[EXOFFI FREELANCE] HOLLER (Chapter 10)

HOLLER Chapter 10

¤

HOLLER

¤

Choi’s

¤

Park Minah – Byun Baekhyun – Oh Sehun

¤

Ocs – EXO members – Others

¤

Complicated-romance – School Life – Fluff

¤

Chaptered

¤

T(eenager)

¤

The OCs and the stories are  purely mine, EXO members belong to EXO-L

¤

“I will tell you only, because it’s a special secret.”

¤

Previous Chapters

Teaser and TrailerIIIIIIIVV

VIVIIVIIIIX

 

¤ X ¤

 

 

Dengan ragu-ragu, tangan Sehun mencoba mengelus rambut Mina, mencoba menenangkannya. Kepala Mina terhuyung jatuh di dada Sehun. Ia menangis sekencang-kencangnya sampai membuat seragam Sehun basah. Sehun mematung. Ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan sekarang.

 

Sehun menopang tubuh Mina saat tubuhnya mulai terjatuh. Mina masih terisak, Sehun pun hanya bisa mengelus mahkota kepalanya. Sehun berfikir ia akan menunggu gadis ini sampai sedikit tenang. Mereka berada di lorong masuk yang menuju Lab Matematika, sangat sedikit orang yang datang kesini, untunglah tidak ada yang melihat mereka sekarang ini.

 

“Kita harus kembali kesana Park Minah.”

Sehun berucap karna Mina tak kunjung berhenti menangis. Ia merasakan gadis itu menggeleng, menolak.

 

“Kau membahasi seragamku.”

Mina menghentikan tangisannya. Sambil terisak ia menatap Sehun, lalu menatap seragam Sehun yang basah dan berusaha menghilangkan air matanya dari sana. Sehun memegang pergelangan tangan Mina, menghentikan aktifitasnya.

“Aku akan menemanimu, kita kembali kesana.”

Mina hanya terus menatap Sehun dengan mata kacanya. Sehun berdiri lalu membantu gadis itu berdiri.

 

 

“Mengapa kau menangis?”

Baekhyun melepas pagutan bibirnya merasakan air mata Geumhee mengalir menyapa.

Ania. Mengapa kau menciumku Baek?”

“Aku tidak tau.”

“Apa yang kau rasakan?”

“Tidak ada.”

“Bagaimana ini bisa terjadi? Aku pun juga tidak merasakan apa-apa.”

“Lalu mengapa kau menangis?”

“Aku hanya merasa lega.”

“Geumhee-ah apa kau masih menyukaiku?”

“Bagaimana denganmu, Baek?”

“Aku tidak tahu.”

 

PLAK

 

Geumhee menampar Baekhyun. Baekhyun memegang pipi kanannya. Ia mengerti Geumhee pasti menamparnya karna ia telah menciumnya.

 

“Kau tau mengapa aku menamparmu Byun Baekhyun? Bukan karena apa yang kau perbuat tadi, tapi karna kau salah menjawab pernyataanku!”

Baekhyun terdiam, tidak mengerti.

 

“Aku bertanya apakah kau masih menyukaiku dan kau hanya memiliki dua jawaban, tidak, kau hanya memiliki satu jawaban yaitu TIDAK!”

Geumhee meraih kepala Baekhyun, membimbing mata Baekhyun menatap matanya.

 

“Kau memiliki Park Minah, Baek. Dia gadis yang sangat baik.”

Baekhyun kembali tertegun dengan perkataan Geumhee.

“Kau tidak seharusnya menjawab tidak tau.”

 

Di luar, di balik tembok, Mina dan Sehun terduduk di lantai mendengarkan percakapan Baekhyun dan Geumhee. Sedari tadi Mina terus menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir, sambil sesekali menggigiti ujung jarinya. Sehun hanya terdiap menatap tangan kananya yang digenggam erat oleh Mina.

 

“Aku akan memberitahumu tentang alasan itu.”

“Tidak, jangan. Aku yang akan mencarinya sendiri. Setiap aku melihatmu selalu tersirat di benakku, kata-katamu itu. ‘Baek aku ingin kita mengakhiri hubungan ini‘, karna itulah aku benci jika aku harus bersamamu seperti ini. Aku mengerutuki diriku yang tak pernah bisa menemukan alasan itu. Selama ini aku terus mencari kesalahan apa yang terdapat pada diriku sehingga membuatmu merasa tidak nyaman dan akhirnya kau memutuskan hubungan kita.”

“Tidak Baek, ini bukan karna dirimu.”

“Lalu apa? Apa yang telah kulakukan sehingga membuatmu berpaling dariku? Aku lelah mencari tahu alasan itu sampai akhirnya aku menyerah untuk itu. Aku mencoba membuka hatiku untuk orang lain dan aku menemukan Mina.”

 

 

-Byun Baekhyun’s POV-

“Baek?”

Geumhee perlahan menggenggam tangan kiriku, bahkan aku tidak menampisnya. Aku ingin sekali menatap wajahnya dan berkata tidak, namun aku tidak bisa. Ada sesuatu di dalam diriku yang menahanku dan seakan tidak ingin Geumhee untuk pergi sepenuhnya dari diriku.

 

“Byun Baekhyun lihat aku.”

Tangan Geumhee membimbing wajahku untuk bertatap mata dengannya lagi. Mata itu. Setelah lama aku tidak dapat melihat dengan jelas mata itu. Mata Geumhee.

“Yakinkan dirimu bahwa kau sudah tidak menyukaiku.”

 

Aku kembali tercekat mendengar kata-katanya. Lagi-lagi kata-katanya terus terngiang di telingaku. ‘Yakinkan dirimu bahwa kau sudah tidak menyukaiku’.

 

“Aku akan bertanya padamu sekali lagi Byun Baekhyun, dan kumohon jawablah dengan mantap. Pikirkan yeoja chingumu pikirkan dirimu baik-baik, apa kau masih menyukaiku?”

 

“Aku…. Aku… Tidak…. Tahu…..”

 

PLAK

 

Geumhee menamparku, lagi.

 

Apa kau masih menyukainya?

 

DEG

 

Suara itu. Aku sangat mengenal suara itu. Park Minah.

 

Aku langsung menoleh kearah dimana suara itu berasal dan Mina berjalan dengan lemah dan tergopoh kearahku. Ia terisak. Dapat kuliaht wajahnya memerah dan basah karna air matanya. Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan? Sudah berapa lama ia bersembunyi di balik pintu kelas? Apa ia mendengarkan semuanya? Itu tidak penting, yang terpenting adalah aku takut jika Mina salah paham.

 

Aku menghampiri Mina yang berjalan kearahku. Ia sama sekali tidak melihatku, ia melihat kearah Geumhee. Aku mencoba meraih tangannya namun ia menampisku. Mina semakin mendekat kearah Geumhee, tentunya hal tersebut membuat Geumhee bergetar dan ketakutan. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh gadisku ini.

 

“Aku bertanya padamu Baek, apa kau masih menyukai Geumhee?”

Katanya lirih. Aku kembali meraih salah satu tangannya. Ia menoleh kearahku. Wajah Mina bernar-benar terlihat berantakan. Matanya sayu, kantung matanya membengkak dan warna putih dibola matanya kini terdapat urat-urat kecil berwarna merah disana. Sayang. Aku ingin sekali memeluknya, namun ia melepas tanganku perlahan dengan kedua matanya menatapku sayu. Setelah genggamanku terlepas ia kembali menuju kearah Geumhee, dan tidak seperti yang aku bayangkan, ternyata Mina ia memeluknya.

 

 

-Park Minah’s POV-

Aku mendekap Geumhee sangat erat. Aku benar-benar merasa bersalah terhadapnya. Bagaimana tidak? Ternyata selama ini masalah mereka masih belum selesai, Baekhyun bahkan tidak menghiraukannya dan berusaha untuk membencinya. Aku sangat menyayangi Baekhyun tapi mengapa aku merasa kasihan terhadap Geumhee? Bagaimana bisa aku begitu egois? Aku melepas pelukanku dan menatap wajah Geumhee yang kini sedang menangis sama sepertiku.

 

“Maafkan aku Geumhee-ah.”

“Ap…apa….apa maksudmu Mina-ya? Kau tidak memiliki salah apapun terhadapku, seharusnya akulah yang meminta maaf kepadamu karna….karna..aku- “

“Tidak. Maafkan aku karna aku begitu egois, aku datang mengusik keseharian Baekhyun tanpa mengetahui bahwa ia sendiri masih bimbang dengan hatinya. Aku hanya menikmati duniaku sendiri. Sekali lagi aku benar-benar meminta maaf. Aku akan sangat senang jika kau bisa kembali-…..”

“Park Minah apa yang kau bicarakan!”

Baekhyun memotong kalimatku sembari tangannya kembali meraihku.

 

“Maaf bukan maksudku ingin mengganggu hubungan kalian.”

Aku mencoba meraih Geumhee namun tidak sampai. Ia pergi dengan begitu cepat. Aku benar-benar merasa kasihan kepadanya.

 

Baekhyun mendekatkan tubuhnya kepadaku, ia menelungkupkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipiku.

“Sayang aku bisa menjelaskannya padamu, aku tidak ingin kau salah paham.”

“Tidak Baek, kau tidak perlu menjelaskannya. Aku sudah mengerti apa yang sedang terjadi, aku-…”

“Park Minah dengarkan aku!”

 

Baekhyun mengeratkan tangannya pada pipiku seiring dengan suaranya yang meninggi dan penuh penekanan. Mata Baekhyun benar-benar mengunci mataku. Aku tidak marah kepada Baekhyun, justru aku ingin dia menyelesaikan apa yang dulu ia lakukan dan belum tercapai yaitu mencari alasan tersebut.

 

“Park Minah aku benar-benar menyukaimu dan aku tidak ingin kau salah paham tentang pembicaraanku dengan Geumhee tadi dan aku juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan hubungan kita jadi tenanglah, aku akan menjelaskan padamu semuanya.”

Baekhyun mengelus anak rambutku yang panjangnya kini sudah hampir menutupi mataku lalu ia menyibakkannya kesamping bersaman dengan beberapa rambutku yang menutupi sebagian wajahku.

 

Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan ataupun apa yang harus aku lakukan. Tidak terpikir olehku sebelumnya untuk mengganggu gugat hubunganku dengan Baekhyun, tapi aku hanya tidak ingin Baekhyun ibaratnya seperti meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai. Aku ingin Baekhyun menyelesaikan masalahnya dengan Geumhee terlebih dahulu, entah bagaimanapun caranya.

 

“Baek….”

 

Chu~

 

Dengan cepat aku menutup kedua mataku saat Baekhyun mendekatkan wajahnya padaku, saat itu juga aku merasakan bibir lembab Baekhyun menempel pada bibirku. Baekhyun menciumku.

 

Ia semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuhku dengan kedua telapak tangannya yang masih menempel di kedua sisi pipiku. Berkali-kali ia mengecup bibirku, bahkan sampai terdengar suara kecupannya. Aku hanya diam menerima perlakuannya sambil terus menutup mulutku. Dikecupan terakhirnya Baekhyun menempelkan bibirnya di permukaan bibirku untuk waktu yang cukup lama.

 

Saat ia mulai melumat bibir bawahku, aku menghentikannya dengan perlahan menjauhkan wajahnya dari wajahku. Aku juga meletakkan kedua telapak tanganku pada kedua sisi pipinya.

 

“Baekhyun… Maafkan aku…”

“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu mengucapkan itu.”

Baekhyun kembali mencoba menciumku namun dengan sekuat tenaga aku menahannya.

“Baekhyun dengarkan aku!”

“Tidak sayang, jika hal yang kau katakan itu berkaitan dengan hubungan kita, aku tidak akan mendengarkanmu. Tidak.”

Baekhyun menggelengkan kepalanya mencoba melepaskan kedua tanganku dikepalanya. Sementara aku semakin memegang erat kepala Baekhyun dan mengerahkan kedua matanya agar kembali menatapku.

 

“Baekhyun kumohon dengarkan aku. Aku juga sangat menyukaimu dan akan selalu seperti itu, tapi aku ingin hati dan pikiranmu semua seutuhnya untuku. Aku tau kau sudah mencoba melakukannya, aku dapat merasakannya disetiap sentuhanmu kepadaku, disetiap tatapan matamu terhadapku, bahkan disetiap perkataanmu untukku. Aku menyayangimu Baek dan kumohon tetap carilah alasan itu, alasan Geumhee yang dengan tiba-tiba memutuskan hubungan kalian. Terus carilah sampai kau menemukannya, selesaikan hubungan kalian dengan baik. Setelah itu temui aku, peluk aku dan cium aku, katakan padaku bahwa kau telah melakukan semua apa yang kukatakan.”

 

Baekhyun kembali menggelengkan kepalanya pelan, namun kali ini ia menangis. Aku melihat kedua matanya yang tidak berkedip karna mencoba untuk menahan air matanya, hidungnya yang memerah, dan bibirnya yang bergetar.

“Tidak. Tidak.”

Katanya lirih dan sangat menyayat kedua telingaku. Aku memeluk Baekhyun, mencoba menenangkan dirinya. Ia pun mendekapku sangat erat. Kami berpelukan cukup lama sampai aku yang mengakhirinya.

 

“Aku harus pergi sekarang.”

“Kemana? Aku akan mengantarmu.”

“Tidak, tidak perlu Baek.”

 

Aku mengelus rambut Baekhyun lalu aku sedikit berjinjit sambil menuju kearah Baekhyun untuk mengecup dahinya, hanya satu kecupan kecil. Sekali lagi aku memandangi wajahnya sebelum aku meninggalkannya.

 

“Mina?”

Mina. Ini kali pertamanya Baekhyun memanggilku seperti itu. Ya. Itulah nama panggilanku. Semua orang memanggilku seperti itu. Namun entah mengapa terasa aneh saat Baekhyun yang mengucapkannya, aku merasa sedikit tidak nyaman saat mendengarnya. Baekhyun membalikkan badanku untuk kembali berhadapan dengannya.

“Apa ini artinya hubungan kita berakhir?“

 

Membutuhkan sedikit waktu untukku berfikir sebelum menjawab pertanyaannya. Berakhir? Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjawabnya dengan pasti.

“Itu tergantung bagaimana sudut pandangmu terhadap hubungan kita Baek.”

‘Kalau begitu jangan pernah beranggapan bahwa hubungan kita berakhir, hanya saja kau tau banyak orang menyebutnya dengan ‘break up‘. Ingat itu Park Minah, we’re not broke up, we’re just breaking up.”

 

Aku mengangguk kepada Baekhyun sebelum akhirnya aku benar-benar meninggalkannya. Aku berjalan keluar kelas dimana Sehun berada. Sehun, ia berkata akan menunjukkan suatu tempat yang sangat penting padaku. Aku menghampirinya yang tengah terduduk dilantai bersender pada tembok sambil memainkan ponselnya. Tanpa mengganggunya, ia menyadari kehadiranku dan langsung bangkit dari posisinya. “Bisa kita pergi sekarang?” katanya.

 

 

-Oh Sehun’s POV-

Gadis ini mengangguk lemas. Aku tahu apa yang telah terjadi baru saja. Awalnya aku hanya ingin mengantarnya saja dan menemaninya menguping pembicaraan Baekhyun dengan Geumhee. Aku mencoba untuk tidak menghiraukan mereka ketika gadis ini mulai masuk ke dalam kelas namun aku tidak bisa menahan diriku untuk kembali menguping dan mengawasi mereka.

 

Sampai saat Baekhyun mencium gadis ini, aku, entah mengapa aku tidak ingin melihatnya lagi dan kuputuskan untuk duduk di lantai, memeriksa ponselku. Cho Kyuhyun menyuruh kami menemuinya di suatu tempat.

 

Gadis ini mulai berjalan dan aku mengikutinya. Sempat aku menoleh kebelakang aku melihat Baekhyun berdiri di depan pintu memandangi kami berdua. Aku juga melihat Geumhee dan Jung sonsaengnim keluar dari kamar mandi perempuan.

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

Sepanjang perjalanan gadis ini hanya berdiam diri sambil terus menatap lurus ke depan. Ingin aku mencoba untuk sedikit menghiburnya tapi apa yang dapat aku lakukan?

 

“Hei.”

“…….”

Neo (kau).”

Gadis ini masih terdiam ketika aku mencoba mengalihkan perhatiannya.

“Park Minah?”

Akhirnya ia menoleh kepadaku saat aku memanggil namanya.

 

“Apa kau baik-baik saja?”

“Tentu saja. Kemana kau akan membawaku? Apa kau akan menculikku?”

Gadis ini benar-benar. Di saat keadaannya kacau balau ia masih saja bisa untuk mencoba mmbuatku tertawa. Aku tahu bahwa sebenarnya ia lah yang membutuhkan seseorang untuk menghiburnya.

 

“Iya, kau benar. Aku akan menculikmu dan meminta tebusan kepada ayahmu.”

“Haha… Benarkah? Sepertinya menyenangkan.”

Aku melihat gadis ini tersenyum. Ia terus menjawab pertanyaanku tanpa melihat kearahku.

 

“Aku sedang menculikmu Nona, dan kau pikir ini menyenangkan?”

“Hm. Justru karna kau yang menculikku, mungkin ini akan menjadi menarik dan menyenangkan haha.”

Lagi-lagi ia tertawa masih dengan pandangannya yang terfokus ke depan. Aku lega dapat melihatnya kembali tertawa. Perkataannya yang baru saja, entah mengapa membuatku merasa sedikit lega dan aku juga merasa senang saat mendengarnya.

 

“Tidurlah jika kau merasa lelah, mungkin kita akan sampai disana tepat pada saat makan malam.”

Aku memfokuskan pandanganku pada jalanan di depan mataku namun aku tau bahwa gadis ini sedang memandangiku tepat setelah aku menyuruhnya tidur.

Wae? Apa kau khawatir jika aku benar-benar akan menculikmu?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa kau terus memandangiku?”

“Aku hanya merasa tenang karna disaat seperti ini aku masih bisa bersamamu.”

 

DEG

 

Lagi-lagi gadis ini mengatakan sesuatu yang membuatku merasa besar kepala. Apa maksud dari perkataannya? Apakah dia merasa senang saat bersamaku? Atau dia hanya merasa senang karna ia masih memiliki teman yang bisa mendampinginya saat ini? Aku menoleh kearah gadis itu. Ternyata ia sudah terlelap dengan pundak kanannya sendiri sebagai bantalnya.

 

Mengingat apa yang terjadi hari ini ia pasti sangat lelah, belum lagi sebuah kenyataan yang akan ia ketahui dengan pasti malam ini, aku berharap ia benar-benar gadis yang kuat. Gadis yang sangat kuat, sama seperti yang ia katakan saat ia menggendongku ketika kami berumur 6 tahun.

 

Alunan musik mellow dari tape yang kunyalakan sepertinya membuat gadis ini semakin terlelap dalam tidurnya. Sesekali ia bergerak membenahi posisi tidurnya yang benar-benar terlihat kurang nyaman. Aku lega karna kini kami mulai mendekati tempat tujuan kami. Sebuah panti asuhan di pinggir kota.

 

Aku memarkirkan mobil di luar gerbang tepat di belakang mobil Range Rover hitam yang sudah terparkir manis disana. Setelah mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamanku, aku menengok kearah Mina. Dia terlihat begitu nyaman dengan posisinya saat ini, aku bahkan tidak tega untuk mengusiknya. Tapi di dalam sudah ada beberapa orang penting yang sedang menunggu kedatangan kami. Aku berfikir untuk sejenak. Bagaimana caraku untuk membangunkannya?

 

Aku mulai memanggil namanya lirih. Sekali, dua kali, tiga kali, namun ia tak kunjung tersadar. Kocoba sekali lagi memanggil namanya, namun kali ini sembari aku memegang pucuk kepalanya.

“Park Minah…”

 

Gadis ini hanya melenguh kecil. Sempat ia mengerjapkan matanya yang aku kira akan terbuka namun tidak, masih tertutup rapat. Bukankah biasanya para gadis lebih mudah untuk dibangunkan? Bahkan ibuku sendiri akan langsung terbangun ketika aku memasuki kamarnya walau aku sudah mengendap-endap. Apa gadis ini begitu lelah untuk bangun? Apa-aku-harus-membawanya-masuk-? Meng-gen-dong-nya-?

 

Tidak. Setidaknya aku harus mendapat persetujuannya untuk melakukannya mengingat ia tidak sedang mengalami cidera apa pun. Hanya saja aku tidak sampai hati untuk membangunkan wajah yang terlihat sangat damai itu, walaupun aku sudah mencoba membangunkannya berkali-kali.

Baiklah. Aku akan membawanya masuk.

 

 

-Autor’s POV-

Sehun turun dari kursinya menuju pintu seberang. Setelah membuka pintunya, ia melihat Mina dan lagi ia terdiam berfikir. Haruskah ia menggendong gadis ini? Bagaimana jika ia terbangun dan berpikiran yang tidak-tidak mengenai apa yang dilakukan Sehun? Dan juga, lagi, Sehun pun benar-benar tidak tega untuk mengusik Mina yang sedang terlelap.

 

Akhirnya Sehun membuat keputusan. Perlahan kedua tangannya mulai mencoba untuk meraih tubuh mungil Mina. Dengan sangat hati-hati ia menelusupkan tangan kanannya di punggung Mina dan mencoba memasukkan tangan kirinya di tekukan lutut gadis itu. Sehun lega melihat Mina tidak terusik sedikit pun, namun hal itu membuatnya bertambah semakin gugup.

 

Ia mulai mengangkat tubuh Mina, tidak terlalu berat tentunya bagi Sehun. Ia mengeluarkankan Mina dari mobil lalu menutup pintu mobil mengunakan kakinya. Sehun kembali melirik Mina, memastikan apakah kedua kelopak mata gadis tersebut masih tertutup. Dan benar saja, Mina masih tertidur.

 

Sehun membawa Mina masuk ke dalam rumah panti asuhan tersebut setelah sebelumnya ia mengetuk pintu menggunakan salah satu kakinya dan penjaga panti asuhan tersebut membukakannya. Sehun langsung di sambut oleh beberapa orang yang sebagian wajah dari mereka tidak terlihat asing lagi bagi Sehun. Mereka hanya menyambut dengan sebuah senyuman karna mereka juga tidak ingin membangunkan Mina yang terlelap di kedua tangan Sehun.

 

Sehun masih mengingat sebagian dari mereka. Mereka semua orang yang sama dengan wajah yang masih sama pula, hanya saja mereka terlihat lebih tua.

 

Salah satu dari mereka, seorang laki-laki yang lebih tua dari Sehun membimbing Sehun agar membawa Mina dan meletakkannya di tempat tidur. Sehun mengekor pria tersebut dan langsung ikut memasuki sebuah kamar. Saat pria itu membukakan pintunya. Sehun mencoba meletakan Mina di atas ranjang dengan setenang mungkin, pria itu juga ikut membantunya. Mina hanya menggeliat kecil namun ia tidak terbangun.

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

Visit my personal blog.

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] HOLLER (Chapter 10)”

  1. Ping-balik: Chaptered | Choi's
  2. woahh., ceritanya nambah seru aja kak^^
    huhh., dasar baekhyun., perasaannya masih bimbang aja, kan ksian mina 😦

    “Aku hanya merasa tenang karna disaat seperti ini aku masih bisa bersamamu.” gx sadar kah mina kalo ucapannya membuat sehun deg degan..wkwkwk

    next kak dtunggu klanjutanya^^

Tinggalkan Balasan ke lyoungie98 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s