[EXOFFI FREELANCE] Proposal Married (Chapter 5)

proposal-merried

PROPOSALMARRIED
Chapter 5

Author : Rhifaery

Main Cast :  Sehun EXO  and Irene Red Velved

Genre : Romance, Comedy, After married!^^

Rate : NC 17

Warning : Please join to my blog Rhifaeryworld.wordpress.com

Desclimer : All of the story based on my imagine ^^

Sehun POV

Pagi datang lebih cepat. Dengan perlahan aku berjalan kesisi jendela, sedikit menyikap tirainya agar cahaya bisa masuk ke sisi kamar tidur. Dengan tersenyum, aku memakai kembali kameja, memandangi seorang puteri yang masih tertidur pulas di ranjangnya. Bukan, maksudku ranjang yang sekarang ini jadi milik kita berdua. Sebuah ranjang yang menjadi saksi atas apa yang kita lakukan semalam.

Tersentak akan cahaya terang, putri itu mengerjap-ngerjapkan mata. Mencoba menyusuaikan cahaya yang memaksa memasuki retina. Kulangkahkan kakiku untuk berjalan kesisinya. Memberikan ciuman sekilas di keningnya sebagai morning kiss yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri.

“Kau sudah bangun?” Tanyaku sedikit lembut, sambil kubelai rambutnya yang acak-acakan ke belakang telinga. Sedikit terkejut dengan apa yang kulakukan, gadis itu bergegas duduk. Membuat selimutnya -yang menutupi pemandangan tadi malam- tersingkap sempurna.

“Berhentilah memperlihatkan itu padaku, kau tak mau kan mendapat serangan di pagi-pagi begini?”  Kataku lantas membenarkan selimut itu menutupi badannya.

“KYAAA…. OH SEHUUNNNN APA YANG KAU LAKUKAN ???” Teriakan sekaligus serangan dadakan tiba-tiba menghantamku. Seperti biasa gadis itu memukuliku dengan bantal di tangannya. Pukulan yang lebih aktraktif dibanding pukulannya terdahulu.

“Apa yang kau lakukan, hentikan chagi??” Kataku menggodanya.

“Kau benar-benar bajingan Oh Sehun, aku tidak mau menghentikannya???” Katanya tak mau berhenti.

Seketika aku berhasil mencekal kedua pergelangan tangannya. Menatapnya tajam tapi juga lembut “Hentikan atau kutarik selimutmu?”

Spontan Irene menghentikan atraksinya. Kembali mempererat selimutnya untuk menutupi tubuhnya walaupun aksinya itu membuatnya semakin mirip kepompong. Wajahnya mendadak merah padam. Sangat lucu melihatnya dalam posisi seperti ini.

“Kau tak perlu shock begitu, semalam kan lampu kumatikan jadi aku tak benar-benar melihatnya. Yah… kecuali yang tadi itu?” Ujarku mengedipkan mata. Ekspresinya yang terlihat shock dan bercampur malu membuatku semakin gencar menggodanya.

“Apa yang sudah kau lakukan? Tidak… tidak… ini tidak mungkin terjadi. Kalaupun terjadi aku pasti sudah mabuk, iya kan?” Irene berbicara dengan dirinya sendiri. Cih, tindakannya itu semakin membuatku kesal. Padahal dia juga yang merasakannya semalam, bagaimana dia bisa sok lupa.

“Yaa! Kau tak mabuk semalam. Kau dalam kesadaran penuh!”

“Kalau begitu aku pasti hilang ingatan atau amnesia….” Sambungnya gencar.

“Kau juga tidak hilang ingatan, otakmu masih di kepalamu!”

“Kalau begitu apa yang kau lakukan… mengapa aku lakukan ini. Oh ini tidak mungkin tidak mungkin…!!!”

Sejenak aku tahu bahwa perkataannya itu adalah pelampiasan dari rasa malunya semata. Rasakan kau Irene. Dia yang selalu menolak jika kuajak melakukannya, dia yang selalu ingin pisah ranjang saat sekamar pada akhirnya dia juga juga yang ingin mengajakku lebih dulu melakukannya.

Hahaha. Rasanya aku ingin tertawa mengingat kenangan semalam. Mungkin kenangan itu bisa sedikit merubah sisi keras kepalanya itu. Sedikit merubah sudut pandang pernikahan kita dan mungkin juga bisa merubah sejarah hubungan kita. Cihui… Sejarah? Haruskah aku menyanyikan lagu History keras-keras?

“Wah wah wah… ternyata kau benar-benar tidak ingat yah…” Kataku mulai mendekat ke arahnya. Matanya seketika melotot dengan posisi sama, memegangi selimutnya sekalipun aku benar-benar tak tertarik melihatnya di pagi hari begini.

“Biar kuceritakan yaaa…. Waktu itu kau tiba-tiba mendekat kepadaku. Ingat, kau memelukku lebih dulu, kau mengatakan sesuatu yang mana bila kukatakan lagi disini akan berdurasi panjang. Lalu karena kata-katamu itu, aku jadi tersenyum, aku matikan lampunya dan tiba-tiba saja kita me…-

“Ahhh… hentikan aku tak mau mendengarnya??” Pekiknya sedikit berteriak. Membuatku tersenyum saat dia malah memalingkan muka tanda tak suka.

“Kenapa, ini kan belum dibagian intinya?” Elakku.

“Tapi aku tidak mau??”

Sudah kuprediksi dia akan mengatakan itu. Tapi tak mau tinggal diam aku kembali bercerita tentang kejadian malam itu, “Yah… lalu kita berdua sama-sama terbaring dalam tempat tidur saling berpelukan saling ber…-

“Hentikan bodoh Bluukk!!” Sebuah bantal dilempar ke arahku. Lalu dengan gerakan cepat dia berlari menuju kamar mandi. Sebelum sempat menghilang dari pandangan aku menggodanya sekali lagi,  “Hey Bae Hyun Jo… tak tertarikkah mandi denganku???” Kataku berteriak.

“ JDUAARR…- Dia menjedor pintu, “In Your dream Oh Sehun brengsekkk!!!!”

***

Irene POV

Hyaakk! Aku benar-benar tak percaya ini. Oh tuhan bantu aku menyangkalnya. Aku benar tidak melakukannya dengannya kan? Iya kan? Jika tidur berdekatan dengan orang itu saja membuatku risih, lalu bagaimana aku bisa melakukannya? Oh tidak-tidak, aku harus membayangkan bahwa kejadian semalam tidak benar-benar terjadi. Ya, jika hari kemarin bisa dilenyapkan pasti tidak ada yang terjadi diantara kita. Tapi apa yang kurasakan kemarin, kenangan tentang kejadian kemarin tidak bisa dilenyapkan begitu saja.

Aku benar-benar melakukan itu dengannya…

Andwae… Dasar Oh Sehun brengsek!!!

Sudalah, sudalah Bae Joo… tidak ada yang perlu disesalkan dari kejadian yang telah berlalu.  Ya, mungkin saat ini dia sedang bersenang-senang, sudah merasa menang atau bercerita terhadap para Hyung-hyungnya yang ingin sekarat itu. Tapi tunggulah Oh Sehun, ini tidak berlangsung lama. Aku akan membalasnya tentang segala tindak pelecehan ini. Dia mungkin menepati posisi pertama dalam pengalaman pertamaku, tapi apa aku juga menepati posisi pertama dalam pengalamannya?   Aisshhh… apa yang sebenarnya kupikirkan ini?

Saat ini kulihat bayanganku sendiri di cermin. Sebuah wajah frustasi. Wajah seorang wanita yang menyerahkan harta berharganya pada pria yang belum tentu mencintainya. Ya, dia memang mengungkap perasaannya waktu itu, tapi pria itu tidak menjawabnya semalam dan langsung memberikan penyerangan tiba-tiba.

AKU BENAR-BENAR GILAAAA!!!!

Saking gilanya aku hari ini, aku pun menyadari bahwa aku lupa membawa baju ganti.  Saat ini hanya selimut ini yang menjadi penutup dari tubuhku. Segera kuberjalan ke arah pintu mengetuk pelan untuk melihat kondisi. “Tok-tok-tok, Sehun apa kau masih di sana?”

Tidak ada sahutan. Dia mungkin sudah keluar dari kamar untuk sarapan. Sekali lagi ku ketuk pintunya dari dalam, “Sehun, kau masih di dalam, tidak?”

Bingo, mungkin memang benar jika Sehun tidak ada di dalam. Dengan perlahan aku membuka pintu kamar mandi. Berniat mengambil beberapa pakaianku yang tercecer. Namun belum sempat kuambil semuanya, sosok itu tiba-tiba muncul tepat dari samping. Respek aku segera menutup pintu kembali  dan kembali ke dalam kamar mandi.

“Apa yang kau lakukan di sana bodoh!” Teriakku keras-keras agak shock.

“Kau kan memanggilku, tentu saja aku menemuimu?” Elaknya.

“Tidak aku tidak membutuhkanmu, pergi sana!” Ucapku sinis. Kembali kuberdiam diri dalam kamar mandi memikirkan apa yang terjadi. Namun jika dipikir-pikir tindakanku ini terlalu bodoh. Dia, Oh Sehun bodoh itu tidak mungkin begitu saja pergi melihatku terkurung di sini. Dia mungkin akan menungguku sampai membusuk di sini.

“Sehun… kau masih di sana?” Tanyaku sedikit lembut. Ada sahutan manis yang kudengar dari suaranya saat itu. “Kau bisa mengambilkan pakaian untukku kan?” Sambungku.

“Bukalah pintunya, aku akan memberikannya padamu?”

Ap-apa? Di situasi sulit seperti ini dia masih sempat-sempatnya menggodaku, “Tidak akan kulakukan brengsek!” Tukasku seketika.

“Jika kau tidak membukanya bagaimana aku bisa memberikannya padamu??” Ucapnya sedikit meninggi. Benar juga apa yang dia katakan. Aishh… Bae Joo Hyun, kenapa kau ketularan bodohnya sih?

“Baiklah, aku akan membukanya, jangan sekali-kali mengintip atau kau akan mati!”

“Terserah kau saja.” Timpalnya. Pintu kubuka secara perlahan. Memberikan celah kecil baginya sebagai cara dia untuk memberikanku baju. Namun bukannya memberikan apa yang ku butuhkan dia malah memberikanku kotak. Agak cepat aku segera menutup kembali pintu itu dan segera membukanya.

Sebuah gaun berwarna ungu yang dulu sempat dia berikan padaku. Gaun yang sengaja kutinggalkan di hotel akibat kemarahanku waktu itu. Ada sebuah notes kecil di dalamnya, “Temui aku di balkon atas.”. Sedikit sangsi, apa dia benar-benar mau memberikan kejutan padaku? Jika benar tak ada salahnya membuatnya menunggu.

***

Menunggu beberapa menit, aku pun sudah siap dengan gaun ungu yang ku pakai. Rambut sudah ku tata sedemikian rupa, make up natural juga tak lupa menyemprotkan parfum keseluruh tubuh agar tampak segar dan wangi. Sehun sudah tidak ada di dalam kamar. Mungkin sedang menyiapkan kejutannya untukku. Barangkali aku memang terlalu percaya diri mengharap kejuatan darinya yang terus menerus melenceng. Namun fillingku kali ini tidak mungkin meleset. Sehun benar akan memberikan kejutan padaku. Untuk itulah mengapa dia memilih balkon rumahnya sendiri. Supaya tidak ada Si Naomi Naomi itu atau pihak manapun yang mengganggu.

Perlahan aku berjalan ke balkon atas, tempat yang sudah dipersiapkan oleh Sehun. Balkon rumahnya yang tadinya terlihat sepi dan biasa saja kini berubah menjadi tempat yang indah dengan bunga-bunga di sekitarnya. Ada dua kursi juga meja yang tertata di sana. Dan seseorang yang berdiri di pojokan, dengan setelan jas juga celana putih, aku tidak akan pernah melupakannya saat sosok yang sering kubilang bodoh itu membawa sebuah gitar. Memetiknya secara perlahan hingga mengalun sebuah lagu dari suaranya.

Oh everytime I see you
geudae nuneul bol ttaemyeon jakku gaseumi tto seolleyeowa
nae unmyeongijyo sesang kkeutirado jikyeojugo sipeun dan han saram

nal tteonaji marayo gakkeumeun al su eopsneun miraera haedo
nal mitgo gidaryeojullaeyo~

Hampir saja air mataku menetes meluhat sosok Oh Sehun yang sekarang berjalan ke arahku. Dia tersenyum sekilas, mengecupku lembut namun singkat. Jika saja tanganku tidak digenggamnya aku mungkin sudah terjatuh entah kemana. Oh Sehun. Sungguh aku tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Rasanya baru kemarin kita terlibat masalah yang begitu serius api sekarang dia yang memelukku, membelai rambutku dan memangku badanku pada kursi panjang yang berada di pojok balkon.

“Kenapa berhenti, cepat lanjutkan permainan gitarmu.” Tantangku yang membuatnya langsung mengerucutkan bibir.

“Tidak bisa, Park Chanyeol hanya mengajariku bagian reff saja.” Katanya membela diri. Sudah kuduga jawabannya akan begitu. Tapi melihatnya sedikit perjuangannya untukku, mempersiapkan semuanya benar-benar membuatku terpikat. Bukan, bukan sedikit tapi sangat terpikat.

“Untukmu….” Tangannya tiba-tiba memegang kalung berliontin gembok yang sama dengan yang ku lihat waktu itu. Kalung sama yang diberikan kepada wanita itu, mengapa dia harus memberikan padaku yang sama pula? Dasar pria bodoh.

Seolah bisa membaca apa yang aku pikirkan, Sehun pun melanjutkan kata-katanya, “Jangan khawatir, itu bukan kalung yang sama dengan yang ku berikan pada Naomi waktu itu.”

Aku mengangguk-angguk saja dengan apa yang dikatakannya. Syukurlah bukan kalung yang sama. Tidak mungkin juga dia meminta kembali pemberiannya lalu memberikan padaku. Sekalipun begitu aku tidak akan menerimanya.

“Sekalipun bentuknya sama, kalung ini dari orang yang berbeda. Kalung yang kau lihat waktu itu adalah kalung pemberian kakakku, sedangkan ini adalah kalung dariku sendiri.”

“Kakak?” Tanyaku sakartif.

“Dulu, kakakku membeli kalung tersebut untuk melamar kekasihnya. Kau tahu sendiri kan apa yang terjadi selanjutnya. Sebelumnya  dia sempat memberikanku kalung yang sama, menyuruhku agar memberikan pada orang yang kucintai….” Matanya sedikit berkaca saat dia menjelaskan hal yang tidak seharusnya ia utarakan. Bukan berarti aku tak mengenalnya. Aku memang tahu dia memang mempunyai kakak yang berselisih 5 tahun dengannya. Dan apa yang terjadi selanjutnya benar-benar sulit kuutarakan.

Tangannya mulai bergerak mengaitkan kalung itu ke leherku lalu merengkuh wajahku, “Dengarkan aku, khusus untuk orang yang kucintai, aku sengaja memilihmu liontin ini sebagai tanda bahwa kau sudah mengunci semuanya. Jiwaku, ragaku, cintaku juga semuanya. Dan aku harap tidak ada kunci untuk membukanya. Arraseo?”

Rasanya diriku seolah-olah melayang saat dia mengatakannya. Dia mengatakannya begitu sudah tentu bahwa dia telah membalas cintaku. Ya, tidak ada kata-kata lain seindah dari apa yang dikatakannya barusan. Dari mana dia belajar itu tidaklah penting.  Yang terpenting adalah ketulusan yang ada di setiap kata-katanya. Aku bisa merasakannya.

“Sekarang aku jadi punya kalung couple dengan wanita itu. Lucu sekali yah?” Tanyaku sedikit bercanda. Sekalipun alasannya bisa kuterima tapi aku sedikit sangsi dengan keberadaan gadis itu di kehidupannya.

“Kau memang banyak kesamaan dengannya, sudah seharusnya seperti itu?”

“Apa??” Tanyaku terkejut.

“Sama-sama cantik, sama-sama putih, sama-sama pandai, berbakat juga sama-sama wanita yang mencintai sosok Oh Sehun.”

“Dan sama-sama wanita yang pernah kau cium!” Tukasku seketika. Sebenarnya dia memang ingin sedikit bergenit-genit denganku, tapi keburu kucela dengan permasalahan yang masih belum terselesaikan itu.

“Aku minta maaf soal itu,” Ujarnya sedikit melemah. Raut penyesalan terlihat di wajahnya.. “Aku tidak bisa berpikir jernih waktu itu. Dia sangat terpukul mengetahui bahwa kau adalah istriku. Dan sebagai permintaan terakhir dia ingin aku menciumnya dan berjanji tidak akan mengganggu hubungan kita.”

Aku memalingkan wajah begitu mendengar pengakuannya. “Ya, benar sekali. Kau akan melakukannya pada setiap wanita yang minta ciuman darimu, lalu apa bedanya dengan para fans yang terus menerus meminta ciuman darimu, kau tidak memberikannya?”

“Hey… aku melakukannya karena melihatnya begitu terluka?” Elaknya.

“Bagaimana dengan fans-mu, mereka juga terluka bahkan saat kau memfollow Si janda Miranda Kerr itu?” Sebuah skak mati dariku untuk Sehun. Dia tak bisa berkata apa-apa. Hanya memandangku bersalah namun kemudian tersenyum evil.

“Apa sulitnya mengatakan kalau kau sedang cemburu?”

“Ap-apa…- Kataku tak percaya. “Aku tidak cemburu!”

“Sampai kapan kau menggelak, kau itu memang sedang cemburu. Yayaya rupanya rasa cintamu lebih besar dariku ternyata.?”

“Heeeii!!!” Pekikku benar mengelak. Kupandangi wajahnya dengan ekspresi kesal. Wajah yang sedari tadi terus saja menggodaku akibat berbuatan memalukan semalam, “Lupakan, kau juga cemberu saat memergokiku bertemu Jumyeon kemarin.”

Giliran aku yang tersenyum evil dan dia yang seolah-olah sedang terkejut, “Kau benar, apa saja yang sudah kau lakukan bersamanya, cepat katakan padaku?”

“Haruskah kuberitahu kepadamu?”

“Kau ini, aku sudah menjelaskan semua kesalahpahama kita tadi. Gara-gara kau aku semalam sampai bertengkar dengan Suho Hyung tahu.”

“Wah… daebak, kalian bertengkar gara-gara aku?” Untuk seketika dia langsung menatapku dengan tatapan membunuh. Tangannya tergerak di pinggangku kemudian menggelitiku hingga parah. “WAAAAH… SEHUN HENTIKAAAANN…!”

“Cepat katakan apa yang terjadi denganmu dan Suho Hyung!”

“Baiklah akan kukatakan tapi lepaskan aku dulu!” Dia melepaskan tangannya sebagai gantinya dia masih saja memeluk pinggangku erat,” Tidak ada yang terjadi, dia hanya memberiku hadiah?”

“Hadiah?”

“Nde, kau ingat hadiah pernikahan dulu, dia keliru membungkus hadiahnya, hadiah sebenarnya adalah ini.”Aku memamerkan jam tangan Rolex yang Jumyeon berikan kemarin. Sedikit menyesal dulu kukatakan hadiah dari Jumyeon adalah yang paling tidak modal. Nyatanya hadiahnya adalah paling mahal dari yang lain.

“Hanya satu saja?”

“Tidak, dia memberiku dua. Punyamu masih kusimpan di lemari.”

“Ternyata aku benar-benar sudah salah paham dengannya,” Dia berucap sendiri.

“Salah paham bagaimana?” Sehun seolah tak ingin menjawab pertanyaanku. Dia mengajakku mendekat ke meja itu, yang dimana terdapat cake juga botol wine yang sudah ia persiapkan. Aku pikir dia akan mengajakku sarapan, tapi tangannya menjumput gulungan kertas lalu menyerahkannya padaku.

“Apa ini?” Tanyaku sebelum membuka gulungan kertas yang diikat pita merah.

“Proyek Perubahan Proposal kita.”Hanya dengan mendengar penjelasannya saja sudah membuatku tertawa. Kubuka gulungan kertas itu yang di dalamnya sudah tersusun beberapa tulisan rapi alah Oh Sehun

-PROYEK PERUBAHAN PROPOSAL-

 

  • Saudara Oh Sehun dengan Bae Joo Hyeon akan menjalani kehidupan setelah pernikahan sebagai suami istri yang saling mencintai hingga mati.

 

Aku tertawa membacanya. Benar-benar kekanak-kanakan sekali, “Baiklah Oh Sehun, aku akan mencintaimu hingga mati.”

“Bagus.” Komentarnya cepat.

“Tapi jika kematianmu lebih dulu jangan salahkan aku jika aku terpaksa mencari suami baru.” Sambungku yang langsung membuatnya cemberut berat. Sangat lucu jika aku melihatnya seperti ini. Segera tangannya mengisyaratkanku membaca bagian selanjutnya.

 

  • Saudara Oh Sehun dengan Bae Joo Hyeon harus menempatkan urusan rumah tangga dan juga agensi dalam posisi yang sama.

 

“Tumben kau bisa berpikir normal?” Kataku sinis. Sebuah hal yang langkah jika dia bisa berpikir benar karena aku pun setuju dengan apa yang dituliskan di urutan kedua.

“Jangan salah sangkah dulu, kau memang istriku dalam rumah tangga, tapi dalam EXO istriku adalah…-

“Siapa? Luhan? Ah sadarlah Sehun kau itu sudah diceraikan dan ditinggal di Beijing hahaha….” Tawaku yang langsung mengundang tatapan tajam dari matanya. Ayolah, apa benar huhan couple se-real ini. Tapi Sehun seolah takmengubrisnya.

“Baca selanjutnya?”

 

  • Sebagai seorang suami saudara Oh Sehun harus menjalankan perannya untuk memenuhi kebetuhan sedangkan saudara Bae Joo Hyeon menjalankan perannya untuk mengurus rumah tangga.

 

“Hei, apa-apaan ini, aku kan juga seorang artis sudah semestinya aku bekerja juga?” Protesku seketika.

“Itu masalahmu, aku kan tidak menyuruhmu bekerja.?” Elaknya yang sama sekali tanpa rasa bersalah.

“Ini sama saja kau menyuruhku meninggalkan Red Velved lalu mengabdikan diri padamu. Aku benar-benar tidak mau!” Mungkin dia pikir penghasilan EXO sudah besar dan cukup untuk menghidupiku. Tapi aku benar-benar tak mau jika menghabiskan hidupku di rumah, menunggu kepulangannya sementara di luar sana dia sedang berpose dengan banyak artis juga melihatnya yang selalu membalas surat cinta dari para fans.

 

  • Selama menjalani rumah tungga, saudara Bae Joo Hyeon harus memberikan pelayanan spesialnya sebagai istri tiap malam.

 

“MWO??? APA-APAAAANN???”

Untuk point selanjutnya membuatku terkejut bukan main. Dia memandangku tanpa rasa bersalah juga tanpa dosa. Jika tadi kukira dia sudah mulai normal dengan pikirannya maka kutarik kembali ucapan itu.

“Baiklah-baiklah, kau kuberi kesempatan untuk menghapus salah satu dari empat poin di atas.” Katanya seketika. Ditariknya kursi lalu duduk dihadapanku, menunggu persetujuan.

“Tidak. Aku ingin menghapus semua!”

“Kau tidak akan beruntung jika menghapus semuanya.?”

“Kalau begitu aku harus merevisi ulang. Kau membuatnya tanpa memintah persetujuanku terlebih dulu.”

“Untuk apa memintahnya, kau dulu juga membuatnya tanpa persetujuanku?” Jawabnya sedikit pelan. Aku ingat dulu aku memang membuat sebuah proposal terlalu tergesah-gesah juga menyuruh mensetujuinya. Tapi tetap saja semua proposal itu terlanggar dalam waktu semalam. Benar-benar menyebalkan.

“Ehm… ehm… barusan Seunghwan Hyung menelponku untuk segera ke dorm karena ada urusan mendadak. Jadi maaf, aku benar-benar tak punya waktu chagi. Segera  putuskan point mana yang kau hapus atau aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menghapusnya?” Tanyanya sedikit mengintimidasi.

Apa? Apa yang harus kupilih. Diantara point ketiga juga kempat keduanya sama-sama sulit untukku. Red Velved adalah segala-galanya bagiku. Aku tak bisa meninggalkannya sementara untuk melayani… melayani pria brengsek itu aishh sudahlah.

“Hei cepatlah kuhitung sampai tiga, Satu… Dua… Tig…-

“No 3!” Kataku cepat.

“Wow jadi kau benar-benar memilih yang No 4 yah??”

Aku tak bisa melihatnya sekarang. Mataku sengaja kupejamkan agar bisa mengganjal ekspresi malu yang nanti akan dia lihat dari wajahku. Seketika itu aku merasakah sentuhan hangat namun singkat mendarat di pipi kananku.

“ I’ll wait you for night.”

***

Sehun POV

Begitu urusan dengan Seunghwan Hyung selesai aku langsung melayangkan mobilku menuju dorm EXO.  Tak lupa sebelumnya aku membeli cake besar untuk Suho Hyung dengan tulisan maaf di atasnya. Mengingat kejadian kemarin yang dimana aku sudah bertindak semenah-menah dengannya. Aku yakin, sebentar lagi dia pasti akan memafkanku dan memelukku seperti sedia kala.

“Aku datang….!!!” Tanyaku begitu aku sampai dalam dorm. Jongin sengaja membuka pintu untukku dan kulihat semua member sedang berkumpul di dalam. Ada Lay Hyung juga yang baru datang dari Beijing. Sementara Suho Hyung adalah satu-satunya yang tidak ada di dalamnya. Dimana Suho Hyung?”

“Sedang di kamar bersama eommanya.” Jawab Xiumin Hyung.

“Eommanya di sini?” Tanyaku sedikit terkejut.

“Nde, kau tak tahu yah? Baru saja eommanya itu marah pada kita. Bertanya, siapa yang baru saja memukuli anakku sampai babak belur begini? Siapa? Ayo katakan padaku!”  Ujar Baekhyun Hyung meniru lagak eommanya Suho Hyung, yang bahkan aku sendiri merasa tak yakin beliau akan seperti itu.

“Celaka kau Oh Sehun. Eommanya pasti akan menghabisimu dalam waktu dekat.” Jongin mengompor-ngompori.

“Memangnya kau melihat bagaimana dia marah?”

“Apa kau tak percaya, kami semua adalah saksinya.” Timpal Kyungsoo Hyung, “Dan sekarang Suho pasti mengadu pada eommanya perihal apa yang kau lakukan semalam.”

“Apa yang kau pikirkan Hyung, aku juga kena pukul, lihatlah ini, ini ini.” Kutunjukkan beberapa bekas pukulannya di wajahku meskipun aku tak seberapa yakin bekas itu masih ada atau tidak.

“Tapi keadaanmu tak separah keadaannya, kau tahu bahkan tadi Lee So Man sampai mencarimu.”

“Be-be.benarkah?”  Aku berkata sedikit gugup. Bukannya aku tak tahu bahwa Suho Hyung sangatlah dekat dengan CEO SM tersebut. Jika sebuah urusan sudah ada di tangannya itu pertanda urusan sudah berada dalam stadium gawat.

Hening. Pada akhirnya suasana di dorm EXO mendadak hening begitu sosok wanita tua membuka pintu dan berjalan keluar. Itu adalah Eomma Suho Hyung. Dia belum menyadari kehadiranku sementara para member telah memandangku seolah menunggu reaksi apa yang akan kulakukan. Saat sosok itu semakin mendekat segera ku merunduk dan berlutut. ‘Maafkan aku nyonya Kim, aku benar-benar tak sengaja melakukannya.”

“Hei Oh Sehun. Apa yang kau lakukan, berdirilah.”  Katanya sedikit terkejut.

“Aku telah melakukan sebuah kesalahan besar dengan putramu.”

“Iya, aku tahu.Tapi berdirilah dulu, aku tak mau kau berlutut seperti ini, Ayolah nak.”

“Aku tak akan berdiri sebelum kau memaafkanmu?” Ujarku lagi.

“Baiklah akan kumaafkan sekarang berdirilah.”  Begitu mendengar kalimat menyenangkan itu aku segera berdiri dan melayangkan senyum lebar. Kujabat tangannya erat-erat sebagai tanda betama aku menyanyanginya seperti aku menyanyangi eommaku sendiri. “Gomawao, eomma….”

Dia mengelus puncak kepalaku, “Kau ini bicara apa nak,  akulah yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau sudah mengajari Jumyeon pelajaran bela diri semalam. Itu sangatlah bagus.”

“Apa… bela diri?”

“Nde, luka-luka di wajahnya bukankah itu hasil pelatihan semalam. Jumyeon sangatlah beruntung memilikimu. Sekalian ajari dia bagaimana cara mencari wanita yang baik agar dia bisa menyusulmu ke pelaminan, arraseo?”

Aku mengerjap tak percaya. Sekali, dua kali. Latihan bela diri? Apa ini benar-benar waras? Bahkan seumur hidup ku aku belum pernah mendapat sabuk kecuali Youngmin Hyung yang membelikannya untukku. Lama ku terdiam hingga aku tak sadar bahwa eommanim sudah plang. Bersamaan itu, ricuhan tawa langsung memenuhi seluruh dorm EXO. Sangat ramai. Xiumin dan Kyungsoo Hyung melakukan high five sedangkan Baekhyun Hyung sampai bergulung-gulung di lantai karena tertawa. Ya, aku tahu dan sepenuhnya sadar bahwa aku jadi korban pembullyan saat ini.

“Sudah puas kalian?” Ucapku jengah, “Berhentilah tertawa!”

“Hahaha, sudahlah kalian harus berhenti tertawa kalau tidak dia akan menyerangmu dengan jurusnya hahahah.”  Ungkap Baekhyun yang langsung disambut tawaan member lain.

“Hey Oh Sehun, apa jurus yang kau punya, Rasengan, seribu bayangan? Hahaha?” Kali ini giliran Jongin yang membullyku.

“Kubilang berhentilah tertawa!” Respek kuraih sebuah handuk yang mengalung pada leher Chanyeol Hyung dan melempar ke arahnya. Dia menggelak dengan cepat akibatnya bukannya mengenai dirinya, handuk itu malah mengenai muka orang lain yang baru keluar dari pintu. Suho Hyung.

“Hyung… kau mau kemana?” Kuikuti Suho Hyung yang memasang tampang kecut menuju dapur.Satu hal yang kutahu, dia telah melindungiku kali ini dengan tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada eomma-nya.

“Hyung maafkan aku yah?” Kataku tulus meskipun dia sama sekali tak menggubrisku apalagi menatapku, “Kau mendengarkanku kan Hyung, aku benar-benar minta maaf.”

“Untuk?”

“Semua kesalahanku.”

“Kesalahan apa, katakan yang jelas.” Kutarik nafas panjang-panjang. Rupanya dia ingin sedikit jual mahal kepadaku.

“Karena kesalah pahaman. Aku memukulmu kemarin tanpa alasan yang jelas. Ya aku sadar sebenarnya itulah kebodohanku karena tidak berpikir panjang. Ya… menganggapmu ingin merebut Irene, aku tahu itu sama sekali tidak etis. Jadi maafkan aku Hyung.”

“Ya… kau sudah tahu sekarang, aku bukanlah pria murahan yang bermain api dengan istri orang. Apalagi itu istri memberku sendiri. Bukankah kau sendiri tahu aku dan dirinya hanya seorang teman dekat. Aku sudah mengenalnya sebelum kau mengenalnya dan juga menikah dengannya. Kau tak usah secemburu itu dan juga per…- Dia terus saja berbicara tanpa berhenti. Padahal aku sama sekali tak tertarik mendengar pidatonya tersebut. Dan yang kulakukan sekarang hanyalah memutar-mutar bola mataku berharap pidato ini berhenti sebelum siang.

“Sehun, kau mendengarkanku bukan?” Ucapnya yang sepertinya sadar aku tidak mendengarkannya.

“Tentu saja aku mendengarkanmu Hyung. Ini makanlah kue ini, sebagai permohonan maaf, aku rela membelikan ini untukmu.” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Apa kau pikir kau bisa menyogokku dengan membeli kue ini? Aku belum sebangkrut itu hingga tidak bisa membeli kue murah ini?” Ucapnya lagi. Kenapa dia cerewet sekali sih.

“Lalu apa yang harus kulakukan agar kau meaafkanku Hyung?” Ucapku sengaja kubuat-buat frustasi.

“Entalah, nanti saja kupikirkan.” Jawabnya misterius. “Tapi kau jadi punya satu hutang padaku arraseo?”

“Hutang?” Tanyaku tak mengerti.

“Permintaan maafmu itu, aku anggap sebagai hutang….” Katanya sebelum beranjak pergi. Aissshhh… sudahlah tak perlu memikirkan pikiran aneh orang tua itu. Yang terpenting sekarang adalah hubunganku dengannya sudah membaik. Semua masalahku dengan Irene pun juga aku ras membaik.

Semoga, aku bisa hidup tenang setelahnya.

***

Irene POV

“Apa ini?” Tanyaku begitu sebuah map tebal diarahkan kepadaku. Seseorang yang kukenal sebagai Park Jae ah, menejer Red Velved duduk dihadapanku.

“Itu scedul terbaru Red Velved. Sudah kusesuaikan dengan jadwal Comeback kalian.” Katanya.

Kuletakkan cangkir kopiku dan mulai membaca. Lembar demi lembar sampai aku merasa bahwa ini benar-benar gila. Apa-apaan ini, siaran radio, photoshoot, pembuatan VCR, syuting CV, touring. Tidak bisakah aku lebih sibuk dari ini?

“Eonnie, ini gila!” Kataku pada akhirnya, “Kenapa bisa sepadat ini?”

“Aku tahu kau akan berpendapat begitu setelah membacanya tapi kau harus pikirkan bahwa ini sudah masuk resikomu sebagai seorang idol. Apalagi idol rockie sepertimu.” Elaknya sambil menyesap kopi yang baru datang dari tangan pelayan. Memang benar, tidak biasanya jadwal Red Velved sepadat ini. Tapi scedul yang barusa yang diserahkan padaku itu sama sekali tak ada huruf yang membentuk tulisan break.

“Bisakah kita menguranginya… ku mohon….” Tanyaku merajuk. Ya, seharusnya eonnie memang sudah tahu posisiku. Aku sudah bukan Irene yang dulu, sudah menikah juga sudah mempunyai tanggung jawab melayani suami. Aishh… lupakan kalimat barusan.

“Sayangnya tidak.”

“Ayolah eonnie, para member pasti akan mengeluh dengan jadwal yang sebanyak itu, apalagi Yeri, dia masih  sekolah bukan?”

Jae ah eonnie tak peduli dengan ucapanku. Kembali menyesap kopinya sambil sibuk menutak-atik teleponnya,  “Aku sudah berbicara dengan mereka dan kelihatan hanya kau sendiri yang merasa keberatan.”

Kutatap dia tak percaya. Benarkah begitu? Biasanya ucapan mereka memang tak sesuai dengan tindakannya. Berpura-pura mensetujui tapi ujung-ujungnya aku juga yang dibuat susah karena persetujuan itu berubah seiring berjalannya waktu.

“Itulah sebabnya mengapa aku sedikit keberatan dengan pernikahanmu itu.” Katanya pada akhirnya. Tolong yah eonnie, tak perlu membahas pernikahan. Sekalipun aku sudah menikah akan kubuktikan keprefesionalanku dalam dunia kerja ini, “Ya… tapi sudalah mungkin memang tidak ada yang bisa melarang jika seseorang sudah saling cinta.” Cibirnya kemudian.

Pembicaraannku dan Jae Ah  Eonnie berakhir sebelum pukul empat. Dengan begitu aku bisa menyempatkan diri pergi ke dorm Red Velved yang kebetulan juga sedang berkumpul semua member. Lagi pula Sehun juga sedang tidak ada di rumah. Dia sedang melakukan photoshoot untuk produk baju SPAO dengan girlband idolanya AOA. Benar-benar sialan bukan, saat dia sedang asyik-asyikan berpose dengan Seolhyun sementara aku mengkhawatirkan dirinya disini.

“Irene-yah, apa itu kau?” Suaa Wendy menyambutku. Kelihatannya dia sedang berada di dapaur karena aku mencium bau sedap khas masakan buatannya.

“Hai, kau sedang memasak apa?” Tanyaku mendekat. Alih-alih membantu dia malah mendorongku agar sedikit menjauh darinya.

“Bagaimana, ada kejadian apa semalam?” Tanyanya to the point.

“Kejadian apa? Tidak ada.” Elakku.

“Jangan bohong Irene-yah, dari raut wajahmu aku tahu kalau kau sedang berbahagia karenanya.” Ujarnya sambil menaburkan garam ke dalam masakannya. Sementara botol kecap kupegang erat berpikir mungkinkah ak akan menceritakan padanya? Tapi masih ada tiga member disini. Aku akan malu jika mereka semua mengetahuinya.

“Kau sudah mendengarkan penjelasannya terkait dengan Naomi bukan?” Tanyanya lagi.

“Ya, sebenarnya Sehun tidak punya hubungan apapun dengannya. Selama ini gadis itulah yang mengejar-ngejar Sehun hingga membuatnya terpaksa menciumnya?” Jawabku yang sepertinya sedikit antusias.

“Benarkah? Lalu apa yang Sehun lakukan padamu semalam, yah… semoga bukan karena terpaksa juga?”

“Ap-apa?” Terkejut dengan pertanyaan yang diutarakannya. Wendy memang begitu, selalu ingin tahu dan selalu tahu juga atas apa yang sedang ku pikirkan. “Dia tidak melakukan apapun?”

“Oh begitu yah, lalu apa tanda merah yang sekarang memenuhi lehermu itu??”

Respek aku menutup leherku dengan kedua tangan. Apa, apa barusan yang dia katakan. Benarkah terlalu kentara. Memang seharusnya kubiarkan rambutku teruarai saja agar bisa menutupi. Ah, Sehun memang bodoh. Tak memikirkan apapun sebelum bertindak. Mungkin ini jugalah yang membuat Jae Ah Eonnie berbicara seperti itu tadi. Dan karena tanda ini, Wendy menjadi tertawa cekkikan menggodaku.

“Aishh… semua PR ini benar-benar membuatku gila!” Teriakan Yeri menggelegar. Dia yang sedari tadi kulihat serius tiba-tibe berteriak keras merasa muak dengan tugasnya. Di sampingnya ada Joy yang sibuk memainkan ponselnya. Beralih ku mendekat pada mereka, buru-buru meninggalkan Wendy.

“Apa yang terjadi?”

“Dia memang sering begitu saat mengerjakan Prnya, tak perlu dihiraukan.” Timpal Joy.

“Berhentilah bicara jika kau sama sekali tak membantuku eonnie.” Yeri bersungut kesal kembali pada aktivitas sebelumnya.

“Berikan padaku, mungkin aku bisa membantumu.” Aku menawarkan diri. Terhitung aku memang sering membantu Yeri mengerjakan PRnya terutama pada pelajaran Geografi atau pengetahuan sosial.

“Tidak mungkin, kau tidak akan bisa membantunya. Itu soal Biologi.” Sela Joy.

“Aku sedikit paham pelajaran biologi.” Kataku yang kelihatan sedikit memaksa.

“Ya, kau hanya paham bab reproduksi saja karena kau sudah melakukannya, benar kan?” Baik Joy maupun Yeri sama-sama cekikikan sekarang.

“Aisshhh… kau ini!” Kupukul Joy Dan Yeri dengan buku tulis yang kugulung. Bagus. Rupanya sekarang seluruh dorm berkomplot mengerjaiku. Benar-benar mengesalkan. Secepat mungkin aku berjalan menuju kamar. Menutupnya keras hingga kulihat Seulgi  sudah berdandan seolah mau bersiap-siap pergi.

“Mau kemana?” Tanyaku.

“Ke mall, mau ikut?” Aku menimbang ajakannya.Dari pada di sini menjadi bahan ejekan atau pembullyan bukankah lebih baik aku ikut? Itu bisa disebut sebagai ajang melarikan diri.

“Baiklah aku ikut.” Kataku. Secepat mungkin aku berlari masuk ke kamar mandi menyusulnya bersiap-siap pergi.

Sialnya yang dimaksud pergi ke mall bersamanya adalah bahwasahnya Seulgi tak hanya mengajakku seorang. Ada Taeyong, salah satu personil NCT-U yang menunggu tak jauh di depan pintu depan mall yang ku tahu telah janji dengannya terlebih dulu. Benar-benar licik bukan, itu berarti keberadaanku disini hanyalah sebatas obat nyamuk.

“Eonnie, kau mau kemana?” Seulgi keburu mencegahku bahkan sebelum aku berniat pulang.

“Memangnya untuk apa aku kemari jika hanya untuk melihat kencan?”

“Chankaman, aku membutuhkanmu disini. Para netizen akan curiga jika aku berjalan berdua dengannya.” Dia beralasan.

“Kalau begitu tak usah jalan.”

“Kau jahat sekali, anggap ini penebusan kesalahan karena suamimu sudah melihat yang tidak-tidak dariku. “

“Kau belum melupakannya?”

“Tentu saja belum. Bahkan Taeyong saja belum melihat apapun dariku.”

Pembicaraannya semakin lama semakin aneh sehingga mau tak mau akupun membalas iya untuk permintaannya itu. Seulgi dan aku pada akhirnya berjalan dengan Taeyong dengan aku yang berjalan di belakang di belakangnya. Benar-benar seperti bodyguard. Mereka membeli banyak barang juga assesoris couple, hal yang tak pernah kulakukan bersama Sehun.semenjak kita menikah. Kadang Taeyong yang memilih kadang juga Seulgi. Tapi ujung-ujungnya tetaplah Taeyong yang membayar.

Saking asyiknya aku memandangi mereka berkencan aku sampai tak menyadari dimana mataku tertuju sekarang. Sebuah jaket yang dipasang pada sebuah etalase. Entah mengapa jaket itu menjadi lebih menarik. Brand kesukaan Sehun. Timbullah niatanku untuk membelinya. Dia kan sudah membelikanku gaun cantik, apa salahnya jika aku membelikannya pula.

Baiklah, segera kulangkahkan kaki menuju ke dalam. Kuabaikan harga yang terlalu mencolok itu hanya demi membayangkan kebahagiaan dia memakainya. Barulah saat aku melangkahkan kakiku ke kasir sebuah tangan tiba-tiba juga menyodorkan barang yang sama. Tangan seseorang wanitayang sekarang sedang memandangku.  

Naomi…

***

Sungguh tak pernah kubayangkan bahwa aku bertemu dengannya di tempat ini atau dalam waktu yang secepat ini. Bukankah tempat tinggalnya di Jepang? Mengapa dia bisa berkeliaran di tempat ini? Oh iya, aku lupa bahwa dia adalah seorang model, tentu saja dia harus berkeliaran di mana-mana untuk pekerjaannya itu. Dan karena dia model pun dia merasa berhak untuk mengajakku mengobrol di sebuah cafe yang lokasinya tak jauh dari tempatku berada.

Terpaksa ku katakan pada Seulgi dan Taeyong untuk kembali terlebih dahulu meninggalkanku bersama gadis, yang dengan terpaksa lagi kuakui sebagai saudara jauhku. Aku hanya tidak mau saja dia terlalu banyak tanya hingga membuatku semakin lama bersamanya.

“Kita belum memperkenalkan diri secara resmi, perkenalkan aku Naomi Ishada.” Akhirnya dia mulai berbicara setelah sekian lama bungkam. Kujabat tangan itu dan dengan cepat kubalas.

“Bae Joo Hyun, tapi panggil saja aku Irene.” Aku melempar senyum. Dia sedikit melirik ke arah leherku, memandang kalung yang sama dengan apa yang dipakainya di lehernya. Dia pasti bingung. Tapi sudahlah setidaknya Sehun sudah menjelaskan bahwa kalungnya itu palsu. Kalungku yang asli.

“Kau lebih cantik dari yang terlihat di TV.” Ujarnya yang entah sebuah pujian untukku atau malah cercaan. Tapi untuk berikutnya dia berkata lagi, “Bolehkah aku berbicara terbuka kepadamu?”

“Tentu saja, silahkan.”

“Aku mencintai suamimu.” Tukasnya langsung. Tak kusangkah  maksudnya dengan berbicara terbuka adalah berbicara secara terang-terangan seperti ini. Ya, aku tahu dia mencintai Sehun tapi haruskah aku menerimanya begitu saja?

“Tidak apa-apa, banyak yang mencintainya kok.”

“Aku bukan fans-nya. Aku mencintainya terlepas dia seorang idol atau bukan.”

Aku memasang senyum. Alasan klasik. Aku tahu dia mencitai Sehun baru-baru ini. Lantas kemana dia dulu yang menelantarkan Sehun dan sekarang dia mau mengambilnya kembali. “Apa kau tahu, dia kan sekarang sudah jadi milikku.” Ujarku sinis.

“Ya ya ya, untuk itulah aku perlu izinku untuk mengambilnya kembali.” Katanya sembari tersenyum meremehkanku. Berani sekali gadis ini. Jika aku bukan seorang publik figur aku pasti sudah menjambak rambutnya di depan umum. Kuhirup nafas panjang-panjang untuk menenagkan diri. Gadis ini harus diberi pelajaran dengan cara halus.

“Kau tahu bukan, dulu Sehun sangat mencintaiku. Kuakui kebodohan terbesarku adalah menyia-nyiakannya.” Ucapnya.

Ya, kau memang bodoh karena menyia-nyiakan seseorang dan lebih bodohnya kau ingin mengambilnya kembali. Tentu aku tak mau ikut-ikutan disebut bodoh jika menyetujui permintaannya. Apalagi setelah semua yang kualami bersamanya.

“Aku masih belum percaya saat kau tiba-tiba datang diantara kita, menyetujui pernikahan itu begitu saja bahkan sebelum kau mengenalnya. Aku benar kan?”

Hei! Dia tidak boleh sok tahu begitu. Dia tak tahu apapun!

“Dan motifmu itu, apa perlu aku membukanya di sini?” Tanyanya yang semakin mengintimidasi. Mataku sudah mencari-cari benda sekitar yang nantinya ingin kulemparkan kepadanya nanti.

“Tidak… semua orang akan menganggapmu wanita jalang jika aku membukanya. Jadi biarkan alasan itu tersimpan dalam drimu saja dengan syarat kau harus mengembalikan Sehun padaku adil bu…-

BYUUURRRR…! Tanganku berhasil merahi gelas berisi orange jus dan menyiram ke mukanya. Dia pastinya sangat terkejut dengan apa yang kulakukan. Tapi aku juga sangat terkejut dengan apa yang barusan dia katakan.

“Kita baru bertemu lima menit, tapi kau sudah berbicara banyak hal tentangku. Kuperingatkan padamu agar kau jangan sok tahu lagi kepada kehidupanku. Umurmu masih muda bukan, bukankah lebih baik melakukan hal yang berguna dibanding kegiatan merebut suami orang. Jika begitu, apa bedanya kau dengan wanita jalang HAH?” Cercaku habis-habisan.

Dia memandangku tanpa kedip. Sedikit terkejut, matanya mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa dilemparkan ke mukaku. “Bagus, kau mulai berani kepadaku sekarang?” Ujarnya perlahan namun sorot matanya menyimpulkan adanya ancaman.

“Untuk apa aku takut,  dia akan tetap bersamaku telepas dari adanya kau atau tidak. Jadi kuperingatkan kau jangan berbicara seperti itu lagi denganku, karena masa lalu itu tidak akan merubah apapun. Mengerti?” Segera kuraih tasku dan berniat pergi dari tempat itu. Sebelum sempat gadis itu mulai bicara perlahan. Sebuah kata-kata yang benar-benar bisa meruntuhkan pertahananku.

“Akan kubawa masa lalu itu hingga menghancurkan keadaan sekarang….”

***

Sehun POV

Sebuah mobil berhenti tepat di perataran rumah kami, yang kumaksud kami adalah rumahku bersama Irene, yang tepatnya ku beli sebagai penunjang kehidupan rumah tangga kita. Rumah itu berada di pinggiran kota yang sepi penduduk. Dengan begitu tidak khawatir orang lain mengetahuinya. Kulihat sseorang gadis baru keluar dari mobil. Tampangnya lebih kusut dari biasanya. Sengaja aku menunggu di luar agar aku bisa menyambutnya. Tapi yang dia berikan malah ucapan sinis seperti biasa.

“Kau sudah pulang, kenapa tidak masuk dulu?” Orang itu berniat mengacuhkanku dengan membuka pintu dan masuk terlebih dulu.

“Beginikah caramu menyambut suamimu, benar-benar kebiasaan.” Ujarku sinis. Mengikuti dirinya yang bersandar di atas shofa. Hari ini memang begitu melelahkan. EXO harus menghadiri siaran On Air di empat tempat berbeda. Belum lagi besok kita harus berangkat ke Jepang untuk melakukan tour dua hari. Belum kukatakan kepadanya tentang hal itu karena ku tahu dirinya juga sangat sibuk dengan persiapan comeback Red Velved.

Saat kulihat wajahnya sekali lagi, aku merasa memang ada yang tidak beres dengannya. Dia berselonjor di atas shofa. Menundukkan kepala seolah ada beban berat yang dipikulnya. “Kau kenapa, ada masalah?” Tanyaku membelai rambutnya.

“Aku bertemu wanitamu itu hari ini.” Ujarnya layu. Sedikit tak suka dengan cara dia menyebut Naomi wanitaku. Tapi sebenarnya bagus juga. Dia mulai terbuka kepadaku. Bukankah sepsang suami istri tidak memendam masalah sendiri.

“Lalu?”

“Dia mengancamku bahwa dia akan membawa kembali masa lalunya itu dengan merebutmu dariku.” Sedikit senyum hadir menghiasi wajahku. Ternyata permasalahan klasik, bahwa kedua wanita ini memang sengaja memperbutkan diriku. Benar kan, aku memang pantas diperebutkan.

“Lupakan, katakan padanya bahwa itu tidak akan berhasil.”

“Sehuuunnn… dia mengancamku. Aku benar-benar benci diancam seperti itu. Bukankah kau sudah memberikan ciuman itu agar dia tidak mengganggu kita lagi, tapi mengapa dia tetap menganggu?”

“Kau ini bicara apa, jika kau mau aku bisa menciummu sesering mungkin.” Sedikit basi dari pembahasan kita kali ini. Tidak seharusnya Irene membicarakan hal yang sudah lewat. Dia masih saja mengerucutkan  bibir layaknya anak kecil yang takut mainannya direbut. Dalam hal ini akulah yang benar-benar menjadi mainanya.

“Sudahlah, ada hal penting yang harus kubahas.” Ujarku lirih dan dia menunggu. “Besok aku akan ke Jepang selama dua hari.”

Tak ada sahutan. Dia diam dalam waktu yang lama. Wajar jika dia merasa marah. Ini adalah hari-hari pertama kita berbaikan sebagai suami istri tapi aku langsung pergi meninggalkannya. “Maafkan aku yah, kau memang berhak marah.”

“Hei, apa yang kau katakan, aku tidak marah.”

“Benarkah?”

“Ya, aku tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Kita sama-sama seorang idol dan harus menjalankan kewajiban sebagai publik figur. Jika besok kau harus berada di Jepang bukankah itu yang namanya resiko mencintaimu?” Katanya yang membuatku sukses membeku. Astaga dia sangat imut. Bahkan untuk saat ini dia lebih sering mengungkapkan perasaan cintanya itu. Benar-benar imut cara dia mengatakannya.

“Asal jangan sampai aku memergokimu bertemu dengan wanita itu, bukankah dia orang Jepang?” Sambungnya. Rupanya dia selalu menyebut Naomi dengan kata wanita itu.

“Katamu dia sedang ada di Korea, bagaimana bisa kita ketemu di Jepang?”

“Bisa saja dia mengikutimu ke Jepang. Dia kan memang sangat terobsesi denganmu?”

“ Sayangku, itu tidak mungkin, lagi pula aku sudah membuat janji dengan seseorang disana.”

“Siapa?” Dia bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Maria Ozawa…”

“HYAAAA!” Pekiknya berniat memukulku. Syukurlah aku berhasil menarik lengannya lebih dulu. Menguncinya dalam gerakan kilat hingga dia sama sekali tak bisa berkutik. Aneh memang. Jika sebelumnya dia terus melawan, tapi sekarang dia malah menyandarkan kepala di dadaku. Merasakan debaran jantungku yang sudah tak beraturan akibat perlakuan agresifnya ini.

“Malam ini… apa aku bisa meminta itu darimu, waiters?” Dia agak terkejut dengan kiasan yang kupakai. Mengingat proyek perubahan proposal pada point empat tadi pagi, aku memang sudah boleh memintanya bukan.

“Aku sebenarnya ingin memberikannya tuan, hanya saja ada tamu lebi dulu yang menghampiriku.” Jawabnya dengan kiasan pula.

“Ooo… tamu yang datang setiap bulan itu yah?” Dia mengangguk. Menyimpan senyum diantara kegilaan kami berdua. Malam ini adalah malam terbahagia yang pernah kulalui bersamanya. Sungguh bagaimana mungkin aku bisa melepaskan wanita sebaik dia, selucu dia, seimut dia. Sekalipun aku jarang mengatakannya, tapi akan kuungkapkan malam ini sekali lagi.

“Bae Joo Hyun, saranghae…”

“Nado…”

“Aku peluk sampai pagi yah?” Dan dia mengangguk tersenyum sepertiku.

***

hello~ I’m back. Ah seperti biasa ini part minim editing jadi typo pasti banyak banget, lagi-lagi maklumin ya. Sekalian mau pamitan, abis ini aku mau KKN jauhhh banget sampa ke Planet EXO. Tau kan, di sana nggak ada sinyal. Banyak ancaman (tugas) juga. Jadi mohon maaf untuk part selanjutnya mungkin agak lama.

Dan kayaknya pada yang mau berandai-andai, part ini belum selesai guys. Ada banyak masalah yg belum terselesaikan, kayak alasan Irene nerima perjodohan sama rahasia masa lalu yang masih diungkit-ungkitin Naomi. Dan kalo kalian penasaran, ya udah tunggu aja hehehehe

24 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Proposal Married (Chapter 5)”

  1. Ooww kebayang malunya kaya.apa dah tuh si irene bangun tidur.. Sehun kenapa dia jail jaio gemes gitu yah jadi greget liatnya hehe
    Tapi ff ini karakternya dapet bgt thor, serasa irene sama sehun beneran jadian di kehidupan nyata mereka
    Tapi semoga ini hanya fanfic hehe kalo terjadi beneran pasti ngga siap kan wkwk

  2. Aku suka bagian awal dan akhir. Dan sedikit terganggu dibagian tengah. Terutama pas mak lampir naomi muncul gitu aja ngajakin ngobrol tapi malah ada maksud terselubung. Kan nyebelin. Semoga aja sehun bisa ngelindungin irene. Dan buat mak lampir naomi semoga cepet sadar deh ._.
    Ditunggu kelanjutannyaaaahhh. Semangaat!!
    -XOXO

  3. Ihhh.. Itu si naomi gila bikin kesel tingkat akut. Ceburin aja dia ke sungai han. Dasar hama/perusak, pengganggu.

    Sehun oppa so sweet ahh..
    Next kak dtunggu klanjutanya^^

  4. akhirnya diupdate jga. udh lama bgt nungguin ini thor….udh sneng bahagia2 eh malah si naomi dtang mau ngancurin. tpi aku yakin sehun bakal ttep sma irene. mreka itu sweet bgt…semoga part selanjutnya jngan kelamaan pake bgt bgt ya thor, aku tunggu ya thor

  5. Oowwhh sooo sweett …
    Mereka cocok banget.. Suka suka ^^

    ternyata naomi masih muncul jg toh.. Kirain udah ilang di telan bumi :v
    doa ku belum ampuh ternyata :v

    next next author ^^
    fighting

  6. Naomi kok muncul lg sih kan udah dikiss sma sehun oppa…pergi sono yg jauh nggk usah ganggu rumah tangga orang..😈😠

    Sehun oppa sma irene so sweet😍😍😍
    Keren thorrr…next ya thorr😊😊Fightingggg💪💪💪

  7. Naomi ngeselin banget sih jadi kesel sendiri
    Udah tau sehun milik irene tetep aja pengen ngehancurin
    Penasaran sama kelanjutannya^^

  8. akhirnya rilis juga chap5 nya. ih irene masih kek gitu aja deh -_- diambil naomi ntr nangis loh? ditunggu nextnya authornim ^^ fighting

  9. Akh naomi pengacau banget -_- haters gonna hate ya… semoga sehun ngak tergoda. Oke selamat menjalankan ibadah KKN kak wkwk 😀 semiga dapet inspirasi di sana… fighting….

  10. Akutu suka sm mereka berdua,pasangan aneh,lucu,romantis,manis keren deh pokoknya
    Akhirnya udh baikan,udh jd suami istri yg selayaknya pasutri lain😂😂
    Iya nih aku penasaran knp irene nrima aja pas dijodohin sm sehun *kl aku sih ya nrima2 aja dg senang hati* trs jg rahasia masa lalu irene,kok malah naomi tau ya?hmm penasaran akuu
    Apah?mau kkn kak?yaampun bakalan nambah lama lg nih apdetnya😢😢kuingin menangos😢😢
    Next kakak..fighting nulisnya..fighting jg kkn-nya💪💪

  11. Ohse kau sungguh pervert! Grrr ahhh tapi aku suka mereka, pasangan yang lucu
    Cie cie sehun baikan sama suha haha cie cie sehun bisa rasenggan wkwk dasar kai

    Wah wah wah naomi bin aneh minta dihajar ya, gak tau malu bnget tuh orang sampe mau ngrusak hubungan rumah tangga orang lain ckck dasarrrr!!!!

  12. Aahhh makin hari hunren makin soswittt ajaa ihh sukaa gapapa kok kak tetap bakalan aku tungguin karna aku penasaran bgt dg kelanjutannya ditunggu yaa okeoke?
    Fightingg!!

  13. Selama menjalani rumah tungga, saudara Bae Joo Hyeon harus memberikan pelayanan spesialnya sebagai istri tiap malam.

    Dasar setan penggoda! Ente kira Irene apaan memberikan pelayanan tiap malam? -,-
    Naomi = sasaeng fans deh 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s