[EXOFFI FREELANCE] You are My Lantern (Chapter 9)

you are my lantern2

Title         : You are My Lantern Chapter 9

Author    : Galaxy Fan (@SalzaaFernindaa)

Length     : Chaptered

Genre        : Romance, Hurt, Sad, School Life, Friendship

Rating     : PG – 17

Main Cast     : Luhan (EXO-M)  Sohee (OC) Jong In (OC) and more other cast

Disclaimer     : Alo. Annyeong chingu. Lagi baca-baca FF ya. Uluh serius amat. Ini nih aku buat FF baru lagi. Selama ini aku belum pernah bikin FF pake main cast Luhan, eh tiba-tiba aja kepikiran bikin FF ini. Selamat membaca ^_^

Chapter 9

.

.

.

Gerbang rumah keluarga Kim terbuka dipagi hari. Sebuah mobil sport putih memasuki pekrangan rumah tersebut. Para penjaga yang bekerja dirumah itu segera membukakan pintu rumah dan menyambut kedatangan seseorang didalamnya.

Luhan keluar dari dalam mobil sport miliknya dan segera membukakan pintu untuk gadis yang sedang ia antar.

“Oppa bantu aku.” Ucap Sohee manja.

“Kajja.” Luhan langsung menggendong bridal gadisnya keluar dari mobilnya.

“Hya oppa, kenapa kau malah menggendongku. Aku ingin kau membantuku berjalan. Turunkan aku.”

“Shireo.” Luhan tak memperdulikan ocehan Sohee dan terus berjalan menuju kamar Sohee dilantai dua. Luhan tak merasa kesulitan menggendong tubuh Sohee sampai dilantai dua melalui tangga.

Sampai didalam kamar beraroma cherry mint, Luhan mendudukkan Sohee diatas tempat tidurnya dengan pelan. Sohee tersenyum melihat apa yang Luhan lakukan. Ia merasa beruntung dicintai seorang Xi Luhan.

“Oppa gumawo karena kau mau menemaniku. Jongmal.” Sohee melempar senyumnya pada Luhan.

“Sudah kukatakan, aku akan selalu menemanimu chagi. Apa kau lapar?” Luhan mengusap lembut rambut Sohee.

“Anni. Aku tak ingin makan apapun. Oppa tidak pulang eoh? Sampai kapan oppa meninggalkan rumah?”

“Sampai Jong In pulang. Aku akan menginap disini sesuai permintaan oppamu itu. Kau tau kan Sohee kkamjong itu sangat menyayangimu.” Luhan kini mendudukkan tubuhnya disamping Sohee.

“Ne. Hanya Jong In oppa yang menemaniku selama ini. Eomma dan appa tak peduli sama sekali. Buktinya saat aku kecelakaan mereka tak pulang hanya untuk sekedar menjengukku. Sekarang Jong In oppa harus menyusul mereka. Menyebalkan!” Ucap Sohee sambil menyembunyikan air matanya. Tapi sekeras apapun Sohee menyembunyikannya Luhan pasti tau jika gadisnya sedang bersedih.

“Hya uljima. Kau sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Sohee-ah uljima ne.” Luhan segera merengkuh Sohee dalam dekapannya.

.

.

.

Luhan POV

Kuhempaskan tubuhku diranjang Jong In. Tak bisa dipungkiri aku sangat lelah hari ini. Benar-benar lelah. Tapi tak apa. Demi Sohee aku akan melakukan semuanya yang bisa membuatnya tersenyum bahagia seperti dulu. Aku tak akan lalai menjaganya lagi. Aku tak akan membiarkan air matanya terjatuh lagi.

Drtt… Getaran ponsel membuyarkan lamunanku.

Sohee : Oppa apa kau sudah tidur?

Luhan : Belum. Wae? Kenapa kau belum tidur chagi?

Sohee : Aku tak bisa tidur oppa. Hujan diluar menggangguku. Aku takut.

Luhan : Tidurlah chagi.

Sohee : Arraso. Kau memang tidak peka oppa.

Luhan : Kau ingin aku menemanimu tidur hm?

Sohee : Siapa yang bilang begitu. Lupakan!

Aku terkekeh pelan menerima pesan dari Sohee. Kenapa ia menjadi manja seperti itu. Aku sendiri juga bingung. Mataku tak bisa terpejam memikirkan pesan dari Sohee. Apa iya gadisku itu sedang ketakutan. Segera ku beranjak dari kamar Jong In menuju kamar Sohee yang ada disamping kamar ini.

“Sohee-ah apa kau sudah tidur?” Ucapku namun tak ada sahutan dari pemilik kamar. Kubuka knop pintu Sohee perlahan dan segera kulihat seseorang yang ada didalamnya. Tapi Sohee tak ada diatas ranjangnya. “Sohee-ah eodiso?” Aku mulai panik mencarinya.

Kulihat pintu balkon terbuka. Aku malah tambah panik dan segera berlari menuju balkon dikamar itu. Kulihat gadisku duduk dilantai balkon bersandarkan pagar pembatas dengan keadaan basah kuyup karena air hujan karena balkon itu tak dilindungi kanovi. Hatiku tergetar melihat senyumnya. Bukan senyum kebahagiaan melainkan senyum kesedihan yang ia pendam.

“Sohee apa yang kau lakukan disini eoh? Kau bisa sakit.” Aku segera meringkuhnya dan menggendongnya bridal.

“Oppa aku mau disini dulu.” Ucapnya lirih saat aku mengendongnya. Lihatlah dirimu Sohee kau mengenaskan. Aku tak tega melihatmu seperti ini.

“Tapi kau bisa sakit chagi.” Perlahan tubuhku juga basah karena air hujan. Kulihat Sohee menatapku dengan penuh permohonan.

“Kumohon oppa. Bantu aku berdiri ne. Jebal.”

“Baiklah.” Kuturunkan tubuh Sohee dan menghadapkan tubuhnya kearah taman yang dipenuhi lentera yang masih menyala. Tak lupa aku membantunya berdiri dengan memeluknya dari belakang. Tangan Sohee membantunya dengan bertumpuan dipagar balkon.

“Oppa kau lihat lentera itu. Indah bukan? Aku merasa seperti lentera itu oppa. Aku ingin tetap hidup seperti itu. Meskipun air hujan menguyur sekalipun tertiup angin tapi lentera itu tetap hidup. Meskipun juga mereka hidup ditengah kegelapan. Aku ingin seperti itu oppa.” Ucapnya lirih sambil tersenyum.

“Kau akan menjadi lentera ku Sohee. Aku sangat membutuhkanmu. Aku butuh senyummu seperti dulu. Kau tau senyummu itu ibaratkan acahaya yang menyala pada lentera itu. Tak ada gunanya lentera ada jika cahayanya padam. Senyumlah Sohee.” Aku semakin mengeratkan pelukanku ditubuhnya. Kuusap air hujan yang menetes diwajahnya.

“Benarkah? Meskipun cacat?” Hatiku semakin tergetar mendengar ucapan Sohee barusan. Jujur aku merasa kecewa dan sedih mendengar kata ‘cacat’ dari bibirnya. Aku tak suka melihatnya terbebani dengan kata ‘cacat’.

“Bisahkah kau tak perlu mengatakan hal itu? Sudah berkali-kali kukatakan Sohee. Aku tak pernah terbebani dengan keadaanmu sekarang. Aku akan menjagamu Sohee. Xi Luhan berjanji.”

“Oppa dingin.”

“Kajja kita masuk. Aku tak ingin kau sakit.” Ku angkat tubuh mungilnya dan kubawa masuk kedalam kamarnya. Segera kupanggil ahjumma yang merawat Sohee untuk menggantikan pakaiannya. Aku pun juga begitu. Segera kulangkahkan kaki kembali kekamar Jong In untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Author POV

Luhan masih setia menunggu ahjumma keluar dari kamar Sohee. Namja itu menyandarkan tubuhnya ditembok. Kepalanya terasa pening. Jujur saja sebenarnya Luhan tak tahan dengan hawa dingin dan air hujan. Itu alasan kenapa kepalanya berdenyut sedari tadi. Hanya saja ia tak mau menampakkan kelemahannya pada Sohee.

Grekk… Pintu kamar terbuka seiring dengan keluarnya seorang ahjumma.

“Tuan Luhan…” Ucap wanita paruh baya itu.

“Ne ahjumma. Apa Sohee sudah tidur?”

“Belum. Nona Sohee sepertinya sulit tidur hari ini.”

“Em begitukah? Kalau begitu aku akan masuk dulu.” Ucap Luhan seraya melangkahkan kaki masuk kedalam kamar Sohee.

Kamar yang awalnya terang karena cahaya lampu putih 25 watt terasa redup karena hanya lampu tidur yang dinyalakan oleh pemilik kamar itu. Tapi meskipun kamar itu terlihat remang-remang, Luhan dapat melihat mata lentik yang masih terjaga dibalik selimut tebalnya.

“Kenapa kau belum tidur? Istirahatlah chagi jangan terlalu lelah.” Luhan duduk dipinggir tempat tidur Sohee sambil mengelus lembut rambut gadisnya.

“Oppa aku ingin berjalan lagi.”

“Iya. Kau pasti bisa berjalan lagi Sohee. Sekarang tidurlah. Besok pagi aku akan membantumu berjalan.” Luhan menatap lekat mata Sohee. Gadis itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Oppa aku takut tidur sendiri.”

“Wah ternyata Soheeku ini manja juga ya?”

“Yasudah kalau tidak mau. Pergilah.”

“Hya jangan marah. Aku hanya bercanda chagi.” Luhan segera merebahkan tubuhnya dibelakan Sohee. Ia tidur dibelakang Sohee sambil memeluk gadisnya dari belakang.

“Hya oppa kenapa kau malah tidur disini?” Rona merah mulai muncul dipipi Sohee saat tangan Luhan memeluknya dari belakang.

“Kau bilang takut tidur sendiri. Palli tidurlah.” Luhan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Sohee sebatas leher. “Selamat malam Sohee.” Luhan mengecup kepala Sohee sebelum memejamkan matanya.

“Selamat malam juga oppa.”

.

.

.

Cahaya matahari masuk melalui celah jendela. Membuat Sohee tak tenang untuk melanjutkan tidurnya. Sohee merasakan tubuhnya berat akan suatu beban. Sebuah tangan kekar masih memeluk perutnya. Segera Sohee berbalik kebelakang untuk melihat pemilik tangan itu.

Wajahnya namja itu terlihat cantik ketika memejamkan matanya. Entah apa yang salah dari mata namja itu. Sohee mengembangkan senyumnya ketika melihat wajahnya yang sangat lucu, mungkin?. Jari-jari Sohee menelusuri setiap lekuk wajah namja cantik itu. Dari mata, hidung, dan berakhir dibibirnya.

“Emhh…” Luhan mengeliat tak nyaman. Sohee menyadari gerakan tubuh Luhan. Mungkin namja itu akan bangun. Segera Sohee kembali menutup matanya. Pura-pura tidurlah.

Saat matanya terpejam, Sohee merasakan tangan luhan bermain-main dengan wajahnya. sesekali Luhan mencium lembut kening Sohee. Mengelus lembut rambutnya dan menyingkirkan beberapa helai poni yang menutupi mata Sohee.

“Sohee-ah aku tau kau sudah bangun. Kenapa kau pura-pura tidur eoh?” Bisik Luhan dengan lembut. Tapi sebisa mungkin Sohee masih mengatupkan kedua matanya. Hal itu membuat Luhan menjadi gemas akan tingkah laku gadisnya.

Luhan perlahan mendekatkan wajahnya. Deruan nafas Luhan dapat Sohee rasakan. Tapi sebisa mungkin Sohee menahannya. Detak jantungnya berdegup begitu cepat. Perlahan tapi pasti. Hidung Luhan sudah bersentuhan dengan permukaan wajah Sohee. Efeknya sangat besar. Detak jantung Sohee berdegup tak menentu. Hingga akhirnya bibir mereka bertemu.

Luhan melumatnya perlahan. Ia ingin melihat seberapa lama Sohee akan bertahan dengan godaan bibirnya. Luhan terus melumat bibir Sohee. Tak ada perlawanan ataupun balasan sama sekali. Sohee masih bertahan mengatupkan matanya. Baru lima menit berlalu Sohee merasakan sesak karena butuh udara. Dengan segera Sohee mendorong dada Luhan dan berhasil melepas tautan bibirnya.

“Oppa.. hosh, hosh… apa kau berniat membunuhku? Aku tak bisa bernafas.” Sohee masih berusaha mengatur nafasnya.

“Salah sendiri kau pura-pura tidur. Seenaknya kau menggodaku lalu kau malah pura-pura tidur. Anggap itu hukuman.” Luhan kembali menatap Sohee penuh arti.

“Cih.”

“Tapi kau suka kan?”

“Anni. Aku membencimu Xi Luhan.”

“Aku juga mencintaimu Xi Sohee.” Wajah Sohee kembali merona. Kenapa Luhan memanggilnya seperti itu.

 

.

.

.

~TBC~

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] You are My Lantern (Chapter 9)”

  1. aaaaaaaaaaaaaa Lu Han romantis banget sih?? aku juga mau kekeke 😀 aahh iya aku koreksi sedikit yah bukannya nama Lu Han itu hanya Lu Han? kenapa masih ada embel-embelnya Xi? kan kalau ngk salah marganya Lu bukan Xi??? 🙂 atau itu kamu kasih kek gitu untuk kepentingan fanficnya kamu???

  2. Luhan bener” namja idaman para yeoja..
    Ehh sbenernya jongin kmana si kak?
    Nyusul eomma sama appa, tapi kmna?
    So sweettttt deh pokoknya 🙂

  3. Aaaww luhan bikin deg2an deh😂😂
    Aku suka deh apdetnya cepet👍panjangin dong kaak..keknya ini kependekan deh😉😆
    Next kak gpl😆plus panjangin keeey😉😂

    1. Hati-hati melayang… iya deh kalo bisa aku panjangin, doa’in dapet inspirasi yang cerah ngga mendung terus hehehe, mian..
      kamsahamnida ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s