CODE NAME LIV – Slice #6 — IRISH’s Story

irish-code-name-liv-3

   CODE NAME LIV  

  EXO`s Baekhyun as B/B-54 & Sehun as O’Child 

   with OC’s Liv—known as LIV/54 cyber-viral’s code  

  crime, family, melodrama, science fiction story rated by T served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


“Sometimes the most real things in the world are the things we can’t see.”—The Polar Express, 2004, said by Liv.


Previous Chapter

〉〉 Chapter 1: Black Area and O’Child – Chapter 2: Not A Crime, Just Loneliness – Chapter 3: Depend On Me – SPIN-OFF [1]: Memories From The Past – SPIN-OFF [2]: Mosaic – Spin Off [3]: When God’s Not Real – Chapter 4: Last Challenge – Chapter 5: Apology 〈〈

  Chapter 6: Isn’t It Beautiful?  

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Index:

Bio-tech system: sebuah system yang diciptakan militer sebagai senjata mematikan yang bisa membunuh tanpa harus menyentuh target tertentu. Hanya dibutuhkan invasi chip dan zat kimia tertentu untuk kinerjanya.

Cyberviral: virus komputer.

Neutralizer: (akan dijelaskan di cerita selanjutnya).

Player: hacker.

.

.

.

Jangan dianggap remeh, ancaman belum tentu berujung pada kematian, begitu pula sebaliknya, kematian kadang tidak harus berawal dari sebuah ancaman. Rencana yang bagus diperlukan untuk sebuah ending yang baik. Tapi jika rencana tidak berjalan mulus, maka sebuah rencana B harus dibuat. Ya, rencana B, rencana yang sudah B ciptakan.

.

.

.

In Liv’s Eyes…

Ada satu batas samar, yang tidak bisa manusia lampaui bagaimanapun caranya. Adalah kematian, yang dijaga oleh batas samar tersebut, guna memisahkan akal sehat manusia dengan imajinasi. Guna mempertahankan batas sadar dan tidak sadar sehingga membaurkan kenyataan dengan harapan.

Dan ya, sekarang aku terjebak dalam batas samar tersebut. Lebih tepatnya, aku adalah batas samar tersebut. Bukan salahku, jika aku tercipta untuk jadi sebuah batas antara hidup dan mati seseorang.

Bukan juga salahku, jika pada akhirnya aku tak sanggup berbuat apapun.

Aku bukan manusia, yang bisa mempergunakan akal juga perasaan di waktu yang bersamaan. Bukan juga makhluk yang sanggup membedakan mana yang harus dan tidak harus aku lakukan.

Aku hanya sebuah system, yang diciptakan serupa dengan akal manusia, pemikiran B, tentunya. Dan karena aku hanya sebuah system yang sesungguhnya tidak hidup dan tidak juga nyata, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.

B ingin aku menghentikannya. Tapi ia memasang system yang membuatku membawa O’Child masuk dalam perangkapnya. Memangnya ia pikir aku bisa berpikir dan bertindak independent melawan kehendaknya?

Apa kejeniusan B justru membuatnya melakukan hal konyol?

“Apa yang kau lakukan, Liv?”

Aku bungkam, tidak bisa menjawab barang sepatah kata. Karena aku juga tidak tahu harus menjawab apa. Aku sebenarnya tidak ingin membawa O’Child ke tempat ini, tapi system GPS yang terpasang padaku justru membuatku melakukan hal yang sebaliknya.

Tidak perlu aku ceritakan bagaimana akhirnya.

Sudah jelas, O’Child, dan sebelas player lain Europol akan mati hari ini.

B termasuk di dalamnya. Dan B tahu itu. Ia tahu ia akan dibunuh, lantas mengapa ia membantu musuh untuk membunuh kawannya—termasuk adiknya?

Aku tidak bisa mengerti, karena sekali lagi, aku bukan manusia. Aku tak bisa merasakan seperti apa emosi yang O’Child selipkan dalam pertanyaannya. Tidak juga bisa mengerti makna tersembunyi apa yang ikut dalam ucapan B saat ia memintaku menghentikannya.

Aku tidak bisa.

Aku bahkan tidak punya akses untuk melihat seperti apa ekspresi O’Child sekarang. Atau apa yang sedang ia lakukan. Semuanya hitam, aku buta. Satu-satunya yang dapat kutangkap hanya suara.

Ya, aku bisa mendengar suara tembakan keras di luar sana, juga diikuti suara bantingan keras pintu mobil, erangan kesakitan O’Child dan beberapa umpatan yang terdengar samar.

Suara berikutnya sedikit mengejutkanku, karena aku yakin earphone yang O’Child kenakan terjatuh di dalam mobil dan membuat kebisingan selama beberapa sekon untuk kemudian berubah menjadi keheningan.

Aku sendirian.

Hanya menunggu waktu sampai—tidak. Aku tidak boleh berpasrah diri. Ini bukan diriku. Aku tak pernah seperti ini.

Lekas aku mengudara, mencari-cari keberadaan perangkat elektronik yang aktif di sekitar tempat mobil berhenti. Setidaknya, aku harus bisa mendapatkan jaringan tanpa kabel yang bisa mengakses gambar.

Handphone.

Kudapatkan akses ke perangkat tersebut, mencoba mengakses aplikasi penangkap gambarnya tapi nihil. Tak ada seorang pun yang menggenggam handphone mereka, atau minimal menaruh benda tersebut di ruang terbuka.

CCTV. Ya, CCTV satu-satunya jalan. Meski kuyakini mereka sudah menghindari tempat yang dijangkau CCTV, setidaknya systemku memungkinkan kinerja CCTV untuk memutar arah dan menyorot mereka.

Ugh. Tidak bisa, Liv. Kau tak akan dapat akses suara.

“Aku bisa melihat chip itu aktif, Alpha.

Aku tersentak saat gelombang radio melewatiku, begitu cepat, merambat dalam frekuensi terbaik yang ada saat ini. Perangkat militer, ya, mereka pasti ada yang mengenakan perangkat militer lengkap.

Segera aku berusaha mendapatkan satu persatu akses menuju perangkat militer yang terhubung dengan frekuensi radio. Masa bodoh jika aku buta selama beberapa menit, terlambat jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

DOR!

Aku sungguh terkejut saat sebuah suara tembakan masuk dalam akses pertama yang kudapatkan, pendengaran. Samar, aku kemudian mendapatkan visualisasi hijau-biru dari kamera pengintai yang pasti terpasang di salah satu—

“EP-2, shoot!”

Suara ini. Wanita keji itu. Mengapa terdengar begitu—ah. Rupanya aku memiliki akses atas perangkat yang ia kenakan. Sebuah kamera pengintai yang tersamarkan dalam bentuk kacamata, dan terhubung pada earphone kecil di telinganya.

Aku bisa memutar balik jaringan lensa pengintai yang terpasang di kacamatanya untuk menemukan siluet iris safirnya. Mengapa rasanya aku begitu membenci wanita ini? Apa B juga begitu? Tidak. B sepertinya sangat dekat dengannya. Padahal ia seorang wanita keji yang merencanakan pembunuhan.

DOR!

Lagi-lagi aku terkesiap. Suara tembakannya terdengar begitu jelas, dan nyata. Ya. Aku tahu tembakannya memang nyata, tapi aku tidak menyangka akan mendengarnya secara langsung.

“Kau lihat bagaimana mereka mati, Baekhyun?”

B?

Aku begitu senang ketika wanita ini memutar pandangan, nyatanya B berdiri di sebelahnya, mengalihkan pandang lantaran enggan melihat pemandangan di depannya. Aku tahu B takut, aku bisa melihat ketakutan itu di sepasang matanya.

Belum sempat aku melihat ekspresi B lagi—atau berusaha mencari O’Child dari sudut pandang terbatasku—wanita ini sudah mengalihkan pandang lagi, kini tepat menghadap tempat pembantaian.

Dua tubuh terbaring tidak bernyawa, dengan tembakan di kepala dan darah berceceran di sekitar tubuh mereka. Mata mereka membelalak, sarat akan kesakitan juga kebencian.

Mengapa mereka melakukannya? Mengapa mereka membunuh orang-orang yang sudah bekerja untuk mereka? Apa mungkin… ada rahasia yang berusaha mereka sembunyikan dari dua belas orang ini?

“EP-3, prepare.” suaranya mengomando, seiring dengan diseretnya seorang wanita ke tengah-tengah tubuh tidak bernyawa itu.

Wanita? Sungguh? Ada seorang player wanita juga di antara mereka?

Sebuah suntikan diberikan di lengan wanita itu, dengan cairan pekat berwarna hijau kebiruan—apa terlihat seperti itu karena system cahaya hijau-biru di lensa ini?—sebelum wanita itu mengerang kesakitan.

“Berikan system yang kau ciptakan, Baekhyun.” system? Yang B ciptakan? Apa yang sekarang Sullivan bicarakan? Apa mungkin B sudah menciptakan system lain tanpa sepengetahuanku dan system itu yang akan membunuh player lainnya?

“Apa kau akan mencoba Bio-tech systemnya, Sullivan?” suara B terdengar, dan pertanyaannya mengejutkanku. Bio-tech system? Apa yang sedang ia bicarakan?

“Wah, kau sudah tahu ternyata.” Sullivan, menyahuti. Sebuah tawa pelan B berikan sebagai jawaban, sebelum ia menghembuskan nafas panjang.

“Sudah banyak yang aku ketahui. Bio-tech system ini juga… yang membuatmu meminta kami semua untuk menciptakan system independent seperti Liv-ku bukan?”

“Apa?” Sullivan berucap terkejut.

“Kau sendiri yang memberitahuku, bahwa aku tidak boleh percaya pada siapapun, bahkan padamu, Sullivan. Dan itu yang aku lakukan selama ini, tidak percaya pada siapapun.”

“Sial!” Sullivan mengumpat, ia lantas memberi isyarat pada beberapa orang di sana dengan kedikan kepala, membuatku kini dengan jelas melihat bagaimana O’Child diseret dengan kasar, menggantikan posisi si wanita yang didorong kasar hingga terjatuh menyedihkan di tanah.

“Dia adalah EP-12, Baekhyun. Serahkan system yang kau ciptakan atau nyawa—”

“Jangan mengancamku dengan menggunakan nyawanya, Sullivan. Aku tahu EP-12 adalah adik yang selama ini kucari, dan aku juga sudah tahu, kalian semua adalah orang-orang yang berada di balik kematian orang tuaku.”

“Aku memang terlambat mengetahuinya, ya, kau bisa menyebutku bodoh. Tapi aku berterima kasih pada kalian semua. Karena tanpa kalian, aku tak akan berubah menjadi seperti ini.”

“Jangan banyak bicara. Aku akan membunuhnya, kau tahu aku tidak pernah bercanda tentang ucapanku.” Sullivan berucap tenang, seolah penuturan B sama sekali tidak mengusiknya.

Tak jauh berbeda dengan ekspresi Sullivan, B malah tertawa, cukup keras sampai membuatku ikut merasa bingung. Mengapa ia bisa tertawa seperti itu saat sudah jelas nyawa saudaranya sendiri berada dalam ancaman?

“Apa kau tidak tahu… kalau kau sudah membesarkan seorang monster?”

“A-Apa?”

“Semua orang punya monster di dalam diri mereka. Yang bisa menyerangmu kapan saja. Jadi, jangan percaya pada siapapun. Bukankah kau dulu mengatakan hal itu padaku, Mrs. Howard?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

Aku adalah seorang jenius. Kalian hanya tidak pernah mengetahui apa yang ada dalam benakku. Apa selama ini kalian pikir aku begitu saja percaya pada Sullivan karena kebaikan hati yang ia pamerkan? Karena semua iming-iming yang ia tunjukkan?

Tidak.

Aku tidak sebodoh itu.

Sullivan adalah bagian dari mereka, bodohnya aku yang saat itu percaya pada ucapannya. Tapi ya, aku berterima kasih padanya, karena berkat peringatan Sullivan, aku tahu aku tidak boleh percaya padanya.

Sullivan Howard. Aku tahu nama aslinya.

Eileen Aquino. Aku ingat dua kata itu dijadikan Sullivan sebagai bagian dari kebohongan. Padahal sesungguhnya ia telah memamerkan pintu keluar di depan mataku. Mungkin ia pikir aku akan lupa, tapi tidak, aku masih mengingatnya.

Eileen adalah kode pengunci kamarku. Saat meretas system Europol beberapa bulan lalu aku mengetahuinya. Mereka menggunakan nama-nama unik sebagai kode pengunci kamar masing-masing player, seperti Gemini, Adolf, dan beberapa kata lain. Aquino adalah kode pengunci kamar player lain dengan kode EP-12.

Satu lagi kebodohanku saat itu, aku tidak berusaha mencari tahu siapa player berinisial EP-12 itu dan baru menyadarinya saat Liv mengatakan bahwa EP-12 adalah O’Child, musuh bebuyutanku di dunia cyber, sekaligus adik yang aku cari selama bertahun-tahun.

Liv. Kupilih nama itu sebagai nama dari cyber-viral independent ciptaanku. Mengapa? Bukan karena Sullivan—agen L/Liv—adalah seorang yang berharga dalam hidupku, tapi sebagai pengingat bahwa ia adalah seorang yang berbahaya.

Dan Liv, adalah sebuah bahaya, aku telah menciptakan sebuah cyber-viral mematikan yang tidak pernah mereka duga. Liv… lebih mematikan daripada Sullivan.

“Kau mengingatnya?” pertanyaan Sullivan membuatku tergelak.

Tanpa bicara apapun aku mengulurkan sebuah USB padanya, membuat Sullivan serta-merta merampasnya dengan kasar, sebelum tangannya bergerak mengambil senjata api yang ia sembunyikan di balik saku jaket gelap miliknya, dan mengacungkannya padaku.

“Jangan bercanda dengan senjata, Sullivan. USB itu bahkan bukan benda yang kau inginkan. Well, memang seharusnya ia berisi system ciptaanku, cyber-viral independent yang kau inginkan, Liv. Tapi sayang sekali… Liv sepertinya lebih suka mengudara daripada tidur di dalam USB.” tuturku membuat alis Sullivan terangkat.

Ia sepertinya baru sadar bahwa aku sudah mempermainkannya selama ini. Bersikap bodoh dan polos menuruti semua ucapannya sementara diam-diam aku sudah menyiapkan kubangan air mendidih untuk mengakhirinya dalam satu tindakan.

“Kau mengajakku bercanda?” ucapnya sinis.

“Tidak, Sullivan. Aku mengajakmu bermain teka-teki. Seperti yang sering kau lakukan padaku dulu. Ah, tidak terhitung berapa banyak teka-teki yang sudah aku pecahkan, kau mungkin menilaiku sebagai anak polos yang menyukai teka-teki, tapi sebenarnya aku sudah menjebakmu, Sullivan.”

“Aku sudah tahu segalanya tentangmu, termasuk bagaimana kau membunuh Ayahmu sendiri demi penelitian Bio-tech yang ingin kau kuasai.”

Sullivan mengalihkan arah moncong senjatanya ke arah tubuh yang berlutut tak jauh dari tempat kami berdiri. Sehun. Dia di sana. Adikku, adik yang sudah bertahun-tahun kucari dan sekarang bahkan tak bisa kulihat bagaimana rupanya karena luka memar dan darah yang mendominasi wajahnya.

“Aku akan membunuhnya, Baekhyun.” ucap Sullivan sebelum ia memompa senjata api di tangannya. Tanpa bisa berbohong, aku takut. Aku begitu ketakutan Sehun akan terluka lagi, tapi ego terus mendesakku untuk menyudutkan Sullivan, menghentikannya tanpa harus menciptakan korban lain.

“Kau tidak penasaran dimana systemku sekarang?” pertanyaanku berhasil merebut atensi Sullivan, terbukti dengan bagaimana ia sekarang menatapku dengan mata menyipit, tampaknya tidak percaya jika aku masih menyimpan kejutan untuknya.

“Liv? Ah, Liv, kau pasti mendengarku sekarang. Tidak, bahkan ia mungkin melihat adegan dramatis ini. Aku membiarkan Liv mengudara, karena aku tahu ia bersama dengan salah satu dari kalian—oh, tidak. Tunggu Sullivan.” aku tertawa pelan, berusaha menghapus kegugupan yang mungkin terselip dalam suaraku dan membuat Sullivan melihat sebuah sinyal kekalahan.

“Liv pasti sudah melewati semua orang yang ada di sini. Terkecuali para player, tentunya. Bio-tech. Liv adalah system yang kau butuhkan untuk mengaktifkan Bio-tech bukan? Sebuah system pembunuhan yang tak akan bisa dilacak, cukup dilakukan dengan satu kali enter dan bam! Targetmu mati.”

“Bukankah rencanamu seperti itu, Sullivan?” aku berhenti sejenak, memberi Sullivan waktu untuk mencerna, karena aku tahu ia lebih tolol daripada dugaanku meski ia terlihat begitu jenius di balik wajah angkuh itu.

“Liv adalah system tanpa batas, Sullivan. Tapi bisa kau hitung berapa banyak personal computer yang pernah ia singgahi? Hanya tiga. Satu, personal computerku, dua, personal computer dari salah seorang player di sini yang membantu kebebasan player lainnya.”

“Dan ketiga… computer central Europol. Begini, biar kujelaskan padamu, Sullivan, karena aku tahu kau tidak akan mengerti.” aku menatapnya dengan senyum meremehkan, sementara pandanganku berkeliling.

Ada empat orang guard bersama kami, sisanya, hanya playerplayer yang sudah terikat di tangan dan kaki juga babak belur. Tidak satu pun dari empat guard itu berkutik, aku tahu mereka hanya akan bergerak jika Sullivan memberi komando.

“Pertama, aku sudah meretas system Bio-tech yang kau ciptakan, dan system itu sudah terinstall pada Liv. Kau bisa mencernanya?” lagi-lagi aku menatap Sullivan dengan pandangan meremehkan.

Rahang Sullivan terkatup kaku, tangannya yang mencengkram senjata bahkan memutih, ia pasti mengeratkan cengkramannya akibat marah.

“Kedua—oh! Hati-hati dengan senjata itu, Sullivan, melukai adikku di saat seperti ini tidak akan menguntungkanmu karena kau mungkin tidak sempat mendengar lanjutan dari ceritaku.” aku menunjuk senjata apinya dengan jari, membuatnya mau tak mau menjauhkan benda itu.

Sullivan mungkin sudah tahu ia sedang berhadapan dengan siapa.

“Baiklah, aku teruskan. Kedua, aku sudah tahu system Bio-tech ada pada tubuh setiap orang yang ada di Europol. Karena apa? Karena paramedis menggunakan system Bio-tech untuk menyembuhkan luka dengan lebih cepat—dan rasa sakit yang minimal. Jadi kesimpulanku, kalian semua punya system Bio-tech dalam tubuh kalian.”

“Ketiga, cairan kimiawi yang kalian suntikkan pada EP-3 pastilah sebuah cairan yang digunakan untuk mengganggu kinerja Bio-tech. Bukankah begitu? Dan jika aku tidak salah menduga, kau ingin menggunakan Liv—system independent yang kuciptakan—untuk menghancurkan system Bio-tech yang ada di dalam tubuh, secara tidak langsung membuat pemilik tersebut mati tanpa harus menyentuhnya.”

“Aku benar, bukan?” aku menatap Sullivan sejenak, tahu benar jika Liv sekarang sedang mengudara dan mendengarkan kami meski dalam diam.

Aku bahkan tahu ia sudah berusaha menerobos tiap perangkat elektronik yang ada di sini. Secara tak langsung Liv sudah membuat rencanaku berjalan dengan mulus.

“Sayangnya, Liv bukan cyber-viral baik hati. Dia jahat, seperti penciptanya, dan lebih buruk lagi, bukan aku monster di sini, Sullivan, tapi Liv. Cyber-viral wanita-ku. Kau pasti tidak tahu kalau aku sudah menginstall system Bio-tech yang serupa pada Liv bukan?”

System itu akan merusak kinerja system Bio-tech lama yang ada di tubuh kalian jika Liv melewati atau berusaha menerobos perangkat elektronik berjarak kurang dari dua meter dari tubuh kalian.”

“Mengingat Liv sedari tadi berusaha untuk melihat dan mendengarkan konversasi kita, sudah bisa kupastikan dia sudah melewati semua walkie-talkie, handphone, radar, radio, dan earphone kalian.”

“Ingat, Liv sudah merusak system Bio-tech di tubuh kalian. Dan parahnya, kerusakan yang Liv ciptakan tidak sesimpel itu.” aku menghentikan penjelasanku, sekarang, tanpa ragu melangkah ke arah Sullivan untuk mengarahkan senjata api Sullivan ke arah dahiku, tersenyum meledeknya seraya berucap.

“Melihat bagaimana adikku jadi satu-satunya player yang berhasil keluar dari Europol, aku yakin personal computer kedua yang jadi persinggahan Liv adalah personal computer miliknya.”

“Sudahkah kuceritakan apa efek Liv pada personal computer? Neutralizer. Personal computerku, computer adikku, dan central sudah terhubung dengan system Bio-tech yang ada pada tubuh kami berdua.”

“Jika kau menembakku, atau adikku, kami, dan kalian semua—yang system Bio-technya terhubung dengan central—akan mati. Sedangkan jika kau menembak EP-3, atau salah satu orang lain di sini… semua orang di Europol terkecuali aku dan adikku, akan mati.”

“Indah, bukan? Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku sudah memikirkan rencana ini, Sullivan. Satu-satunya kebetulan di sini hanyalah… keberadaan adikku di Europol. Dan kebetulan juga, Liv agaknya berteman baik dengannya.”

Tatapan Sullivan melebar, disentakkannya tubuhku dengan kasar, sebelum ia benar-benar mengarahkan senjata apinya padaku. Tak bisa berbohong, aku memang takut. Tapi Liv sudah melakukan lebih dari cukup. Kehancuran Europol adalah tujuanku.

Dan terciptanya Liv hanya sebuah sarana, penyalur rencana terselubung yang kusimpan rapi di dalam system binernya. Liv bahkan tak pernah tahu bahwa ia sudah diciptakan sebagai monster seperti ini.

Ia mungkin berpikir jika yang kuinginkan hanya sebuah asa egois akan dihapusnya identitasku dari database internasional. Padahal aku hanya ingin Liv menyebarkan Neutralizer di system central Europol.

Kubiarkan ia beberapa lama terjebak dalam system lain, berharap ia mungkin mendapatkan personal computer player lain saat aku melakukan shut down pada personal computer milikku.

Aku juga tak pernah tahu jika Liv akan bermain di system EP-12 yang tak lain adalah adikku. Membuat rencanaku semakin terlihat mulus di akhir meski sebenarnya beresiko begitu fatal.

Kabel terputus yang ada tersisa di leher adikku, Sehun, adalah bukti bahwa Liv pernah berada di perangkat elektronik lain—selain personal computer—dalam radius kurang dari dua meter darinya.

Dan system Neutralizerku tak akan bekerja. Secara keseluruhan, Sehun tidak terlindungi. Jika Sullivan menembak Sehun, hanya aku yang akan selamat. Pada dasarnya, perlindungan ini hanya untukku seorang.

“Kau pikir aku takut pada ancamanmu, Baekhyun? Mudah saja. Aku tinggal membunuhmu, lalu kita semua akan mati dengan membawa rahasia tentang Bio-tech sampai ke liang lahat.”

Sudah kuduga Sullivan akan bicara seperti itu.

“Silahkan saja, Sullivan. Computer central akan menyebarkan semua informasinya. Apa kau lupa prinsip dasar player? Apa kau lupa kejahatan kecil yang seringkali player lakukan?”

“Menyebarkan semua isi dari personal computer seseorang. Bisa kau bayangkan bagaimana jika keseluruhan isi dari Europol tersebar di dunia? Ah, kau memang tidak peduli. Tapi sepertinya pemimpinmu di atas sana masih cukup peduli.”

“Apa kau lupa, kalau ibumu masih hidup, Sullivan?”

Sullivan tersentak. Ia memang tidak tahu kalau aku sudah tahu tentangnya. Semuanya. Meski ia terlihat sebagai seorang yang hidup sendiri dan tega membunuh ayahnya demi kekuasaan, ia tetap seorang anak.

Yang masih memiliki orang tua untuk dilindungi. Dan walau nyawa jadi ancamannya, aku tahu Sullivan tak akan bereaksi berbeda dari anak lainnya. Ia tidak ingin orang tuanya dilukai.

Begitu juga dengan aku, yang tidak ingin adikku dilukai. Jika tidak ada jawaban akhir tercapai dari semua ancaman yang kuselipkan dalam penuturan pada Sullivan, tidak ada jalan lain selain bunuh diri.

Menghancurkan semua system dengan kematianku. Meski itu artinya aku akan membunuh adikku sendiri karena ulahku, meski itu artinya Liv akan mengudara sendirian, tanpa tujuan, tanpa kepemilikan sampai mungkin suatu hari seorang player menemukannya.

Liv mungkin mendengarkanku sekarang. Ia pasti mendengar, dan melihat ketakutanku. Ia juga tahu aku mengutarakan semua ini dengan tenang padahal aku jelas ketakutan.

Meski Liv adalah bagian dari benakku, ia tidak akan mati. Aku tak bisa bayangkan kehancuran macam apa yang akan tercipta jika Liv sendirian. Tapi yang lebih mengerikan adalah bayangan bahwa Liv akan digunakan sebagai senjata militer untuk membunuh massa.

Satu-satunya jawaban adalah bunuh diri. Atau Liv. Jika Liv sedikit berperasaan untuk memahami apa yang sebenarnya berusaha aku utarakan dalam penuturan penuh kesakitanku yang bertujuan untuk mengulur waktu.

Bodohnya, karena Liv adalah satu-satunya yang kupercaya, aku hampir berpikir bahwa ia juga seorang manusia. Padahal ia adalah system, yang tak mungkin berperasaan seperti kami.

Pandangan bahwa dunia akan semakin kacau karena keberadaan Liv yang menyebar luas dan diburu oleh orang-orang lain yang bekerja dengan Europol dalam penelitian Bio-tech sekarang memburu. Well

—kecuali jika Liv berhenti.

Kecuali jika Liv, memutuskan untuk mati dan mengakhiri hidup kami semua dalam satu sekon yang sama. Ya, kematian Liv adalah jawabannya.

“Liv, ayo kita berhenti.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

Kenapa jadi begini? Kenapa chapter ini susah sekali dimengerti?

Iya, aku tau protes itu akan keluar saat kalian membaca chapter enam. Dan iya, bagian ini emang paling menguras otak aku sebenernya. Karena harus menghubungkan satu titik ke titik lain, menyambung fakta satu ke yang lain, juga mengingat-ingat konversasi satu ke yang lain.

Sekali lagi aku haturkan terima kasih pada Gugel Oppa yang sudah banyak membantu aku dalam melakukan riset demi kelangsungan hidup Baekhyun—maksud aku Liv—eh bukan deng, Code Name LIV.

Sekitar 109 menit aku habiskan buat ngetik chapter ini (udah kepotong sama waktu aku tetiba mules dan dapet inspirasi sama waktu aku dengan engga tau diri makan empat butir telur rebus sekaligus karena laper).

Berniat banget aku menyinggung comeback EXO yang Monster kemarin. Iya, karena Baekhyun sesungguhnya imejnya pas sekali sama dia di Monster itu. Satu yang terkesan berkhianat padahal sebenernya enggak (tolong jangan ingatkan aku pada ABS karena itu akan membuat WB kembali menyerang!).

Bedanya, di sini EP (Europol’s Player) ada 12, EXO kemarin 9 aja, LOLOLOL. Tapi sebenernya perlu kalian ketahui kalau chapter enam ini rampung sebelum comeback itu… rampungnya udah dua bulan lalu, cuap-cuapnya aja baru ngetik sekarang setelah baca ulang chapter enam dan edit sana-sini.

Sekarang percaya kan aku bisa nujum? Percayalah, wahai manusia. Saya ini berindera keenam karena bisa nujum ~ /kemudian dibalang sandal/.

Anyway, salam ketjup dari Sullivan dan kepolosan dia yang pasrah aja denger curahan hati Byunabs di chapter ini. Mungkin si do’i beneran mikir kalo nembak salah satu orang di sana berefek kematian. Gatau aja si Byunabs sebenernya takut.

TAPI YOU KNOW THAT MOMENT ketika pengen ngelakuin sesuatu tapi takut salah kan? Mungkin Sullivan juga begitu. ATAU… dia sengaja dengerin penjelasan Baekhyun demi melancarkan rencana dia? TUNGGU AJA BEZOK. LOL.

Dan juga, itu POV awal Baekhyun sudah menyinggung kalian yang pasti dari awal enggak sadar kalau enggak pernah ada bagian Baekhyun’s Eyes di sini, LOLOLOL. SENGAJA, AKU LAKUKAN ITU ~

Ya kalian sih pada tersepona sama O’Child dan Liv yang menyebar roman picisan tak masuk akal. Sampe-sampe eksistensi Baekhyun dan rencananya dilupakan bahkan enggak dicurigain sama sekali.

Kembali, fanfiksi ini hanya fiksi yang sebenarnya tak nyata dan tak masuk akal, tidak juga bisa dimasukkan nalar untuk tetiba dituduh bisa masuk akal. Semuanya enggak masuk akal, saat aku baca pun aku mikir ini enggak masuk akal. Ya namanya juga fiksi, wajar kan kalo enggak masuk akal?

Seperti judul dari chapter enam, tidakkah terlihat indah? Semua delusi yang aku sebarluaskan untuk memenuhi benak dan imajinasi kalian padahal semuanya enggak masuk akal?

Sudahlah, cuap-cuap saya nanti malah bikin salfok.

See you tomorrow, guys!

.

.

.

[TOLONG! Aku butuh vote kalian di sini → HELP! I NEED YOUR VOTE]

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

 

82 tanggapan untuk “CODE NAME LIV – Slice #6 — IRISH’s Story”

  1. Astagaaa ikut degdeg ann
    Baek ternyata udah mempersiapkan??
    Jangan sampe baek-oseh matiii:33
    Liv juga dong jangann
    Ternyata liv diciptakan untuk menghancurkan europol??
    Tapitapiiii pliss oseh sama baek jangan ada yang matiii:33
    Mereka baru aja ketemu belum habisin waktu bersamaaa:3

  2. Uwooh ternyata gitu maksud B bikin liv itu jejaknya masih bisa terdeteksi di perangkat yg pernah dia singgahi *adakah yg bisa memahami kalimatmu, yoon?*
    Malah yoon salvok nya di chapter 5 tp judulnya tetep chapter 4 wkwk *yoon tahu kalo kak irish lelah XD
    apakah kak irish akan berhenti sebagai bidan/perawat? dan penulis ff, beralih ke pekerjaan yg lebih menjanjikan, AHLI NUJUM? wkwk

    1. XD buakakakakak iya dia sebenernya niatnya begitu biarin si Liv main-main, ada udang di balik batu XD wkwkwkwk
      EH IYA, DI SANA TYPO, MAAF YA EFEK LELAH, NANTI DIPERBAIKI DEH XD XD WKWKWKWKWK maap maap efek kelelahan XD wkwk anjir malu sekali XD
      eh gilak iya kali kerjaan sama kerjaan sambilan dilupakan buat beralih jadi nujumers? XD

  3. Okeh, ane kejebak twist disini :3 wkwkwk.Mantef kak 😀 😀
    bdw, congrats, Kajima final chap jadi ff of d month *heyaaqqq 😀 😀 duh seneng 😀

  4. Akhirnya keluar juga liv ini… saya udah nunggu lama bgt. Tapi gapapa… karna saya org yg sabar *pede*
    Btw,, aku aga bingung. Sampe aku baca berkali kali biar ngerti. Dan kak irish selalu sukses.buat crita yg kaya gni.an
    Daebakk….. mksd ku.. crita yg rumit tapi asyik dan membuat aku gila..
    Karna tereak2 n guling2 di sofa ga jelas.
    Capek ngomong terus… semangat ae lah kak… do’a adeknya baek sll menyertaimu :* muahh.. *digaplok*

    1. XD buakakakak iyaaa aduh maaf ya kelamaan banget nunggunya XD wkwkwkwkwk
      alhamdulillah kalo bisa ngerti XD aku juga sebenernya sering gagal paham sama isi epep aku sendiri XD wkwkwkwkwk

  5. Sumpah bca ini ff bikin cengo bca ulang” supaya pham 😂gangerti jlan pikiran ka irish bisa bikin ff jenis kya gini ..kece beudss gapernah bca ff jenis ini di tmpt lain ..

  6. Omaygat o.O
    LIV ..
    BAEKHYUN ..
    SEHUN …
    Doa sama” yuk biar kak irish mau bebasin kalian dari kematian 😀 aamiinnn

    next chap penentuan yaaa…
    Fighting kak ^^

  7. Gilaaa mbak ini keren banget serius.
    Eh siapa bilang chap ini bikin-, padahal di chap ini aku malah mudeng. Ternya oh ternyata begitu ceritanya.
    Seriusan ini keten banget bikin aku teriakteriak sendiri sampe di pelirikin di tanyain ama orang rumah “sudah mulai gila”
    Ini kalo di buat film pasti keren banget mbak, apalagi baek ama oh main beneran di sini. Aaaaaah gila beneran akunya.
    Lanjut mbaaaa…
    Kalo bisa setelah epep ini ada epep lagi yang modelnya kek gini mba, castnya si abang baek lagi kalobisa gandeng juga abang ohnya.
    Hehe hwaiting!!!!! Ditunggu selalu nextnya. Buat epep ini aku nda boleh ninggalin satu chap sekalipun, harus langsung baca cuss.

    1. INI ASTRAL, ABSURD, SERIUS. XD XD
      pada dasarnya chapter ini bertujuan ngejelasin semua chapter sebelumnya (termasuk spin-off)
      ini serius sampe teriak? wah ff aku berbahaya berarti ya XD wkwwkwkkww
      yang berbau cyber? aduh aku masih berpikir dua kali buat bikin lagi XD wwkkwkwwkkwkkw

    2. Walaupun astral absurd itu yg bikin keren tau mbaa. Pamtesan di chap ini aku mudeng. Serius, sayangnya nda tek rekam pas aku teriak sih mba, coba kalp tek rekam bakal aku kirim ke mba,hehe. Bahaya tapi buat nagih, keren ngga bisa tidur kalo pas mau tidur inget epep ini, soalnya penasaran banget, bahaya.buat lagi dong mba yang kek gini.. /puppyeyes/

    3. XD buakakakakakak coba rekam terus kirim ke aku, nanti aku jadiin backsound afterword atau aku jadiin testimoni, cem online shop XD wkwwkkwkwkwk iya iya insya Allah tahun depan bikin lagii XD

    4. Wah bahaya kalo gitu, ah nda jadi ngirim ah. Nanti jadi horor malahan, hihihi.
      Taun depan lama amat mba, akunya keburu jadi jemuran jamuran namti. Hiks

  8. keren kak rish, walaupun aku sempet bentrok sama akal and pikiranku. Mereka demo karena bahasa yg sebegitu tinggi.. Haha, baek keren i lop yu bang…
    Kak rish keren, bisa aja nulis kek gini.. aku suka aku suka ..

    1. Bahasanya sebenernya engga begitu tinggi, tapi rencananya yang rumit sih XD wkwkwkwkwwk aku kayaknya engga pernah bikin yang terlalu berbahasa tinggi XD

  9. Bingung mau komen apa baca captr ini dri tadi ni mulut mangap mingkem mulu sambil ber “OH” ria,, badan nyampe panas dingin,, otak muter nyambungin titik” abstrak yg berkesinambungan .
    Plan B nya maknyoss benerrr….. “BAEKHYUN DIEM” MENENGGELAMKAN” good job baek! .

    Pernah baca si d ff mana cuap” yg mana gitu IRISH bilang bisa nujum n sekarang kejadian lagi..??

    1. Awas nyamuk masuk kalo mangap melulu XD wkwkwkwkwkw mingkem hayo mingkem XD wkwkwkwkw
      IYA BENER, SI CABE DIEM-DIEM BIKIN KELELEP YA XD XD

  10. Cool, bnr dah rish ni chapter the best dari semua chapter code name liv. Bikin tegang sumpah. Penasaran endingnya. Siapa yang bakal mati ya? Perfect kyk film action hollywood, keren bgt sih rish ngerangkai crtnya boleh ksh tips gk? Wkwkwk
    Klo boleh jujur ini lbh keren dari ending kajima. Kajima awalnya udh deg2 twnya selesai gitu aja dgn pertarungan yang krg greget. Kalau ini dikirain Sehun udh selamat sentosa aja wkt keluar europol eh twnya… Ini yg dr datar menuju klimaks! Great job! Sehabis writer block malah menggrebak! Fighting rish!
    Gak sabar juga ama LOTTO. Moga gk mengecewakan.

    1. XD buahahahha padahal ini chapter paling astral dan gabisa dimengerti, heran sekali kenapa bilang ini bagus XD wkwkwkwkwkw bukaaaaann, ini engga action tapi melow aja deh mendingan XD
      EH NGAKAK, AKU HARUS BANGGA KARENA LIV BISA MENGALAHKAN KAJIMA XD XD padahal dia cuma pendek aja chapternya XD
      heeh semoga aja setelah WB malah idenya semakin bagus XD

  11. Plan B, made by B 😎 alhmdllh bs lngsng nalar dlm 1x bc. Keren bgt Rish!! 대박! 짱! Awesome! Marvelous! Pkkny dah ky di film2 Hollywood! Cb bwt script’ny & krm ke Production House/Producer/ke kntr SM biar di film’in bnrn sm 백현 & 세훈 😘 mengharumkan nm Indonesia jg. Worry nih 세훈 blm terproteksi 😖 keren jg da 여자 di slh 1 EP, sp kah visual’ny? 백현.. kamu genius sngt! Sk pas 백 bilang ‘indah bukan?!’ 😄 hm.. 세훈 ga kbagian dialog 😢 biarlah, kmrn2 kan udah bnyk, bhkn sempet2ny pamer roman picisan. x ni wkt’ny 백 yg udah lm disimpen sm Irish bwt show off kegeniusan’ny 😎 pnasaran sm reaksi 세훈 dngrn clotehan 백현..

    1. Plan B nya belooom, itu masih Plan A XD nanti kalau gagal baru pake plan B XD wkwkwkwwkk ya Allah kak, ini padahal hasil cari-cari materi IT di gugel oppa XD wkwkwkwkwk mengharumkan nama EXO sebenernya ya kak XD wkwkwkwwkwkk
      bagian ‘indah bukan?’ itu aku nemu akibat ngedengerin OSTnya Final Fantasy tanpa henti XD wkwkwkwkwk

  12. Aku tu paling seneng,,klo akhirnya ga bisa d tebak kaya gini,,tentang rencana B yg hny B yg tau..itu tak bisa d tebak..apappun akhirnya miga B dan O Child selamat jd bisa comeback d album.LOTTO/ ini ko kaya merk,obat tetes mata nya../ sok tau ni.. ya weys d bantu doa aj,,moga semua happy-amin-

    1. XD aku juga seneng kalo pada engga bisa menebak endnya bakal jadi seperti apa XD wkwkwkwkwkwk biarlah mereka tutup usia saat Lotto datang XD

  13. Kak rish, aku rider baru. Aku udah baca ni ff dari chap 1 tapi baru komen di part ini. Maafkan daku, kak. Maaf juga kalo baru komen dan langsung sksd begini.
    Maafkanlah kak.. And maaf lagi kalo aku jadi gak sabar nunggu kelanjutan ceritanya. Semangat ya kak. Salam kenal juga. Btw aku sekarang memutuskan buat jadi pens mu kak. 😉

    1. Halo XD thanks a lot karena udah baca cerita astralku dan thanks juga karena udah baca ngebut dari chapter satu sampe ke sini XD wkwkwkwkw sabar ya sabar XD semoga Liv bisa tetep kejar tayang sampe END XD

  14. Bacanya dini hari biar fokus karna gue dah wanti-wanti ini bakal ada kata finalnya apa kaga wkwkwk beruntungnya belum final:’)

    Bener-bener deh ini ff terkeren, yang paling gue suka lah pokoknya wkwk nguras otak iya, bikin baper juga iya wkwkwk berdoa nih gue biar endingnya gak sad2 amat:(

    Btw, ekhem review monster mv nya udah rish? Wkwkwk gak mengingatkan abs si baek kok gue rish cuman ngingetin comeback album repackage dah deket :v seminggu lagi masa ><

    1. XD buakakakakak engga finalnya hari ini insya Allah, insya Allah loh XD aku engga janji karena pas bales komen ini aja aku masih berkutat dengan buku-buku di perpustakaan kota XD wkwkwk
      review monster kelelep gegara abs btw… bareng aja deh ntar sama Lotto XD wkwkwkwk Lotto ini cem LotteWorld gitu ya XD

  15. Daebak….penasaran ama lanjutannya.tapi,kasian kalo liv mati…
    Ada cara lain gak selain liv mati tpi mrka masih selamat??
    Sullivan aja yg mati dah

  16. Iiih aseli niih part bikin baper bacanyaaa. . . Tapi fix curcol byunabs tuuh yg bikin seruuu ahaha jadi ngeh akhirnya kenapa diciptain para player dan terciptanya Liv. . Jadiiiii yg Monster itu aselinya ya si Liv ahahahah. . Author Daebak!!!!!!!!
    So pasti bezoook saya tunggu updatenya ya say ^^

  17. enggak kok, aku gak termakan picisannya o’child sama liv… aku mah slalu penasaran sama rencananya B.
    dan woooooooooohhhhhhhhhhhhhhoooooooooooo, ini bagian apling asyik dimana semua delusi, abstrak, panik dihubung-hubungkan. makin abstrak makin kece dah ( aneh ya diriku yang sukanya abstrak-abstrak)

    1. Alhamdulillah kalo engga terpengaruh sama roman picisan ala Liv-Hun ini XD wkwkwwkk B emang gabisa ditebak (ya gimana mau ditebak orang jarang nampang) XD wkwkwkwwkk woho nya panjang sekalehh XD wkwwkkwkwkwkw

  18. aku udh ngeh..baekhyun banyak omong cuma buat kode”an sma liv… kok ya sulivan mau” aja dengerin curhatan baekhyun..hahahaha..
    sehun udh babak belur???? gimana nasib hati sayaaaa…..

    jadi kalo liv mati…semua ikut mati gtu???? kata”nya itu lho…ihhh..irish emang kalo menciptakan kata” tuh suka enak gtu..rasanya tuh passs gk keasinan gk kemanisan, gurih pokoknya..*kok jadi gini yaa*

    okee tomorrow lho yaa?! awas klo gk tomorrow…
    yg ini kejar tayang,,epep lain cuti yaa??? kkkk~~~

    XOXO
    chuuu~~

    1. XD alhamdulillah kalo beneran ngeh XD aku kuatir pada close tab karena epepnya gabisa dipahami XD wkwkwkwkwk herannya ya gitu, karena Baekhyun gapernah bercuap-cuap jadi rela gitu satu chapter berisi cuap-cuap si Baekhyun featuring aku XD wkwkwkwkwwk
      Iyep, kalo Liv mati pada dasarnya semua orang mati XD kecuali Baekhyun tentu aja XD wkwkwkwkw kata-kata aku padahal begitu astral ya?

  19. Satu kata buat kamu rish ” KEREN ” udah gak tau kata apalagi yang jelas IMAJINASI KAMU KEREN BANGET SAMPE BUAT AQ PUSING DI DUNIANYA SI LIV BAEKHYUN SAMA SEHUN ( ups capslock jebol )

    GANBATTE IRISEU

    1. XD satu kata buat aku: ASTRAL. kayaknya astral lebih tepat deh XD wkwkwkwkwwk ini imajinasi emang sering nakal berkeliaran minta di luapin macem ini XD wkwkwkwkwk

  20. “Kembali, fanfiksi ini hanya fiksi yang sebenarnya tak nyata” ya irish eonni aku juga tau fiksi ga nyata wkwkwk ngakak baca ini /dijambak sama irish/

    Kembali ke fanfic /ngikutin irish wkwk/ ga nyangka baekhyun bisa punya rencana kek gitu pas baca cuma wow gila ga kepikiran

    Dan aku juga ga sadar kalo ga ada pov baekhyun wkwk
    Ditunggu lanjutannya eonni

    Hwaiting ^^

    1. Iya XD aku ingetin gitu kali aja ada yang mikir khilaf kalo Liv beneran ada gitu XD ane mah takut kalo Liv beneran ada XD wkwk kalo dia sebarin epep ane ke internet begimana? XD kalo dia sama aku rebutan bias gimana? XD wkwkwkw /kemudian kepikiran comedy story versi Liv/ XD
      dan emang sebenernya dari awal engga ada pov nya si Baek, sengaja aku sediain di sini XD

  21. Speechless… Uwoooo….
    Ini bagus bgt kak….
    Tenang aja Zii paham kok bacanya,cm perlu semedi di gua hantu,ngulang mpe 3x dan di akhiri dg makan sepirinv porsi besar…
    Lanjut kaaaaaaak

  22. Sumpah rasanya kek gila ketawa sendiri
    Aku baru sadar kalo yg kemarin aku baca chap 5 wkwk,,

    Trus pas aku cek lagi ga taunya udah diupdate,, sumpah kaya kaget gitu irish posting ff berturut turut ..

    Aku scroll kebawah mikir kok ga ada komenan aku pas dicek bego banget sumpah ini baru di update tarii wkwkwk 😁😁

    Btw aku belum baca udah bawel aku baca dulu ya irish

    1. Buakakka emangnya kamu salah fokus berpikir ini chapter lima yak? XD aku tadi juga sempet ada typo kok XD untung aja aku sadar kalo typo XD wkwkwkwkwk dibilangin ini epep lagi kejar tayang kok XD jadi kudu bener-bener balapan postingnya sama waktu XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s