[Oneshoot] First Snow | by L.Kyo

23-first-snow

Title: First Snow | Author: L.Kyo♪ [ @ireneagatha ] | Artwoker: Hra@PosterChannel | Cast: Shin Gaeun (OC/YOU), Park Chanyeol (EXO), Kim Minseok (EXO) | Genre: Sad, Romance | Rating: PG-15 | Lenght: Oneshoot | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

[ http://agathairene.wordpress.com/ ]

_____

H A P P Y R E A D I N G


.
.

 

First Snow. Anugerah indah saat pertama kali salju turun. Menurut mitos masyarakat, pasangan kekasih akan bahagia saat menikmati hujan turun salju untuk pertama kalinya. Putih, bersih dan suci. Itu diharapkan suatu hubungan kelak saat akan mencapai jenjang pernikahan. Para tetua mengatakan akan sangat bagus jika salju pertama untuk pergi berjalan-jalan.

Lalu bagaimana dengan Shin Gaeun? Gadis berumur 21 tahun itu hanya menatap butiran salju dijendela apartemennya. Gemerlap pepohonan yang terhias lampu cantik dan banyaknya lalu lalang dijalanan sekedar menikmati indahnya lembut salju tak membuat Gaeun tersentuh untuk melakukannya juga. Ia kemudian menatap wallpaper ponselnya.

Sebuah visual indah tercipta karena seseorang. Seseorang itu memotretnya diam-diam. Pakaian seragam, kuncir asal, jaket tebal, muka kesal yang terpampang jelas dilayar. Ya, itu dirinya. Shin Gaeun. Seseorang itu yang memotretnya diam-diam dan mengirimkannya saat ia hendak menaiki bis, tepat salju pertama turun.

 

Desember, 2011.

Hentakkan kaki kasar dari sang empunya itu tak membuat bis yang sedari ia tunggu tiba. Sudah malam. Ia sangat kelaparan karena belum makan malam. Ia lelah karena otaknya sudah penuh dengan materi pelajaran yang ia terima karena persiapan ujian universitas.

Ia mengeratkan jaketnya, menempelkan ke tubuh mungilnya. Rambut yang ia kuncir asal dan sebuah pensil sebagai pengait rambutnya menjadi hal menarik yang dilihat seorang pria yang duduk di Halte Bis. Manik matanya tak luput menatap bahasa tubuh gadis itu yang sudah emosi menunggu bis datang.

CEKRIK! Flash yang muncul secara tiba-tiba membuat Gaeun menolehkan kepalanya. Ia mendapatkan seorang pria menatap ke arah lain dengan bersiul. Sadar akan kecurigaannya, pria itu menatap Gaeun ragu. Lalu ia tersenyum dan menepuk sampingnya. “Kau ingin duduk?”

Gaeun terdiam, menatap tiap lekukan indah pria didepannya. Tampan. Sweater hitam, jaket dan topi membuat pria itu terkesan misterius namun kesan itu hilang saat senyuman lebar dilemparkan padanya. Gaeun melangkahkan kakinya ragu lalu duduk disampingnya. Kemudian kembali menatap jalan yang sudah sepi, berharap bis segera tiba.

“Kau pelajar SMA?” Pria itu kembali bertanya. Gaeun menggangguk lalu kembali menatap jalan. “Aku mahasiswa di Universitas Seoul semester 2. Aku juga ingin pulang ke Rumah dan makan malam”. Senyuman lebar nan khas itu membuat Gaeun kembali terkesima. Manik mata Gaeun mencoba menatap mata indah pria itu. Keraguan yang awalnya menyelimuti pikirannya kini hilang. Ia mencoba berbincang-bincang.

“Aku juga akan mendaftar disana”. Akhirnya Gaeun memberikan feedback. Pria itu membelalakkan matanya kemudian tersenyum. “Benarkah? Wah, kau akan menjadi juniorku? Itu bagus!” Keduanya tersenyum lalu kembali menatap jalan. “Boleh aku meminjam ponselmu? Sebentar! Ponselku baru saja error”. Pria itu menengadahkan tangannya.

Gaeun mengangguk lalu memberikannya. Entah apa yang sedang pria itu lakukan pada ponselnya, Gaeun masih tetap memperhatikan jalanan. Ketika cahaya lampu disana tampak, Gaeun beranjak sehingga pria itu mendongak kaget. “Bis sudah datang!” Tahu akan maksud Gaeun, pria itu mengembalikannya lalu tersenyum. Setelah bis sudah berada didepan mereka, Gaeun bergegas naik namun terhenti menatap pria itu yang masih terduduk.

“Em, kau tidak naik?” Kerutan heran Gaeun disambut senyuman hangat pria itu. Sebuah senyuman yang membuat Gaeun candu. “Tidak! Aku berbeda arah. Sampai jumpa lagi!” Pria itu melambaikan tangannya seiring pintu bis tertutup. Setelah pintu benar-benar tertutup, pria itu menunjukkan ponselnya lalu mengarah ke Gaeun. Tentu saja Gaeun bertanya-tanya.
Tahu jika Gaeun tak mengerti, pria itu menunjukkan layar ponsel, meminta Gaeun melihat ponselnya. Setelah bis berjalan Gaeun membuka ponselnya. Dan tentu saja membuat Gaeun mengeryitkan dahi, pasalnya sebuah foto saat ia berdiri kesal menunggu bis. Gadis itu mendongak, menatap pria itu sedang sibuk dengan ponselnya di Halte. Setelah dibelokan jalan, saat pria dengan senyuman hangat hilang dimatanya, Gaeun menghembuskan nafasnya pelan.

Ia mencari duduk samping jendela. Tepat saat itu salju pertama turun. “Oh? Salju turun?” Tangan Gaeun menyentuh jendela bis, seakan ingin menggegam salju. Aktivitasnya terhenti karena ponselnya bergetar. Sebuah pesan LINE yang tidak dikenalnya. Tentu saja Gaeun terkejut, sedetik kemudian sebuah senyuman tampak diwajahnya.

“Hai, aku Park Chanyeol. Pria Halte Bis. Aku mengambil fotomu diam-diam. Apa kau marah?Dan aku juga mencuri nomermu. Bukankah aku orang yang mengerikan? Kkkkk~ Boleh aku tahu siapa namamu?”

 

***

 

Suara air dari teko panas jatuh ke cangkir krem sekedar memecahkan keheningan. Aroma coffe latte favorit Gaeun membuat pikirannya tenang. Ia menyeruput sedikit lalu kembali menuju sofa untuk menonton TV dikamarnya. Minuman hangat tak membuat dirinya melawan dingin. Ia sudah menyetel penghangat namun tetap saja musim dingin dengan salju pertama turun di Seoul tak bisa Gaeun hindar. Ia beranjak lalu membuka lemari besarnya.

Sebuah jaket hitam tebal ia lepas dari pengait dan plastik lalu ia ambil. Sudah lama ia tidak menyentuh jaket itu. Sungguh. Ia hanya menyimpannya dalam lemari seakan tidak ingin orang lain melihat, menyentuh atau memakai selain dirinya. Aroma maskulin masih terasa di jekat itu. “Aroma Chanyeol”. Gaeun tersenyum kemudian berlari kecil menuju TV.

 

Desember, 2012.

“Kau mau menjadi pacarku?” Suara bass dari Park Chanyeol terdengar jelas di indera pendengaran Gaeun. Saat ini adalah salju pertama dan saat ini juga Chanyeol berada disampingnya, sangat dekat, melindunginya dari salju yang semakin lebat dengan jaket tebalnya.

“A.. Apa?” Gaeun menoleh lalu kembali menatap kedepan, tak berani menatap lama Chanyeol dengan sedekat itu. “K.. Kau mau menjadi pacarku?” Suara yang biasa ceria kini terdengar mengerut. Pemilik suara itu mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.

Sadar karena gadis disampingnya tak menjawab, Chanyeol berhenti melindungi Gaeun dari salju lalu menyampirkannya di punggung Gaeun asal. Sungguh, kegugupannya sangat membuat Gaeun terdiam, menatap wajah Chanyeol seakan menjadi candu baginya. Melihat betapa gugup dan cemasnya Park Chanyeol saat mengatakan itu.

Hubungan mereka semakin dekat tatkala Gaeun berhasil masuk di Universitas Seoul, tak sulit lagi bertemu dengan senior tampan dikampusnya. Ia menahan tawanya melihat Chanyeol berjalan tak tentu arah, mencoba menetralkan kegugupannya. Ia lucu, sungguh. “Chanyeol-ah..” Gaeun tak melanjutkan kata-katanya karena Chanyeol sudah menyuruhnya diam.

Gaeun mengedikkan bahu, tak mengerti apa yang dimaksud Chanyeol. “Jangan sekarang! Kau boleh menjawab saat kau ingin mengembalikan jaketku. Aku pulang”. Tentu saja Gaeun kaget melihat Chanyeol yang sudah berlari meninggalkan halaman kampus. “Y… Ya! Kau tidak kedinginan? Kau bisa mengambil jaketmu!”

Pria disana hanya melambaikan tangannya, tak peduli dengan dingin yang menusuk. “Tck. Apa itu? Seharusnya aku yang gugup. Kenapa dia?” Gaeun terkekeh kemudian menatap jaket yang sudah melingkar dipunggungnya. Ia genggam erat lalu menciumnya. “Hmm, bau Park Chanyeol”.

 

***

 

Seraya menonton TV dikamar tak cukup menikmati secangkir coffe saja, Gaeun turun tangga mengambil beberapa cemilan di pantry. Ia tak sendiri. Ada Ibu dan adiknya yang sedang asyik bersenda gurau di ruang utama. “Gaeun-ah, kau tidak keluar? Hari ini salju pertama turun!” Suara sang Ibu memecahkan keasyikan keluarga mereka saat Gaeun turun dari kamarnya dan sibuk mengambil cemilan.

Tangan Gaeun terhenti, menatap sang Ibu dengan wajah kesal. “Buat apa aku keluar?” Gaeun berdesis, menjawab pertanyaan Ibu dengan sedikit ketus. “Unnie sedang kesal dengan Oppa?” Suara hus diujung sana membuat adik Gaeun, Shin Yui mengatupkan bibirnya rapat.

“Ya! Kau! Tahu apa kau? Lebih baik kau belajar, kau selalu saja ikut urusan orang dewasa. Dia pacarku bukan pacarmu”. Nada tinggi Gaeun tak membuat Yui berhenti menggoda. “Ash, mungkin menyenangkan jika salju pertama turun bisa melakukan ciuman seperti ini! Chu! Chu! Chu!” Kedua tangan Yui saling mengatup, mempertemukan keduanya seakan berciuman.

BUK! Lemparan snack mendarat sempurna dikepala Yui, sebelum Yui mengutarakan kekesalannya, Kakaknya sudah naik dan kembali menutup pintu kamarnya kasar. BRAK!! Dan ya benar! Suara gebrakan yang dasyat. “Tck, ada apa dengannya Bu? Dia sedang halangan? Apa dia sedang bertengkar dengan Oppa? Kenapa marah-marah begitu? Lagipula biasanya Oppa datang ke rumah setiap hari”. Kembali Ibu nya ber hus, menghentikan dugaan anak bungsunya. “Kau ini! Jangan menggoda Kakakmu”.

 

Desember, 2013

 

“Minseok Hyung menyukaimu kan?” Gaeun mendelik, menatap Chanyeol memakan tteobokki hangatnya kesal. Gaeun menurunkan coffe panasnya lalu menatap kekasihnya penuh tanya. “Apa yang kau katakan? Dia adalah senior klubku”. Lalu Chanyeol menoleh pada Gaeun, seakan menerkam bola mata gadisnya.

“Aku tahu”. Kemudian Chanyeol kembali menatap keatas, menatap salju yang turun mengenai wajahnya. “Lalu? Kenapa kau sekesal itu?” Bagi Chanyeol, pertanyaan Gaeun baru saja adalah hal bodoh. Apa ia tidak tahu jika Chanyeol adalah pencemburu berat. Ingat! Pencemburu. “Aku sering melihatnya memperhatikanmu!”

Hampir saja Gaeun memuntahkan minumannya lalu terkekeh. “Ya! Apa yang kau katakan? Seseorang yang tenang sepertinya tidak berhak kau benci. Dia baik Chanyeol-ah. Kumohon jangan mulai lagi!” Gaeun menggeleng. Pasalnya untuk keseribu kalinya Chanyeol cemburu jika ia bersama dengan Minseok.

“Apa aku perlu memberikan sesuatu agar kau tidak mudah berpaling dariku?” Tatapan tajam Chanyeol seakan membekukan mata Gaeun sejenak. Pikiran mesum pun terlintas diotaknya. “A.. Apa yang kau katakan?” Gaeun menyilangkan tangannya, mencoba melindungi tubuhnya. Bodohnya, Chanyeol menatap Gaeun penuh tanya.

“Kau berpikir mesum lagi?” Sentilan lirih berhasil membuat Gaeun tersadar, hanya manyunan kesal tampak dibibirnya. “Aku tidak mesum! Pertanyaanmu ambigu! Kenapa seolah-olah aku yang mesum? Tck!” Bukan Park Chanyeol jika selalu saja membuat Gaeun kesal. “Gaeun-ah!” Panggilan dari sang kekasih benar-benar tak dihiraukan Gaeun, ia justru asyik mengulum minumannya. “Ya! Lihat aku!”

Lagi. Shin Gaeun benar-benar murka padanya. “Hari ini salju pertama turun, aku kedinginan. Aku butuh pelukanmu!” Permintaan Chanyeol dengan selingan aegyo benar-benar tak membuat Gaeun memandangnya. Gadis itu benar-benar marah. Sekilat Chanyeol menyentuh pundak Gaeun lalu memutarnya paksa, menampakkan sepasang bola mata yang menatapnya penuh tanya.

“Kenapa?” Nada tinggi Gaeun tak membuat Chanyeol bergedip untuk menatap hazel coklat indah gadisnya. Kecupan singkat mendarat bebas dibibir Gaeun, sudah dipastikan sistem peredaran darahnya mengalir cepat, merasakan sensasi aneh untuk pertama kalinya. Dan ya, itu adalah ciuman pertama dalan hidupnya. Bersama Park Chanyeol, kekasihnya. “Apakah ini cukup tak membuatmu tak berpaling dariku? Shin Gaeun?”

 

***

 

“Apa asyiknya berjalan-jalan ketika salju pertama turun?” Gaeun melempar tubuhnya kekasur setelah membanting pintu kamarnya kasar. Sungguh, ia jengah. Pasalnya ia tidak tahu akan menikmati acara salju pertama tahun ini atau tidak. Kekasihnya sama sekali tidak menghubungi sejak pagi tadi. Sudah dipastikan tidak ada acara kencan malam ini.

“Tck, ia benar-benar. Ia benar-benar tidak peduli padaku? Lalu apa maksudnya ia tidak menghubungiku sama sekali?” Gadis itu mengomel, mengomel pada ponselnya yang sedari tadi senyap. Ia kembali menekan ponselnya dan menganyunkan keatas, berharap jika ada masalah sinyal sehingga pesan ataupun telepon tak masuk diponselnya, ia berharap begitu.

“Menyebalkan! Aku membencimu!” Bukan hal baru lagi jika Gaeun bertengkar dengan kekasihnya. Lebih dari sering ia selalu mengeluh dengan hubungannya. Pria yang kini menjadi kekasihnya yang sudah lulus Universitas, yang sudah tak ada waktu kencan lebih banyak saat menjadi mahasiswa. Tak ada lagi bantuan tugas kuliah, tak ada lagi pertemuan singkat di perpustakan kampus. Ia sendiri. Sungguh. Gaeun pun mengerjakan tugas skripsinya sendiri.

Ia rindu akan nikmatnya bergandengan tangan menelusuri koridor kampus. Sejujurnya, hubungan mereka sering mengalami putus sambung. Tapi jika bukan sifat penyabar dan pengertian dari pria itu, tak akan mudah bagi Gaeun untuk luluh dan menjalin hubungan kembali. Gaeun berguling, hingga tubuhnya menatap nakas meja kremnya. Ia memandang pigura lipatnya, menampakkan 2 visual tampan dimasing kanan kirinya. Gadis itu mendengus, memeluk selimutnya erat kemudian menutup matanya sejenak.

 

Desember, 2014.

“Ayo kita putus Shin Gaeun!” Permintaan tak terduga dari Park Chanyeol membuat Gaeun terbelalak. Sungguh, ia tidak mengerti dengan maksud dari semua itu. “Apa? Apa yang kau katakan Chanyeol-ah? Apa kau ada masalah akhir-akhir ini?” Gaeun mendekat, bersiap menyentuh pipi kekasihnya, namun pria itu justru memundurkan langkah, enggan tangan dingin Gaeun menyentuh pipinya.

Tatapan tajam dari Chanyeol membuat Gaeun takut. Mata yang memerah, rahangnya yang mengeras. Sungguh, ini bukan Park Chanyeol yang sesungguhnya. Gaeun mencoba tenang dan menghela nafasnya mengatur suasana tegang ini. “Katakan padaku! Sungguh, aku tidak mengerti! Apa aku berbuat salah? Jika iya, aku akan memperbaiki semuanya! Jangan kekanakan seperti ini!” Gaeun mencoba tak menaikkan nadanya.

Dengusan kasar dari Chanyeol seakan membuat Gaeun mengerti, bahwa pria itu sedang dalam masalah besar. Chanyeol berjalan tak tentu arah, mengacak rambutnya asal kemudian berjalan cepat menghampiri Gaeun. Menggegam erat bahu Gaeun seakan tak ingin gadis itu pergi dari hidupnya. “Sungguh, aku tidak ingin meninggalkanmu. Gaeun-ah! Apa yang harus aku lakukan? APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?” Teriakan frustasi Chanyeol sontak membuat Gaeun terkaget-kegat. Ia tidak pernah melihat Chanyeol sebingung ini.

“Tenang Chanyeol-ah. Alasan apa kau meninggalkanku? Apa karena..?” Gaeun menggantungkan kata-katanya, teringat percakapan orangtua Chanyeol saat Gaeun pertama kali datang ke rumah megah keluarga Park. Demi Tuhan, Gaeun tidak ingin menyebutkan itu. Ia terlalu sakit hati untuk sekedar mengingatnya. Gaeun tertunduk, melepas genggaman erat Chanyeol pada bahunya. “Apa karena itu? Perjodohan itu?”

Perjodohan. Benar, beberapa hari lalu Gaeun pergi kerumah Chanyeol, sekedar mengenalkan Gaeun pada orangtuanya. Bagi Gaeun, ia memang tak percaya diri. Melihat gaun sederhananya saja serasa tak pantas masuk dirumah megah keluarga Park, namun Chanyeol memberikan energi keberanian dan kepercayaan padanya untuk kerumah. Pada pandangan pertama memang baik, namun sistem pendengaran Gaeun tak tuli. Setelah mereka akan berpamitan pulang, ia mendengar kedua orangtua Chanyeol dan membisikkan pada Chanyeol sesuatu yang membuatnya sakit hati.

“Sebaiknya kau tetap menikah dengan putri teman Ayah. Maafkan Ayah, tapi gadis itu hanya keluarga biasa Chanyeol-ah. Ia tidak bisa menyelamatkan keluarga kita. Maaf jika Ayah sudah membuatmu marah pada kami, kau masih muda. Kau akan memahami pilihan Ayah setelah kau dewasa”. Deretan kalimat itu sukses membuat Gaeun tak menoleh sedikit pun, seakan tak peduli dan berusaha tak mendengar apapun. Walaupun sebenarnya ia bisa melihat raut kemarahan Chanyeol saat itu yang berusaha ia sembunyikan. Sungguh, ia ingin menangis. Tapi bagi Gaeun, itu bukan haknya. Orangtua Chanyeol pasti tahu mana yang baik untuk putra tunggalnya. Ia tak boleh seegois itu.

“Aku bisa memberontak dan membatalkannya. Kalau perlu ayo kita menikah. Tak perlu restu dari mereka. Bagaimana?” Gila! Itu yang terlintas dari pikiran Gaeun. Raut kebingungan Chanyeol seakan tak ingin Gaeun lihat lagi. Pria itu menderita, menderita karena cinta besar padanya. Gaeun memundurkan langkah dan menatap mata Chanyeol hati-hati. “Chanyeol-ah, mari kita putus!”

Pria itu terdiam. Menatap sosok Gaeun tak mengerti. Namun gadis itu berbalik, meninggalkan Chanyeol yang masih mematung. “Gaeun-ah, jika aku bisa lepas dari ini, bisakah kau kembali kepelukanku?” Teriakan permohonan Chanyeol sungguh membuat Gaeun teriris. Jika ia bisa, jika ia berani, jika ia bisa seegois Chanyeol. Ia akan melakukannya. Melarikan diri dan menikah tanpa restu siapapun. Ia tidak bisa berpikir segila itu jika masalah ekonomi dan kesehatan Ayah Chanyeol adalah hal yang paling penting. Ia tidak bisa melakukannya jika ia sama saja membunuh pelan-pelan keluarga Park.

Hening. Langkah lebar Gaeun benar-benar tak membuat permohonan Chanyeol ia kabulkan. Ia pergi tanpa ada Chanyeol disampingnya. Malam semakin dingin, butiran salju pertama turun saat Gaeun duduk menunggu bis di Halte. Butiran bening tampak dipelupuknya. 3 tahun menjalin hubungan seakan sia-sia baginya. Ia tak bisa bersatu. Ia berharap bahwa ini hanya mimpi. Namun ini nyata. Jika memang takdir mengatakan seperti itu, apa mau dikata. Jika Chanyeol bisa kembali kepelukannya, ia akan bahagia. Tapi ia tak yakin akan hal itu. Apakah ia akan benar-benar mengubur masa depannya bersama Chanyeol. Mungkin itu sulit.

“Shin Gaeun?” Suara lembut yang tiba-tiba muncul membuat Gaeun tersentak. Seseorang dengan tshirt merah dan jaket tebalnya sedang berhenti didepannya. Sepeda putih yang pria itu naiki ia biarkan tergeletak disana. “Apa yang kau lakukan disini? Menunggu bis?” Suara ramah yang terlontar dari pria itu membuat Gaeun tenang. “Minseok sunbae? Ah iya, aku sedang menunggu bis”. Gaeun tersenyum, seakan menutupi rasa sedihnya. Pria itu terdiam, seakan sedang menelusuri tiap lekuk indah milik Gaeun, dewinya, cahayanya. Pria itu menyukainya walaupun gadis itu sudah mempunyai kekasih.

“Aku akan mengantarmu. Kebetulan aku akan lewat rumahmu! Ayo! Salju turun, udara semakin dingin. Kau bisa kedinginan” Minseok menarik lengan Gaeun, gadis itu menurut tanpa protes sekalipun. Ia terlalu lelah untuk mengatakan banyak. “Terimakasih”.

 

***

 

“Gaeun Unnie, Oppa datang kerumah!” Teriakan Yui seakan menghancurkan kegalauan Gaeun beberapa menit yang lalu. Deretan kata ‘TAK ADA KENCAN’ pada salju pertama seakan runtuh saat itu juga. Gaeun menatap pigura lipatnya. Memandang dengan bibir manyun, seakan sebal dengan sosol visual di pigura sisi kanan. “Kau berani mengerjaiku?”

Tanpa banyak mengulur waktu, Gaeun menyibak selimutnya. Tak peduli dengan baju rumah, make up dan rambutnya. Itu terlalu lama. Ia rindu, rindu yang sangat. Gaeun menuruni tangga, melewati Yui yang hampir memanggilnya di Kamar. “Tck, beginikah rasa terimakasihmu? Apa ia lupa baru saja memarahiku karena Oppa? Setelah Oppa datang, kau bersikap begitu. Membuatku ngeri!” Ejekan Yui seakan manjadi angin lalu bagi Gaeun.

Gaeun berlari kecil, menyambut sang pangerannya. Walaupun hampir bertemu setiap hari, sudah menjadi candu bagi Gaeun. Sesosok pria terlihat punggung gagahnya membuat Gaeun ingin memeluknya diam-diam. Namun ia tidak ingin melakukan itu. Ia ingin balas dendam karena pria itu sudah membuat marah-marah besar kali ini. “Ya! Kau!!!!” Lompatan kecil Gaeun membuat pria itu tersentak, seakan tak siap dengan beban berat Gaeun yang sudah bertengger manis dipunggungnya.

Tawa lirih keluar dari mulut Gaeun, ia semakin memeluknya erat. Tak ingin melepaskan aroma maskulin yang sangat ia sukai. “Maafkan aku! Aku sengaja melakukan itu untuk memberikanmu kejutan. Kau ingin kencan bukan?” Gadis itu mengangguk mantap, pria itu tahu saat surai rambut Gaeun naik turun mengenai lehernya. “Baiklah. Berdandanlah yang cantik. Aku akan menunggu disini”.

Akhirnya Gaeun turun dan seakan tak ingin melepas pria itu sedetik pun. “Baiklah, aku akan berdandan. Kau akan menyesal jika berkedip sekalipun”. Gaeun berbalik, meninggalkan kesan senyuman lembut dari pria itu. “Ahh, Gaeun-ah!” Panggilan pria itu membuat Gaeun terhenti. “Apa?” Tampak kerutan alis Gaeun terangkat.

“Hmm, kau benar-benar tak ingin datang ke pernikahan Chanyeol?” Pertanyaan yang terlontar dari mulut pria itu seakan menjadi trauma bagi Gaeun. Gadis itu tersenyum lalu menggelengkan kepala. “Tidak Minseok-ah. Aku ingin menikmati salju pertama denganmu. Aku harus berdandan. Bagaimana jika aku memakai baju merah? Itu terlihat bagus”. Setelah mengatakan itu, Gaeun berbalik dan hilang dari pandangan Minseok.

Pria itu terdiam lalu tersenyum gentir. Kemudian ia duduk disalah satu sofa, meraba kotak cincin yang berada disaku. Ia tahu bahwa Gaeun sulit melupakan Chanyeol, khususnya pada moment salju pertama seperti ini. Tapi pria itu yakin bahwa Gaeun akan melupakan pria itu tak lama lagi. Menghapus rasa sakit dan menggantikannya dengan hal kebahagiaan dari dirinya. Ia bisa. Ia sudah mencintai Gaeun lebih dari Gaeun mencintainya. Mungkin bagi Gaeun salju pertama merupakan hal pahit, namun bagi Minseok ia akan menghapus rasa sakit itu. “Tunggu sedikit lagi, aku akan melamarmu setelah ini! Tunggu sebentar lagi Gaeun. Tunggu sebentar lagi!”

 

-FIN-

 

FF lama. Biar! Daripada L.Kyo lama ga post yekan? Wkwkwk.

10 tanggapan untuk “[Oneshoot] First Snow | by L.Kyo”

  1. Kerreeeeennnnnn…..
    Kirain tuh doi yang ditunggu tunggu tapi lama datengnya si chanyeol. Taunya uminnn…
    Tapi gapapa yaaa uminnya mau nerima gaeun walau dia masih susah move on ,chanyeolnnya juga ahirnya nurut sama ortunya, dan gaeun gamau egois sama dirinya dan mendapatkan pengganti umin deh..
    Btw ini ff bagus thor… kirain tuh beneran si cy taunya malah baozi.. padahal aku udah baper tuh sama momment gaeyeol..
    😆😆😆😆😆

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s