[EXOFFI FREELANCE] SKYREACH (Chapter 4D – One Step Further)

skyreach

SKYREACH (Chapter 4D – One Step Further)

Main Cast                    :

  • Oh Sehun
  • Kim Eunbi (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Jang Nana
  • Do Kyungsoo

Other Cast                   :

  • Jung Hyena
  • Song Jihyun

Genre              : Mystery, Romance

Author             : Aichan

Length             : Chapter

Rating             : T

Disclaimer       : FF ini murni hasil karya imajinasiku. Semua yang ada di FF ini hanya fiksi belaka. Maaf jika banyak typo. Jangan lupa kritik dan sarannya. Don’t be plagiat. Happy Reading.. ^^

 

***PART 4D***

 

AUTHOR POV

“Kenapa kita harus mendapatkan tugas seperti ini? Benar-benar membosankan,” ucap seorang namja paruh baya sambil mengambil beberapa buku dari lemari perpustakaan tanpa berniat untuk membacanya. Ia hanya mengambilnya dan membuka buku itu beberapa halaman untuk menutupi wajahnya. “Sampai berapa lama kita harus melakukan ini.”

Terdengar suara decakan lidah begitu namja itu menyelesaikan kalimatnya. “Berhentilah mengeluh Byun Baekhyun,” ucap Nana sambil memperhatikan teman bicaranya itu dengan tatapan tajam. “Kita bahkan tidak melakukan hal yang berat. Hanya diam disini dan memperhatikan apa yang dilakukan Kyungsoo, dan sekarang, kau berani mengeluh, yang benar saja.”

“Itu sebabnya membosankan. Kita mendapatkan tugas untuk menyelidiki Kyungsoo, lalu apa yang saat ini kita lakukan? Kita sama sekali tidak melakukan apa-apa. Kita hanya mengamati Kyungsoo yang sekarang bahkan mungkin sudah tenggelam dalam buku yang sedang ia baca. Tidak ada tindakannya yang mencurigakan,” ucap Baekhyun pelan. “Aku tidak tau alasan kenapa kita harus mengawasi Kyungsoo. Tapi menurutku, ini hanya membuang-buang waktu kita.”

Nana terdiam selama beberapa detik mendengar ucapan temannya itu. “Jika Sehun menyuruh kita mengawasinya, sudah pasti ada sesuatu dari Kyungsoo,” ucap Nana sambil melipat tangannya didada. Ia mengerutkan keningnya memikirkan sesuatu. “Sehun bukanlah orang yang akan bertindak tanpa alasan. Dia sudah bilang kan, kalau kita harus mencari tau apa yang membuat Kyungsoo berpikir kalau Jihyun tidak meninggal karena bunuh diri.”

“Kyungsoo bahkan tidak mengatakan itu secara langsung. Itu hanya dugaan Sehun saja bukan, yang menganggap pemikirannya sama dengan Kyungsoo tentang Jihyun,” ucap Baekhyun sambil menganggukkan kepalanya pelan.

“Itu sebabnya kita harus mencari tau tentang apa yang dipikirkan Kyungsoo tentang kematian Jihyun. Itu lebih baik dilakukan ketimbang hanya diam tanpa melakukan apa-apa,” ucap Nana sambil menatap Kyungsoo dengan tatapan menerawang. Jaraknya dan Kyungsoo saat ini memang tidak terlalu jauh. Sekitar lima langkah dari tempat Nana berada, terlihat dari matanya kalau Kyungsoo sibuk dengan buku-bukunya saat ini. Sedetik kemudian, Nana menghembuskan nafas panjang. “Aku hanya ingin membantu Eunbi.”

Baekhyun menoleh memperhatikan perubahan ekspresi yang diperlihatkan Nana tiba-tiba. Ia baru menyadari satu hal tentang Nana, tentang sikap pedulinya yang besar untuk orang lain. Ia jadi teringat, tentang kasus pecurian pensil yang ia alami sebelumnya, tentang bagaimana Nana sangat menghawatirkannya. “Kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika kita terus berada di tempat ini,” ucap Baekhyun sambil menaruh buku yang berada ditangannya ke tempat semula. “Kita harus memikirkan sebuah cara untuk mendapakan informasi itu.”

“Apa kau punya ide?”

“Sudah ku katakan untuk memikirkannya,” ucap Baekhyun penuh penekanan. “Beri aku waktu beberapa menit untuk memikirkan sebuah rencana. Aku sangat tanggap dengan hal semacam ini, membuat sebuah rencana bukanlah hal yang sulit untuk ku lakukan.”

“Meskipun sebagian besar rencana yang kau buat benar-benar konyol,” ucap Nana sambil terkekeh pelan. “Tapi, meskipun konyol, untuk kali ini kupikir itu tidak masalah. Selama rencana itu memiliki presentasi keberhasilan yang tinggi, aku akan mengikutinya.”

Baekhyun menarik ujung bibirnya tipis. Ia kemudian memejamkan matanya mencoba untuk lebih fokus dalam pemikirannya saat ini. Suasana berubah hening diantara mereka berdua sampai Baekhyun mulai menjentikkan jarinya. Ia membuka matanya dan memperlihatkan cengiran khasnya. “Ku pikir, aku sudah menemukan rencana yang hebat.”

“Apa maksudmu?”

“Diamlah disini, Nana. Kemudian aku akan membawa Kyungsoo ke hadapan Sehun.”

***

“Lama tidak bertemu, Eunbi-ah.”

Suara itu berasal dari wanita paruh baya yang kira-kira berusia empat puluh tahunan. Wajahnya putih pucat dengan lingkaran hitam yang mengelilingi matanya. Garis tegas di wajahnya terlihat jelas. Seakan ia menyimpan beban dalam dirinya seorang diri tanpa boleh orang lain mengetahuinya.

Bibi Song -begitu Eunbi memanggilnya- terlihat lebih kurus daripada biasanya. Baru beberapa waktu lalu Eunbi menemui bibi Song, tepatnya ketika pemakaman anak tunggalnya, tapi baru saja bibi Song menyapa Eunbi seolah ia baru saja melihat Eunbi setelah sekian lama tidak bertemu.

“Bibi, Apa kabar?” tanya Eunbi basa-basi menanggapi sapaan bibi Song barusan. Eunbi menyinggungkan sebuah senyuman tipis begitu dirinya dan Sehun diizinkan masuk ke kediam Jihyun. “Sebelumnya terima kasih karena telah memperbolehkan aku dan temanku berkunjung kemari.”

Bibi Song mempersilahkan dua orang tamunya itu untuk duduk di sofa ruang tamunya. “Itu bukan masalah untukku. Kau dan Jihyun merupakan teman dekat, sudah sewajarnya aku mengizinkanmu berkunjung,” ucap Bibi Song sambil menuangkan air teh ke dalam gelas yang ada dihadapannya. “Kau bilang ingin mengambil bukumu yang dulu pernah di pinjam oleh Jihyun bukan? Aku tidak tau seperti apa buku yang pernah dipinjam Jihyun. Jadi, kalau tidak keberatan, kau bisa mencari bukumu itu di kamar Jihyun. Maaf, ini karena Bibi tidak sanggup untuk memasukinya saat ini.”

Lagi-lagi Eunbi menyinggungkan sebuah senyuman membalas ucapan Bibi Song. Ia benar-benar tak menduga, Bibi Song akan terlihat seperti ini, benar-benar kacau dan menderita atas kematian anak tunggalnya itu.

***

“Jadi seperti ini kamar seorang gadis,” ucap Sehun begitu ia memasuki kamar Jihyun dan memperhatikannya dengan teliti, seakan tidak ingin ada yang terlewat dari apa yang ia lihat saat ini. Sedetik kemudian, Sehun memiringkan kepalanya. “Tidak jauh berbeda dengan kamarku. Terlihat sederhana.”

Eunbi berjalan selangkah lebih depan dari Sehun. Wajahnya mengarah pada jendela kamar yang menampilkan cahaya senja matahari samar-samar. “Seleramu dan Jihyun hampir sama, tidak menyukai hal-hal yang merumitkan,” ucap Eunbi yang masih tetap pada posisinya.

Sehun menganggukkan kepalanya pelan menanggapi ucapan temannya barusan. Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, Sehun berjalan perlahan menyusuri kamar Jihyun untuk mengamati ataupun mencari sesuatu yang mungkin berguna untuk kemajuan pemikiran dugaannya saat ini. Tapi tiba-tiba saja, Sehun tidak sengaja menendang sebuah tempat sampah berwarna biru muda disudut kamar Jihyun. Ia pun hanya bisa mendesah kesal sambil memunguti sampah berantakan hasil perbuatannya yang hampir semuanya berisi dengan sampah kaleng minuman soda dengan merk yang sama. Eunbi yang melihatnya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

Sehun kembali menyebar pandangannya ke segala arah kamar Jihyun, kali ini ia terlihat lebih teliti dari sebelumnya. Banyak hal yang ingin Sehun ketahui tentang Jihyun. Terutama tentang keadaan tempat terakhir yang ia tempati sebelum kejadian buruk menimpanya. Ia menyusuri rak-rak buku milik Jihyun yang hampir semuanya berisikan komik-komik jepang yang tersusun rapih. Hampir semua volume komik-komik yang ada dirak tersebut terpenuhi. Sehun menduga tidak mudah untuk mengumpulkan volume komik-komik itu mengingat hampir sebagian besar komik yang dimiliki Jihyun adalah komik lawas yang diterbitkan sekitar tahun 80an. Entah apa alasannya Jihyun menyukai komik-komik lama.

Disamping rak buku kamar Jihyun, tersusun meja rias yang menjadi saksi bisu atas kematian Jihyun saat itu. Tentang bagaimana barang bukti bisa tersusun rapih diatasnya. Dengan sekali gerakan, Sehun mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan mulai mengambil gambar dari ponselnya itu.

“Apa kau menemukan hal-hal yang aneh Eunbi?” ucap Sehun sambil menoleh ke arah belakang, mencari sumber keberadaan temannya saat ini yang dirasa Sehun terlalu pendiam, tidak banyak bicara seperti biasanya.

Eunbi tidak segera menjawab. Ia mengambil satu buah buku catatan dari meja belajar Jihyun dan membuka buku itu beberapa halaman, merasa tidak menemukan sesuatu yang penting dari buku itu, ia menaruh kembali ke tempatnya. “Sejauh ini tidak ada hal yang aneh,” ucap Eunbi sambil memperhatikan keadaan disekelilingnya. “Aku sama sekali tidak mencium bau-bau yang mencurigakan dikamar Jihyun.

“Bagaimana dengan buku diary? Para gadis biasanya menulis hal-hal semacam itu kan?” tanya Sehun asal begitu mengingat bagian dari film yang ditontonnya semalam, bagian dimana seorang gadis menghabiskan waktunya seharian seorang diri dengan tumpukan buku-buku hariannya. “Ku pikir itu bisa menjadi petunjuk yang bagus.”

Eunbi mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Sehun. “Jihyun bukanlah orang yang akan melakukan hal seperti itu. Menulis buku diary bukanlah gayanya. Tapi, seingatku, meskipun itu bukan buku diary, Jihyun selalu mencatat suatu hal penting yang ia alami dibuku catatannya,” ucap Eunbi yang terlihat sedang berpikir keras, berpikir untuk mencoba mengingat sesuatu. “Buku persegi kecil berwarna hijau lumut. Ya, seperti itu bukunya, aku ingat Jihyun selalu membawa buku itu bersamanya sejak semester awal. Bahkan kupikir, saat pelajaran olahraga, Jihyun juga sering membawa buku itu. Ku pikir buku itu barang berharga miliki Jihyun.”

“Apa buku itu seperti ini?” tanya Sehun begitu tangannya menjulurkan sebuah buku catatan kecil yang baru saja ia temukan di rak lemari tumpukan buku-buku komik Jihyun. Ia memperhatikan buku itu dengan tatapan menerawang.

Eunbi membulatkan matanya melihat buku itu. Meskipun ia tidak benar-benar melihat buku itu secara pasti belakangan ini, Eunbi merasa sangat yakin buku yang saat ini dipegang Sehun adalah buku yang sama dengan buku yang selalu dibawa Jihyun. Warna buku itu sangat mencolok, tidak mudah untuk melupakannya begitu saja.

Dengan sekali gerakan, Eunbi langsung mendekat ke arah Sehun. Ia tersenyum lebar memperhatikan buku yang ada ditangan Sehun. “Aah, bagaimana bisa kau menemukannya secepat itu?” ucap Eunbi sambil meraih buku itu dan mulai membuka halaman pertamanya. “Ayo, kita mulai mencari tahu.”

***

EUNBI POV

Aku pikir semuanya akan berjalan lancar. Tapi ternyata itu tidak mudah. Semestinya aku sudah menduga hal ini dari awal, sekelompok remaja mencoba mencari tau tentang kasus pembunuhan, itu dari awal bukanlah pekerjaan yang mudah.

Aku mendengar suara ketukan jari di meja berulang-ulang, saat aku menoleh untuk mencari tahu pelakunya, terlihat wajah Nana sangat serius memikirkan apa yang menurutku sedang kupikirkan juga. Aku tidak pernah melihat Nana seserius ini, bahkan ketika ia mengerjakan soal-soal kalkulus di kelas matematika.

“135letter, 185bad, 205change, 225save,” ucap Nana membaca lembar terakhir buku catatan Jihyun yang sengaja aku bawa. Hampir semua halaman yang ada dibuku catatan Jihyun ditulis dengan format seperti itu, dan halaman terakhir merupakan hal yang menurut kami penting untuk diselidiki lebih lanjut. Terlihat dari wajahnya, Nana nampak bingung mengartikan apa maksud dari tulisan yang tergores dibuku itu. Sedetik kemudian Nana menggelengkan kepalanya pelan. “Ini catatan yang sulit untuk dimengerti.”

Aku menganggukkan kepalaku pelan menyetujui ucapan Nana. Semalaman aku memikirkan maksud dari buku catatan milik Jihyun itu, namun hasilnya nihil, aku tidak menemukan sesuatu yang penting dari buku itu, aku sama sekali tidak mengerti.

“Bagaimana jika kita artikan secara perlahan tulisan dari catatan itu. Mungkin saja ada yang terlewat,” ucap Baekhyun sambil mengambil beberapa sobekan dari bukunya juga sebuah pulpen dan bersiap untuk menulis sesuatu. “Bukankah letter itu bahasa inggris yang berarti surat, bad itu buruk, change itu mengubah, dan save menyimpan. Jadi, bisa saja itu berarti Jihyun menulis surat cinta yang buruk dan berniat untuk mengubahnya lalu disimpan. Bagaimana menurut kalian? Bukan pemikiran yang buruk kan?”

“Jika semudah itu mengartikannya, aku tidak akan meminta kalian untuk membantuku memikirkan maksud tulisan dari catatan Jihyun,” ucap Sehun sambil melirik ke arah Baekhyun dengan pandangan menerawang. Benar, apa yang dikatakan Sehun, bahkan aku juga memikirkan apa yang baru saja disebutkan Baekhyun, tapi nampaknya bukan hanya itu maksudnya, ada sesuatu yang terlewat. “Lihat kembali catatan itu. Bukan hanya huruf, tapi ada juga angka. Apa makna angka-angka itu? Lalu apa hubungan angka dan huruf dalam catatan itu? Itu yang harus kita cari jawabannya.”

“Menurutku angka itu dimaksudkan untuk tanggal,” ucap Nana sambil mengambil sobekan kertas dan pulpen dari tangan Baekhyun. Ia kemudian menulis sesuatu coretan di kertas itu yang setelah itu ia memperlihatkannya ke tiga temannya. “Lihatlah, mungkin ini dimaksudkan berdasarkan dengan tanggal terjadinya hal-hal tersebut. 135 itu berarti 13 Mei dan berhubungan dengan surat, 18 Mei berhubungan dengan keburukan, 20 Mei berhubungan dengan mengubah, dan 22 Mei berhubungan dengan menyimpan. Bagaimana?”

Teori yang dijelaskan Nana memang masuk akal, aku bahkan tidak memikirkan sampai sejauh itu. Untuk hal angka dan sandi, Nana memang bisa diandalkan. Meskipun, ia terlihat seperti itu, ia termasuk pemegang juara pertama berturut-turut untuk olimpiade matematika.

“Ternyata itu sederhana,” ucap Sehun sambil menganggukkan kepalanya memikirkan ucapan yang baru saja dilontarkan Nana. Sedetik kemudian, aku melihat Sehun mengerutkan keningnya. “Eunbi bukankah tanggal kematian Jihyun itu tanggal 22 Mei?”

Aku menganggukkan kepalaku perlahan.

“Menurutmu apa yang disimpan Jihyun sebelum kematiannya?” tanya Sehun.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun. Pertanyaan ini juga ingin kudapatkan jawabannya. Tapi aku sama sekali tidak memikirkan apapun, semua pertanyaan tentang kematian Jihyun terus terngiang dalam pikiranku tanpa ada satupun pemecahannya. Benar-benar menyebalkan.

Sehun menarik ujung bibirnya tipis dan kemudian menepuk pundakku perlahan begitu melihatku terdiam. Mungkin ia sudah mengetahui apa yang saat ini sedang kupikirkan. “Menurutku sebaiknya kita mencari tau apa yang dilakukan Jihyun pada tanggal-tanggal yang tertera di buku catatan itu. Hanya itu satu-satunya petunjuk yang kita miliki untuk mengetahui makna dari buku itu sendiri,” ucap Sehun yang setelah itu mengambil ponsel dari sakunya. Ia pun mengecek sesuatu dari ponselnya, saat aku melirik ke arah ponselnya, aku mengetahui kalau ia sedang melihat kalender. “Ku rasa kita membutuhkan narasumber untuk mengetahui lebih dalam mengenai Jihyun. Orang yang selalu bersama Jihyun atau setidaknya ia cukup dekat dengan Jihyun sebelum kematiannya selain Eunbi. Akan bagus jika orang itu mau bekerjasama dan menceritakan apa yang ia ketahui tentang Jihyun.”

“Bagaimana jika Kyungsoo?” tanya Baekhyun.

“Itu akan bagus sekali. Meskipun dia tidak benar-benar dekat dengan Jihyun, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya, tapi itu tidak mudah bagiku untuk langsung menanyakan hal itu padanya. Harus ada suatu cara untuk,”

Ucapan Sehun terhenti begitu ia mendengar suara gesekan pintu dengan kasarnya. Sejenak aku berpikir kalau ada guru yang memasuki ruangan dimana aku berada saat ini, namun pikiran itu langsung ku buang jauh-jauh begitu mengingat saat ini adalah jam pulang sekolah dan bukanlah hal yang wajar jika seorang guru berkunjung ke ruang seni sekolah pada jam-jam seperti ini kecuali untuk hal yang mendesak.

“Ah, dia sudah datang,” ucap Baekhyun sambil menoleh ke belakang memperhatikan sosok yang kupikir mulai berjalan perlahan. Terdengar suara langkah kaki yang mulai mendekat ke arah kami. Baekhyun pun melambaikan tangannya begitu bayangan sosok itu mulai kutangkap. “Ku pikir kau tidak akan datang.”

“Aku bukanlah pria yang ingkar akan janji-janji yang ku buat.”

Suara itu? Jelas aku tau siapa pemilik suara itu. Semakin bayangannya itu menghilang dimakan cahaya matahari, semakin aku melihat sosok itu dengan jelas. Dia Kyungsoo, Do Kyungsoo.

Bagaimana mungkin Baekhyun bisa membawa Kyungsoo ke tempat ini?

Nana menceritakan dengan singkat bagaimana Kyungsoo mau menerima ajakan Baekhyun, dan tak kusangka itu karena taruhan konyol Baekhyun. Aku tau kalau Baekhyun memang orang yang konyol, tapi tidak pernah terpikirkan olehku dia akan mengajak Kyungsoo bermain basket melawannya dengan taruhan yang ia tawarkan. Menurut cerita Nana, perpustakaan dibuat menjadi tempat yang bising oleh kelakuan Baekhyun kemarin. Itu benar-benar konyol. Untung saja Baekhyun menang dari taruhan itu, kalau tidak, bersiaplah untuk menggali lubang kuburan untuk anak sulung keluarga Byun ini, aku akan dengan senang hati memukulinya.

“Jadi apa yang kau inginkan dariku, ehm, Baekhyun?” ucap Kyungsoo begitu memasuki ruang seni, ia menyipitkan matanya memandang Baekhyun dengan pandangan menerawang. Sedetik kemudian ia menyebarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Aku melihat wajahnya berubah bingung begitu melihat ada Sehun diruangan ini, dan begitu mata kami bertemu wajah keherannya benar-benar berada dipuncak. “Sebenarnya apa yang kau rencakan dari ini semua?”

Baekhyun menyinggunggkan sebuah senyuman kecil mendengar ucapan Kyungsoo. Ia pun kemudian menarik lengan Kyungsoo dan menyuruhnya untuk duduk menghadap ke arah kami semua. Dengan posisi melingkar seperti sekarang ini, kami bisa dengan mudah melihat raut wajah masing-masing diantara semuanya. Baekhyun berdeham pelan begitu melihat ekspresi tidak suka yang diperlihatkan Kyungsoo dengan situasi yang ia alami saat ini. “Kyungsoo, aku hanya ingin kau menjawab beberapa pertanyaan dari temanku ini, bukanlah hal yang sulit kan,” ucap Baekhyun sambil menunjuk tangannya ke arah Sehun. “Kau pasti sudah mengenal orang ini. Dia teman sekelasmu kan, Oh Sehun.”

“Jadi kalian saling mengenal? Kalian berteman? Kau dengan Sehun?”

Lagi-lagi Baekhyun terseyum kecil menanggapi ucapan Kyungsoo. “Ya, seperti yang kau lihat,” ucapnya sambil mengangkat bahu. “Jadi kita mulai saja untuk mempersingkat waktu. Sehun silahkan bertanya, aku sudah membawa narasumber pertama kita.”

“Kau pasti tampak bingung dengan situasi ini,” ucap Sehun memulai percakapan.

Kyungsoo menghembuskan nafas panjang. “Kau sudah mengetahuinya, jadi cepat selesaikan ini. Apa yang ingin kau tanyakan padaku? Sebegitu pentingkah hingga kau menyuruh Baekhyun untuk mengajakku bertaruh seperti itu?” ucap Kyungsoo sambil menatap Sehun dan Baekhyun bergantian. Ia kemudian menatapku selama beberapa detik. “Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu?”

Aku merasa sekarang semua mata manatap ke arahku.

Sehun berdeham pelan. “Apa kau masih ingat, beberapa waktu lalu kau merekomendasikan sebuah buku aksiologi obat-obatan kimia dari perpustakan. Ternyata itu buku yang menarik,” ucap Sehun mengalihkan pembicaraan. Dan karena ucapannya itu pula pandangan semua orang beralih padanya. “Bukankah kau bilang saat itu kau tertarik dengan satu jenis obat kimia. Bolehkan aku menebak jenis obat itu. Apakah morfin?”

Aku melihat Kyungsoo membulatkan matanya. Ia kemudian memandangiku dan Sehun bergantian. Setelah itu ia terkekeh pelan. “Apa ini tentang Jihyun?” tanya Kyungsoo langsung pada intinya. “Sebenarnya apa yang ingin kau ketahui dariku Oh Sehun? Apa yang kau pikirkan? Apa kau juga berpikir kalau aku penyebab kematian Jihyun, begitu?”

Sehun ikut terkekeh pelan mengikuti Kyungsoo. “Tidak, justru malah sebaliknya. Apa yang aku pikirkan mungkin sama dengan apa yang kau pikirkan tentang Jihyun, ya meskipun dari sudut pandang yang berbeda dan itu hal yang ingin kutanyakan padamu nantinya,” ucap Sehun sambil menatap Kyungsoo lekat-lekat. “Jadi bisa kau ceritakan apa yang kau pikirkan itu Kyungsoo. Tentang bagaimana kau berpikir kalau Jihyun tidak meninggal karena bunuh diri.”

Kyungsoo menyipitkan matanya. “Bagaimana kau tau itu?” ucapnya tidak percaya. Ia mungkin berpikir itu hal aneh, mengingat ia dan Sehun tidak begitu dekat, tapi Sehun berhasil mengetahui hal yang sedang Kyungsoo pikirkan akhir-akhir ini.

Sehun tersenyum bangga. Ia pasti sedang mengagumi dirinya sendiri karena pemikirannya saat ini. Ya, hal itu sering terjadi padanya. “Disini kau hanya perlu menjawab. Tidak ada pilihan untuk bertanya,” ucap Sehun masih dengan senyumannya. “Tapi untuk membuatmu yakin dan percaya, aku akan menjelaskan hal itu nanti. seiring berjalannya waktu kau pasti akan mengetahui dengan sendirinya mengapa aku bisa berpikir seperti itu. Untuk sekarang, tidak bisakah kau berbagi ceritamu?”

Beberapa detik kemudian Kyungsoo dan Sehun hanya diam dan saling memandang. Tidak ada yang berani mengganggu ketenangan ini. Bahkan dari awal, aku, Nana dan Baekhyun tidak bersuara ketika mereka berdua sibuk beradu argument. Baekhyun yang biasanya banyak bicara kali ini hanya diam mengamati alur pembicaraan Sehun dan Kyungsoo. Sekali-kali aku melihat ia mencatat sesuatu dari obrolah mereka, mungkin suatu hal yang penting dari obrolan itu, bahkan menurutku dari awal itu semua merupakan hal penting.

Suara hembusan nafas panjang begitu jelas terdengar karena situasi sepi ini. “Bagaimana aku harus memulai ini semua. Terlalu rumit untuk diungkapkan,” ucap Kyungsoo sambil memainkan jari-jari tangannya. “Dari awal aku memang tidak pernah berpikir kalau Jihyun meninggal bunuh diri karena penolakanku padanya. Itu sama sekali tidak masuk akal, benar-benar konyol. Aku justu malah berpikir kalau ini semua ada hubungannya dengan morfin, itu satu-satunya alasan yang mungkin terpikirkan olehku untuk penyebab kematian Jihyun.”

“Tidak, aku sudah membuang jauh-jauh pemikiranku tentang Jihyun yang mungkin saja seorang pengguna,” ucap Kyungsoo melanjutkan cepat saat melihatku ingin bersuara menaggapi ucapannya barusan. Ia pun kemudian memandangiku sejenak. “Sejak perdebatan kita waktu itu, entah kenapa aku jadi penasaran tentang penyebab kematian Jihyun. Apa benar seperti itu? Pasti ada yang salah. Meskipun sikapku dingin pada wanita, tidak mungkin perkataanku membuatnya melakukan bunuh diri kan.”

Aku menyipitkan mataku memandang ke arah Kyungsoo. Untuk waktu yang tidak lama, aku jadi teringat sekilas perdebatan ku dengan Kyungsoo beberapa waktu yang lalu. “Memangnya apa yang kau ucapkan pada Jihyun saat itu?” tanyaku.

“Apalagi selain kata penolakan yang biasanya ku ucapkan pada gadis-gadis lainnya,” ucap Kyungsoo yang menurutku tidak ingin membahas itu lebih lanjut. “Aku hanya tersenyum kecut dan mengembalikan surat itu padanya setelah aku membacanya sekilas. Hanya seperti itu, bahkan aku hanya mengucapkan maaf padanya waktu itu. Apa itu keterlaluan?”

Aku dan Nana saling berpandangan mendengar jawaban Kyungsoo. Aku tidak pernah memberikan surat cinta untuk orang lain ataupun hadiah dan semacamnya. Tapi aku bisa memastikan kalau perasaan Jihyun saat itu pasti terluka karena penolakan itu. Aku tidak ingin bersikap egois untuk kedua kalinya dengan mencoba menyalahakan Kyungsoo karena menolak Jihyun, itu bukanlah tindakan yang benar. Aku mengakui itu.

“Ya, mulai saat ini kau harus berusaha menolak perasaan wanita yang mengaku padamu dengan lebih lembut,” ucap Baekhyun mencoba memberi saran sambil menepuk bahu Kyungsoo beberapa kali. “Berusahalah untuk tidak menyakiti hatinya.”

Nana mencibir perkataan Baekhyun dengan mendecakkan lidahnya berulang kali. “Kau berbicara seperti itu seperti seseorang yang sudah sering sekali mendapatkan pengakuan cinta dari gadis-gadis. Tidak ada yang berani mendekatimu,” ucap Nana sambil menggelengkan kepalanya. “Lagipula tidak ada penolakan yang tidak menyakitkan. Semua itu pasti terasa sakit, baik kau berkata lembut ataupun tidak. Berhentilah membuat saran yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.”

Aku tertawa kecil mendengar ucapan Nana. Bahkan Sehun dan Kyungsoo kulihat sekarang sudah mulai merubah ekspresinya menjadi lebih santai. Salah satu kelebihan Baekhyun sehingga aku betah lama-lama disampingnya ya karena ini, ia mampu mencairkan suasana bahkan untuk tingkatan situasi seperti tadi, ditambah lagi jika ada Nana disampingnya, itu terasa menyenangkan.

Situasi menyenangkan ini nampaknya tidak berlangsung lama. Aku melihat Sehun membulatkan mata begitu ia memperhatikan catatan yang ada dihadapan Nana saat ini. Itu catatan yang baru saja kami buat tentang buku catatan milik Jihyun beberapa menit yang lalu. “Kyungsoo, apa kau masih mengingat tanggal berapa Jihyun memberikanmu surat cinta?” tanya Sehun yang mulai memandang Kyungsoo dengan tatapan menerawang. “Apakah itu tanggal 13 Mei?”

Kyungsoo terdiam sejenak seperti sedang berpikir. “Sepertinya kau benar-benar mengetahui banyak hal, Sehun,” ucap Kyungsoo sambil menaikkan ujung bibirnya. “Kau benar, itu tanggal 13 Mei. Aku mengingatnya karena tanggal itu adalah tanggal dimana adikku berulang tahun, jadi tidak salah lagi.”

Aku ikut membulatkan mata begitu Kyungsoo menyelesaikan ucapannya. Satu pertanyaan telah terjawab. 135letter, yang berarti tanggal 13 Mei, dimana saat itu Jihyun memberikan surat cintanya pada Kyungsoo. Bukankah begitu?

***

-TBC-

Maaf yang sangat untuk keterlambatan cerita ini. Entah masih ada yang nunggu kelanjutan cerita ini apa enggak, tapi aku pengen tetep nerusin cerita ini.

Sebelumnya aku bilang buat nerusin cerita ini cepet. Tapi, ternyata ada beberapa kendala yang membuat aku barus bisa nerusin cerita ini sekarang. Sekali lagi, Mianhaee…

See you ini Next chapter…

 

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] SKYREACH (Chapter 4D – One Step Further)”

  1. ya ampun aq nunggu lama bgt cerita ini…
    seneng bgt krna akhirnya ff ini dipublish 🙂
    ternyata penyebab kematian jihyun masih blum terungkap…
    masih bnyak teka-teki yg belum terjawab 🙂
    moga dichapter depan kita udh bisa mnemukan apa pnyebab jihyun terbunuh dan siapa pelaku sebenarnya 🙂
    aq tunggu ya kak next nya ^__^
    sehun-eunbi ditunggu ya sweet moment nya 🙂

  2. Masih inget 🙂 tenang aku sabar menanti, asal ceritanya dilanjut sampe selesai ngak di tengah jalan hehe 😀 aku pasti setia menunggu. Keep writing and fighting yaa 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s