[EXOFFI FREELANCE] Holler – (Chapter 4)

HOLLER chapter 04

¤

HOLLER

 ¤

 Choi’s

¤

 Park Minah – Byun Baekhyun – Oh Sehun

 ¤

 Ocs – EXO members – Others

 ¤

 Complicated-romance – School Life – Fluff

 ¤

 Chaptered

 ¤

 T(eenager)

  ¤

 The OCs and the stories are  purely mine, EXO members belong to EXO-L

 ¤

“Right now. There is no time. Follow my signs.”

¤

Previous Chapters

Teaser and TrailerIIIIII

 

 ¤

¤ IV ¤

  ¤

 

Lalu Kyuhyun keluar ruangan untuk menemui sekertarisnya dan menyerahkan kertas berisi alamat tersebut.

“Sekertaris Yoo aku ingin kau memerintahkan orang untuk mengawasi 24 rumah ini, laporkan padaku setiap ada seseorang yang keluar dan masuk di rumah ini.”

 

 

-Park Minah’s POV-

Seketika tubuhku merinding setelah mendengar namja diseberang telfon ini menyebutkan namanya. Apa dia bilang tadi Cho? Cho Kyuhyun? Apa dia yang dimaksudkan oemma? Bagaimana dia bisa mengetahui nomor telefonku?

Tubuhku bergidik, aku menggelengkan kepalaku. Mengganggu tidur siangku saja. Sekarang jam setengah 5 sore dan aku sangat lapar, apa Baekhyun dan Geumhee belum selesai? Aku turun dari ranjang atas untuk memastikkannya, di ranjang bawah kulihat Sehun yang masih saja berbaring sambil membaca buku. Daebak! Apa dia tidak merasa bosan?

 

“Sehun-ah apa kau tidak lapar?”

Dia tidak menjawab, aku menghampirinya. Kulihat dia seperti sedang berfikir untuk menjawab pertanyaanku tadi.

“Aku ingin memesan makanan cepat saji, apa kau mau?”

Sehun mengangguk. Aku menghampiri Baekhyun dan Geumhee yang masih saja sibuk berkutat sedang soal-soal matematika, lalu aku memesan 4 porsi makanan cepat saji.

 

Sambil menunggu makanan datang, aku duduk disebelah Baekhyun dan memperhatikan mereka berdua yang sibuk menjelaskan satu sama lain. Jika Baekhyun bertanya, Geumhee menjawab lalu Baekhyun memberi feed back dan Geumhee meresponnya, seperti itu mereka berdua bekerjasama saling melengkapi.

 

Saat Geumhee sedang mengerjakan salah satu soal, Baekhyun menoleh kearahku samhil tersenyum.

“Aku tau aku sangat tampan.”

“Huh? Kau terlalu percaya diri Tuan Byun.”

“Lalu mengapa kau terus memperhatikaku?”

Ani…. Itu….. Aku… Ehmmm….”

Seperti orang bodoh, aku malu untuk mengakui bahwa sedari tadi yang kuperhatikan hanya Baekhyun saja. Aku buta jika aku mengatakan Baekhyun tidak tampan, ia bahkan sangat tampan untukku. Maksudku dia benar-benar tipeku.

 

Melihatku yang salah tingkah, Baekhyun kembali tersenyum. Ia menggeser duduknya lebih dekat kearahku, lalu ia meletakkan tangan kirinya disekitar punggungku. Kami berdekatan, sangat dekat, dapat kurasakan dada Baekhyun berhimpitan dengan bahu kananku. Aku merunduk malu dengan perlakuannya, Geez Baek, apa kau tidak malu karna sekarang masih ada Geumhee disini. Atau aku yang ketinggalan jaman dengan gaya pacaran jaman sekarang, jujur aku belum pernah berpacaran sebelumnya.

 

Aku semakin menunduk ketika Baekhyun semakin merekatkan pelukkannya.

“Park Minah, saranghae.”

Seperti ada sengatan listrik yang mengalir dari telingaku lalu menjalar keseluruh tubuhku dan berpusat di dalam perutku setelah Baekhyun berbisik ditelinga kananku, oh God bahkan aku bisa merasakan bibirnya yang basah bergesekkan dengan daun telingaku.

“Baek kau membuat pipinya berubah menjadi tomat.”

Aku terkejut ketika Geumhee tiba-tiba mengatakan hal tersebut, apa dia menyadari apa yang kami lakukan? Baekhyun hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Geumhee.

“Kalian sangat serasi, Park Mina yang pemalu dan Baekhyun yang tidak punya malu.”

“Ya ya ya! Aku juga punya malu, hanya saja aku malu untuk menunjukkannya.”

“Apa yang kau bicarakan?”

Aku hanya tertawa melihat Geumhee dan Baekhyun, mereka berdua tidak terlihat canggung seperti sudah mengenal satu sama lain sebelumnya.

 

“Apa kau dan Geumhee sudah saling mengenal?”

“Hm. Kami berteman saat masih SMP” Geumhee menyahut.

“Benarkah?”

Aku menoleh kearah Baekhyun dengan tatapan seperti meminta penjelasan, mengapa ia tidak pernah bercerita kepadaku bahwa ia dan Geumhee sudah saling mengenal.

Baekhyun membalas tatapanku sambil mengangkat kedua alisnya.

 

Chu~

 

Dengan sangat cepat Baekhyun menempelkan bibirnya tepat di bibirku, mengecupnya dan menjauhkan bibirnya. Kejadian tersebut sangat cepat  aku bahkan tidak sempat menutup kedua mataku mataku.Seketika aku membulatkan mataku dan mencubit perut Baekhyun, Geez kau benar-benar tidak punya malu Tuan Byun.

 

“Apa yang kau lakukan?!”

Aku terus melotot kearahnya sambil sesekali aku melirik kearah Geumhee. Untung saja Geumhee masih sibuk mengerjakan soal tetapi tetap saja ia pasti tau apa yang tadi Baekhyun lalukan karna aku yakin tadi terdengar suara kecupan kecil dari mulut kami berdua.

“Aaah sakit….”

Baekhyun meringis kesakitan karna aku memutar cubitanku di perutnya.

 

ting tong

 

Aku melepas cubitanku pada Baekhyun dan segera membukakan pintu.

Ahnyenghaseo Nona, ini pesanan Anda.”

“Ah ne, berapa semuanya ahjussi?”

“Pesanan anda sudah dibayar Nona.”

Ne?”

Apa? Susah dibayar? Tapi siapa?

“Ini struk pembayarannya Nona.”

Aku mengambil selembar kertas yang diberikan oleh ahjussi ini dan menelitinya. Semua pesananku sudah dibayar atas nama Cho Kyuhyun.

Mataku kembali melotot untuk memastikkan bahwa aku tidak salah membaca, perlahan-lahan keringat dingin mulai keluar dari dahiku. Orang ini benar-benar menakutkan. Apa dia sedang memata-mataiku sampai-sampai dia tahu makanan yang sedang kupesan. Aku tidak suka ini.

 

“Mina-ya siapa yang datang?”

Aku tersentak ketika Baekhyun menghampiriku, dengan cepat aku meremas kertas struk pembayaran di tanganku dan kumasukkan kedalam sakuku.

“Oo? Makanannya sudah datang?”

Baekhyun membawakan bungkusan makanan dari tanganku lalu menggandengku masuk kedalam rumah.

 

 

“Menapa kau tidak makan?”

Aku hanya menggeleng ketika Baekhyun terus menanyakan hal tersebut dan menghindar ketika ia mulai menyuapkan makanannya kearahku. Entah mengapa selera makanku langsung hilang seketika, aku merasa seperti sedang diteror oleh ahjussi gila itu. Walaupun aku tidak ingin melihat seperti apa rupanya, tapi aku harus bertemu dan berbicara padanya. Apa dia benar-benar gila? Bagaimana bisa seorang pengusaha yang berumur 27 tahun bersedia menikahi gadis yang 10 tahun lebih muda darinya? Badanku seketika merinding ketika membayangkan hal tersebut.

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

 

18.58 KST

“Kau yakin tidak mau ikut denganku?”

Sekali lagi aku menggeleng kepada Baekhyun lalu meneruskan pekerjaanku, menaruh baju-baju Baekhyun dan Sehun yang baru saja datang dari laundry ke dalam lemari Baekhyun. Baekhyun pergi mengantarkan Geumhee pulang karna malam ini mati lampu lagi. Gosh, apa setiap malam didaerah ini selalu mati lampu?

 

Aku menaruh semua baju di tumpukkan baju dan celana di tumpukkan celana tanpa memisahkannya, karna aku tidak tahu yang mana milik Baekhyun dan yang mana milik Sehun. Tiba-tiba aku mencium bau yang segar, bau sabun mandi yang segar. Saat aku hendak membalikkan badan mencari tau bau apa ini, Sehun berdiri dibelakanku dan errr… bertelanjang dada. Ia hanya menggunakan handuk putih untuk menutupi perut sampai lututnya.

 

“Gosh Oh Sehun! Pakai bajumu!” Aku berteriak padanya sambil mengalihkan wajahku, dan sialnya Sehun masih mematung di depanku, sedangkan aku? Aku tidak tau mengapa kakiku terasa berat dan bukannya menjauhinya tapi malah tetap berdiam diri di tempatku. Aku masih memalingkan wajahku, kulirik Sehun yang sekarang sudah mulai mendekatkan tubuhnya kearahku, aku takut tapi aku tidak tau harus berbuat apa, aku hanya semakin menundukkan kepalaku, dan Sehun semakin mendekatiku sampai gundukan handuk di perutnya mengenai perutku namun tubuh kami tidak berhimpitan,. Kuberanikan diri menegakkan kepalaku yang disambut dengan kepala Sehun yang mendekat kearahku.

 

Ya Tuhan, aku benar-benar takut. Sekarang ini pikiranku sudah melayang kemana-mana membayangkan apa yang akan Sehun lakukan padaku. Aku memejamkan mataku erat-erat dan menyembunyikan mulutku kedalam.

1 detik,

2 detik,

3 detik,

tidak terjadi apa-apa aku justru semakin mencium bau sabun mandi yang sangat segar tadi, kuberanikan diri untuk membuka mataku dan pundak kanan Sehun berada di depan wajahku. Kulirik Sehun yang kepalanya berada disamping kepalaku, posisi kami seperti sedang berhadapan sambil berpelukkan namum tangan kanan Sehun tetap diam ditempat sedangkan tangan kirinya mengambil sesuatu dari belakangku. Tak lama kemudian tubuhnya mulai menjauh dariku, ternyata ia sedang mengambil baju dari lemari di belakangku. Setelah mengambil baju, ia langsung memakainya dan berdiri di depanku, menatapku yang terdiam seperti orang bodoh.

 

-Author’s POV-

“Apa yag sedang kau pikirkan?”

Mina langsung membuang mukanya saat Sehun menanyakan hal tersebut, ia terlalu malu untuk mengatakan yang sejujurnya apa yang telah ia pikirkan tadi.

“Apa-setiap-malam-disini-selalu-mati-lampu?”

Dengan terbata-bata dan tanpa menatap Sehun, ia mengalihkan pembicaraan dengan berdalih membahas tentang mati lampu.

“Hm.”

Sehun berjalan mengambil beberapa tumpukkan novel dan membacanya diatas ranjangnya sambil duduk dengan punggungnya bersender pada tembok.

“Sehun-ah tidak baik jika membaca dengan sinar yang minim.”

Mina menghampiri Sehun yang sedang membaca buku dengan sinar di ponselnya, ia duduk disebelah Sehun karna ia penasaran dengan buku apa yang dibaca Sehun.

 

“Sekarang buku apa lagi yang Sedang kau baca?”

Mina melesatkan kepalanya lebih dekat kearah buku ditangan Sehun.

“Apa itu cerita horor?”

Dengan cepat Sehun menjawab, “Tidak.”

“Sehun-ah apa kau punya buku dengan cerita horor?”

Eobseo (tidak ada)!”

“Kenapa kau membentakku? Aku kan hanya bertanya.”

Lagi-lagi Mina dapat melihat ekspresi Sehun yang ketakutan saat Mina menyebutkan tentang cerita horor. Dan lagi-lagi terbesit dipikiran Mina untuk mengerjai Sehun.

“Ya Sehun-ah aku dengar Ibu Baekhyun meninggal dirumah ini, apa itu benar?”

“Hm? Eo.”

Mina tertawa terbahak-bahak di dalam hati. Ini adalah satu-satunya ekspresi yang pernah Mina lihat diwajah Sehun. Takut.

 

Lagi-lagi ia bekata sambil berbisik.

“Aku dengar beliau meninggal belum lama kan? Apa sudah ada 40 hari?”

“T-tidak tau!”

Sehun mencoba memfokuskan mata dan pikirannya kepada buku dihadapannya namun nihil, cerita seperti ini selalu membuatnya takut sejak kecil.

 

“Apa kau tau kalau biasanya orang meninggal sebelum 40 hari arwahnya masih ada ditempat ia meninggal?”

Sehun semakin melotot kearah Mina.

“Kau tahu kan ka…..”

“Diamlah! Kenapa kau membahas orang yang sudah meninggal?!”

 

PRANG

 

Kedua anak manusia ini langsung mematung setelah terdengar suara dari dapur, seperti suara sesuatu dari kaca yang pecah. Sehun melemparkan bukunya di ranjang dan dengan spontan meraih lengan Mina.

“Apa itu tadi?”

“Ak-aku tidak tau.”

Sehun menjawab dengan suaranya yang bergetar, ia semakin memepetkan tubuhnya pada Mina yang duduk disampingnya.

 

“Ayo kita cari tahu.”

Mina mulai bergerak dari ranjang namun Sehun menariknya. Berbeda dengan Sehun, Mina begitu penasaran saat mendengar tentang hal-hal yang menakutkan. Seperti percaya dan tidak percaya, Mina ingin secara langsung melihat apa yang telah ia dengar dari orang-orang sampai sebagian besar orang merasa takut.

Hajima (Jangan)!”

Wae? Aku hanya ingin tau suara apa itu tadi. Sepertinya suara piring pecah.”

 

-Oh Sehun’s POV-

Aish jinjja! Apa gadis ini tidak punya rasa takut? Ia seperti tokoh dalam film-film saja. Sudah tau bahwa ada sesuatu yang aneh dan menakutkan tapi masih saja ingin mencari tahu. Sekarang aku mengerti mengapa di film horor ceritanya selalu seperti itu.

 

Gadis ini mulai berjalan keluar kamar, dengan terpaksa aku mengikutinya. Aku tidak mau ditinggal sendirian disaat seperti ini. Entah mengapa aku terus menggenggem lengannya, aku hanya tidak mau jika gadis ini meninggalkanku untuk saat ini.

 

“Sehun-ah berikan ponselmu.”

Aku memberikan ponselku kepadanya dan ia menggunakan sinarnya untuk menerangi jalan menuju dapur, bahkan lilin-lilin yang saat ini menyala diberbagai sudut rumah seakan tak cukup untuk menerangi kami berdua.

 

Kami berjalan seperti dua orang perampok yang akan mencuri di sebuah rumah, sangat pelan. Aku terus berusaha untuk menariknya, tapi ia semakin terus melangkah.

“Ayo kita kembali saja.”

Gadis ini bahkan menulikan telinganya.

 

Kami sudah sampai didapur dan kosong, tidak ada siapapun disini kecuali kamu berdua. “Kau lihat? Disini tidak ada siapa-siapa. Ayo kita kembali kekamar”

 

Rasanya aku ingin langsung berlari menuju kamar namun, aku terlalu takut untuk melakukan hal itu. Bagaimana kalau saat aku dikamar sendiri ada sesuatu yang menarikku? Itulah hal yang terjadi pada kebanyakan film horor.

 

“Aku yakin ada sesuatu yang jatuh.”

Gadis ini masih keukeuh dengan pendiriannya, ia berjalan kesamping meja makan dan dengan sangat terpaksa aku mengikutinya.

 

“Tunggu. Apa kau mendengarnya?”

 

srek srek

 

Sial! Suara apalagi itu. Tubuhku benar-benar bergetar saat ini, rasanya seluruh bulu disekujur tubuhku berdiri. Gadis ini mulai mengarahkan sinar ponselku ke bawah meja dan kami pun juga mulai menunduk, menengok apa yang ada di bawahnya. Kami menunduk semakin kebawah hingga nampak kaki kursi dan meja.

 

“Miaw…”

“HAAAAA SIAL! Apa itu?! PERGI! PERGI!”

Dengan spontan aku menggerak-gerakkan tanganku dan menendangkan kakiku, ada sesuatu berukuran kecil yang sedang bergerak-gerak saat gadis ini menyoroti sesuatu tersebut dengan sinar dari ponselku.

 

“Bhahahaha…..”

Sial! Mengapa gadis ini malah tertawa. Ia kembali menyorotkan sinar kearah sesuatu tadi. Aku benar-benar tidak berani melihatnya.

 

“Lihatlah, hanya seekor kucing yang memakan makanannku tadi.”

Kukumpulkan nyaliku untuk menengok kearahnya, memastikan apa benar yang dikatakannya.

 

Ternyata benar, seekor kucing dengan bulu putih bercorak keemasan. Aku sering melihat kucing ini di belakang rumah. Syukurlah bukan sesuatu yang menakutkan yang muncul.

 

Gadis itu membersihkan beberapa pecahan piring setelah mengeluarkan kucing tersebut dari rumah beserta bungkusan makanan tadi. Dia benar-benar tidak pernah berubah, dari dulu sampai sekarang. Apa dia benar-benar tidak mengingatku? Itu tidak mungking. Aku saja masih sangat ingat dengannya ketika pertama kali masuk sekolah. Memang dia terlihat sedikit berbeda, sekarang ia menggunakan poni dan ia juga mewarnai rambutnya.

 

“Ya bukannya membantu malah hanya menonton saja.”

Aku masih terlalu takut untuk kembali kekamar sendiri, jadi aku terus menunggu gadis ini sampai selesai.

 

Kami kembali kekamar dan masih dengan posisi yang tadi. Aku duduk bersandar pada tembok dan gadis ini duduk disampingku. Sepertinya ada yang sedang mengganggu pikirannya karna dia hanya terdiam sambil menatap lurus kedepan.

Jangan-jangan? Dia kesurupan?

 

Dia benar-benar terlihat seperti orang yang sedang kesurupan didalam film. Sial! Bulu kuduku kembali merinding. Aku menyenggol lututnya yang dilipat itu untuk memastikkannya tapi dia tidak mersepon. Sekali lagi aku menggoyang-goyangkan lutunya lebih keras dan dia menoleh kearahku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Apa kau kesurupan?”

Mwo? Ania, hanya saja……”

Aku terdiam menunggu kelanjutan dari perkataannya. Ia berfikir sejenak lalu ia menatapku.

 

Skip– Mina menceritakan kejadian struk pembayaran makanan atas nama Cho Kyuhyun.

 

Jadi itu yang mengganggu pikirannya saat ini. Gadis ini benar-benar mudah ditebak. Dan Cho Kyuhyun, apa yang sebenarnya sedang kau pikirnkan saat ini. Apa kau lupa siapa gadis ini? Kalau benar kau lupa, tungu saja biar aku yang mengingatkanmu kembali.

 

“Sehun?”

Aku menoleh kearahnya.

“Tolong jangan beritahu Baekhyun.”

Aku hanya menghembuskan nafasku pelan saat mendengar perkataannya, bagaimana mungkin aku tidak memberitahu sahabatku sendiri? Tapi jika aku melakukannya apa Baekhyun bisa menerimanya?

 

“Huaaah….”

Aku sudah menguap puluhan kali, rasanya aku ingin segera memejamkan kedua mataku yang kelopak matanya sudah mulai terasa berat ini namun dengan keadaan mati lampu seperti ini aku benar-benar merasa tidak nyaman. Tapi setidaknya sekarang ada gadis ini disini, aku jadi merasa sedikit lebih baik.

 

Secara perlahan kepalaku mulai terasa berat bersamaan dengan kantuk yang menyerangku. Aku menjatuhkan kepalaku kesamping kiri, tepat dipundak kanan yeoja ini.

 

“Oo? Sehun-ah? Apa kau mengantuk?”

Dapat kurasakan ia menggeser duduknya lebih dekat kearahku, lebih tepatnya membuat posisi kepalaku yang bersender pada pundaknya merasa lebih nyaman.

“Kau tertidur rupanya.”

 

Tidak Park Minah, aku masih belum tertidur. Hanya aja aku ingin tahu bagaimana reaksimu saat aku melakukan hal ini kepadamu dan kau masih sama seperti yang dulu.

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

-Author’s POV-

Sepanjang penjalanan tidak ada satupun percakapan yang terjadi antara Baekhyun dan Geumhee. Baekhyun sibuk menyinari jalan menggunakan baterainya dan ia sedang memikirkan Mina saat ini, andai saja Mina ikut bersamanya saat ini pasti keadaannya akan lebih baik. Sementara Geumhee sendiri sudah menyimpan setumpuk pertanyaan untuk Baekhyun namun ia tidak pernah berani untuk menanyakannya, mengingat sekarang ia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Baekhyun. Hanya sebatas teman.

 

Sesekali Geumhee melirik kearah Baekhyun yang tangan kanannya memegang senter sedangkan tangan kirinya berada disaku celananya. Gadis itu meneguk salivanya berkali-kali sebelum akhirnya ia berani bersuara.

“Kau sudah lama dengan Park Minah?”

Geumhee bertanya dengan sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh Baekhyun. Namun karna ini malam hari dan sangat sepi, ia masih dapat mendengar suara Geumhee meskipun samar-samar.

 

“Hm.”

“Sepertinya dia gadis yang baik.”

Lagi-lagi Geumhee berujar dengan sangat pelan.

“Hm.”

 

Baekhyun mulai merasa tidak nyaman dengan suasana ini, ia mulai membayangkan pertanyaan apalagi yang akan Geumhee lontarkan dan bagaimana Baekhyun akan menjawabnya nanti. Ia mempercepat langkahnya agar dapat lebih cepat sampai kerumah Geumhee, Geumhee hanya mengekor langkah Baekhyun yang sedikit terlalu cepat untuknya.

 

Akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Geumhee. Tanpa berkata apa-apa Baekhyun langsung berputar balik setelah memastikan Geumhee telah sampai di depan rumahnya. Baru selangkah Baekhyun berjalan, Geumhee memegang lengan Baekhyun.

“Baek….”

Baekhyun pun berhenti tanpa menoleh kearah Geumhee.

 

“Gg..gomawo.

Lagi-lagi mereka terdiam. Baekhyun sedang menunggu Geumhee jika masih ada kata-kata lain yang ingin ia ucapkan, sedangkan Geumhee masih memegang lengan Baekhyun. Baekhyun akhirnya menoleh kearah Geumhee yang sedang menunduk dan dapat terlihat jelas darinya bahwa ia memiliki banyak pertanyaan yang harus ia tanyakan kepada Baekhyun.

 

Baekhyun mengerutkan kedua alisnya lalu melepas pegangan Geumhee pada lengannya dengan halus.

“Aku pergi dulu, Mina pasti sudah menungguku.”

“Hm.”

Baekhyun sedikit tersentak mendengar suara Geumhee yang bergetar dan benar saja setelah Baekhyun melangkah menjauh air matanya mengalir begitu saja.

Sambil terisak ia berkata, “Mianhae…..”

 

Apa dia baik-baik saja?

Apa aku terlalu keras padanya?

 

Lagi-lagi Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menepis berbagai macam pikiran tentang mantan yeoja chingunya tersebut, yap. Geumhee. Baekhyun dan Lee Geumhee pernah berpacaran saat masih SMP, tepatnya saat mereka mulai naik ke kelas VIII. Selama kurang lebih 1 setengah tahun mereka berpacaran, tiba-tiba Geumhee meminta putus kepada Baekhyun tanpa alasan yang jelas. Sejak saat itu walupun mereka 1 kelas saat kelas IX dan sekarang kelas X, Baekhyun dan Geumhee jarang sekali berbicara. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Geumhee sekarang terhadap Baekhyun, sudah sangat jelas bahwa Geumhee masih menyesali keputusannya dimasa lalu. Sedangkan Baekhyun? Apa dia masih menyukai Lee Geumhee? Tidak! Ia kini menyukai Park Minah. Gadis polos yang menarik perhatiannya.

 

bugh

 

Lamunan Baekhyun membuyar ketika ia merasa menabrak dada seseorang. Ia mendongak keatas untuk memastikannya. Dan benar saja, seorang namja berpakaian khas ala orang kantoran yang lebih tinggi darinya sedang berdiri dihadapannya.

Joesunghamnida.”

Baekhyun berkali-kali membungkuk meminta maaf kepada orang ini, karna sudah pasti orang ini lebih tua darinya.

 

“Ah ye gwenchanayeo.”

Baekhyun kembali membungkuk sebelum meninggalkan namja ini.

 

Chogie!”

Baekhyun kembali menoleh kearah namja tersebut.

Ne?”

“Apa agassi (anak muda) ini tinggal disekitar sini?”

“Ne, majayeo (benar). Waeyeo?”

“Ah anyo, anieyeo.”

Baekhyun kembali membungkuk dan meninggalkan namja tersebut.

Namja tersebut adalah Cho Kyuhyun. Ia terus memandangi punggung Baekhyun sampai Baekhyun masuk di pekarangan rumahnya karna tak lama tadi listrik sudah menyala.

 

 

¤ H O L L E R ¤

 

 

Visit my personal blog.

27 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Holler – (Chapter 4)”

  1. Kyuhyun-mina-sehun. Mereka ada hubungan apa? Kenapa mina gainget apa apa ttg sehun? Niat kyuhyun nikah sama mina apa? Yah baca chapter selanjutnya aja lah huehehehe
    -XOXO-

  2. apa sebenernya hubungan kyuhunmin…
    cinta segitiga beda usia yah ini…apa kyu cuma nganggep mina adik, tapi kok mau dijodohin???
    trus kok pada gk inget,,apa udah lama gk prnah ktemu gitu??

  3. Huihh.. Ternyata cuman kucing toh,.
    Duh pdahal tdi aku udah deg degan kak..hihihi
    Coz aku jga sma, takut gelap and yg horror” gtu#curhatt

    Tuh kyanya sih bner klo yg kyuhyun liat di foto itu anak kecilnya mina and Sehun.

  4. Ping-balik: Chaptered | Choi's
  5. Woahhh jadi bener yg difoto kyu itu minahunkyu, apa sebenarnya hubungan mereka bertiga, wah wah kayaknya bakalan ada cinta antara sehun dan mina? Terus bagaimana dengan baek? Yakali balikan sama geumhee. Oh iya emangnya kenapa geumhee dulu mutusin baek? Baeknya pake acara ccium cium mina didepan geumhee lagi..
    Dan sebenernya kenapa kyu mengintai mina? Sebegitu cinta kah?

Tinggalkan Balasan ke VeeHun ^^ Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s