[EXOFFI FREELANCE] Between Us (Chapter 2)

between-us

Title: Between Us

Author: RinMaru127

Genre: School life, family, action

Rating: PG 13+

Leght: Chaptered

Main Cast: Baekhyun [EXO] | Daehyun [B.A.P] | V/Taehyung [BTS]

Support Cast: EXO‘s Members,  B.A.P‘s Members, BTS‘s Members, and others….

Disclaimer : Story is mine. Don’t be a plagiator.

Fanfiction ini juga dipublish di akun wattpadku.

Credit: Poster by Alkindi Artworks

.

Happy reading

.

.

.

Between Us – Chapter 2

.

.

Cih, anak menyebalkan. Kau tidak tahu kalau aku tidak menyukainya?”

.

“Eh… Baekhyun dan Daehyun tidak pernah akur sejak mereka bertemu, omong-omong.”

.

~-~

 

“Menyebalkan!” Daehyun menendang batu yang ditemuinya di jalan hingga menggelinding beberapa meter. Temannya yang berdiri di sebelahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Untuk apa anak bernama Kim Tae Hyung masuk ke sekolahku?”

“Itu bukan sekolahmu, Daehyun. Itu milik Tuan Lee Sang Min.” sahut temannya tanpa mengalihkan perhatiannya dari handphone-nya.

Daehyun melayangkan sebuah tatapan tajam kepada temannya itu. “Kau pasti mengerti maksudku, Youngjae.” kata Daehyun tanpa melepas tatapannya. “Dan lagi, ada apa dengan kembaranmu itu? Memangnya aku sudah melakukan apa, huh?”

Youngjae mengalihkan perhatiannya sejenak ke arah Daehyun yang sudah menatapnya dengan tatapan normal. “Maksudmu? Kau dan Jiae sudah tidak bersama lagi?”

“Ya, tadi pagi dia marah-marah dan meninggalkanku begitu saja.” gerutu Daehyun.

“Oh. Pantas saja jam istirahat tadi kau mengajakku ke kantin, biasanya kau dengan Jiae.” Youngjae kembali menyibukkan dirinya dengan handphone-nya.

“Padahal kemarin dia baru bermain ke rumahku.” keluh Daehyun sambil sedikit memajukan bibirnya.

Youngjae yang mendengar keluhan Daehyun tadi terdiam sejenak. “Rumahmu? Oh, mungkin karena ini.”

Youngjae memainkan jarinya dengan cepat di atas layar handphone-nya. Setelah menemukan hal yang dicarinya, ia menunjukkan handphone-nya kepada Daehyun. Daehyun memperhatikan layar handphone Youngjae yang menunjukan foto Sujeong yang tengah memegang boneka beruang putih. Daehyun mengerutkan keningnya sejenak.

“Maksudmu Jiae mengira boneka beruang di kamarku dari Sujeong?”

Youngjae mengangguk. “Mungkin.”

“Tunggu, dari mana kau mendapatkan foto ini?” tanya Daehyun. Setahunya Youngjae tidak terlalu dekat dengan yeoja manapun di sekolahnya.

“Dari instagram Sujeong.” Youngjae menarik handphone-nya dan memainkannya lagi.

“Apa? Kau mengikutinya? Untuk apa?”

“Dia yang meminta. Itu syarat yang dia berikan jika aku ingin dia mengerjakan PR ku.” kata Youngjae.

Daehyun mengerutkan keningnya. “Mengerjakan PR? Kau meminta Sujeong mengerjakan PR mu? Kau, kan, pintar.”

“Waktu itu aku dan keluargaku ingin pergi ke rumah nenekku di Sokcho dan menginap di sana. PR-nya lumayan banyak dan cukup sulit. Aku tidak yakin bisa mengerjakannya di rumah nenekku, jadi aku meminta Sujeong mengerjakannya. Omong-omong, dia sangat jago meniru tulisan orang lain, ya?” Youngjae masih asyik dengan handdphone-nya. “Lalu kau mendapat boneka beruang itu dari mana?”

“Dari Yein.”

Youngjae mengangkat wajahnya dan menatap Daehyun. “Yeoja?” Daehyun membalasnya dengan mengangguk singkat.

Youngjae menghela nafas. Sekalipun Jiae tahu boneka itu bukan dari Sujeong, ia pasti akan tetap marah jika tahu boneka itu dari seorang yeoja. Apalagi Daehyun meletakkannya di meja belajar, seakan-akan itu benda berharga baginya. Youngjae memang sering bermain ke rumah Daehyun, tapi ia tidak pernah memiliki rasa ingin tahu terhadap boneka yang terduduk manis di meja belajar Daehyun.

Tinggal satu tikungan lagi mereka akan sampai ke jalan tempat rumah Daehyun. Rumah Daehyun dan Youngjae masih berada di satu komplek yang sama, jadi mereka selalu pulang bersama. Biasanya Jiae juga ikut dengan mereka, tapi tadi Daehyun ataupun Youngjae tidak melihat Jiae di manapun saat jam pulang. Temannya bilang ia pergi jalan-jalan dengan temannya yang lain, jadi Daehyun dan Youngjae hanya pulang berdua, dan sepertinya itu akan terus belangsung hingga Jiae sudah tidak kesal dengan Daehyun.

“Yein datang!” Daehyun berlari dengan cepat ke rumahnya ketika melihat sebuah mobil berwarna silver terparkir di depan rumahnya. Youngjae yang tak ingin ditinggal berlari mengejarnya.

“Yein? Bisakah kau mengenalkan aku dengannya?” Youngjae penasaran dengan sosok yeoja yang memberi boneka kepada Daehyun mulai muncul.

Daehyun mengangguk. “Kau ingin masuk atau menunggu di luar?”

“Aku tunggu di luar saja.”

Daehyun pun langung berlari masuk. Youngjae bisa mendengar orang-orang di dalam sana menyambutnya. Sepertinya yeoja bernama Yein itu tidak datang sendiri, suara yang terdengar menunjukan bahwa ada lebih dari lima orang di sana, padahal Daehyun hanya tinggal bertiga dengan appa dan eomma-nya.

Tak lama kemudian Daehyun keluar sambil menggandeng seorang yeoja yang tampaknya masih berumur sekitar 8 tahun.

“Youngjae, ini sepupuku, Yein.”

“Namaku Jung Ye In. Salam kenal.” ucap yeoja itu sambil tersenyum lucu.

Youngjae menautkan alisnya. Ia kira Yein adalah yeoja yang seumuran dengan Daehyun. “Hai, aku Yoo Young Jae, teman Daehyun.”

Yein tersenyum manis, kemudian ia menoleh ke arah Daehyun. “Oppa, aku harus memanggilnya apa?”

“Hm. Panggil saja ‘hyung’.” canda Daehyun yang kemudian tertawa melihat ekspresi tak suka dari Yein.

Oppa, aku bukan namja.” Yein menggerutu sambil menggembungkan kedua pipinya.

Youngaje ikut tertawa melihat Yein. “Panggil aku Youngjae Oppa saja. Aigoo, kau menggemaskan, Yein.”

“Ya, kau benar. Apalagi pipinya ini.” kata Daehyun sambil mencubit pelan pipi Yein.

Oppa, jangan mencubit pipiku.” Yein menutupi kedua pipinya sambil mengerucutkan bibirnya.

Daehyun dan Youngjae langsung tertawa melihat Yein.

“Daehyun, aku harus pulang sekarang. Terima kasih sudah mengenalkan sepupu menggemaskanmu ini. Sampai jumpa.” kata Youngjae sambil melambaikan tangannya dan melangkah pergi.

“Sampai jumpa!” Yein membalas lambaian Youngjae. “Oppa, Youngjae Oppa itu yang ada di foto di meja belajar oppa?

Daehyun mengangguk. “Ya, itu Youngjae.”

Yein mengangguk-angguk mengerti. Di meja belajar Daehyun, ada sebuah figura kecil yang ditaruh di antara kedua kaki boneka beruang pemberian Yein. Figura itu diselipi sebuah foto dua namja yang merangkul pundak satu sama lain sambil tersenyum ke arah kamera.

Satu hal yang membuat Yein sedikit bingung, ia tahu dirinya masih terlalu muda untuk mengetahui kehidupan remaja seperti Daehyun, tapi ia sering melihat Daehyun berjalan bersama Jiae dan Daehyun bilang itu yeojachingu-nya. Yein memiliki seorang kakak perempuan yang memiliki namjachingu, jadi Yein sedikit mengerti tentang itu.

Yang membuatnya bingung adalah, kakaknya selalu mengutamakan namjachingu-nya dalam segala hal -termasuk ketika keluarganya dan namjachingu-nya mengajak makan malam pada waktu yang bersamaan. Sedangkan Daehyun, Yein tidak pernah melihat Daehyun memajang foto yeojachingu-nya di manapun. Bahkan wallpaper handphone Daehyun adalah foto dirinya dan teman-teman basketnya. Tampaknya Daehyun lebih mengutamakan temannya dibanding yeojachingu-nya.

“Daehyun, cepatlah masuk! Paman Inseong ingin mengajak kita makan malam.” ujar eomma Daehyun yang sudah berdiri di depan teras.

“Ya, eomma. Ayo, Yein!” kata Daehyun sambil menggandeng Yein dan melangkah masuk ke rumah di belakang mereka.

 

~-~

 

Seorang namja membuka pintu di hadapannya dengan malas. Tasnya yang berat ia seret sejak di halaman tadi karena pundaknya terasa akan patah jika ia membawa tas itu terus. Memasuki ruang keluarga, matanya menatap ke arah sofa putih panjang yang empuk itu. Ia melempar tasnya ke sofa yang lain dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang menjadi pusat perhatiannya. Bantal-bantal yang berjejer rapih di sofa itu ia lempar sembarang arah.

“Aish, menyebalkan!” Ia menelungkupkan kepalanya ke atas sofa ketika bantal-bantal di sofa itu sudah menghilang dari tempatnya.

“Aduh, Baekhyun. Jangan berteriak seperti itu. Berisik.” omel eomma Baekhyun yang sedang berada di dapur yang berada tepat di sebelah ruang keluarga.

“Aku kesal, eomma! Sudah ada Daehyun, dan sekarang ada Taehyung!” teriak Baekhyun.

“Siapa? Daehyun?” tanya eomma sambil sedikit mengalihkan perhatiannya dari sayur-sayuran di hadapannya.

“Ya, namja menyebalkan yang selalu mengejekku pendek.” sahut Baekhyun.

“Lalu Taehyun siapa?”

Baekhyun mendengus kesal. “Apa eomma ingin seperti teman-temanku juga? Namanya Taehyung, bukan Taehyun.”

“Oh, Taehyung. Eum, rasanya eomma pernah dengar.” Eomma terdiam sejenak, mencoba mengingat orang bernama ‘Taehyung’ itu. “Ah, entahlah. Eomma lupa.”

“Ya, orang menyebalkan seperti dia memang tidak pantas untuk diingat.” sungut Baekhyun.

“Eh, kau tidak boleh bicara seperti itu.” Eomma yang sudah menyelesaikan kegiatannya dan mendekati Baekhyun.

Baekhyun mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melipat kedua tangannya ke dada dan memajukan bibirnya. Eomma duduk di sebelah Baekhyun dan mengambil majalah di meja kaca di hadapannya tanpa mempedulikan Baekhyun yang mendengus kesal.

“Baekhyun,” Eomma menjeda ucapannya sejenak, berharap Baekhyun menyahutnya. Tapi Baekhyun tampaknya tidak tertarik dengan panggilan eomma-nya, bahkan ia tidak melirik eomma-nya sedikitpun. “Handphone eomma rusak. Hari Minggu eomma ingin membeli yang baru. Kau mau menemani eomma, kan?” tanya eomma tanpa mengalihkan perhatiannya dari tulisan-tulisan pada majalah yang dipegangnya.

Baekhyun terdiam sejenak. Suasana hatinya memang sedang tidak baik saat ini -dan jika seperti ini ia hanya ingin mengurung diri di kamarnya seharian. Tapi berhubung headset-nya menghilang entah kemana, tampaknya ajakan eomma tidak buruk. Baekhyun mengiyakan ajakan eomma-nya tadi, setelah itu ia mengambil tasnya dan berjalan dengan malas ke kamarnya.

 

~-~

 

Taehyung menatap keenam teman satu angkatannya. Kenapa hanya enam orang? batinnya. Ia tidak mengerti mengapa dari seluruh murid kelas 10 hanya ada 7 orang -termasuk dirinya yang bergabung dengan tim basket. Padahal saat ia SMP banyak sekali murid yang bergabung dengan tim basket.

“Baiklah. Tampaknya hanya kalian yang berminat, ya?” Junmyeon menatap mereka satu persatu. “Huft, sepertinya ini satu-satunya SMA dengan murid tersedikit yang menyukai basket.”

“Biarlah. Walaupun sedikit, yang penting kita memiliki anggota yang berbakat.” kata Sehun.

“Terserah kau saja,” sahut Junmyeon sedikit malas. “Omong-omong, kemana para ‘hyun’ itu?”

“Ada satu di sini.” ujar Sehun sambil menunjuk namja yang berdiri di sebelahnya.

Namja itu menautkan alisnya bingung. “Eum, sunbae, namaku Taehyung. Tidak ada kata ‘hyun’ pada namaku.”

Sehun melemparkan tatapan tajam ke arah Taehyung. “Jangan menolak. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Taehyun, itu cocok untukmu. Lagipula wajahmu juga tidak berbeda jauh dengan Baekhyun dan Daehyun.”

Taehyung menghela napas panjang. Ia sangat tidak suka disamakan dengan orang lain, sekalipun itu senior-nya sendiri. Taehyung lebih suka menjadi dirinya sendiri, apapun yang terjadi.

“Ya sudah. Lupakan kedua ‘hyun’ itu, kita latihan saja. Ayo!” Junmyeon melemparkan bola basket ke arah murid kelas 10 itu, ia mengajak bertanding rupanya. Tujuh murid kelas 10 dengan lima murid kelas 12. Jumlah yang tidak adil memang, tapi kemampuan mereka berbeda. Tentu saja tidak ada yang protes karena bagi mereka itu adil-adil saja.

Pertandingan dimulai. Bola basket itu diserahkan kepada kelas 10 untuk memulai lebih dulu, berhubung mereka baru bergabung. Kelas 10 mengusai bola oranye itu pada awal pertandingan hingga Chanyeol -anggota dari kelas 12 yang paling tinggi merebutnya dan sukses memasukannya ke dalam ring.

Taehyung mendengus kesal. Ia tidak boleh gagal lagi. Pertandingan dimulai kembali. Junmyeon men-dribble bola itu hingga mendekati ring lawannya. Taehyung yang berada di dekatnya langsung merebut bola itu dengan satu gerakan dan menggiringnya ke arah berlawanan. Taehyung mengoper bola itu ke rekannya, Yoongi yang dekat dengan ring lawan. Yoongi berhasil mendapatkannya dan memasukkan bola itu ke dalam ring.

Pertandingan dilanjutkan hingga jam istirahat habis. Poin yang didapat kelas 12 pada awal pertandingan itu adalah poin pertama dan terakhir pada pertandingan yang diadakan selama 20 menit itu. Taehyung dan murid kelas 10 lainnya benar-benar mengambil alih bola basket hampir selama pertandingan berlangsung. Ketujuh murid kelas 10 itu pun kembali ke kelas mereka dengan wajah beseri-seri.

 

~-~

 

“Yak!”

Junmyeon yang baru saja duduk di kursinya menoleh ke arah orang yang barusan berseru itu. “Kemana saja kau? Tidak ikut bermain?”

Orang itu, Baekhyun, menatap Junmyeon dengan tatapan mengerikan. “Kalian tidak mengajakku. Kalian malah bermain dengan si Tae itu.”

“Memangnya kenapa?”

“Cih, anak menyebalkan. Kau tidak tahu kalau aku tidak menyukainya?” Suara Baekhyun mulai meniggi karena kesal.

“Tidak,” balas Junmyeon. “Kalau begitu, sebaiknya kalian cepat akur. Kemampuan anak itu tidak berbeda jauh dengan kau dan Daehyun. Kalau-”

“Jangan sebut nama Dae yang bodoh itu!” Baekhyun memotong ucapan Junmyeon.

“Ah, iya …. Jika kau dan murid kelas 10 itu saling bermusuhan seperti kau dan murid kelas 11 itu, nanti Han Sonsaengnim mengeluarkanmu dari kelompok jika kita ikut pertandingan antar sekolah. Aku tidak ingin kau keluar, Baekhyun. Kemampuanmu itu di atas kemampuan kami.” kata Junmyeon.

Tahun lalu, saat diadakan pertandingan basket antar sekolah, Han sonsaengnim tidak tahu kalau Baekhyun dan Daehyun bermusuhan. Han Sonsaengnim memasukan mereka berdua sebagai pemain utama. Hasilnya, tim mereka kalah pada pertandingan pertama karena Baekhyun dan Daehyun tidak mau bekerja sama.

“Kau pikir aku peduli? Seharusnya kau katakan kepada dua bocah itu untuk bersikap baik pada senior-nya.” Baekhyun melangkahkan kakinya menuju bangkunya yang berada di dekat jendela. “Kenapa kau hanya menyuruhku?”

Junmyeon sedikit menolehkan kepalanya ketika ia merasa Baekhyun mengatakan sesuatu saat beranjak, tapi suasana kelas yang ramai membuatnya tidak bisa mendengar apa yang diucapkan Baekhyun. Junmyeon pun mengabaikannya karena ia yakin barusan Baekhyun hanya mencibirnya, dan untuk apa dia peduli?

 

~-~

 

Bel pulang yang berbunyi nyaring saat jam pelajaran terakhir itu membuat hampir semua murid di kelas Taehyung langsung bersorak riang, mengambil tas mereka dan berlarian pulang. Guru yang masih mengajar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Taehyung sendiri ikut berlari keluar karena Jungkook mengajaknya ke lapangan basket. Hari ini eomma-nya pulang sedikit malam, jadi setidaknya ia bisa bermain sebentar.

Taehyung dan Jungkook masuk ke lapangan basket bersamaan dengan beberapa murid kelas 2. Di dalam lapangan sudah ada beberapa murid kelas 3 yang sedang bermain basket masih dengan tas yang menggantung di punggung mereka. Ruangan ini tampak lebih sepi dibanding saat jam istirahat. Yeoja-yeoja yang biasanya menonton dari pinggir lapangan hanya terlihat sebagian dari yang ada saat jam istirahat.

“Ayo kita bermain sebentar sebelum pulang!” Junmyeon meletakkan tasnya di pinggir ruangan, kemudian ia berlari ke tengah ruangan sambil membawa sebuah bola. Jungkook dan Taehyung meletakkan tas mereka lalu mendekati sunbae itu.

Hanya ada sepuluh orang yang datang saat ini. Mereka langsung bermain batu, kertas, gunting untuk menentukan anggota kelompok A dan B. Taehyung dan Jungkook masuk ke kelompok B bersama tiga sunbae lainnya. Permainan dimulai ketika semua sudah bersiap pada posisinya.

Taehyung mencoba merebut bola dari salah seorang sunbae dari kelompok A. Tapi ia kalah cepat dari sunbae itu. Sunbae itu melompat dan melempar bola ke ring dengan satu tangan. Taehyung tercengang melihatnya. Bukan, bukan karena sunbae itu memasukkan bola dengan satu tangan -karena Taehyung juga bisa melakukannya, tapi karena sunbae itu menggunakan tangan kiri.

Yeoja-yeoja langsung berteriak girang setelahnya. Sunbae tadi berdiri di dekat Taehyung dan sedikit membelakanginya. Taehyung dapat melihat ia tersenyum sekilas.

Sunbae,” Taehyung memanggilnya pelan, sunbae itu menoleh ke arahnya. “Apa sunbae kidal?”

Senyuman sunbae itu langsung menghilang. Ia menatap Taehyung dengan tajam. Murid lain yang mendengar pertanyaan Taehyung tadi hanya terdiam, bahkan Junmyeon menghela napas panjang sambil menutup matanya. Seketika Taehyung merasa ada yang tidak beres di sini. Sunbae itu tiba-tiba berbalik, ia mengambil tasnya lalu pergi keluar ruangan.

“Ah, benar-benar menakjubkan.” Suara Sehun yang pertama kali terdengar setelah keheningan itu. “Aku kira mereka tidak akan bertengkar. Daebak, Taehyun, kau berjalan ke arah yang tak kuduga.”

Taehyung mengerutkan keningnya tidak mengerti. Junmyeon mendekatinya dan mengalungkan tanganya ke pundak Taehyung. “Eh… Baekhyun dan Daehyun tidak pernah akur sejak mereka bertemu, omong-omong. Dan murid yang kausebut kidal tadi adalah Daehyun. Masalahnya adalah, Daehyun membenci Baekhyun karena ia selalu memanggilnya dengan sebutan kidal. Aku rasa dia tidak suka dipanggil seperti itu.”

Sehun ikut mendekati Taehyung dan menepuk pundaknya pelan beberapa kali. “Jangan hiraukan dia. Kalau kau sampai bermusuhan dengannya seperti Baekhyun, ruangan ini lama-lama akan menjadi medan perang.” Sehun mengambil tasnya dan berjalan keluar. “Aku pulang dulu!”

“Yak, kita baru bermain sebentar. Apa kalian akan pulang begitu saja?” Junmyeon menatap lima murid lain yang bersiap pulang.

“Eum … dua orang sudah pergi, sunbae. Tidak seru kalau hanya delapan orang yang bermain.” Murid yang lebih tinggi dari Taehyung itu mewakili keempat murid lain untuk menjawab pertanyaan Junmyeon. Mereka langsung berjalan keluar setelahnya. Yeoja-yeoja itu mengeluh karena mereka masih ingin menonton. Mereka juga berjalan keluar meninggalkan Taehyung, Jungkook dan Junmyeon.

Junmyeon menghela napas panjang. “Pulanglah. Kita bermain lagi, besok.” Junmyeon mengambil tasnya dan menunggu Jungkook memakai almamaternya yang ia lepas tadi.

Sunbae, memangnya Daehyun sunbae tidak kidal?” tanya Taehyung sebelum Junmyeon dan Jungkook meninggalkannya.

Molla.” Junmyeon mengangkat bahunya sejenak. “Jika dia bermain basket, dia selalu menggunakan tangan kiri. Tapi, aku pernah melihat dia menulis dan makan dengan tangan kanan. Mungkin saat ia baru belajar basket, seseorang mengajarinya untuk bermain dengan tangan kiri.”

Taehyung mengangguk mengerti. Tak lama kemudian handphone-nya bergetar dan itu membuatnya sedikit kaget. Taehyung mengambil handphone di sakunya dan mendapati tulisan ‘eomma’ di sana. “Eomma pasti mencariku. Jungkook, sunbae, aku pulang dulu.” Taehyung berlari keluar ruangan meninggalkan Junmyeon dan Jungkook yang tadi berencana meninggalkan Taehyung lebih dulu.

 

~-~

 

Daehyun terus menggerutu dalam hati saat perjalanan pulang. Bukan hanya tentang Taehyung yang menanyakan apa ia kidal, tapi juga karena Youngjae yang tampak tidak menghiraukan eksistensinya dan memilih untuk bermain handphone. Sebenarnya, Youngjae bukannya tidak peduli. Ia hanya takut Daehyun menyemburnya dengan kata-kata yang tak enak didengar seperti tahun lalu, saat Baekhyun mengejeknya dengan sebutan kidal.

Daehyun berjalan mendahului Youngjae hingga ia masuk ke rumahnya. Kakinya langsung melangkah menaiki tangga, mengacuhkan sapaan eomma-nya yang tengah memasak. Daehyun masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya hingga membuat eomma-nya kaget.

Eomma mematikan kompor di hadapannya lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar Daehyun. “Daehyun, ada apa? Apa ada masalah?” Eomma mencoba membuka pintu kamar Daehyun, tapi pintu itu terkunci.

“Daehyun!” Eomma mengetuk pintu kamar Daehyun berkali-kali. Tidak ada jawaban yang menyahut ketukan dan panggilan eomma-nya. Sebenarnya hal itu sudah biasa. Jika Daehyun sedang ada masalah -seperti nilai ulangan yang jelek-, ia pasti langsung mengurung diri di kamar.

Suara bel rumah yang menggema di lantai bawah membuat eomma mengalihkan perhatiannya. Eomma akhirnya meninggalkan pintu kamar Daehyun dengan perasaan khawatir, takut anaknya melakukan seuatu yang tidak-tidak. Eomma berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Seorang laki-laki yang memakai seragam sekolah tersenyum manis ke arahnya, kemudian ia membungkukkan tubuhnya.

“Youngjae, ada apa?” tanya eomma yang sudah hapal dengan wajah Youngjae. Bagaimana tidak? Hampir setiap minggu Youngjae datang ke rumahnya hanya sekadar untuk bertegur sapa dengan Daehyun, kadang mengajaknya pergi sekalian.

“Daehyun mengurung diri lagi, ya?”

“Oh, kau tahu itu?”

Youngjae mengangguk pelan. “Sama seperti tahun lalu. Seorang murid baru bertanya apakah dia kidal.”

“Oh,” Eomma terdiam setelahnya, tampak memikirkan sesuatu.

Ahjumma, aku pulang dulu.” pamit Youngjae. Ia membungkuk sejenak kemudian berjalan keluar dari pekarangan rumah Daehyun.

Youngjae menghela napas panjang. Ia tidak mengerti, kenapa Daehyun langsung marah jika seseorang menanyakan hal itu. Youngjae juga tidak mengerti, kenapa Daehyun selalu menggunakan tangan kirinya saat bermain basket, tapi tidak saat melakukan pekerjaan lain.

Youngjae membuka pagar rumahnya bersamaan dengan seseorang yang membuka pagar rumah di sebelahnya. Youngjae memperhatikan orang itu sebelum ia masuk ke rumahnya. Orang itu memakai seragam yang sama seperti yang ia kenakan sekarang. Wajahnya tidak terlalu asing. Rasanya Youngjae pernah melihatnya sebelum ini.

“Dia? Dia tetanggaku?”

 

~To Be Continue~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s