ENSURED [4] Considerable

 

ensured

Red Thread Spread Between Them

JSHA™ Storyline & Art

Starring:

Sehun Landsteiner ♣ Janice Wiener ♣ Albert J Kai

Chanyeol Janskydi Kara Lister

15+ [for Harsh words and Hard scene]

Multi-Chapter

Romance ● Friendship ● Crime ●  Psychology ●Dark ● Alternate Universe

‘This story, plot, and original character is mine, so please don’t plagiarist.’

Previous► [0] Teaser [1] Identify [2] Encouragement [3] Expanding

Now in Chapter 4 – Considerable

PERHATIAN!

Cerita hanyalah fiksi, terdapat beberapa fakta yang dirubah mengikuti alur cerita penulis. FanFiction ini mengandung tema dan muatan dewasa, bagi pembaca yang belum cukup umur atau tidak nyaman dengan konten tersebut, dianjurkan untuk tidak membacanya.

∙∙∙

Sehun Landsteiner

tumblr_nyunjhust91riav2to1_500

Chanyeol Janskydi

2d911f631059db905c6463cd8666ff22

Albert J Kai

tumblr_inline_o14kg3hlzq1saipdg_540

Janice Wiener

8fd1880f458996fac5dde0c2d5abb3a5

Kara Lister

dakota_fanning

∙∙∙

Washington DC, USA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kris keluar dari kuda besi kepemilikan-nya, disusul Sehun dan Chanyeol kemudian. Memandang sebuah toko classic bertuliskan ‘OPEN’ di pintu masuk. Mengingat penjelasan Sehun malam tadi, bahwa mereka mengenal seseorang yang sekiranya tahu tempat yang dicari. Berbekal buku lama yang dibeli Chanyeol dan surat pemberian Suho Kim, ketiganya mencari kepastian akan jalan panjang yang membawa mereka pada titik temu penyelesaian teka – teki sedang seseorang mainkan. Kris lantas mengekori Sehun yang lebih dulu mengambil langkah maju. Maniknya melirik Chanyeol sejenak, menyejajarkan langkah pada lelaki yang lebih muda dua tahun dari padanya. “Aku tak pernah mengira kalian akan tertarik pergi ke toko antik.”

Chanyeol mengangkat bahu sekilas. “Saat itu keadaan darurat.”

“Apakah kedinginan itu termasuk keadaan darurat?” tanya Sehun sedikit menoleh kepala ketika mendengar ttur Chanyeol asal saja.

Kris tertawa. Chanyeol membelalakkan mata, ah anak itu tidak dapat diajak kerja sama batinnya menggerutu lanjut berujar, “Hei! Bukankah kau bisa mati kedinginan, Hun?” dengan nada tak ramah sama sekali dari lontaran mulutnya atas kerja pita suara-tentunya.

“Jika itu di kutub utara maka jawabanku ‘ya, tentu saja’, tetapi kita sedang di tengah kota dengan suhu lingkungan saat itu hanya enam derajat, Yeol. Kau tidak perlu sampai ketakutan akan mati di sini.” Nada geli Sehun mudah terdeteksi dalam setiap katanya. “Baiklah permbicaraan ini selesai, kita akan bekerja sekarang, ayo!” ajak Sehun dengan membuka kenop pintu.

Chanyeol terlihat mendengus kesal namun tetap patuh mengikuti Sehun begitu pula dengan Kris.

Masih sama seperti sebelumnya, bunyi lonceng kecil menyapa saat membuka pintu disusul musik lampau era 80-an dari alat musik kuno di sudut ruangan. Tata letaknya pun tak jauh berbeda, hanya beberapa barang yang di pindah dengan sengaja juga almari kayu rapuh sebelumnya tampak diganti. Lampu kuning temaram menambah kesan hangat tak pelak layaknya sebuah rumah dengan keluarga yang harmonis. Sehun masih jelas mengingatnya. Kakek tua itu muncul dari lorong kecil-persis seperti sebelumnya, tersenyum pada mereka. Senyumnya menguar begitu maniknya merasa akrab pada dua diantara tiga postur pemuda di hadapannya, membuat guratan yang tercetak di wajah karena lamanya berada di dunia dengan segala permasalahan berkecamuk dalam dada tampak lebih jelas dilihat. Rambut putih bukan karena efek penggunaan cat warna itu menambah bukti diri bahwa pria baya tersebut ada dari era yang jauh dari Sehun, Chanyeol, dan pula Kris.

“Kalian datang lagi? Ada yang bisa ku bantu?” tawarnya ramah dengan logat suara khas.

Sehun tersenyum lalu mendekati Kakek itu, tangannya mengulur memperlihatkan buku yang dibeli Chanyeol beberapa hari lalu. “Anda masih mengingat buku ini, Kek?”

Mengangguk tegas memberi jawaban pasti. Kakek itu mengambil buku dari tangan Sehun, membolak – balikkan halamannya yang masih kosong seperti sedia kala. “Tentu, aku selalu mengingat koleksiku, ada apa?”

“Kami hanya ingin memastikan beberapa hal, Kek.” Chanyeol berdiri di samping Sehun. “Jika saya tidak salah, Anda mengatakan buku ini dicetak dekat pabrik wine, dan tempat tersebut berada di Perancis.”

Kakek itu menggangguk lagi. “Ya, namun itu sekitar empat puluh tahun yang lalu dan mungkin saat ini hanya tertinggal puing bangunan saja. Tapi aku masih mendengar ada beberapa tempat yang masih memproduksi wine mengingat negara Perancis merupakan salah negara produksi wine terbesar dunia.”

“Tepatnya dimana tempat percetakan itu, Kek?” Kris menilisik.

Kakek itu tampak berusaha mengingat sesuatu. Kerutan ada wajahnya cukup jelas untuk membernarkan. “Paris, aku tidak tahu pasti nama jalan atau bagian mana, yang ku tahu hanya di kota Paris, tetapi aku memiliki seseorang cucu di sana dan mungkin kalian dapat menanyakan lebih jauh padanya karena dia tinggal di kota tersebut.”

SLURP! Suara berasal dari Chanyeol yang menegak habis minuman kesukaannya -jus alpukat- hingga tetes terakhir. Menarik pandang Sehun dan Kris yang merasa terganggu akan hal itu. Hingga Kris memuntahkan kalimat menyakitkan meski sang target tidak merasakan.

“Menjijikkan! Kau tidak minum satu tahun? Hah?!”

Chanyeol tak mengindahkan Kris, justru ia tengah menatap Sehun yang menyuapkan beef steak pesanan mereka beberapa menit lalu. Saat ini ketiganya berada di salah satu meja dalam sebuah restoran pinggir kota. Memutuskan untuk mengisi perut sejenak ketika waktu menunjukkan jam makan siang. Sedikit menyegarkan pikiran dari tugas yang berbelit hingga rasanya seperti cekikan ular python dalam kandang, kau akan bebas ketika kau dapat menaklukkannya. Meski tak pelak pikiran mereka tetap berfokus pada penyelesaian puzzle yang sedikit banyak dapat ditemukan hingga kini. Begitu pula Sehun, mengunyah potongan tenderloin sembari mencari jalan keluar. Ini tidak semudah tujuh belas rumus matematika trigonometri, perhitungan kimia stokiometri, mekanisme biologi genetika evolusi atau sekadar memahami teori fisika inti yang berhasil didapatkannya nilai sempurna sewaktu sekolah menegah dulu. Namun, ini seperti pelajaran sosiologi dengan berbagai catatan bukti dan pendapat hingga kau akan memutuskannya sendiri, mencari jalan keluarnya secara pasti.

“Entah ini suatu kebetulan atau keberuntungan, semua bukti yang kita temukan mengarah ke Paris.” Suara Chanyeol menyadarkan Sehun dari dunianya.

Kris membalas sembari memotong daging santapannya. Melirik kedua sahabat sejenak. “Tidak ada kebetulan atau keberuntungan dalam konteks ini, yang ada hanyalah sebuah pembuktian. Semua berpusat di Paris, setidaknya memudahkan kita untuk menemukan mereka. Terlebih Suho Kim memerintahkan kita untuk meneruskan penyelidikan di Paris, bukan?”

Sehun menyimak lalu mengangguk. “Mengingat Derreck yang mengatakan penyampaian bahasa inggris pelaku kurang baik, kurasa benar adanya. Lagi pula cucu kakek itu juga mungkin dapat mempermudah kita menyelesaikan segalanya.”

“Oh, ya, dari beberapa info yang kudengar kebanyakan parisian tidak lancar berbahasa inggris dan mereka memandang asing orang yang berbicara bahasa inggris di sana, bagaimana jika cucu kakek itu justru mneolak?” Chanyeol menyuap potongan kentang ke dalam mulutnya.

“Begitu kah? Aku pikir mereka memiliki toleransi yang cukup baik, kau tidak salah dengar?” Kris tampak tertarik.

Chanyeol mendelik tak terima. “Kau meragukan informasiku? Yah.. meski aku juga sedikit ragu sebenarnya.” Dia tertawa dan menyilangkan tangan untuk menghadang pukulan Kris.

“Info itu tidak sepenuhnya salah.”

Sehun, Chanyeol, dan Kris sontak mencari asal suara tersebut. Manik mereka menyapu seluruh penjuru ruangan. Ketemu. Kara Lister sedang duduk manis menyesap kopi di meja samping mereka. Gadis itu balas memandang ketiga lelaki yang tampak kebingungan dengan kehadirannya kini. Bertanya kikuk, “A-apa aku menganggu obrolan kalian? Sorry.”

beautiful-blonde-cafe-coffee-cute-favim-com-270029

Chanyeol unjuk suara dengan vokal tak biasa. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Ini tempat umum, jika Anda tidak lupa.” Kara membalas Chanyeol sopan kini melirik Sehun dengan senyum di bibir. “Lama tidak berjumpa Mr. Elliot Landsteiner.”

Sehun tersenyum tipis juga mengangguk. “Ya, nona Lister. Senang bertemu Anda di sini.” Berbasa – basi. Ia lantas dapat merasakan pandangan menusuk dari dua rekan di depannya-Chanyeol dan Kris. Sehun mengangkat salah satu alis, Apa yang salah? Bertanya dalam batin.

Kris lantas mengajak Kara bergabung. Mereka melanjutkan berbincang usai saling menyebutkan nama, tentu saja Chanyeol dan Kris menyebutkan nama samaran mereka dalam misi yang merupakan aturan umum. Tak ada pembicaraan serius, hanya mengambil tema ringan yang biasa diajukan saat pertemuan pertama antar teman. Meski tetap Kris dengan cassanova yang menggoda Kara beberapa kali, Chanyeol dengan jutaan materi canda, dan Sehun dengan sifatnya tak banyak bicara. Meski begitu keempat anak manusia tersebut terlihat akrab jika dilihat. Banyak pengunjung wanita yang memandang mereka dari segala sudut ruangan-seperti biasa, terlebih pada Kara karena merasa iri dikelilingi tiga pria tampan berjas kantoran.

“Jadi, kalian akan ke Paris?” tanya Kara tiba – tiba.

Sehun melirik Chanyeol dan Kris, begitu pula sebaliknya. Mereka tidak dapat dengan mudah menjawab juga aturan tugas ‘melarang memberi tahu informasi dalam bentuk apapun kepada orang asing’. Kara seakan dapat mengerti keadaan pun melanjutkan. “Aku pintar bermain rahasia, kau tahu kan, Elliot?” Merasa lebih akrab dengan ketiga anak adam di depannya, juga merupakan titah Kris untuk memanggil hanya nama mereka, seperti kebiasaan pria itu untuk menggoda.

Sehun berdehem bermaksud melonggarkan kerongkongannya yang tercekat mendengar pernyatan Kara tertuju padanya. Mengambil gelas yang tak lebih setengah isi lantas meneguknya. Tentu saja ia tahu jika gadis itu pintar bermain rahasia, bagaimana Sehun dapat melupakan suaranya yang berubah menjadi hewan berkelas amphibi karena memohon untuk berbagi informasi dengannya? Hingga Kris dengan candanya mengatakan bahwa gadis itu cukup menciumnya sehingga ia dapat menjadi pangeran dan menikah dengan gadis itu. Baiklah, cukup! Lupakan kalimat terakhir.

Kris tampak akan bersuara namun membatalkan niatnya secara spontan ketika melihat hujaman mata pisau dan gurat mimik tidak setuju pada Chanyeol dan Sehun. Lelaki itu pun menghela napasnya pasrah.

Sehun balik memandang Kara yang duduk di sampingnya. “Aku cukup tahu kau dapat menjaga rahasia, Kara, namun ini berbeda pokok permasalahan.”

“Tetapi itu juga termasuk urusanku Elliot, ini tentang ayahku jika kau tidak lupa.” Sanggahnya.

“Kami akan memberi tahumu jika kasus ini telah usai.” Ini suara Chanyeol menengahi.

Kara menggeleng cepat seolah tak setuju. “Kapan? Kapan kasus ini selesai? Bagaimana jika aku tidak punya waktu sampai hari itu?”

Sehun melotot. “Apa maksudmu? Jangan berbicara omong kosong!”

“Ak-aku hanya takut bila-”

“Cukup! Kau berlebihan Kara Lister, jangan memikirkan hal – hal yang sebenarnya tidak perlu kau pikirkan, jangan mengucapkan sesuatu yang tidak berlatar belakang seperti itu! Seolah kau tak lagi ada untuk esok hari. Memangnya kau akan kemana? Menghilang dari dunia? atau kah bunuh diri?” Sehun mulai meninggikan vokalnya.

Kris memperingati. “Se-Elliot Landsteiner.” Hampir saja pria itu salah menyebut nama asli Sehun.

Sehun menghela napas, menutup mataya, mengepalkan tangan. “Maafkan aku, aku permisi.” Lantas beranjak meninggalkan Chanyeol, Kris dan Kara dalam keterdiaman.

Paris, France

mercedes-benz-s550-coupe-6

“Silahkan, Tuan.” Seorang pria muda rapi dengan jas hitam mempersilahkan majikannya secara hormat, membukakan salah satu pintu mobil produksi Mercedez tahun ini. Usai memastikan pria yang jelas lebih tua darinya duduk nyaman dalam kursi mobil, ia menutup pintu secara hati – hati. Berlari kecil menuju pintu kemudi sebelum menginjak pedal gas hingga menjauh dari pelataran rumah megah di belakangnya kini. Tak ada suara kecuali bunyi radio dalam mobil yang ia nyalakan, itu pun dengan volume rendah sesuai permintaan tuannya.

“Louis.”

Merasa namanya terpanggil, pria muda itu berujar sopan. “Ya, Tuan Alberto.” Melirik sebentar dari kaca gantung di tengah.

“Kita ke tempat percetakan sekarang. Apa Charlos sudah menghubungiku lagi? Aku tidak menerima telponnya tadi malam karena ada rapat direksi mendadak.”

Louis mengangguk meski masih fokus pada setirnya. “Iya, Tuan. Namun Anda sudah terlelap, saya tidak ingin mengganggu waktu Anda. Charlos menyebutkan sebuah nama yang sekiranya Anda butuhkan, itu katanya.”

“Nama?” berucap lirih. Pria itu tampak menerawang dari tatapannya di balik jendela. Ia mengingat jika titahnya pada Charlos untuk melaporkan seseorang yang menghajar habis tubuh lelaki itu dan teman – temannya. Bahkan seingatnya, seseorang itu juga berhasil membawa salah satu anak buahnya. Sedikit terkesan, mengingat anak buahnya tidak mudah ditebas begitu saja, for your information bahwa ia sudah membayar mahal untuk itu. Tak ingin larut dalam gulitan pikiran, ia memilih bertanya siapa yang dimaksud Charlos tanpa tahu sengatan satuan volt akan menyerang tubuh tua setelahnya.

“Sehun Landsteiner beserta dua rekannya, Chanyeol Janskidy dan Kris Wlasto. Diketahui merupakan agen spesial FBI selama lima tahun terakhir. Menurut informasi mereka bertiga selalu berhasil menyelesaikan kasus yang ditanganinya.”

Benar, sengatan itu terasa luar biasa, bukan hanya tubuhnya yang mati rasa dan bulu kuduk menegak dalam pori. Namun juga jantungnya yang berpacu melawan melodi metalika panggung hiburan dunia dan tenggorokannya seakan tersendat batu raksasa. Pita suaranya menghilang dalam sekejab meninggalkan getar tangan yang berhias jam elegan. Terperanjat, itu terlalu sederhana untuk reaksinya, adakah yang lebih dari itu untuk menggambarkan? Coba sebutkan!

“A-apa k-k-katam-mu?”

Sekarang ia berbicara saja tak mampu. Menyedihkan. Menelan ludah secara susah payah. Melirih rangkai nama. Sehun Landsteiner? Ia ulangi. Landsteiner? Tangannya terlihat bergetar geram, melipatnya dalam satuan yang dirasa orang sebagai tolak ukur jantung. Menggenggam keras. Lagi – lagi nama itu. Rahangnya pun menegas. Murka? Tentu saja! Tidak usah ditanya. Sekarang saatnya memikirkan sebuah rencana.

“Louis, hubungi Charlos sekarang!”

Tunggu aku di sana, aku sedang dalam perjalanan. Au revoir (sampai jumpa)

Janice tersenyum ketika membaca pesan Kai yang baru saja ia terima, menggiring langkah kakinya pada salah satu sofa lobby apartemen. Memilih posisi ternyaman dan tempat termudah untuk melihat kedatangan lelaki itu. Sebenarnya Janice sedikit gugup, terlihat dari jemarinya yang saling bertaut tanpa henti. Ia ingatkan, saat ini dirinya akan berkencan dengan seorang lelaki. Terdengar sangat normal memang, namun Janice tidak pernah bersama seorang lelaki selain Baekhyun, bukannya tidak ada yang mendekatinya, asal kalian tahu bila banyak lelaki meliriknya dari kalangan bawah hingga atas namun Janice menolak mereka mentah – mentah. Bahkan untuk sekadar membagi nomor ponselnya ia pun tidak mau. Lain hal dengan Kai. Jika kalian bertanya, kenapa? Janice sungguh tidak tahu jawabannya. Mungkin karena lelaki itu ‘superhero’-nya?

Gadis itu sedikit terlonjak karena merasakan tangan seseorang di bahunya. Berbalik dan menemukan lelaki itu–Kai tengah tersenyum manis kepadanya. Sungguh manis hingga hatinya tiba – tiba bergetar tanpa kuasa. Sial, perasaan apa ini? Bodoh!, rutuk Janice dalam hati.

“Kau sedang memikirkan apa, Jan? Jangan melamun, ayo, filmnya akan diputar tiga puluh menit lagi. Kita harus bergegas.” Ajaknya menggandeng tangan Janice masih dengan senyum manis dan nada lembut darinya.

Lagi, saat Janice belum sepenuhnya sadar, ia harus kembali bergejolak dengan respon tubuh saat menerima perlakuan Kai kepadanya. Terlebih ketika menerima pujian yang diberikannya. Kau cantik dengan pakaian itu, Jan. Tersipu? Tentu saja, pipinya merona merah saat ini, degup jantungnya bahkan sembrono mengakibatkan darahnya berdesir lebih cepat melewati katup. Bibirnya tersenyum senang, bukankah itu tujuannya untuk memakai dress yang disarankan Baekhyun dua hari lalu?

original

Dress putih susu tanpa lengan di balut cardigan rajut merah pucat yang sukses membawa kesan feminin untuknya, sekali lagi sesuai permintaan Baekhyun. Tambahan mini bag di bahu kanan mempercantik tampilan Janice. Lantas haruskah setelah ini Janice berterima kasih pada lelaki itu? Tidak! Itu bukanlah pilihan yang bijak, justru Baekhyun malah akan melakukan sesi wawancara dan konsultasi dengannya. Entah mengenai bagaimana sikap Kai terhadapnya baik itu tutur kata mau pun perlakuannya, yang pasti dari abjad A hingga Z tanpa cela. Sekarang Janice ditarik begitu saja dalam dimensi nyata, dihadapkan Kai yang tampak khawatir, dahinya berkerut.

“Kenapa kau diam? Apa kau tidak nyaman denganku, Jan? Atau kau sedang tidak enak badan? Kita bisa menunda-“

Janice menggeleng memotong kalimat Kai yang belum usai. “Tidak, aku tidak apa – apa. Sejujurnya sedikit asing ketika aku keluar bersama orang lain.” Tuturnya sedikit ragu.

Kai tersenyum, mengeratkan pegangan tangan di bahu Janice yang entah kapan ia melakukannya. Sedang mencoba meyakinkan gadis di depannya. “Aku tidak akan membuatmu asing denganku, Jan. Aku akan membuatmu nyaman bersamaku. Mulai hari ini.”

Washington DC, USA

7010122991_7973ee73a3_c

Sehun menarik koper ukuran sedang di tangan kiri. Ranselnya ia bebankan pada bahu. Sesuai perintah Suho Kim dua hari lalu, ia beserta Chanyeol dan Kris akan memberangkat diri ke Paris untuk penyelidikan lebih lanjut juga menguak surat bisnis tanpa pengirim. Sekitar tiga bulan lamanya, batas maksimal pemberian ijin negara. Dan sekarang di sini lah ia, di bandara. Mengingat jika tidak memakan waktu yang sebentar, Sehun harus bersusah payah menyeret koper yang tidak biasa ia bawa dari pintu masuk Bandar Udara Nasional Ronald Reagan Wasington, memang merepotkan namun apa daya? Jemari kanannya menari lincah pada layar ponsel, menyusun dua belas deret angka, bukan geometri atau aritmatika namun nomor Kris, sahabatnya. Telepon itu tersambung beberapa detik untuk memastikan dimana kedua rekannya tersebut, setelah mendapat jawaban, sambungan itu terputus. Maniknya bergerilya hingga berhasil menangkap tangan seseorang di udara, itu tangan Chanyeol melambai padanya. Sehun menghampiri.

“Kau sudah membawa tiketnya?” tanya Sehun memastikan.

Chanyeol mengangguk, lalu menyerahkan tiket atas nama Sehun. Setelahnya menunjuk deret kursi ruang tunggu yang kosong berniat mengajak rekannya. “Ayo, tunggu di sana saja.”

Tidak menjawab, Sehun dan Kris melangkah mengikuti Chanyeol yang lebih dahulu menempatkan diri. Ketiganya beberapa kali terlibat obrolan tak berarti, ringan, penuh canda sebagai sesama lelaki. Seakan lupa bila tumpuk tugas telah menunggunya beberapa jam lagi. Tawa pun tak pelak menghampiri juga pukulan ringan karena menjadi bahan ejekan. Tak luput juga jeda mereka ketika Sehun sibuk dengan gadget, Chanyeol dengan putaran musik headset dan Kris? Seperti biasa, ‘jiwa’nya keluar bersamaan para gadis yang mencuri pandang. Chanyeol yang melihat itu segera bertindak memukul kepala Kris yang tepat di sampingnya. Jauh berbeda dengan Sehun yang memilih tak ambil pusing. Toh, ia sudah terbiasa.

“Hei! What’s wrong?” protes Kris mengasak bagian yang di pukul Chanyeol. Sang pelaku hanya meringis penuh dusta hingga Kris memutar bola mata muak. Ia tahu jika Chanyeol ingin bermain dengannya. “Sekali lagi kau menggangguku-” telunjuk Kris membuat garis lurus tak kasat mata di lehernya. “-mati kau!” Ancamnya penuh kilat.

Chanyeol pura – pura ketakutan, menyilangkan tangan di depan dada. “Aku takut.” Nada mengejeknya sangat ketara membuat Kris semakin membuka mata. Mengambil ancang – ancang untuk menghabisi salah satu rekan ‘kesayangan’nya. Sehun diam – diam melirik dan terkikik melihat tingkah konyol mereka berdua, meski tak dipungkiri Sehun sedikit terganggu namun Chanyeol dan Kris tetaplah sosok yang dapat merubah moodnya menjadi lebih baik dan membawa pada terangnya dunia yang munafik. Bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini? Dibalik kelebihan pasti ada kekurangan, dibalik tawa ada tangis di belakangnya. Begitu juga dengan mereka. Sehun dengan tahta, Kris dengan wanita, dan Chanyeol? Asal kalian tahu, dia awal berteman dengan Sehun karena hartanya. Ingat! Itu pada awalnya, kini tidak lagi. Bukanlah lucu? Atau justru menggelikan? Tiga hal yang membuat pria menjadi brengsek karenanya, tiga hal yang tak perlu lagi kalian catat karena semua manusia tahu, itulah harta, tahta, dan wanita. Sialnya, kekurangan mereka itu yang malah menjadi perekat hubungan ketiganya. Namun tetap saja, Mereka sungguh berharga, batin Sehun mengakui.

Kini Sehun beralih memfokuskan pandangan pada dua orang berjas hitam lengkap dengan kacamata senada. Lelaki itu menarik kedua alisnya mendekat, bergerut heran. FBI? Agen bantuan? Mungkinkah?

Kris harus membatalkan keinginannya untuk menghajar habis Chanyeol dengan sikunya saat dua pria asing menghampiri mereka, berucap sopan seperti mereka adalah tuan-nya. Oh! Mengenai ‘tuan’, Kris langsung melirik Sehun. Hanya dia diantara mereka yang mempunyai kuasa seperti itu, oh, ayolah bukankah ia sudah mengatakan jika penyandang nama Landsteiner itu anak pemilik Intercontinental Hotel Group? Tentu saja dengan ratusan ajudan untuk menguntit keluarganya kemana saja bahkan sampai ke ujung dunia dan Kris beri tahu bahwa dunia ini tidak adanya ujungnya jadi dapat dikatakan ajudan keluarga Landsteiner begitu setia hingga mempertaruhkan nyawa mereka untuk majikannya.

“Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya.” Bisik Chanyeol tegas di bahu Kris.

Keduanya pun kompak memandang Sehun curiga. Yang merasa diperhatikan hanya berujar ‘Apa yang kalian pikirkan’ dan praktis dapat diketahui bukan orang suruhan Sehun pula.

“Saya George dan ini Josh, kepala menyuruh kami untuk menghubungi kalian bahwa ada sedikit perubahan dengan perjalanannya.” Terangnya menjelaskan kegundahan ketiga lelaki lebih muda darinya.

Chanyeol terbelalak. “Apa? Perubahan bagaimana? Ketua siapa? Suho Kim?”

Mereka saling melirik. Salah satu dari kedua pria yang berambut pirang itu mengangguk. “Benar, tuan Suho Kim meminta kami membawa kalian dengan penerbangan pribadi. Pesawat sudah siap di bagian lepas landas.”

“Woah! Penerbangan pribadi? Baiklah, aku tidak menyangka, dia terlihat pelit tetapi aku akan mengganti penilaian padanya! Luar biasa!” Chanyeol tampak bersemangat terlihat ketika lelaki itu langsung beranjak dan menggait kopernya. “Hei, kalian! Kenapa diam saja, ayo! Jangan menghabiskan waktu!” teriakan itu untuk Sehun dan Kris yang masih duduk santai di kursi tunggu.

Kris melirik Sehun sekilas lantas menyusul Chanyeol yang hampir tak lagi terlihat karena tenggelam di antara lalu lalang pengguna bandara. Sehun terlihat menghela napasnya, karena melihat kelakuan Chanyeol, mungkin? Ya, lelaki itu memang mudah sekali terhanyut oleh fasilitas kelas satu, ingatlah harta adalah kelemahan Chanyeol. Sehun lantas mengikuti kedua rekannya tengah cekcok, Chanyeol yang menebak jenis pesawat itu dan fasilitas di dalamnya sedangkan Kris membalas jika hal itu tidaklah penting, yang harus mereka pikirkan adalah pemecahan tugas mereka dan juga … pramugarinya lalu dia tertawa karenanya. Sehun memutar mata jengah, adakah yang normal di antara mereka? Jawabannya jelas, tidak!

Paris, France

Janice tertawa setelah mendengar cerita panjang mengenai masa kecil Kai. Saat ini keduanya tengah berada di restoran langganan Kai, katanya restoran inilah dimana Kai pertama kali mengisi perutnya di Paris setelah menempuh perjalanan dari negara asalnya-Inggris lima tahun lalu. Tempat ini cukup nyaman untuk menghabiskan waktu makan siang dan mengobrol sebentar di sela kencan mereka setelah menonton film romansa berjudul Paris Je T’aime yang disutradarai Gerard Depardieu. Menurut Janice, Kai merupakan pribadi yang hangat dan menyenangkan. Bahkan membuatnya terkesima hanya dengan perhatian kecil selama mereka berkencan dan jika dilihat dari penampilan, mudah ditebak bahwasannya Kai merupakan anak bos besar dengan segala brand yang melekat padanya. Contohnya bisa mudah ditemukan pada luar restoran, sebuah mobil SUV mewah produksi inggris oleh Land Rover terparkir indah di sana.

24yo6ec

“Benarkah kau seperti itu? Aku tidak percaya, apa kau masih seperti itu sekarang?” Janice bertutur di sela tawanya. Kai bercerita bahwa dulunya ia mudah sekali tertidur tanpa peduli tempat, bahkan bila dalam wahana rollercoaster yang menuntut untuk berteriak histeris sekali pun.

Kai menganguk. “Ya, terkadang jika itu sesuatu hal yang membosankan dan membuatku mengantuk. Oh, apa kau suka pergi ke taman bermain? Bagaimana jika kita pergi ke sana setelah ini.”

“Aku tidak yakin, aku sejujutnya takut dengan beberapa jenis permainan pemacu adrenalin di dalam sana.”

Kai tersenyum tanpa sadar menggenggam tangan Janice di atas meja. “Tidak perlu khawatir, kita hanya menaiki wahana yang kau mau saja. Bagaimana?” lelaki itu tampak memandang Janice penuh harap dan semakin melebarkan sudut bibir ketika anggukan Janice berhasil di tangkapnya. “Baiklah habiskan makananmu, setelah itu kita berangkat.”

Seperti perkataan Kai, setelah Janice selesai dengan santapannya mereka berangkat menuju taman bermain. Menaiki berbagai wahana yang menenangkan meski tidak meninggalkan kesan menyenangkan keduanya. Bianglala, corausel, rumah kaca, dumbo sekiranya itulah jenis wahana yang Janice pilih meski terdengar kekanakkan untuk gadis usia dua puluh dua tahun tersebut. Namun, Kai tidak pernah menunjukkan aksi protesnya, lelaki itu justru menuruti permintaan Janice seperti saat ini. Mereka tengah berada dalam salah satu kereta untuk memasuki pameran boneka yang menyajikan lebih dari seribu boneka di dalamnya dengan sesekali menyesap eskrim rasa vanilla kesukaan Janice keduanya tampak tertawa ketika mengomentari boneka di sana. Janice kini memandang Kai yang sibuk meneliti boneka kayu dengan ukiran detail di hadapan. Lelaki itu telah sukses membuka hatinya, Janice tahu betul tentang itu.

“Kenapa?”

Janice terlonjak ketika Kai berbalik memandangnya, salah tingkah. Ia kedapatan mengamati Kai begitu dalam. “Ti-tidak apa – apa. Ah! Ayo kita mencari makan, aku lapar sekali!” usai berkata gadis itu buru – buru meninggalkan Kai yang tampak tersenyum di sana.

Kai tentu saja menahan tawanya melihat tingkah malu – malu Janice sangat kentara. Ia sebenarnya sudah tahu jika Janice menatapnya sedari lama namun Kai memilih untuk diam dan nyatanya gagal ketika wajah cantik gadis itu terus menatapnya dan begitu pula ada debaran tak menentu dalam tubuhnya.

Lelaki itu kini mencoba menyamakan langkah dengan Janice yang memalingkan wajah padanya, oh! gadis itu masih malu rupanya.

Washington DC, USA to Paris, France

Sehun meletakkan kopernya di bawah tempat duduk, saat pramugari ingin mengambilnya lelaki itu menolak karena alasan barang di dalamnya terlalu berharga untuk ditinggal sang pemilik dan perempuan cantik itu menggangguk mengerti beralih pada Kris. Dapat di tebak cassanova itu tampak menikmati hidangan didepannya-gadis cantik. Sedang Chanyeol terlihat masih fokus memesan menu makanan yang sekiranya pantas perutnya terima. Sehun beranjak menuju bagian belakang. Melirik dua orang pria berbadan kekar berdiri yang di temuinya di bandara, melapor bahwasannya Suho Kim memutuskan perjalanan pribadi untuk mereka, dengan fasilitas kelas atas tentunya. Keduanya berdiri karena pesawat ini hanya bermuat empat orang penumpang dan sudah terisi tiga, Sehun, Chanyeol dan Kris.

Sehun menarik kenop pintu kamar mandi ketika kedua tangannya dikunci dalam cengkraman seseorang, tangannya diikat kemudian dan disusul pandangannya menggelap. Bukan karena ia tidak sadar atau jatuh pingsan, namun karena sebuah kain hitam menutup kepalanya. Sialan! Pekiknya dalam hati.Ia merasa tubuhnya didorong kasar dan secara paksa menekuk kaki untuk berlutut. Sungguh ia tidak pernah di rendahkan seperti ini. Berlutut di hadapan orang lain? Membayangkan itu saja menggelikan, tapi nyatanya itulah yang dilakukannya sekarang!

Bariton menyapa indra pendengarannya dengan vokal tertinggi. Terdengar tegas, tajam, dan mengancam. “Pesawat yang tengah digunakan ini hanya muat untukku, anak buahku, pramugari dan satu diantara kalian bertiga!”

Sehun mengeja, ber-ti-ga? Apa? Bertiga? Jika begitu Chanyeol dan Kris tak jauh berbeda dengan keadaannya saat ini. Ia mengernyit ketika mendengar bunyi gesek di samping kiri dilanjut angin berkobar menghantam tubuhnya. Pintu darurat pesawat telah di buka.

“Yang pertama kali berbicara akan tetap di pesawatku!”

Seseorang menarik Kris dan meletakkan kepalanya keluar pintu, hanya kepala tidak lebih. Seakan – akan dapat dibuang kapan saja hingga terjun bebas ke bawah sana, tentu tanpa paralayang atau sesuatu yang menyelamatkannya. Pria kekar dengan suara bariton itu mendekat dengan pistol di tangannya. Bersiaga di dekat kepala Kris. Lagi, ia bersuara. “Apa kalian bawahan Suho Kim? Beritahu aku siapa itu Suho Kim! Hah?!” Tidak mendapatkan jawaban, dia menarik kunci pistol untuk melepas peluru. DOR! Bunyi melesat itu berhasil menyapa Sehun dan Chanyeol. “Dia tak terbang begitu baik.” Ucap pria itu setelahnya.

Sehun terlihat mengepal kedua tangannya, marah.

 “Mari kita cari tahu, siapa selanjutnya?” Pria itu memberi tanda pada temannya. Giliran Chanyeol yang ditarik. “Apa yang Suho Kim rencanakan dengan kalian?!” Lagi, ia tidak mendapat jawaban dari Chanyeol. Mengumpat, “Kau sungguh bawahan yang setia!” Hendak ia melesatkan pelurunya kembali ketika suara Sehun menarik perhatiannya kini.

“Mungkin ia penasaran, kenapa kau justru menembak seseorang sebelum melemparnya dari pesawat. Bukankah itu aneh? Dan perbuatan sia – sia? Kau bermaksud menakut – nakuti dengan menipu kami seperti itu? Kau sedang tak bercanda kan?”

Pria itu berdiri, menghadap Sehun. Menjajarkan tingginya dengan Sehun yang berlutut patuh. “Cih! Akhirnya kau berbicara. Who are you?”

Sehun tersenyum tipis dari balik kain yang menutupi seluruh kepala. Pikirannya pun berputar satu jam yang lalu ketika Suho Kim menghubunginya dalam perjalanan ke bandara. Aku baru saja mendapatkan konfirmasi mengenai pembobolan database di Markas Interpol yang berisi informasi data diri kalian yang sebenarnya. Hati – hati Sehun. Mereka sudah mengetahui bibit – bobot kau dan kedua rekanmu. “Tidak penting siapa aku atau kami bertiga, atau mungkin malah kalian sudah tahu. Namun yang terpenting sekarang adalah rencana kami.”

Pria itu menaikan salah satu alis, tangannya mengulur ragu menarik kain hitam, penutup kepala Sehun. Meneliti wajah Sehun secara keseluruhan. Beberapa otot wajahnya nampak tegang, tanda ia sedang kesal dan menahan dengan sabar. “Rencana?” Ia berdecak remeh. “Apa sekarang kau tertangkap seperti ini juga merupakan rencanamu? Hah?!”

Of Course!” Tegas Sehun menatap lurus pria berambut pirang yang diketahui bernama Josh sewaktu perkenalan singkat mereka di bandara. Ia tahu itu nama palsu. Sedikit mencuri pandang pada beberapa sosok pria di sampingnya, masih dua manusia yang memakai penutup kepala. Ia menghela nafas tak terlihat. Ada rasa lega ketika rekannya masih ada. Sesuai dugaan.

Tepat saat Sehun selesai berkata, tak jauh dari pesawat pribadi yang Sehun tumpangi kini terdapat sebuah pesawat lain yang tampak lebih besar, berada sedikit jauh di antara mereka. Lebih tepatnya pesawat itu sedang mendekati pesawat mereka.

tdkr-thirdtrailer4

Sehun melanjutkan. “Aku sudah mempunyai firasat ketika kau menyebutkan Suho Kim dengan ‘ketua’ karena aku dapat memastikan jika tak ada satupun orang yang memanggilnya seperti itu. Lebihnya lagi, kau membenarkan jika itu Suho Kim ketika rekanku lebih dahulu menyebutkan namanya dan sebelum itu kalian saling mencuri pandang. Itu sangat tidak rasional, bagiku. Mencurigakan.”

Pesawat besar itu kini tepat berada di atas mereka, meski masih mengambil jarak jangkauan karena masih dalam penerbangan. Bagasi pesawat itu terbuka secara otomatis. Beralih pada pilot pesawat pribadi yang tampak panik karena guncangan pesawat akibat dari pesawat yang lebih besar di atasnya kini, menekan beberapa tombol mencoba untuk mengontrol. Anak buah dan pramugari tampak panik karenanya.

Josh tertawa dalam bahak yang dipaksa. “ Kau jenius tapi harus sia – sia seperti ini. Congratulation! Kau membuat dirimu tertangkap! Sekarang apa yang kau rencanakan selanjutnya?”

Sehun menatap tajam, tanpa ada niat bercanda sedikitpun. Menyuarakan niatnya dengan nada intimidasi ketara dalam setiap penekatan kosa kata muntahan mulutnya. “Menjatuhkan pesawat ini-” ia berjeda.

dark_knight_rises_screen_capture08

Bagasi pesawat besar itu memunculkan empat orang yang siap meluncur dengan tali pengikat di tubuhnya, berseragam hitam pekat. Mereka menuju badan pesawat pribadi yang ditumpangi Sehun dan rekannya.

“-tanpa korban selamat.” Sehun beranjak menegakkan lututnya, melepaskan tali pengikat tangan dengan mudah. Disusul pecahan kaca di kanan kiri karena tembakan dari empat orang dengan senjata lengkap. Membuat kedua pria itu terperanjat. Sedang pramugari berteriak hebat dan begitu saja hilang kesadaran di tempat. Sehun menendang perut Josh, sayang pria itu tak merasa kesakitan sedikitpun. Kris dan Chanyeol juga siap di posisi hendak menghajar George bersamaan.

BUG! BANG! BAM! DUG! KRAK!

Begitulah sekiranya bunyi mereka berkelahi, ketika Sehun mendaratkan pukulan pada rusuk Josh, Chanyeol dan Kris bersamaan meninju pipi dan melempar Josh ke dinding pesawat. Dilanjut Sehun yang menahan bahu Josh dan menendang dengan siku kaki tepat di bekas pukulannya tadi.

Keempat pria berseragam hitam tampak meletakkan suatu alat di sisi badan pesawat, hingga berhasil membuat pesawat itu menggantung pada tali yang tadinya digunakan mereka untuk menggantung tubuh. Pesawat itu tak lagi sanggup untuk terbang, justru terperangkap dalam tali kencang yang berlogo FBI. Selesai memasang alat itu, mereka saling melirik dan mengangguk, sedikit menjauhkan tubuh.

BOOOM!

Bunyi ledakan menguar dalam telinga, bagian ekor pesawat itu terpisah dengan induknya menghasilkan lubang besar untuk dua diantara keempat pria itu masuk.

screen-shot-2012-07-22-at-2-48-03-pm

Pesawat yang tak lagi terlihat mewah itu tergantung menegakkan diri sembilan puluh derajat hingga membuat Sehun, Kris dan Chanyeol harus menahan tangannya pada bangku pesawat jika tidak ingin ambruk dengan George dan Josh di bawah mereka.

Dua pria berseragam lengkap itu segera memberi Sehun, Chanyeol dan Kris alat perlengkapan menuju pesawat utama, beberapa simpul tali yang tampak rumit.

“Pakai ini, kami menunggu di pesawat.” Ucap salah satu di antara mereka dan setelahnya meluncur ke atas.

Sehun mengangguk, sedikit berteriak. “Thanks, Luhan!”

Pria berseragam yang memerintahnya tadi membalas menggunakan simbol jarinya, yang tertanda ‘ok’ meski samar karena semakin jauh namun Sehun dapat melihatnya. Benar, pria itu Luhan. Sehun telah mengirim pesan darurat pada ponselnya sewaktu di bandara. Lebih tepatnya sebelum ia menyusul Chanyeol dan Kris. Luar biasa bukan? Ia bahkan sudah merancang rencana dalam waktu singkat, berdasar hanya firasat.

“Pakai perlengkapanmu, Hun!” Titah Kris yang tampak sedikit panik karena Sehun tak kunjung bergerak.

Sehun patuh, tak lagi berkata. Ia segera memasang pengaman di tubuhnya. Tak butuh waktu lama, tubuhnya sudah terikat dengan Kris dan Chanyeol.

“Siap?” Chanyeol memberi aba – aba memandang bergantian dua rekannya.

Sehun dan Kris mengangguk. Lantas Chanyeol menekan sebuah tombol yang membuat tali yang menompang mereka bertiga tertarik ke atas mendekat pada pesawat utama, pesawat bersimbol FBI kebanggaan mereka. Mereka melihat pesawat pribadi itu terlepas dari tali, terjatuh dan meledak di bawah setelahnya. Seakan mengabulkan keinginan Sehun, menjatuhkan pesawat ini tanpa korban selamat. Sekarang beri tepuk tangan meriah oleh lelaki yang memandang Chanyeol tanpa henti saat ini.

“Apa?” Chanyeol bersuara tanpa dosa berbalik menatap Sehun. Meski rasa gugup juga ada.

Kris memukul kepala Chanyeol. “Itu balasanku di bandara.” Sekali lagi tangannya menyentuh kasar kepala Chanyeol tanpa berhasil dielak. “Itu untuk kebodohanmu mudah percaya dengan orang lain dalam misi.”

“Huh, ya… I’m sorry.” Sesal Chanyeol meski sedikit tak terima karena Kris juga menikmati ‘fasilitas’ pesawat tersebut.

Sehun tersenyum meski tidak juga terlihat seperti itu tetapi setidaknya berusaha menghibur kawannya. “It’s okay Yeol, itu pembelajaran untukmu jika tidak berhati – hati, kau bisa membahayakan orang lain. Sebentar lagi kita sampai di pesawat. Siapkan diri kalian terutama dirimu Yeol.”

Chanyeol mendesah pasrah, tentu saja ia akan dicecar habis – habisan oleh Suho Kim. Ingat kah kalian jika pria bermarga Kim itu merupakan seorang perfectionist? Dan sekarang malah Chanyeol membuat kesalahan besar dalam misinya.

►Ensured – Considerable: END◄

♣Kotak Penulis♣

Hai! Jumpa lagehh~~ Sejujurnya chapter ini lebih pendek seribu kata dari sebelumnya ehehehe habis gimana dong? Point untuk chap ini selesai sampai adegan pesawat itu~ dan kalian dapet feel-nya ga sih? Aku baca ulang terus nambahin beberapa majas sama diksi biar kerasa feelnya tapi kalo belum maksimal maafkan, lagi belajar juga sih semoga ke depannya lebih baik memuaskan kalian ya hihi~

Ada yang sadar nggak kok author ENSURED ganti? Iya ganti, cuma ganti nama kok orangnya tetep sama ‘Shareena’ hihihihi~ kenapa ganti? yahh bosen sih pengen pake nama pena aja gitu biar sok sokan misterius (?) xD buat yang penasaran arti nama pena-ku Adora Amora itu ‘Cinta yang tercinta’ huekk sok manis gitu yaa xD Santai aja, udah aku siapin kantung muntahan xD

Uhukk! buat yang nunggu momen momen Sehun-Janice siap siap yaaa! Mulai Chapter depan kebanyakan di kota romantis a.k.a Paris!!! yuhuuuu!

Yang lagi bingung, Sehun-Kara/Sehun-Janice liat kedepannya yaa wqwqwq

Terakhir aku membawa kabar buruk sih~~

CHAPTER 5 UPDATE DI TUNDA!!!

DAN

DI PRIVATE

So, for you all yang belum ninggalin jejak alias jadi ghost reader sorry sorry aja lah yaww, harus berhenti perjalanan kalian di sini hew hew.

Yang mau password contact aja twitter @justshareena lewat DM a.k.a Direct Message. dengan sebutin nama kalian waktu komentar. PASTI DI BALES waktu H-1 UPDATE atau -kalo rajin- sebelumnya.

update 30 JULI ya paling lambat lambat banget 31 JULI lah yaa wqwq , Soalnya dua minggu ke depan ENGGAK NULIS SAMA SEKALI karena aku sedang menjalani tes dengan beban materi seambrek! Mohon di maklumi ya girls! Maaf bangett nanti gak di ulangi lagi kok toh ini nanti tes terakhir, minta do’anya buat yang terbaik ya girls! hehehe see yaa dua minggu lagi!!

2A

62 tanggapan untuk “ENSURED [4] Considerable”

  1. Tunggu… Kok aku agak bingung ada beberapa part yang aku ga ngerti :””v otw to chapter 5 ya thorr… Fighting jangan bosen bosen nulis semangat terus!!

  2. …………. huaaaaaaa. makin. bagus banget ceritanya. aku penasaran siapa cucu dari kakek pemilik toko yang di kunjungi sehun. sama sehun keren pas di pesawat itu loh

  3. ……….huaaaaaaa makin bagus dan terbuka ceritanya. aku bingung mulai dari mana komentarnya. 1.aku penasaran sama siapa cucu kakek pemilik toko yang sehun kunjungi. 2.kara dan janice cantik banget .terus baju yang janice itu lucu,cantik, imut 3. sehun makin keren, makin hebat .mungkin itu aja komen dari aku ,semangat yah kakak ditunggu next chapternya

  4. What the hell!! Emang ya sehun tuhh hebat bgt, Kris sama chanyeol aja bisa d kelabui!!
    Gmna ya nadib chanyeol yg d omelin sama suho langsung kicep aja,
    D tunggu lanjutannya

  5. Huaaa…. Udah berapa minggu gak baca ff trus buka buka email wh ada notifications ff ini dan ingan pernah baca ampe chap 3 , kangen banget …. Suka banget dan gak sabar baca chap 5 nya, fighting for the next chapter, thank you!!

  6. Sehun and the geng keren abissss….
    Akhirnya sehn berangkat ke paris…
    Dann itu artinyaaaaa,,, GAK LAMA LAGI BAKAL ADA SEHUN-JANICE MOMENT <3<3
    Ahhh pokoknya makin cinta sama ff ini
    Semangat kakak authorrr!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s