[EXOFFI FREELANCE] Holler (Chapter 7)

HOLLER chapter 07.jpg

¤

HOLLER

¤

Choi’s

¤

Park Minah – Byun Baekhyun – Oh Sehun

¤

Ocs – EXO members – Others

¤

Complicated-romance – School Life – Fluff

¤

Chaptered

¤

T(eenager)

 ¤

The OCs and the stories are  purely mine, EXO members belong to EXO-L

¤

“Why are stuck on the same-ending story?”

¤

Previous Chapters

Teaser and trailerIIIIIIIVV

VI

¤

¤ VII ¤

¤

 

Setelah kurang lebih 30 menit berolah raga ringan, para siswa kini sudah terlihat lebih segar walaupun masih ada yang sesekali menguap.

 

“Ja, setelah ini sonsaengnim akan membagi kalian menjadi 6 tim. Didalam 1 tim terdapat 3 perempuan dan 2 laki-laki, tim ini hanya berlaku saat ada kegiatan tim diluar ruangan. Silahkan berbaris menurut tim masing-masing setelah songsaenim memanggil nama kalian. Tim pertama…..”

 

Siswa yang mendengar namanya dipanggil langsung saja mengikuti perintah songsaenim, membuat barisan berdasarkan tim.

“Tim ketiga silahkan berbaris disebelah kanan tim kedua, Eun Ha Ni, Oh Se Hoon, Yoon Ri Ka, Do Kyung Soo, Park Min Ah.”

 

Skip. Sampai tim keenam

 

“Baiklah semua tim sudah terbagi, sekarang kalian semua lapar bukan?”

Nee…”

“Tugas pertama tim kalian adalah menemukan segala sesuatu yang bisa kalian gunakan untuk persediaan bahan makan hari ini yaitu sarapan, makan siang dan makan malam.”

“Haaa?”

Tentu saja perkataan songsaenim tersebut membuat seluruh siswa tercengang.

“Di belakang pondok ada sebuah hutan kecil dan kami sudah menjamin bahwa di sana terdapat banyak sekali bahan makanan yang bisa kalian gunakan, diujung hutan ada sungai kecil yang banyak ikannya. Oh iya, didalam hutan kami sudah melepas 5 ekor ayam, bagi setiap tim yang berhasi menangkap 1 ayam kami akan menambahkan beras untuk tim kalian. Ingat, hanya ada 5 ekor ayam sedangkan kalian ada 6 tim, so siapa cepat tim tersebut yang dapat.”

 

Terdengar seluruh siswa sibuk berdiskusi sendiri-sendiri dengan timnya, bahkan ada juga yang sampai mengangis karna ia takut dengan ayam.

“Semuanya tenang dulu. Kalian punya waktu 30 menit untuk hal tersebut dan saat kalian mendengar sirine dari toa ini sesegera mungkin kalian kembali kesini. Untuk tim yang terakhir sampai kesini, kami akan mengambil 1 bahan makanan dari tim kalian sebagai hukuman untuk tim kalian. Dan waktu kalian dimulai dari…..”

 

teeeeet

 

“Sekarang! Cepat! Cepat!”

 

Suara teriakan Ahn songsaenim bercampur dengan suara sirine toa dan seluruh siswa pun langsung bubar layaknya sekumpulan semut yang bubar saat ditiup. Hanya sebagian kecil dari para siswa yang menuju sungai untuk mencoba menangnkap ikan, yang lainnya lebih terfokus untuk menjelajah hutan dengan tangan kosong untuk mengumpulkan bahan makanan dan menangkap ayam.

 

Tim Ketiga

“Baiklah jujur saja, seumur hidup aku tidak pernah menangkap ayam dan aku takut terhadapnya. Siapa diantara kalian yang tidak takut ayam?”

Kyungsoo berkata diantara kelompoknya yag sedang berlari menuju hutan, dan semuanya terdiam menanggapi pertanyaan Kyungsoo. Ayam? Oh ayolah, rasanya memang enak saat sudah menjadi masakan tapi tidak ada satupun diatara kelima anak manusia ini yang terpikirkan untuk menangkap ayam hidup-hidup.

 

“Aku belum pernah menangkap ayam sebelumnya, maka dari itu aku akan mencobanya.”

Yap! Itulah pendapat Park Minah, yeoja yang sangat menyukai tantangan. Mungkin bagi sebagian siswa kunjungan keluar sekolah ini adalah mimpi buruk namun tidak bagi Park Minah, kegiatan ini adalah hal baru yang menantang baginya dan ia sangat menyukai hal-hal baru apapun itu.

 

Geurae Mina kau mencari ayam, Sehun akan membantumu.”

Naneun wae (kenapa aku)?” Protes Sehun karna ia juga agak risih terhadap ayam.

“Karna kau pemalas dan mungkin terlalu malas untuk mencari bahan makanan yang mungkin saja terkubur di tanah atau bergelantungan di ranting pohon, kau hanya bisa menangkap sesuatu yang terlihat di depan matamu dan itu ayam. Jangan protes!” Kyungsoo mulai menegaskan suaranya saat tim ini mulai memasuki hutan.

 

“Aku sendiri akan mencari ubi-ubian kalau masih ada waktu aku akan menangkap ikan, Rika dan Hani carilah apapun yang bisa kalian dapatkan dan ini berlaku untuk semuanya termasuk kau Mina. Jika kalian tidak bisa menangkap ayam gwenchana, cari bahan lain yang bisa kalian bawa. Dan saat terdengar suara sirine langsung saja kalian kembali ke pondok tanpa berkumpul lagi atupun saling menunggu satu sama lain karna setidaknya nanti ada perwakilan dari kelompok kita yang sudah sampai disana terlebih dahulu, arra?”

 

Seluruh anggota tim pun mengangguk dan mulai berpencar sesuai dengan perintah Kyungsoo. Saat yang lain mulai berlari, Mina malah berjalan dengan pelan sambil mengendap-endap. Sehun pun kesal melihatnya mengingat mereka tidak memiliki banyak waktu.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Diamlah Sehun, aku lihat di TV bahwa ayam takut pada manusia. Jadi kita harus mengendap-endap untuk menangkapnya. Dan buka matamu lebar-lebar.”

Sehunpun hanya melipat kedua tangannya didada sambil mengekor Mina yang sedang mengarahkan pandangannya kemana saja, kearah kanan, kiri, atas, dan bawah.

 

“Sehun, tirukanlah suara ayam.”

Mwo?”

“Ah ppali, kau tau kan? Kuuurr… kuurr…”

“Kenapa menyuruh orang lain jika kau bisa melakukannya?”

“Aku tidak bisa membagi pikiranku Sehun, disatu sisi aku harus fokus mencari ayam dan ditambah lagi harus mengeluarkan suara ayam, itu akan membuyarkan pikiranku dan membuatku tidak fokus.”

Sehun hanya berdecak kesal mendengar permintaan yeoja yang ia anggap aneh ini.

“Cepatlah!”

Arraseo! Kur kur.”

“Ppfffttt!”

 

Seketika Mina mencoba menahan tawanya saat mendengar Sehun benar-benar melakukan apa yang ia katakan.

“Bernehtilah tertawa atau aku akan berhenti menirukan suara ayam.”

“Ppffft…. Mianhae hanya saja itu terdengat lucu jika kau yang mengucapkannya.”

Sehun tidak menggubris perkataan Mina dan  masih saja menirukan suara ayam.

 

pok pok pok

 

“Sehun kau dengar itu?”

Seketika Mina menghentikan langkahnya.

“Apa?”

“Ssshht…”

 

-Oh Sehun’s POV-

Gadis ini tiba-tiba meletakkan jari telunjukknya di atas mulutku dan ia juga melakukan itu pada mulutnya sendiri dengan jari yang satunya. Matanya kini melirik ke depan.

“Itu seperti suara ayam.”

“Kalau begitu ayo kita tangkap.”

Aku menyingkirkan jari telunjuknya dari atas mulutku dan mulai melangkah kedepan namun (untungnya) gadis ini menarik tanganku.

“Kita harus pelan-pelan.”

 

Gadis ini pun mulai melangkah mendahuluiku dengan berjalan seperti perampok yang akan memasuki rumah korbannya. Ia membuka semak-semak di depan kami dan benar saja, seekor ayam betina berwarna coklat yang ukurannya lumayan besar sedang mematuk-matuk tanah.

 

“Sehun lihat! Ayam!”

Gadis itu berkata sambil berbisik, hanya melihat ayam saja namun ekspresinya seperti dia melihat setumpuk emas didepan matanya. Ia pun mulai berjalan menuju ayam tersebut, aku sendiri…eerrr…. ayam begitu menjijikkan, melihatnya saja bulu kuduku sudah merinding. Aku menyesal karna sudah pernah memakan ayam selama ini.

 

POK POK

 

Aku terkejut karna tiba-tiba gadis ini melompat untuk menangkap ayam tersebut. Semakin gadis itu mendekat semakin menjauh pula ayam tersebut, ia bahkan sempat terpeleset dan terjatuh saat mencoba menangkap ayam itu namun ia langsung bangkit dan terus mengincar ayam itu.

 

“Sehun berdirilah disana, jangan sampai ayam itu lari!”

Gadis itu berkata aambil menunjuk kearah depan ayam itu, aku hanya menurut dan langsung menempatkan diriku di tempat yang ia maksud. Sedangkan Mina mulai menggiring ayam menuju kearahku.

 

Bagaimana kalau ayam ini tiba-tiba melompat kearahku dan menggigitku? Bagaimana kalau nanti aku terkena flu burung? Bagaimana kalau ayam itu menjatuhkan kotorannya dibajuku?

Errrrr….

Badanku kembali bergetar ketika membayangkan hal tersebut.

 

“Sehun mengapa kau malah menghindar!”

“Ahhh….hmm…. Mianhae….”

Huh….haah….huuuuu…

Aku mengatur nafasku dan  mencoba untuk tidak menghindar saat Mina kembali menggiring ayam tersebut kearahku.

 

“Kuuuur…. kuuuur….”

Gadis itu kembali melompat hendak menangkap ayam tersebut.

 

BUGH

 

Aku memejamkan mataku, merasakan punggungku membentur tanah dan sesak di dadaku karna gadis ini jatuh tepat diatasku. Aku membuka mataku.

Mian.”

Katanya singkat lalu dia berdiri meninggalkanku dan kembali mengejar ayam tadi.

 

Geez, gadis macam apa dia. Menjatuhi tubuh orang seenaknya lalu langsung meninggalkannya tanpa membatunya berdiri.

 

Gotcha!”

“Kyungsoo!”

Aku langsung berdiri dan menghampiri Mina. Ternyata Kyungsoo berhasil menangkap ayam tersebut.

“Sudah kutebak kalau Sehun tidak akan bisa membantumu, makanya setelah mencari ubi aku cepat-cepat mencari kalian berdua. Ya Park Minah! Lihatlah lututmu terluka.”

Kata Kyungsoo. Aku langsung mengarahkan pandanganku kearah lutut gadis itu dan benar saja, ada luka dibawah lutut kanannya yang lumayan besar karna ia melinting celana olah raganya sampai kelutut.

 

Ania gwenchana, kalian berdua cepat kembali ke pondok, aku akan segera menyusul.”

Arraseo, Sehun-ah kau bantu Mina berjalan.” Kyungsoo berkata lalu ia pergi membawa ayam tersebut.

Tck, merepotkan. Tapi aku juga tidak tega untuk meninggalkan gadis ini, dia sudah berusaha keras untuk menangkap ayam tadi dan dia bahkan tidak mengeluh kesakitan dengan luka di lututnya yang menganga terebut.

 

Gwenchana?”

“Hm, gwenchana.”

 

-Park Minah’s POV-

“Kau masih kuat untuk berjalan?”

Entahlah Sehun, mengingat kami berdua berada ditengah hutan dan lumayan jauh dari pondok. Tentu saja aku masih sanggup untuk berjalan tapi rasa sakit dari luka ini yang membuatku tidak kuat. Aku merintih ketika mulai kurasakan perih dari luka dilututku ini. Aku mulai melangkahkan kaki kananku dan saat itu juga kaki kananku terasa lemah, hampir mati rasa.

 

Aku melirik kearah Sehun yang mendesah kecil dan memasang wajah kesal kearahku, aku mencoba membaca mimik wajahnya. Aku tidak mau merepotkannya, maka dari itu aku mencoba melangkahkan kaki kananku dengan sedikit berjinjit namun seperti ada sengatan listrik disana lalu menjalar keseluruh tubuhku, sakit, nyeri, ngilu. Tubuhku sedikit membukuk seperti akan terjatuh namun Sehun segera memegang kedua lenganku.

 

“Tck… Dasar gadis bodoh.”

 

Sehun berjongkok di depanku, kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya. Apa maksudnya? Apakah ia menyuruhku untuk naik ke punggungnya? Menggendongku? Tapi aku tidak ingin merepotkannya, aku lebih baik berjalan tertatih.

 

Sehun menoleh kearahku. “Wae? Ppali ta (Cepat naik)!”

Ania, kau hanya perlu membantuku berjalan saja.”

“Tck, itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama.”

 

Aku terkejut saat Sehun sedikit membungkuk tepat di depan lututku, menarik kedua lenganku dan mengalungkannya dia sekitar lehernya. Ia berdiri menggendongku sambil mempebaiki posisiku. Sungguh aku merasa tidak enak.

“S-ehun?”

“Diamlah.”

Mianhae.”

Sehun tidak menjawab, ia terus berjalan menuju lapangan pondok. Sepanjang perjalanan ke pondok beberapa siswa-siswi juga sudah mulai berlarian kearah pondok. Teman-teman Sehun sempat menertawai Sehun melihat ia sedang menggendongku. Aku melihat wajah Sehun, ia tidak merespon. Masih datar seperti biasanya.

 

“Sehun apa kau tidak malu?”

“………”

Sehun membisu, dan entah mengapa aku mengeratkan kedua tanganku disekitar leher Sehun.

 

Sesampainya di lapangan pondok, Rika dan Hani membantuku naik keatas tandu yang dibawa oleh tim P3K. Sebenarnya aku ingin membantu teman-teman tim untuk memasak sarapan, namun Kyungso dan Ahn songsaenim melarangku, menyuruhku untuk istirahat di balkon pondok.

 

“Aku akan memanggilmu saat makanan sudah siap, dan Sehun akan menemanimu.”

“Tidak usah, mungkin Sehun bisa membantu kalian disini.”

“Tidak. Sehun tidak berguna disini. Ia hanya akan mencicipi makanannya sampai habis.”

Aku melihat Sehun yang tidak merespon sambil sedikit tertawa. Ia begitu patuh dengan perkataan Kyungsoo. Ia pun berjalan di belakang petugas P3K sambil kedua tangannya ia masukkan di saku celana olah raganya.

 

Tidak ada percapakan yang terjadi di antara aku dan Sehun selama kami menunggu yang lain sedang memasak. Sesekali aku melirik Sehun yang terdiam memandangi pemandangan enam tim yang sedang memasak di lapangan. Entah mengapa aku ingin mengenal Sehun lebih dekat seperti teman-teman segerombolannya. Seperti Baekhyun, sahabatnya. Saat aku melihat Sehun aku merasa Sehun begitu kosong. Maksudku ia seperti tidak memiliki keinginan terhadap apapun, seperti ia hanya menjalani hari-harinya tanpa ada rencana.

 

Aku menggeleng menyadarkan diriku yang sedari tadi ternyata masih memandanginya, Ya Tuhan apa dia menyadariku? Entahlah, Sehun tidak merasa terganggu sedikitpun.

 

Beberapa menit kemudian Kyungsoo kembali memanggil kami untuk sarapan. Lagi-lagi Rika dan Hani membantuku untuk berjalan.

 

“Kyungsoo-ya bukankah kita seharusnya mendapatkan nasi?”

Tanya Sehun.

“Iya, aku memberikannya kepada tim 4 karna mereka hanya mendapatkan ikan, lalu mereka memberiku 3 ikan mereka untuk tim kita. Lagi pula aku mendapatkan banyak ubi, cukup untuk sarapan, makan siang, dan makan malam.”

 

¤

¤ H O L L E R ¤

¤

 

Selesai sarapan semua siswa-siswi berkumpul lagi di tengah lapangan untuk menerima beberapa materi tentang menyelamatkan diri saat berada di laut dan di hutan, lalu mempraktekkannya langsung di sungai. Aku hanya dapat melihat yang lain saat mulai menceburkan diri mereka kedalam sungai mengingat lukaku masih basah. Setidaknya aku masih bisa melihat simulasi yang mereka lakukan.

 

Beberapa dari mereka asyik bermain air, sengaja membahasi temannya. Sempat tertawa saat melihat Sehun jatuh karna terpeleset, tapi untungnya ia tidak apa-apa. Terlintas Baekhyun dipikiranku saat ini, kalau tidak salah ini sudah lewat jam istirahat pertama. Aku merindukanmu.

 

splash

 

Aku terkejut karna sedikit cipratan air mengenai tubuhku. Aku mencari-cari siapa yang telah melakukannya.

 

“Jangan melamun, nanti kau kerasupan. Baekhyun baik-baik saja.”

 

Sehun, ia sedikit berteriak kepadaku. Dasar menyebalkan.

 

¤

¤ H O L L E R ¤

¤

 

-Author POV-

Mina sudah dapat membantu timnya untuk menyiapkan makan siang. Selesai makan siang siswa-siswi diajari dan praktek langsung mengenai cara untuk menggunakan tenda lipat dan membuat tenda seadanya dari bahan-bahan di hutan. Sorenya para siswa bermain sepak bola di lapangan dan para siswi bermain bola voly disebelah lapangan. Lagi-lagi Mina hanya dapat memperhatikan mereka semua.

 

Sampai matahari mulai lelah dan meredupkan sinarnya, siswa-siswi dipersilahkan untuk mandi, memasak makan malam dan beristirahat sebentar sebelum perjalanan malam dimulai.

 

Tepat pukul 8 malam, toa sirine kembali berseru. Siswa-siswi segera berkumpul di tengah lapangan.

“Silahkan kalian berkumpul dengan tim kalian masing-masing, cepat!” Ahn sonsaengnim berteriak.

“Misi kalian kali ini adalah Treasure Hunt. Kalian harus mencari kotak berisi harta karun yang dapat kalian tukarkan dengan sarapan untuk besok. Temukan kotak berwarna cokelat, tenang, kali ini kotaknya berjumlah pas dengan jumlah tim kalian. Tapi ada tiga kotak tambahan berwarna oranye yang menyatu dengan kotak cokelat tersebut. Bagi tim yang mendapatkan kedua kotak tersebut, besok tim tersebut harus membantu pengurus pondok untuk membersihkan pondok.”

 

Lagi-lagi hampir seluruh siswa-siswi mengeluh mndengarkan penjelasan Ahn sonsaengnim. Bagaimana bisa mereka mencari kotak dalam hutan gelap seperti itu? Mina teringat akan sesuatu. Sehun. Sehun takut akan gelap. Ia langsung berdiri di sebelah Sehun dan berbisik padanya.

“Sehun kalau kau takut kau tidak perlu ikut, katakan pada sonsaengnim kalau kau sedang tidak enak badan.”

“Apa kau sedang mengejekku?”

Ania, aku hanya menyarankanmu.”

 

“Waktu kalian dua jam, silahkan gunakan senter kalian untuk menerangi jalan. Ingat, didekat harta karun tersebut akan ada satu lilin penanda, tapi kami menyebar tidak hanya enam lilin, banyak lilin disetiap sudut. Jadi bergegaslah dan rangkul anggota tim kalian.”

 

Tepat setelah sirine toa berbunyi, seluruh tim kembali menuju ke hutan. Ada yang berlarian, ada juga yang berjalan santai seperti tim Mina dan Sehun.

“Kita tidak perlu tergesa-gesa seperti misi sebelumnya, kita hanya perlu ketelitian. Semua bergandengan tangan, jangan sampai ada yang hilang.”

Kyungsoo kembali memberi perintah.

 

Seluruh tim mencari disekitar lilin yang tersebar didalam hutan. Satu jam berlalu, hanya dua tim yang sudah berhasil mendapatkan kotaknya dan satu diantaranya mendapatkan kotak berwarna oranye.

 

Tim Mina masih berusaha keras mencari kotak tersebut. Setengah jam berlalu dan mereka belum mendapatkan apa-apa. Kini sudah ada empat tim yang menemukan harta karunnya, dan satu lagi kotak oranye sudah ditemukan. Tinggal dua harta karun lagi dan salah satunya terdapat kotak oranye. Kali ini Kyungsoo menuntun mereka mencari disekitar lilin dibawah pohon pisang.

 

“Aku menemukannya!” Hani berteriak.

“Benarkah? Apakah ada kotak oranyenya?”

Eobseo (tidak ada).”

Ke empat anak manusia itu bersorak gembira.

“Ayo kita kembali ke lapangan, waktu kita tersisa 20 menit.”

“Apakah semuanya masih lengkap?”

 

“Sehun?”

Mina memanggil. Sedari tadi sepanjang perjalanan Mina memang sengaja terus memanggil nama Sehun, memastikan bahwa ia masih di rombongan.

“……”

“Oh Sehun?”

“……..”

“Tidak mungkin! Rika bukankah kau sedari tadi menggenggam tangan Sehun?”

Mina mulai panik.

“Mma-maaf aku tidak ingat kapan Sehun melepas genggaman tanganku.”

Sehun tidak ada di rombongan mereka. Semua orang kini terlihat panik.

“Kalian tenanglah, aku akan mencari Sehun.” Kyungsoo berkata.

“Tidak. Kyungsoo kau memandu mereka kembali ke pondok karna kau yang hafal jalan untuk kembali kesana, aku akan mencari Sehun.”

“Tapi Mina-ya-”

“Waktu kita tidak lama lagi, aku pergi dulu.”

“Ya Park Minah!”

 

Minah berlari hilang ditengah kegelapan. Ia menyorotkan senternya kesegala arah dan terus memanggil nama Sehun. Namun Sehun tidak menjawab. Mina pun terus mencarinya. Ia tau betapa takutnya Sehun terhadap gelap, dan ia baru ingat bahwa senter yang Sehun bawa tidak ada batereinya. Mina semakin khawatir.

 

“Sehun? Oh Sehun?”

15 menit ia berlari entah kearah mana saja namun Sehun tak kunjung menyahut. Sebelum mereka menemukan kotak hartakarunnya, gerimis sudah melanda mereka dan kini tangisan dari langit itu pun mulai berjatuhan dengan deras. Suara teriakan Mina tak cukup kuat dengan suara hujan. Mina menggigit ujung jari-jarinya. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang mulai basah sambil terus berjalan dan masih memanggil nama Sehun. Tentu saja kini hutan menjadi gelap sempurna, semua lilin sudah mati terkena air hujan.

 

Mina mulai putus asa, ia berhenti sejenak untuk berpikir. Sehun takut gelap, otomatis ia tidak mungkin berjalan ataupun berlari menyusuri hutan, ia terlalu takut untuk melakukan itu. Mina berpikir jika ia berada di posisi Sehun, maka tempat mana yang akan ia singgahi.

 

Sungai.

Ya tepian sungai, tepatnya.

Entah tebakan Mina benar atau tidak namun Mina harus tetap bergerak, hujan semakin deras.

 

“S-ehun?”

Suara Mina mulai melemah. Kini ia sampai di tepi sungai. Matanya memandang jauh menahan air hujan yang menimpanya. Sehun memakai baju putih polos dan celana training hitam, dan disana, di batu besar tempat Mina duduk tadi siang saat yang lain bermain di sungai. Mina menghampirinya.

 

“Sehun.”

Mina memeluk Sehun dari belakang, mendekap wajah Sehun yang mulai menggigil. Sehun benar-benar terlihat sangat kacau. Ia ketakutan dan kedinginan. Mina menenangkannya sambil mengatakan bahwa semua baik-baik saja.

 

“Maafkan aku Sehun, kau pasti sangat takut.”

Kini ia mengelus wajah Sehun, Sehun masih membisu. Setelah merasa Sehun sudah agak tenang, Mina membantu Sehun berdiri dan mereka mulai berjalan. Hujan pun tak ingin mengerti keadaan mereka, derasnya hujan tidak berkurang melihat dua anak manusia ini berjalan dalam kegelapan hutan saling tertatih. Sesekali Mina melihat wajah Sehun, ia melihat ekspresi wajah itu lagi. Takut. Mina melingkarkan kedua tangannya disekitar perut Sehun dan menaruh tangan kanan Sehun di lehernya.

 

Mereka terus berjalan lurus sampai pondok. Siswa-siswi yang sudah menunggu mereka langsung mengerumuni Mina dan Sehun, bertanya-tanya apakah mereka berdua baik-baik saja.

“Panggil petugas P3K, dan bawa handuk sebanyak-banyaknya.”

Kyungsoo berteriak.

 

¤ H O L L E R ¤

 

Open Q and A on my personal blog.

17 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Holler (Chapter 7)”

  1. Ping-balik: Chaptered | Choi's
  2. Full mina-sehun. Dan meraka terlalu bersahabat. Sweet di beberapa siihhh. Tapi tetep aku sukaaaaaaa. Baca chapter 8 deeh. Semangaatttt!!
    -XOXO-

  3. kirain bakalan mina yg hilang trus sehun yg nyari..ehhh ini malah kebalikannya…emang super ini cerita..hahaha
    dan kyuhyun! aku masih menunggu penjelasan dari author…

  4. Huaahh udah di Up ^^
    Emg ya klo kyungsoo oppa itu macem ibu” ya..wkwkwk tpi aku suka loh sikapnya yg kayak gitu^^

    Uhmm.. nanti sehun and mina bkalan sakit gx tuh kak? Tpi kayaknya nanti mina pingsan deh.. #ahhmolla
    Tpi dari tadi aku kok berharapnya sehun sama mina ya, and nanti baek bakalan balik lg sama geumhee#aduhhgxtauaahh

    Next kak dtunggu klanjutanya^^

  5. Ahh gak ada adegan baeknya 😦
    Gawat kalo gini terus, bisa bisa mina dan sehun saling jatuh cinta, terus gimana sama baek? Yakali balikan lagi sama geumhee
    Ohya kapan mau mengungkap hubungan antara minakyuhun? Penasaran bangett

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s