[EXOFFI FREELANCE] Hi, The One Chapter 2

hi-the-one

a fanfic by drixya

HI, THE ONE

with Allena Wu (OC), Oh Sehun and find by yourself.

Genre(s) : Romance, Friendship, Hurt || Rating : PG-15 || Length : Chaptered || Warning! Work in progress.

I own nothing, but storyline and OC. Beautiful poster credits to Xyoblue.

Prev : [1] Do You Miss Me?

Piece 2 : When something has changed, have you been ready?

E—X—O

“Sehun, sebentar lagi Seungwan akan ke sini.” Allena memberi tahu seraya berusaha melepaskan tangan Sehun yang melingkari pinggangnya. Namun Sehun urung menuruti, justru semakin erat merengkuhnya, seolah enggan kehilangan Allena barang sedetik.

“Bagaimana kalau kau menghilang lagi setelah aku melepaskanmu?” Tanya Sehun. Dagunya ia tumpukan pada perpotongan bahu Allena. Keduanya tengah duduk di sofa panjang apartement Sehun, omong-omong. Dengan posisi yang sudah digambarkan sebelumnya, Sehun memeluk pinggang Allena dari samping sambil memandangi ukiran wajah Allena dari bahu si gadis.

Dan jika kalian tanyakan bagaimana keadaan Allena, ia gugup bukan main. Pasalnya dua tahun tak bertemu sedikit banyak membuat Allena merasa canggung melakukan skin-ship dengan sahabatnya, Sehun. Walau dulu, semasa SMA, itu bukan hal aneh bagi mereka. Hanya Sehun yang sepertinya masih menganggap ‘biasa’ kebiasaan lama itu.

“Kau pikir aku hantu bisa menghilang begitu saja?” Balas Allena, tanpa menoleh. Enggan bertemu tatap dengan manik kelam Sehun yang tengah memandanginya dengan intens.

“Bagaimana aku bisa percaya kalau kau bukan hantu jika dulu saja kau bisa pergi tanpa kabar atau sekedar mengucapkan ‘selamat tinggal’ padaku? Aku malah berpikir, kau lebih menyeramkan dari hantu, Alle.” Ungkap Sehun. Menimbulkan kembali perasaan bersalah dalam hati Allena. Salahnya memang pergi lalu menghilang tanpa sepatah kata, kecuali kenangan yang ia tinggalkan.

Allena menoleh ke kanan, memaksa netranya bersirobok dengan milik Sehun. “Maaf.” Satu kata itu akhirnya meluncur dari pita suara Allena. Membawa kembali sunyi. Membiarkan indra penglihat mengambil alih dominasi. Sehun bisa melihat bagaimana penyesalan tergambar dalam manik Allena. Amarah, kekecawaan seakan menguap begitu saja karenanya. Sehun tahu, Allena adalah kekuatan sekaligus kelemahan baginya. Yang membuatnya tak kuasa ‘tuk tak luluh pada gadis Wu tersebut.

“Aku mau memaafkanmu dengan satu syarat.”

Allena mengerjap. Firasatnya tidak enak karena senyum misterius yang Sehun tunjukkan. Dengan ragu Allena bertanya, “apa syaratnya?”

Bukan patah kata yang Allena terima sebagai jawaban. Melainkan sentuhan halus bibir Sehun pada miliknya. Allena terpaku. Ini memang bukan yang pertama baginya dengan Sehun. Namun bagaimana Sehun memagut bibirnya dengan lembut seolah menuntun Allena perlahan meninggalkan pijakkannya. Melayang sampai tempat yang Allena lihat sekelilingnya hanya ada putih.

“Bisakah kalian melakukannya nanti?” Sampai suara tersebut menarik kembali kesadaran Allena. Ia sontak mendorong tubuh Sehun menjauh sampai kepalanya terantuk kayu sofa. Allena buru-buru menyeka bibirnya yang sedikit lebih lembab karena ulah Sehun.

“Ha-halo, Seungwan. Sejak kapan kau disini?” Sapa Allena, tergagap karena suasana canggung.

“Sejak kalian terlihat seperti pasangan yang lupa daratan.” Jujur Seungwan bersamaan dengan senyum jahilnya. Pipi Allena semakin merah karena malu. Berbeda dengan Sehun yang tengah mengeluh kepalanya sakit karena terantuk tadi. Ia lemparkan pandangan kesal pada Seungwan.

“Ck, mengganggu saja. Bagaimana kau bisa masuk ke apartementku, sih?”

Seungwan mengedikkan dahunya ke pintu utama. “Kau tidak menutup pintunya dengan rapat, bodoh. Untung saja yang memergoki kalian aku bukan orang lain, apalagi Kris Ge. Seharusnya kau berterima kasih padaku tahu!”

Bola mata Sehun memutar malas, enggan menanggapi seruan protes Seunghwan.

“OH! ALLENA! Kau benar-benar datang?! Ya ampun, aku benar-benar merindukanmu!”

Ketiga pasang mata tersebut teralih pada sesosok pemuda yang baru saja masuk dengan seruannya yang memenuhi ruangan. Allena sontak tersenyum lebar melihat tamu tersebut. Lantas berdiri dan menghambur ke pelukannya. Tapi tak bertahan lama karena deheman keras Sehun membuat si pemuda terpaksa melepaskan pelukan rindu mereka.

“Dia itu kenapa sih, Allena? Sok possesif sekali padamu. Kekasihmu saja bukan.”

“Aku juga tidak mengerti, Taehyung. Ku pikir setelah dua tahun ku tinggal dia akan jadi lebih dewasa. Tapi tetap saja, dia kekanakkan.” Tutur Allena. Diakhiri dengan tawa. Taehyung turut tertawa, lebih tepatnya tertawa mengejek Sehun yang disebut ‘kekanakkan’ oleh Allena.

Jika tak ada Taehyung ataupun Seunghwan di situ, Sehun sudah pasti akan merajuk pada Allena seperti dulu. Namun demi menjaga harga diri terlebih di depan wajah menyebalkan Kim Taehyung, Sehun hanya bisa berdecak kesal atau memelototi Taehyung.

“Sudah cukup tertawanya, Taehyung. Allena harus ikut aku untuk istirahat.” Ujar Seungwan, serta merta menarik koper milik Allena di sisi sofa sementara satu tangannya lagi mengapit lengan Allena.

Ya! Mau kau bawa ke mana Allena-ku?!” Pupil Sehun melebar ketika Seungwan mulai membawa Allena menjauh. Geraknya secara reflek bangkit dari duduk lalu menahan lengan Allena yang bebas dari Seungwan. Sedang Taehyung… Tolong jangan tanyakan secara detail apa yang ia lakukan. Sebab ia sedang sibuk ‘menggali harta karun’ sambil menonton adegan drama di hadapannya.

“Sehun, aku tinggal bersama Seungwan mulai sekarang. Tidak masalahkan kalau aku pergi dulu? Tenang saja, besok kita bisa bertemu lagi.” Jelas Allena, mengerti kekhawatiran Sehun. Jika Allena sudah berkata seperti itu, Sehun bisa apa? Yang ia lakukan hanya mengangguk patuh tanpa melepaskan ekspresi kecewa di wajahnya.

Allena menganggap tingkah Sehun ini lucu, ia mengusap pipi Sehun lalu menciumnya sekilas sebelum melambaikan tangan tanda perpisahan sementara dan mengikuti langkah Seungwan.

“Nah, Sehun, sekarang giliran kita yang pergi dari sini. Ada sesuatu yang kau tinggalkan di kampus.”

***

Ketika Taehyung bilang ‘ada yang kau tinggalkan di kampus’, Sehun kira dua gulung rancangannya yang memang ia lupakan sewaktu menduga Allena-lah yang ‘menyusup’ ke apartementnya. Sehun tidak menduga bahwa ada hal lain yang Taehyung maksud dibalik kalimatnya tersebut.

Salah satu murid dengan prestasi baik di kampus ini adalah dirinya. Jadi, Sehun yakin ia memiliki ingatan yang kuat. Dan seingatnya, ia tidak memiliki janji pada siapapun atau gadis manapun saat ini. Tapi gadis dihadapannya bersikeras bahwa Sehun sudah mengiyakan ajakannya untuk bertemu sekarang.

“Taehyung yang bilang sendiri padaku.”

Sehun menggeram dalam hati. Menebak bahwa pasti Taehyung kembali ‘menjual’ nama ‘Oh Sehun’ pada gadis-gadis. Sepertinya pemuda Kim itu perlu Sehun peringatkan lagi. “Baiklah. Apa yang kau inginkan?” Tanya Sehun tanpa basa-basi lantaran tak mau membuang waktu demi mengunjungi rumah Seungwan. Untuk bertemu Allena disana, tentunya.

“Aku menginginkanmu.” Jawab si gadis. Kalimatnya tersebut sontak memancing sebuah seringaian perlahan terbentuk di wajah rupawan Sehun. “Memang apa yang kau maksud dengan ‘menginginkanmu’, hm?” Satu alis Sehun terangkat.

Melihat reaksi Sehun, si gadis menganggapnya sebagai pertanda positif. Ia lantas dengan penuh percaya diri berjalan mendekati Sehun. Sejurus kemudian mengalungkan lengannya dileher Sehun dan berbisik, “aku ingin kau jadi kekasihku.”

Tatapan menggoda yang sebelumnya Sehun layangkan sirna seketika. Digantikan oleh ekspresi datarnya yang dingin. Si gadis yang menyadari perubahan itu terheran-heran, apalagi di detik berikutnya Sehun melepaskan lengannya lalu mendorong pundaknya beberapa langkah guna memberi jarak diantara mereka.

“Tidak.” Hanya satu kata itu yang Sehun ucapkan. Namun mampu melukis raut kecewa pada rupa si gadis.”Kenapa?” Satu tanya lolos dari bibir gadis bersurai panjang.

Masih dengan ekspresi datar andalannya, Sehun menjawab, “kau dan gadis-gadis lain tahu jawabannya.” Cukup itu untuk membuat si gadis bungkam. Ya, hampir semua gadis di kampus tahu Sehun hanya menerima ajakan kencan, tidak lebih.

Karena tak mendapat respon apapun, Sehun berbalik dan melangkah pergi tanpa peduli gadis itu menyerukan namanya berkali-kali. Mungkin menurut Sehun, masalah selesai setelah ia mengatakan ‘tidak’ dengan jelas. Tapi tidak bagi gadis tersebut. Menerima penolakan seorang Oh Sehun secara langsung tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya, bahkan mimpinya.

Tangannya terkepal, arah pandangnya tak lepas dari punggung Sehun yang menjauh.

“Aku tidak sama seperti mereka, Oh Sehun.”

***

Seungwan berjalan menuju salah satu kamar sambil membawa sebuah nampan dengan dua cangkir kopi dan dua roti selai cokelat di atasnya. Begitu tiba di dalam, ia meletakkannya di permukaan meja di sudut kamar. Lantas duduk di atas kasur sembari memperhatikan Allena yang tengah sibuk memindahkan pakaian dari koper ke dalam lemari.

Sudut bibir Seunghwan tertarik ke atas melihat bagaimana Allena tampak begitu serius nan telaten merapihkan isi lemari itu. Allena banyak berubah, Seungwan bisa merasakannya. Tentu ke arah yang baik. Seungwan ingat, sewaktu SMA, Allena benar-benar tipikal gadis urakan. Tidak suka pakai dasi, benci memakai rok—kecuali sekolah karena wajib—, hobi memasang banyak pin di jas dan tas, berseluncur dengan skateboard di sepanjang koridor dan membuat keributan bersama Taehyung. Kurang lebih, begitulah gambaran seorang Wu Allena ketika SMA.

Tapi lihat sekarang. Gadis keturunan Tionghoa tersebut sungguh terlihat seperti perempuan pada umumnya. Dengan gaun biru selutut dan flat shoes berwarna senada yang ia kenakan, Allena tak lagi memegang title ‘urakan’. Belum lagi sikapnya yang tak sekasar dulu. Seungwan jadi terpikir, apa Sehun menyadarinya?

“Apa aku sangat cantik sampai membuatmu terpesona begitu?”

Seungwan terbangun dari lamunannya ketika suara Allena menyapa. Si gadis Wu sudah selesai merapihkan pakaian rupanya. “Aku masih normal, tahu. Hanya baru sadar saja kalau kau terlihat berbeda sekarang.” Ujar Seungwan sambil menumpukan dagu ke kepalan tangannya. Allena ikut-ikutan memperhatikan dress yang ia kenakan.

“Ada yang aneh?” Tanya Allena.

Seungwan menggeleng. “Bukan gaunnya yang aneh, tapi kau. Sejak kapan ulat jelek yang tidak bisa diam sepertimu bermetafora jadi kupu-kupu cantik?”

Allena menghela napas tanpa sadar. “Ini berkat Kris Ge. Dua tahun belakangan, dia memintaku untuk merubah diri sebagai syarat kalau aku mau kembali ke Korea.” Maniknya kosong, terbayang masa-masa ketika ia di Cina. Ketika ia berusaha sekuat hati merubah kepribadiannya sendiri hingga menjadi dirinya yang sekarang.

“Oh, ya, aku juga jadi penasaran kenapa keluargamu kembali ke Cina secara mendadak begitu? Sehun sampai jadi gila karena kau menghilang.” Ungkap Seunghwan.

“Gila? Apa maksudmu dengan ‘jadi gila’?” Manik Allena memancarkan rasa penasaran bercampur khawatir.

“Bisa dibilang dia frustasi, Alle. Setelah dia dapat kabar kalau kau dan keluargamu sudah pindah ke Cina dan dia tidak bisa menghubungimu, dia berlarian ke sekeliling distrik sambil menyerukan namamu tanpa henti. Untung Luhan Oppa bisa membujuknya agar mau pulang. Tapi kemudian, hal yang lebih buruk terjadi.” Seunghwan memberi jeda sesaat.

“Sehun mengurung diri selama seminggu di kamar, tanpa makan. Kau tahu kan di kamarnya ada kulkas berisi banyak botol air? Nah, sepertinya hanya itu yang ia minum. Baru setelah Luhan Oppa dan Taehyung berhasil mendobrak pintunya, Sehun ditemukan pingsan. Ada beberapa luka bekas sayatan di pergelangan tangannya. Mungkin dia sempat mencoba bunuh diri. Selama di rawat di rumah sakit pun, dia tidak mau bicara sama sekali.”

Gadis Son menghentikan kisahnya kala ia lihat manik Allena mulai berkaca-kaca. Seungwan merasa begitu bodoh karena langsung menceritakan semuanya begitu saja tanpa memilah mana yang sebaiknya boleh atau belum boleh Allena tahu. Ia meringis dalam hati, menyalahkan dirinya. Pasti Allena dirundung perasaan bersalah saat ini.

“A-Allena, kau baik-baik saja? Oh, maafkan aku. Tidak seharusnya aku langsung menceritakannya padamu.” Sesal Seungwan. Kepala Allena menggeleng, lantas menghapus kasar jejak basah di wajahnya dengan punggung tangan.

“Kau tidak salah, Seungwan. Justru aku berterimakasih karena jika kau tidak memberitahuku, mungkin aku akan menganggap semuanya ‘baik-baik saja’ tanpa tahu rasa sakit yang Sehun alami akibat ulahku. Aku akan lebih marah pada diriku sendiri kalau aku mengetahuinya di saat akhir.” Allena tersenyum sebagai penutup, berharap dengan kalimat serta sebingkai senyumnya dapat membuat Seungwan mengerti jika yang dilakukannya bukan suatu kesalahan.

Seungwan menangkap maksud karibnya tersebut. Sebenarnya, masih ada hal lain yang ingin ia beritahukan pada Allena. Dan sekarang Seungwan berdiri diantara kebimbangan, haruskan ia memberitahunya pada Allena atau di lain waktu saja. Kendati Allena telah meyakinkannya bahwa ia tidak salah dengan mengungkap kebenaran, air mata yang sempat mengalir lembut di wajah Allena membuatnya meragu.

“Kau melamun ya?” Suara Allena menarik kembali fokus Seungwan.

Ia tertawa, grogi, lantas berujar, “tidak, kok. Sudah lapar belum? Aku sudah siapkan roti bakar, lho.” Seungwan mengambil nampan yang ia bawa tadi. Meletakkannya di permukaan kasur, diantara dirinya dan sang sahabat.

“Melihat roti ini aku jadi baru ingat belum makan sejak sampai di Korea.” Aku Allena sebelum melahap seperempat bagian rotinya.

“Itu karena si Oh Sehun terlalu sibuk ‘memakanmu’ sampai lupa kalau kau baru tiba di Korea dan belum makan.” Gadis Son berseloroh. Nyaris membuat Allena menyemburkan roti dari mulutnya. Sebagai ganti, Allena terbatuk sampai Seungwan buru-buru menyodorkan cangkir kopi padanya.

Ya! Jangan mengatakan hal aneh seperti itu!” Seru Allena.

“Itu kenyataannya, kan? Tuh, lihat wajahmu saja sudah memerah.” Bukannya berhenti, Seungwan semakin senang menggoda Allena. Membuat si gadis Tionghoa tak mampu membalas. Sial, kenapa sekarang wajahnya mudah sekali memerah hanya karena seseorang menyebut nama ‘Oh Sehun’?

“Tapi, Alle, jangan kaget ya kalau tahu Sehun yang sekarang.” Kalimat itu Seungwan utarakan dengan nada guyonan, bermaksud agar Allena tak terlalu memikirkannya. Dan sepertinya cara itu berhasil, sebab Allena hanya menanggapi dengan decakan dan seulas kalimat. “Sehun itu masih sama manjanya dengan dulu, Seungwan.”

Setidaknya, Allena masih menganggap Sehun sepersis dua tahun lalu.

***

Hari berganti. Di kampus, setelah selesai mengurus sisa berkas sebagai mahasiswi pindahan, Allena berjalan di salah satu koridor. Sesekali lehernya menoleh ke kanan atau kiri, mencari ruangan yang Taehyung maksud. Tidak, ia tidak mencari sahabatnya yang satu itu. Melainkan mencari Oh Sehun, dan Taehyung-lah—yang berpapasan dengannnya di depan ruang administrasi—yang memberitahu keberadaan Sehun.

Allena belum memiliki nomor handphone Sehun kalau kalian ingin tahu. Kemarin, ia tidak ingat untuk memintanya langsung pada Sehun atau Seungwan. Pun saat berpapasan dengan Taehyung tadi, pemuda Kim itu tengah terburu-buru.

Butuh waktu sedikit lebih lama bagi Allena untuk menemukan ruang kelas dimana Sehun berada, mengingat ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di universitas tersebut. Allena sudah akan mendorong pintu ruangannya agar terbuka kala rungunya tak sengaja menangkap suara percakapan dari dalam.

“Tapi, Sehun… Ku mohon, kali ini saja. Aku janji ini yang terakhir.”

Gadis Wu sungguh berniat menjauh kalau saja nama ‘Sehun’ dan nada memohon itu tak terdengar olehnya.

“Tidak.” Sehun menjawab singkat. Untuk sebuah alasan, Allena tersenyum. Ia ingat, semasa SMA, Sehun pun begitu ketika tengah merajuk padanya. Menyahuti kalimat Allena hanya dengan sepatah kata.

“Ta-Tapi… Sehun, ku mohon..”

Senyum Allena perlahan luntur. Isakan tangis gadis yang tengah berbicara pada Sehun mengundang tanya dalam benak Allena. Kenapa gadis itu menangis?

“Berhenti memohon sambil menangis dihadapanku. Kau menyedihkan.”

Deg. Allena terpaku. Belum pernah Allena mendengar kalimat kejam dengan suara dingin terucap oleh seorang Oh Sehun.

“Kau dan mereka tidak ada artinya. Jadi, pergilah dan jangan sampai aku melihat wajahmu lagi.”

Secara reflek, Allena membekap mulutnya sendiri. Terlalu tidak menyangka atas apa yang telah didengarnya. Langkahnya tertarik mundur bersamaan dengan kepalanya yang menggeleng ribut. Mencoba menepis segala pikiran negatif tentang Oh Sehun yang mulai menggerogoti pikirannya.

I-Itu bukan Sehun, kan?

To be continued…

Chit-chat!

Ho-halo~ Gimana? Pertanyaan kalian ada yang udah terjawab belum di chapter ini?

Sehun-Allena belum pacaran ya, mereka dari jaman SMA masih sahabatan aja tapi ya emang kayak semacam TTM-an. Soalnya Sehun pacarannya sama aku, wkwk. /dikroyokinsehunstan/ Kalo respon di chapter ini lebih bagus, insya allah minggu depan aku bakal kirim ff-nya dua chapter sekaligus. Tapi kalo responnya bagus ya, hehe.

Last, wish y’all enjoy this fanfic. Thankseu! ^^

Mind to leave comment?

34 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Hi, The One Chapter 2”

  1. ohh jado sehun-allena itu ttm-an yaa, tapi mrk sama-sama suka? pasti allena kaget banget deh sama perubahan sifat sehun yang terlalu drastis. knp dia cuman.nerima ajakan kencan doang? apa karna allena?

  2. Hun… Hun… jadi cowok kok yak ‘lemah’ … mengingatkanku pada seseorang #upss #dilemparkyungsoo … well, jangan2 karena Kris gak setuju lagi alle sm sehun, ampe diboyong pulang ke china gitu,… #apasihspekulasigakjelas hahahaha
    smgt melanjutkanlah yaaaa^^

  3. sehun berubah gara2 allena
    iya la berubah ditinggal gak ada kabar gitu ,,,
    ehh ngomong apa sih aku ini … bingung
    next chap kak ,.,.

  4. Jadi mereka sahabatan rasa pacaran? Pada pake perasaan? Tapi ga ada status? Dan bisa bikin sehun sampe frustasi segitu hebatnya? Atuh lah kenapa ga diajak pacaran aja hun dari jaman SMA. Mungkin akan beda hasilnya kalo mereka udah pacaran? /sotau/ /dilempar dolar sama authornya/ hahahah.
    Duh tau banget itu gimana nyeseknya jadi allena pas denger sehun begitu. Mb allena yg sabar aja yaa. Harus denger dulu penjelasan sehun. Atau mungkin kudu banget nanya sama seunghwan. Minta kejelasan ttg sehun.
    Kudu dilanjut pokoknyaaaa. Aku tungguin!! Hehehehe. Semangaaatttttt!!!
    -XOXO-

    1. Njir ‘sahabatan rasa pacaran’, kata2 kamu ini malah bikin aku baper wkwk :’v
      Mereka punya alasan knapa ga pacaran /sokmisterius/
      Pasti ku lanjut! 😉
      Makasih ya udh komen~ ^^

  5. Sehun berubah gara gara ditinggal alle…
    Ya iyalah hahaha aku ngomong apa sih ini…
    Pokoknya aku nunggu kelanjutanya soalnya aku gak tau mau coment apa lagi hahahha

  6. sehun berubah semenjak kepergian allena,, dia jadi badboy, sedih deh lihat betapa terpuruknya dia dulu wktu ditinggal allena….
    tapi allena jg salah sih, knp juga gk kasih kabar sama sekali? pdhl kn dia bisa mngabari sehun wktu dchina dulu 😥
    moga allena bisa mngembalikan sehun seperti semula….
    dan moga allena gk mmbenci sehun 🙂

  7. Waahh,,gak nyangka ternyata sehun sama allena gk pacaran…

    Sehun sifatnya jadi berubah semenjak pisah sama allena yaa..???
    Jadi dingin dan kejam gitu..???

    Ditunggu kelanjutannya thor… 🙂

    1. Mereka baru sahabatan, tpi udah mesra kan? hehe

      Bukan pisah sih, tapi Allena yg ninggalin /kejam/

      Sip deh! Makasih ya udh komen~ ^^

  8. Sehun berubah jd player gitu eonn? Trus dia jadi dingin gitu?
    Allena nya ga nyangka ya sehun jd kaya gitu?
    Tp sehun lebih milih allena kan?? :s

    Wohhs penasaran bgt gimana reaksinya sehun kalo allena udah tau dia kaya apa
    Cpt di next ya eonn XD

    1. Iya, Sehunnya jadi begitu 😦
      But nanti masih akan ada org ketiga yg lain. Moga aja mereka bersatu ya~ /lah

      Sip deh! Makasih ya udh komen~ ^^

  9. Eeiii sehun main nyosor aja sma allena..wkwkwk
    Aduh kak gx tau knapa tdi pas seunghwan cerita ke allena pas sehun itu, tanpa dkomando air mataku jatuh sendiri..hiks
    “Sebenarnya, masih ada hal lain yang ingin ia beritahukan pada Allena. Dan sekarang Seungwan berdiri diantara kebimbangan,” emg apa yg mau dkatakannya??

    Apa jgn” klo sehun yg sekarang berbeda dengan dulu?, yg diliay allena itu
    Aku jdi pnasaran sma klanjutanya kak, nanti sehun tau gx ya klo allena denger yg d ktakan sehun barusan?

    Next kak dtunggu loh ya^^

    1. Udah kayak soang ya nyosor2 aja? wkwk XD
      Yah jangan nangis dong, nanti bakal lebih sedih soalnya /spoiler/
      Masih rahasia dong~ Temukan di chapter berikutnya hohoho
      Makasih ya udah komen~ ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s