[EXOFFI FACEBOOK] That Heart – Oneshoot

hujan-jendela
Tittle : That Heart
Author : Kev98
Genre : Romance, Hurt/Comfort,Family
Length : Oneshoot
Cast : A Girl without name (OC/You), Park Chan Yeol, Byun Baekhyun, Kim Jisoo (OC),Kim Jong In
Disclaimer : Cerita ini murni dari imajinasi saya, ketika saya sedang dilanda galau berkepanjangan gara gara bukber-phobia(?). Dan terbitlah FF alay nan garing ini. Happy reading and hope you like it. This is my second FF with Baekhyun inside. RCL juseyo. ^*^ TYPO EVERYWHERE

Kev——Kev
Langit berwarna abu pagi ini. Bertindak egois mengalahkan sinar mentari yang menerobos masuk. Celah yang tercipta pun tak cukup untuk menerangi pertiwi yang redup ini. Dimana ada kelabu, disana ada pula angin dingin yang berhembus. Meniup helai daun kering terakhir yang menggantung di daun kering. Pertanda kemarau telah berlalu dan datangnya musim penuh kenangan.
Awan hitam yang menggantungn sepertinya sudah muak dengan air yang dibawanya. Menjatuhkan satu tetes yang menjadi awal ribuan tetes lainnya. Setiap tetes yang menggantung 99% kenangan bagi orang yang merasakannya.
“Hei, apa kau sudah selesai melamunnya ?”, ucap seorang gadis sedikit keras kepada gadis lainnya yang terkulai indah di meja samping jendela.
“Abaikan aku”, ucap gadis yang dibentak tadi tanpa merubah posisinya.
“Ck, dasar”
Gadis yang sebelumnya berdiri kini memilih duduk di kursi yang berjarak satu meja dengan gadis yang masih saja tertunduk.
“Hei, apa kau masih memikirkan pria itu?-”, lanjutnya setelah menyamnakan posisinya.
Hening tak ada jawabn dari lawan bicara yang saat ini masih asik menatap rintikan air yang menyapa jendela disampingnya.
“-sudahlah lupakan dia. Bukankah kau memiliki Chanyeol ? jadi bu–”
“Hentikan Jisoo !”
Belum sempat Jisoo melanjutkan ucapannya, gadis yang terrtunduk tadi spontan menegakkan tubuhnya dan menatap nyalang kearah sahabatnya itu. Suaranya menggema di kelas yang sepi ini.
Sempat terkejut, gadis yang bernama Jisoo itu pun bangkit dan keluar dari ruang kelas dengan langkah gontai, menyesal telah membuat sahabatnya marah.
Saat ini waktu istirahat, tapi beberapa hari belakangan ini, gadis itu nampak tak tertarik dengan apapun yang terjadi dengan sekitarnya. Ia terlalu sibuk memikirkan seorang pemuda yang sudah sangat ia tahu takkan pernah kembali padanya.
Tapi bayang sosok yang selalu ingin ia buang jauh itu, seolah telah terukir indah di relng kesakitannya. Seakan tak memberi temapt untuk siapapun mengisi celah itu.
Gadis itu memang tak sendiri lagi sekarang. Dia memiliki Chanyeol. Pemuda yang luar biasa peduli padanya. Bahkan rela hanya menjadi pelampiasannya. Chanyeol akan menuruti apapun keinginan gadis itu kecuali satu hal, meninggalakannya.
Ingin sekali gadis itu memenuhi hatinya dengan Chanyeol. Menyingkirkan sosok yang sudah terlalu dalam mengecewakannya. Hingga tak tersisa lagi perih dan kekosongan itu.
Tak terasa setitik air mata meleleh menyusuri pipi tembam gadis itu. Dengan rona merah yang semakin tampak air mata itu mulai mengank sungai.
Hujan. Suasana kelas yang sepi. Air mata.
Semua ini mengingatkannya pada saat itu. Dimana untuk pertama kalinya dia berbicara dengan pemuda terkasihnya.
“Hei apa kau menangis ?”
Gadis itu sontak menghentikan tangisnya. Ia mendengar suara yang begitu dirindukannya. Suara yang membuatnya merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Kenalkan, aku Baekhyun. Aku akan menjadi temanmu mulai saat ini. Jadi jangan menangis lagi”
Suara yang terkesan sedikit dingin nmaun perhatian tersebut. Sesuatu yang juga sosok itu katakana 3 tahun silam.
“Hei apa kau tak ingin menyebutkan namamu ?”
‘Cukup. Aku tak ingin lagi menginat semua ini’, batin gadis itu meronta.
Merasa frustasi gadis itu memutar kepalanya ke belakang. Tepat di kkursi belakang yang dulu sosok itu tempati. Gadis itu melihat sekali lagi senyum itu. Senyum yang mengembang alami dengan lembutnya. Dipadukan dengan wajah yang amat manis serta mata yang teduh. Sangat tidak mungkin bagi gadis itu melupakan wajah ini. Wajah yang membuatnya selalu ingin memliki sosok itu juga wajah yang mengingantkan rasa sakit yang ditorehkannya.
Sekali lagi gadis itu menangis. Tersedu mengingat saat senang maupun sedih sekaligus. Ia merasa bodoh. Ia merasa kecewa. Dan juga rindu.
Tak dapat dipungkiri ia amat merindukan BAekhyun. Merindukannya sepenuh hati walau ia tahu yang ia rindukan tak akan menemuinya.
‘Inikah rasanya ditinggalkan ?’
Angina berhembus melewati jendela disamping gadis itu yang turut membawa bayang Baekhyun terbang bersamanya. Menari diangkasa diantara ribuan hujan.
Semuanya semu. Dan itulah yang membuat batin gadis itu semakin merintih kesakitan. Ingin segera disuarakan. Ingin segera dilampiaskan. Agar tidk terus bersarang direlung hati yang sudah pedih.
Kev——Kev
“Jisoo-ya !”
Teriak seorang gadis bertubuh mungil yang Nampak sedikit berlari kearah gadis yang dipanggilnya. Surai hitam panjangnya sedikit berkibar terbawa angin.
Merasa dipanggil, Jisoo memutar tubuhnya dan menampilkan senyum kelegaan. Gadis itu –yang sebelumnya berlari – berhenti. Memberi jarak satu meter antara dirinya dan Jisoo.
“Tadi aku tidak ber–“
“Tidak apa”, Jisoo menampilka senyum manisnya.
“Terima kasih Jisoo-ya”
Suasana lorong ini sangat lenggang dan sepi. Meskipun gadis itu mengucapkannya dengan sangat lirih dan kepala tertunduk, Jisoo masih mendengarnya.
“sama – sama”. Lagi lagi dengan senyum mengembang.
“Ugh. Aku lapar…”, lanjut Jisoo manja.
Gadis itu menampilka senyumnya dan beralhi menggamit lengan Jisoo dan menraiknya ke kantin.
“Ayo”
Kev——Kev
Jam istirahat berakhir tepat pukul 12.05 siang, dan saat ini pelajaran sudah dimulai di beberapa kelas. Para siswa maupun siswi sudah kembali memadati setiap kelas. Termasuk satu kelas dengan papan 12-D di depannya. Kelas sudah terisi penuh meski tampak masih ramai. Hal tersebut wajar karena guru Kim yang seharusnya mengajar saat ini, mendadak izin untuk dating terlambat. Alhasil, seperti ini lah kondisinya. Begitu riuh dengan gurauan maupun obrolan siswa yang sibuk bercengkrama.
Hal tersebut tak berlaku untuk seorang pemuda yang menempati posisi paling depan pojok kiri. Dia terlihat sibuk bergulat dengan buku tebal ditangan kirinya dan buku lebih kecil disampingnya. Kedua netra hazel tersebut sangat lincah menelusuri deretan alphabet yang tertoreh di buku yang mulai menguning tersebut. Sesekali dia beralih pada buku kecil disampingnya guna mencatat hal yang sekiranya penting.
PUK
Seseorang secara tiba tiba menepuk pundaknya. Membuatnya terperanjat dan kontan menutup bukunya. Kepalanya berpaling cepat ke belakang dan mendapati sosok sahabatnya disana menampilkan cengiran tanpa dosanya.
“Aish apa kau ingin membunuhku Jong In”, sebal pemuda tersebut.
Jong In, pemuda yang tadi mengejutkannya kini beralih duduk disamping pemuda tersebut.
“Kau tidak perlu seserius itu tuan Park”, guraunya menepuk nepuk pundak Chanyeol – pemuda disampingnya – sambil tertawa pelan.
Chanyeol hanya mendengus sebal dan kembali membuka bukunya. Mengabaikan kehadiran Jong In yang kini hanya menatapnya datar. Hening. Hingga Jong In mulai membuka suara.
“Apa kau serius ingin mendaftar di Kyunghee University ?”, masih dengan tampang datarnya.
“Menurutmu ?”, jawab Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang digenggamnya.
Jong In menghela nafas kasar. Menunjukan ekspresi sebal yang sangat kentara. Tak habis piker dengan kelakuan sahabatnya sejak dibangku pertama ini.
“Yeol, apa kau sudah kehilangan akal ? Kyunghee hanya menerima siswa diatas jenius. Baiklah, kau memenag cukup jenius tapi mengingat akreditasi sekolah kita yang bahkan tak ada. Akan menjadi suatu keajaiban kau bias masuk kesana. Dan jika tidak kau akan membuang kesmpatanmu untuk masuk ke Universitas lain yang sekiranya masih mungkin digapai”, ucap Jong In dalam satu tarikan nafas.
Chanyeol tak bergeming, ia masih focus dengan buku ditangannya.
“Aku mengerti. Kau melakukan semua ini untuk memenuhi janji orang itu kepada gadis itu. Tapi tidak dengan memaksakan dirimu Yeol. Bahkan mungkin kau akan mengorbankan mimpimu sendiri nanti.Dan –”
“Dan sekarang janjinya adalah janjiku juga”, sergah Chanyeol dengan begitu dingin.
Rahangnya mengeras dengan manik yang seakan menusuk mata Jong In. membuat Jong In sempat bergidik ngeri. Namun dia tetap tekad untuk menyadarkan Chanyeol. Belum sempat Jong In membuka suara, guru Kim memasuki kelas. Dan dengan hati dongkol Jong In kembali ke kursinya.
‘Kau benar benar bodoh saat ini yeol’
Kev——Kev
Bel sekolah berdentang kencang ke seluruh penjuru sekolah. Menandakan pelajaran hari ini telah usai. Para siswa sudah bersiap dengan tas masing masing. Menunggu sang guru mengucapkan kata penutup dan langsung berhambur keluar kelas. Hanya beberapa siswa yang masih betah bercengkrama di dalam kelas. Termasuk gadis itu dan sahabatnya.
Ia masih sibuk berbenah, begitu pula dengan Jisoo. Mereka berbenah dalam keheningan. Karena memang kelas mereka saat ini Nampak begitu lenggang.
“Ah gawat, aku ada janji dengan guru Cho. Dan sekarang aku sudah terlambat”, pekik Jisoo tiba tiba.
“Kau duluan saja”,solusi gadis di sebelahnya tanpa berpaling sedikitpun.
“Ta – tapi”
“Aku bersama Chanyeol”,sergah gadis itu cepat.
“Baiklah”
Kali ini Jisoo mempercepat kegiatan berbenahnya dan bergegas keluar kelas setelah sebelumnya berpamitan dengan sahabatnya.
Suasana kelas kembali hening,hanya ada suara gesekan antara buku dan tas yang beradu. Setelah selesai berbenah, gadis itu langsung menggamit tasnya di pundak. Setelah menyamankan posisi tasnya, kaki jenjangnya mulai melangkah normal menjauhi mejanya.
“Kau ingin pulang bersama ?”
Sontak langkahnya terhenti tepat di depan papan tulis. Suara itu, yang selalu melayang layang di memorinya kini kembali tervisualisasikan. Gadis itu menundukan kepalanya dan menutup matanya erat seolah ingin tersadar dari mimpi ini. Tubuhnya bahkan bergetar samar menahan rasa kecewa dan rindunya yang membuncah.
PUK
Sampai dia merasakan satu tepukan dipundaknya. Reflek dia mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya ia mendapati sosok pemuda itu dihadapannya. Netra kembarnya membola takjub, bahkan sudah mulai dilapisi air setipis kaca. Ia begitu terpana berharap semua ini nyata adanya.
“Baekhyun-ah”, ucapnya tanpa sadar.
Detik berikutnya, rupa manis Baekhyun tadi membaur menjadi udara dan menmpakan sosok asli pelaku penepukan tersebut. Gadis itu kembali terperangah. Ia menelan ludah mendapati Chanyeol berdiri dihadapannya dengan manik yang juga membola. Bedanya yang ini lebih menampakkan gurat kekecewaan.
Gadis itu kembali menundukan wajahnya takut menatap kedua hazel Chanyeol yang tampak begitu terluka. Itu hal wajar jika berada di posisi Chanyeol. Gadis yang begitu dicintainya ternyata masih belum terbebas dari belenggu mas lalunya.
“Apa sesulit itu ?”,Chanyeol membuka suara. Suaranya begitu lirih dan sendu.
Gadis itu masih tetap tak mangangkat wajahnya, dia tak bersuara. Dan kini yang terdengar hanya hembusan angina ringan di luar jendela.
“Apa sesulit itu melupakannya ?”
“Maafkan aku”, gadis itu membuka suara meski tanpa mengangkat wajahnya.
“Jadi, kumohon lupakan aku”, lirihnya dengan suara bergetar.
Ia lalu melangkah menjauhi Chanyeol yang masih tertegun ditempatnya. Selepas gadis itu pergi, Chanyeol hanya diam dan tanpa ia sadari setetes air mata menyusuri pipi putihnya.
‘Maafkan aku Baekhyun’
Kev——Kev
Musim dingin mulai menyapa daratan Seoul pagi ini. Mengirim sinyal sinyal malas ke penjuru kota. Jalanan Nampak lenggang karena hanya ada beberapa orang yang masih beraktivitas.
Termasuk pemuda yang kini tengah berjalan santai di trotoar. Ia menutupi tubuhnya dengan mantel besar berwarna mocha yang menyembunyikan almamater dengan lambang “Kyunghee University of Seoul” di dada kirinya. Sesekali ia menggosokan telapak tangannya untuk mengurangi hawa dingin yang merambat ditubuhnya.
Dia adalah Chanyeol. Pria bermarga Park itu sudah memenuhi janjinya, menjadi mahasiswa Kyunghee University. Sudah satu tahun berlalu sejak insiden itu, dan sudah satu tahun berlalu pula ia tidak bertemu dengan gadisnya.
Dia sangat berharap bertemu lagi dengan gadis itu agar janjinya bias terpenuhi. Namun apa dikata gadis itu benar benar meninggalkannya sekarang.
Saat tengah asyik memandang lurus ke depan, netra hazel Chanyeol menangkap sosok itu. Gadis itu, kini berada di jalur penyebrangan. Betapa bahagianya Chanyeol mengetahui hal ini.
Tapi itu tidak lama, karena detik berikutnya Chanyeol dibuat terkejut mengetahui ada truk besar melaju kearah gadis itu. Dengan sigap dan tanpa berpikir panjang dia berlari menghampiri gadis itu.
BRAK
Kev——Kev
[Seoul, 24 Desember 2013]
Drrtt Drrrttt
Handphone yang berada di saku kemeja pemuda itu bergetar kecil, menandakan ada panggilan masuk. Tanpa melihat nama sang penelpon, jemari lentik pemuda itu menggeser icon hijau untuk mengangkat telepon. Menempelkan benda pipih tersebut di telinga kirinya dengan bahunya. Sementara tangannya melanjutkan sarapannya.
“Hal– ”
“Baekhyun ! Apa kau bisa datang kemari ? Chanyeol, dia kritis, jantungnya memburuk. Cepatlah kemari appa dan eomma menunggumu sayang”, terdengar suara sesenggukan disana.
Baekhyun tertegun mendengar keadaan kakak tirinya yang baru berapa bulan. Wajahnya pucat pasi ketakutan.
“Ba – baik ma, Baekhyun segera kesana”
“Hati hati sayang”
Panggilan berakhir. Baekhyun bergegas menambil kunci mobil disampingnya, melangkah cepat menuju halaman.
Pagi ini Baekhyun mengendarai kendaraannya dengan kecepatan luar biasa. Dia bahkan tidak peduli dengan suara klakson beberapa mobil yang dilewatinya. Yang dipikirannya sekarang hanya kondisi kakanya itu.
Suasana begitu tegang hingga getaran telepon kembali terdengar. Handphonenya menampilkan foto seorang gadis dengan boneka dipelukannya. Boneka pemberian Baekhyun.
“Baekki ! Apa kau tidak masuk hari ini ? Cepatlah sekarang sudah pukul 06.45 tunggu… apa kau sakit ? Baekki jawab aku, apa kau baik baik saja”
Baekhyun tersenyum mendengar suara menggemaskan tersebut. Suara dari seorang gadis yang paling dicintainya, dan mungkin adalah belahan jiwanya.
“Aku baik baik saja saying. Saat ini aku sedang ada urusan mendadak. Tolong sampaikan izinku pada guru Cho”, ucap Baekhyun dengan senyum yang masih terpatri diwajahnya.
“Ba – ”
CKIITTTT BRRAK
Sebuah truk besar menghantam keras bagian depan mobil Baekhyun. Membuatnya ringsek dan tek berupa lagi. Kedua kaki Baekhyun terhimpit kemudi.
AKHH
Dia merintih kesakitan. Kakinya begitu perih hngga tak dapat dirasakannya lagi. Petugas medis dengan sigap menghampiri mobil Baekhyun dan mengeluarkannya dari. Kaki Baekhyun yang dulu Nampak indah kini tak berupa lagi. Darah melumurinya hingga tak terlihat lagi kulit putih langsat di situ.
Begitu sampai rumah sakit yang juga sama dengan Chanyeol, sudah berdiri kedua orang tuanya disana.
“Eo– eomma”, lirih Baekhyun yang masih dapat terdengar oleh ibunya disampingnya. Wajah keriput itu sudah dipenuhi air mata yang menggenang.
“ya. Ya sayang. Bertahanlah , eomma mohon”
“To– tolong berikan jantung–ukh ku untuk hyung, d–dan sa–sampai kan padanya u–tuk men–akh–dekatkannya de–ngan belahan j–jiwa ku– ukh”
Setelah menyelesaikan kalimatnya Baekhyun sudah memasuki ruang UGD.
Park Baekhyun
06-05-1998 / 25-12-2013
Kev——Kev
[Seoul,25 Desember 2016]
Suasana Nampak sangat tegang di ruang UGD Seoul National Hospital. Disana Nampak seorang gadis dan seorang pemuda yang tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Kondisi sang pemuda tampak lebih stabil dengan balutan perban di kepala dan kakinya. Berbeda dengan gadis dui sebelahnya yang masih ditangani para medis.
“Gawat, rusuknya patah dan menancap jantungnya”
“Kondisinya terus turun, kita bisa kehilangannya”
“Tapi bagaimana menemukan donor jantung saat ini ?”
“Gunakan Jantungku dok”,lirih Chanyeol.
“Ta-”
“Kumohon”
Park Chanyeol
27-11-1997 / 25-12-2016
“Baek, aku sudah memenuhi keinginanmu untuk masuk Kyunghee. Dan sekarang aku memenuhi permintaanmu untuk menbdekatkan jantung itu pada belahan jiwamu dan– belahan jiwaku”
Cuap cuap :
Ahhh ini apa ??? gak tau O^O. btw sebenarnya FF ini aku tujuin buat sahabat sohib dan twins gue yang ultah 31 mei kemaren /telat. Sebenarnya mau buat trilogy tapi karena singkat ah syudahlah. Sekali lagi HBD unteettttt wish you all the best dan bias cepet ketemu baekbaek. Last, silahkan hujat saya dengan segala keamatiran saya TT^TT. *bow

Iklan

One thought on “[EXOFFI FACEBOOK] That Heart – Oneshoot

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s