[EXOFFI FREELANCE] ABOUT FEELING – Chapter 2

cover2

Title : About Feeling #2

Author : nopiu

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life

Rating : PG15

Main Cast : Byun Baekhyun & Kang Daeun (OC)

Additional Cast : Park Chanyeol, Lee Soeul (OC), Kim Minseok

Summary : Karena semua yang menyangkut perasaan itu absurd, jangan pernah coba memahaminya.

Disclaimer : Fanfic ini juga di-publish di exo199saranghaja.wordpress.com

What Hurts The Most

Daeun tidak pernah melewatkan sarapan, setelat apapun Daeun akan tetap menyempatkan diri untuk sarapan. Ibunya pernah bilang kalau sarapan adalah pondasi dari semua kegiatan seharian penuh dan Daeun percaya itu. Bagi Daeun sarapan itu sepenting sikat gigi sebelum tidur bagi Kim Minseok-sepupu Daeun yang tinggal dirumahnya- tidak boleh dilewatkan seharipun.

“Kim Minseok turunkan aku di toko roti di depan sana.”

“Kang Daeun, sekarang kau hampir terlambat. Lupakan sarapan untuk hari ini.”

“Aku tidak pernah melewatkan sarapan, Kim Minseok. Aku lebih memilih mendapat detensi daripada tidak sarapan.”

“Dan sebelum pergi ke Daegu bibi sudah memintaku untuk memastikan hari ini kau tidak mendapat detensi pertama di semester ini. Beli saja roti atau sandwich di kantin nanti, aku juga hampir terlambat dosenku bisa mengulitiku.”

Daeun hanya bisa menghembuskan napas kesal. Berdebat dengan seorang Kim Minseok memang selalu melelahkan dan Daeun tidak akan bisa menang jadi pilihan terbaik adalah menyerah. Kalau Daeun masih menanggapi ucapan Minseok maka laki-laki itu akan mulai membahas kebiasaan susah bangun tidur Daeun dan berbagai hal tentang pola hidup tidak sehat Daeun dan selanjutnya akan membuat jadwal olahraga dan makanan sehat yang harus Daeun ikuti.

“Kau tahu ‘kan, kalau aku membencimu?” ucap Daeun sambil melirik tajam Minseok. Laki-laki berumur 22 tahun itu hanya tersenyum, tahu kalau dia sudah memenangkan perdebatan kekanakkan ini.

Terima kasih kepada Minseok, hari ini menjadi salah satu hari bersejarah bagi Daeun. Pertama kali dalam 18 tahun hidupnya, Daeun melewatkan sarapan.

*

Byun Baekhyun bukanlah seseorang yang selalu memikirkan tindakannya  sebelum melakukannya. Tapi untuk memilih teman sebangku, Baekhyun benar-benar memikirkan resiko yang harus diterimanya, karena menjadi teman sebangku artinya menghabiskan hampir seluruh waktumu disekolah bersama orang itu kecuali kalau ada orang yang mau menukar tempat duduknya.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan Baekhyun dalam memilih teman sebangku. Pertama, teman sebangkunya tidak boleh termasuk siswa nakal dan bodoh. Biasanya ada banyak sekali tugas kelompok yang dikerjakan dengan teman sebangku dan siswa nakal atau bodoh sangat tidak menguntungkan untuk hal ini.

Yang kedua, teman sebangkunya tidak boleh terlalu cerewet ataupun terlalu pendiam. Kalau terlalu cerewet biasanya orang itu akan tetap bicara walaupun pelajaran berlangsung dan akan mengganggu konsentrasi Baekhyun. Kalau terlalu pendiam, memang ada yang suka kalau sudah bicara panjang lebar tapi dijawab dengan kalimat tersingkat sedunia?

Yang ketiga dan yang terpenting, teman sebangkunya harus seseorang yang sudah Baekhyun kenal atau setidaknya tahu. Tidak mungkin ‘kan Baekhyun bisa membaca sifat seseorang di pertemuan pertama mereka?

Karena ketiga hal itulah saat Baekhyun memasuki kelas barunya dia memilih duduk di sebelah Kang Daeun. Teman sekelasnya saat kelas satu, tidak termasuk anak nakal, lumayan pintar (walau tidak terlalu), tidak terlalu cerewet atau terlalu pendiam. Benar-benar pas dengan karakter teman sebangku ideal Baekhyun.

Baru saja Baekhyun mengingat-ingat senyum tipis yang Daeun tunjukkan kemarin pagi sekarang gadis itu sudah berada di depan pintu kelasnya dengan napas terengah-engah dan keringat di pipinya.  Baekhyun berani bertaruh kalau Daeun baru saja berlari dari pintu gerbang sampai ke kelas mereka, ternyata kebiasaan buruk Daeun dari kelas satu belum berubah juga.

Perempuan itu dengan segera duduk di bangkunya, tepat disebelah Baekhyun. Masih dengan napas yang belum teratur Daeun mengambil air minum yang ada di meja Baekhyun dan meminumnya tanpa izin. Baekhyun baru tahu kalau Daeun itu tipe orang yang tidak keberatan berbagi minuman dan Baekhyun sama sekali tidak keberatan berbagi minuman dengan seorang Daeun.

“Aku pikir aku akan mati.” Ucap Daeun, napasnya mulai sedikit teratur.

“Kau masih suka terlambat, yah. Kebiasaan memang sulit dirubah.” Baekhyun memberikan Daeun tissue untuk menghapus keringat di wajahnya.

“Wah, kau bahkan tahu aku sering terlambat. Kurasa keterlambatanku memang sangat terkenal.”

“Kau itu pemegang rekor penerima detensi terbanyak di kelas kita dan semuanya karena terlambat, jelas saja semuanya pasti tahu.”

Baekhyun dan Daeun tertawa cukup keras, jelas saja semua mata orang dikelas ini tertuju pada mereka. Dengan cepat mereka berdua menghentikan tawanya. Ada rasa canggung ketika semua mata tertuju padamu dan ekspresi mereka kelihatan terganggu dengan dirimu. Mencari hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kecanggungan, Daeun buru-buru mengambil buku Bahasa Inggris dari tasnya dan pura-pura sibuk membacanya walaupun setahu Baekhyun hari ini jam pertama adalah Matematika.

*

Tidak ada yang lebih canggung daripada harus duduk berhadapan dengan mantan pacarmu dan pacar mantan pacarmu, itu menurut Daeun. Dan sayangnya, perempuan itu benar-benar mengalaminya sekarang. Mereka berempat-Daeun, Chanyeol, Soeul dan Baekhyun-duduk bersama dengan canggung di salah satu meja perpustakaan membahas tentang tugas kelompok yang kalau tidak salah tentang resensi buku.

“Nah, jadi bagaimana kalau kita bagi dua saja tugas ini. Aku dan Soeul akan meresensi buku non-fiksi, Baekhyun dan Daeun yang meresensi buku fiksi.”

Chanyeol mulai membahas tentang ide briliannya tentang tugas ini. Daeun tahu, Chanyeol selalu punya banyak ide-ide diotaknya dan untuk alasan itu Daeun merasa bersyukur bisa sekelompok dengan Chanyeol. Hanya saja, Daeun masih belum terbiasa dengan Chanyeol yang menyebut namanya semudah itu dan tanpa rasa canggung seolah Daeun memang ‘hanya’ teman sekelompoknya. Biar bagaimanapun, ini adalah percakapan pertama setelah perpisahan mereka.

“Kalau begitu lebih baik kita memilih bukunya saja sekarang.” Kata Baekhyun sambil menarik lengan Daeun untuk mengikutinya ke rak buku bagian buku fiksi.

“Kau baik-baik saja?” Daeun hampir saja tertawa, ini kedua kalinya Baekhyun menanyakan hal itu dan kali ini Baekhyun benar-benar tampak khawatir.

“Ini pertama kalinya aku benar-benar bersyukur dengan kehadiranmu Byun Baekhyun.” Jawab Daeun sambil tersenyum. “Aku baik-baik saja karenamu, setidaknya aku tidak harus menghadapi kecanggungan ini sendirian.”

Sementara Daeun tertawa (tentu saja dengan suara kecil karena mereka diperpustakaan), matanya mengikuti Chanyeol dan Soeul yang sedang berjalan ke arah salah satu rak buku. Tiba-tiba Daeun ingat kebiasaannya dan Chanyeol saat masih berpacaran dulu, mengunjungi perpustakaan setiap hari jumat. Chanyeol memang suka membaca dan Chanyeol seakan menularkan hobi itu pada Daeun yang dulunya tidak pernah menyentuh buku kecuali diharuskan.

Sambil pura-pura mencari buku yang harus diresensi Daeun masih mengamati Chanyeol dan Soeul. Mengamati bagaimana kedua orang itu membaca buku bersama, bagaimana kedua orang itu tertawa bersama. Daeun menyimpulkan Chanyeol masih seorang pacar impian semua perempuan. Dan karena hal itu Daeun yang merasa dirinya menyedihkan lalu memutuskan fokus mencari buku yang harus dia resensi.

*

Baekhyun biasanya tidak mudah kesal, tapi siang ini Baekhyun tidak bisa tidak kesal. Chanyeol sudah menolak semua buku yang Baekhyun perlihatkan padanya dengan alasan buku itu tidak cukup bagus untuk diresensi. Bukan hanya itu, Chanyeol juga dengan sombongnya bilang dia akan meresensi salah satu buku koleksinya saja. Dan laki-laki itu bahkan tidak meminta persetujuan Baekhyun dan Daeun.

Kekesalan Baekhyun mencapai level maksimum saat laki-laki setinggi tiang basket itu dengan tenangnya berkata “Daeun masih punya novel yang kita beli bersama musim panas yang lalu? Resensi itu saja”. Harusnya Chanyeol tahu kalau menyinggung sesuatu tentang masa bahagia dengan mantan pacarmu yang mungkin saja belum melupakanmu itu bukan hal yang benar. Baekhyun bahkan melihat Daeun mengerutkan dahinya tapi detik selanjutnya hanya bisa mengangguk singkat.

Baekhyun masih tetap kesal saat Chanyeol dan Soeul pergi ke kelas duluan meninggalkannya dengan Daeun yang sibuk membaca sinopsis novel yang katanya ingin dia pinjam.

“Daeun, kau tidak kesal pada Chanyeol?” Baekhyun tiba-tiba merasa gatal untuk bertanya pada Daeun setelah hampir dua menit hanya duduk menunggui Daeun tanpa melakukan apa-apa.

“Tentu saja, aku kesal melihat Chanyeol dan Soeul. Melihat mereka berdua membuatku merasa menyedihkan karena sepertinya aku benar-benar mudah untuk dilupakan.” Jawab Daeun, matanya masih tertuju pada novel yang dipegangnya. Baru saja Baekhyun ingin mengatakan sesuatu seperti kau itu tidak mudah dilupakan dan kata-kata penyemangat lainnya, Daeun akhirnya menatap Baekhyun dan berkata, “Aku benar-benar tidak suka kalau ada sesuatu yang mengganggu rutinitasku. Sama seperti aku benci melewatkan sarapan, aku juga benci mendengar tawa seseorang yang dulu selalu tertawa denganku kini tertawa dengan orang lain bukan denganku lagi. Menerima kenyataan kalau orang yang sangat kukenal sekarang menjadi orang yang pernah kukenal, kurasa itu hal yang paling menyakitkan bagiku.”

Daeun lalu berdiri sambil mengambil dua novel yang sepertinya akan ia pinjam. “Tapi hidup memang butuh perubahan, ‘kan? Hari ini aku baik-baik saja setelah melewatkan sarapan, jadi kupikir aku juga akan baik-baik saja setelah Chanyeol pergi dari kehidupanku.” Setelah tersenyum ke arah Baekhyun, Daeun berjalan ke arah meja penjaga perpustakaan untuk meminjam novel itu.

Baekhyun masih diam di tempatnya duduk tadi sambil memandangi punggung Daeun yang sudah berjalan keluar dari perpustakaan. Baekhyun tidak kesal lagi, ia sudah lupa akan rasa kesalnya pada Chanyeol. Satu-satunya yang ada di pikiran Baekhyun adalah bagaimana membuat Daeun merasa baik-baik saja tanpa Chanyeol.

***

Holla~~ akhirnya chapter 2 muncul ke permukaan. Adakah yang menantikan ff ini? (semoga ada)

Gimana chapter ini? Baguskah? Datarkah? Masih maniskah? Atau membosankan kah? Aku bener-bener ga sabar untuk membaca komen kalian. Sesuai permintaan, chapter ini udah lebih panjang dari chapter pertama ntar kalo kepanjangan kalian malah capek bacanya. FF ini akan ku update seminggu sekali karena aku nyari idenya emang agak sulit tapi diusahain kok seminggu sekali di update.

Aku juga mau bilang makasih banyak untuk semua yang udah nyempetin baca apalagi komen. I love you so much guyssssss!!!

Oh iya, ada yang nanya aku ini dipanggil apa? Itu sih terserah kalian aja, bisa manggil aku nopiu, nopi, piu, atau iu (biar berasa kayak artis hahhaha). Untuk umur, aku ini line 97 jadi yang mau manggil dek atau kak disesuaikan saja yah.

See you in next chapter,

xoxo

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] ABOUT FEELING – Chapter 2”

    1. haha , gapapa kok ga komen di chap 1 setidaknya dirimu komen di chap ini. iya aku selalu semangat kok buat baekhyun dan daeun hehehe. selamat menunggu chap 3 yah

  1. ini manis banget kayak kamu /lol/ ku suka karakter byunbaek sm daeunnya yg kek murid teladan.. mereka lucu deh, jadi byunbaek tuh udh sering merhatiin daeun ya? kok dia perhatian sih .. perhatian sm akunya kapan 😂🔫

    1. makasih banget udah bilang aku manis hahahaha. Baekhyun dibilang siswa teladan bukan jg sih, tapi bukan siswa nakal juga.
      tenang aja, appa Baekhyun selalu merhatiin kamu dari jauh kok.

  2. Wahh akhirnya diupdate juga wkwk
    Baekhyun mulai perhatian dikit dikit sama daeun huuu

    Pasti romantiss,, ga tau kenapa aku lagi suka baca ff yg romantis lucu lucu jaman sekolah gitu /kayak udah ga sekolah aja wkwk/

    Ditunggu lanjutannya ya piuu ..
    Hwaiting ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s