[EXOFFI FREELANCE] BROTHER(S); Messege (Chapter 3)

BROTHER(S)_ Massage [Chapter 3]

BROTHER(S); Massage

Originally by Delza Algiwity

Love; incest, family, romance.

Cast: Park Daelja (OC); Kim Jongin (EXO), Park Chanyeol (EXO); Byun Baekhyun (EXO); Oh Sehun (EXO); Do Kyungsoo (EXO); Kim Myungsoo (INFINITE)

[Contain Harsh-Words; R-17; typo(s)]

“Dan adapun orang yang menganggap dosa itu indah. Salah satunya aku, yang melakukan berbagai hal yang tidak masuk akal dengan kakak kandung ku sendiri.”

Tubuhnya menegang dan wajahnya memerah. Chanyeol yang melihat arah tatapan Daelja hanya bisa tersenyum penuh arti. Ia melangkah mendekat; kemudian mengambil tangan gadis itu dan menempelkannya di abs nya.

“Kau sepertinya tertarik pada tubuhku, sayang.” Chanyeol menyeringai kemudian mendekatkan mulutnya di telinga Daelja, “Kau tahu, kau bisa menjelajahinya kalau kau mau.”

Jika saja Jongin atau Sehun mendengar kalimat tersebut, sudah dapat dipastikan Chanyeol akan babak belur. Tapi itu ‘kan “jika”, sekarang hanya mereka berdua di dalam kamar. Yang berarti, Chanyeol bebas.

“Ne oppa, tubuhmu indah!” Mata gadis itu berbinar, kemudian tangannya bergerak mengelus perut six pack Chanyeol, beralih ke dada bidangnya. Chanyeol berusaha menahan gejolak yang ia rasakan tatkala tubuhnya dijamah oleh tangan mulus adiknya.

Sebelum yang “tidak-tidak” terjadi, Chanyeol menahan tangan Daelja.

“Aku ingin mandi dulu, sayang. Sebentar, ya.” Daelja mengangguk mantap dan membiarkan Chanyeol memakai kamar mandinya. Ia berjalan ke tempat tidur dan mulai membuka seragamnya. Menyisakan tank top hitamnya dan rok. Menunggu Chanyeol selesai, ia memainkan handphone nya dan mengetik keyword di google.

Perut kotak 6 seorang lelaki.

—-

Pintu kamar mandi terbuka, membuat Daelja terkejut dan tak sengaja menjatuhkan handphone nya. Melihat gadis itu gugup, membuat Chanyeol bertanya-tanya, apa yang terjadi?

“Aku sudah segar, kau boleh membersihkan dirimu sekarang.” Gadis itu segera mengunci layar handphone nya dan berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Pasalnya, dia membaca sebuah artikel yang aneh terkait dengan tubuh six pack seorang lelaki. Di artikel itu dijelaskan, bahwa perut six pack merupakan daya tarik utama dari seorang lelaki. Bukan hanya itu, masih banyak fakta-fakta yang membuat Daelja tercengang. Salah satunya, ‘Jika perut six pack seorang lelaki dielus, bisa membangkitkan gairah atau nafsu.’. Jangan heran mengapa Daelja bisa mengetahui apa itu gairah, dan apa itu nafsu. Itu pelajaran sekolah.

Menghabiskan beberapa menit di dalam kamar mandi, akhirnya Daelja keluar. Dan betapa terkejutnya dia tatkala melihat Chanyeol masih berada di kamarnya. Sedang memainkan handphone, hanya memakai boxer. Sekali lagi, hanya memakai boxer.

Mata Daelja tertuju pada perut Chanyeol; membuatnya mengingat rentetan kalimat yang ia baca tadi. Ia memilih untuk segera memakai baju guna untuk menghilangkan rona merah di pipinya.

Gadis itu membuka lilitan handuknya. Memperlihatkan tubuhnya. Ia tahu, bahwa Chanyeol masih berada di kamarnya, namun menurutnya itu tidak apa-apa. Chanyeol kan, kakaknya. Ya, itu hanya pikiran dari seorang gadis polos.

Berbeda dengan reaksi Chanyeol yang sangat terkejut melihat tingkah santai Daelja memakai baju tepat di hadapannya. Bagaimana pun, ia lelaki normal. Dengan berat hati, ia menutup matanya dengan bantal. Ingin melihat namun takut, ya, takut lepas kendali maksudnya.

“Chanyeol oppa kenapa tidak kembali ke kamar?”

Chanyeol mendongak; melihat Daelja sudah lengkap dengan piyama membuatnya bernafas lega. Namun, satu yang Chanyeol tangkap dari tatapan Daelja. Gadis itu masih memperhatikan perutnya. Ia kembali tersenyum penuh arti.

“Sayang, kemari lah.” Ia menggeser tubuhnya, menyimpankan ruang bagi Daelja untuk berbaring. Setelah gadis itu berbaring, Chanyeol kembali mengambil tangan Daelja.

“Ingin kembali meraba perutku?” Wajah Daelja sontak memerah. Ia menarik tangannya dengan cepat dan memukul Chanyeol.

“Nanti kau bergairah, oppa!” Jawaban vulgar dari Daelja membuat Chanyeol membulatkan matanya; kemudian ia tertawa. Adiknya yang manis memang sangat menggemaskan.

Dengan itu, Chanyeol menangkup kedua pipi gadis itu dan mencium bibirnya dengan cepat. Melumatnya secara bergantian, atas dan bawah. Daelja diam saja, karena memang hanya ini yang ia lakukan ketika kakak-kakaknya menciumnya.

“Kenapa kau tiba-tiba menempelkan bibirmu? Huh.” Tanya Daelja yang keheranan setelah ciuman itu selesai.

“Karena aku ingin kau meraba perutku,” jawab Chanyeol santai yang kembali membuat gadis itu memerah. Dengan kesal Daelja mencubit lengannya, “Kembali ke kamarmu oppa!”

“Jangan kejam begitu, sayang. Baiklah, aku kesini karena aku ingin minta sesuatu padamu.” Lelaki itu mencubit hidung Daelja dengan gemas, “Apa itu? Kalau soal perutmu, kembalilah ke kamarmu aku mohon.”

“Pijat aku, tolong. Rasanya pegal sekali habis latihan tadi.” Chanyeol membalikkan tubuhnya yang telanjang. Posisinya kini tengkurap. Dengan senang hati, Daelja mengambil lotion di meja riasnya dan mengolesnya ke punggung Chanyeol.

Dengan hati-hati, ia mulai memijat punggung Chanyeol. Tidak ada rasanya, karena kekuatan Daelja tidak seberapa. Tetapi, Chanyeol diam-diam saja menikmati tangan mungil adiknya menjamah punggungnya.

“Oppa tahu, tadi aku membaca artikel tentang perut yang oppa punya itu. Aku memerah saat membacanya. Sungguh itu sangat gila. Fuckin’ shit aku benar-benar menyesal membacanya. Padahal aku ingin merabanya sekali lagi.” Chanyeol yang mendengar adiknya mengucapkan kata kasar, terkejut.

“Sayang, dari mana kau belajar kata-kata itu?!” suaranya sedikit meninggi, membuat Daelja menegang. “Ups. Mian, aku menonton film di laptop mu dan ada yang berkata seperti itu saat ia sedang kesal.”

Chanyeol menghela napas, “Angkat sedikit badanmu.” Daelja menuruti. Lelaki itu membalikkan badannya. Jadi sekarang Daelja melihat bagian depan tubuh Chanyeol, bukan punggung polos lagi.

“Kau harus dihukum karena mengucapkan kata kasar, aracchi?” Daelja mengerucutkan bibirnya sambil menatap Chanyeol penuh harap.

“Rebahkan tubuhmu di atas tubuhku.” Perintahnya yang langsung dituruti oleh Daelja.

“Jangan gigit, oppa! Aku ingat terakhir kali kau menghukumku, leherku digigit. Itu sangat sakit!”

Chanyeol tertawa, “Selama ini kau hanya menempelkan bibir. Dan jika aku menempelkan bibir, kau hanya diam. Sekarang hukumanmu adalah, imbangi permainanku. Mengerti?”

Sungguh, Daelja tidak mengerti. Apa maksudnya? Mengimbangi bagaimana? Tapi, ia tetap menganggukkan kepalanya. Berharap akan mengerti sendiri.

Chanyeol merubah posisinya, kini Daelja yang dibawah.

“Ikuti caraku.” Pria jangkung itu mulai menempelkan bibirnya. Dengan lembut, ia melumat bibir atas Daelja, “Kau bagian bawahnya, sayang.”

Daelja tersentak, kemudian ia mulai mengerti apa yang dimaksud dengan mengimbangi. Dan dengan itu, mereka saling melumat. For the first time, Daelja merasakan kenikmatan dalam hal “menempelkan bibir”.

—-

“Kau sudah bangun, oppa?” Daelja tersenyum saat melihat kelopak mata Chanyeol terbuka. Ia sudah bangun dari 1 jam yang lalu. Dan, satu jam itu ia habiskan untuk menatap wajah tidur Chanyeol yang menurutnya sangat menggemaskan. Bahkan, tangannya sesekali mencubit pipi Chanyeol. Bukan hanya itu, ia juga mencium hidung mancung Chanyeol dengan gemas.

“Kau menungguku bangun? Apa Jongin tidak memanggilmu untuk makan malam?” Pria itu membenarkan posisi tidurnya. Kini ia menatap atap kamar Daelja.

“Tadi iya, tapi kusuruh makan duluan karena oppa belum bangun. Dia hanya tersenyum mengiyakan,” Daelja bangkit dari tidurnya, kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk Chanyeol agar ia berdiri. “Ayo makan.” Pria itu tersenyum menyambut uluran tangan sang adik.

Tidak ada Red Carpet¸ begitu pula dengan blitz-blitz kamera. Namun, bagi Daelja dan Chanyeol, rasanya seperti artis yang sedang naik daun  melakukan Showcase. Pasalnya, ke-delapan mata yang pada awalnya hanya fokus di makanan masing-masing, kini berbalik menatap mereka. Seakan menyiratkan pertanyaan ‘Apa saja yang kalian lakukan sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk makan malam’. Pertanyaan yang paling mematikan bagi mereka. Ah, mungkin cuma bagi Chanyeol.

“Malam, oppa-oppa ku. Ku kira kalian sudah menyelesaikan makan malam.” Dengan santai, Daelja duduk di kursi tepat di samping Jongin, dan tepat di hadapan Sehun. Ia tersenyum pada Jongin dan Sehun sebelum menerima piring berisi makanan yang diulurkan oleh Kyungsoo.

“Kami sebenarnya menunggumu, bodoh. Tapi karena Baekhyun hyung sudah cerewet minta makan, kami terpaksa harus meninggalkanmu.” Kyungsoo menatap Daelja dengan sebal.

“Hey, otak jenius. Jangan memanggil honey ku dengan sebutan bodoh.” Baekhyun meneriaki Kyungsoo yang hanya dibalas dengan dengusan sebal. “Ya, seperti itulah ceritanya,” Dia terkekeh, “Habisnya kau terlalu lama. Memangnya sedang apa sama Chanyeol bodoh ini?”

Baekhyun mengarahkan garpunya ke Chanyeol yang sedang menikmati hidangan di hadapannya. Tanpa peduli apa yang dibahas oleh saudaranya itu. Sekalipun itu tentang dia, dia tidak peduli.

“Aku yakin, Chanyeol menumpang lagi di kamar Daelja. Padahal ‘kan dia punya kamar sendiri. Yang seharusnya menumpang itu, Sehun.” Baekhyun kembali bersuara, saat merasa tak ada satupun yang meresponnya. Sedangkan, Daelja tertawa.

“Oppa, kau cerewet sekali. Makan makananmu dengan benar sebelum aku kehilangan nafsu makanku. Dan, ya, Chanyeol oppa memang tipe yang sangat suka menumpang. Ia menggunakan kamar mandi ku, kemudian menyuruhku untuk memijat punggungnya, hingga aku membuat kesalahan dan aku dihukum.” Jelas Daelja dengan santai. Wajah polosnya ketika menjelaskan membuat Jongin ingin melahapnya habis-habisan. Bagaimana ia bisa punya Adik gadis sepolos Daelja? Yah, walaupun ini semua karena saudara-saudaranya sendiri.

Pergerakan tangan Sehun langsung berhenti tatkala mendengar penjelasan Daelja. Ia tahu, hukuman apa yang dimaksud oleh Daelja. “Chanyeol tidak boleh seenaknya menumpang di kamar Daelja lagi. Kalau mau mandi, pakai saja yang di kamar tamu.” Ucap Sehun yang hanya dibalas oleh kekehan mengejek dari Chanyeol. Sehun kalah start.

Setelah itu, tak ada yang melanjutkan percakapan. Mereka menghabiskan hidangan dengan tenang. Hingga 5 menit berlalu, Baekhyun dan Kyungsoo mengangkat piring kotornya. Jongin, Sehun dan Chanyeol masih betah berada di meja makan sembari meminum Cappuccino hangatnya.

“Wow, rasanya aku ingin menikahi Daelja saja.” Chanyeol tertawa; memperhatikan ekspresi Jongin dan Sehun.

“Bukan cuma kau saja, bodoh.” Sehun menimpali, diikuti anggukan setuju Jongin.

“Rasanya kita berhasil mendidiknya menjadi gadis yang manis. Aku suka kepolosannya. Ini berkat Baekhyun juga. Kau ingat saat Baekhyun mengatakan pada Daelja bahwa ciuman itu merupakan hal yang kasar?” Chanyeol dan Sehun mengangguk.

Jongin tertawa, kemudian melanjutkan, “Aku masih sangat ingat ekspresi Daelja. Ia terkejut, dan Baekhyun segera menambahkan, kecuali melakukannya dengan suadara, itu dianggap biasa saja.” Mereka tertawa dengan memori yang tersimpan di otak masing-masing.

Baekhyun dan Kyungsoo yang baru kembali menatap ke-tiga saudaranya dengan heran. Apa yang se-begitu lucunya hingga mereka tertawa seperti ini?

“Apa yang kalian bahas?” Baekhyun kembali duduk di kursinya, diikuti dengan Kyungsoo.

“Daelja. Adik polosku yang manis. Kami semua ingin menikahinya, bagaimana menurutmu?”

Baekhyun tertawa, sedangkan Kyungsoo terkejut. Kakak-kakaknya sudah gila.

“Aku tahu kalian sangat menyayangi Daelja. Tapi kalian harus berpikiran rasional juga! Memangnya kalian tidak memiliki pacar?” Kyungsoo menggelengkan kepalanya melihat kelakukan ke-empat kakaknya itu.

“Tidak ada yang se-menarik Adikku.” Jawab Baekhyun santai, kemudian ia beranjak menuju kamarnya.

Jongin dan Chanyeol menghabiskan Cappuccino nya kemudian mengikuti jejak Baekhyun. Namun, langkah mereka terhenti mendengar pernyataan Sehun.

“Jong, mulai sekarang aku akan tidur di kamar Daelja.”

Chanyeol menyeringai, Jongin hanya senyum, “Akhirnya kau mau.”

Sehun terkekeh, kemudian mengajak Kyungsoo untuk kembali ke kamar.

­­-To Be Continued­-

12 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] BROTHER(S); Messege (Chapter 3)

  1. Yaelah chanyeol ngehukumnya gitu banget, ngehukum atau ngemodus haha :v
    Ajaran baekhyun gak ada benernya, masa ciuman sama saudara dibenarkan, ahh mereka cuman memanfaatkan daelja
    Yang normal dikeluarga mereka cuma kyungsoo ya, mungkin appa nya juga normal wkwk
    Tapi aku iri sama daelja, punya saudara yang tampan tampan😦

  2. Njjiiirrrr…. parah 😮😲 bahaya banget kalo semua pikiran saudaranya begitu. Kyungsoo sepertinya mungkin yang sedikit lebih waras pikirannya. Selanjutnya giliran sehun. Mungkin part sehun yang lebih parah ya 😑😮

  3. Envy parahhhh hahahaa
    punya oppa2 super care tamvan tp rada bangsad wkwkwk
    kayanya ada yg agak aneh sama sehun yg pas akhir, kok dia ‘baru mau’ tidur dikamar daelja?? Lah emg tadinya? O.o

  4. Wah waah kacauu nih mereka benar benar uda merusak daelja yang kelewat polos -_-
    Baekhyun bilang apa? Kalau ciuman sesama saudara itu bolehh astagaa baek sadarlah daelja itu adikmu :v
    Selanjutnya sehun oppaa yeye gasabar ditunggu yaa kak kelanjutannyaa ^^
    Fightingg!!~

  5. waaaaaahhh.. apa ini..
    kayaknya yg cukup normal cuma kyungsoo yaa..
    dan yg meracuni otak daelja adalah kakaknya sendiri..
    oke deh aku tunggu next chapternya ya

  6. huahh., ini ff bener bener bikin senyum” sendiri., mau punya kakak yg kek gitu tapi jgn sampai kek gitu masa sama adek ciuman di bibir#Plaakkk

    wahhh pasti di next chap tentang Sehun oppa..huuhhh aku seneng deh^^
    chap ini udah di panjangin yah^^
    padahal tadi lagi seru”nya loh kak aku sampe engga sadar kalo udah TBC..kkk

    Next kak dtunggu klanjutanya ya^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s