[EXOFFI FREELANCE] DON’T LOOK BACK (Chapter 2)

DLB 1

Title : Don’t Look Back

Author : RF.Aeri

Length : Chapter

Genre : School Life, Romance , Slice of Life, Friendship

Rating : Teenager

Cast : Park Chanyeol EXO || Jung Eunji APINK

Main Cast : Jung Eunha GF ||Minatozaki Sana TWICE || Im Nayeon TWICE || Ten NCT U || Krystal F(x) **bisa bertambah sewaktu-waktu**

Disclaimer : Fanfic ke-2 yang dibuat oleh RF.Aeri, tentu, terlahir dari otak Author murni. Seperti biasa, beberapa alur terinspirasi dari beberapa drama korea dan anime. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan atau typo yang meraja lela. ‘-‘, dan  jika ada kesamaan tokoh atau latar, bukan bermaksud untuk memplagiati, tapi cuma kebetulan aja. Cerita ini dibuat hanya fiktif belaka, engga semuanya berupa fakta, hanya karangan indah :’ Author aja.

CHAPTER 2

YA!!!” gitar yang tadi diangkat Chanyeol sudah tepat berada di permukaan kepala Eunji. Eunji menyingkirkan benda itu dari kepalanya, lalu menusap kepalanya.

“Ya! Kau menyakiti kepalaku!” Eunji masih mengusap kepalanya.

Chanyeol tidak berbicara apapun, ia malah asyik bermain gitar-nya kembali. Seakan tidak peduli dengan ocehan Eunji, yang kini sudah bertambah kesal. Eunji menatap Chanyeol kesal.

Lama kelamaan, Eunji memincingkan senyum jahilnya. Eunji beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Chanyeol. Chanyeol tidak peduli, ia melanjutkan permainan gitarnya.

1…2…3… Eunji merampas gitar yang sedang dimainkan Chanyeol, dengan cepat Eunji berlari keluar dari ruang musik. Chanyeol membulatkan matanya ketika Eunji mengambil barang yang paling ia senangi.

Ya! Kembalikan! Eunji-ya! JUNG EUNJI!” Chanyeol berteriak sambil berlari menyusul Eunji yang kini sudah berlari terus menjauh.

Akhirnya aku bisa menjahilimu Park Chanyeol, batin Eunji sambil tertawa licik. Eunji terus berlari sepanjang koridor, sesekali Eunji melihat kebelakang, ia tertawa melihat Chanyeol yang sudah terlihat lelah.

“Apa kau sudah lelah Park Chanyeol? Kau lemah sekali!” Eunji berhenti sejenak dan memperhatikan Chanyeol yang sudah berhenti berlari. Nafas Chanyeol tidak karuan, Chanyeol menempatkan tangannya di kedua pinggangnya, mengambil nafas.

“Eunji-ya, berhenti disitu! Atau tamatlah riwayatmu”Chanyeol menunjuk Eunji.

“Aku tidak akan berhenti” Eunji menggelengkan kepalanya lalu terkekeh pelan.

Chanyeol mulai berlari lagi, mengetahui itu, Eunji-pun mulai berlari. Murid-murid yang berada di sekitar koridor memperhatikan Eunji dan Chanyeol yang saling berkejar-kejaran.

BRUK!

Eunji berbelok ke arah kanan karena di depannya sudah tidak ada jalan untuk berlari lagi. Saat itu juga, Eunji menabrak seorang murid perempuan. murid perempuan itu terduduk sambil meringis kesakitan memegangi lututnya.

Eunji belum bisa menolong murid itu, karena ia-pun sama-sama terluka. Eunji mencoba berdiri, ia berhasil berdiri walaupun harus memegangi dinding di sebelahnya.

Eunji mengulurkan tangannya untuk membantu si murid perempuan yang ia tabrak, tetapi tiba-tiba, seorang Park Chanyeol membantu murid perempuan tiu berdiri.

Gwenchana?” Tanya Chanyeol kepada murid itu. Yang di Tanya hanya mengangguk sambil membersihkan lututnya.

“Kau! Sangat tidak berhati-hati! Lihatlah, kau melukai orang lain” Chanyeol menunjuk-nunjuk Eunji kesal.

Mwoya? Kenapa jadi kau yang kesal? Seharusnya dia yang kesal, bukan dirimu” Eunji balik menunjuk Chanyeol.

“Sudah, sudah, aku sudah tidak apa-apa, jadi kalian jangan bertengkar lagi” suara lembut yang di keluarkan murid perempuan itu membuat Eunji terdiam. Eunji seperti mengenali suara itu, apa Sana?.

Murid perempuan itu membereskan rambut yang menghalangi wajahnya, dan benar saja, ia si murid yang paling sopan dan manis di seluruh penjuru sekolah, ialah Sana.

Eo, Sana-ya,mianhae aku tidak sengaja” Eunji memasang wajah terkejut dan juga bersalah.

“Tidak apa-apa, aku tau kau tidak sengaja” Sana tersenyum, manis sekali.

“Yasudah, kajja kita ke uks, kita obati lukamu” Chanyeol meraih kedua pundak Sana, mengajaknya ke uks. Sana menuruti ajakan Chanyeol, mereka mulai berjalan menuju uks.

Eunji membuka sedikit mulutnya, tidak percaya. Bukan hanya Sana yang terluka, tetapi Eunji-pun juga terluka, tapi kenapa hanya Sana yang ia ajak ke uks? Eunji berdecak kesal, tanpa memperdulikan gitar Chanyeol yang tergeletak di lantai, Eunji menuju kelas dengan lutut yang terluka, sebenarnya lukanya tidak seberapa, hanya luka kecil saja.

“Eunji-ya, kakimu kenapa?” Eunha menghampiri Eunji yang baru saja duduk di bangkunya.

“Tidak apa-apa, hanya luka kecil” Eunji tersenyum.

“Tidak kau obati?”

“Tidak perlu” Eunji menggeleng.

“Begitu” Eunha kembali ke tempatnya.

Tak lama setelah itu, seorang Park Chanyeol masuk ke kelas dan duduk di bangkunya. Wajahnya terlihat sangat tegang. Chanyeol mengalihkan pandangannya kearah Eunji.

Mwo?” ucap Chanyeol pelan, lalu Chanyeol mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Cih” Eunji-pun mengalihkan pandangannya.

Lima menit berlalu, seorang perempuan masuk kedalam kelas, Sana. Wajahnya begitu merah, Sana menundukkan kepalanya lalu duduk di bangkunya. Eunji merasa ada yang ane dengan Chanyeol dan Sana, sikap mereka tidak seperti biasanya.

Wajah chanyeol tegang sementara Sana wajahnya memerah, mereka baru saja dari uks kan? Apa mereka? … ya! Eunji-ya, kau berpikir apa sih?, batin Eunji dalam hati. Eunji mengacak rambutnya.

Sepuluh menit berlalu, Kyungsoo Seonsaengnim sudah berada di depan kelas, siap memberi pengumuman hasil ulangan tadi pagi. Eunji mengalikan padangannya keluar jendela, tidak peduli dengan hasil ulangannya.

“Jung Eunji” panggil Kyungsoo seonsaengnim. Tetapi Eunji masih memandangi luar jendela, ia tidak sadar bahwa dirinya dipanggil oleh Kyungsoo seonsaengnim.

“Jung Eunji!” nada bicara Kyungsoo seonsaengnim meninggi. Eunji masih belum juga sadar.

PLAK! Sebuah pukulan kecil telah di terima Eunji tepat di keningnya. Eunji tersadar dan segera mengalihkan padangannya kearah orang yang telah memukulnya, Eunji memasang wajah kesal.

“Tck” decak Eunji. Lalu terdiam sebentar melihat siapa yang baru saja memukulnya.

Ssaem” Ucap Eunji polos lalu tersenyum malu.

“Seperti biasa, kau berada di peringkat dua” Kyungsoo seonsaengnim memukulkan kertas kecil ke kepala Eunji, dengan cepat Eunji mengambil kertasnya.

Kyungsoo seonsaengnim kembali ke depan, mengumumkan nilai murid lain.

Ke dua lagi?, Tanya Eunji dalam hati. Eunji menarik nafas berat lalu meremas kertas hasil ulangan di bawah bangkunya. Setelah itu Eunji memasukkannya kedalam tas.

“Ahh ini dia, nilai yang paling memuaskan. Park Chanyeol, kau mendapatkan nilai tertinggi” Kyungsoo seonsaengim terlihat sangat bangga kepada Chanyeol, semua penghuni kelas bertepuk tangan, ikut bangga, kecuali seorang perempuan yang sedang memandangi kertas ulangannya tepat di sebelah Eunji, perempuan itu terlihat sangat tidak senang dengan nilai Chanyeol, wajahnya menunjukkan ekspresi yang benar-benar kesal.

“Nayeon-ah, ada apa denganmu? Kulihat sedari tadi kau tidak tersenyum sama sekali” Eunha memandangi wajah Nayeon ketika berjalan keluar kelas bersamaan.

“Tidak apa-apa” Jawab Nayeon datar.

“Eii, pasti ada apa-apa, ayo ceritakan, aku dan Eunji kan sahabat-mu” Eunha memelas, Eunji hanya mengangguk sambil tersenyum melihat sikap Eunha yang menggelikan.

“Tidak ada apa-apa” Lagi, Nayeon menjawabnya datar.

“Ayolah~ pasti ada apa-apa, apa kau tidak puas dengan hasil ulanganmu?” Tanya Eunha. Nayeon menggeleng.

“Pasti itukan? Ahh.. kau harus mengikhlaskannya, karena Chanyeol lebih pintar darimu kkk~” Eunha terkekeh. Tidak ada reaksi apapun dari Nayeon, tetapi wajahnya menunjukkan ekspresi super kesal.

“Heii hentikan” Eunji mengehentikan ocehan Eunha yang menyangkut nilai Chanyeol dan Nayeon.

“Benar, pasti tentang nilai. Nayeon-ah, kau harus lebih rajin belajar, agar kau bisa menggantikan peringkat Chan-“ perkataan Eunha terhenti.

“Diam! Kau berisik sekali!!!” Nayeon berteriak kesal sehingga membuat beberapa murid yang berada di sekitar memperhatikannya heran.

Ya, kenapa kau jadi marah begini? Aku hanya bercanda” Eunha membulatkan matanya, kaget.

“Jangan terus berbicara yang tidak penting, tutup mulutmu” Nayeon menekan kata ‘tutup mulutmu’ sambil menatap Eunha. Naeyon berjalan lebih cepat, meninggalkan Eunha dan Eunji.

Heol, aku hanya bercanda, kenapa ia begitu sensitif sekali?” Eunha kesal.

“Sudah kubillang hentikan” Eunji mengusap punggung Eunha.

“Dia menyebalkan sekali” Eunha memutar bola matanya.

Eunji dan Eunha lanjut berjalan menuju luar gedung sekolah.

Langit sedikit mendung, menndakan sebentar lagi akan turun hujan, Eunji dan Eunha berjalan berdampingan di trotoar jalan.

“Eunji-ya, sebelum pulang, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan dulu?” Ajak Eunha kepada Eunji yang sedang memasang earphone ke telinganya.

“Sepertinya tidak bisa” Eunji menatap Eunha dengan tatapan menyesal.

Wae? Biasanya kau bisa” Tanya Eunha heran.

“Aku sedang malas, mungkin lain kali saja” Eunji tersenyum. Eunha mengangguk lalu tersenyum.

“Yasudah, aku pulang, dahh~”

Eunji dan Eunha berpisah di pertigaan trotoar, Eunha melambaikan tangannya kearah Eunji, Eunji membalas lambaian tangan Eunha. Eunji berjalan berbelok kearah rumahnya, jari tangannya tidak berhenti berayun selama musik yang tadi Eunji putar tidak berhenti. Tanpa Eunji sadari, Eunji sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Dengan ragu, Eunji membuka gerbangnya, setelah masuk, ia menutup gerbangnya kembali.

Eunji menekan tombol pass-code untuk membuka pintu rumahnya, setelah terbuka, ia masuk kedalamnya. Terlihat Ny.Jung sedang menonton sebuah tayangan televisi dengan secangkir teh di tangannya, meminumnya dengan pelan.

Saking fokusnya Ny.Jung menonton, ia sampai tidak menyadari putrinya baru saja pulang. Menyadari Eunji yang sudah berdiri di dekatnya, Ny.Jung menatap Eunji.

“Sini” Ny.Jung menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan untuk duduk di sebelahnya. Eunji mengangguk kaku lalu segera menuruti perintah ibunya itu.

“Lihatlah, kompetisi yang akan kau ikuti adalah kompetisi yang serius, dan akan ditayangkan di channel ini, jika kau menang, kau akan menjadi bintang!” Ujar Ny.Jung dengan mata yang berbinar, Ny.Jung terlihat begitu senang.

Eunji hanya tersenyum, tidak tau harus menanggapi apa.

“Eunji-ya, kau harus fokus dengan latihanmu, tidak boleh melakukan aktivitas selain latihan, sekolah, belajar, makan dan minum, oke?” Kata Ny.Jung seraya mengusap kepala anaknya.

“Tapi, Apa aku boleh bermain dengan teman-temanku?” Tanya Eunji dengan ragu.

“Hahaha, kau ini” Ny.Jung tertawa keras, membuat Eunji sedikit kaget.

“Jelas tidak boleh, kau harus fokus dengan latihanmu, kau bukan anak kecil lagi Eunji“Jelas tidak boleh, kau harus fokus dengan latihanmu, kau bukan anak kecil lagi Eunji-ya, bermain itu hanya untuk anak kecil. Mulai sekarang, kau harus fokus berlatih, dan tidak boleh bermain” Jelas Ny.Jung serius, matanya menatap Eunji instens.

“Kau mengerti?” Tanya Ny.Jung. Eunji hanya mengangguk kaku.

“Baiklah, sekarang kau bersiap-siaplah pergi ke tempat les” perintah Ny.Jung, lagi-lagi Eunji mengangguk, lalu pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya.

Setelah selesai, Eunji pergi ke tempat lesnya –berjalan. Selama perjalanan, Eunji hanya melamun, tetapi masih fokus bejalan. Eunji memikirkan perkataan ibunya.

Mulai sekarang, kau harus fokus berlatih, dan tidak boleh bermain. Bukankah itu sedikit kejam? Bagaimana bisa, remaja seperti Eunji tidak di perbolehkan bermain oleh ibunya?, masa-masa seperti ini yang harusnya diisi oleh kenangan-kenangan indah bermain bersama teman-teman, bukan dengan kertas-kertas berisi lirik lagu dan lagu yang terus menerus di ulang lewat speaker, membosankan.

Eunji membuka pintu ruangan les khusus, disana Sulli seonsaengnim sudah menunggu Eunji dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Sulli seonsaengnim tersenyum kearah Eunji, Eunji membalas senyumannya.

“Pilihan yang bagus Eunji-ya” Sulli seonsaengnim menepuk-nepuk punggung Eunji, bangga. Eunji memutar bola matanya, lalu bergegas duduk di kursi yang selalu di tempati Eunji.

“Ini, lagu yang akan dinyanyikan olehmu di kontes nanti” Luna seonsaengnim memberikan 2 lembar kertas berisi lirik lagu, dan sebuah mp3 lengkap dengan earphone-nya. Eunji menerima-nya dengan malas.

“Kau akan menyanyikan 2 buah lagu. Kau harus menyanyikannya dengan penuh semangat, karena lagu ini cocok dengan suaramu” Luna seonsaengnim terlihat sangat senang. Eunji mengangguk, “Kamsahamnida”.

Eunji memasang earphone-nya di keduan telinganya. Ia menekan tombol play, mulai mendengarkan lagunya dengan serius. Eunji mulai bernyanyi mengikuti irama lagu sambil membaca lirik-liriknya. Sebelumnya Eunji pernah mendengar lagu ini, jadi Eunji sedikit hafal dengan irama-nya.

Les telah selesai, Eunji keluar dari ruangan ‘menyebalkan’ itu dengan langkah malas. Eunji segera menuju pintu keluar, tetapi langkahnya terhenti ketika mendapati langit gelap yang sudah ‘ramai’ di penuhi rintik-rintik air, Hujan.

Kenapa harus hujan?, batin Eunji, kesal.

Eunji menunggu hujan reda, tetapi tak kunjung reda, ia duduk di kursi yang telah di sediakan pihak les. Eunji memperhatikan langit yang gelap, sesekali kilatan petir menyambar ke sembarang arah setelah itu terdengar suara ‘mengerikan’, Eunji tersentak kaget. Eunji menghembuskan nafas berat, sambil menatap sekitar, sepi.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam, tetapi hujan tak kunjung reda. Apa aku akan bermalam disini? Pikir Eunji. Sampai akhirnya Eunji melihat seorang laki-laki yang amat ia kenal, Eunji berdiri dari duduknya dan segera meneriakkan nama laki-laki itu.

Eunji POV-

Waktu menunjukkan pukul 9 malam, tetapi hujan tak kunjung reda. Apa aku akan bermalam disini?, batinku. Aku mulai bosan, sampai kapan aku akan duduk di sini?. Tetapi tiba-tiba aku melihat seseorang yang amat sangat aku kenal, Park Chanyeol.

“Chanyeol-ah!” Teriakku, Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya kearahku, aku melambaikan tangan, Chanyeol terlihat sangat terkejut, lucu sekali.

Aku berlari kearahnya yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku segera mendekat kepada Chanyeol dan berlindung dari air hujan di bawah paying yang ia pakai.

“Kau mau kemana?” Tanyaku sambil menatap Chanyeol yang masih terkejut.

“Ke supermarket” Jawabnya singkat. Aku mengangguk mengerti.

“Kalau begitu aku ikut” Pintaku.

“Tapi, ini sudah malam, sebaiknya kau pulang” Chanyeol melarangku –sepertinya.

“Mau pulang bagaimana? Sekarang sedang hujan” Aku menolak.

“Akan aku antar”Chanyeol mulai berbalik arah sambil menarik tangan-ku, menuju arah rumahku.

Aku melepaskan tangan Chanyeol yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku berhenti berjalan, payung yang tadi melindungiku dari air hujan, kini sudah tidak melindungiku lagi. Chanyeol berbalik ketika aku melepaskan tangannya lalu segera mendekatiku kembali.

-Chanyeol POV-

Eunji melepaskan tanganku, dengan cepat aku berbalik, melihat Eunji sudah tidak ‘dilindungi’ payung yang ku bawa aku segera mendekatinya.

“Aku ingin ikut denganmu, kumohon” Eunji merengek seperti anak kecil –Tck.

Sikapnya tidak berubah sama sekali, sejak pertama kali aku dan Eunji bertemu saat umur kami 5 tahun, ia merengek seperti ini ketika aku akan pergi ke taman bermain bersama adikku, tetapi Eunji tidak diizinkan pergi oleh ibunya, dengan terpaksa, aku meminta izin kepada ibu Eunji untuk mengajak Eunji pergi bermain ke taman bermain. Akhirnya Eunji diizinkan oleh ibunya, walaupun hanya diberikan waktu beberapa menit saja. Eunji terlihat sangat bahagia.

“Baiklah” Ucapku malas.

Gomawo, Chanyeol-ah” Eunji menggoyang-goyangkan tangan kiriku, cara berterimakasihnya persis sekali ketika ia berumur 5 tahun. Ia menggemaskan.

-Author POV-

Eunji dan Chanyeol berjalan berdampingan di bawah paying yang Chanyeol pegang. Eunji terlihat sangat senang, sementara Chanyeol datar. Mereka sudah sampai di supermarket yang akan di tuju Chanyeol.

“Chanyeol-ah, mau apa kau kesini?” Tanya Eunji ketika Chanyeol sedang melipat paying.

“Membeli makanan” Chanyeol menyimpan payungnya di sebelah pintu masuk supermarket, lalu Chanyeol masuk ke dalam supermarket tanpa memperdulikan Eunji. Eunji berdecak kesal lalu menyusul Chanyeol masuk ke dalam supermarket.

Chanyeol sibuk memilih makanan yang akan ia beli, sementara Eunji hanya memperhatikan Chanyeol dengan kesal.

“Kau sudah makan?” Tanya Chanyeol di tengah kesibukannya.

“Belum” Jawab Eunji singkat.

“Baiklah” Chanyeol mengambil 2 cup ramen instan, lalu segera menuju kasir. Eunji mengikuti Chanyeol dari belakang.

Chanyeol telah selesai membayar barang belanjaannya, lalu ia menuju sebuah meja kecil yang berada di depan supermarket tetapi masih berada di dalam supermarket. Ia membuka bungkusan ramen yang masih terbalut di cup ramen. Chanyeol menumpahkan air panas ke dalam cup ramen, lalu menutupnya –menunggu hingga matang.

Chanyeol memberikan se-cup ramen instan yang tadi ia beli kepada Eunji yang sedang menggerutu tidak jelas di sebelahnya. Eunji menatap Chanyeol sebentar lalu menerima pemberian Chanyeol. Eunji membuka bungkus ramen lalu menumpahkan air panas secukupnya, menutup cup ramen –menunggu hingga matang.

“Apa dirumahmu tidak ada makanan?” Tanya Eunji sambil menatap luar supermarket.

“Menurutmu?” Chanyeol membuka penutup cup ramen, memisahkan sumpitnya lalu mengaduk ramen yang ternyata sudah matang.

“Menurutku sih tidak ada” Eunji terkekeh pelan.

“Kau sudah mengetahui jawabannya” Chanyeol melahap ramennya.

Eunji mengangguk. “Apa pembantumu tidak memasak sesuatu?” Tanya Eunji seraya membuka penutup cup, memisahkan sumpitnya, lalu mengaduk ramen yang sudah matang.

“Tidak” Jawab Chanyeol singkat, ia sedang sibuk dengan ramen-nya.

Wae?” Eunji melahap ramennya.

“Tidak tau”

“Lalu bagaimana dengan ayahmu? Apa dia sudah makan?” Tanya Eunji –lagi. Chanyeol menatap Eunji lalu menggeleng.

“Bagaimana dengan adik dan ibumu? Apa mereka suda-“ sebuah jari telunjuk mendarat di bibir tipis Eunji. Karena kaget, Eunji membulatkan matanya.

“Aku lapar, aku mohon kau diam” Chanyeol menatap Eunji tajam. Sorot matanya mengatakan berhenti bertanya dan jangan tanyakan hal itu. Apa maksudnya? Eunji benar-benar tidak mengerti.

Eunji mengangguk, lalu Chanyeol menurunkan jarinya dan melanjutkan makan. Saat ini Chanyeol sangat berbeda, ia terlihat begitu kesal.

Eunji melanjutkan makannya, sesekali melirik Chanyeol yang sedang lahap memakan ramennya. Ia benar-benar lapar, batin Eunji.

10 menit berlalu, Chanyeol dan Eunji sudah menghabiskan ramen masing-masing. Hujan telah reda 5 menit yang lalu. Chanyeol berjalan menuju luar supermarket, dengan cepat Eunji mengikutinya dari belakang.

Chanyeol mengambil paying yang tdai ia simpan di dekat pintu masuk. Tanpa memedulikan Eunji, ia berjalan meninggalkan supermarket. Eunji menatap punggung Chanyeol yang semakin lama semakin menjauh dengan kesal. “Aish!” dengus Eunji kesal. Eunji berlari pelan mengikuti Chanyeol.

“Kau mau pergi kemana? Itu bukan jalan menuju rumahmu!” Eunji berteriak.

Tetapi Chanyeol terus berjalan tanpa melirik Eunji. “Menyebalkan” gumam Eunji sambil berjalan di belakang Chanyeol –Jauh di belakang Chanyeol. Eunji berjalan dengan menundukkan kepalanya, memperhatikan kedua kakinya melangkah.

Buk!. “Omo!” Teriak Eunji.

Tanpa Eunji sadari, ia telah menabrak punggung besar Chanyeol. Wajah Eunji terbenam di antara sweater yang Chanyeol pakai. Entah apa alasannya, Chanyeol tiba-tiba berhenti dan membuat Eunji menabraknya. Dengan cepat, Eunji melangakh mundur menjauhi Chanyeol.

Hampir 2 menit Eunji menunggu Chanyeol berbicara, tetapi pria di depannya itu tidak berbicara sepatah katapun, berbalik badanpun tidak. Eunji mulai penasaran dengan apa yang terjadi dengan Chanyeol.

“Chanyeol-ah, ada apa?” Eunji bertanya dengan pelan.

“Sebaiknya kau pulang” Kata Chanyeol tanpa melihat kearah Eunji.

“Lalu kau?”

“Aku ingin membeli sesuatu” Akhirnya Chanyeol membalikkan badannya, wajahnya datar menatap Eunji yang sedang kebingungan karena sikap Chanyeol yang menurut Eunji benar-benar aneh.

“Begitu, yasudah. Aku pulang” Eunji berbalik arah dan segera berjalan menuju rumahnya, pulang.

 

-Eunji POV-

Menyebalkan sekali! Dia kenapa sih? Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan! Aku bertanya dengan baik, kenapa ia menjawabnya dengan datar? Tidak biasanya. Tetapi sejak aku menanyakan keluarganya ketika makan ramen tadi, sikapnya tiba-tiba berubah, menjadi sedikit lebih dingin dari biasanya. Ahh!! Molla!.

 

-Author POV-

Eunji semakin menjauh dari tempat tadi ia menabrak Chanyeol. Eunji terus mendengus karena sikap Chanyeol tadi.

Disisi lain, Seorang Park Chanyeol sedang memperhatikan langkah Eunji menjauh darinya, menatap punggung kecil Eunji. Chanyeol merasa bersalah karena ia tau sikapnya membuat Eunji kesal.

“Kenapa kau menanyakan hal yang membuatku sakit? Aku tidak ingin menyakitimu, tetapi kau-lah yang menyakitiku. Mianhae Eunji-ya

 

TBC

Chapter ini gaje banget ya? Ngerasa ga sih///? Wkwkwk. Biarkanlah otak author berimajinasi semaunya, yang penting kalian terhibur walupun –mungkin- ga ngerti ceritanya. Wkwkwk.

Don’t be a siders!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DON’T LOOK BACK (Chapter 2)”

  1. Bagus kok,aq semangat bacanya bukan krna chanji ajja sii tp emang ceritanya yg bagus..
    Sbenernya bukan gaje,cma da sdikit” pnempatan kata yg agk gk ssuai,typo dikit…
    Klau critanya sii keren,jgn ptah smangat ya thor…
    Smangat buat next chapternya,trus jgan lama” yaa postnyaa…

  2. Ottelah,,masih lum ngeh ceritanya,,lg pula aku naru baca,,dan masi ada typo..yg semangat lg ya.. next chapter ditunggu..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s