SILHOUETTE | 9

Cover2

SILHOUETTE

Starring by :

Oh SehunKang Mirin | Xi Luhan | Song Yerin

PG 17

Sad  | Romance | Lil hurt

Chapter

[WARNING] :

Konsentrasi tinggi karena typo bertebaran macam ranjau. Jangan lupa Rulesnya.. kalau udah inget langsung caw baca kalau belum coba inget-inget lagi….

Happy reading ^^*

***

Previous Part : PROLOG |1 | 2 | 3 | 4| 5 | 6| 7| 8

 ***

Mirin Pov

 

Begini ya rasanya kesepian?

Tidak ada teman untuk bicara. Tidak ada yang menghibur. Tidak ada yang menemani. Hanya menatap ubin putih mengkilat. Beralih ke lampu yang memancarkan cahaya putih menyilaukan. Ditemani musik dari jam yang dari tadi mengeluarkan bunyi seirama menenangkan.

Ralat. Aku tidak tenang. Bunyi itu malah semakin menarikku semakin dalam ke lubang kesepian dan rasa bersalah.

Tiga jam. Jarum ramping milik jam itu sudah bergerak sebanyak sepuluh ribu delapan ratus kali. Selama itu juga aku duduk disamping ranjang Ji Ae. Tidak berubah posisi sedikitpun. Menungguinya yang masih menutup mata dengan sabar. Dia sedang mimpi apa sih sampai betah tidur begitu? Paling-paling ‘roti sobek’ punya oppa oppa nya itu. Dasar mesum.

Padahal saat ini aku benar-benar butuh dia. Partner sehidup semati untuk menggila. Partner terbaik untuk marathon drama. Partner terbaik untuk berbagi cerita. Partner terbaik untuk heboh-hebohan.

Sebelumnya dia tidak pernah diam kecuali saat tidur dan pelajaran Mrs. Yoon. Bibirnya tidak pernah mengatup serapat ini karena biasanya bicara dan tertawa tidak ada hentinya nyaris 24 jam kecuali jika sedang pelajaran Mrs. Yoon dan dihadapkan pada laki-laki tampan. Bibir itu akan terkatup sempurna. Entah itu karena tegang dengan Mrs. Yoon. Atau tersenyum manis dan jaim pada laki-laki yang masuk kategori tampan pilihannya.

“Hei, bangun,” aku mencubit hidungnya agak lama lalu menggerakkannya ke kanan dan kekiri. Sayangnya tidak bereaksi seperti yang aku harapkan.

“Ji Ae aku kesepian, aku pegal duduk terus,”

Iya, aku kesepian. Aku ingin minta maaf karena membuatmu seperti ini. Aku bahkan baru tahu keadaanmu sebegini parahnya.

“Kau mimpi oppa oppa toples ya? Aku ganti jadi ahjussi buncit disebelah rumahmu bagaimana?”

Duh Ji Ae. Kumohon, bangun. Aku butuh kamu. Aku ingin bertanya kemana Yixing bawa Luhan pergi? atau Luhan yang bawa Yixing pergi? Arghhhh…. Demi oppa seksimu itu Ji Ae aku bingung. Cepat bangun dan bantu aku berpikir.

“Sok sekali sih. Makanya kalau punya darah tinggi tidak usah marah-marah begitu,”

Jadi kau tidak pingsan mengenaskan begini. Aku panik setengah mati mendengar kau pingsan.

“Ji Ae kau tidak akan stroke ‘kan? Kau tidak mati ‘kan? Aww –“

Aku meringis. Memegang kepalaku yang baru saja dihadiahi tapak dewa Ji Ae. Tapi kemudian aku menyadari sesuatu. Sejak kapan Ji Ae membuka mata?

“Aku sudah sadar dari tadi bodoh! Dan kau! Munafik sekali! Dimulut kau bicara tentangku, tapi hatimu mengkhawatirkan Luhan dan Sehun. Pakai acara mendoakanku mati lagi. Dasar sahabat durhaka !Cih!” aku tidak bermimpi kalau Ji Ae yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang sambil melipat tangan itu adalah Ji Ae yang tadi selama tiga jam pingsan karena darah tinggi. Dia yang baru saja berbicara panjang lebar khas ibu yang dikhianati anaknya itu adalah asli Ji Ae yang dari tadi tidak bangun hingga membuatku panic dan ampir menangis. Seketika rasa lega melingkupi hati yang tadi rasanya kacau. Satu masalah selesai.

Tadi dia bilang aku apa? Kenapa dia bisa mendengar apa yang melintas diotakku tadi?

“Aku tahu. Sekali lihat aku sudah langsung tahu. Kau sahabatku Mirin. Tidak, kau saudaraku,”

“….itu juga alasanku melakukan ini. Aku pingsan tidak main-main. Tidak sembarangan. Aku tidak tahu kalau akan pingsan tidak elit begitu. Yang diotakku saat itu adalah aku ingin melahap si Song Yerin itu hidup-hidup karena berani membawa segitu banyak orang untuk menyakitimu. Berani sekali dia dan ceroboh sekali aku. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Seharusnya aku lebih waspada setelah membaca pesan itu. Tapi untung ada Luhan. Walau akhirnya malah begini. Tapi aku lega melihatmu ada disini dan baik-baik saja. Jadi aku pingsan tidak sia-sia, ”

Dia tersenyum diakhir kalimatnya. Sekarang, haruskah aku menangis karena terenyuh? Pernyataannya tadi sudah menjawab pertanyaan yang melayang diotakku saat melihatnya pingsan. Sepenting itu ya diriku sampai Ji Ae tidak memikirkan kalau emosi bisa memperparah penyakitnya yang satu itu? Sepenting itukah aku sampai yang ada diotaknya adalah aku tidak apa-apa?

Lalu arti aku bagi Sehun dan Luhan apa? Sama pentingnya kah seperti yang Ji Ae rasakan sampai harus menebar pukulan untuk satu sama lain?

“Nah, kan? Kau sudah memikirkan dua cucurut itu lagi. Memang kau belum bertemu mereka? Eh, ralat. Kau pasti sudah melihat Luhan karena kalau tidak dengan Luhan bagaimana caramu kesini? Kalau bisa membawamu kesini, berarti dia baik-baik saja? Tapi Sehun, bagaimana keadaannya? Tadi Yixing panik sekali sepertinya. Kalau tidak salah tadi aku mendengar sirine ambulance. Dia bilang tadi Sehun sempat muntah darah?”

“Apanya yang tidak apa-apa?! Muka tuan Idiot itu hancur total. Dia pergi dengan Yixing entah kemana, padahal dia belum mandi dan lukanya belum diobati. Dia juga muntah da –rah, hey….. Sehun muntah darah? Astaga… sekarang dia dimana? Dia tadi benaran pingsan? Kenapa ada ambulance? Oh Tuhan……” kalimat panjang beruntun seperti kereta refleks keluar dari mulutku seiring dengan bahuku yang melorot memikirkan dua makhluk yang tadi bertarung hebat di depan mataku. Segera aku rutuki karena seketika Ji Ae menatapku semakin dalam. Seakan menggali sesuatu lewat mataku. Hingga rasanya aku jadi risih.

“Luhan atau Sehun?”

“Apa?” ini lagi. Tiba-tiba tidak ada angin apalagi hujan. Dia ini bicara apa? Apa aku harus memilih? Sedetik kemudian tapak dewa Ji Ae mendarat lagi di jidatku yang poninya sudah menyebar ke berbagai arah tidak karuan. Sial, kenapa anak ini tidak bisa membiarkanku berpikir sejenak?

“Sehun atau Luhan. Mereka punya motif yang sama dibelakang mereka hingga rela hancur begitu untukmu,” Kulihat Ji Ae meraih gelas berisi airnya dinakas sebelah tempat tidurnya. Motif? Sebentar, aku harus bertanya,

“Kau mau bicara apa, ya?” aku tulus dari hati bertanya begini. Dan dengan wajah malas dan mata yang berputar jengah, dia mulai menjelaskan semuanya.

“Baiklah. Aku jelaskan. Karena sepertinya di TKP tadi nyawamu melayang dan otakmu terjatuh karena lemparan telur,”

Exactly!!” ucapku semangat sambil menegakkan tubuh yang ditanggapinya angin lalu. Dan dia mulai menjelaskan.

“Aku menyerang Yerin, karena aku benci ketika dia berbuat seperti itu padamu. Itu motifku sebagai sahabatmu. Dan Yerin dia melakukan ini karena sejak dulu bukan ‘kah di membencimu karena kau dianggap merebut Sehun. Sementara Sehun dan Luhan? Intinya kau pasti orang penting bagi mereka makanya mereka sampai seperti itu,”

Aku merenung mendengar penuturannya. Jadi benar ya aku ini penting?

“…feeling ku bilang. Kau harus memilih mereka. Karena alasan mereka bertarung begitu pasti sama. Kamu. Mereka pasti sama-sama ingin melindungimu. Saat berkelahi tadi, apa kau dengar apa yang mereka bicarakan?”

Aku menggeleng. Tadi selain otak dan nyawa, sistem syaraf motorikku pun ikut lumpuh. Untuk beranjak saja harus digendong Yixing dulu seperti karung beras.

Dan untuk masalah memilih?

Sesuatu dalam hatiku berbisik, tidak bisa. Mereka sama pentingnya. Aku masih butuh Sehun untuk dipandang agar hatiku tenang. Dengan kenangan bersamanya aku hancur dan bahagia disaat yang sama. Tapi aku juga tidak bisa jauh-jauh dari Luhan karena dia tonggakku untuk berdiri tegak melawan masa lalu yang mendorongku ke gerbang keterpurukan. Mereka itu morfin. Pengaruh morfin Sehun sejak dua tahun yang lalu saja belum hilang, dan sekarang dalam waktu kurang dari seminggu Luhan juga menebar morfinnya padaku.

“Aku tau kau dilema, tapi mempertahankan keduanya bukan hal yang bijak,”

Termenung lagi. Entah kenapa Ji Ae mendadak bijak begini., “Tapi aku butuh dua-duanya Ji. Aku masih ingin Sehun, tapi aku butuh Luhan,” dan tetes nista itu keluar lagi dari mataku. Apalagi saat mengingat kata-kata Luhan tentang pantas-tidak pantas. Kata-kata yang mengisyaratkan dia akan pergi jauh. Menyadarkanku tentang keberadaannya yang ternyata sangat aku butuhkan.

Lalu teringat kenangan indah dengan Sehun. Ciumannya, pelukannya, perhatiannya….. debar jantungnya.

“Temui keduanya. Nanti kau akan tahu, sebenarnya siapa yang kau butuhkan. Siapa tonggakmu. Siapa yang dihatimu. Semua peran itu merangkap disatu nama,”

Dan sekarang. Untuk kesekian kalinya. Aku membasahi bahu mungil Ji Ae dengan airmata. Alasan yang sekarang? Melepaskan beban dilemma memilih.

 

 

 

***

 

 

Flashback                   |                      Author Pov

 

Sehun berjalan setengah berlari dengan nafas memburu. Dia panik. Rasa panik dan khawatir itu terpancar jelas lewat manik matanya yang juga memancarkan aura membunuh. Begitu matanya menangkap satu sosok yang dia cari, segera diarahkan kakinya kesana. Langkah cepatnya seiring dengan merahnya wajah menahan emosi dan kepalan tangan yang siap melayang.

Tidak sampai sepuluh detik. Sehun berdiri didepan seorang pria dengan gaya bossy nya duduk diatas meja. Tidak peduli dengan tatapan bingung teman-teman pria itu yang duduk mengelilinginya. Ditariknya kerah pria itu hingga dia hampir terjatuh dari meja kalau bukan karena cengkraman Sehun dikerahnya

“Dimana Mirin?” Yonghwa –nama pria itu- meneguk salivanya susah payah. Tatapan Sehun dan nada menusuk Sehun membunuhnya. Perlahan-lahan, dengan tatapan itu Sehun menarik nyawanya dari mulut yang sekarang membuka-menutup tidak jelas.

“JAWAB AKU!”

“D –DEMI TUHAN, AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN!!! A –AKU HANYA MELAKUKAN APA YANG YERIN MINTA!!! KALAU TIDAK AKU YANG DIBUNUH…..”

Sehun memutar bola matanya tanda jengah. Satu nama biang masalah yang terdengar tidak asing keluar dari mulut orang ini, “Dimana Mirin?”

Pertanyaan yang sama dengan nada lebih lunak. Sehun belum puas kalau belum memastikan Mirin –nya baik-baik saja.

“Gu…gudang…be…belakang,” ucapnya susah payah yang dihadiahi Sehun lepasnya cengkraman mencekik Sehun di kerahnya. Meski tidak secara halus,karena bokongnya menumbuk ubin keras dan kepalanya sempat terantuk meja tempatnya duduk tadi, Yonghwa masih bersyukur karena setidaknya anggota tubuhnya masih ditempatnya masing-masing.

Tanpa basa-basi kata ‘maaf’ atau repot-repot bilang ‘terimakasih’ , Sehun meninggalkan Yonghwa yang masih meringis dan pergi ke gudang belakang dengan langkah tegap panjangnya yang memburu.

***

“Hey… Yonghwa? Kau diluar? Demi oppa-oppa seksinya Ji Ae ini tidak lucu!! Jangan main-main denganku atau kau mati ditanganku!!” entah sudah keberapa kalinya Mirin meneriakkan hal yang sama. Rasanya tangannya mulai sakit karena terus memukul-mukul pintu yang kayunya luar biasa keras padahal sudah termakan usia. Memanggil-manggil nama Yonghwa yang tadi membawanya kesini dengan alasan ‘disuruh guru mengambil berkas lama’. Dia lupa kalau Yonghwa yang berwajah manis penipu ulung dan tidak ada berkas penting yang ditaruh ditempat pengap penuh tikus begini.

Sialnya lagi, dia meninggalkan ponselnya dikelas karena Yonghwa bilang hanya akan sebentar.

“Sebentar apanya? Sekarang diluar sudah hampir gelap dan dia bilang sebentar?”

Mirin bukannya takut gelap. Dia hanya tidak suka sendirian di tempat gelap. Imajinasinya terlalu liar. Dan semakin liar kalau dia sedang sendirian. Jadi disaat seperti ini, pasti dia akan berpikir di pojok sana ada sosok hitam bertudung yang memperhatikannya lapar. Di ujung satunya ada orang dengan pisau dapur yang menunggunya lengah. Dibelakangnya sebentar lagi akan ada tangan yang terjulur akan mencekiknya. Di bawahnya ada tentakel yang siap menariknya kebawah. Lalu di atasnya akan ada ribuan kecoa mutan mode terbang yang mengerubunginya lalu menghisap darahnya sampai habis. Atau dibalik pintu ini, Sehun sedang main api dibelakangnya. Merangkul salah satu gadis penggemarnya. Menertawakan dia yang nyaris menangis karena imajinasinya sendiri.

Mungkin dia terlalu banyak menonton film aneh koleksi Ji Ae.

Mirin melamun dengan wajah pucatnya. Yang terakhir adalah yang terparah. Tangannya mulai terasa dingin sekarang. Kakinya kaku tidak bisa digerakkan. Ditambah sakit terkilir setelah berebut bola dengan Yerin saat main basket tadi, membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiri kaku sambil mengambil ancang-ancang untuk berteriak sekuat tenaga.

“SEHUN!!!! KAU DIMANA?!!!”

Brakk

Saat itu juga cahaya jingga masuk keruangan gelap itu. Menghadirkan siluet tubuh Sehun yang menjulang menghalangi sebagian cahanya yang ingin masuk. Semakin mendekat kearahnya. Mirin masih diam. Memastikan sosok itu benar Sehun, bukan salah satu sosok aneh dalam imajinasinya.

“Kau tidak apa-apa?”

Hembusan nafas khas terengah-engah. Semerbak parfum kesukaan Mirin. Dan wajah kusut yang tadi dia teriakki namanya. Setelah sadar didepannya ini Sehun ‘asli’, secepat kilat Mirin memeluk tubuh Sehun. Menyembunyikan wajahnya yang mulai berurai air mata di dada Sehun. Menghirup parfum bercampur keringat Sehun sebanyak-banyaknya untuk menetralisir degup jantungnya yang beradu cepat seperti sedang balapan karena ketakutan.

Dan Sehun, rasanya lega melihat kembali Mirin meski sedikit kesal karena kondisi Mirin agak jauh dari kata ‘baik-baik saja’. Melihatnya berjalan agak pincang saat menubruk tubuhnya tadi dan sekarang tubuh mungil Mirin bergetar dalam pelukannya yang memberikan status tidak baik-baik saja pada Mirin.

“Kenapa bisa disini?” ucap Sehun. tangannya mulai terulur balas memeluk tubuh Mirin yang bergetar.

“Dikerjai Yonghwa,”

“Bodoh. Kau tahu Yonghwa seperti apa. Kenapa menurut saja?”

“Hikkss…..hikss…”

“Kau ‘kan bisa karate. Kenapa tidak tendang saja pintunya dengan jurusmu?”

“K…kaki…k..ku.. ter…terkilir…bo..bodoh,” Sehun melirik kebawah. Begitu melihat pergelangan kaki Mirin yang membengkak, dia membuang nafasnya lewat mulut. Tanpa ada niat melepas pelukan Mirin dan menghentikan gerakkan tangannya yang naik turun di punggung Mirin.

“Ishhh… jangan menangis. Kau tambah jelek. Lihat.. ingusmu keluar banyak sekali…”

Mirin melepas rangkulannya diperut Sehun. Mendongak menatap Sehun kesal dengan mata yang merah dan dengan gerakkan kasar mengusap sekitar hidungnya yang ternyata tidak ada apa-apa. Sehunnya bohong.

“Aku ketakutan setengah mati dan kau menghinaku?! Jauh-jauh sana Oh Sehun!!” Mirin mendorong Sehun hingga pria itu mundur beberapa langkah. Lalu kembali menangis dibalik telapak tangannya yang menyembunyikan wajahnya.

Sehun mendekat. Senyumnya terpampang jelas disana. Bukan senyum mengejek, tapi senyum kelegaan karena berhasil menemukan Mirin. Ditariknya Mirin. Menelusupkannya lagi kedalam pelukannya yang dirasa ampuh untuk menenangkan Mirin.

“Kenapa kau lama sekali datangnya?” Suara lirih Mirin saat Sehun menaik turunkan tangannya di punggung Mirin.

“Maafkan aku,”

“Aku takut setengah mati. Bagaimana kalau kau tidak datang?”

“Tapi aku datang. Aku akan datang. Aku pasti datang,”

“Aku takut….”

“Sssttt… tidak usah takut. Selama aku ada, aku tidak akan membiarkan seorangpun atau apapun menyakitimu…”

Mirin melonggarkan sedikit pelukannya untuk mendongak menatap lurus manik Sehun yang dibalas Sehun dengan senyum hangat menenangkan. Meyakinkan Mirin lewat tatapan matanya kalau ucpannya benar adanya. Bukan sekedar janji palsu yang seperti permen karet. manis sesaat, tapi menempel begitu lekat.

“Aku berjanji,” ucapan Sehun yang diakhiri kecupan singkat dikepala Mirin. Membuka pikiran Mirin. Keraguannya ternyata salah. Dia yakin dia aman saat bersama Sehun.

 

|END OF FLASHBACK|

 

“Sudah sadar?”

Sehun mengurut pelipisnya. Mencoba meringankan sakit kepalanya yang tiba-tiba melandanya saat membuka mata. Dia terkejut. Pertama, karena mimpi yang lebih cocok disebut kilasan memori memenuhi otaknya, lalu ada suara asing yang ternyata Yerin dari samping ranjangnya, dan ruangan serba putih yang diyakininya bukan kamarnya.

“Kau dirumah sakit. Tadi pingsan setelah berkelahi dengan seorang pria yang entah siapa namanya,” ucapan Yerin yang berhasil mewakili pertanyaan dikepalanya. Gadis itu membantunya untuk duduk bersandar. Lalu dengan gesit mengambil air untuk Sehun.

“Itu pipimu kenapa?” Secara tidak sengaja. Sehun melihat luka memanjang mirip bekas cakaran di pipi kanan Yerin. Tidak dalam, tapi sepertinya cukup sakit.

“Hadiah kecil dari Ji Ae. Jangan pikirkan aku, lukamu jauh lebih parah,” sesudahnya, Sehun diam. Tidak ada niat untuk kembali berbicara dengan topik luka dipipi Ji Ae.

Sampai akhirnya dia tahu topik apa yang sekiranya tepat untuk dibahas sekarang.

“Kau ‘kan orangnya?” Yerin yang tadi sibuk menata bunga dimeja samping ranjang Sehun menghentikan kegiatannya. Beralih pada Sehun yang bahkan berbicara tanpa menatapnya.

“Kau orang dibalik kejadian ini,”

Dari sudut matanya, Sehun menangkap senyum culas asimetris Yerin. Aura iblis perlahan menguar dari balik tubuhnya. Memancing emosi Sehun merambat naik kekepalanya.

“Kau tahu apa jawabannya kan, sayang?”

Jijik. Kesan yang didapat Sehun saat kata terakhir meluncur dari bibir Yerin dengan nada yang….ahh entahlah.. yang pasti nada bicarnya semakin memanaskan emosi Sehun.

“Kenapa?”

“Karena kau,” tidak ada jeda dari saat Sehun bertanya ke jawaban Yerin. Sehun mengepalkan tangannya. Susah payah dia menahan emosinya tapi dengan senang hati Yerin memancingnya naik ke ubun-ubun.

“Kalau kau melakukannya untuk aku, lalu kenapa kau sakiti Mirin? Kenapa repot-repot menyuruh orang melakukan hal keji seperti itu?” sekarang, Sehun menatap lurus mata Yerin dengan tatapan sedingin es dan sefokus sinar laser.

“Jawabannya masih sama. Kau Oh Sehun,” Yerin mendudukkan tubuhnya di ranjang Sehun. masih dengan senyuman bengisnya. Masih dengan tatapan penuh ambisinya.

“….kau masih fokus padanya, Sehun. Ingat. Kau itu milikku. Perlu kutekankan berapa kali? Dan repot? Kau bercanda. Semakin banyak sisa-sia Mirin di hatimu, semakin senang aku mengerahkan tenaga untuk menjauhkannya darimu. Rasanya semakin semangat dan tertantang untuk menjauhkan Mirin dari peredaran mata Oh Sehun,” lagi, Yerin tersenyum setengah sambil mengusap pipinya. Semakin membuat Sehun emosi. Semakin membuat Sehun ingin melindungi Mirin. Semakin membuat Sehun sadar keputusannya menarik nama Yerin adalah kesalahan besar. Semakin memojokkannya dengan rasa bersalah yang semakin dalam menenggelamkannya. Semakin mendorong Sehun untuk bergerak menjauh dari kehidupan Mirin. Seperti yang dikatakan Luhan didetik-detik terakhir sebelum dia hilang kesadaran.

“Aku pulang. Malam ini, kau istirahat disini. Aku sudah ijin pada sekretaris kelas kalau kau sakit. Jadi besok tidak usah masuk sekolah…” Yerin berbicara ditengah kegiatannya menyampirkan tas dibahunya. Dia mendekat kearah Sehun. tidak hanya tubuhnya. Karena sekarang wajahnya pun semakin dekat dengan wajah geram Sehun. lalu secepat kilat, gadis itu menempelkan bibirnya di bibir Sehun.

“…Mimpikan aku ya, sayang,”

Dan blammm. Saat pintu tertutup, Sehun mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangannya. Jijik. Jijik pada bibirnya sendiri yang baru saja bertemu dengan bibir Yerin. Kesal karena tadi refleksnya sangat lambat.

Cklek…

Pintu kembali terbuka ditengah kegiatannya menggosok-gosok bibir dengan punggung tangan. Kurang dari sepuluh menit sejak kepulangan Yerin.

“Apalagi. ‘sih? Sudah sana pergi?!!” salahkan dia yang kembali disaat emosi Sehun belum turun sepenuhnya.

“Ummm…. Sehun?” Sehun yang merasa terpanggil menghentikan aktifitasnya. Dia bukan Yerin. Dia hapal betul siapa pemilik suara lembut yang memanggil namanya ini. Obat candunya. Dengan gerakkan slow-motion, dia mengangkat kepalanya. Lalu mengerjap menatap sosok yang tadi hadir dalam mimpinya sekarang berdiri mematung didepan pintu.

“Boleh aku masuk?” Sehun tidak bicara. Dia hanya mengangguk kalap sambil menarik kursi semakin dekat ke samping ranjangnya. Menepuk-nepuk kursi itu dan membiarkan Mirin duduk diatasnya.

Canggung. Tidak ada yang bicara setelah Mirin berhasil mendaratkan pantatnya disana. Keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing. Dengan kepala tertunduk dan mata yang bergerak liar.

“Kau sendirian?” Mirin mendongak. Menatap wajah bengkak-bengkak Sehun yang sekarang menatapnya penuh tanya. Lalu mengangguk sebelum terhipnotis lebih jauh oleh mata legam Sehun.

“Ji Ae kemana?” dalam hati, Sehun menyemangati dirinya sendiri. Berusaha mencari topik agar suasana tidak awkward. Menyingkirkan pertanyaan yang menghasilkan jawaban ‘iya’ dan ‘tidak’ karena Sehun ingin mendengar suara Mirin dan percakapan mereka berlangsung panjang.

“Dia… baru sadar setelah pingsan,” Sehun mengangguk mengerti. Nah sekarang dia yang menngangguk. Membuat suasana hening lagi dengan debar jantung masih-masing yang menggila.

“I…itu.. apa masih sakit?” akhirnya. Sehun bisa melihat mata coklat itu menatap lurus matanya. Nyata. Tidak seperti sebelumnya yang hanya dalam mimpi. Dia mengikuti arah telunjuk Mirin. Yang ternyata menunjuk luka di ujung bibir Sehun.

“Oh… ini. Tidak sakit kok. Wajahku ini kan sekuat topeng nya Iron Man. Hahahaha…” Aduh.. Sehun bodoh. Leluconnya garing. Dia segera menggigit bibirnya menyadari kebodohannya yang melontarkan lelucon tak bemutu yang untungnya dihargai Mirin dengan senyuman malu-malu.

Dan Mirin. Dalam hati dia juga mengutuk dirinya karena bakat cerewetnya mengapung entah kemana begitu dihadapkan dengan Sehun. Dia memutar matanya. Mencari topik. Mencari alasan untuk diam ditempat lebih lama. Sampai akhirnya dia melirik nampan berisi makanan yang masih utuh di meja samping ranjang Sehun.

“Belum makan?” Sehun menggeleng dengan wajah polosnya yang minta dimakan.

 

Mengerucutkan bibirnya. Memandang kesal Sehun, dia menarik nampan itu sehingga sekarang, posisi nampan itu berpindah ke pangkuannya.

“Kenapa hobi sekali ‘sih bikin khawatir. Tadi pingsan, sekarang tidak mau makan. Sudah tahu muka hancur begini. jangan tambah-tambah penyakit lagi karena telat makan. Sini Aaaaa…. Buka mulutmu,”

Hening. Tangan Mirin yang menggenggam sendok terangkat didepan wajah Sehun.

Mirin kaget karena refleks dia melakukannya. Dia tanpa sadar bilang khawatir tadi. Sesuatu di kepalanya bilang ini salah. Seharusnya dia hanya memastikan keadaan hatinya. Tapi dia tidak bisa menampik kalau dia menikmati debaran jantungnya sendiri saat Sehun menerima suapan darinya.

Dan Sehun, dia kaget lagi karena tiba-tiba perasaan hangat mengalir memenuhi rongga dadanya. Hatinya terbagi dua. Antara harus meninggalkan Mirin atau kembali mengejar Mirin. Ingin melindungi Mirin. Tapi juga ingin menempatkan Mirin disampingnya.

Dia menyambut setiap sendok itu dengan senyuman. Menikmati setiap suapan Mirin dan wajah manis Mirin yang memerah didepannya.

 

Untuk saat ini, biarkan kata ‘benar’ dan ‘salah’ itu menari-nari dikepala mereka. Karena hati mereka bilang ingin begini untuk sementara.

 

 

 

 

 

-to be continue-

 

p.s :hola apa kabar? Ada yang udah bangun jam segini? Atau ini masih terlalu awal buat bangun? Wkwkwk

akhirnya setelah nyicil seminggu ini, dapet juga chapter 9… waw.. agak kaget karena aku bisa nulis sepanjang ini wkwkwk..

sekian dari Keyo. Dan oh iya.. gatau penting atau engga, tapi aku ingin nunjukkin foto Ji Ae si pahlawan darah tinggi versi aku karena dia banyak partnya tapi ga nongol di poster /di geplak Ji Ae

Ji Ae.jpg

 

nah sekian dari keyo /beneran sekarang mah.. ditunggu like dan komennya ^^…

kecup manis dari keyo….

 

 

XOXO ❤

 

55 tanggapan untuk “SILHOUETTE | 9”

  1. Kadang yg ‘salah’ emang suka bikin nyaman dan lupa daratan kok :”
    Terus mirin sama siapa nantinyaa? Kadang di chapter sebelumnya lebih milih mirin-luhan. Dan kadang berubah jadi mirin-sehun. Suka sama duaduanya. Sama siapapun mirin. Jadi aku pasrahkan saja mirin berakhir dengan siapa. Aku terima kookkk hahahahah.
    Ditunggu kelanjutannya aja deehhhh. Semangaatttt!!
    -XOXO-

  2. keyooo…/tereak histeris/ tau gak siiih aq perjuangan banget mau baca ini… 😦 gegara sinyal dirumah jelek banget!!

    ff mu.. benar” membuatku bingung mau nyipper-in siapaa..
    oya? aq udah baca yg 8 blum ya?? hehe aq lupa, aq mau liat yg 8 dluuu..
    bye keyooo..

    next next aq tungguu!!

    1. apaaaaa? /teriak make toa
      udah macam pahlwan aja ya?wkwkwk
      shipperin lu-key atau hun-key aja saran keyo mah hahahahh
      bye kaito!! makasih yaa udah mampir :3

  3. Lg enak2nya baca tbtb ada kata ‘tbc’ itu rasanya hhmmmmmm😥😥
    Aduh balikan nih..aku ksian sm luhan sih,pdhl udh nemenin mirin pas lg jatuh,tp mirin milihnya sehun😢ku ingin menangos😢😢
    Next keyoo gpl yaa..fighting💪💪

    1. wahh sayangnya aku update lagi lama nih wkwkwkk maaf ya…
      jangan menangis… aku ga disana. nanti yang hapus airmata kamu siapa? /apasi
      makasih udah mampir :
      )

  4. Mirin benar-benar gadis labil -,- pilih dong mbak salah satunya 😀 aku bingung nyipper siapa ini 😀 tapi kak Keyo Sehun sama Mirin balikan aja yaa 😀

  5. Nah kalo kaya gini kan aku bisa senyum” gaje makasih yaahh keyo uda penuhi permintaan moment sehun sm mirin kembali ahaayy wkwkwk itu si mak lampir yerin bisa di matiin ae gk ganggu bgt tuh hama hahahahha 😂😂😂 tp agak was was nih sm jwbn mirin nnti mau dibikin kaya gmn sm keyo kn keyo orgnya susah ditebak hahahah 😁😁 next deh gk mau banyak koment 😉😉😉

    1. terima kasih kembali karena udah bersedia baca wkwkwk..
      kalau hama mending disemprot b*ygon sekalian wkwkwk..
      awwww masa sih aku susah ditebak? wkwkwk
      okayy.. makasih ya.. selamat nunggu 🙂

  6. ”Semakin membuat Sehun sadar keputusannya menarik nama Yerin adalah kesalahan besar.” Yah itumah ksalahan besar, besaarrrr banget malah. Dasar sehun..ckckck

    Duhh kakk buat sehun and mirin balikan lg dong yayaya/ pasanga egyeo/ dgeplak ✌
    Itu luhan kmana kok gx ada

    Eohhh ji ae neomu yeoppo
    Next kakk dtunggu klanjutnnya,
    Keyoo eonnie fighting

    1. KAK KEYO COMEBACK 🙂

      Balikan dong kak, masa enggak sihh#kedipkedip/kelilipankak (?).wkwkwk

      Luhan dsana sma kak keyo?, berarti Sehun oppa disini lg duduk sama aku kak/sama”dgeplakk..HIHIHI^^V

      Yess.,
      Oke kak aku tungguin kok^^

  7. ini si yerin kenapa jadi nenek lampir gitu sih, jahat banget, gemes liatinnya,
    dan mirin sedang bimbang di antara dua pilihan, sehun atau luhan, pilihan yang sulit sepertinya,

  8. semua pada pengen sehun sama mirin balikan. tapi kok aku tetep pengen mirin biar sama luhan ajaa yaa 😀
    kayaknya dia gak bakal sakit hati gitu kalo sama Luhan. Kalo sama Sehun kayak makan ati mulu. tapi sama siapa ajaa nanti bakal tetep ngedukung kok kak 🙂
    Semangat!! ditunggu kelanjutannya yaa

  9. Dalam hati pengen Mirin sama Sehun aja tapii otak bilang Mirin sama Luhan aja.. Aduh kok aku yang dilema sih:( wkwkw..
    Feelnya dapat banget:)
    Jadi penasaran Luhan ada dimana dan bagaimana keadaannya..

  10. AAA!! chapter ini bener bener bikin baperr dsini
    feelnya dapettt uda gitu panjang lagi thankss ya kak!!
    Moment sehun-mirin dlunya romantis bgt yah kak aku suka dg mereka berdua dsini kyanya chapter ini khusus mereka ber2 aja aku suka sangaattt wkwk
    Udaahh daripada ribet mending sehun-mirin balikan aja yaa? *Maksabgt* jadi kasian ama luhan huhuhu
    Btw aku suka sma jiae dianya cantikk ^^
    Ditunggu kelanjutannya semangat kaak!!

  11. Udah balikan aja Sehun mirin… masalah yerin tenang biar vivi yang hadapi 👍 suka banget pas momen HunRin and di part ini gak ada luhan… btw biarkan luhan punya pacar dong terus pacarnya dateng dari Cina wkwk 😂😂😂 #ditabokembul… Mirin harus milih biarin mirin milih sehun luhannya biat aku #digigitembil.. 😝
    Oke keep writing and fighting keyo… 🙌🙌🙌💪

  12. Sehun-mirin moment ‘dulu’ nya manis2 bgt yaa :”D
    Kadang sayang bgt kalo mereka sampe putus cm garagara ego :s
    Mana sekarang ada yerin sama luhan :/ yerinya jahat, luhanya baik bgt hadeuhhh

    Ini panjang eonn… Like it!! hehehe
    Nextnya ditunggu eonn key~

  13. Chap ini seru bingo ka, baper cuyyy 😂
    Mirin~sehun malu-malu kucing nih mau mau ga ga, wkwk.. udh balikkan aja, itu si yerin musnahkan ae lah ..
    Ji Ae cantik bgt 😍

    Next ka! Fighting

  14. Baper kak baper😭😭!!! Feelnya dapet sampe bikin baper…Eittt ada yang ngode nih!!! Pengenya Mirin balik lagi ke Sehun*terus berbaper ria.
    Itu pengganggu jangan di tenggelamkan dulu biar lebih seru.
    Btw Ji Ae cantik sangat sama kayak karakter di sinu

    1. loh jangan? padahal si Yerin udah siap aku lempar ke jurang /gak deng
      kata ji Ae makasih.. authornya cantik ga nih? #abaikan
      makasih udah mampir 🙂

  15. Yakk luhannya kemana? Yixing bawa luhan kemana? Ayolah jangan buat luhan menghilang, buat mirin dan luhan berssatu.. Biarkan sehun dengan yang lain, tapi jangan sama yerin.. Mana rela sehun disatuin sama nenek sihirr haha :v

  16. Miriinn sehun balikan aja laaahhh, udah cocok sama sehuunn. Kereeen aku suka ceritanyaa, feel nya dapet banget heuu>< anw ji ae nya cantiiikkk ditunggu next chapnya ya eoonn!!

    1. awww sukur deh kalaau suka ><
      kata Ji Ae makasih :3 tapi author lebih cantik loh /ditampar rame-rame

      okayy makasih udah mampir…selamat nunggu 🙂

  17. Udah Mirin-Sehun balikkan aja… senang ada moment Sehun-Mirin disini 😀
    Dan Yerin tolong ditenggelamkan–”
    Greget bgt sama dia :3
    Btw Ji Ae nya cantik*-*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s