[EXOFFI FREELANCE] MY Cinderella (Chapter 8)

mycinderella(1)

My Cinderella Chapter 8

Sound of Heart┘

A fanfiction Written by HyeKim ©2016

 

Starring With :Hyerim (OC) as Oh Hyerim || Luhan as Xi Luhan || Victoria f(x) as Victoria Song  || Changmin TVXQ as Shim Changmin || Yuri SNSD as Kwon Yuri || L INFINITE as Kim Myungsoo╕

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship || Rating : PG-15 || Lenght : Multi Chapter╕

Summary :

Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer:

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.

“Percuma bila aku menanggapi perasaanmu sekarang jikalau hatimu sudah menjadi miliknya.”

PREVIOUS : 

Teaser || Chapter 1 The Rich Girl] ||  Chapter 2 [Be Her (boy)friend] || Chapter 3 [I’ll Protect you || Chapter 4 [What’s Wrong With Her?]  || Chapter 5 [Perfect Guy For Her] ||Chapter 6 [Love and Friendship] || Chapter 7 [Behind Story of Cinderella] || (NOW) Chapter 8 [Sound of Heart]

HAPPY READING

║♫║♪║♫║♪║

 

 

Sudah selang beberapa hari berlalu atas insiden di hutan. Seungah serta kawannya yang lain menerima detensi untuk membereskan perpustakaan selama satu bulan penuh setelah jam sekolah usai. Sebab akibatnya adalah menyelakai Hyerim dengan membohongi gadis itu. Sekon kini, tergambar Kim Myungsoo yang sedang duduk di bawah sinar mentari di atap sekolah. Kepalanya mendongak menatap Sang Surya.

“Kamu yakin akan menyerah seperti ini?” suara lembut nan anggun menyentil kedua telinga Myungsoo. Victoria juga tengah duduk di sebelahnya sambil menatap langit yang terhampar luas.

Gas karbondioksida tampak keluar dari mulut Myungsoo, “Sebenarnya aku tak ingin menyerah seperti ini, Vic. Tapi lihatlah, mereka berdua makin lama makin dekat.”

Tampak raut kekecewaan tercetak jelas pada wajah tampan Myungsoo. Mereka yang dimaksud olehnya yang tak lain dan tak bukan adalah Hyerim serta Luhan. Victoria tahu sepupunya ini sedang berada diambang sakit hati dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan selama 3 tahun lebih.

“Kukira kamu ini bukan lelaki yang mudah menyerah.” Victoria melayangkan nada candaan serta tinjuan ringan─yang mana tak terasa sakit sama sekali, dilengan kanan Myungsoo.

“Aku memang tak akan menyerah,” kata Myungsoo sambil mengalihkan pandangan ke Victoria yang menatapnya bingung, senyum mengembang diparas tampan Myungsoo. “Hyerim saja bisa melupakan Changmin. Kenapa dengan melupakan Luhan tidak?” ujarnya kemudian berdiri dari acara duduknya masih dengan senyum yang mengembang lebar.

“Aku tak menyerah, Vic. Tak akan.”

Kemudian Myungsoo menghilang di balik pintu atap sekolah menyisakan Victoria yang menganga menatap kepergiannya. Kemudian gadis itu menggeleng tak habis pikir. Ya, Myungsoo memang tak mungkin menyerah sekalipun cintanya bertepuk sebelah tangan.

║♫║♪║♫║♪║

“Kenapa harus di rumahku sih?” seruan keluar dari bibir Luhan disertai tatapan tak terima pada kawanannya yang lain. Yang mana mereka semua sedang berada di mobil Jonghyun dengan lelaki itu yang menyetir.

“Karena voting terbanyak di rumahmu!” seruan semangat Joohyun dari kursi sebelah Jonghyun terdengar.

Luhan menghela napas sambil melirik Hyerim yang duduk di sebelahnya, keduanya sama-sama duduk di jok belakang. Namun gadis Oh itu malah tersenyum pertanda setuju mengadakan belajar bersama di rumah Luhan. Akhirnya Luhan menyerah walau terselip perasaan was-was, mengingat ibunya tak mungkin diandalkan meskipun Luhan sudah menelepon dan menekankan akan ada temannya yang datang.

“Berhenti saja di sini, kita jalan ke dalam gang itu. Aku takut bila mobilmu akan tergores, Jong, bila memaksa masuk ke dalam gang.” Luhan pun buka suara.

Akhirnya pedal rem ditarik, disusul keempatnya keluar dari mobil. Terik matahari yang memasuki musim panas menyapa kulit keempatnya. Joohyun sampai-sampai mengeluh betapa panasnya hari ini. Luhan menghembuskan napas, ketimbang panas dirinya malah khawatir akan ibunya yang pasti kepanikan menyulap rumah mereka serapi mungkin.

“Apa jarak rumahmu jauh, Han?” tanya Jonghyun tak tega melihat Joohyun yang mungkin bisa kepanasan berkelanjutan bila jalan terlalu jauh.

“Itu rumahku,” Luhan berkata sambil menunjuk suatu objek yang tak jauh dari sudut pandang mereka. Semuanya menoleh pada objek yang ditunjuk Luhan. “Ayo!” Luhan mengintrupsi untuk jalan dan tanpa sadar mengamit tangan Hyerim untuk digenggamnya.

Hyerim sudah tersenyum-senyum sendiri melihat teramitnya tangannya dan Luhan. Sementara Jonghyun sedang melebarkan jasnya untuk melindungi tubuhnya serta Joohyun. Keempatnya berjalan seakan berpasang-pasangan.

“Ini rumahmu?” Hyerim bersuara ketika Luhan menghentikan langkah di depan sebuah rumah sederhana.

Luhan mengangguk kemudian mengangkat satu tangannya yang tidak mengenggam tangan Hyerim untuk mengetuk pintu berwarna putih di depannya. Suara ketukan terdengar membuat mereka semua menunggu akan respon dari dalam. Hanya barang 5 detik berlalu, pintu rumah Luhan menjeblak terbuka dengan kepala Yohyun─ibu Luhan, menyembul keluar dengan senyum yang entah mengapa kelihatan seperti senyum kecentilan.

Annyeong!” sapaan Yohyun terdengar sangat lembut layaknya suara yang diimut-imutkan disertai mata mengerjap-ngerjap centil.

Hal tersebut sukses membuat Luhan membuka mulut lebar, ada apa pula dengan ibunya ini? Dipandanginya teman-temannya satu-satu yang seakan biasa saja kecuali Hyerim yang menautkan alis bingung akan penampilan Ibu Luhan. Tampak wanita paruh baya itu memakai make up kelewat tebal dengan eyes shadow berwarna kuning, lipstick merah menyala, eye liner yang sangat hitam. Kemudian tataan rambut yang bergelombang serta baju dress berwarna kuning dengan hiasan bunga-bunga berwarna oranye.

“Selamat datang di rumah kami. Maaf ya bila berantakan, ihihi,” ujar Yohyun sambil tertawa-tawa sok imut dan melambai-lambaikan tangannya layaknya banci-banci melambai.

“Tak apa Bibi, maaf kami datang dan pasti merepotkan,” ucap Joohyun dengan senyum ramahnya.

“Ah, malah aku senang. Ayo masuk!” kata Yohyun kemudian mengiring tamunya masuk.

Akhirnya keempat remaja itu sudah duduk di sofa ruang tamu. Luhan sangat takjub melihat rumahnya seakan disulap menjadi rapi. Padahal biasanya rumahnya ini sebelas duabelas dengan kapal pecah, atau mungkin lebih bagus kapal pecah. Kemudian Yohyun datang membawa lima gelas jus jeruk yang sekon mendatang ditaruh di atas meja dan dinikmati oleh kelima orang yang duduk di ruang tamu tersebut.

Omoni cantik sekali dibanding terakhir kali kita bertemu,” tiba-tiba suara Hyerim terdengar dan hampir membuat Luhan tersedak jus jeruk yang sedang ditampung dimulutnya.

Mendengar pujian yang diarahkan olehnya, Yohyun tertawa malu-malu sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Tak lupa dengan gerakan tak jelas badannya yang bergoyang-goyang. “Ah kamu ini bisa saja,” kata Yohyun sambil melambaikan tangan kanannya ke arah Hyerim. “Oh ya, kamu ini yang pacarnya Luhan itu kan?” Yohyun mengerjap beberapa kali menatap Hyerim.

Perkataan Yohyun sukses membuat  Luhan benar-benar tersedak sisa jus jeruk dimulutnya. Ditambah tatapan mata membulat Joohyun dan Jonghyun yang terarah untuk Hyerim yang diam sambil tersenyum tipis. Badan gadis Oh itu tampak bergoyang-goyang. Luhan menatap ibunya seakan melayangkan tatapan laser pada wanita yang telah melahirkannya itu.

“Hyerim memang pacarnya Luhan,” Jonghyun berkata karena tak ada respon apapun dari kedua orang bersangkutan─Hyerim dan Luhan. Jonghyun mengatakan hal tersebut dengan nada menggoda serta menatap jahil keduanya yang duduk bersebelahan.

“Ah… ahhhhh… menantuku ini memang cantik sekali!” puji Yohyun dengan mata berbinar dan kedua tangan menutupi mulutnya dengan wajah antusias. Pujiannya sukses membuat pipi Hyerim bersemu merah.

Umma!” Luhan meninggikan nada suaranya karena malu.

Yohyun menatapnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata centil. “Kenapa?” tanya Yohyun sangat halus dan hampir membuat rahang Luhan jatuh. “Kamu tidak percaya diri bersanding dengan Hyerim yang sangat cantik layaknya putri kerajaan? Ah ya, kamu ini memang lebih cocok jadi pelayannya.”

Perkataan Yohyun membuat gelak tawa Joghyun, Hyerim, dan Joohyun lepas tak terkendali. Sementara Luhan menggertakan giginya kesal akan ucapan ibunya. Namun perkataan ibunya seakan menampar Luhan kembali ke realita. Hyerim dan dirinya bagaikan  bumi dan langit. Gadis itu kehilangan ibunya namun masih bisa merasakan kekayaan yang berlimpah. Sementara Luhan kehilangan ayahnya namun kekayaan dan keserba adaan yang dulu ia miliki tertarik habis dan hilang entah berantah. Ditambah seorang Oh Hyerim sudah memiliki calon pangeran yang layak bersanding dengannya.

“Lebih baik kita kerjakan tugas kita sekarang.” ucap Jonghyun yang mulai membuka tas ranselnya untuk mengambil buku pelajaran.

Ketiga temannya setuju. Kemudian Luhan mengusir ibunya dari sana dengan alasan agar mereka semua fokus mengerjakan tugas. Padahal kenyataannya agar ibunya tidak meganggu mereka semua dan mengajak ngobrol ini-itu. Luhan mulai larut akan rumus dan soal matematikanya, hingga sebuah toelan dirasakannya dilengan kanannya membuat dirinya menoleh pada Hyerim.

“Kamu serius sekali,” ucap Hyerim sambil meletakan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di atas meja.

Luhan mengelus sebentar surai panjang Hyerim sambil tersenyum. Mengabaikan perdebatan antara Jonghyun dan Joohyun akan rumus matematika mana yang benar yang dipakai oleh keduanya. Hyerim tampak tersenyum lalu meraih tangan Luhan dan meletakannya dipipi sebelah kanannya.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini. Namun wajahmu sangat tampan bila serius begitu,” ujar Hyerim membuat Luhan terkekeh.

“Kamu baru menyadari aku tampan? Berarti selama ini aku tidak tampan?” Luhan mengangkat alisnya menatap Hyerim yang dengan polosnya mengangguk atas pertanyaan Luhan.

Ya!” seru Luhan sebal dan mengundang tawa pelan Hyerim.

“Ajarkan aku nomor 10, aku tidak mengerti.”

Kemudian gadis itu membawa kepalanya bangun dan menyender pada tubuh Luhan. Keduanya memang sering kali bersentuhan tanpa ada rasa canggung sama sekali. Seperti sekarang, Luhan menjelaskan dengan menggerakan pensilnya di atas buku Hyerim, sementara gadis itu menyenderkan kepalanya dibahu Luhan.

“Jonghyun! Rumusmu salah!” teriak Joohyun geram sambil meremas-remas buku Jonghyun.

“Hey! Rumusmu yang salah!” Jonghyun balas berteriak sambil menyingkirkan tangan Joohyun.

“Ya, tapi─”

Keduanya seakan tak peduli apa yang terjadi di sekitar. Seakan mempunyai dunia sendiri. Luhan kadang bertanya, apakah Hyerim memendam perasaan khusus padanya?

║♫║♪║♫║♪║

Di sebuah tanah yang terhampar luas terbangun sebuah rumah mewah bak istana kerajaan Inggris. Cat berwarna putih dengan bentuk bangunan menyaingi blue house─rumah kepresidenan Korea Selatan. Bisa digambarkan rumah tersebut adalah rumah orang kaya yang singgah di negri gingseng tersebut. Di dalamnya terdapat ketiga remaja yang sedang bermain billiard. Suara riuh di ruangan rumah mewah tersebut sering kali terdengar.

“Myung, kamu tak bosan apa menang terus?” eluh Changmin yang kalah terus-terusan sambil mencengkam keras stick billiard miliknya.

Myungsoo yang sedang meniup-niupi stick billiardnya layaknya pistol yang dipakai tentara berperang, menoleh dan tertawa. Sementara Victoria sedang asyik meminum koktailnya tersenyum geli melihat wajah memelas kekasihnya.

“Aku memang hebat dalam segala hal.” Myungsoo menyombongkan diri dengan membusungkan dadanya membuat Changmin mencibir melihatnya.

“Myung, apa benar kamu akan menginap di sini malam ini?” Victoria mengajukan pertanyaan sambil tangannya yang tidak memegang gelas bertumpu pada ujung meja billiard.

Myungsoo tampak mengangguk, “Aku bosan di rumahmu, Vic. Apa salahnya menginap di sini?” ujar Myungsoo membuat Victoria mengangguk-angguk dan kembali meneguk koktailnya.

“Kenapa kamu tidak menginap di sini juga? Kita bisa berbagi kamar.” usul Changmin sambil mengerlingkan matanya jahil dan hal tersebut berdampak akan pukulan yang Victoria hadiahi dilengan kanannya.

Byuntae (mesum),” ujar Victoria sambil menatap Changmin sinis, namun pria itu malah menampilkan cengiran tanpa dosa.

Gelengan hanya perwakilan badan Myungsoo akan tingkah pasangan di hadapannya. Lelaki itu meraih ponsel dan mencari id kontak Hyerim. Sambil tersenyum dirinya mengetikan sesuatu di layar ponselnya pada gadis manis itu.

║♫║♪║♫║♪║

Hembusan napas sebal keluar kembali dari mulut Hyerim. Ditangannya terdapat ponsel silver miliknya yang menampilkan sederet tulisan hanggul dari id kontak Myungsoo. Lelaki itu mengatakan akan menginap di rumahnya malam ini dan sedang menunggu kepulangannya. Demi langit berserta isinya, Hyerim tak akan sudi seatap dengan Myungsoo barang sesekon pun, apalagi semalaman. Tak bisa Hyerim bayangkan aksi apa yang akan Myungsoo lakukan untuk terus mendekatinya.

“Hyerim-ah, makan malamnya sudah siap.” suara Joohyun terdengar dari arah meja makan.

“Tunggu sebentar. Makan saja duluan,” sahut Hyerim agak keras agar telinga Joohyun menangkap suaranya.

Hyerim menghembuskan napas entah untuk keberapa kalinya. Kemudian tangannya bergerak lincah di layar sentuh ponselnya. Sekon yang mendatang benda betitel ponsel tersebut sudah diletakkan Hyerim ditelinganya begitupula terdengar nada sambung dari sana. Hingga nada tersebut terhenti dengan sebuah jawaban dari penerima telepon.

“Hallo? Injung? Ya, ini aku Nona Mudamu. Begini, tolong kemas beberapa bajuku dan juga seragamku untuk besok. Jangan mengelak atau kau bisa kupecat sekarang. Jangan ketahuan siapapun, aku ingin menginap di rumah temanku, apa salah? Ya, setelah mengemas beberapa bajuku berikan pada Donghwa dan suruh dia mengantarkannya ke rumah temanku yang akan ku SMS padamu alamatnya. Terimakasih Injung-ah.”

Setelah berhasil menyuruh pelayan rumah serta supir keluarganya. Hyerim merasa lega. Setidaknya dirinya bisa menghindar dari Myungsoo dengan menginap di rumah Luhan. Sekarang tinggal dirinya untuk meminta izin bersinggah sementara di rumah sederhana ini. Saat Hyerim baru bangun dari duduknya dan meregangkan ototnya, munculah Luhan yang tersenyum tipis melihat tingkah Hyerim yang memutar badan ke kanan dan ke kiri layaknya olahraga kecil.

“Hyerim, ayo cepat makan sebelum ibuku yang mengeretmu ke ruang makan,” ucap Luhan membuat Hyerim tersentak dan menghentikan gerakan pada kepalanya yang terasa pegal.

“Ah ya,” respon Hyerim masih sedikit terkejut akan kehadiran Luhan. “Lu…” Hyerim memanggil tepat saat lelaki itu berbalik dan akhirnya menghadap padanya kembali.

“Ya?”

“Bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini?” Hyerim menatap Luhan penuh harap, sementara lelaki itu menampilkan ekspresi terkejut dan bodohnya.

“Menginap? Kenapa?” Luhan menatap Hyerim sedikit menyelidik. Gadis itu langsung merajuk dan menarik-narik tangan Luhan sambil cemberut.

“Aku tak mau pulang, Si Sipit menginap di rumahku.” Hyerim merengek sambil menggoyang-goyangkan tangan Luhan yang mendesah bingung.

“Luhan, Hyerim. Ayo ke mari! Makanannya bisa dingin!” suara Yohyun─Ibu Luhan, terdengar membuat keduanya berjalan ke ruang makan.

Tapi tanpa jawaban apapun dari Luhan, Hyerim tahu lelaki itu pasti menuruti keinginannya. Karena tahu sekali sifat Hyerim yang sangat kepala batu. Akhirnya mereka semua menikmati hidangan makan malam dengan tenang ditambah kedatangan Yoonra, adik perempuan Luhan.

║♫║♪║♫║♪║

Malam makin larut. Setelah makan malam serta membantu Ibu Luhan membereskan meja makan dan mencuci piring. Jonghyun dan Joohyun memutuskan pulang, keduanya pulang minus dengan Hyerim yang merengek tak mau pulang. Hal itu dimantapkan oleh kedatangan Donghwa, supir yang Hyerim suruh untuk mengantar perlengkapannya ke rumah Luhan. Dan sekarang Joohyun hanya mendesah frustasi akan tingkah Hyerim, dirinya hanya takut orang rumah Hyerim khawatir akan gadis tersebut.

“Hye, bagaimana bila Changmin dan Victoria sunbae khawatir?” ucap Joohyun yang masih tetap membujuk Hyerim untuk pulang.

“Mereka akan meneleponku bila khawatir, lalu aku akan mengatakan bahwa aku menginap di rumah Luhan. Bereskan?” enteng Hyerim dengan raut santai. Joohyun rasanya harus mengibarkan bendera warna putih pertanda menyerah.

Arra (baiklah), aku pulang. Luhan, awas saja kamu melakukan sesuatu pada Hyerim,” Joohyun melayangkan tatapan tajam pada Luhan yang langsung bergidik ngeri karena ini kala pertama gadis Seo itu menatapnya setajam itu.

Nan byuntae ahnijanha (aku bukan orang cabul), malah kamu harus berhati-hati pada Jonghyun!” seru Luhan menunjuk Jonghyun terang-terangan. Merasa dituduh, Jonghyun menatap Luhan tak terima.

“Enak saja! Aku playboy tapi tidak pernah melakukan hal aneh-aneh dengan mantanku!” bantah Jonghyun.

“Sudah, kita pulang saja Jong.” Joohyun berucap agar tidak terjadi perdebatan lebih lanjut antara kedua lelaki tersebut.

Akhirnya keduanya benar-benar lenyap dari pandangan Hyerim serta Luhan yang masih setia duduk di ruang tengah. Hening menyapa keduanya yang mendadak canggung. Hyerim memainkan ponselnya pada aplikasi game untuk membunuh hawa canggung di sekitarnya.

“Kamu akan tidur dengan Yoonra, tak apa?” Luhan bersuara membuat fokus Hyerim terpindah sementara padanya, gadis itu mengangguk seraya menampilkan wajah yang seakan berkata ‘tak masalah asal aku tidur’. “Hati-hati saja, adikku sedikit ganas.”

Ucapan Luhan barusan membuat Hyerim tertawa kecil, ditambah raut wajah Luhan yang bergidik ngeri seakan adiknya monster. “Bukannya kamu juga mengatakan bahwa aku ganas saat pertama kali kita berjumpa?” dilayangkan oleh Hyerim tatapan irisnya pada Luhan sambil tersenyum geli.

“Kamu, adikku, ibuku itu satu spesies. Sama-sama ganas.” Luhan berujar dengan raut ngeri membuat Hyerim cemberut.

“Kalau begitu tak usah dekat-dekat denganku!” seru Hyerim sebal dan sekarang gantian Luhan yang tertawa.

“Tapi aku menyukai gadis ganas.”

Entah itu pengakuan atau gurauan, Hyerim mengembalikan fokus pada wajah Luhan yang tengah tersenyum padanya. “Kamu bohong. Yuri sunbae gadis yang kalem, but you like her.” penggalan kata yang Hyerim orasikan membuat Luhan bergeming layaknya ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya.

Ditilik kembali gadis bermarga Oh di sampingnya yang sudah sibuk dengan layar beberapa inchi ditangannya. Seakan mengharapkan suatu ekspresi dari gadis itu perihal Yuri, tapi pengharapan itu tak berakhir sesuai ekspetasi Luhan. Entah mengapa raut tenang Hyerim membuatnya putus asa.

“Hyerim unni, ayo temani aku di kamar,” seruan Yoonra terdengar membuat Hyerim langsung beranjak dan mengantongi ponselnya di saku piyamanya─gadis ini sudah mengganti baju sekolahnya ketika barang-barangnya tiba di rumah Luhan.

Gemingan Luhan tak terhenti walau netranya menyaksikan adegan Hyerim yang beranjak dari ruang tamu. Layaknya patung, Luhan tak tahu ada apa dengan dirinya ini. Dia seakan ingin melihat Hyerim cemburu akan perasaannya pada Yuri. Seakan panjang umur, ponsel Luhan berdering menyerukan satu ringtone dan ID kontak Yuri lah yang terpampang jelas. Luhan terperanjat, biasanya dirinya senang akan panggilan dari ID tersebut. Tapi entah mengapa rasa senang itu tak meluap seperti dulu walau masih tergambarkan.

“Hallo?” sekian waktu bergulir, Luhan memutuskan mengangkat panggilan dari Yuri.

“Lu…”

Suara serak dan isakan menyapa telinga Luhan membuat lelaki itu dilanda panik akan suara sosok kakak perempuan baginya selama ini.

“Ada apa?” nada khawatir terdengar membuat Luhan berdiri dari duduknya dengan raut tak kalah khawatir.

“Donghae… selingkuh. Dia ahhh… entahlah, cepat ke mari. Neoreul wonhae jigeum (aku membutuhkanmu sekarang),”

Neon eoddiga (kamu dimana?)

Luhan bertanya setelah dirinya membulatkan pupil mata terkejut akan kebrengsekan seorang Donghae yang membuat Yuri menangis. Isakan terdengar kembali membuat Luhan ingin sekali berlari menemui gadis bermarga Kwon tersebut.

“Gongwon (taman),”

Mendengar kata taman, Luhan sudah tahu taman mana yang Yuri singgahi karena ada seberkas memori masa kecil keduanya di taman tersebut.

“Tunggu aku, nuna.

Luhan mematikan sambungan serta menyambar jaketnya. Dirinya berteriak pada ibunya untuk pergi sebentar karena seorang teman membutuhkannya sekarang. Tak dipedulikan kembali teriakan ibunya yang menanyakan berbagai hal padanya, Luhan sudah mengangkat kaki untuk menemui Yuri.

║♫║♪║♫║♪║

Canda serta tawa tercipta di kamar milik Yoonra. Dengan mudahnya Hyerim akrab dengan adik perempuannya Luhan. Keduanya memiliki beberapa kemiripan yang mana membuat topik pembicaraan keduanya seakan tak ada habis-habisnya. Hyerim dan Yoonra terduduk di atas ranjang dan saling berhadapan.

Unni sangat cantik seperti Cinderella.”

Tiba-tiba Yoonra menyerukan pujian yang membuat Hyerim tersipu dan tersenyum malu. “Aku juga suka Cinderella. Tapi aku tak yakin aku secantik dirinya.”

“Sungguh unni layaknya Cinderella.”

Manik polos Yoonra menampakan betapa tulusnya pujian tersebut untuk seorang Oh Hyerim yang senang dipuji oleh tokoh dongeng favoritnya. Tiba-tiba Yoonra mengambil buku cerita dongeng Cinderella yang tertindih di balik bantal yang ia peluk sedaritadi. Antusiasnisme seorang Oh Hyerim seakan meletup melihat cerita dongeng kesukaannya sejak kecil. Xi Yoonra pun membalikan halaman demi halaman yang menampilkan isi cerita yang sudah Hyerim hafal di luar kepala. Hingga dirinya berhenti di sebuah halaman, saat Cinderella bersanding dengan Pangeran di pernikahan keduanya. Dua gadis remaja itu tersenyum melihat gambar tersebut seakan mengharapkan merekalah yang berada di lukisan tersebut bersama Pangeran impian keduanya.

Unni cantik seperti Cinderella, aku iri.” seru Yoonra seperti gadis kecil berumur 5 tahun, hal tersebut membuat Hyerim terkekeh pelan.

“Aku dan Cinderella berbeda loh, Yoon. Dia itu dari keluarga miskin, aku tidak. Dia tidak kesepian karena ada tikus-tikus yang mau menemaninya, sementara aku anti sosial dan kesepian. Dia punya ibu dan saudara tiri yang jahat sekali, dan aku memilikinya juga namun mereka tak jahat dan malahan sangat menyayangiku. Dia juga memiliki Pangeran tampan dalam hidupnya, aku malahan mengalami cinta satu sisi.” Hyerim tersenyum tipis kala mengatakannya. Dirinya mencurahkan isi hatinya pada Yoonra yang menyimak ceritanya dengan wajah berbinar dan mulut terbuka lebar.

“Berarti dirimu Cinderella yang berbeda ya?” Yoonra mengerjap polos dan lagi-lagi membuat Hyerim terkekeh.

“Aku adalah Cinderella dalam versi yang berbeda, yang menunggu seorang pangeran menjemputku ke istana, dan membebaskanku dalam kesepianku selama ini,” ujar Hyerim sambil tersenyum lembut dan dalam hati Yoonra berdecak iri akan kejelitaan paras seorang Hyerim. “Bila kamu ingin menganggapku begitu, silahkan saja.” Hyerim berkata lagi sambil mengacak surai hitam sebahu milik Yoonra.

“Bagaimana bila Pangeran yang unni maksud adalah Luhan oppa?” penggerakan Hyerim pada surai itu terhenti dan terganti akan tatapan mendalam pada iris Yoonra yang menyajikan sebuah tatapan polos. “Unni suka kan dengan oppaku?” tanya Yoonra sambil menghujam Hyerim dengan manik matanya membuat Hyerim merasa lidahnya kelu.

“Itu…”

“Kakakku juga suka padamu unni.”

Diam seribu bahasa adalah hal yang Hyerim lakukan sekarang karena ucapan Yoonra. Dirinya tak tahu akan perasaannya pada Luhan. Semuanya masih klise, samar dan tak terdeteksi dalam lubuk hatinya. Sementara gadis yang berjarak 2 tahun dibawahnya ini mengutarakan perasaan Hyerim akan Luhan dan begitupula sebaliknya.

“Lebih baik kamu tidur, Yoonra-ya. Aku ingin menunggu kakakmu pulang, tadi dia pergi kan?”

Hyerim mematahkan topik yang bahkan jawabannya masih terpendam. Anggukan Hyerim dapatkan dari Yoonra yang sudah merebahkan diri di atas kasur setelah membalut tubuhnya dengan selimut. Hyerim menepuk badan itu perlahan sambil tersenyum agar Yoonra cepat menjelajahi bunga tidurnya. Dirinya menghela napas kala adik dari Luhan tersebut sudah terlelap, kemudian dirinya mengangkat kaki keluar. Sesuai perkataannya, Hyerim ingin menunggu Luhan pulang.

“Ke mana gerangan Si Dekil itu?” gerutu Hyerim sambil berjalan ke arah teras rumah dan membuka pintu. “Jam berapa sekarang? Dia lupa besok sekolah ya?” Hyerim bergumam sambil memeluk diri sendiri saat berdiri di teras rumah keluarga Luhan namun dirinya memilih setia menunggu lelaki itu.

║♫║♪║♫║♪║

Semilir angin serta rembulan yang menjadi saksi kedua sahabat yang sedang duduk di ayunan di dekat taman kanak-kanak. Bintang tak turut hadir menonton keduanya yang menggerakan kaki guna agar ayunan bergoyang sebentar. Cerita yang terlontar dari bibir Yuri membuat Luhan ingin sekali meninju lelaki tak tahu diri yang bermain api di belakang gadis tersebut. Ya, Yuri sudah menceritakan dengan detail tentang kekasih yang mengkhinatinya. Dan Luhan berusaha mati-matian untuk menenangkan salah satu gadis berharga dalam hidupnya.

“Han, ingin sekali rasanya aku mati.” Yuri mendongak menatap langit dengan binar kelereng hitamnya mengisyaratkan kepedihan. Luhan menatapnya sendu dari samping. “Donghae segalanya untukku.” Yuri berucap kembali diiringi cekalan kuat pada pegangan ayunannya yang terbuat dari besi.

“Jika dia segalanya untukmu, lalu aku apa?” gumam Luhan pelan agar Yuri tak mendengarnya. Namun gadis itu ternyata menangkap gumaman Luhan dan langsung menatap lelaki itu yang duduk di ayunan di sebelahnya.

“Kamu tentu saja adikku,” jawab Yuri dengan senyum lembutnya.

Tatapan dalam Luhan berikan pada Yuri. Hatinya remuk mendengar penuturan tersebut. “Aku lelah dengan kau yang selalu menganggapku adik,” ujar Luhan membuat Yuri mengerutkan kening bingung. Luhan menghela napas sebelum melanjutkan. “Aku menyukaimu nuna. Tidakkah kau tahu itu? Apa selama 9 tahun ini perasaanku tak pernah kau sadari?”

Entah mengapa bibir Luhan mengeluarkan kata-kata yang selama ini terpendam dalam dirinya. Sementara Yuri membulatkan matanya terkejut akan pengakuan lelaki yang selama 9 tahun ini tumbuh bersamanya. Ternyata perasaan lelaki itu berbeda dengan apa yang selalu ia pikirkan. Luhan menyukainya sebagai seorang lelaki.

“Han…” panggil Yuri lembut terselip rasa bersalah di dalamnya. Luhan membuang muka ke arah depan seakan bosan melihat muka Yuri.

Nuna tak pernah tahu perasaanku. Nuna terlalu tidak peka atau mungkin bodoh? Ah entah, kau hanya memikirkan Donghae hingga tahu betapa tak layaknya lelaki itu untukmu. Aku di sini selalu menantimu dan berharap dirimu sadar akan perasaanku,” Luhan mencurahkan segalanya pada Yuri membuat gadis itu menghela napas merasa sangat bersalah.

“Maafkan aku. Aku tidak peka sama sekali. Ya, aku bodoh.” kata Yuri dengan nada bersalah. Luhan tersenyum kecut menanggapinya.

“Entah mengapa aku bisa lancar mengungkapkannya.”

Yuri tersenyum tipis, lalu mensuarakan pendapatnya. “Mungkin karena kamu sudah lama memendamnya.” dan Luhan setuju akan hal tersebut. “Atau mungkin kamu hanya marah padaku karena tak menyadari perasaanmu selama ini. Namun dilain sisi, hatimu sudah milik orang lain.”

Penuturan Yuri membuat Luhan diambang kelinglungan. Dirinya menatap profil Yuri dari samping dan kebetulan gadis Kwon tersebut sedang memandangnya dengan senyum tipis. “Apa maksud nuna?” tanya Luhan.

“Hatimu sekarang milik Hyerim, Lu.”

Jawaban Yuri membuat Luhan seakan tersambar sesuatu. Pengungkapan perasaannya beberapa sekon lalu ingin ditarik kembali kala sosok wajah Oh Hyerim berkeliaran dalam benaknya. Senyum dan paras cantik itu seakan berada di hadapan kornea matanya. Yuri menyunggingkan senyum kecut melihat reaksi Luhan.

“Percuma bila aku menanggapi perasaanmu sekarang jikalau hatimu sudah menjadi miliknya.”

Gelengan keras Luhan lakukan, kemudian dirinya menatap tajam Yuri. “Aku menyukaimu nuna. Dari dulu hingga sekarang tidak ada yang berubah.” tegas Luhan namun sebagian hati kecilnya memberontak akan pengakuan itu tapi sebagian lagi menegaskan hal tersebut. Kebimbanganlah yang Luhan rasakan sekarang.

Yuri terdiam apalagi ketika Luhan meraih tangan kanannya dan megenggamnya erat. Menyalurkan rasa sakit hatinya selama 9 tahun kebelakang. Dirinya meremas lembut jemari Sang Gadis yang ia amit sangat lembut. Dan Yuri hanya menunduk tak berani menatap kornea Luhan untuk sekedar memastikan lelaki itu berbohong apa tidak padanya.

“Aku hanya berjanji akan selalu berada di sisi Hyerim. Gadis itu rapuh dan perlu sebuah senderan. Dan akulah yang dipilih olehnya. Sementara dirimu adalah gadis yang kusukai, itu jelas berbeda.” Luhan berkata seraya melepaskan amitan tangannya pada Yuri membuat gadis itu menoleh padanya yang sudah berdiri dari ayunan. “Pulanglah, sudah malam dan tak baik gadis sepertimu keliaran jam segini. Aku ingin pulang.”

Langkah kaki tercipta membawa Luhan menjauhi taman sejuta kenangannya dengan Yuri. Perasaannya jadi agak kacau karena pengakuan tak terkendalikan dari bibirnya. Tak digubris satupun panggilan Yuri yang memanggil namanya terus-menerus. Setelah berhasil mendapatkan bus yang sedang membawanya pulang, Luhan mengambil ponselnya yang dalam mode silent. Saat memeriksa ponselnya, dirinya mendapat pesan dari Hyerim.

From : Oh Hyerim

Kamu ke mana? Bertemu Yuri sunbae? Kamu ingin kencan dengannya malam-malam begini? Ahhhh… andai aku bisa kencan dengan Changmin oppa sepertimu. Posisi kitakan sama, menyukai orang yang sudah memiliki status.

From : Oh Hyerim

Bodoh! Aku menunggumu! Kencanmu lama sekali! Aku kedinginan di sini.

From : Oh Hyerim

Cepat pulang, aku tak akan tidur sebelum wajahmu absen di hadapanku sekarang.

Luhan tersenyum tipis membaca pesan demi pesan. Dirinya tersadar, Hyerim dan dirinya sama. Menyukai seseorang dengan cinta satu sisi. Dan parahnya orang itu sudah menjalin sebuah hubungan kasih walau sekarang hubungan Yuri sudah kandas karena perselingkuhan. Namun orang yang mereka sukai hanya menganggap keduanya adik. Hingga ketika Luhan ingin mengetikan suatu balasan pada Hyerim, ucapan Yuri terngiang kembali diotaknya.

“Hatimu sekarang milik Hyerim, Lu.”

Dan kemudian fokus Luhan terganti pada homescreennya yang menampilkan grid foto Hyerim dalam berbagai pose, gadis itu sendiri yang berselfie ria di ponselnya kemudian menjadikan hasilnya sebagai homescreen Luhan. Dan anehnya, lelaki itu tak mau menggantinya karena selalu tersenyum melihat paras ayu tersebut. Lelaki itu bingung dengan keadaan sekarang. Sebenarnya siapa yang ia sukai? Bukan sekedar rasa suka saja, namun siapa yang ia cintai? Hyerim atau Yuri? Tanpa sadar, Luhan megenggam erat ponselnya dengan perasaan bimbang luar biasa.

─To Be Countinued─

─Preview next chapter─

“Oh Hyerim, kenapa kamu jadi begini?”

║♫║♪║♫║♪║

“Yak! Mengaku saja malam itu di kamarmu, kamu melakukannya padaku untuk pertama kalinya kan? Kenapa saat aku menyerangmu lagi kamu harus marah?”

║♫║♪║♫║♪║

“Rumor tetaplah rumor, layaknya api yang membara yang bisa membuat seseorang terbakar habis. Tapi kamu sungguh melakukan sesuatu di kamar Luhan?”

║♫║♪║♫║♪║

“Kamu tidak ada pilihan lain untuk memilihku sekarang…”

║♫║♪║♫║♪║

“Pilih dia atau aku?”

║♫║♪║♫║♪║

“Bertunanganlah dengannya, Hyerim-ah. Untuk membersihkan nama baikmu dan bilang gossip yang beredar itu hanya kesalahpahaman.”

║♫║♪║♫║♪║

“Aku… mencintainya…”

 

a/n : halloha, tumben-tumbenan banget kan aku kasih preview ya buat kepo aja😄, btw kayaknya ½ chapter lagi FF ini END yihihi. Tapi aku pending dulu kayaknya (: RCLnya jangan lupa gaes.

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] MY Cinderella (Chapter 8)

  1. Luhan nggak bosan ya terus-terusan bingung gitu milih hyerim atau yuri? 😬 nanti keburu diambil myungsoo hyerim nya baru tau rasa. Itu previewnya makin seru aja kayaknya. Itu hyerim mau dijodohkan sama myungsoo?
    Ditunggu kelanjutannya!!

  2. Annyeong haseyo author-nim.. Mf bru coment, tpi aku bkn silent reader, karna aku slalu ngelike ff author-nim atau author lain di blog Exo Fanfiction Indonesia lainnya lewat fb.. Skali lagi mf author-nim aku bru coment krna aku jga jrang bka email.. Oh ya salam kenal dan jgn lupa ff my cinderella nya d.next, krna aku bner* penasaran dgn kelanjutan cerita nya.. fighting author-nim ^_^

    2016-08-11 17:35 GMT+07.00, EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s