki. Meskipun tak berpengaruh banyak namun dapat membuat Jong In menghentikan cumbuan menjijikkan itu.

PLAK

Itu Hyejin yang melakukannya. Ia menampar pipi kanan Jong In dengan keras yang cukup membuat Jong In meringis kesakitan. Jong In menunjukkan senyum miringnya. Baru saja Jong In akan membuka mulutnya ketika-

PLAK

-satu tamparan mendarat di pipi kanan Jong In lagi. Bukannya melawan atau apa, Jong In justru tersenyum. Ia tersenyum sangat manis seakan tak terjadi apa-apa diantara mereka. Bahkan sudut kanan bibirnya sudah mengeluarkan darah yang tak bisa di bilang hanya setitik, namun Jongin tak juga mengusapnya

“Oppa, Apa yang kau lakukan sebenarnya?!”

Hyejin berteriak kencang seraya tangannya memukul dada bidang lelaki itu. Berharap perasaan sakitnya akan menguap dengan memukul lelaki yang telah membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. “Kau brengsek! Kau brengsek Oppa! Kau brengsek Kim Jong In,” gumamnya lirih.

Jong In hanya tersenyum miring lalu menggenggam kedua pergelangan gadis itu. Matanya memerah dan tatapannya tajam menusuk. “Bukankah sudah sangat jelas?”

Melihat Jong In yang seperti memainkan dirinya dengan senyuman miring dan juga tatapan bengis, membuatnya menundukkan kepala. “Kau brengsek Kim Jong In.”

“Lalu, jika aku lelaki brengsek, kau mau apa? Cerai denganku? Lakukan saja!”

Jong In menghentakkan tangan Hyejin dengan kasar. Membuat Hyejin meringis karenanya. Namun itu tak seberapa dengan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Suami tercintanya meminta untuk … bercerai dengan suara lantang dan jelas seakan-akan memang itulah yang dia inginkan. Hyejin menggeleng seraya menggigit bibir bawahnya agar air mata yang telah menggenang di pelupuk tak turun begitu saja. “Oppa, bagaimana dengan janjimu dulu? Kau berkata jika kita akan selalu bersama dan sekarang kenapa kau mengingkari janji yang kau buat dulu?”

Jong In mendecih lalu bersedekap dada. “Kau percaya semua itu begitu mudahnya? Lalu bagaimana menurutmu jawaban akan semua pertanyaan yang kau lontarkan itu?”

“Oppa, apa kau mencintaiku?”

“Kau benar-benar tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu?”

“Oppa…”

“Aku tak mencintaimu.” Jong In mengatakannya dengan sangat lantang dan keras lalu disusul dengan suara pecahan kaca pigura yang menggema di seluruh ruangan.

Hati Hyejin sangat remuk saat itu. Sudah terlihat jelas jika Jong In memang tak mencintainya.

“Mencintaimu? Menurutmu bagaimana? Apakah tatapanku terlihat seperti mencintaimu? Ah.. matta! Kau kan bodoh! Jadi aku harus menjawabnya dengan jelas. Aku tak mencintaimu dan sekalipun aku tak pernah mencintaimu! Dan aku membencimu. Benar-benar membencimu. Membenci setiap jengkal pergerakan yang kau lakukan!”

Sakit. Ini sungguh menyakitkan. Ketika kau pada akhirnya tahu bahwa lelaki yang selama ini terlihat mencintaimu, yang selalu melantunkan kalimat cinta bagai nyanyian penghantar tidur menyatakan bahwa ia tak mencintaimu, membencimu bahkan.

Hyejin sudah tidak bisa membendung isak tangisnya lagi. Gadis itu terisak pelan. “Lalu, mengapa kau menerima perjodohan sialan ini Jongin-ssi?!”

“Sekali bodoh memang seterusnya bodoh. Apa kau tak sadar bagaimana terkenalnya dan melejitnya harga saham pada perusahaanku kini? Apa kau tak sadar apa alasannya? Itu karna perjodohan ini! Bagaimana bisa? Well, ini simple saja. Kita di jodohkan atas kesepakatan perjanjian. Perusahaanku, dan perusahaan keluargamu secara otomatis terjadi kontrak. Semua siaran TV memberitakan pernikahan kita dan sahamku menjadi menigkat. Dengan begitu perusahanku yang tadinya berada tepat dibawah perusahaan keluargamu tingkatannya sekarang menjadi setara. Apa masih kurang jelas?”

“Kau hanya memanfaatkanku? Seperti itu?”

“Gadis pintar! Kau hanya termakan kata-kataku selama ini.”

“Kau brengsek!”

“Kuanggap itu sebuah pujian. Sekarang, keluar dari rumahku saat ini juga!”

Hyejin tak tahan. Ia bergegas dari tempatnya menuju ke kamar yang selama ini ia tempati yang juga merupakan tempat tidur Jongin. Mengambil sebuah kopor kecil yang ada di samping almari kemudian mengeluarkan semua pakaian yang dapat ia tampung pada kopornya dari almari.

Ini menyakitkan. Ketika hatimu yang begitu tulus dipermainkan oleh seorang pria. Sungguh! seumur hidupnya ia tak pernah merasakan rasa sakit sesakit ini. Membayangkannya saja tidak pernah.

Setelah selesai Hyejin menyatukan resleting yang ada dengan asal kemudian segera bergegas untuk keluar dari tempat yang semakin lama terasa seperti penjara ini. Ketika sampai pada pijakan terakhir, Hyejin berhenti sejenak. Pria tadi –Kim Jong In masih saja melanjutkan adegan yang Hyejin bersumpah itu sangat menjijikkan –lagi. Pria itu bergumul dengan wanita yang ada dibawahnya. Hyejin tak pernah tahu siapa wanita itu sebenarnya. Wanita yang Jong In selalu bawa ke rumah hanya wanita itu. Tak ada yang lain. Hanya wanita penggoda sexy sialan itu yang dapat membuat Jong In bertekuk lutut saat ini.

Hyejin menghirup napasnya dalam, melanjutkan langkahnya mengabaikan semua bunyi kecipak yang memenuhi ruangan. Ia meninggalkan tempat ini malam ini. Meninggalkan semua kenangan menyakitkan bersama udara dingin yang menembus kulit mulus Hyejin.

  • A P O L O G Y –

Hyejin mulai tenang semenjak menceritakan semuanya ke kakaknya. Ia tak pernah menangis lagi. Jika dia akan menangis, Hyejin pasti akan menemui kakaknya atau menelpon lelaki itu agar segera pulang. Kakaknya akan selalu menemaninya. Menenangkannya hingga Ia benar-benar tenang. Selama dua minggu ini pula, Hyejin mulai berangsur membaik. Tak menangis lagi dan benar-benar telah melupakan meskipun hanya dalam beberapa waktu saja. Namun, kali ini berbeda. Beberapa hari ini, dia tak enak badan. Ia selalu merasa mual, namun ketika ia mencoba mengeluarkannya, yang keluar hanyalah cairan berwarna bening. Selalu mual dan mual.  Hyejin tak napsu makan dan hanya ingin berbaring di kasur setiap hari karena tak kuat untuk menopang badannya sendiri. Ia bahkan harus bersusah payah hanya untuk pergi ke kamar mandi. Pikirannya mulai melayang memikirkan sesuatu yang tak seharusnya Ia bayangkan. Namun, karena rasa penasaran yang selalu mendominasi, gadis itu mencobanya.

Hyejin menangis histeris di dalam kamar mandi dengan tangan kanannya yang menggeggam sebuah test pack. Tidak. Dia tidak ingin hamil anak lelaki itu. Ia benar-benar tak ingin. Ia tak ingin memiliki siapapun yang berkaitan dengan pemuda itu. Namun, semuanya telah digariskan oleh Tuhan. Seolah-olah jika Hyejin harus benar-benar terikat kepada pria itu.

Positif Hamil.

Hyejin tak bisa menampik akan kenyataan itu. Ketika dirinya meringkuk di sudut kamar mandi dengan tangan bergetar ketakutan, ketika dirinya harus menarik-narik rambutnya keras ketika ingin menghapuskan kenyataan itu, ketika dirinya harus menutup telinganya rapat-rapat, dan ketika dirinya harus membisukan mulutnya untuk sejenak. Wanita itu tak mau.

Hyejin hanya bisa menangis sekeras-kerasnya untuk meminta pertolongan. Hingga kakaknya datang, bertanya, dan melihat test pack-nya, lalu melenggang pergi. Meninggalkannya dalam kesendiri lagi.

– A P O L O G Y –

Brengsek kau Kim Kai!”

BUGH

Sebuah pukulan telak mendarat di pipi lelaki yang tengah berada di kantornya saat ini. Joon Myeon mengangkat kerah Jong In yang jatuh karena tak siap menerima pukulan telaknya. Ia pukul wajah pemuda itu berulang kali untuk melampiaskan amarahnya dan berharap agar Jong In memohon ampun padanya. Namun harapan tinggallah harapan, Jong In malah terkekeh menerima pukulan demi pukulan yang Ia terima.

Shit!” dan sebuah pukulan keras kembali mendarat di pipi Jong In. Membuat lelaki itu terbatuk darah beberapa kali. Jong In menyeka sudut bibirnya lalu duduk dan mendongak menatap kakak iparnya yang menatapnya tajam sekarang.

“Baru tahu jika aku brengsek?

“KAI!!”

Joon Myeon dan Jong In menoleh. Mendapati seorang wanita cantik berdiri di ambang pintu lalu berlari menghampiri Jong In dan memeriksa keadaan lelaki yang tengah terduduk itu. “Kau tak apa?”

Joon Myeon mendengus lalu menyingkirkan wanita murahan itu dalam sekali sentakan lalu kembali mendaratkan sebuah pukulan di pipi lelaki itu berkali-kali.

“Yang pertama untuk adikku.”

BUGH

“Yang kedua untuk janji sialan yang kau buat padaku.”

BUGH

“Dan yang terakhir untuk anak yang dikandung adikku-”

“-Karena kau brengsek, akan ku kirim surat perceraian kalian secepatnya.”

– A P O LO G Y-

Jong In pulang kerumahnya seperti biasa. Namun malam ini ia tak lagi membawa wanita seperti biasanya yang sejujurnya itu adalah wanita bayarannya. Bahkan sudah dua minggu ini ia tak melakukan rutinitas itu lagi. Namun ada yang tak berubah, ia masih saja bermain dengan cairan berwarna merah bening yang mempunyai harga fantastis itu. Dan malam ini ia menghabiskan cairan tersebut 4 botol sedang yang merupakan dua kali lipat dari biasanya ia minum.

Jong In berjalan sempoyongan ketika turun dari mobilnya dan beberapa kali menabrak benda mati yang ada didekatnya kemudian memakinya. Ia dengan susah payah berjalan hingga akhirnya sampailah ia di kamarnya. Tempatnya untuk menghabiskan malam berdua dengan Hyejin-nya. Atau mungkin sekarang tidak miliknya lagi? Jong In masih mengingat dengan jelas perkataan demi perkataan yang dilontarkan Joon Myeon untuknya siang tadi. Ia bersumpah bahwa kalimat itu takkan hilang dari ingatannya.

“Dan yang terakhir untuk anak yang dikandung adikku.”

“-Akan ku kirim surat perceraian kalian secepatnya.”

Anak? Apa ia tak salah dengar? Sebegitu brengseknya kah dirinya? Dan, apa? Surat perceraian? Sumpah ingin mati saja dirinya saat ini. Jong In tak pernah bermaksud seperti itu. Ia tak menginginkan sebuah perceraian. Berada jauh dari istrinyapun rasanya tiap hirupan napas yang ia lakukan selalu terasa berat. Ia sangat mencintai istrinya, amat sangat mencintainya. Rasa cintanya begitu dalam hingga dirinya sendiri sejujurnya tak ingin kehilangan istrinya itu namun sesuatu yang lain membuatnya harus melakukan semua itu.

Jong In mendekam di pojok ruang tempat tidurnya itu. Sunyi senyap karena memang bangunan luas itu hanya terisi olehnya saat ini. Lampu-lampu bahkan tak ada satupun yang Jong In nyalakan, hanya cahaya pantulan bulan yang membuat remang-remang cahaya pada ruangan yang Jong In tempati. Jong In menundukkan kepalanya, memeluk kedua lututnya erat dengan jari-jari panjangnya yang menarik-narik rambut-rambut pendeknya kuat-kuat hingga membuat beberapa helai rambutnya terlepas. Jong In terisak dan beberapa kali memukuli kepalanya dengan kepalan tangannya seakan menyalahkan kepalanya entah karena apa.

“Maafkan aku… Sungguh maafkan aku…”

Beberapa kali Jongin melirihkan kata-kata itu. Ia meminta maaf seakan ia telah melakukan kesalahan besar meskipun kenyataannya memang begitu. Nafasnya pendek-pendek membuat dadanya sesak dan tubuhnya serasa remuk. Ia benci. Ia membenci dirinya, Ia membenci hidupnya.

-A P O L O G Y-

Joon Myeon berjalan dengan tubuh tegap dan langkah yang terkesan terburu-buru untuk menuju pintu utama rumah Jong In. Hari ini hari minggu. Bisa dipastikan pria itu –Jong In- sedang ada dirumahnya, tidak berkutat dengan file-file perusahaan di kantornya. Di tangan kanannya kini, ada sebuah amplop kertas berwarna coklat berisikan surat perceraian yang telah ia janjikan beberapa waktu lalu.

Lelaki itu menghembuskan napas seraya memegang daun pintu kayu jati yang terlihat kokoh di hadapannya. Haruskah nasib adiknya begitu sadis seperti ini? Haruskah Ia membiarkan adiknya menjadi seorang janda beranak satu dengan pernikahan yang bahkan belum genap tiga bulan?

Joon Myeon mengeratkan genggamannya lalu membuang napas kasar –lagi. Ini salah Jong In. Benar. Ini salah lelaki itu dan juga salahnya. Ya, Ia salah. Salah karena membiarkan Jong In menikahi adiknya. Salah karena merestui hubungan mereka bahkan ketika dirinya sendiri tahu jika Jong In seorang laki-laki brengsek semenjak dahulu. Salah karena ikut serta membantu Jong In untuk melancarkan aksinya.

.

.

.

Hyung!

Joon Myeon menoleh lalu mengembangkan senyumannya ketika mendapati Jong In tengah berjalan ke arahnya. Ia mengangkat tangannya sebagai balasan panggilan Jong In.

Jong In tersenyum lebar lantas melingkarkan tangannya ke leher Joon Myeon –merangkul pundak lelaki yang dipanggilnya ‘hyung’ itu. Mereka berjalan beriringan menuju restaurant –tempat dimana mereka biasanya singgah ketika jam makan siang. Letak restaurant itu tepat di antara kantor mereka sehingga bisa selalu makan siang bersama di tengah-tengah kesibukan mereka.

Joon Myeon duduk di kursi yang selalu mereka tempati setelah memesan makanan mereka seperti biasa. Jong In yang melihatnya segera mencondongkan tubuh lalu melipat kedua tangannya di atas meja. “Bagaimana tawaranku kemarin hyung?”

“Tawaran yang mana?”

Jong In mendengus lalu menjawab, “Tentang berpura-pura menjodohkanku dengan adikmu.”

Joon Myeon memicingkan matanya lalu mendengus sebagai jawaban. Lelaki itu juga membuang muka setelahnya karena tak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya, Ia sendiri bimbang akan tawaran Jong In mengingat Jong In adalah seorang player busuk yang kaya raya. Namun, Jong In juga temannya –sahabatnya malah. Ia takut jika Jong In akan menyakiti adiknya. Ia takut jika Jong In hanya mempermainkan adiknya. Joon Myeon menghela napas pelan lalu menatap Jong In lekat-lekat. “Kau benar-benar mencintai adikku?”

“Tentu saja,” jawab Jong In dengan mantap lalu bersandar pada kursinya. “Kau tahu aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Meminta seseorang untuk mendekatkanku pada gadis-gadis yang kuincar.”

Joon Myeon menganggukkan kepalanya sebagai tanda kebenaran pernyataan itu. Ya. Jong In tak pernah seperti ini sebelumnya. Lelaki itu pasti akan mendekati setiap gadis yang dia incar tanpa meminta bantuan siapapun –termasuk dirinya. Lelaki itu –Jong In- yakin jika hanya dengan menatap gadis yang ia incar akan langsung terpesona melihatnya sehingga tak butuh bantuan siapapun.

Namun ini berbeda. Gadis yang pertama kalinya ia cintai tak terpesona ataupun tertarik padanya –bahkan secuilpun tidak. Jong In telah berkali-kali mencoba mendekati adik sahabatnya namun Hyejin hanya merespon seadanya –tak mencoba mencari tahu tentangnya padahal Jong In selalu mencari tahu tentang gadis itu. Ini adalah kali pertama Jong In merasakan debaran aneh di dalam dadanya ketika menatap manik Hyejin. Merasakan desiran hangat di dalam darahnya ketika Hyejin tersenyum ke arahnya.

Joon Myeon menganggukkan kepalanya ragu lalu menghembuskan napasnya berat. “Baiklah. Aku menyetujuinya jika kau berjanji tak akan meninggalkan adikku.”

.

.

.

Tok Tok Tok

Joon Myeon mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Ia kembali mengetuk bahkan menendang-tendang pintu itu seakan sesuatu yang ada dihadapannya saat ini adalah Jong In dengan keras namun tak juga ada jawaban. Joon Myeon mencoba mendorong pintu itu dan betapa di berkatinya Joon Myeon hari ini karena pintu itu tak terkunci. Joon Myeon melenggangkan kakinya yang terbalut dengan celana kain berwarna hitam itu dengan santai. Suara ketukan sol sepatu Joon Myeon yang beradu pada lantai marmer itu membuat kesunyian sedikit sirna.

“akhh..”

Joon Myeon mendengar suara itu. Seperti suara rintihan. Joon Myeon melangkahkan kakinya cepat menuju kearah sofa yang ada di depan TV karena merasa suara itu berasal dari sana.

“Yak Kai-ah neo gwencana?

Kim Jong In, seorang yang dari tadi Joon Myeon cari terlihat tengah meringkuk tak berdaya di lantai. Jong In yang beberapa kali mengeluarkan rintihan kesakitan membuat Joon Myeon bingung harus berbuat apa. Lelaki itu segera duduk di hadapan Jong In lalu mengambil ponselnya dan menekan beberapa angka. Ambulance.

“Aku sudah menelpon ambulance. Aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya tapi ku mohon bertahanlah.”

Jong In membuka sedikit matanya untuk dapat melihat Joon Myeon yang ada didepannya. Jobg In mencoba untuk tersenyum meskipun itu sangat sulit dilakukan.

“Maafkan aku…”

Ya! Kai-ya! Jangan seperti ini! apa yang kau katakan?”

Hyung, aku punya permintaan terakhir. Kau, pergilah ke kamarku. Kau akan menemukan almari kecil di dekat ranjang. Akkhh.. pada laci ketiga, ada sebuah lipatan kertas berwarna merah. Ku mohon berikan itu pada Hyejin. Hanya itu permintaan terakhirku. Kumohon.”

Joon Myeon yang tak tega dengan tatapan memelas Jong In, ia pada akhirnya menuruti permintaan sahabat kecilnya itu. Joon Myeon mendapati lemari itu. Ketika dibukanya laci itu ia terkejut dengan semua isi yang ada. Puluhan, atau mungki ratusan cetakan foto. Dan semua itu hanya satu nama yang menunjukkan siapa wanita itu. Kim Hyejin. Laci itu penuh dengan foto Hyejin bahkan Joon Myeon harus mengobrak-abrikkan foto-foto itu agar dapat menemukan lipatan kertas yang Jong In maksud. Joon Myeon menemukannya. Ia benar-benar tak ada waktu hanya untuk skadar melihat foto-foto itu. Karena saat ia keluar kamar itu juga suara sirine ambulance yang melengking terdengar.

Saat di dalam ambulance yang berjaan dengan kecepatan diatas rata-rata Joon Myeon tak henti-hentinya merapalkan semua do’a untuk kebaikan Jong In. Jong In menyentuh tangan Joon Myeon membuat lelaki itu menghentikan do’anya.

“Maafkan aku. Aku mencintai Hyejin. Sungguh, aku mencintainya.”  Jong In mengatakannya dengan susah payah. Pemuda itu tersenyum sekilas dengan kedua matanya yang perlahan sukses tertutup.

Joon Myeon tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aliran darah Kai yang ia rasakan melalui tangannya terasa mulai melemah. Joon Myeon tersenyum miris. Mianhae Jong In-ah. Mianhae.

Hyejin sedang tersenyum sendiri di depan cermin yang ada di kamarnya saat ini. Oppa-nya itu berjanji akan mengajaknya berjalan-jalan sepulangnya dari rumah Jong In. Ia sudah berencana untuk menggugurkan janinnya saja. Joon Myeon awalnya menolak, namun Ia sendiri juga tak tega dengan tatapan memelas adiknya sehingga hanya pasrah mengikuti keinginan adik tersayangnya.

Ketika akan keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang tengah, Hyejin merasakan sebuah getaran kecil pada tas kecil yang ia gunakan. Satu panggilan telepon dari Joon Myeon. Hyejin tersenyum senang sebelum mengangkatnya.

Yeoboseyo oppa. Kau sudah di depan?

“….”

“Rumah sakit? Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?”

“….”

ah… ne, aku akan kesana sekarang.”

Hyejin bergegas turun kebawah kemudian memberhentkan sebuah taxi yang kebetulan melintas di depan rumahnya. Joon Myeon tadi menelponnya memintanya untuk ke rumah sakit tanpa memberitahukan alasan yang jelas, namun Hyejin tetap menurutinya karena ia takut terjadi sesuatu pada oppa-nya itu.

Hyejin bergegas turun setelah memberikan beberapa lembar won untuk supir taxi tersebut. Baru saja memasuki pintu utama langsung saja ia bertemu dengan Joon Myeon di depan UGD.

oppa, neo gwenchana? Apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Hyejin langsung ketika telah berada di depan Joon Myeon. Dilihatnya Joon Myeon dengan saksama dari ujung kepala hingga ujung kaki, namun tak ada yang berbeda. Semuanya baik-baik saja. Namun, atensi Hyejin berhenti ketika Jeon Myeon tengah membawa selembar kertas yang sepertinya hasil dari laboratorium dan sepucuk surat di tangan lainnya.

Nan gwenchana Hyejin-ah. Tapi seseorang yang berada didalam sana yang tidak baik-baik saja.”

Nugu?

“Jong In Hyejin-ah. Kim Jong In. Dia terkena kank-”

Tepat setelah Joon Myeon mengatakan nama itu, pintu tempat operasi Jong In terbuka. Seorang dokter dengan beberapa perawat keluar dengan mendorong ranjang beroda berseprai putih. Hyejin menolehkan kepalanya. Diatas ranjang tersebut terdapat seseorang dengan berselimutkan selimut putih sebatas dada. Tampak sangat jelas melalui raut para dokter yang menganinya bagaimana keadaan Jongin saat ini. Hyejin menatap seseorang yangterdapat pada ranjang tersebut tak percaya. Hyejin memghampiri ranjang tersebut yang telah berhenti didorong oleh dokter beserta beberapa perawat dengan air mata yang mengalir begitu saja dari kedua matanya. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Hyejin ingin berteriak saat itu juga untuk mengutarakan suara hatinya yang jujur saja sangat sakit saat ini. Sayangnya semua itu tak dapat terucap dan hanya dapat keluar dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.

Joon Myeon menghampiri adik kesayangannya itu dan mengusap punggungnya perlahan bermaksud menenangkannya. Hyejin yang sudah benar-benar tak kuat dengan semua ini membalikkan tubuhnya membenamkan mukanya pada dada Joon Myeon. Ia memeluk Joon Myeon erat. Berharap semua rasa sakitnya menguap begitu saja.  

Oppa.. Jong In oppa..” Hyejin mengucapkan kalimat itu amat lirih.

Gwenchana Hyejin-ah. Gwenchana.

Annyeong Hyejin-ah~

Bagaimana kabarmu? Ku harap kau baik-baik saja. Jika kau mendapatkan surat ini mungkin saja aku sudah tidak ada di dunia ini. Waktu berjalan begitu cepat bukan?

Aku mempunyai beberapa harapan kecil yang ku harap dapat kau kabulkan. Jaga kesehatanmu selalu Hyejin-ah, karna aku tak ingin kau sakit jika aku tak berada di sisi mu. Ah.. ya, kudengar kau sedang mengandung buah hati kita, benarkah itu? Ku mohon jagalah ia, karena aku akan selalu bersama dengannya.

Kim Hyejin, permintaanku yang terakhir lupakanlah aku, aku tahu itu mungkin menyakitkan, tapi aku tak ingin kau selalu mengingatku. Menyadari betapa buruknya diriku yang membuatmu menjadi bersedih. Carilah seseorang yang lebih baik dariku, dan maaf aku tak dapat menjagamu dengan benar.

Aku tak sempurna untukmu tetapi kau terlalu sempurna untukku yang penyakitan seperti ini. Maaf, aku tak memberitahukanmu begitu juga dengan oppa-mu karena aku tak ingin kau dan Joon Myeon menolak perjodohan ini.

Hyejin-ah, maaf aku menyembunyikan ini sebelumnya. Aku juga tak pernah tahu bagaimana semuanya berawal, aku tak dapat melakukan yang lebih Hyejin-ah  ketika seorang dokter mengatakan padaku bahwa aku sudah mengijak stadium empat untuk penyakitku ini dan waktuku sudah tak banyak, yang terpikirkan olehku  hanyalah bagaimana denganmu? Aku hanya ingin membuatmu membenciku, karena tak ingin jika aku telah tiada nanti kau terlalu terpuruk dan bersedih hati. Jadi, maafkan aku membuat adegan konyol yang menyakitkan itu padamu. Tapi ketahuilah Hyejin aku mencintaimu dan amat sangat mencintaimu. Maafkan semua perkataan dan perbuatanku sebelumnya.

Mungkin ini memang pertemuan singkat kita yang telah Tuhan rencanakan. Tapi kuharap kita masih bisa bertemu dikehidupan selnajutnya.

Kuharap kita akan selalu terikat dalam benang merah takdir selamanya.

Aku Mencintaimu Hyejin-ah

Kim Jongin

Bohong jika Hyejin mengatakan bahwa ia tidak mencintai Jongin. Bahong jika ia berkata ia telah membenci Jongin. Semua rasa cinta dan sayang yang telah ia berikan pada Jongin tak dapat sebegitu mudahnya sirna. Hyejin kembali kerumah bukan kerna ia ingi meniggalkan Jogin. Bukan karena ia membenci Jongin. Tapi karena ia tak ingin melihat seorang wanita yang selalu datang bersama Jongin dimalam hari. Ia hanya ingin menenngakan pikirannya. Ia tak tahu apa alasan sebenrnya Jongin melakukan itu semua. Dan sayangnya ketika ia mengetahui semuanya sudah terlambat. Seharusnya ia selalu berada di sisi Jongin. Seharusnya ia tetap bertahan. Seharusnya ia membantu Jongin melewati masa sulitnya. Namun semua itu toh hanya bisa menjadi seharusnya kini. Semuanya telah terjadi. Jika orang berkata tak ada kata terlambat, namun bagi Hyejin semua itu terlambat. Jika kita pikir memang benar masa depan semua tak ada yang dapat mengetahuinya. Tak ada yang dapat memastikan. Jadi mau tidak mau kita hanya harus mengikuti alurnya bukan?

-THE END-

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Apology (Oneshot)”

  1. Huaaaaaa sukses bgt bikin aku nangis kejer😢😭
    KEREN SUMPAH INI FF!!mian caps jebol😂
    Baru kali ini nangis kejer baca ff
    Keren keren!!

  2. huahhh., daebakk.,
    feelnya dapet.

    aku sampe nangis apalagi waktu hyejin baca surat yg dari jongin..huh bner bener nyesek.. jadi itu alasan knapa jongin kek gitu ke hyejin, pdahal itu membuat hyejin sakit hati, dan stelah mengetahui alasan kai hyejin jadi merasa bersalah..huhh bner bener deh kak, bneran loh kak ini nyesek banget. 😥 😥

    dtunggu cerita yang lainnya kak^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s