[EXOFFI FREELANCE] Miracle In December (Chapter 3)

hgh

Title : Miracles In December (Chapter 3)

Author : Kim Hazzel

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Brothership, Sad.

Rating : Teen

Main Cast :  

Oh Sehun

Xi Luhan

Choi Ah Ri (OC)

Lee Stella (OC)

Additional Cast :

Member EXO

Ji Yoon Hee (OC)

Ji Gwang Soo (OC)

Kim Hyeri (OC)

Summary :  

Ia akan segera mendekati pusat rasa sakitnya. Ia menundukkan kepalanya sejenak lalu menghembuskan napas secara perlahan. Inilah waktunya.

Desclaimer : Hello readers semua. Ini ff buatan author sendiri. Hasil karya author 100%. Ini ff lanjutan Miracles In December. Semoga masih sesuai reader semua.

^^Don’t bash. Don’t be silent readers. Tinggalkan jejak setelah membaca. Warning, typo bertebaran. Terima Kasih.

^^SELAMAT MEMBACA ^^

[Chapter 3]

“Annyeong Hasseyo,”

Yoon Hee yang terkejut mendapat tamu yang tak terduga hanya diam saja, “Eh… Dr…” katanya terbata-bata. Tamu itu hanya tersenyum, “Ne, senang bertemu denganmu lagi.” katanya itu sambil tersenyum.

“Mau apa kau disini?”

“Ah.. ini.. aku baru saja pindah di rumah depan. Mohon bantuannya,” katanya lagi sambil membungkuk. “Ah.. ini juga ada sedikit oleh-oleh,” tambahnya.

Yoon Hee langsung saja menerima bungkusan yang diberikan tamu itu, “Bagaimana kalau kau masuk dulu?” ajaknya namun dia menolaknya dengan sopan dengan alasan ada anak kecil yang harus diurusnya dirumah, “Baiklah. Kali ini kau boleh menolak tapi tidak untuk lain kali.” tambah Yoon Hee yang hanya dijawab anggukan mantab dari orang itu.

Sehun yang sedari tadi masih berdiri ditempatnya mendengarkan semua obrolan singkat itu. Tidak salah lagi. Ia membalikkan tubuhnya, namun yang dilihat hanya Yoon Hee yang menutup pintu sambil membawa bungkusan. “Siapa itu tadi?”

“Itu tetangga baru yang tinggal didepan rumah kalian. Kenapa?”

“Siapa namanya?”

“Nama?” Yoon Hee diam sejenak, “Entah.. Aku juga tak tahu namanya.” tambahnya.

“Hya, bagaimana bisa kau tidak tau namanya tapi, kau mengajaknya masuk dan begitu akrab dengannya?” tanya Chanyeol.

“Itu.. karena menurutku dia sangat keren.”

“Apa?” tanya Chanyeol yang sepertinya cemburu.

Member lainnya hanya melihat mereka berdua sambil tersenyum, namun hanya Sehun yang hanya diam saja.

“Dia sangat keren. Kau ingat ceritaku waktu ada kecelakaan beberapa minggu lalu? dia lah yang menyelamatkannya..” jelas Yoon Hee sambil mengingat-ingat kejadian beberapa minggu lalu. “Wah.. dia benar-benar dokter yang keren.” tambahnya.

“Hya Ji Yoon Hee!!” bentak Chanyeol.

“Dokter?” tanya Sehun pada dirinya sendiri. Seperti mengerti apa yang sedang dialaminya saat ini, ia langsung berlari keluar. Ia yakin. Benar-benar yakin. Ia tak akan salah lagi kali ini. Ia harus mendapatkannya. Tanpa memerdulikan hawa dingin yang mulai menusuk-nusuk tulangnya, Sehun tetap saja keluar rumah dan melihat sekelilingnya. Matanya tertuju pada kotak-kotak yang terdapat di halaman rumah depan rumahnya.

Perlahan ia mendekati rumah tersebut dengan perasaan yang tak karuan. Jika ia tidak salah, ia akan segera mendekati pusat rasa sakitnya. Ia menundukkan kepalanya sejenak lalu menghembuskan napas secara perlahan. Lalu ia mulai membuka pintu gerbang rumah bercat putih itu dengan hati-hati. Ia melihat sekelilingnya secara perlahan. Tiba-tiba saja ia merasa sakit yang amat sakit didadanya. Apa yang terjadi padaku? batinnya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat untuk menahan rasa sakit yang saat ini dialaminya.

“Sehun-a…”

Diam. Terkejut. Itulah yang dirasakannya saat ini. Suara itu. Ia mencoba menegakkan kepalanya dan… “Luhan hyung?”

***

Dia terus memperhatikan laki-laki berambut hitam itu dengan seksama. Kesedihan, kekecewaan, kemarahan. Bagaimana ada banyak sekali emosi yang ada diwajahnya. Stella terus saja mengamatinya. Entah kenapa laki-laki itu telah mengambil perhatiannya. “Lihat apa?” kata Luhan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Bukannya menjawab, Stella hanya mengamatinya. Luhan yang merasa seakan akan ditelan oleh bumi menghentikan aktifitasnya mengeringkan rambut karena Stella terus melihatnya dengan death glarenya, “Apa?” tanyanya sambil mengalihkan matanya.

“Jika kau muncul lagi didepannku dengan keadaan seperti itu. Kubunuh kau.” kata Stella lalu kembali melihat ke jendela. Seketika itu juga Luhan langsung melihat dandanannya. Dan jelas saja Stella marah. Ia hanya mengenakan handuk untuk menutupi pinggang sampai lutut dan topless.

“Hya.. kenapa kau tak bilang dari tadi!!” teriaknya sambil berlari menuju kamar untuk memakai baju. Hal itu, tak ayal membuat Stella tersenyum.

“Eh… mau apa dia?” Stella bertanya pada dirinya sendiri ketika melihat laki-laki yang tadi menarik perhatiannya memasuki halaman rumah Luhan. Ia terus mengamatinya, tapi kenapa ia sepertinya pernah melihat laki-laki itu. Tapi, dimana?

Stella reflek berdiri ketika melihat laki-laki itu memegang dadanya sambil mengepalkan tangan kanannya, “Apa dia sakit?” ia terus saja memperhatikannya. Memperhatikannya dari atas sampai bawah. Apakah dia sudah gila keluar rumah tanpa memakai mantel? Apakah ia tidak kedinginan?

“Lihat apa?” Stella hanya menunjukkan keberadaan laki-laki itu dengan dagunya untuk menjawab pertanyaan Luhan. “Dia bodoh sekali. Apa dia tidak kedingingan hanya menggunakan kaos tanpa mantel?” tambah gadis itu seakan tidak mengerti Luhan sedang berdiri mematung ditempatnya.

Tidak salah lagi. Ia harus segera menghampirinya. Setidaknya itulah yang dia pikirkan. “Luhan-a.. kau mau kemana?” tanya Stella ketika melihat Luhan lari begitu saja.

Sekali lagi, ia melihat laki-laki itu. Kenapa ia merasa pernah melihatnya sebelumnya. Ia melihat laki-laki itu sekarang mendongakkan wajahnya sambil menutup matanya. Melihat hal itu, ia tiba-tiba merasa pusing. “Ah.. sial.. kenapa bisa kambuh lagi?” rutuknya lalu mengambil obat yang disimpannya ditas.

***

“Ah… aku lapar sekali,” kata Baekhyun sambil mengelus-elus perutnya.

“Bagaimana kalau kita pesan Chicken saja?” tambahnya.

“Chicken?” Lay kelihatan berpikir sambil memiringkan kepalanya, “Tidak mau, apa kau tak bosan?” tambahnya.

“Em… bagaimana kalau curry ramyeon saja?” usul Xiumin.

“Ok.. Cua,” kata Chanyeol, “Sehun-a… cepat pesankan.” tambahnya. Namun, mereka tiba-tiba sadar kalau Sehun tak ada di sekitar mereka.

“Dimana dia?” tanya Suho yang hanya dijawab gelengan kepala oleh semua member.

“Hyung,” semua member mengalihkan pandangannya kearah suara. Namun, bukannya menjawab. Mereka hanya terdiam. Melihat kedua orang yang saat ini sedang berdiri berdampingan.

“Sehun a…” kata Lay, “Bagaimana kau.. kau.. Luhan?” tambahnya sambil terus menatap Luhan.

“Lama tak bertemu, bagaimana kabar kalian?” sapa Luhan pada teman-temannya atau lebih tepatnya mantan rekan kerjanya.

Semua member hanya terdiam. Melihat kebingungan yang sangat jelas diwajah hyungnya. Sehun berinisiatif untuk menjelaskannya. Bagaimana ia bertemu dengan Luhan.

“Luhan-a…”

“Apa? kau merindukanku Baozi?” Bukannya menjawab pertanyaan Luhan, Xiumin langsung memeluknya begitu juga dengan member lainnya. Akhirnya mereka semua mewawancarai Luhan. Bagaimana hidupnya saat ini. Dan apapun tentang Luhan.

“Apa? kau.. dokter?”

“Jinjja?”

“Aish.. tidak mungkin.”

Sehun hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat Hyung-hyungnya menyerbu Luhan, “Hya kenapa kalian tidak percaya? Bukankah itu keren?” kata Sehun.

“Apaan ini? setelah Hyung kesayanganmu kembali, kau melupakanku?” kata Suho pada Sehun karena telah membela Luhan.

“Ah.. Jadi, kau yang telah merebut Sehunie dariku?” canda Luhan pada Suho yang disambut tawa dari semua member. Sehun hanya bisa tersenyum melihat semua hyungnya berkumpul, ya meskipun hanya satu. Namun, tetap ia merasa bahagia.

Sehun pun beranjak dan pergi ke halaman belakang rumah kakek Chan. Luhan yang melihat itu langsung mengikutinya dan ikut duduk disampingnya. “Sehun-a..”

“Ne?” balas Sehun dengan formal.

“Hya, apa kau masih marah denganku?”

“Tidak,” masih dengan formal.

Luhan yang mendengarnya hanya mempoutkan bibirnya, sedangkan Sehun menahan tawanya, “Lalu kenapa kau berbicara formal padaku?

“Hahahhaha…. aku tidak marah padamu hyung,” kata Sehun dengan informal. Luhan pun menghembuskan napasnya lega.

“Mian..” seru mereka bersamaan. Mereka pun tertawa bersama.

“Sehun-a.. maafkan aku, karena sudah meninggalkanmu dan yang lainnya,” kata Luhan sambil menundukkan kepalanya.

Sehun menghela napas berat, “Tidak. Aku yang harusnya minta maaf, aku terlalu menyalahkan dirimu karena kau meninggalkan kami. Terutama meninggalkanku. Harusnya aku mendukungmu untuk meneruskan cita-citamu sebagai dokter, tapi aku…”

“Sudahlah,” potong Luhan. “Aku tidak apa-apa, lagipula sekarang aku sudah menjadi dokter yang handal. Ya, meskipun yang kedua.”

“Kedua? Hya hyung. Kau meninggalkanku dan menjadi nomor dua?” kata Sehun sambil mencibir, “Siapa yang berani merebut posisi hyungku?” katanya sambil menyisingkan lengan bajunya. Luhan yang melihatnya hanya tertawa. Adiknya sudah kembali, setidaknya itulah yang dia pikirkan.

“Hya, duduklah.” katanya sambil menarik Sehun untuk kembali mengajaknya duduk, “Dia memang dokter yang terbaik. Aku mengakuinya.”

“Hya hyung..”

“Jangan memotong ceritaku,” katanya sambil memandang death glare pada Sehun, “Dia adalah dokter yang terampil. Mungkin dari lahir dia suah ditakdirkan untuk jadi dokter. Tapi, dia sangat kejam. sangat sangat kejam. Jika marah ia akan melenyapkan apapun yang ada didepannya.” seru Luhan, Sehun hanya mendengarkan sambil terus menatap hyungnya dengan senyuman.

“Dan ini lah yang terpenting. Dia sangat sangat cantik,” akhir penjelasan Luhan.

Sehun hanya menatap hyungnya sambil tersenyum, “Kau menyukainya kan?”

“Apakah menurutmu sangat jelas?” tanyanya yang hanya dijawab anggukan oleh Sehun.

“Ya, kurasa aku menyukainya.”

“Aku tahu.”

“Lalu, Sehun-a.. Bagaimana dengan cinta pertamamu? Apa kau masih memimpikanya?” tanya Luhan yang tiba-tiba teringat tentang adiknya yang dulu sering memimpikan cinta pertamanya itu.

Sehun memejamkan matanya sambil menengadahkan wajahnya, “Masih,” jawabnya singkat.

“Kenapa kau tidak melupakannya saja? Bukannya sudah 7 tahun?”

“Tidak bisa. Mungkin aku terlalu mencintainya.”

Luhan menepuk pundak adiknya itu, “Dia sudah berada di dunia yang berbeda denganmu Sehun-a..”

“Aku tahu. Tapi hyung, akhir-akhir ini aku merasa ia ada didekatku. Sangat-sangat dekat.”

“Sehun-a…”

“Aku tidak akan melupakannya sampai kapanpun. Karena aku tahu, dia masih ada. Kau mungkin berpikir aku gila hyung tapi, itulah yang aku rasakan.”

Luhan hanya menatap adiknya iba, melihatnya seperti itu. Seakan ia ingin melakukan apapun agar Sehun bisa bahagia, “Semoga apa yang kau rasakan itu benar,” katanya akhirnya.

Sehun menengadahkan wajahnya menatap langit. Aku mencintaimu 7 tahun yang lalu. Aku mencintaimu saat pertama kali aku melihatmu bermain basket. Aku mencintaimu saat kau tersenyum. Dan sampai saat ini, aku masih mencintaimu. Stella. Apakah kau merindukanku? Karena disini aku sangat sangat merindukanmu, batin Sehun.

***

TBC. Nantikan chapter selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Terima Kasih ^^

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Miracle In December (Chapter 3)”

  1. Sedih chapter ini ='( tapi pas mereka kumpul sama luhan jadinya seneng banget. Pengen deh mereka semua kumpul lagi ='( ='(
    But sehun sama luhan bakal rebutan nie..

  2. Wa wa waaaaaaa jadi mereka suka sama orang yg sama??? Uwaaaahhhhhhh gatau nanti mana yg mau ngalah. Semoga berakhir bahagia deehhh. Ah iyaa aku suka kali ini ceritanya lebih panjang hehehe. Semangaaatttt!!!
    -XOXO-

  3. ceweknya meninggal karena apa? apa mungkin stella yang selama ini sama Luhan cinta pertama Sehun? bikin penasaran 🙂

    ditunggu chapter selanjutnya kak 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s