[EXOFFI FREELANCE] HI, THE ONE (Chapter 3)

hi-the-one

a fanfic by drixya

HI, THE ONE

with Allena Wu (OC), Oh Sehun and find by yourself.

Genre(s) : Romance, Friendship, Hurt || Rating : PG-15 || Length : Chaptered || Warning! Work in progress.

I own nothing, but storyline and OC. Beautiful poster credits to Xyoblue.

Prev : [1] Do You Miss Me? || [2] Something Has Changed

Piece 3 : Please, help me. It’s too confusing.

E—X—O

Sepasang manik Allena tampak teduh, memindai jalanan yang diramaikan lalu lalang kendaraan dari balik kaca di salah satu sudut café. Seakan menikmati pemandangan tersebut. Sayang, tak berbanding lurus dengan penghuni relung pikirannya. Terlalu ramai, terlalu banyak pertanyaan yang meraung ingin dipertemukan dengan sebuah jawab. Tapi entah kemana harus mencarinya.

Kau dan mereka tidak ada artinya. Jadi, pergilah dan jangan sampai aku melihat wajahmu lagi.

Tenggorokan Allena terasa tercekat kala dua penggal kalimat itu kembali berbisik, merayunya berpraduga buruk. Tidak. Allena tak boleh tergoda untuk mempercayai dugaan negatif itu. Namun di detik yang sama, sebagian hati dan pikirannya terus merengek agar mengiyakan saja. Allena mendesah tak nyaman, tanda belum bisa menarik kesimpulan pasti. Pikiran hiperbola Allena berpendapat ia bisa gila kalau tak habis memikirkannya.

Di tengah kebimbangan yang menyesakkan tersebut, Allena tersentak merasakan sebuah kecupan singkat di pipi. Ia akan memukul si tersangka dengan tas dipangukannya atau menyiram wajah orang tersebut dengan secangkir Americano andai senyum tak asing tak menyapanya.

“Ugh! Ku kira siapa.” Allena menggerutu, lantas memalingkan wajah ke luar, mencoba menyembunyikan pias merah pada rautnya. Tingkahnya membuat kekehan Sehun lolos begitu saja. Terdengar ringan, juga menyenangkan. Sehun yang telah mengambil tempat di sebrang Allena, kemudian merangkum dagu si gadis dan sedikit memaksanya saling berpandangan. Oh, Sehun suka saat-saat seperti ini. Melihat ekspresi kesal Allena dengan sapuan merah di sekitar pipinya.

Menggemaskan. Terlintas begitu saja dalam benak Sehun. Dicubitnya kedua pipi semerah tomat itu dengan tingkat gemas cukup tinggi. Menyulut rengekan Allena keluar. Kalau saja Allena tak mengeluh sakit, Sehun masih ingin melampiaskan rasa gemasnya pada gadis itu.

“Apa sangat sakit? Mau ku cium supaya sembuh?”

Allena mendelik padanya, pertanda tidak suka dengan tawaran Sehun. Pemuda Oh kembali terkekeh. Andai Sehun tidak ingat dimana keberadaan mereka, mungkin ia sudah mengecup setiap inchi wajah Allena sekarang juga.

“Ku dengar ada seorang gadis yang mencariku. Tapi kenapa dia menghilang dan tahu-tahu ada di sini? Sendirian pula. Apa dia tidak takut diculik?” Sehun berbisik, seolah yang dikatakannya adalah rahasia besar yang bila disuarakan dengan volume biasa akan berdampak sangat berbahaya.

“Aku tidak bisa menemukanmu, makanya ku putuskan ke café ini saja.” Dusta Allena. “Lagi pula, siapa juga yang mau menculikku?” Sambungnya sembari bersidekap. Menatap tanpa minat lelaki dihadapannya.

“Aku yang akan menculikmu. Membawamu ke apartemenku, lalu mengurungmu disana supaya tak satu lelakipun yang bisa melihat Allena-ku.” Senyum miring Sehun kembangkan. Membuat Allena merinding sendiri melihatnya. Oh Sehun itu benar-benar… Allena tidak mengerti. Apakah ia harus merasa sial atau bersyukur atas semua perlakuan Sehun padanya yang tanpa sadar melunturkan seluruh prasangka Allena begitu saja. Tanpa jejak, tanpa tersisa.

“Ya sudah, culik saja aku sekarang. Aku sudah bosan duduk di sini, omong-omong.” Sudut bibir Sehun semakin tertarik ke atas. Jika Allena saja sudah memberi lampu hijau, tidak mungkin Sehun sia-siakan, bukan?

Lantas menarik diri dari kursi, Sehun berdiri di sisi duduk Allena. Sejurus kemudian mengangkat tubuh mungil tersebut dan menggendongnya dengan gaya bridal. Allena tentu saja memekik. Sehun buru-buru menenangkannya—atau lebih tepat mengancamnya secara halus—dengan bisikan. “Ingat? Ini penculikan, Allena. Jadi, jangan harap aku akan membawamu dengan cara normal. Dan jangan berteriak atau aku akan menciummu disini. Ok?”

Gadis Wu meneguk ludah secara paksa, lalu mengangguk patuh. Sehun tersenyum senang karenanya. Allena memilih menutup mata, tak ingin melihat orang-orang yang pasti tengah memperhatikan mereka. Ia menggerutu dalam hati. Sebenarnya siapa yang gila? Oh Sehun atau dirinya?

Jawabannya adalah mereka berdua.

***

“Kau sedang apa, sih?” Sehun bertanya, penasaran melihat Allena membuka kulkas dan semua pintu laci di dapurnya. Padahal ia membawa gadis itu ke apartemennya untuk menghabiskan sisa hari ini bersama, bukan agar Allena menggeledah isi dapur.

“Dari luasnya apartemenmu ini, kau hanya punya berbotol-botol Coca Cola, berkotak-kotak susu UHT dan berbungkus-bungkus mie ramen?” Tawa Sehun mengudara ditanyai dengan nada sedramatis itu oleh Allena. “Apa itu masalah untukmu?” Tanyanya seraya berjalan mengitari meja pantry, lalu berhadapan dengan si gadis.

“Masalah besar! Karena aku lapar dan ingin masak. Tapi, lihat dapurmu! Aku tidak terkejut kalau besok kau menjadi pedagang cola atau susu UHT.” Cibir Allena.

“Kau mau masak? Memangnya bisa? Ah, kau mau menghancurkan dapurku, ya?” Sehun tidak bohong meragukan kemampuan masak Allena. Pasalnya sewaktu SMA, Sehun tidak pernah sekalipun melihat Allena memegang alat dapur. Menyalakan kompor saja, tidak mau.

“Sehun-ie~ Kau mau kan, membelikanku bahan-bahan untuk masak?” Mengenyahkan rasa kesalnya akan keraguan Sehun, Allena memeluk sebelah lengan si pemuda sambil menatapnya dengan binar penuh permohonan. Kalian penasaran reaksi Sehun?

Ia menggeram tertahan. Rasanya, jantung Sehun tak kuasa mendapati sikap Allena yang manja begini. Allena belum pernah seperti ini sebelumnya. Sekalipun, belum pernah. Sebab biasanya Sehun-lah yang bermanja-manja ria pada Allena. Apa sekarang dunia sudah kembali ke tempat yang seharusnya?

“Ok, ok. Aku akan membelikannya untukmu asalkan kau berhenti menatapku seperti itu atau aku akan menjadikanmu ‘makan malam’-ku.” Tutur Sehun. Allena sontak menirukan gerakan hormat ala prajurit tentara pada komandan.

“Tapi jangan lama-lama, ya? Aku sudah lapar.” Allena tersenyum lebar mengatakannya. Sementara Sehun mendengus sebelum berjalan keluar apartemen guna menjalankan permintaan si gadis. “Hati-hati, Sehun-ie~” Allena melambaikan tangan semangat, kendati Sehun tak lagi menoleh ke belakang.

Ia terkikik, senang karena dapat sedikit menjahili seorang Oh Sehun. Walau sempat agak tidak menyangka aegyo-nya ternyata ampuh pada Sehun. Mungkin Allena bisa mempraktekkannya kembali di lain waktu andai kata ia menginginkan sesuatu.

Pikiran Allena soal rencana memperdaya Sehun dengan ‘serangan’ aegyo buyar kala bunyi dering ponsel memenuhi indra pendengarnya.

Awalnya, Allena kira itu suara ponselnya. Namun, ketika arah pandangnya jatuh pada benda persegi panjang di atas meja pantry, ia baru sadar jika itu milik Sehun yang kemungkinan tertinggal. “Dia ceroboh sekali.” Gumam Allena.

Sepasang alis Allena saling bertautan mendapati tiada nama yang tertera di layar ponsel Sehun selain nomor tak dikenal. Meski ragu, mengandalkan pemikiran ‘siapa tahu penting’, Allena menggeser tombol dial. Belum sempat membuka mulut, suara disebrang langsung menyambar terlebih dahulu.

Sehun, apa kau sibuk? Maaf kalau mengganggu waktumu, tapi ini penting. Besok, kau ada waktu tidak? Kurasa kencan kita dimajukan besok saja. Karena lusa, aku harus mengajukan proposal skripsiku ke dosen. Bagaimana? Kau mau, kan?

Hening. Allena merasa dunianya seketika hening. Senyum yang sedari tadi mengembang di wajah rupawannya lenyap begitu saja. Kencan? Allena terpekur. Mengolah satu kata itu dalam neuron di otaknya. Apa Sehun sedang berkencan dengan gadis lain? Ataukah dia—

Hun-ie~ Kenapa kau diam saja? Cepat katakan sesuatu, sayang~

—sudah punya kekasih? Allena nyaris tumbang. Pening menyerangnya tanpa tahu waktu. Jemarinya yang terasa sulit digerakkan menggeser tombol berwarna merah secara sepihak. Tubuh gadis Wu merosot hingga terduduk di lantai dingin dapur. Memegangi dadanya yang terasa ngilu.

Jika selama ini Sehun memang memiliki seorang kekasih, mengapa ia masih memperlakukannya seolah Allena adalah satu-satunya gadis dalam hidup Oh Sehun? Membuat Allena terbuai hingga terlampau percaya diri bahwa tak ada gadis lain yang akan menggantikan posisinya. Hingga lupa kalau kau hanya sahabatnya, Allena. Sahabat Oh Sehun.

***

Hembusan napas teratur Sehun yang menerpa puncak rambut Allena, menarik atensi si gadis agar mendongak. Hatinya menghangat kala mendapati raut tenang sosok yang merengkuh tubuhnya tengah terlelap. Tampak begitu damai. Sehun pastilah kelelahan setelah berkeliling membelikan bahan masakan dan membantu Allena memasak. Dia bahkan lebih bersemangat ketika sadar kalau Allena memang benar-benar sudah mahir meracik masakan.

Masih Allena rasakan betapa senangnya ia begitu Sehun memakan hasil masakan mereka dengan begitu lahap. Allena sudah sering memasak untuk Kris—sang kakak—namun tak pernah ia merasa sebahagia itu. Bahagia yang sanggup melupakan sakit yang melingkupi hati Allena sebelumnya.

Tatapan Allena berubah sendu. Kembali teringat kejadian saat Sehun berbicara kasar pada seorang gadis di sebuah ruangan dan telepon dari… Sesak memenuhi ruang pernapasannya lagi. Apakah itu benar kekasih Sehun atau bukan, Allena tidak tahu. Allena tidak ingin tahu. Tadi, sebelum Sehun datang, ia buru-buru menghapus daftar panggilan terakhir dan tak memberitahukan atau menanyakan apapun pada Sehun mengenai si penelpon.

Pokoknya Allena tidak peduli. Ia eratkan rengkuhan dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Sehun. Seperti saat ini di atas tempat tidur si pemuda, dalam dunianya hanya ada dirinya dan Sehun. Bolehkah Allena egois?

***

“Allena!”

Seseorang menyerukan namanya, tentu Allena menoleh. Beberapa langkah, Seungwan menghampirinya dengan sebuah kamera menggantung di leher. Perlu beberapa saat bagi gadis Son untuk mengatur pola napasnya kembali normal.

“Kenapa kau tidak pulang semalam? Aku mengkhawatirkanmu tahu! Bagaimana kalau Kris Ge tiba-tiba menghubungiku dan menanyakanmu? Aku harus bilang apa padanya?” Seungwan serta merta menghujani Allena dengan berbagai pertanyaan. Netra Allena membulat, terkesiap mendengar sahabatnya bertanya dengan begitu cepat.

“Aku menginap di apartemen Sehun.” Jawab Allena tanpa memikirkan bagaimana reaksi Seungwan selanjutnya. Gadis itu menganga sepersekian detik, berlanjut menatap horror dirinya lantas memegangi bahu Allena.

“Dia tidak berbuat macam-macam padamu, kan? Kalian belum melakukan ‘itu’, kan?”

Mengerti ke arah mana pembicaraan Seungwan, Allena memutar bola mata malas. “Pikiranmu kotor sekali, sih. Aku bilang kan ‘menginap’ bukan melakukan ‘itu’, Seungwan.” Ujar Allena, menyangkal segala pertanyaan-menjurus-tuduhan Seungwan.

“Wajar saja kalau aku berpikiran seperti itu. Semua yang tampak biasa bisa menjadi tidak biasa kalau berhubungan dengan si Oh-mesum-Sehun.” Cibir Seungwan. Masih saja begitu hingga detik ini, Seungwan selalu khawatir jika Allena berdekatan dengan Sehun. Bukan tanpa alasan, Seungwan berpendapat bahwa Sehun adalah ‘serigala berwajah bayi’. Tampangnya saja polos, isi otaknya sudah tercemar dengan hal-hal berkonten dewasa.

Si gadis Wu memang tahu soal kekhawatiran Seungwan. Itu pula yang sempat menariknya bertanya mengenai kejadian ‘Sehun dan gadis lain’ kemarin pada sahabatnya tersebut. Tapi ia urungkan. Ketakutan mengetahui fakta sebenarnya terlalu membelenggu hati Allena. Lagi, ia memilih untuk tak ingin tahu.

“Ya sudah, aku harus berkumpul dengan kelompokku sekarang, ada tugas membuat film pendek. Kau juga mau ke kelasmu, kan?”

Allena mengangguk. “Ya. Kapan jadwalmu selesai hari ini?”

“Belum dapat kepastian. Tugas kelompok benar-benar mencekikku belakangan. Nanti ku kabari lewat chat saja, ya?” Seungwan sempat melirik sekilas arloji yang melingkar di lengan kirinya. Pemandangan itu tertangkap oleh Allena. Cukup baginya untuk menyimpulkan bahwa sang sahabat tengah dikejar waktu.

“Ok. Sudah sana, kerjakan tugas kelompokmu. Aku mau ke kelas sekarang.”

“Iya, iya. Sampai jumpa nanti, Alle~” Seungwan berlarian setelah melambai sesaat pada Allena. Seusai bayangan Seungwan tak terlihat lagi, Allena berbalik. Membawa langkahnya menuju ruang dimana seharusnya ia berada saat ini.

***

Allena memilih mengambil tempat di baris terakhir dekat jendela. Bukan karena ingin, hanya tempat itu yang tersisa di kelas lantaran ia tiba lebih lambat dibanding yang lain. Beruntung sang dosen belum menampakkan batang hidung. Sejujurnya, Allena tidak begitu suka berkutat dengan deretan teori yang memusingkan. Hanya saja, impian untuk setidaknya meringankan beban sang kakak mengurus bisnis keluarga mendorongnya menyeburkan diri ke kolam saham dan uang.

“Anak baru, ya?”

Merasa seseorang tengah berbicara padanya, Allena menoleh. Seorang lelaki—dengan jaket dan celana jeans yang membalut tubuhnya dan headphone melingkari tengkuk—menatapnya. Allena mengangguk sebagai respon. Lelaki itu kemudian mengulurkan tangan bersamaan seulas senyum manis, walau tak semanis senyum Sehun—menurut Allena.

“Perkenalkan, aku Jung Jaewon.”

Membalas uluran tangan, Allena menjawab, “aku Allena Wu.”

“Allena Wu? Ah, biar ku tebak. Kau blasteran Cina-Barat, ya?”

“Ya. Ibuku asli Cina dan ayahku dari Kanada.” Jaewon manggut-manggut, secara tak langsung berkata ‘pantas saja’ lewat geriknya.

“Bahasa Korea-mu bagus.” Puji Jaewon. Allena menjawabnya dengan senyuman. Dua tahun dikukung oleh keposesifan Kris, membuat Allena sedikit-banyak terbiasa menjaga jarak dengan lelaki yang baru dikenalnya. Kendati demikian, firasatnya mengatakan lelaki bernama Jung Jaewon tersebut akan menjadi kawan baiknya nanti. Semoga saja.

***

“Kenapa kau tidak mengatakannya dulu padaku?”

“Kemarin aku kan sudah memberitahumu lewat telepon. Tapi kau malah diam saja dan mematikannya sepihak. Ku kira kau marah.” Jelas Sorin lengkap dengan tatapan merajuk. Sementara Sehun terpekur. Menyadari informasi yang baru saja disampaikan gadis tersebut.

Sorin kemarin menelponnya, sedangkan Sehun ingat ponselnya tertinggal di apartemen sewaktu ia berbelanja bahan masakan untuk Allena.

Allena… Sehun bersandar pada dinding di belakangnya. Tiba-tiba kepalanya berdenyut ketika memikirkan kemungkinan Allena yang mengangkat telepon dari Sorin.

Tapi jika benar, mengapa dia tak memberitahunya atau bertanya apapun soal Sorin? Kenapa Allena memilih diam? Sehun tidak mengerti. Seharusnya ia bersyukur Allena tak menanyakan apa-apa mengenai Sorin. Sehun jadi tidak perlu pusing atau repot mencari-cari kilahan yang tepat untuk Allena. Namun justru keterdiaman Allena menimbulkan lebih banyak pertanyaan dalam benak Sehun.

“Tuh, kan. Kau mengabaikanku lagi!” Sorin kembali merajuk. Sehun menatapnya datar.

Gadis ini berisik sekali.

“Sebenarnya, kau mau berken—”

Kalimat Sorin terpotong lantaran dibuat bungkam oleh bibir Sehun yang meraup miliknya tanpa permisi. Walau sempat terkejut, Sorin memejamkan netranya. Memilih mengikuti alur yang Sehun ciptakan.

***

“Kau mau kemana setelah ini?” Jaewon bertanya.

Gadis Wu mengedikkan bahu. Mereka kini tengah berjalan berdampingan di koridor. Tadinya setelah jam kuliah selesai Allena ingin pergi makan siang bersama Seungwan. Tapi karena sahabatnya itu mengirimi chat kalau ia masih sibuk dengan tugas, Allena jadi tidak tahu harus kemana.

“Mau makan siang denganku?” Tawar Jaewon. Allena berpikir sejenak. Mungkin tak ada salahnya menerima ajakan Jaewon mengingat tak ada yang ia kenal di kampus tersebut selain Sehun, Taehyung dan Seungwan. Menambah kenalan dekat tak ada salahnya, bukan? Apalagi ketiga sahabatnya tersebut berbeda jurusan dengannya. Sehun dan Taehyung di arsitektur, sedang Seungwan di perfilman.

“Baiklah.” Allena mengiyakan tawaran Jaewon. Mereka berbelok ke kanan, berniat ke kantin kampus kala seorang gadis menghadang langkah keduanya tepat dihadapan Allena.

“Kau Allena, kan?” Tanya gadis bersurai panjang senada warna kulit kayu. Jaewon dan Allena berpandangan sebelum kembali menatap heran gadis cantik tersebut.

“Ya, aku Allena.”

Gadis bertubuh semampai itu menghela napas lega. “Aku mencarimu dari tadi. Sehun menitipkan pesan padaku, katanya dia menunggumu di koridor belakang gedung C. Kurasa ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padamu secara empat mata. Ya, hanya empat mata.” Ujarnya seraya menyempatkan diri melirik Jaewon, seolah memberi isyarat bahwa tak seharusnya pemuda Jung itu bersama Allena.

“Oh? Begitukah? Baik, aku akan ke sana. Terimakasih informasinya.”  Sudut bibir Allena tertarik ke atas, tersenyum tulus. Si gadis mengangguk tanpa lupa membalas senyum Allena. Lalu menarik diri sebab ia bilang masih ada kelas yang harus dihadirinya.

“Jadi… Makan siang kita batal?”

Allena menatap Jaewon penuh perasaan bersalah. “Maaf, ya?”

“Tidak apa. Toh, bisa lain kali, kan? Temui dia. Aku yakin pasti dia sudah menunggumu.”

Seusai berterimakasih atas pengertian Jaewon, Allena melangkah menuju lokasi yang dimaksud. Jaewon memperhatikannya hingga menjauh dan menoleh pada koridor lain. Koridor yang dilalui gadis yang menyampaikan pesan pada Allena tadi. Memperhatikannya dengan tatapan sulit diartikan.

***

Jantung Allena berdebar tak teratur. Terlalu senang mendengar Sehun ingin bertemu dengannya. Padahal hampir tiap hari mereka bertemu, tapi tetap saja perasaan senang itu tak mau pergi. Kira-kira apa yang ingin Sehun katakan sampai meminta orang lain menyampaikan pesan padanya? Kenapa dia tak menelpon Allena saja, sih? Mereka kan sudah bertukar nomor telepon di apartemen Sehun kemarin.

Mengusir keheranan tersebut, langkahnya ia percepat. Takut-takut Sehun sudah lama menunggunya. Di depan, terdapat belokan ke kiri yang mana ialah koridor belakang gedung C. Ketika ia berbelok, jantungnya memompa lebih cepat.

Bukan, bukan karena Sehun tiba-tiba memeluknya dengan erat. Bukan pula karena Sehun menyambutnya dengan senyuman dan eye smile andalannya.

Melainkan karena ia disambut oleh sebuah pemandangan yang menyakiti mata juga hatinya. Disana, di ujung koridor, beberapa meter di depannya, Sehun tengah… Allena merapatkan kelopak matanya, berusaha menghalau cairan bening yang memaksa ingin keluar. Ia merasakan sakit itu lagi. Rasa sakit yang sejak kemarin berusaha ia abaikan.

Hingga tangan seseorang menariknya menjauh, kemudian mendekapnya. Tangis Allena pecah. Tak sanggup lagi menahan kepedihan. Seluruh sakit hatinya saat itu ia tumpahkan pada dada bidang orang yang memeluknya. Sementara jari-jemarinya meremas bahan yang membalut punggung si pemeluk, menyalurkan perih yang begitu menyayat hati.

“Sehun… Sehun…”

To be continued…

 

Chit – Chat!

Akhirnya selingkuhanku (read : Jung Jaewon) muncul juga /nangisterharu/lapingus/

Menurutku Jaewon ini yang paling cocok jadi saingan Sehun buat ngrebutin aku, eh, maksudnya Allena. Selain sama-sama line 94, dia gantengnya juga parah kayak Sehun. Kalian search aja di google ‘Jaewon one’. Atau liat MV-nya mba Lee Hi – My Star, nah cowok yang ada di mv itu Jaewon. Ganteng, kan?

Satu lagi, plis jangan panggil aku ‘author’ apalagi ‘thor’. Cause it sounds weird. Cukup panggil aja aku ‘Dis’. Aku line 97, btw. Ada yang lebih diatas atau dibawah atau seline sama aku? Yuk coret-coret di kolom komentar /modus/, sekalian kenalan. Biar aku juga tau harus panggil kalian apa.

See you on next chapter~ Thankseu ^^

33 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] HI, THE ONE (Chapter 3)”

  1. uhhh… makin.geregetan sama jalan ceritanyaa, knp sehun manggil allena kalo akhirnya dia cuman mau nunjukin sesuatu yg bikin allena sakit hatii…uhhh sehunnnn, knp kamu begituuuu. nanti giliran allenanya udah di ambil orang baru nyesel setengah mati dehhh

  2. Yg meluk jaewon kah? Duh kan rumit deehhhh. Emang intinya kurang komunikasi aja yaaaaaa. Allena nyembunyiin jadi begini. Sehun juga belom jujur sama emm apa yaa ntah. Mungkin sama diri dia yg sebenernya sekarang ini? Jadinya kan sekarang rumit beginiii ._.
    Etapi tunggu cewe yg nyuruh allena buat kesitu auruhan cewe yg kiss sama sehun kah? Kok jahat 😐
    Ah baca chapter 4nya aja deehhh hehe. Semangaaatttt!
    -XOXO-

  3. hahahahhaa Orang ketiga dari masing-masing pihak mulai muncul saudara-saudara…
    kayaknya bakal lebih ngenesh jadi orang ketiga deh… udah jadi sosok yang mencintai sepenuh hati, sosok ideal. tapi jarang terpilih karena bagaimanapun caranya main cast akan selalu jadi dengan main cast atau malah dipisahkan oleh maut…

    Fiuh, dedek jaewon sini sama noona aja… Sehun kalo player gitu noona bete gak seneng wkwkwkwkwk #didemofanssimaknae

    1. Iya emg, pihak ketiga selalu mjd pihak tersakiti yg sebenarnya. Tapi klo ga ada pihak ketiga, kurang greget wkwk

      Makasih udh baca dan komen ^^

  4. siapakah geranga itu??? mungkinkah???? apa coba maksudnya si cewek tadi yang katanya allena disuruh ketemu sehun? yang,nyuruh juga sehun kah atau??? atau hanyaaaaa #plak entahlah mau komen apaan lagi bingung aku 😀 pokoknya tak tunggu deh lanjutannya ini 🙂

  5. Hmm sudah kuduga pasti begini huhu
    Kasian kan allena itu sehun emg player ya?
    Ahh padahal suka bgt liat mereka bisa ketemu lagi tapi sehun malah yaa gitudehh hftt
    Ditunggu kelanjutannya kak
    Fightingg!!

  6. Duhh baper kak,
    Allena ksian 😥
    Itu siapa yg meluk allena? Jaewon kah? / taehyung? Tpi kyanya sih jaewon deh#ahh molla
    Sehun gmna sih!

    Haii kakk^^ klo ku line98..hihihi#kenalan..wkwkwk
    Kakk bisa manggil aku Ly / ley^^ klo aku manggil ke kakk enaknya manggilnya apa?
    Next kakk dtunggu klanjutanya^^

    Fighting!!

    1. Yg jelas bukan aku ya yg meluk Allena /yaiyalah/ 😂😂

      Halo Ly~ aku kayaknya sering liat kamu komen /peluk/ Panggil kak aja juga gpp kok hehe 😀 Salam kenal ya~
      Makasih udh baca & komen ^^

    2. Hehehe..

      Hallo juga kakk^^, hehe emg iya kak/blspeluk(?)/ oh Oke^^ Kak 🙂
      Kan waktu awal muncul nih ff aku udah seneng banget loh kak/serius. Coz ada abang Kris + punya adek cewe lg ++ ada sehun oppa juga^^#curhat
      Tpi kta kakk disini abang Kris cuman kebagian dikit/bisa dbilang numpanglewat ya..wkwkwk#curhatapagmnaini?/abaikan
      Yg jelas aku suka sama ceritanya kak

      Iya sama” 🙂

    3. Wah aku malah lebih seneng ada yg masih sayang sama Kris :’)
      Kris bakalan muncul lagi kok, tapi kapan tepatnya masih rahasia ya wkwk

  7. Iiihh,,,pasti allena ngeliat sehun ciuman sama sorin… 😦

    Kasihan bgt sih allena…
    Kayaknya dua punya rasa khusus deh sama sehun…

    Ngerasain jadi allena,,jadi ikut nangis nih.. ;(

  8. uuugghh allena pasti liat sehun ciuman tuh
    entah jadi kesel sndiri sama sehun …
    player pe’a ma si sehun …
    langsung nyambar2 bibir orang sembarangan gitu ,….
    fighting buat lanjutannya kak … dan jangan lama-lama haha (maksa)

  9. Halo saya reader baru. Ceritanya bagus tapi karena belum sempat baca dari chapter 1 jadi ngak tahu kisahnya. Di sini sehun itu player ya? Jadi penasaran sama lanjutannyakeep writing and fighting yaa 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s