[EXOFFI FREELANCE] Miracles in December (Chapter 4)

mycinderella

Title           : Miracles In December (Prolog)

Author       : Kim Hazzel

Length       : Chapter

Genre         : Romance, Friendship, Brothership, Sad.

Rating        : Teen

Main Cast :

  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Choi Ah Ri (OC)
  • Lee Stella (OC)

Additional Cast :

  • Member EXO
  • Ji Yoon Hee (OC)

Summary :

Aku harus bangun ataukah hanya diam saja sebagai pengecut?

Desclaimer          : Hello readers semua. Ini ff buatan author sendiri. Hasil karya author 100%. FF ini juga author publish di facebook exo fanfiction Indonesia.

^^Hello guys. Ini lanjutin ff author yang sebelumnya. Semoga bias sesuai selera readers semuanya. Typo bertebaran. Don’t bash. Don’t be silent readers. Tinggalkan jejak setelah membaca. Terima Kasih^^

SELAMAT MEMBACA ^^

 

***

[Chapter 4]

Stella mengamati para trainee yang sedang menjahit pasien diruang operasi saat ini. “Pelan-pelan menariknya,”katanya ketika melihat trainee itu menjahit jantung pasien yang baru saja dioperasi.

“Kubilang pelan-pelan. Pasien memiliki gagal jantung dan jantung lemah. Jika kau tak menjahitnya dengan hati-hati akan terjadi masalah besar.”

“Maafkan aku,” kata gadis itu sambil menundukkan kepalanya. Choi Ah Ri hanya melihat teman SMAnya dulu dengan senyum. Benar-benar tidak berubah, masih kejam. Setidaknya itulah yang dia pikirkan tentang Stella.

“Ah.. lelah sekali rasanya,” seru Stella lalu duduk disamping Ah Ri. Inilah kebiasaan mereka setelah selesai operasi, duduk ditaman belakang rumah sakit sambil minum kopi. “Ah.. dasar para trainee,” tambah gadis itu yang hanya direspon senyuman ole Ah Ri.

“Hya.. kau benar-benar kasar sekali. Mereka trainee, wajar jika gugup,” katanya sambil menghirup aroma kopi, “Kau sama sekali tidak berubah, sangat-sangat kasar,”tambahnya.

“Hya.. kau teman SMA ku dulu kan? Bagaimana aku dulu?”

“Dulu?”

“Eung”

Choi Ah Ri memiringkan kepalanya sambil mengingat-ingat teman sekaligus musuhnya dulu, “Kau benar-benar kasar. Tapi, kau bisa menjadi gadis yang penurut.”

“Aku? Aih.. kau pasti salah,”

“Aku serius. Tapi kau hanya bersikap seperti itu hanya pada satu orang.”

“Siapa?”

“Pacarmu”

“Pacarku?’

“Ya.”

“Siapa?” Stella menunggu jawaban dari Ah Ri.

“Pikirkan saja sendiri.” kata Ah Ri lalu bangkit dan meninggalkan Stella.

“Hya, Choi Ah Ri…” katanya lalu menyusul temannya.

“Kau adalah dokter bedah yang handal, tapi kenapa ingatanmu buruk sekali.”

Mereka pun berjalan bersama sambil terus beradu mulut. Siapa yang tahu kalau dulu mereka adalah musuh. Mungkin tak ada.

 

***

Flashback on

Teett… teett… teett…

Jam istirahat di SOPA pun berbunyi. Tanpa menunggu waktu lama, semua murid keluar dari kelasnya. Termasuk murid dari kelas 3-2. Stella, Ah Ri, Jin Hye dan teman-teman se gengnya pun keluar kelas menuju kantin.

          “Ah.. Kang So Young,” Ah Ri tiba-tiba berhenti lalu melihat kearah So Young, “Ayo ke kantin.” tambahnya sambil menambahkan smirk evilnya. Stella yang melihat temannya itu, hanya biasa menggelengkan kepalanya.  Dompet berjalan. Itulah arti So Young bagi Ah Ri dan teman-temannya. Tapi, tidak dengan Stella. Ia pun hanya diam dan melanjutkan jalannya. Mereka pun antri untuk membeli makanan.

          “Ini.. untuk 7 orang,” kata Ah Ri sambil menyerahkan credit cardnya. Ah Ri dan yang lainnya hanya tersenyum lalu menuju tempat favorit mereka.

          “Aku akan membayar sendiri,” katanya lalu menyerahkan credit cardnya pada petugas kantin. Melihat hal itu So Young hanya diam saja dan mengikuti Stella. Suasana kantin sangat tenang. Bukan karena mereka menikmati makanan mereka tapi, karena adanya Stella. Ya, gadis itu seperti pusat magnet. Setiap orang mengaguminya. Dia cantik, berbakat, namun sangat kejam. Tapi itulah yang menjadi daya tariknya.

Stella pun menghentikan langkahnya lalu melihat So Young yang berada di belakangnya, “Apa kau memang selalu seperti ini?”

          “Apa?” Sontak semua mata yang berada di Kantin langsung melihat kearah mereka. Termasuk Oh Sehun dan teman-temannya. Mereka adalah teman sekelas Stella.

          “Apa kau selalu membeli dengan ini?” katanya sambil mengacungkan credit card ditangannya, “Apa saja yang kau beli? Makanan? Minuman? Teman? Ataukah… waktu?” tambahnya lalu melihat wajah So Young yang sudah memerah menahan tangis. “Jika memang benar, maaf saja. Aku tak mau menjual 10 menitku padamu,” tandasnya akhirnya lalu menyusul temannya. Seketika itu juga keadaan kantin penuh dengan kasak-kusuk anak-anak lainnya.

Sehun dan teman-temannya yang melihat hal itu hanya bisa memandangnya. “Wah.. benar-benar kasar sekali,” kata Kim Jong In yang biasa dipanggil Kai. Mendengar hal itu, Sehun hanya diam saja sambil melihat Stella yang tiba-tiba saja berhenti dan berbalik menghampiri So Young. Semua orang dikantin pun menatapnya dan mulai penasaran apa yang akan dilakukan oleh gadis kejam itu lagi.

          “Kang So Young,” gadis yang ada didepannya saat ini menegakkan kepalanya dan menatap Stella dengan air mata yang bercucuran. Melihat hal itu, Stella menghapusnya dengan tangan kanannya yang bebas, “Jika kau ingin menjadi temanku dengan ini,” katanya sambil menujuk credit card yang dipegang So Young, “Aku tak mau. Aku tak butuh uangmu. Tapi, jika memang kau benar-benar ingin menjadi temanku. Cukup menjadi dirimu sendiri.” katanya yang membuat So Young mengangkat kepalanya menatap Stella yang saat ini tengah tersenyum, “Kang So Young.. Mari kita berteman,” katanya sambil mengulurkan tangan kanannya. Tanpa menunggu waktu lagi, So Young menerima uluran tangan dari Stella dan tersenyum. “Ah.. aku lapar sekali. Ayo.” tambahnya lalu mengajak So Young bergabung dengan teman-temannya.

Sehun yang melihat hal itu hanya tersenyum. “Kenapa kau tersenyum?” kata Park Bo Geum yang hanya dijawab gelengan kepala olehnya.

Flashback Off

 

***

Suho sedang bersantai dengan member lainnya. Saat ini mereka masih berada dirumah kakek Chan. Mereka memutuskan untuk menghabiskan sisa liburan mereka disini.

Drrrtt Drrrt Drttt….

“Halo,”

“…”

“Di Rumah kakek Chan, kenapa?”

“…”

“Oh.. Arraseo, aku akan mengirimi alamatnya,”

“….”

“Oke.. jangan lupa bawa yang banyak.”

 

Xiumin melihat Suho yang berbicara ditelfon tadi dan langsung menanyakannya, “Siapa?”

“Ah.. adikku,” jawabnya singkat.

Lay yang mendengarnya dari dapur langsung menghampiri Suho, “Kim Hye Ri?” katanya yang hanya dijawab anggukan oleh Suho. “Dia mau kesini,” tambanya.

“Eung.”

Tanpa sadar ia tersenyum. Suho dan Xiumin yang melihat itu hanya menatapnya heran, “Aku akan memasak makanan yang enak,” kata Lay lalu langsung menuju dapur.

“Dia kenapa?”

“Kurasa dia menyukai adikmu,”

“Mwo?”

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Semua member EXO telah berkumpul di depan ruang TV. Tiba-tiba saja bel pintu berbunyi.

“Ah, aku saja yang membukanya.” kata Lay menawarkan diri. Suho yang melihatnya hanya tersenyum kecil, “Kurasa kau benar,” katanya pada Xiumin yang hanya mengangkat kedua bahunya.

“Anyeong Hasseyo Kim Hye Ri,”

“Oh.. Lay oppa,”

“Masuklah. Suho hyung sudah menunggumu.” Mereka pun masuk.

 

Hyeri yang melihat kakaknya Suho sambil menonton TV dengan senyum lebarnya tiba-tiba saja menyerangnya dengan tas yang dibawanya. “Ya ya ya… apa yang kau lakukan?” Semua member hanya membiarkannya dan tertawa melihat kedua kakak adik itu.

“Oppa.. bagaimana kau bisa tega sekali padaku!”

“Apa maksudmu?” tanya Suho bingung. Bukannya menjawab, Hyeri menghempaskan tubuhnya di sofa dan menghela napas berat.” Apa yang terjadi?” tambahnya sambil mengelus kepala adiknya dengan sayang.

“Appa sangat merindukanmu. Eomma juga. Kau tahu bagaimana Appa yang stres karena kau tidak bisa meneruskan perusahannya?”

“Hya hya.. kenapa kau menyalahkanku? Harusnya kau yang menjalankan perusahaannya.”

“Kenapa harus aku? Oppa adalah oppa,” Suho yang melihat adiknya benar-benar frustasi hanya diam. Namun, seketika itu juga ia tersenyum, “Apakah ada yang lucu?” tambah Hyeri.

“Ani. Hanya saja, aku sedang memikirkan appa yang pasti sangat stres.”

“Memangnya kenapa hyung?” sahut Baekhyun yang sedari tadi penasaran.

“Tentu saja. Ahjussi hanya memiliki 2 anak. Suho dan Hyeri. Suho memutuskan menjadi penyanyi, sedangkan Hyeri menjadi dokter,” kata Xiumin sambil menggelengkan kedua kepalanya, “Kasian appamu,” tambahnya.

Hyeri mengacak-acak rambutnya frustasi. Mengingat bagaimana dirinya tadi dimarahi oleh Professor di Rumah Sakit tempat ia magang sekarang. “Kai-a… bisa tolong kau belikan soju atau wine di supermarket depan?” kata Suho pada Kai karena melihat adiknya benar-benar frustasi. Mendengar hal itu dari kakaknya, Hyeri langsung berbinar-binar, “Aku tahu kau sangat stres hari ini. Lebih baik kau tidur disini malam ini. Besok aku akan mengantarkanmu ke Rumah Sakit.”

“Baiklah,”

“Hyeri-a.. aku membuatkanmu teh hangat.” Lay yang tiba-tiba datang sambil memberikan teh pada Hyeri.

“Gomawo oppa,” katanya sambil meminum teh hangat itu. “Ah.. dasar dokter kejam.” racaunya sambil menghempaskan badannya sofa.

“Apa maksudmu?”

“Oppa.. kau tahu kan aku anak yang cerdas?’ tanyanya yang dijawab anggukan oleh Suho, “Dan oppa juga tahu kan kalau nantinya aku akan menjadi dokter yang handal?” lagi-lagi hanya dijawab anggukan oleh Suho, “Tapi gara-gara dokter kejam itu aku benar-benar terlihat bodoh.” tandasnya sambil mengacak-acak rambutnya.

“Apa maksudmu?” kali ini kata Chen yang juga penasaran dengan cerita Hyeri. Gadis itu pun menceritakannya sangat-sangat detail. Bahkan juga menirukan gaya dokter yang memarahinya tadi siang itu. Semua orang larut dalam ceritanya. Mereka juga tertawa karena bisa merasakan bagaimana gugupnya Hyeri. Namun, Sehun hanya diam saja. Pikirannya berkecampuk macam-macam.

“Hyeri-a..” panggil Sehun pada gadis itu.

“Apa?”

“Siapa nama dokter kejam itu?” Mendengar hal itu, semua langsung melihat kearah Sehun. Namun, Sehun hanya diam saja sambil menunggu jawaban dari Stella.

“Kalau nama asli Koreanya aku tak tau. Tapi dirumah sakit dia dipanggil…” Sehun mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih, “Stella, Lee Stella.”

BAMMM!!!! Seakan mendapat bom didepan matanya. Sehun hanya bisa diam. Namun, ia sedikit lega. Atau mungkin lebih bahagia. Ia pun beranjak sambil menghampiri Hyeri, “Gomawo Hyeri-a..” katanya sambil memeluk Hyeri lalu menuju kamarnya.

“Yaa Oh Sehun!! beraninya kau memeluk Kim Hye Ri,” kata Lay yang lagi-lagi mendapat tatapan dari semua member termasuk death glare dari Suho, “Apa? haishh.. menyebalkan sekali,” tambahnya lalu beranjak meninggalkan ruang tengah.

Dikamarnya, Sehun mengeluarkan foto yang selalu ia simpan didompetnya, “Terima Kasih karena kau masih hidup. Terima Kasih karena kau telah kembali lagi padaku. Aku akan menjemputmu….” katanya sambil tersenyum melihat foto itu, “Stella,” tambahnya.

 

***

RUANGAN itu sudah sepi sejak satu jam yang lalu. Semua lampu ruangan staf Rumah Sakit sudah dimatikan. Lampu di sana masih menyala karena masih ada seseorang di sana.

Lee Stella duduk bersandar di kursi dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Keningnya berkerut dan matanya menyipit menatap lekat-lekat ponsel yang berada di genggamannya. Ia memutar kursi menghadap jendela besar dan memandang ke bawah, memerhatikan mobil-mobil yang berseliweran di jalan raya kota Seoul dengan tatapan menerawang. Langit sudah gelap. Ia melirik jam tangan dan mendesah. Jam tujuh lewat.

“Ke mana saja kau?” desisnya sambil mengetuk-ngetuk sepatu heelsnya ke lantai.

“Kau bicara dengan lantai?”

Stella mengangkat wajah dan menoleh. Choi Ah Ri yang berdiri sambil memegang pintu ruangan kerjanya tersenyum kepadanya.

“Bagaimana pasienmu?” tanya Stella ringan sambil terus mengetuk-ngetuk sepatunya ke lantai.

“Sudah beres tentunya, kau tau sendiri aku adalah dokter sekaligus seorang anestasi yang hebat,” katanya lalu berjalan menuju Stella, “Bukankah kau tidak ada pasien? Dan bukannya kau juga sudah pulang dari…,” ia melirik jam tangannya, “dua jam yang lalu?” tanya Ah Ri dengan tangan yang bersedekap di dadanya.

Stella mendesah. “Harusnya,” jawabnya lemas. Ia menunduk dan menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu mendesah keras sekali lagi.

“Menunggu Luhan?” tanyanya sambil melihat gadis disampingnya itu mengentakkan kakinya ke lantai lebih keras. Mengenalnya sejak SMA memang sudah membuat Ah Ri paham benar bagaimana kelakuan sahabatnya itu saat sedang marah. Dan dia rasa kali ini, benar-benar sangat marah.

“Ya. Kau tahu sudah berapa lama aku menunggunya? Ah, jinjja. Awas saja nanti, aku akan membunuhya. Berani-beraninya dia mempermainkanku.”

Melihat tingkah konyol temannya itu, Ah Ri tersenyum dengan sendirinya. “Apa kau tega melihat fans fanatik Luhan menangis karena idolanya mati ditanganmu?”

Mendengar ucapan temannya itu, Stella langsung memutar bola matanya dan mendesah keras. Lagi. “Hah.. kau benar, kau juga lihat bagaimana genitnya para intern menggoda Luhan,” katanya sambil bergidik ngeri. “Ugh… menjijikan.”

Tawa Ah Ri pun langsung menggema diruangan itu, “Kau cemburu?”

“Tentu saja tidak,” kata Stella tegas. Ia melihat kearah sahabatnya yang saat ini masih tertawa itu dengan tatapan yang sulit mengerti, lalu ia pun tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya. Hanya dia yang tahu. “Dia benar-benar bukan tipeku,” tambahnya.

“Tentu saja aku tahu. Tipemu kan seorang biang onar, dan Luhan sangat jauh dari dua kata itu.” ejek Ah Ri pada temannya, Stella yang mendengarnya pun mengerutkan keningnya tanda ia tak mengerti. Melihat itu, Ah Ri langsung menambahkan. “Jangan bertanya padaku. Kau harus mengingatnya sendiri,” katanya sambil mengacak rambut sahabatnya lalu pergi. “Ah.. dan juga, kau harus tahu. Menunggu itu sangat menyebalkan Stella.” tambahnya.

“Apa sih maksud gadis itu?” gadis itu bertanya pada dirinya sendiri ketika mendapati sahabatnya telah keluar dari ruangannya, “Ah.. terserahlah!”

Stella kembali memfokuskan pandangannya pada ponselnya. “Cukup sudah!” katanya, “Aku tak akan pernah mau makan malam denganmu lagi Luhan!!” kau dengar itu?” tambahnya sambil melihat fotonya dengan Luhan yang ada di meja kerjanya. Ia pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.

“Maaf.”

Kata seorang dengan nafas yang terengah-engah. Stella hanya bersedekap melihat laki-laki itu sambil menunggu penjelasannya.

“Aku benar-benar minta maaf,” katanya lagi sambil memegang pundak Stella. “Jalanan benar-benar macet.”

Namun, gadis itu tetap diam sambil menatapnya. “Kumohon katakanlah sesuatu. Hem?” ia memandang Stella dengan frustasi. “Kau boleh memukulku atau.. kau boleh memutuskan dimana kita nanti makan malam.” namun, gadis itu masih tetap diam.

“Stella.. kumohon maafkan aku? Hya, kau sangat jelek sekali jika marah seperti ini. Pantas saja tak ada laki-laki yang mau menjadi pacarmu.”

Cukup sudah!

“Hya Xi Luhan! Kau mau mati?” bentaknya pada laki-laki di depannya. Bukannya tersinggung, laki-laki itu tersenyum. Setidaknya gadis di depannya ini tidak mendiamkannya.

“Kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu?” kata gadis itu sambil melihat jam tangannya, “Dua jam!”

 

“Aku tahu, maka dari itu maafkan aku.”

Luhan menjewer kedua telinganya sendiri. Melihat itu, Stella hanya menghela napas kasar lalu tersenyum.

“Aku sangat lapar, ayo pergi.” tanpa banyak membuang waktu lagi, Luhan menyusul Stella yang saat ini sudah berjalan mendahuluinya.

***

Sehun menyesap kopi ditangannya sambil bersenandung lirih. Ia berdiri, menegakkan tubuh, dan memandang ke luar jendela. Natal tinggal satu bulan lagi. Ia berharap salju akan turun. Dan ia juga berharap keajaiban sekali lagi datang untuk membuat hidupnya kembali sempurna.

“Natal? Lagi?” katanya pada dirinya sendiri sambil tertawa sumbang. Dari kecil ia sangat menyukai natal karena semua keluarga termasuk ibunya akan selalu ada di sampingnya. Namun, sekarang baginya natal hanya biasa saja tak ada yang istimewa, mengingat belahan jiwanya telah meninggalkannya.  Ya, meskipun saat ini belahan jiwanya sudah kembali. Tapi, apa yang bisa dikatakannya kalau belahan jiwanya itu telah melupakannya?

Kejadian yang diterimanya saat itu membuat hatinya merasa dingin.

Kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan, namun ia juga merasa bersyukur karena masih ada para member yang juga seperti keluarganya sekarang.

“Kenapa kau melamun saja?” kata Chen pada adiknya itu.

“Hanya ingin melamun saja,” jawabnya sambil menyesap kopinya. Lalu ia mengedarkan pandangannya kearah hyungnya itu, “Kenapa sepi sekali pagi ini?”

“Suho hyung sedang mengunjungi orang tuanya. Lay dan D.O sedang belanja, sisanya masih tidur.” Jelas laki-laki bersuara cempreng itu. “Lalu, ada apa kau bangun pagi sekali? Tidak seperti biasanya.”

“Aku hanya sedang berpikir.”

“Berpikir apa?”

“Aku harus bangun ataukah hanya diam saja sebagai pengecut?”

Chen mengerutkan kedua keningnya mendengar Sehun. Namun, ia segera mengusir rasa penasarannya ketika melihat laki-laki disamping itu benar-benar tertekan. Ia pun menghela nafas sebelum menjawab, “Aku tak tahu apa yang sedang kau alami. Tapi Sehun-a..” katanya sambil memegang pundak adiknya itu, “Turuti kata hatimu yang paling kecil. Karena itulah yang paling benar,” tambahnya lalu tersenyum.

Sehun langsung melihat kearah hyungnya itu sambil tersenyum, “Terima Kasih hyung.”

Chen hanya mengangguk, “Ah.. aku akan membangunkan member yang lainnya.” katanya lalu meninggalkan Sehun yang masih berdiri melihat jalan. “Hya!! Cepat kalian bangun. Atau aku akan berteriak tepat ditelinga kalian semua.” teriak Chen. Sehun hanya tersenyum mendengar semua member menggerutu karena suara Chen.

Kembali ia menyesap kopinya. Lalu menghempaskan napasnya kasar. Ingatannya kembali pada peristiwa yang dialaminya kemarin. Ketika ia bertemu dengan Choi Ah Ri, teman sekolahnya dulu dan juga… belahan jiwanya.

 

TBC. (Tunggu chap selanjutnya ya guys) jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Terima kasih. ^^

 

 

 

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Miracles in December (Chapter 4)”

    1. Waaahh akhirnya min 😂😂 jd bingung mau komen apaan hehe itu pertama aku kira bukan miracles in december gara gara postetnya (sama gak liat judulnya sih) mungkin miminnya lg gak fokus 😅 semangat min

      next ya min ditunggu banget

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s