[EXOFFI FREELANCE] Faded Away (Chapter 3)

PicsArt_05-15-05.56.49

Demon yang semakin kuat jika rasa bencinya semakin besar, namun sayangnya, semakin besar pula rasa cintanya, ia akan bertambah lemah.

 

Title: Faded Away

Author: yusa

Lenght: Chaptered

Genre: Fantasy, Romance

Rating: PG 15

Main Cast: Oh Sehun, Song Danah (OC), Luhan, Kim Jongin, Kang Seulgi

Desclaimer: Fanfic ini murni buatan saya dan sudah pernah dipublish di wattpad dengan username: yusa-s

 

DANAH POV

 

Luhan mengangguk. “Apa kau mungkin adalah orang yang spesial baginya?”

 

Aku menggeleng bingung. “Aku tidak pernah bertemu dengannya sekalipun.” ucapku dalam. Kami terdiam beberapa saat karena Luhan tampak diam dan berpikir keras, sampai sebuah suara mengangetkanku.

 

“Song Danah, penderitaan ini bukanlah apa apa dibandingkan dengan penderitaanku dan penghancuran terburuk yang keluargamu berikan pada masa lalu.”

 

Aku mengernyit. โ€œJangan bercanda. Kau pikir itu lucu?โ€

 

Aku mengerutkan kedua alisku bingung. Suasana menjadi hening dan mencekam ketika detapan sepatu Sehun yang menuruni tangga perlahan itu menggema dirumah mewah ini. “Tapi tak masalah, asalkan kau akan memberiku kekuatan untuk membalaskan dendamku.”

 

Luhan menjauh dariku. Pria cantik itu berlutut didepan Sehun setelah pria itu menghentikan langkahnya. Luhan tidak menatap bola mata Sehun sekalipun. Ia hanya menunduk, seperti sedang menunggu perintah dari sang majikan. Apa ini yang ia bilang Sehun memperlakukannya dengan baik?

 

Sehun hanya menatap Luhan yang sedang berlutut dihadapannya itu dengan tatapan malas. Sehun mendecak, membuat Luhan tergesa untuk mencari sesuatu didalam kantongnya dan aku mendapati ia mengeluarkan sapu tangan berwarna putih dan membersihkan sepatu Sehun dengan turut.

 

Aku adalah orang yang tidak bisa melihat ketidak sopanan dan ketidakadilan. Memang Luhan berkata bahwa kaum Oprus memang ditakdikan untuk menjadi budak demon, namun apakah ini terlalu kejam? Dengan segenap keberanianku, aku megang kuat lengan Luhan dan menyuruhnya berdiri dengan paksa, namun pria itu menyenggol lenganku pelan berulang kali dengan tatapannya yang masih menunduk. Aku bisa merasakan pria itu takut setengah mati.

 

“Hei, kau tidak bisa memperlakukan orang dengan seperti itu! Memang kau pikir dirimu siapa? Apa kau tidak pernah mengenal hal yang bernama kasih sayang dan cinta?!” seruku kencang. Aku tak tahu dimana aku mendapatkan keberanian seperti itu untuk tingkat berbicara dengan seorang demon, namun aku benar benar marah.

 

Pria berkulit pucat itu kembali mendecih. “Kasih sayang dan cinta? Siapa yang membutuhkan hal sampah seperti itu?”

 

Aku memandang pria itu dengan tatapan tak percaya. Orang macam apa yang tidak membutuhkan kasih sayang? Aku terus memandang kedua bola mata cokelat kelam yang balik menatapku, tak kupedulikan Luhan yang sudah hampir berpuluh kali menyenggol lenganku.

 

“Aku yang akan mengajarkan apa itu kasih sayang padamu.” Sebenarnya, aku tidak sadar aku telah berkata hal itu padanya. Mungkin saja ia bisa salah paham. Sialnya, aku baru sadar akan resiko ucapanku beberapa detik setelahnya. “Cepat katakan, Sehun. Kenapa kau membawaku kedunia ini?” ucapku dengan nada yang tertahan. Tatapanku semakin tajam kearah dua bola mata cokelat kelam itu.

 

Ia memutar bola matanya malas. Sesekali melirik kearah Luhan yang sedang ketakutan bersembunyi dibelakangku. “Lepaskan Luhan.” ucapnya singkat.

 

“Luhan tidak pantas untuk kau perlakukan seperti itu. Lagipula aku yakin, kaum Oprus ditakdirkan bukan untuk menjadi budak. Melainkan pendamping.” Aku mengunci tatapannya dengan erat. Remasan tangan Luhan pada lenganku terasa merenggang. Aku tebak pria itu pasti sedang menatapku dengan tatapan tak percaya.

 

“Sehun, kumohon. Aku ingin kehidupan lamaku kembali.” Setelah kediamannya beberapa saat, akhirnya aku membuka pembicaraan kami lagi. Tatapan Sehun kebawah. Dimana lantai lantai dingin itu terinjak oleh kaki kaki telanjang kami. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ia coba pikirkan, namun ia terlihat berpikir sangat keras.

 

“Aku akan mengembalikan kehidupan lamamu ketika aku telah mendapat kekuatan darimu.” Sehun mengalihkan tatapannya dari kaki kaki kami. Apa ini? Memangnya aku bisa berbuat apa untuknya? Memberinya kekuatan? Apa sesuatu dalam tubuhku diincarnya? Bulu kudukku merinding ketika Sehun melangkahkan kakinya satu langkah lebih dekat denganku.

 

Aku hanya terdiam. Tidak ada rasa takut sedikitpun. Aku yakin jika Sehun berkata aku akan memberikan kekuatan padanya, ia tak mungkin menyakitiku. Sehun merogoh saku celana selututnya pelan dan mengeluarkan sebuah jam tangan wanita berwarna silver dan bertali kecil itu. Aku tak tahu sejak kapan benda itu berada didalam sakunya. Ia menyodorkan jam tangan itu padaku. “Pakailah, didalamnya terdapat hari, tanggal, bulan dan tahun juga.”

 

Aku mengambil jam tangan itu perlahan. Aku meneletukinya beberapa saat sampai Sehun berdeham dan aku segera memakai jam tangan itu. Sekarang adalah bulan Januari dan tanggal dua. Apa ini tahun baru? Aku mengalihkan tatapanku dari jam tangan itu, melainkan wajah datar didepanku.

 

Sehun berdeham sekali lagi dan menatap Luhan yang masih sedikit ketakutan itu, lalu menunjuk kesembarang arah dengan dagunya, mengisyaratkan Luhan untuk segera pergi. Dengan cepat, pria cantik itu berlari kecil kearah pintu, entah itu pintu apa sebelum punggungnya menghilang dibalik pintu putih itu.

 

“Aku hanya ingin memberitahumu. Bahwa kau sekarang berada didunia dimana semuanya terjadi jika dirimu tidak terlahir. Orang tua, kekasih, maupun sahabatmu, kau masih bisa melihatnya, namun mungkin mereka tidak mengenalmu. Semua kejadian akan sama, asal hal itu tidak bersangkutan denganmu. Jadi berhenti bertanya kau sedang ada didunia mana dan aku sudah membelikanmu jam tangan itu.” ucap Sehun.

 

Sekarang aku mengerti. Aku melirik jam tanganku sekali lagi dan berusaha mengingat kejadian apa yang terjadi pada awal tahun tanggal dua ini. Ketika aku mengangkat wajahku dan mengalihkan tatapanku dari jam tangan itu, Sehun telah tidak ada dihadapanku. Bagaimanapun juga, ia demon. Demon yang mempunyai teleportasi. Sungguh mengagumkan.

 

Sesaat, aku kembali terperangah. Tiga tahun sebelum kehidupan asliku dan tanpa adanya diriku didunia, aku sangat mengingat ketika Baekhyun kecelakaan pada umur tujuh belas tahun saat ingin menyebrang jalan. Awal bulan, tanggal dua dan memang itu terjadi tiga tahun yang lalu jika dihitung dari kehidupan lamaku.

 

Jantungku berdetak kuat. Dikehidupan ini, aku akan menyelamatkan orang orang tersayangku, meskipun mereka tidak mengingatku. Aku berlari kearah pintu yang Luhan buka barusan. Ternyata dugaanku benar, itu adalah pintu untuk keluar dari rumah gigantik itu.

 

Keluar dari rumah ini seperti tahanan yang mengangankan langit luas. Sedikit takut, entah kenapa. Dunia terasa berbeda saat mengetahui fakta bahwa demon itu ada. Siapa sangka cakrawala tak terbatas bisa lebih mengerikan ketimbang sepetak langit yang dijatahkan setiap hari lewat rutinitas?

 

“Apa kau yakin akan baik baik saja?” ucap seseorang dibelakangku dan aku tidak mempunyai pikiran lain selain Luhan. Nada Luhan terdengar lemah, hampir berbisik namun aku yakin jelas bisa mendengarnya. “Kau sangat mengagumkan.” lanjutnya.

 

“Apa aku benar? Oprus adalah pendamping, bukan pelayan.” sahutku meyakinkan. Aku melirik pria itu yang kini sedang menunduk, melihat rerumputan perkarangan Sehun yang sedang asik bergoyang dengan tatapan kosong.

 

“Jadi Sehun selama ini hidup seperti itu? Tanpa adanya kasih sayang?” ucapku dalam, ikut termenung menatap gerakan rerumputan hijau itu yang mengikuti arah angin.

 

“Karena itu adalah kelemahannya, Danah.” Kali ini ia menatapku lalu menepuk pundakku perlahan dan tersenyum. “Tenang saja, kau akan aman selama aku masih hidup.” ucapnya, membuatku terdiam beberapa detik untuk mengagumi sosok Luhan yang begitu gigih menerima takdirnya, tidak pernah mengeluh atau apapun.

 

Aku melirik jam tanganku dan jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi menjelang siang. Seingatku, Baekhyun akan kecelakaan pada jam sepuluh, saat itu, akibatnya sangat fatal dan aku terus menangis karena Baekhyun tak kunjung sadar, meski saat itu kami belum sah menjadi sepasaang kekasih. “Aku harus pergi, Luhan.” ucapku cepat.

 

“Aku ikut.” tukasnya tak kalah cepat namun aku menggeleng karena aku tidak ingin merepotkannya. “Jangan.” bantahku.

 

Namun pria itu tetap bersikeras ingin ikut disela perdebatan kami, aku tak ingin melewatkan kejadian itu hanya karena aku berdebat dengan pria cantik ini. Jadi, dengan terpaksa, aku membiarkannya mengekor dibelakangku seperti anak anjing yang tersesat.

 

Aku sedikit berlarian ketika aku sudah hampir sampai dijalan raya itu. Mobil maupun motor memenuhi jalanan. Belum pula keramaian siang itu pada jalanan membuatku sulit untuk menemukan sosok bermata anjing itu. Aku mengedarkan pandanganku kearah tepian jalanan itu, dan alhasil aku mendapati sosok bermata anjing itu sedang berjalan santai, memakai earphone-nya.

 

Namun aku melihat sosok lain disampingnya. Seorang wanita namun bertubuh lebih tinggi darinya. Sooyoung. Sooyoung adalah sahabatku. Mereka tertawa bersama dan sesekali jari jari lentik Baekhyun mengacak ria rambut Sooyoung. Ternyata begitu, siapa sangka jika aku tidak pernah terlahir mereka akan bersama?

 

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Faded Away (Chapter 3)”

  1. Knpa Sehun mmbrikan jam tangan utk Danah?? Apalgi jam tangan itu utk mlihat msallu yg tdk ada Danah nya??? Melihat pacar brjln dgn shbat sndri,,aduh gmna ya rasanya?? Gk bsa dbyngin deh skitnya…
    Sehun pnya dendam apa c ama Danah???

  2. Maksudnya tiga tahun sebelum kehidupan asli itu gimana yaa? Tiga tahun sebelum dia mati itu yaah? Dan dia diminta buat memperbaiki sesuatu gitu sama sehun? Terus aku bingung oprus dan demon itu gimana jelasinnya perbedaan mereka? Ada kasta juga diantara itu? Soalnya belum dijelasin kan yaa? Hehehehe. Maaf banget kalo banyak tanda tanya yaaaa. Soalnya aku bingung sendiriii hehehe.
    Emmm sama mau minta mungkin bisa lebih dipanjangin chapternya hehehe. Makasih banyaakkkk. Semangaaatttt!!!
    -XOXO-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s