[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 4)

hatersxfans-redo

Tittle : HATER X FAN

Author : Choco(L)ate

Main Cast : Krystal Jung | Kim Jongin (Kai) | Park Chanyeol | Bae Irene

Genre : Drama, Sad, Romance, AU

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disclaimer : This is my story. Don’t be Plagiarism!

And Thanks to Xyoblue Design for nice poster!

Author’s note : I changed my pen-name from OHitsL to Choco(L)ate.

 

[Teaser] [Ch1] [Ch2] [Ch3]

 

 

«Previous Chapter

 

“Percayalah padaku, aku sudah menyaring kontrak kerja sehingga kau hanya perlu tanda ta—”

 

“Apa ini?” Potong Krystal.

 

Ia tak peduli sekertarisnya sudah selesai bicara atau belum. Mata dan pikirannya hanya tertuju pada nama yang tertera di kertas kontrak itu. Kim Kai.

 

Ini tidak mungkin.

 

Tangannya mulai gemertar. Dadanya naik turun, ia benar-benar menahan amarahnya yang hampir meledak.

 

“Nona.. Itu—”

 

“Katakan padaku apa maksud semua ini?!!”

 

 

#Chapter 4

 

 

Luhan dapat melihat kilatan amarah yang terpancar dari mata tajam Krystal. Luhan memejamkan matanya beberapa detik, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk ia katakan.

 

“Nona, Aku bisa jelaskan. Tapi aku tidak yakin kau akan percaya dengan apa yang akan aku katakan” Katanya dengan nada santai.

 

Krystal tak bersuara, ia meletakan kontrak itu sangat pelan. Ia memejamkan mata, sedikit memijit pelipisnya berharap kepalanya tidak akan meledak untuk saat ini.

 

“Sungguh, ini diluar kendaliku. Aku tidak mengetahui perihal kontrak itu sampai beberapa hari yang—”

 

“Batalkan kontraknya” Potong Krystal dengan nada setenang mungkin. Tanpa menatap ataupun memperdulikan apa yang akan Luhan katakan. Ia hanya ingin mengambil jalan sederhana. Batalkan kontraknya dan selesai. Krystal memisahkan kontrak itu di ujung meja kerjanya, lalu kembali berkutat dengan dokumen-dokumen lain.

 

“Kita tidak bisa—”

 

“Aku bilang batalkan kontraknya” Celah Krystal lagi tetap tanpa menatap Luhan.

 

Luhan mendesah pelan. Ia tahu Krystal sangat keras kepala. Ia mengenalnya bukan sebulan dua bulan, melainkan beberapa tahun kebelakang. Tapi tidak bisakah ia membiarkan Luhan berbicara? Paling tidak biarkan ia menuntaskan kalimatnya.

 

“Biarkan aku menyelesaikan kalimatku. Kau tahu? Saat ini perusahaan dalam keadaan kacau. Kita tidak bisa—”

 

“Aku tidak memintamu untuk menghancurkan perusahaan! Aku hanya memintamu untuk membatalkan kontraknya!” Krystal berteriak menatap Luhan nyalang. Tangan kanannya yang sedari tadi memegang bolpoin bergetar mencengkramnya kuat-kuat. Emosinya sudah tak tertahan. Lagipula ia tak sesabar itu.

 

“Anda tidak bisa memutuskan kontrak secara

sepihak nona! Denda itu terlalu besar untuk

keadaan perusahaan kita sekarang!” Tegas Luhan tak kalah emosi. Ayolah, ia hanya berusaha menjelaskan keadaan. Karna situasi saat ini tidak semudah seperti yang dipikirkan gadis 19 tahun itu.

 

Krystal berdiri dari kursinya dengan emosi yang meledak-ledak. Tidak bisakah Luhan mengerti bagaimana perasaan Krystal saat ini? Ia hanya mencoba sabar dengan berkata setenang mungkin untuk membatalkan kontrak itu. Tapi Luhan justru memancing emosinya. Memaksa Krystal untuk bekerja sama dengan orang yang paling ia benci. Atau perlu ia jelaskan? Luhan memaksanya bekerja sama dengan orang yang hampir membunuh ayahnya!

 

“Apa perusahaan begitu penting sekarang?! Kau tidak mengerti! Ayahku koma karna orang itu! Haruskah kita bekerja sama dengan seorang pembu—”

 

Tok tok tok!

 

Tepat saat itu seseorang mengetuk pintu. Krystal menghentikan kalimatnya. Membuat ia dan Luhan refleks menoleh secara bersamaan.

 

Jackpot!

 

Orang yang berdiri di ambang pintu dengan senyum yang terlihat mengerikan itu adalah dia yang dimaksud dalam perdebatan Krystal dan Luhan. Yeap! Kim Kai.

 

“Selamat pagi! Apa aku mengganggu?” Sapa namja itu dengan ekspresi wajahnya yang tak berubah sedikitpun. Ia melangkah masuk ke ruangan itu sembari mengantongi kedua tangannya lalu berhenti tak jauh dari tempat Krystal dan Luhan.

 

Gaya nya sangat sederhana tapi terlihat modis. Kemeja biru muda yang lengannya ia lipat sampai batas siku, celana bahan berwarna putih dan sepatu kets putih. Rambut hitamnya terlihat rapi dengan gel yang ia sisir ke atas. Tampan.

 

“Dan siapa itu? Presdir baru? WOW. Kita bertemu lagi? Ini seperti takdir ya, nona Krys?” Lanjutnya tersenyum ceria.

 

Oh ayolah, Kai pasti hanya berakting seolah ia tak tahu apa-apa. Bohong sekali jika ia tidak mengetahui hal sekecil itu mengingat seberapa besarnya Kai mengetahui tentang keluarga Jung.

 

Jadi sekarang pria itu tahu namanya? Krystal mendengus kasar. Apa yang pria itu lakukan sekarang? Disini? Di kantornya. Dan haruskah ia kembali melihat jam? Ya Tuhan Ini masih pagi. Dan satu hal, pria itu tanpa malu bersama senyum yang menjijikan berani menampakkan wajahnya setelah kejadian terakhir kali di sungai Han.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Luhan bersuara menatap Kai bingung.

 

“Dia datang untuk membatalkan kontraknya.” Krystal tiba-tiba kembali bersuara sembari menatap Luhan seolah memberi jawaban. Lalu pandangannya beralih menatap Kai dengan ekspresi sedatar mungkin walaupun kenyataannya ia ingin segera mencakar wajah itu “Mari selesaikan ini dengan cepat dan kau bisa segera pergi.”

 

Kai mengangkat kedua ujung bibirnya lemah, ia tersenyum ringan.

“Aku sudah berbaik hati datang kesini pagi-pagi untuk membicarakan pekerjaanku dan sepertinya sekarang aku di us—”

 

“Lagipula tidak ada yang memintamu datang kesini” Potong Krystal sambil menatap Kai dengan tatapan menusuk. Dan apa yang baru saja gadis itu lakukan berhasil membuat Kai kehilangan ekspresinya.

 

“Kita akan membatalkan kontraknya secepat mungkin. Jadi kau bisa segera pergi dan nikmati kembali waktumu yang sudah kau buang sia-sia dengan datang kesini” Lanjutnya.

 

Kai membuang pandangannya ke arah lain sambil tersenyum miring lalu kembali memperhatikan Krystal yang kini mulai bergerak dengan percaya diri.

Krystal kembali mengambil berkas kontrak yang sempat ia letakan di ujung meja kerjanya lalu melangkah menuju sofa di sebelah kiri ruangan itu. Tapi baru beberapa langkah, kakinya berhenti mendengar kalimat yang Kai lontarkan.

 

“Aku tidak akan melakukannya” Ia tersenyum miring sambil terus menatap Krystal yang ia yakini sedang menekan emosinya dalam-dalam.

 

Luhan sudah tidak tahan memberi tahu Kai agar pria itu sebaiknya pulang saja dan akan membicarakan masalah ini nanti. Tapi sepertinya itu sia-sia.

 

Kai benar-benar membuat Krystal naik pitam. Gadis itu melangkah mendekat lalu berdiri satu meter di hadapan Kai.

 

“Aku memintamu dengan baik dan sopan. Jadi, lakukan apa yang harus kau lakukan” Krystal berucap setenang mungkin. Ia berbalik hendak menuju ke sofa tapi kalimat Kai berhasil merantai kakinya di tempat.

 

“Aku tidak akan membatalkan kontrak itu” Ucap Kai yang membuat Krystal kembali menoleh padanya. “Aku membuat kontrak itu dengan Presdir Jung. Bangunkan dia dari komanya jika kau benar-benar ingin aku mengakhiri kontrak itu.” Sebelah alisnya terangkat.

 

Gila. Ini gila. Kim Kai pasti sudah gila.

 

Krystal melangkah perlahan menghampiri namja itu hingga jarak mereka benar-benar dekat. “Katakan sekali lagi” Gadis itu menatap Kai penuh amarah.

 

“Bangunkan ayahmu jika kau ingin aku mengakhiri kontrak itu” Ujar Kai penuh penekanan lalu tersenyum menang.

 

Seperti ada yang mencekiknya, Krystal merasakan sesak. Jantungnya terasa jatuh hingga ke rongga perut. Pria di hadapannya benar-benar tidak waras. Kai pasti sedang mengejeknya. Dengan gerakan cepat ia menarik kerah kemeja namja itu dengan amarah yang membuncah.

 

“Nona!” Luhan yang sangat terkejut dengan cepat menghampiri kedua orang itu tapi tangan Kai yang terangkat ke udara memberi tahunya agar ia tak perlu ikut campur.

 

“Perhatikan kata-katamu.” Suara gadis itu hampir seperti sebuah bisikan.

 

Kai tersenyum sambil memperhatikan wajah gadis di hadapannya. “Tenanglah,” Sebelah tangannya yang tadi berada di udara meraih lengan kanan Krystal yang mencengkram kuat kerah bajunya. “Jika kau memang tidak bisa, tidak perlu kesal.” Senyum namja itu semakin melebar.

 

“Kau tidak waras. Kau yang membuat ayahku koma! Jadi, harusnya kau tahu posisimu sekarang dan berhentilah jadi orang bodoh!” Kata gadis itu pelan tetapi penuh dengan penekanan di setiap katanya. Tangannya melepas kerah kemeja namja itu sedikit kasar.

 

“Dimana ruang divisi jasa dan pemasaran?!” Teriak Krystal sambil berlalu yang tentu kalimat itu ia tunjukan pada Luhan.

 

Buruk. Pasti akan ada keributan lain lagi, pikir Luhan. Lantas dengan segera ia mengikuti kemana langkah Krystal pergi.

 

Krystal terus berjalan melewati koridor, memasuki sebuah pintu kaca bertuliskan ‘Divisi Jasa dan Pemasaran’ ia langsung memasukinya lalu disambut oleh bungkukkan para pegawai dari balik sekat-sekat meja kerja mereka. Mata Krystal mengedar mencari sosok yang beberapa waktu lalu menemuinya. Tapi tidak ada.

 

“Dimana pegawai yang bernama Irene?” Katanya tak sabaran.

 

Seorang pegawai menunjuk pada sebuah pintu yang berada disana. Pintu berwarna coklat dengan tulisan ‘General affair’ menempel di badannya. Buru-buru Krystal melangkah dan membuka pintu itu dengan kasar. Membuat para pegawai keheranan dibuatnya.

 

Irene yang sedang membereskan beberapa dokumen di mejanya sedikit terlonjak saat pintu itu terbuka dengan tiba-tiba. Tapi ia segera menghampiri Krystal lalu membungkuk. Ia tersenyum. “Presdir, ada ap—” tapi belum sempat Irene melanjutkan kata-katanya, matanya lebih dahulu melihat tangan Krystal yang terangkat ke udara memegang beberapa tumpuk kertas yang sudah tersusun rapi. Sebuah kontrak. Ah ia tahu sekarang apa yang membuat Presdir barunya itu repot-repot datang kemari.

 

Irene kembali tersenyum. “Ah, itu—”

 

“Kau yang membuatnya?” Potong Krystal. Tapi tak ada jawaban. “Batalkan ini. Aku tidak mau tahu” Lanjutnya acuh. Tapi dibalas tawa kikuk dari Irene. “Maaf nona, tapi aku tidak—”

 

“Tidak bisa?” Kini nada bicara Krystal kembali sedikit melengking.

 

Luhan datang dan segera menghampiri Krystal. “Ayo, sebaiknya kita kembali ke ruanganmu. Kumohon, jangan buat keributan.” Kata namja itu dengan nada memohonnya. Tapi dibalas tatapan jengis oleh Krystal.

 

“Bagus, sepertinya semua orang disini benar-benar ingin bekerja sama dengan seorang yang mencelakai ayahku.” Krystal berkata sinis. Rasanya ia perlu menahan gejolak menyesakkan di tenggorokannya yang terasa mencekik.

 

Irene hendak membuka suara tapi Krystal menatapnya tajam. Ia kembali mengangkat kontrak kerja itu di udara. “Aku tidak ingin mendengar penolakan. Batalkan kontrak ini atau kau yang ku pecat!” Ujarnya setengah berteriak. Hampir saja ia menghempaskan tumpukan kertas itu ke arah Irene tapi seseorang terlebih dahulu mencekal tangannya di udara. Ia menoleh, dan mendapati pergelangan tangannya ditahan pria sialan itu.

 

“Why the hell you touch me?!” Teriak Krystal.

 

“Jangan pernah berfikir untuk berlaku kasar padanya” Ujar Kai dan segera menghempaskan tangan Krystal dengan kasar hingga tubuh gadis itu hampir terhuyung. Kai segera mendekat ke arah Irene. “Kau tidak apa-apa?” Kata namja itu khawatir yang di balas dengan tatapan bingung oleh Irene. Sekarang gadis ia tahu apa yang membuat Krystal benar-benar tersulut amarah. Kim Kai.

 

Krystal terdiam, pandangannya beredar di lantai. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia hanya ingin membatalkan kontrak kerja itu. Ia hanya berusaha mencari keadilan untuk dirinya, untuk ayahnya. Jika ayahnya tak menang di pengadilan, jika pria itu tak dikurung di sel tahanan, paling tidak biarkan ia hidup dengan tenang. Tapi justru semuanya mati-matian mempertahankan kontrak sialan itu. Bahkan ia yang sekarang menjabat sebagai seorang presdir pun tak bisa melakukan apa-apa. Tak ada yang mendengarnya. Luhan juga. Krystal tertawa hambar.

 

“Baiklah..” Krystal kembali bersuara. Membuat ketiga orang disana menatapnya. Ia memandang ketiganya bergantian. “Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan.” Katanya datar lalu berbalik untuk pergi.

 

Tapi suara Luhan menginterupsinya untuk berhenti. Membuat Krystal menatapnya tajam. “Kau juga, urusi saja perusahaan ini sesukamu. Lagipula aku tidak berguna disini” Gadis itu tertawa lewat hidungnya. Lalu ia kembali melangkah keluar. Sebelum sampai di ambang pintu, ia membuang kontrak yang sedari tadi ia pegang jatuh ke lantai. Menghempaskannya dengan kasar seolah membuangnya bersama semua perasaan yang menyesakkan dadanya. Tidak ada yang berpihak padanya. Ia sendirian.

 

 

Manager Shim memasuki apartemen Kai yang langsung disambut oleh senyuman khas yang dimiliki namja berkulit tan itu dari arah sofa ruang tv. Ia tak menjawab sederet pertanyaan yang Kai lontarkan. Ia langsung menghempaskan tubuhnya sambil memijit pelipisnya. Kai hanya terkekeh pelan. Managernya pasti sudah dengar apa yang terjadi pagi ini.

 

“Mau ku ambilkan minum? Kau terlihat banyak pikiran” Ujar Kai yang membuat manager Shim membuka mata menatapnya tajam. Si pembuat masalah bahkan masih bisa mengejeknya.

 

“Apa yang kau lakukan pagi ini tanpa aku, hah?” Tanya manager Shim dengan tatapan frustasi. Kai hanya tersenyum sambil mengendikkan bahunya lalu kembali memfokuskan pandangannya pada tv. Manager Shim mengotak-ngatik ponselnya sebentar lalu melemparkannya ke sofa dimana Kai duduk. Kai menatap managernya bingung tapi tetap mengambil ponsel itu.

 

Oh, berita hari ini.

 

Kai tersenyum miring melihat deretan berita yang tertera di situs-situs internet. Namanya mendominasi. Apa ia harus berbangga hati? Sudah 2 minggu ini namanya menjadi pencarian nomor satu di internet. Ah, sepertinya ia akan manjadi artis terpanas tahun ini.

 

“CEO Lee dan para reporter terus menghubungiku. Kau masih waras kan? Katakan jika yang datang ke gedung JStal pagi ini bukan dirimu” Manager Shim mencoba menenangkan dirinya. Namun Kai kembali menyeringai ke arahnya. “Kau tahu jawabannya” jawab Kai yang membuat manager Shim kembali membenturkan punggungnya keras-keras ke sofa.

 

Kai kembali menatap layar ponsel managernya. Kembali melihat deretan judul berita disana.

 

Seminggu setelah persidangan kasusnya dengan Presdir Jung, Idol Kim Kai mengunjungi gedung perusahaan JStal. Apa yang terjadi?

 

Kim Kai mengunjungi JStal Company tepat di hari putri CEO Jung bekerja sebagai presdir sementara.

 

Kai mengunjungi gedung JStal Company pagi ini. Menemui putri CEO?

 

Ia tersenyum samar. Inilah dunianya. Ia sendiri, tapi begitu banyak orang yang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Ia berulah pagi hari dan siang hari sudah banyak media yang membicarakannya. Ia terus menggeser touchscreen layar ponsel itu hingga ia merasa ponsel di kantong celananya bergetar.

 

Kai menyeringai setelah melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya. Notifikasi dari aplikasi GPS. Ponselnya aktif gumamnya dalam hati. Ia segera bangkit sambil meraih kunci mobil di meja depannya.

 

“Ya! Mau kemana?” Teriak manager Shim melihat Kai yang sedang mengenakan sepatunya.

 

“Menemui teman baruku” Jawabnya tak acuh lalu menghilang di balik pintu.

 

 

Waktu sudah menunjuk pada angka 2 siang hari. Krystal masih terduduk di pojok ruangan sebuah cafetaria dekat jendela besar di sisi kirinya. Rasanya ia masih tidak mau beranjak dari tempat itu bahkan setelah 30 menit yang lalu ia datang kemari. Berbagai hal berkecamuk dalam otaknya yang membuat kepalanya terasa pening. Ia baru mengunjungi ayahnya dirumah sakit, tapi Dokter bilang belum ada perkembangan. Kepalanya jadi benar-benar sakit mengingat hal itu. Ah, haruskah ia menghubungi Victoria?

 

Krystal merogoh isi tasnya mencari ponsel. Setelah menemukannya, ia menatap ponselnya sebentar. Ah! Jika saja ia bisa bertelephati, ia tidak perlu menyalakan ponselnya untuk menghubungi Victoria. Ia jadi resah saat ponselnya mulai menyala, berapa pesan masuk yang akan ia terima setelah seminggu ini tak membiarkan ponselnya aktif? 20? 50? Atau 70 pesan? Atau tidak sama sekali? Apa seseorang yang ia harapkan.. mengkhawatirkannya?

 

Ponselnya bergetar!

Ia segera menaruh ponselnya di atas meja dengan posisi terbalik. Membiarkan pesan-pesan dan notifikasi lainnya berhamburan berlomba-lomba untuk masuk. Ia menyeruput Latte panasnya selama ia menunggu.

 

3 menit..

 

Dan ponselnya berhenti bergetar. Apa sudah? Krystal lalu meraih ponselnya. Matanya langsung tertuju pada simbol pesan yang memperlihatkan angka 325. 325 pesan masuk? Hebat! Bahkan matanya membulat sempurna. Ia membukanya, 13 pesan dari Victoria dan 312 pesan dari.. Ia menggigit bibir bawahnya. Haruskah ia membukanya? Tidakkah ia akan jadi semakin resah jika membaca semua pesan-pesan itu? Krystal hanya diam menatap nama si pengirim pesan itu.

 

Ia menekan 312pesan itu lama. Ragu. Lalu dengan gerak cepat ia menghapusnya. Matanya terpejam sebentar, lalu ia menghela nafas. Ia kembali meletakan ponselnya, melupakan jika niat awalnya adalah menghubungi Victoria. Tck! Moodnya jadi tidak baik.

Namun ponselnya kembali bergetar. Nama pengirim itu sama dengan si pengirim 312 pesan.

 

Park

 

Tertera disana. Tapi hanya 1 pesan. Sepertinya pesan yang tertinggal untuk masuk. Krystal kembali menatapnya lama. Haruskah ia membukanya? Baiklah. Mungkin 1 tidak akan berpengaruh padanya.

 

Aku merindukanmu

 

Hanya itu. Tapi jantungnya berdegub tak karuan. Sial. Harusnya ia tak membuka pesan itu. Tapi reaksi tubuhnya malah berkhianat. Jari-jarinya mengetik sebuah balasan.

 

Aku juga|

 

Baru itu, jarinya berhenti. Ia kembali meletakan ponselnya di atas meja dengan keadaan terbalik. Ia membuang pandangannya ke arah jendela.

 

“Harusnya kau pulang. Dasar bodoh!” Ia bergumam sendiri.

 

Pikiran Krystal melayang kemana-mana. Mulai dari ayahnya, kejadian di kantor tadi pagi, hingga 184 pesan. Matanya kembali melirik ponselnya di atas meja, cepat-cepat ia kembali meneliti jalanan di luar. Tapi mata dan pikirannya tak sejalan. Sialan sekali. Pria itu memenuhi otaknya sekarang.

 

Seminggu setelah kecelakaan ayahnya—di hari persidangan Krystal mendapat 240 pesan. Sekarang 312. Jika pria itu benar-benar mengkhawatirkan nya mengapa tidak lihat saja keadaan dirinya secara langsung? Bukan membanjiri ponselnya dengan pesan-pesan itu. Ia menghela nafas kasar. Entah mengapa keadaan diluar sedikit agak berisik. Ya ampun, sekalipun ada selebritis mereka tak harus seribut itu di siang yang panas ini. Membuat kepala gadis itu semakin pening saja.

 

Krystal kembali meraih gelas Lattenya, saat tiba-tiba seseorang menduduki kursi di hadapannya. Sepertinya ia pernah mencium aroma parfum ini sebelumnya. Kapan? Mungkinkah..

 

Ia masih tak mengalihkan pandangan dari gelas Lattenya. Perasaannya jadi sangat tak enak. Haruskah ia menegakkan kepalanya dan melihat siapa orang itu? Tidak, ia tidak mau. Tapi lagi-lagi reaksi tubuhnya berkhianat. Ia menoleh. Sialan. Pria itu lagi. Kim Kai.

 

Jari-jari Krystal yang masih mengait di pegangan cangkirnya semakin mengerat. Haruskah ia menumpahkan minuman panas ini ke wajah pria yang kini duduk di hadapannya?

 

“Why you showing me that your fuckin’ face?! Go away. Now.” Ujar Krystal sepelan mungkin menekan emosinya dalam-dalam.

 

Kai melipat kedua tangannya diatas meja, mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat pada Krystal. Ia tersenyum.

 

“You’re beautiful when you angry.”

 

 

 

 

-TBC-

 

 

 

Hi! Long time no see! ^^

Adakah yang nunggu chapter ini? Gaada? Baiklah~ Hahahaa

Makasih yang udah komentar di chapter sebelumnya!

Next Chapter? Comment Juseyoo!

 

SIDERS? Jongin see you!

AAAA

29 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] HATER X FAN (Chapter 4)”

  1. Maaf yaa wahai writernim baru sempet baca lg cerita ini hehehe, ini si jongin lama lama bikin greget dah kaga tau situasi bgt duuuhh bedua nih pengn gue seret ke KUA *eh *apa hubungannya* hahaha 😂😂 makin keren ternyata ceritanya nyesel baru baca lg duh hehhehe lanjutkan 😁😁

  2. Si Jongin bikin greget. Si Krystal juga, bisa keras kepala kayak gitu ㅋㅋㅋ.
    Jadi penasaran gimana detail cerita masa lalunya Kai sampek dia kayak gitu.
    Bagus thor.

    1. Samasama bikin gereget, suruh jadian aja deh. *eh udah ya? XD
      Tunggu jawabannya di chapter2 depan yaa 😀 makasih udah mampir 🙂

  3. Baru baca cerita ini. Ternyata seru ><
    Si jongin bikin gereget setengah mati, ngeselin. Terus chanyeol kapan muncul sih? Dia siapanya krystal? Pacarnya? Next thor!

  4. Baca dulu chapter 2 3 4, terus komen komen komen 😀 haha
    Thor si kai ko nyebelin bgt ya? Jadi makin gereget. Next ya! Jgn lama2! 😀

  5. awal baca lupa lagi ceritany kaya gmna, tapi lama kelamaan muncul ntuh memori2 chap sebelumnya…
    iih kai ngikutin krystal mulu deh, awas loh nanti yang ada malah jatuh cinta lagi….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s