DECISION [EPISODE 9] – by GECEE

req-grace-decision1

GECEE proudly present

 

D E C I S I O N


WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER] | [EP 1] | [EP 2] | [EP 3] | [EP 4] | [EP 5] | [EP 6] | [EP 7] | [EP 8]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“When I look at you, I hope on a clear day you will come back to me just like when you left me.”

–Waiting (IU)

 

 

 

 

 

==HAPPY READING==

Ini bukan pertama kalinya bagi Baekhyun untuk mengunjungi apartemen Jane. Tidak ada yang berubah dari apartemen tersebut. Ruang tamu dengan dinding putih serta sofa hitam, meja tamu yang dihiasi taplak meja putih serta vas bunga di atasnya. Di salah satu dinding tergantung sebuah foto keluarga berukuran besar berbingkai cokelat mengkilap. Di sudut ruang tamu itu terdapat sebuah vas bunga berukuran besar berwarna krem dengan corak bunga-bunga berwarna biru.

Biasanya Baekhyun memasuki apartemen ini dengan perasaan gembira. Hatinya selalu diliputi dengan kebahagiaan bila ia mengunjungi Jane. Senyumnya selalu mengembang setiap kali gadis itu menyambut kedatangannya. Namun hari ini semua terasa berbeda untuk Baekhyun.

Sebenarnya tidak ada yang berubah dari kekasihnya itu. Buktinya ketika Jane membuka pintu, gadis itu masih menyambutnya dengan senyuman dan pelukan erat, kemudian meminta izin untuk ke kamar mandi sejenak menyelesaikan mandinya yang terpotong. Gadis itu sepertinya masih terlihat senang dengan kedatangannya kali ini. Tetapi tetap saja bagi Baekhyun ada sesuatu yang berubah dari gadis itu. Dan itu adalah hatinya.

Baekhyun tahu bahwa Jane sudah tidak lagi mencintainya. Gadis itu telah mencintai kakak kelas mereka serta tetangga seberang apartemen-nya, Park Chanyeol. Bagi Baekhyun, sedih rasanya mendengar fakta tersebut. Ia mencintai Jane sepenuh hatinya. Ia bahkan rela menyerahkan apa saja, melakukan apa saja, asal gadis itu kembali mencintainya. Tetapi ia tahu bahwa cinta bukanlah sesuatu yang bisa ia paksakan. Ia tidak bisa memaksa gadis itu untuk mencintainya.

Jadi, disinilah ia. Di dalam apartemen Jane, sedang mengumpulkan segenap keberanian dan segenap kebesaran hatinya untuk melepas gadis itu.

Jane muncul dengan kaus biru muda serta celana putih selutut. Rambut gadis itu tergerai dan masih terlihat basah. Gadis itu sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Ada apa kau datang kemari?” tanya gadis itu sambil mengeringkan rambutnya. “Apa kau ingin mengajakku jalan-jalan?”

Baekhyun ingin tersenyum, menganggap semua baik-baik saja, tetapi ia tidak bisa. Ia tidak bisa membohongi perasaannya yang bergejolak ini dengan sebuah senyuman. Ketika melihat Jane, ia tahu bahwa ia benar-benar mencintai gadis itu tanpa syarat. Ia tidak rela untuk melepas gadis itu begitu saja. Ia tidak rela.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan, Baekhyun hanya bisa menghambur ke pelukan Jane dan memeluk kekasihnya itu erat. Gadis itu sepertinya terkejut, punggung gadis itu mendadak menegang, tetapi Baekhyun tidak peduli. Ia tetap memeluk gadis itu erat.

“Baekhyun-ah…”

“Jane…” ujar Chan-Yeol lirih. Suaranya serak penuh emosi. “Maafkan aku..”

Huh?”

Baekhyun melepaskan pelukannya. Ia memegang pundak gadis itu dan menatap kekasihnya lekat-lekat. Sebuah senyum kecil terukir sementara setetes air mata mengalir ke pipinya. “Maafkan aku..”

Gadis itu terlihat bingung. “Ada apa denganmu?”

Baekhyun menyeka air matanya. “Mungkin kau merasa selama ini aku terlalu menahanmu. Aku terlalu mengekangmu. Aku tidak membiarkanmu bebas. Aku memang mencintaimu, tetapi kurasa rasa cintaku ini berlebihan sehingga membuatmu merasa tidak nyaman berada di dekatku. Kalau benar, aku minta maaf.”

Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya menatap Baekhyun dengan pandangan tidak mengerti.

Baekhyun kembali tersenyum kecil. “Aku berterima kasih atas semua yang telah kita lalui bersama. Setiap kejadian yang kita jalani, baik itu hal kecil atau besar, baik itu menyenangkan atau menyedihkan, aku selalu bersyukur atas semuanya. Aku tidak akan melupakan semua kejadian itu begitu saja. Semuanya terlalu indah dan terlalu manis untuk aku lupakan. Dan kau, Han Jaein,” Baekhyun mengulurkan tangannya dan membelai puncak kepala gadis itu dengan lembut, “Aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Aku selalu bersyukur karena aku bisa dipertemukan denganmu dan bisa mengenalmu. Aku berterima kasih karena kau sudah mengizinkanku untuk mendampingimu selama beberapa lama ini.”

“Beberapa hari ini, aku belajar sesuatu,” lanjut Baekhyun. “Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Sama seperti kita. Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku sedalam aku mencintaimu. Aku memang mencintaimu, Jane. Lebih daripada apa yang kau kira. Tetapi aku tidak bisa mengatur perasaanmu sesuka hatiku agar kau juga membalas rasa cintaku. Aku tidak berhak marah ketika pada akhirnya aku mendapati bahwa kau lebih mencitai orang lain dibandingkan dengan diriku. Memang rasanya menyakitkan, tetapi aku tidak berhak untuk marah.”

Baekhyun meraih satu tangan Jane dan menggenggamnya erat. “Sekarang, aku ingin melepasmu. Kau tidak lagi terikat denganku. Jika kau merasakan perasaan cinta terhadap orang lain selain diriku, sekarang kau boleh mengejarnya. Kau boleh mengejar perasaanmu itu tanpa rasa bersalah dan tanpa beban. Aku tidak akan lagi menjadi penghalang antara dirimu dengan lelaki yang kau cintai.” Baekhyun menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan perasaannya yang bergemuruh. “Akan jauh lebih menyakitkan jika aku tetap menahanmu sementara kau sendiri tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapku. Lebih menyakitkan bagiku, juga bagimu. Memang sekarang aku tidak bisa berkata bahwa aku baik-baik saja dan dengan rela melepasmu, tetapi aku yakin setelah waktu berlalu, aku tidak akan menyesali keputusan yang telah kuperbuat ini.”

Air mata mulai mengalir satu demi satu tetes di pipi gadis itu. Baekhyun mengulurkan tangannya dan menghapus air mata yang mengalir itu dengan jemarinya.

“Aku minta maaf,” bisik gadis itu, lirih. “Aku minta maaf karena selama ini aku tidak bisa membalas perasaanmu, Baekhyun-ah. Aku minta maaf…”

Baekhyun menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mendekap gadis itu erat-erat. Untuk beberapa menit berikutnya Jane hanya menangis dan menangis di dalam pelukan Baekhyun. Baekhyun menepuk-nepuk punggung gadis itu, mengelus-elus lengan gadis itu, mengecup puncak kepala gadis itu, berusaha menenangkannya. Baekhyun memejamkan matanya, berusaha merasakan cengkraman gadis itu pada lengan bajunya, berusaha merekam suara isak tangis itu dalam benaknya, karena mungkin ini akan menjadi pelukan terakhir mereka sebagai sepasang kekasih.

Setelah tangisnya mereda, Jane melepaskan diri dari pelukan Baekhyun. Gadis itu hanya menunduk, tidak berani menatapnya. Baekhyun menyeka pipi gadis itu yang basah dengan jarinya, kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup kening gadis itu lembut.

“Pergilah,” ujar Baekhyun. “Katakan pada Chanyeol hyung bahwa kau mencintainya.”

***

Chanyeol menatap amplop yang ada dalam genggamannya. Amplop tipis di tangannya ini terasa berat. Rasanya begitu berat sampai Chanyeol harus memegangnya dengan kedua tangan. Nama sekolah yang tertera di sudut amplop membuat hatinya bergejolak.

Beberapa minggu yang lalu, Chanyeol pernah mengirimkan aplikasi dan tape audisi atas rekomendasi guru musiknya, lalu melupakannya segera setelah mengeposkannya. Sekolah itu adalah salah satu sekolah musik terbaik di Paris, dan ia tidak terlalu berharap dapat diterima karena banyak sekali anak-anak berbakat yang gagal masuk ke sana.

Disobeknya ujung amplop dengan perasaan tidak enak. Kata-kata yang tercetak pada lembaran suratnya membuat Chanyeol gelisah.

Chanyeol mengumpulkan surat itu dan menyelipkannya ke dalam saku, mencoba melupakan.

***

Jane menatap pintu abu dengan nomor 2023 yang menjulang di hadapannya dan mendengus kesal. Ia mengulurkan tangannya dan mencoba menekan bel pintu apartemen itu untuk kelima kalinya. Jane menunggu selama beberapa detik. Sama seperti menit-menit sebelumnya, tidak ada jawaban. Tidak ada tanda-tanda bahwa pintu abu tersebut akan terbuka. Jane mendecakkan lidah. Kemana tetangga seberang rumahnya ini pergi?

Jane mengambil telepon genggamnya dari saku jaketnya, bermaksud menelepon tetangganya itu. Setelah menekan layar telepon tersebut beberapa kali, gadis itu mendekatkan teleponnya ke telinganya. Tidak dapat dihubungi. Jane menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ada apa dengan tetangganya itu?

“Han Jaein-ssi!”

Kepala Jane menoleh, kemudian matanya menyipit untuk melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya barusan. Seorang ibu muda sedang berjalan ke arahnya. Dari seragam yang ia kenakan Jane dapat menduga bahwa itu adalah salah satu resepsionis yang selama ini bertugas di lobby gedung apartment-nya.

Jane tersenyum, membalas senyuman ramah yang diberikan oleh resepsionis apartment tersebut. “Ada apa?” tanya gadis itu.

Sang resepsionis menyodorkan sebuah amplop berwarna biru kepadanya. Jane menerima amplop tersebut dan mengamatinya. Di atas amplop tersebut tertulis namanya sebagai kepada siapa surat tersebut ditujukan.

“Kemarin Park Chanyeol-ssi menitipkan surat ini kepada saya. Saya juga tidak mengerti mengapa ia harus menitipkan surat ini pada saya sementara apartemennya-nya berseberangan dengan apartemen anda. Chanyeol-ssi meminta saya untuk memberikan surat ini kepada anda hari ini,” jelas resepsionis tersebut.

Jane mengangguk tanda mengerti.

Resepsionis tersebut membungkukkan badan sedikit. “Kalau begitu saya permisi dulu.”

Jane balas membungkukkan badan. Setelah resepsionis itu menjauh, barulah Jane berjalan kembali ke apartemen-nya. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa Chanyeol memberikan surat ini kepadanya. Apakah sesuatu terjadi? Jane betul-betul penasaran.

Setelah menimbang-nimbang selama beberapa menit, Jane memutuskan untuk melihat isi surat tersebut. Ia duduk di sofa ruang tamunya yang nyaman, merobek salah satu sisi amplop tersebut, dan mengeluarkan selembar kertas yang ada di dalamnya. Tanpa ia sadari tangannya mulai gemetar dan hatinya mulai bergejolak ketika ia membuka lipatan kertas itu dengan perlahan.

Han Jaein,

Kalau kau sedang membaca surat ini, berartu aku sudah tidak berada di Seoul. Aku sudah pindah ke Paris untuk melanjutkan sekolahku di sana. Kau tidak usah bersedih karena aku tidak bisa menemanimu lagi. Mungkin di kehidupan yang lalu aku banyak salah padamu, oleh karena itu aku minta maaf dan berjanji akan memperbaiki itu semua di kehidupanku sekarang dan yang akan datang. Kau tidak usah mencariku, karena aku ingin berpisah denganmu. Rajin belajar, ya. Aku ingin melihat kau sukses saat kita bertemu lagi. Sampai jumpa, Jane.

PCY

 

 

Membaca surat itu, mencerna kata-katanya, mencoba memahami apa yang ingin Chanyeol sampaikan melalui surat itu, hanya bisa membuat Jane menangis. Siang hari itu, di ruang tamunya, Jane menangis sejadi-jadinya. Tangisannya pecah, air matanya tumpah. Seolah-olah tak ada yang bisa menghiburnya saat itu.

Membayangkan menghabiskan sisa hidupnya ke depan tanpa Park Chanyeol membuat Jane menderita. Memikirkan bahwa ia tidak akan bisa bertemu kembali dengan Park Chanyeol membuat hatinya sakit. Jane sadar bahwa ia tidak bisa hidup tanpa lelaki itu. Ia tidak bisa melupakan tetangga seberang apartemen-nya itu. Park Chanyeol kini telah menjadi bagian dari hidupnya, dan rasanya hidupnya tak akan sempurna bila tidak ada lelaki itu.

Tadinya ketika Baekhyun memutuskan hubungan mereka, Jane merasa lega karena kini ia dapat tanpa rasa bersalah mengejar perasaan sukanya pada Park Chanyeol. Jane dengan bebas bisa menyukai lelaki itu dalam hatinya. Bahkan mungkin, ia bisa menyatakan perasaannya pada lelaki itu tanpa rasa bersalah. Memikirkan hal tersebut beberapa hari ini membuat Jane merasa gembira. Namun surat yang ia terima hari ini memporak-porandakan perasaannya dalam sekejap.

Sekarang Jane menyadari satu hal.

Ia benar-benar mencintai Park Chanyeol.

 

 

TO BE CONTINUED

 

A/N

Again, Gecee sebagai author mengucapkan minta maaf sedalam-dalamnya untuk update yang amat lama. Dan juga terima kasih untuk kalian yang mungkin bosan menunggu kelanjutan cerita ini… Aku minta maaf…

Anyway, melalui A/N ini Gecee ingin bilang, kalau series Decision akan segera berakhir. Terima kasih untuk kalian yang sudah menunggu dan mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir. Untuk kalian yang setia baca dan like dan komen, untuk apresiasi dan juga koreksinya mungkin, Gecee sangat berterima kasih 🙂

Tidak ingin membuat kalian kecewa di episode-episode terakhir, Gecee berjanji series ini akan segera diupdate minggu depan. So, stay tune ya! 🙂

 

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

25 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 9] – by GECEE”

  1. Kenapa chanyeol langsung buru buru pergi gituu?? Padahal jane udah putus sama baek. Dan jane harus sendirian sampe akhir dia lulus? Kesian jane ._.
    Ah iya ada kesalahan dikit. Dikit aja kook hehe. Itu ada salah nama. Yg semestinya baekhyun, jadi chanyeol di ketiknya hehe. Udah itu aja kok. Aku baca chapter terakhirnya yaa. Semangaattt!!!
    -XOXO-

    1. karenaaa… entahlah… kasihan jane harus ditinggal ya nggak sih? ._.
      iya… terima kasih untuk koreksinya ya, dan terima kasih juga sudah meninggalkan jejak 😀

  2. huaaaa…aku sedih…beneran chanyeol pergi???
    aku penasaran banget kelanjutan ceritanya..semoga baekhyun bisa jadi teman/sahabatnya jane lah…

  3. Gue udah jadi manusia purba baru nongol ini ff, wkwk
    Tapi gwenchana, gue udah terlanjur ngegantungin perasaa di ff ini /apaini/abaikan jones/ xD
    Semangat kaka, perpanjang endingnya plis…….

    1. makasih ya sebelumnya sudah nungguin lama banget hwhwhwhw… maafkan utk late updatenya 🙂
      anyway terima kasih sudah mau baca dan komen ya 🙂

  4. Ckckck… gara2 lm update,, aku sampe lupa sm ff ini. Maafkan aku kaka… bahkan aku sampai baca chapter sebelumnya buat inget2 jln ceritanya.
    Semakin mendebarkan… gmn endingnya ya??? Aku tunggu yya kak next chapnya. Fighting kak…. :-*

  5. What the hell is this?? Cobaan macam apa ini?? Jane you’re too late!! Rasakan penderitaanmu!! Kejem banget gw yah? Abisnya greget sumpah. Ada aja halangan buat mereka bersama… kalo udah gini berharapnya sad ending aja… *dihajar masa saya* wkwkwk

    1. karena cinta itu butuh penderitaan dan pengorbanan :’) (quote macam apa ini? XD)

      anyway terima kasih sudah mau meninggalkan jejak yaaa 🙂

  6. Aku minta maaf bru coment sekarang b’coz bru buka FF nih d Library Exo FF jdi bru baca 2 jam lalu. Pertama aku mau mengatakan kalo FF nih bnar2 udah buat aku baper bingo. Bagus thor FF ini sukses buat perasaanku cmpur aduk saat membacanya. Yg bkin terasa amat sesak saat chanyeol mngirim surat “…..Kau jgn mencariku, aku ingin berpisah drimu….” bnar2 kena bgt d perasaanku, aigooo.
    Oke thor.. d tnggu kelanjutannya, Fighting

  7. Yahh jane telat si chanyeol uda keburu pergibke paris baru aja dia pengen ngungkapin lebih sedihnya lagi si baekhyun yang harus rela ngelepasin jane huhuhu

  8. ada typo, seharusnya tertulis baekhyun tapi chanyeol, hehe… tapi nggak pa2 kok, okay back to story, jadi si jane sekarang sendirian, ditinggal baekhyun, juga chanyeol, poor jane. chanyeol pergi ninggalin jane tapi jane blm sempet ngungkapin perasaannya. tapi tbh, aku suka jane kalo sama baekhyun, tapi cinta tdk bisa dipaksakan, kan?

    1. oh yaaa… aduh aku kalau ngedit suka masih nggak bener…. makasih utk koreksinya ya…
      iya kasian banget si jane… tapi yap cinta memang ga bisa dipaksakan… :’)
      anyway, terima kasih sudah meninggalkan jejak ya 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s