[EXOFFI FREELANCE] Hi, The One – Chapter 4

hi-the-one

a fanfic by drixya

HI, THE ONE

with Allena Wu (OC), Oh Sehun and find by yourself.

Genre(s) : Romance, Friendship, Hurt || Rating : PG-15 || Length : Chaptered || Warning! Work in progress.

I own nothing, but storyline and OC. Beautiful poster credits to Xyoblue.

Prev : [1] Do You Miss Me? || [2] Something Has Changed || [3] Too Confusing

Piece 4 : His dark side caused of me

E—X—O

“Kenapa?” Manik liar Soorin menatap heran sosok pemuda dihadapannya. Bukan tanpa alasan, pemuda itu secara sepihak melepas tautan bibir mereka.

“Aku mendengar sesuatu.” Sehun, pemuda tersebut, berujar sembari memindai sekeliling. Mencari asal suara yang sempat tertangkap indra pendengarnya. Kelereng netra Soorin berputar 360 derajat, menyangka Sehun hanya mengada-ada atau mungkin salah dengar. Lagi pula apa salahnya jika ada pihak lain yang memergoki mereka? Setahu Soorin, Sehun tidak pernah peduli pada pandangan orang.

Soorin mengalungkan kembali lengannya pada tungkai Sehun. Memaksa pemuda Oh agar bertemu tatap dengannya. Berbisik rendah tepat didepan bibir Sehun, “bisa kita lanjutkan saja yang tadi?” Dan seperti yang dapat ditebak, keduanya kembali melanjutkan tertundanya kegiatan mereka.

***

Senyap. Ya, hati Allena terasa senyap. Senyap yang tak menyenangkan, lebih tepat menyakitkan. Maniknya sesendu perasaan yang membelenggu. Ia menyaksikannya, melihatnya dengan mata kepalanya sendiri jika firasat buruk itu terjadi. Firasat yang mengatakan bahwa disisi Oh Sehun, ia bukan lagi satu-satunya gadis yang mengisi hati maupun harinya.

Allena ingin menertawakan dirinya yang terlampau yakin tak ada sosok lain di hati Sehun. Tapi tidak bisa. Rasanya terlalu sakit bahkan untuk sekedar tersenyum. Ia masih belum siap menerima kenyataan ini.

“Untukmu. Minumlah.”

Allena mendongak, lantas menerima uluran cup dari Jaewon.

“Terimakasih.” Ucap Allena. Jaewon mengangguk sebagai bentuk ‘sama-sama’.

Pemuda Jung menempatkan diri di sisi si gadis. Menenggak kopinya sambil menatap pekarangan di belakang kampus. Tak sepi, juga tak begitu ramai. Suasana menjelang sore yang menyenangkan. Kontras sekali dengan kondisi hati gadis disebelahnya. Jaewon melirik ke samping kanannya. Dan yang ia dapat tak begitu mengejutkan. Allena hanya menatap cup di genggamannya dengan hampa. Terlihat tak berniat mencicipinya barang seteguk.

“Punyamu Hot Chocolate. Bagus untuk memperbaiki mood.” Tutur Jaewon.

Gadis Wu menoleh padanya. Ia perhatikan ukiran wajah Jaewon yang masih kukuh memandang halaman. Teringat ketika pemuda itu memeluknya erat dan membisikkan kata-kata menenangkan. Sungguh sepersis perilaku Sehun ketika Allena dirundung kesedihan. Sesak nyaris kembali menghimpit kala nama ‘Sehun’ ia bawa lagi ke dalam pikirannya.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Jaewon, menyadari Allena tengah memperhatikannya. Allena menggeleng pelan. Menatap lagi cup-nya dengan hampa sebelum meneguk sekali cairan hangat di dalamnya.

“Aku memang belum tahu apa hubunganmu dengan Oh Sehun. Tapi apapun itu, ku rasa lebih baik kau jangan mengambil kesimpulan dulu.”

Jemari Allena meremas cup tanpa sadar. Saran Jaewon cukup logis. Tapi hati Allena memberontak. “Kau mengenalnya?” Allena bertanya, sebagai peralihan.

“Sembilan puluh persen penghuni kampus ini tahu siapa itu Oh Sehun. Salah satu mahasiswa yang masuk jajaran sepuluh besar nilai tertinggi dan banyak diidolai para mahasiswi. Sebatas itu saja.” Jelas Jaewon.

‘Masuk jajaran sepuluh besar’. Dulu, saat SMA-pun, Sehun selalu berhasil memegang predikat itu tiap tahunnya. Bahkan terpilih sebagai lulusan terbaik di SMA mereka. Allena meringis. Ingin sekali memukul kepalanya yang masih saja terpikirkan sosok yang telah berhasil membuat wajahnya dibasahi air mata.

“Apa menurutmu aku salah jika membenci dia?”

Jaewon terdiam selama sepersekian detik. “Bisa tidak, bisa iya. Kau pasti lebih mengenal Sehun daripada aku, bukan? Dia pasti punya alasan mengapa dia bersama gadis itu. Setelah kau tahu apa alasannya, tanyakan pada dirimu sendiri, apa kau salah atau tidak jika membencinya.”

Allena termenung. Mengapa tiap patah kata Jaewon terdengar benar ditelinganya? Allena ingin sekali menyangkalnya, tapi tak bisa. Apa perasaannya begitu dalam untuk Sehun? Entahlah…

“Saranmu…akan ku pikirkan.” Putus Allena.

Kalimatnya menarik sudut bibir Jaewon ke atas.

“Mau ku antar pulang? Istirahat juga bagus untuk menenangkan pikiranmu.”

Untuk pertama kalinya sejak menyaksikan Sehun bersama gadis tak dikenal, Allena tersenyum. Lalu beranjak pergi dari kampus dengan Jaewon. Firasat Allena benar, Jaewon adalah kawan baiknya.

***

Tangan Allena dengan lihai memotong bawang, cabai dan bahan masakan lainnya menggunakan pisau. Memulai kesibukan agar mengusir ingatannya akan kejadian di kampus tadi. Kalau saja Jaewon mau mampir sebentar saja, pasti akan lebih menyenangkan bagi Allena memiliki teman bicara. Berhubung sang tuan rumah, Seungwan, belum menampakkan diri.

Sahabatnya tersebut belakangan disibukkan dengan berbagai tugas, belum lagi ia mengikuti beberapa organisasi di kampus. Allena saja sempat heran melihat Seungwan yang sekarang. Gadis Son itu jadi lebih aktif beraktifitas dibanding kala SMA. Hal yang bagus memang, tapi terkadang Allena merindukan candaan Seungwan. Karena dialah salah satu orang yang mampu membuat Allena merasa lebih baik, terlebih di saat seperti ini.

Tiba-tiba Allena teringat Gege-nya. Ada keinginan untuk menelpon Kris, namun ia tepis. Ia tak yakin tidak akan menangis ketika mendengar suara sang kakak. Itu dapat berakibat buruk. Bisa saja Kris langsung ke bandara dan mengambil penerbangan cepat menuju Korea saat itu juga. Dan Allena tidak ingin itu terjadi. Bagaimana nasib restoran keluarga mereka kalau pemimpinnya pergi begitu saja tanpa memikirkan hal lain? Bagaimana jika ia dipaksa kembali ke Cina?

“Aku pulang~”

Langit telah menampakkan jingganya ketika Seungwan menyerukan demikian. Allena tersenyum senang mendengarnya.

“Tepat waktu! Masakannya sudah matang!” Allena berseru dari dapur. Sontak Seungwan melangkah ke sana. Mulutnya bergumam ‘woah’, tanpa berkedip menatap sajian di atas meja. Seungwan tidak ingat kapan terakhir kali meja makannya dipenuhi makanan sungguhan seperti itu. Bukan makanan instan atau cepat saji layaknya hari-hari lalu.

“Ini…Kau yang memasaknya?” Tanya Seungwan, dipenuhi rasa takjub.

Yup! Cepat simpan tas dan cuci tanganmu. Kita makan bersama.”

Seungwan menuruti intruksi Allena. Ia buru-buru menyimpan ranselnya di kamar, mencuci tangan, lantas duduk bersebrangan dengan sahabatnya. “Ibuku bahkan sudah lama tak mengirimi makanan.” Ujar Seungwan sambil mengambil lauk dan meletakannya ke mangkuk nasi miliknya.

“Bukannya orang tuamu masih di Kanada?” Alis Allena saling bertautan ketika bertanya.

Seungwan hanya mengangguk, mulutnya masih dipenuhi nasi dan kimchi. Seusai berhasil mengunyah dan menelan keseluruhannya, Seungwan berucap, “ya, dan sepertinya mereka belum ada niatan untuk kembali ke Korea. Dad bilang, dia akan ke sini kalau aku sudah berhasil membuktikan ucapanku. Untuk menjadi sutradara sukses di Korea.”

Air muka Seungwan tak memunculkan kesedihan ketika mengatakannya, justru diliputi semangat. Mungkin karena sejak SMA terbiasa hidup tanpa orang tua. Semua yang mengenal Seungwan juga tahu kalau gadis itu lebih memilih hidup sendiri di negara asalnya dibanding di Kanada bersama keluarganya. Seungwan bilang kampung halaman adalah tempat terbaik.

“Kalau dipikir-pikir nasib kita berempat mirip, ya? Orang tuaku di Kanada. Ayah Taehyung di Jepang, ibunya sibuk mengurusi butik, kakaknya kuliah di Inggris. Ayah Sehun di Amerika, ibu dan kakaknya sudah setahun ini di Jerman. Dan kau, ibu dan kakakmu di Cina, ayahmu…err, apa dia masih di Kanada?” Seungwan sedikit berhati-hati ketika menanyakan hal paling sensitif bagi Allena.

Gadis Wu menggeleng namun tetap tersenyum. “Entah. Aku tidak tahu dimana dia hari ini atau kemarin ataupun besok. Wajahnya seperti apa sekarang pun aku tidak tahu. Tapi, biarkan saja. Toh, aku sudah punya ayah baru.” Allena mengedikkan bahu acuh, seolah yang ia katakan sekedar ucapan sengau belaka.

Ini yang terkadang membuat Seungwan kagum pada Allena. Sahabatnya tersebut dapat menutupi kesedihannya akan sang ayah kandung dengan gestur acuh. Dua belas tahun terpisah dengan sosok yang menjadi alasan lahirnya ia di dunia ini, tampaknya menciptakan Allena yang terbiasa akan hal itu.

Pikiran Seungwan memudar ketika ia menyadari akan satu hal. “Alle, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Cepat katakan padaku.” Panik Seungwan. Menarik kerutan di dahi Allena. Ia merasa tak menangis tapi mengapa Seungwan tiba-tiba bertanya ‘kenapa kau menangis?’ padanya?

“Menangis apanya, sih? Lihat, tidak ada air mata di wajahku, bukan?” Allena menunjuk wajahnya dengan sumpit.

“Matamu, Alle. Matamu sembab. Kau pasti habis menangis. Ceritakan apa yang terjadi, jangan berbohong padaku.” Desak Seungwan.

Allena seketika terdiam. Diam-diam bertanya, apakah matanya terlihat begitu bengkak? Ia merutuki dirinya sendiri yang lupa memoles foundation di area netra untuk menutupi bekas tangisnya. “Tidak ada yang terjadi, Seungwan.” Allena menunduk, memilih kembali menyuap nasinya.

Tapi Seungwan tak mau menyerah, ia yakin telah terjadi sesuatu pada Allena hingga membuatnya menangis sampai sembab. Karena Seungwan tahu, Allena tidak menangis kecuali masalah yang dihadapinya benar-benar membuatnya terluka atau bersalah.

“Kalau begitu, jangan bicara padaku. Bicaralah jika kau bersedia untuk menceritakannya.” Seungwan meletakkan sumpitnya di permukaan meja, lantas beranjak dari sana. Meninggalkan Allena yang menghela napas, bimbang harus bagaimana.

***

Tungkai Allena berderap menuju kamar Seungwan. Seusai mencuci, merapikan piring dan mangkuk serta bergelut dengan pikirannya sendiri, Allena menyimpulkan untuk bercerita pada sang sahabat. Selain tak tahan jika nantinya harus saling mendiami, Allena pun memutuskan untuk menanyakan sesuatu perihal Sehun padanya.

Dilihatnya Seungwan tengah membaca buku sambil bersandar pada papan kayu tempat tidur. Allena lalu bergabung di samping Seungwan.

“Jika tak berniat untuk menceritakannya, lebih baik jangan menggangguku.” Kata Seungwan, tetap fokus pada bukunya.

“Aku mau bercerita. Hanya jika kau berjanji padaku untuk menjawab jujur semua pertanyaan yang ku ajukan.” Balas Allena.

Gadis Son menutup bukunya dan meletakan di nakas. Ia buat duduknya menjadi bersila, lalu menyamping agar dapat melihat lawan bicaranya.

“Baik, aku berjanji. Sekarang ceritakan apa yang terjadi.”

Allena menarik napas dalam, mengumpulkan kekuatan hatinya untuk menceritakan kembali kejadian yang sebenarnya tak ingin ia ingat. “Sehun. Aku melihatnya berciuman dengan seorang gadis di kampus.” Seungwan mematung. Oh, ia sudah bisa menebak apa pertanyaan Allena nantinya.

“Gadis itu…Apa dia kekasih Sehun?”

Nilai seratus bagi Seungwan karena tebakannya tidak meleset sedikit pun. Ia tahu cepat atau lambat Allena akan mengetahui kenyataan tentang Sehun. Tapi tak Seungwan sangka akan secepat ini. Mungkin Seungwan perlu memberi peringatan pada Sehun untuk tidak bertindak gegabah.

“Bukan, Allena. Dia bukan kekasih Sehun. Kenyataannya, Sehun tak pernah memiliki kekasih. Itu karena dia sangat mencintaimu, Alle. Terlalu mencintaimu sampai tak bisa menerima kehadiran gadis lain dihatinya. Dan akhirnya memilih bermain-main dengan para gadis yang tertarik padanya.”

“A-Apa maksudmu ‘bermain-main’?”

Seungwan mengigit bibirnya sendiri. Allena pasti akan terluka jika mendengar penuturannya, tapi Allena harus tahu yang sebenarnya terjadi. “Sehun berkencan dengan banyak gadis. Tapi biasanya tidak bertahan lama, ia hanya mengencani seorang gadis paling lama seminggu, atau mungkin dua minggu. Setelah itu, bertingkah seolah tidak kenal. Dan setahuku, Sehun tidak pernah berkencan dengan gadis yang sama untuk kedua kalinya.”

“Sehun pikir, dengan begitu ia akan dapat melupakan rasa sakitnya padamu.” Seungwan melanjutkan sambil menatap Allena penuh penyesalan. Menyesal karena tak bisa mencegah Sehun, sahabatnya sendiri, bertindak demikian.

Sementara Allena…Ia merasakan sebongkah batu besar kembali menghantam dadanya. Tidak cukup melukai Sehun dua tahun lalu, hingga detik ini pun nyatanya ia masih melukai Sehun tanpa sadar. Allena begitu bahagia ketika dapat bertemu lagi dan kembali bersama Sehun. Tanpa tahu seberapa dalam luka yang telah ia goreskan pada hati laki-laki itu. Hingga mengubah Oh Sehun menjadi lelaki tak berperasaan.

Bahkan untuk menangis pun, Allena merasa tak pantas. Ia termenung, sibuk menyalahkan dirinya sendiri sampai pertanyaan yang Seungwan ajukan kemudian membuat hati dan pikirannya semakin dilanda kebimbangan.

“Sekarang giliranku bertanya padamu, Alle. Setelah mengetahui itu, apa kau masih akan bertahan dengannya?”

To be continued…

20 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Hi, The One – Chapter 4”

  1. Allena udh strong demi Sehun :’)
    Sehunnya aja emg yg jahat /jadikeselsendiri/

    Wah? Beneran? Duh senengnya ada yg bilang bgtu hehe

    Makasih ya udh baca dan komen ^^

  2. ohh noo,, benerkan feelingku kalo allena pasti ngliat sehun lagi ciuman sama cewe lain, ohh my god, sehunnnnnnn. allena pasti nyesel banget dehh, abis ninggalin sehun selama 2 tahun, begitu balik lagi ke korea dia harus ngliat semua sifat sehun yang rada berubah.

    di tunggu nextnya yaaa kakk

  3. Dilema banget mesti itu allena ditanyain begitu. Dibilang sakit ya sakit. Cuma ya pasti ngerasa bersalah. Sayang mah sayang sama sehun. Cuma kaya mikir lagi duakali karena yg diliat itu. Tapi yagatau laahhh gimanah. Aku lanjut baca chapter 5nya ajaa hehe. Semangaatttt!!
    -XOXO-

  4. Alle? Sehun???

    Arrghhhhhh… kenapa sih adalah kata-kata “karena kau, aku seperti ini”
    Sumpah benci sama kalimat satu inii… Kamu bisa bertahankah le?
    Kalau aku…. gak tahu, gak bisa jawab. :”)

  5. jlebbbbbbb…..
    aku jadi allena udah kit ati…mana bisa bertahan…walopun sehun cuma meluapkan sakit hati, tapi ya gk sampe segitunya dong…ahhh molla… karna aku bukanlah allena..allena bukanlah aku…dan sehun bukanlah sehunn…hahahahaha

    tau gk aku ngomong gitu artinya aku dapet feelnya setelah baca fanfic ini,..uhhh bangganya..
    lanjut yaa

    1. Allena udh strong demi Sehun :’)
      Sehunnya aja emg yg jahat /jadikeselsendiri/
      Wah? Beneran? Duh senengnya ada yg bilang bgtu hehe
      Makasih ya udh baca dan komen ^^.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s