[EXOFFI FREELANCE] Malang – Chapter 3 of 3 (End)

Malang Cover

Malang

by

RedShirayuki

Maincast

Bae Irene & Oh Sehun

Genres

Comedy, romance/?, school life, friendship, etc.

Length: Threeshot

Rating: Teen

 

Disclaimer

FF ini tercipta murni berasal dari otak author yang gesrek. Jika ada kesamaan tokoh, latar, alur, dan sebagainya itu adalah unsur tidak kesengajaan. Semoga kalian suka ceritanya dan selamat membaca.

3 OF 3

Irene’s side

“Mau aku antar sampai rumah.” Aku memandang pria di depanku ini dengan pandangan tidak percaya.

“Se-sehun?” Aku bergumam, kenapa?

“Sudah cepat naik.” Dia menyodorkan sebuah helm kepadaku, aku diam. Menatap helm itu. Tiba-tiba perkataannya tadi terlintas di pikiranku ‘Aku tidak mau duduk dengannya.’

“Maaf, tapi aku akan pulang sendiri saja.” Aku segera naik ke dalam bis yang baru saja berhenti di depan sepeda motor Sehun.

Aku duduk di bangku paling belakang. Bis hendak berjalan namun berhenti lagi. Mataku menangkap sosok Sehun berjalan ke arahku. Dia kemudian duduk tepat di sampingku. Dia kemanakan sepeda motornya?

Aku memalingkan wajahku ke arah jendela, berusaha memfokuskan pikiranku ke luar jendela namun pikiranku terus berputar di nama Sehun. Bukan Sehun EXO tapi Sehun yang sedang duduk di sebelahku yang sudah aku sukai selama hampir tiga tahun ini.

“Maaf.” Aku sama sekali tidak menoleh ke arahnya meskipun aku sangat ingin.

“Untuk apa?” Aku bertanya tanpa memalingkan wajahku.

“Karena kata-kataku tadi membuatmu tersinggung.” Aku mendesah pelan, “Lupakan saja.” aku berdiri dan berpindah tempat duduk. Meninggalkan Sehun yang sama sekali tidak ku ketahui raut wajahnya.

Aku benar-benar kesal sekarang. Entah kenapa aku tidak bisa maklumi Seulgi dan Wendy yang meninggalkanku sendirian, begitu pula Sehun yang tiba-tiba datang padaku. Aku merasa, kehadiranku seakan tidak dibutuhkan. Hanya sebagai pelengkap saja bagi Wendy dan Seulgi.

Aku memang senang sewaktu di taman hiburan tadi karena aku bisa berbicara dengan biasa dengan Sehun dan yang lainnya. Tapi saat aku berjalan menuju halte tadi aku menyadari kalau aku tidak bisa selamanya lengket pada Wendy dan Seulgi. Aku juga senang karena Sehun tidak menjaga jarak denganku tadi tapi perkataannya tadi membuatku menyadari bahwa sebenarnya aku membuatnya terganggu. Sampai-sampai dia tidak berminat duduk denganku. Dan tanpa aku sadari aku menangis.

 

Sehun’s side

Aku bisa melihat punggung Irene bergetar. Aku yakin dia menangis sekarang. Aku masih bisa mengingat percakapan Seulgi dan Wendy dengan Baekhyun tadi.

“Kita kurang seorang lagi, sulit pergi ke taman hiburan jika jumlah kita ganjil.” Baekhyun baru saja menghitung jumlah kami, aku menyadari bahwa Irene tidak disana.

“Kita ajak Irene saja.” Wendy berucap, membuat Baekhyun tersenyum setuju.

“Siapa Irene Chanyeol-ah?” Aku menoleh ke arah Sooyoung yang berbisik –tapi bisa kudengar– kepada Chanyeol.

“Ahh.. dia itu sahabat Wendy dan Seulgi.” Sooyoung mengangguk perlahan mendengar jawaban Chanyeol.

“Aku yakin dia pasti lebih cantik daripada mereka berdua.” Aku menoleh lagi.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Chanyeol bertanya, “Mereka berdua saja cantik apalagi Irene itu.” Aku mendesah pelan mendengar jawaban konyol Sooyoung begitu pula Chanyeol. Ah iya– Sooyoung adalah sepupu Chanyeol.

“Aku sudah telepon dia, tapi dia tidak mau.” Seulgi berucap.

“Apa kau bilang kita dengan Sehun juga?” tanya Wendy kemudian, Seulgi mengangguk membuat Baekhyun mendecak.

“Kalian jemput saja dia, kita jumpa di taman hiburan, arraseo?” Baekhyun membuat perjanjian.

“Iya, hanya itu cara satu-satunya. Baiklah kami akan memaksanya ikut.” Seughwan berujar.

“Bukankah tidak baik membuat Irene hanya sebagai pelengkap?” Chanyeol mulai angkat bicara.

“Dia pasti mengerti kok.” Aku hanya menggeleng tidak percaya mendengar jawaban Seulgi barusan.

“Kalau begitu aku tidak usah ikut.” Aku pun akhirnya angkat bicara.

“Mana mungkin kau tidak ikut jika kau yang membayar, bodoh.” Ah iya aku lupa kalau aku yang membayar karena sebagai perayaan aku lulus audisi kemarin.

“Iya, aku bercanda,” Aku tersenyum tipis.

Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana datarnya wajah Wendy dan Seulgi membuat Irene sebagai pelengkap saja, dan lucunya gadis itu tidak curiga sama sekali. Dan aku malah menyakitinya dengan kata-kataku tadi. Kalimat itu reflex keluar dari mulutku karena Baekhyun tiba-tiba menyuruh kami duduk berdua. Aku kaget dan kalimat itu keluar begitu saja. Padahal sebenarnya aku juga mengharapkan hal itu.

Iya, aku menyukai Irene semenjak adegan celana dalamnya di lapangan basket kemarin. Tapi ternyata Baekhyun dan Chanyeol juga menyukainya. Baekhyun dan aku memutuskan untuk mengalah pada Chanyeol dan ternyata Chanyeol ditolak olehnya. Aku tahu dia menyukaiku tapi aku berusaha agar dia membenciku supaya dia menerima Chanyeol tapi usahaku sia-sia. Entah berapa pria yang menembaknya dia selalu menolaknya dengan alasan yang tidak logis.

Tiba-tiba bis berhenti dan Irene berjalan menuju pintu, aku memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Dia sepertinya menyadari kehadiranku tapi dia masa bodoh. Dia akhirnya masuk ke rumahnya, meninggalkan aku dengan wajah melongo. Tega sekali dia. Akhirnya aku memutuskan untuk menjemput sepeda motorku dulu baru kembali kesini, dan menunggu hingga pagi.

._.

“Sedang apa kau disini?” Aku mendongakkan kepalaku ketika Irene tiba-tiba bertanya padaku. Aku segera berdiri dan tersenyum tipis ke arahnya “Menunggumu.” jawabanku sukses membuatnya memerah.

Dia menutup pipinya karena aku menatapnya dengan jahil, kemudian dia menatapku dari atas hingga bawah.

“Jangan bilang kau tidak pulang semalaman?” Dia tampak terkejut, aku mengangguk kemudian meregangkan tubuhku.

“Kau tidur dimana?” Tanyanya lagi.

“Disini, kan aku tidak pulang.”

TAK!

Aw, apa yang kau lakukan?” Aku memegang jidatku yang baru saja dia jitak.

“Aku kesal.” Aku mengerutkan alisku. “Matamu sembab.”

“Tidak kok.” Dia menutup wajahnya lagi.

“Kau menangis, ya?” tanyaku.

“Kau sudah sarapan?” Dia mengabaikan pertanyaanku. “Jawab aku, Irene.” Dia menoleh ke arahku, lalu menatapku tak suka.

“Aku tidak pernah bilang kalau kita ini dekat.” Dia berucap lalu segera melangkah meninggalkanku. Ya, perkataannya ada benarnya. Aku yang selama ini membuatnya sakit hati tiba-tiba sok kenal sok dekat seperti ini.

Tapi kali ini, aku tidak akan menghindar lagi Irene-ah.

Irene’s side

“Pagi Irene-ah.” Aku terus berjalan meski Wendy menyapaku barusan.

“Kau marah Irene-ah?” Aku tetap tidak menggubris pertanyaannya, terus berjalan.

“Terserah kau saja.” Wendy akhirnya pergi meninggalkanku sendirian. Aku lekas menuju kelasku, hari ini Prof. Lee yang masuk jadi aku harus cepat. Aku memang sengaja mengabaikan Wendy beserta Seulgi hari ini.

._.

Aku berhenti melangkah ketika Sehun berdiri di depanku meghalangi jalanku.

“Minggir.” Tapi Sehun sama sekali tidak minggir. Sungguh dia tidak seperti Sehun yang ku kenal. Sehun yang selalu menatapku sinis, dan bahkan mengejek celana dalamku.

Shireo.” Aku mendongak kesal ke arahnya, tentu saja mendongak dia jauh lebih tinggi dari pada aku.

Tiba-tiba dia menarik tanganku, menuju tempat parkir. Otakku menyuruhku memberontak tapi tubuhku tidak melaksanakannya.

“Kau harus temani aku makan.” Dia menyodorkan helm padaku, “Kenapa? Bukannya kau tidak mau duduk denganku?” Aku menaikkan sebelah alisku, dia mendesah pelan.

“Ada alasan di balik perkataan itu, cepat naik.” dengan seenak jidatnya dia menyuruhku naik, tapi aku naik juga, sih.

Motor Sehun melaju dengan cepat di jalan dan kami berhenti di salah satu café di Seoul. Aku memberikan helm tadi pada Sehun lalu kami berdua masuk kedalam dan duduk di kursi yang letaknya agak pojok.

“Kau mau makan apa?” Aku menggeleng menjawab pertanyaan Sehun. “Pesan minuman kalau begitu.” lanjutnya.

Cappucino.” Ucapku asal, Sehun segera memanggil pelayan café itu dan segera memesan makanannya dan cappucinoku.

“Kau masih marah?” Aku menatap Sehun jengah, “Tidak.” jawabku kemudian.

“Maafkan aku, ucapanku semalam keterlaluan.” Sehun membuatku heran terhadap tingkahnya.

“Wajar saja kau tidak mau duduk denganku, kau merasa terganggu past–”

“Aku berharap duduk denganmu.” Aku memandang Sehun kaget, apakah aku salah dengar?

“Maksudmu?” Aku menaikkan sebelah alisku, berusaha mengatur cara kerja jantungku.

“Lupakan.” Aku berdecak saat kata itu keluar dari mulut Sehun.

Aku merasakan ada yang berbeda dari seorang Oh Sehun.

Author’s side

“Aku antar pulang, ya?” Irene menggeleng cepat, “Aku naik bis saja.” Irene dan Sehun tengah duduk di halte bis sekarang.

“Rene,” Irene menoleh ke arah Sehun yang duduk dengan jarak setengah meter darinya.

“Hm?”

“Aku akan kuliah, aku akan ikut tes tahun ini.” Irene mengernyitkan dahinya. “Bukannya kau ingin debut jadi artis?”

“Iya, tapi aku akan kuliah juga.” Irene mengangguk seraya tersenyum tipis. “Itu lebih bagus.” Sehun tersenyum mendengar perkataan Irene.

“Aku men–”

“Bisnya sudah datang, aku duluan, ya.” Irene naik ke bis dan melambaikan tangannya dari jendela pada Sehun.

“–cintaimu sejak dulu, Bae Irene.” Sehun mendesah pelan, kenapa kalimat itu sangat sulit diucapkannya sedari tadi.

._.

Irene duduk dalam diam di bis. Ia nampak memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya bis tiba-tiba berhenti karena Irene ingin turun. Dia berlari menuju halte tempat dia dan Sehun duduk tadi. Dan untung saja Sehun masih disana.

“Kau kembali lagi? Apa ada yang ketinggalan?” Irene menggeleng cepat.

“Oh Sehun… kenapa kau mengikutiku semalam?” Sehun memandang Irene dengan raut wajah kaget.

“Oh Sehun… kenapa kau menungguiku semalaman?”

“Oh Sehun… kenapa kau memaksaku menemani kau makan?”

“Oh Sehun… kenapa kau, hiks..” Irene menangis, tanpa sebab.

“Irene?” Sehun mencoba mendekat namun Irene berucap lagi.

“Jangan membuatku berharap tinggi Sehun-ah, kau tiba-tiba dekat denganku membuat aku kege-eran. Hiks..”

“Kau menatapku sinis selama bertahun-tahun, namun tiba-tiba berubah tanpa sebab. Hiks..” Irene mengepal erat tangannya, sedangkan Sehun hanya menatap gadis itu lamat.

“Jangan seperti ini Oh Sehun, aku tahu kau membenciku, sangat malah. Tapi kalau kau berbuat baik padaku, aku jadi merasa kau menyukaiku. Hiks..”

“Irene-ah?”

“Jadi jangan membuatku ngefly tapi ujung-ujungnya kau membuatku jatuh ke tanah.” Irene menghapus air matanya perlahan.

“Kau tahu sejak dulu aku menyukaimu, tapi jika kau seperti ini bukankah kau namanya mempermainkan perasaan?” Sehun hanya diam mendengarkan Irene, Irene akhirnya memutuskan untuk naik taksi saja. Irene segera menyetop taksi dan lekas masuk ke dalam. Taksi itu pun melaju.

“Maaf sudah membuatmu sakit, Irene-ah.”

._.

Author’s side

“Seulgi-ah, sepertinya Irene tahu kalau kita memanfaatkannya semalam.”

“Aku sudah menduganya.” Seulgi mendesah pelan. Ia menatap Wendy lesu.

“Bukankah kita harus minta maaf, Wendy-ah?” Wendy hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan Seulgi.

“Iya, tapi… aku muak dengan Irene.” Seulgi membelalak.

“Maksudmu, Wendy-ah?”

“Asal kau tahu, Baekhyun ternyata juga menyukai Irene dulu.” Seulgi memutar bola matanya malas.

“Itu ‘kan dulu, sekarang dia ‘kan sudah sah jadi kekasihmu, Wendy-ah.”

“Tapi Baekhyun masih memiliki rasa itu sampai sekarang.” Wendy mengerucutkan bibirnya, membuat Seulgi menatapnya jengah.

“Ingat Son Wendy, persahabatan adalah segalanya bagi kita. Seharusnya kau kasihan pada Irene yang belakangan ini kesepian karena kita sudah sibuk dengan pacar kita, Wendy-ah.” Wendy mengangguk mengerti.

“Ayo kita minta maaf padanya.” Seulgi tersenyum melihat Wendy.

“Dan apakah menurutmu ini saatnya kita memberitahunya?”

._.

Sehun’s side

“Darimana saja kau, Sehun?” Aku menoleh ke asal suara, ternyata itu Chanyeol yang sedang asyik memainkan PS-ku. Maklumi saja jika Chanyeol dan Baekhyun berada di rumahku seperti sekarang.

“Irene.” Aku berjalan mendekati mereka.

“Kau bertemu dengan Irene?” Sehun mengangguk, “Kenapa tidak jujur saja padanya?” Baekhyun membuat Sehun tersenyum miris.

“Sulit, Baek.” Sehun lekas mengehempaskan tubuhnya di sofa.

“Kau bahkan belum mencobanya.” Chanyeol mencomot choco cookies di sampingnya.

“Sudah dan dia menangis.” Chanyeol dan Baekhyun lekas menoleh ke arah Sehun.

What?!” Tanya mereka serempak.

“Aku memang belum mengatakan kalau aku menyukainya padanya, tapi tingkah lakuku membuatnya kesal.”

“Maksudmu?” Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.

“Aku semalam mengikutinya sampai rumah, menungguinya semalaman, menjemputnya sepulang kuliah, mengajaknya makan, menemaninya di halte …” Sehun mengacak rambutnya frustasi.

“Aku sudah mengingatkan mu sejak kita di SMA dulu tapi kau selalu bilang kau bisa melupakannya.” Baekhyun mencibir, membuat Sehun berdecak.

“Kau saja yang sudah punya Wendy masih belum bisa melupakannya.” Balas Sehun tak mau kalah.

“Salahkan saja Irene yang begitu cantik, pintar, baik, tapi sayang jatuh cinta pada makhluk bodoh sepertimu.” Sehun mati kutu, kenapa otak bodohnya diungkit-ungkit?

“Iya aku memang si bodoh yang membaca komik hentai saat ujian.” Sehun melempar salah satu bantal di sofa ke kepala Baekhyun.

“Dan sekarang rencanamu bagaimana?” Sehun mendesah pelan karena pertanyaan Chanyeol barusan.

“Aku menyerah. Dia terlalu baik untukku.”

BRUGH!

Ya! Park Chanyeol!” Baekhyun segera mendekati Sehun yang terkapar di sofa karena Chanyeol baru saja menjatuhkan pukulannya di wajah Sehun sehingga ujung bibir Sehun sobek.

“Biarkan saja si brengsek ini merasakannya! Kenapa kau tidak pernah belajar Oh Sehun? Dia mencintaimu dan kau mencintainya, kenapa kau tidak katakan itu padanya?”

“Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat aku tahu Irene ternyata menyukaimu? Menolak semua pria yang menembakknya hanya karena pria tak berperasaan sepertimu!”

“Anggap saja aku dan Baekhyun tidak pernah mencintainya. Sekali-kali pikirkan juga perasaanmu Sehun-ah, abaikan saja kami.”

“Iya Sehun-ah. Bagaimana pun usaha kami, Irene selalu menyukaimu.” Sehun diam mencermati kalimat-kalimat sahabatnya itu.

“Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah terlanjur menyakitinya hampir tiga tahun ini.”

“Belum terlambat Sehun-ah.” Sehun terdiam lagi, menatap lekat kedua sahabatnya.

“Aku takut dia membenciku.” Sehun berucap lirih.

“Dia tidak akan penah membencimu, Oh Sehun. Lihat bagaimana kelakuanmu terhadapnya tiga tahun ini? Tapi dia masih tersenyum padamu ‘kan?”

“Sehun-ah, cepat raih kesempatan itu selagi masih ada.” Sehun terdiam sejenak, berdiri kemudian berjalan menuju keluar.

“Kau mau kemana?”

“Ke rumah Irene.” Chanyeol dan Baekhyun saling melempar senyum.

“Selamat berjuang, Sehun-ah.” Chanyeol berucap.

“Kau tidak apa-apa?” Baekhyun menepuk pundak Chanyeol.

“Memangnya kau tidak apa-apa?” Chanyeol melirik Baekhyun.

“Hei, aku sudah punya kekasih, lo.” Baekhyun tersenyum bangga ke arah Chanyeol.

Chanyeol mengambil choco cookies tadi lalu memasukkannya secara paksa ke mulut Baekhyun.

“Makan tuh kekasih.”

“Bak Chenyol.” Ucap Baekhyun dengan kesusahan.

._.

“Nona Irene sedang tidak di rumah, tuan.” Sehun menghela pelan.

“Ah.. begitu, ya? Terimakasih kalau begitu, ahjumma.” Sehun pamit kemudian keluar dari rumah Irene.

Sehun melirik jam tangannya, pukul enam sore. Seingatnya Irene sudah pulang pukul 4 empat sore tadi. Ia akhirnya memutuskan untuk menunggu Irene lagi di depan rumah Irene.

Satu jam Sehun berdiri disana namun Irene tak kunjung muncul. Sehun menghela nafas, dia menyerah. Ia menghidupkan motornya kemudian memakai helmnya.

“Sehun?” Sehun segera menoleh ketika sebuah suara memanggilnya.

“Seulgi?” Sehun melepas balik helmnya, “Sedang apa kau disini, Seulgi-ah?” Sehun berjalan mendekati Seulgi.

“Aku tinggal disini bodoh. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu.” Seulgi mendecak sedangkan Sehun hanya terkekeh.

“Aku menunggu Irene.” Ucapan Sehun membuat Seulgi menggigit bibir bawahnya.

“Oh Sehun sebenarnya…”

._.

Sepanjang perjalanan Sehun tidak bisa tenang, perkataan Seulgi terus terngiang dipikirannya.

“Oh Sehun sebenarnya…kami sudah bilang pada Irene kalau kau juga menyukainya sejak dulu. Dia menatap kami tak percaya, setelah itu mengumpat kami karena selama ini kami menutupi hal itu padanya. Ia tiba-tiba menangis lalu pergi tanpa sempat kami kejar. Kami tidak tahu dia berada di mana sekarang.”

“Bae Irene, ini sudah malam. Kemana kau?”

Sehun menambah kecepatan motornya, sebenarnya dia tidak tahu hendak kemana namun instingnya menuntunnya.

Dia akhirnya berhenti di sekolah lamanya. Tepatnya SMA nya dulu, dia merasa bahwa Irene berada disana. Berada di lapangan basket tempat mereka bermain dulu. Tanpa sempat melepas helmnya dia segera menuju lapangan basket. Dan benar saja, disana ada Irene sedang memantul-mantulkan bola basket.

Tiba-tiba Irene menoleh kebelakang, reflex Sehun melepas helmnya lalu berlari menuju Irene. Irene menyadari hal itu dia berlari ke Sehun. Sehun menangkap tubuh Irene, merengkuh tubuh gadis itu.

“Maafkan aku.” Sehun berucap mempererat dekapannya ke tubuh gadis itu.

“Maafkan aku, Sehun-ah.” Tangis Irene pecah seketika, membasahi kaos yang dipakai Sehun. Sehun melepas pelukannya, menatap wajah Irene lekat-lekat.

“Kau tidak boleh menangis lagi, Irene-ah.” Sehun mengelap air mata gadis itu. Irene tersenyum tipis.

“Kenapa kau bohong, eoh? Kenapa kau selalu bersikap kejam padaku?” Irene memukul pelan dada Sehun. Sehun tertawa renyah. Dia mencubit gemas pipi calon… iya calon gadisnya itu.

“Jual mahal wajar ‘kan?” Sehun tersenyum jahil membuat Irene tertawa kecil.

“Kau harusnya dihukum.” Irene mengerucutkan bibirnya.

“Dihukum?” Sehun menaikkan sebelah alisnya, Irene kemudian tersenyum jahil lalu mengecup pipi Sehun. Sehun hanya mampu memebelalakkan matanya, seketika semburat merah muncul dipipinya.

“Aku berniat mengecup bibirmu tapi sepertinya bibirmu terluka.” Irene mengalihkan pandangannya, berusaha menutupi wajahnya yang semerah tomat sekarang. Sehun terkekeh pelan melihat tingkah Irene.

“Bibirmu kenapa?” Irene mengusap ujung bibir Sehun yang sobek karena pukulan Chanyeol tadi.

“Kau, kenapa kau membuatku ingin menciumu?”

“Hah? Apa maksud–”

Kalimat Irene terpotong akibat Sehun sukses mendaratkan bibirnya ke bibir Irene. Mata Irene membulat sempurna dan rasanya wajahnya sangat panas saat ini. Sehun memperdalam ciuman mereka, Irene yang tadinya hanya menggenggam ujung kaos Sehun dengan erat sekarang mengalungkan tangannya dileher pria itu. Akhirnya tautan mereka terlepas saat masing-masing mereka telah kehabisan oksigen.

“Maaf..” Irene mengernyitkan dahinya ketika Sehun menggumamkan kata itu.

“Kenapa kau minta maaf?” Irene menangkup pipi Sehun dengan kedua telapak tangannya.

“Selama ini aku selalu mengacuhkanmu, menyakitimu, tapi kau selalu…”

“Sehun-ah, aku bohong jika aku tidak marah atas sikapmu selama ini tapi entah kenapa aku rasanya tidak bisa mencintai pria yang lain selain dirimu.” Sehun tersenyum tipis, dia menyatukan dahinya dengan dahi Irene.

“Bae Irene, would you be my girlfriend?”

“Aku pikir kau sudah tahu jawabannya, Sehun-ah.” Irene tersenyum seraya menatap mata Sehun, mereka saling melempar tawa satu sama lain.

Ternyata kisah cintaku tak sama dengan judul cerita ini, Sehun-ah.”

Sehun menarik kembali tengkuk Irene dan mendaratkan ciuman lembut serta manisnya ke bibir mungil Irene, mereka tak sadar ada empat pasang mata yang menyaksikan mereka dari kejauhan.

Ya, Son Wendy, jangan melihati mereka terus.”

“Ish.. diamlah Baekhyun-ah, aku sangat terharu melihat mereka.”

“Iya, mereka sangat romantis.”

“Park Chanyeol, ottokhae? Mereka berdua tidak mau pulang, masa kita harus terus melihati Sehun dan Irene berciuman?”

“Kau ini berisik sekali, sudah perhatikan saja mereka.”

 

Saranghae, Bae Irene.”

Nado saranghae, Oh Sehun.”

._.

One month later..

“Sehun.” Irene menggoyang-goyangkan lengan Sehun yang tengah asyik membaca buku. Mereka sedang berada di dalam bis tepatnya di kursi pojok paling belakang.

“Hm?” Sehun sama sekali tidak berminat mengalihkan matanya dari buku yang dia baca kepada gadisnya.

“Ish.. sejak kapan kau lebih memilih buku daripada aku?” Irene mengerucutkan bibirnya kesal. Sehun melirik singkat ke arah Irene.

“Semenjak, aku menjadi kekasih seorang gadis jenius, mungkin.” Sehun tersenyum kecil melihat ekspresi Irene yang benar-benar menunjukkan bahwa dia sangat kesal.

“Huh, aku bosan tahu.” Irene menatap pria itu kesal.

“Ya sudah baca buku saja, bukannya kau selalu menyuruhku begitu tiap kali aku bosan menunggumu pulang kuliah?” Irene memutar bola matanya malas, iya memang. Dia selalu begitu, tiap kali Sehun mengiriminya berpuluh-puluh pesan karena bosan menunggunya pulang. Dan Sehun menjadi rajin membaca semenjak itu apalagi dua bulan lagi dia akan ikut ujian masuk universitas. Dan sebenarnya Sehun berhenti trainee juga semenjak itu.

“Aku juga bosan baca buku.” Irene semakin memajukan bibirnya, untunglah hanya mereka berdua dan sepasang suami istri –mungkin– di dalam bis itu.

Sehun menurunkan sedikit buku yang sedang dia baca, “Lantas kau mau apa?” Irene menoleh ke Sehun menatap pria itu dengan tatapan memohon.

“Aku mau yang manis dan berdebar-debar.”

“Manis dan berdebar-debar?” Sehun mengernyitkan dahinya, dia menggeleng merasa permintaan Irene terasa aneh. Tapi dia teringat akan sesuatu.

Lantas dia menarik dagu Irene, menutupi mereka dengan buku yang sedari tadi dia pegang dan kemudian mencium singkat bibir gadis itu.

“Bagaimana? Sudah manis dan berdebar-debar?” Sehun tersenyum jahil kepada Irene yang wajahnya sudah bagaikan kepiting rebus sekarang.

“Lagi?” pertanyaan Irene membuat Sehun menggeleng-geleng sambil menggumamkan ‘ckckck’ tapi dia menutup bukunya lalu meletakkannya di pangkuannya.

“Jangan salahkan aku jika kau sesak nafas setelah ini.” Sehun tersenyum miring dan dibalas dengan senyuman genit dari Irene.

 

—————   fin  —————

 

Kyaa!! >.< akhirnya selesai dengan bahagia. Maaf ya ceritanya jadi membingungkan seperti ini -,- dikarenakan ini threeshot pertamaku. Dan maaf kalau alurnya kecepatan dan feelnya gak dapat. Dan ngomong-ngomong, adegan kiss yang di bis itu aku ambil dari sebuah manga, hihi maaf deng. Thank you ya buat yang udah baca and komen ff ini hingga chap yang terakhir. Big thanks juga buat Shaekiran udah jadi beta reader for me. See you in next story, bye guys!

Iklan

27 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Malang – Chapter 3 of 3 (End)

  1. walaupun aku bacanya br yg chapter yg ini tapi seru banget, aku kirain yg manis tapi mendebarkan itu minum minuman manis sambil lari maraton, tahunya beda lg versi sehun-irene #apaini
    aku reader br salam kenal dan ijin bacaya…. #IjinTelat

  2. Akhirnya kebaca juga last chapternyaaaa hahah. Kok ya bisa manis banget gitu yaa. Padahal ngarepnya irene ngebenci sehun dulu. Terusan sehunnya usaha makin keras terus irene luluh. Tapi yaudab begini pun sudah puas kooookkkk. Yah meskipun real life ceritanya shiraa berakhir malang (katanya) tapi paling engga ceritanya berakhir manis yaa hehehe.
    Semangaaaattttt!!!
    -XOXO-

  3. Duhh beneran kupikirr,endingnya bakal kaya judulnya,,tp senang karna happy ending,,tp untuk adegan kiss kiss d bus nya moga ga ditiru ya,,,ga boleh kiss kiss d tempat umum,cukup d fiksi aj…hehhee
    ..

  4. Kyaaaaa!!~
    Akhirnyaaa malangkuu tamat juga dengan happyending aku kira bakal sadending ternyata engga ahh syukur deh kalau gitu aku seneng bacanya hihi..
    Ini ceritanya bagus bgtt walaupun cuma threeshoot alurnya juga gak kecepatan dan feelnya aku dapett ^^
    Aku paling suka adegan terakhir mereka didalam bis duduk dipojokan sambil yagitudehh sehun romantis bgt irene tingkahnya juga gemesini ihh bikin gregettt ><
    Ditunggu yaa kak cerita lainnya okeoke?
    Fightingg kak yuki!!

  5. EAKKK, NAMA ANE DINOTICE -,- /plakk/
    PEMBACA BETA HADIR GAREM…/plakk egen/ 😄

    Akhirnya malang yg ini berakhir bahagia, gak macam malang dunia nyata yaw /PLAKKK/ XD/ Kabur ke pelukan ceye / PLAKK/ OPEN YOUR EYES EKI!/ 😄

    Keep writing rem, cintakuh padamuh. ❤

  6. akhirnya happy ending juga…padahal aku udh siap sepatu buat nimpuk author*ehh* kalo buat sad beribu” sad ending loh…hhahahaha
    trus chanyeol sama siapa? sama aku aja yeol??
    aku kaget lho wendy bisa kek gitu sama irene…. emang ya temen itu bisa nusuk juga….hahh

    prookkkkprokkkk….*clap* buat author yg sukse biikin cerita ini…sukses jg buat saya sebagai pembaca terhura sekali membacanya…
    semoga sukses buat cerita” selanjutnya ya thor…

    • Jadi aku mau ditimpuk? Silahkan kalau pake hatikamu tapi kalau pake sepatu eh engga deng:V 😀 Kamu terhura? Dibagian manay hm? Thankss yaa ❤ maaf balasannya telat banget :V

  7. yeeeyyy…..akhirnya happy ending 🙂
    dari yg malang berubah jadi lucky one nih ceritanya 🙂
    tuh kan bener dugaanku, si sehun selama ini mnjauhi irene krna dia ingin mengalah pada chanyeol….
    tapi syukurlah akhirnya mereka berdua berakhir bahagia….penantian panjang irene gk sia” jadinya ^__^
    sehun sweet bgt deh….tp mbok ya lihat tempat to mas, masak di dlm bus juga ciuman sih,hehehe….
    untung aja bus lagi sepi 🙂 irene jg aneh” aja nih mintanya!!!
    yang manis dan berdebar-debar ya #Kode but minta dicium 🙂

  8. Yeheett.. Akhirnya baca jga^^.. Hehehe

    “Iya, aku menyukai Irene semenjak adegan celana dalamnya di lapangan basket kemarin.” Heii kok adegan CD dbawa” ya..hihihi tpi klo gx ada kejadian Itu mungkin sehun gx suka sama irene/Plakk

    “Dan apakah menurutmu ini saatnya kita memberitahunya?”.. Tuh dugaan ku bner lg klo wendy sma seulgi mau ngomongin sehun yg s benernya suka sma irene..huft

    “Aku mau yang manis dan berdebar-debar.” Ya Ya Yaaa.. Gila itu lagi d Bus loh, kalian berdua bikin Baperrrr..ugh #namanya juga lagi kena asmara jadi ya gitu deh..wkwkwk apa lg klo d Busnya hanya mereka berdua dan sepasang suami istri mungkin (?)..ahahaha

    Oke deh Yuki, akhirnya Happy Ending^^
    Aku tunggu cerita yg lainnya yaww 🙂
    Terus berkarya selalu^^

    • Duh kak aku kehabisan kamus buat ngebalas ficlet Kaka 😂😂 yang pasti Thankyouuu banget buat supportnya selama ini 😘😘 ♥♥ thankyou and love youu ♥

  9. Hehehe.. Frist coment..hihihi
    Aku bcanya sampe : “Se-sehun?” Aku bergumam, kenapa?.
    Wkwkwk
    Yuki-chan naega terusin bacanya besok aja ya.. Wkwkwk
    Udah ngantuk

    Tuh..tuh..tuhkan feeling ku bener kalo itu Sehun. Ini aneh tapi nyata bagiku (?)

    Paii paii..kkkk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s