[EXOFFI FREELANCE] You are My Lantern (Chapter 8)

you are my lantern2.png

Title         : You are My Lantern Chapter 8

Author    : Galaxy Fan (@SalzaaFernindaa)

Length     : Chaptered

Genre        : Romance, Hurt, Sad, School Life, Friendship

Rating     : PG – 17

Main Cast     : Luhan (EXO-M)  Sohee (OC) Jong In (OC) and more other cast

Disclaimer     : Alo. Annyeong chingu. Lagi baca-baca FF ya. Uluh serius amat. Ini nih aku buat FF baru lagi. Selama ini aku belum pernah bikin FF pake main cast Luhan, eh tiba-tiba aja kepikiran bikin FF ini. Selamat membaca ^_^

Kulihat wajah pucat berada didalam dekapan Jong In. Wajah itu, wajah yang selalu ceria. Aku melihat Jong In menangis. Tidak mungkin. Baru kemarin aku memeluk tubuh itu dengan bahagia, tapi kenapa sekarang jadi begini. Tubuh yang terkulai lemas tak berdaya dipadu dengan merah darah.

“Sohee…” Ucapku lirih mematung didepan Jong In. Rasanya tak sanggup aku melihat gadis ini terkulai tak berdaya.

.

.

.

Chapter 8

Author POV

Bau obat-obatan menyergak sampai ketenggorokan. Lampu merah telah menyala sekitar tiga jam yang lalu. Dua namja menunggu didepan sebuah ruangan dengan gelisah. Sementara satu yeoja duduk dikursi tunggu dengan keadaan gemetar dan ketakutan.

Tiga jam yang lalu tubuh Sohee dibawa kerumah sakit oleh Jong In dan Luhan. Young Ah yang awalnya enggan untuk ikut dipaksa oleh Luhan untuk ikut kerumah sakit. Dokter menyarankan agar Sohee segera dioprasi karena benturan dikepalanya cukup keras. Jika tidak segera dioprasi maka nyawa yang akan menjadi taruhannya. Jong In tak bisa berbuat apa-apa lagi. ia hanya menurut kata dokter. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Sohee.

“Kenapa kau setega itu pada Sohee eoh?!” Jong In menarik tubuh Young Ah paksa sampai-sampai tubuh gadis itu berdiri tegap dihadapan Jong In.

“Jong In hentikan, kau bisa melukainya.” Luhan mencoba menenangkan Jong In. Tapi percuma, pikirannya sudah terpenuhi oleh emosi yang mencuap.

“Tapi hyung! Karena yeoja ini dongsaengku hampir mati!” Jong In menatap Young Ah yang masih tertunduk dan gemetaran.

“Mian , mianhae sunbae. Mianhae.” Airmata jatuh lagi dari mata Young Ah. Tapi walaupun Young Ah menangis darah sekalipun, Jong In akan sangat sulit untuk memaafkannya.

“Mwo?! Mian?! Setelah apa yang kau lakukan pada Sohee kau hanya mengatakan mian?!” Jong In semakin mendekatkan tubuhnya kearah Young Ah. “Dengarkan aku baik-baik. Jika kau bukan sahabat Sohee, oh maksudku bekas sahabat Sohee pasti sekarang kau sudah mendekam dipenjara. Sekarang menjauhlah dari hidup Sohee dan pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran.” Ucap Jong In sedikit berbisik tapi penuh dengan penekanan. Mendengarnya Young Ah berlari meninggalkan Jong In dan Luhan.

Selang beberapa menit kemudian lampu merah mati menandakan oprasi telah selesai. Tak lama kemudian dokter keluar dengan pakaian oprasi yang masih melekat ditubuhnya.

“Dokter bagaimana keadaan Sohee?” Jong In dan Luhan menunggu jawaban dokter.

“Oprasinya berhasil, tapi ada sedikit masalah. Kedua kaki nona Sohee sedikit mengalami masalah karena benturan yang cukup keras. Mungkin setelah sadar nanti nona Sohee akan sulit berjalan. Bahkan jika ia sudah pulih sekalipun.” Jong In dan Luhan mematung seketika mendengar penjelasan dokter.

“Tapi Sohee akan sembuh kan dokter?” Timpal Luhan dengan wajah cemas dan takutnya.

“Bisa. Tapi itu memerlukan waktu yang agak lama. Kalian bisa melatihnya berjalan setiap hari jika nona Sohee telah pulih. Kalau begitu saya permisi dulu. Oh ya. Nona Sohee sudah dipindahkan dikamar rawat sesuai yang anda pesan.”

.

.

.

Luhan melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah ruang rawat dirumah sakit. Hatinya terasa sakit melihat tubuh yang sedang terkulai ditempat tidur tak berdaya. Untuk bernfas saja harus menggunakan bantuan selang oksigen. Luhan menempatkan dirinya duduk dikursi yang terletak disamping ranjang Sohee. Ia membelai halus rambut Sohee.

“Chagia, jebal iroena. Bogoshipeo. Noemu bogoshipeo.” Luhan mencium telapak tangan Sohee yang dingin. Berharap gadisnya akan segera membuka matanya.

“Hyung sebaiknya kau pulang dan istirahatlah, aku yang akan menjaga Sohee disini.” Tiba-tiba Jong In datang menepuk pundak Luhan.

“Anni. Aku ingin menemani Sohee disini.”

“Istirahatlah hyung. Kau tampak lelah menemani Sohee seharian ini. Sohee akan sedih jika melihatmu seperti ini.”

Luhan sebenarnya ingin menemani Sohee dirumah sakit sampai sadar. Tapi Jong In benar, wajahnya terlihat sangat menyedihkan. Bagai raga tak bernyawa.

“Baiklah aku akan pulang. Jaga Sohee ne.”

“Tentu aku akan menjaganya hyung. Terimakasih karena kau mau menemani Sohee. Teruslah membuat Sohee bahagia.” Jong In tersenyum pada Luhan.

“Tentu.” Luhan segera pergi meninggalkan Sohee dan Jong In. Hatinya terasa berat sebenarnya, tapi secara fisik ia sangat letih.

.

.

.

Hari demi hari Luhan lewati tanpa Sohee. Setiap hari Luhan menyempatkan untuk menjenguk Sohee sepulang sekolah. Sudah hampir tiga bulan Sohee tertidur.

“Sohee-ah kau tau, setiap hari aku merasa kesepian. Aku sangat merindukanmu Sohee. Cepatlah sadar. Aku ingin memelukmu lagi. aku ingin menciummu lagi. aku ingin melihat senyummu itu Sohee.” Ucap Luhan dengan lirih. Luhan menenggelamkan wajahnya pada permukaan tangan Sohee. Ia menangis. Betapa ia merindukan gadisnya itu.

“Oppa…” Luhan menghentikan isaknya dari tangan Sohee karena merasakan gerakan dari tangan yang sedang digenggamnya. Senyumnya seketika mengembang mendapati Sohee yang melihatnya dengan tatapan sayu.

“Sohee. Kau sudah sadar?” Ucap Luhan dibalas dengan anggukan.

“Sohee…” Jong In yang tiba-tiba masuk kedalam ruang rawat Sohee langsung membaur memeluk dongasengnya itu.

“Hya oppa.” Sohee memukul-mukul tubuh Jong In yang tiba-tiba memeluknya erat. Membuatnya susah bernafas.

“Hya apa yang kau lakukan pada chagiku.” Luhan membantu Sohee untuk melepaskan pelukan Jong In yang terasa membunuh.

“Hehe mianhae. Aku terlalu senang saat kau sadar. Oh ya hyung, ikutlah dengnku sebentar ada yang ingin kubicarakan.” Jong In tiba-tiba menjadi serius.

“Wae? Apa tidak bisa membicarakannya disini saja?” Ucap Sohee bingung melihat Jong In dan Luhan yang saling menatap serius.

“Anni. Kau harus banyak istirahat Sohee.” Jong In mengecup singkat kening Sohee dan menarik Luhan keluar dari kamar rawat Sohee.

Setelah Jong In dan Luhan keluar dari kamar rawat, Sohee menjadi penasaran kenapa bicara saja harus diluar. Rasa penasarannya mulai bertambah ketika namanya disebut-sebut. Sohee hendak turun dari tempat tidur dan menyusul kedua namja itu. Tapi ketika kakinya menginjak lantai, sayangnya tak berfungsi dengan baik. Alhasil Sohee terjatuh dan terduduk dilantai.

“Aw… Kenapa dengan kakiku ini. Sulit sekali digerakkan. Atau mungkin karena kecelakaan itu. Mungkin besok akan sembuh.” Sohee mencoba berdiri lagi tapi untuk kedua kalinya ia terjatuh lagi.

“Hyung tolong jaga Sohee ne. aku akan kembali dalam satu minggu. Kau tau kan jika Sohee tak bisa berjalan. Kumohon bantu dia untuk berjalan lagi.” Suara samar-sama dari luar terdengar oleh orang yang dibicarakan. Sohee mematung dalam duduk.

Kaki yang seharusnya bisa menopang tubuh untuk berjalan. Kaki yang biasanya digunakan untuk berlari. Kaki yang seharusnya berfungsi tak lagi ada. Sohee fikir kakinya hanya kaku sementara karena kecelakaan itu tapi argumentasinya meleset. Kakinya tak akan berfungsi dalam waktu lama. Ia harus kembali belajar berjalan seperti balita.

 

Luhan POV

““Hyung tolong jaga Sohee ne. aku akan kembali dalam satu minggu. Kau tau kan jika Sohee tak bisa berjalan. Kumohon bantu dia untuk berjalan lagi.” Ucap Jong In sambil menepuk bahuku.

“Aku akan selalu menjaganya. Kau tak mau menemuinya dulu sebelum berangkat?”

“Anni. Aku akan langsung berangkat. Titip salamku ne.” Jong In segera melangkah pergi dari hadapanku. Aku pun juga segera masuk kedalam kamar rawat lagi karena mengingat Sohee disana sendiri.

Author POV

Tubuh luhan perlahan memasuki kamar rawat Sohee. Seketika matanya membulat ketika melihat penghuni ruang rawat itu terduduk dilantai. Rasa khawatirnya kembali memuncak ketika Luhan melihat butiran bening menetes perlahan dipipi penghuni ruang rawat itu. Tanpa berpikir panjang, Luhan segera menghampiri orang itu dan berjongkok didepannya.

“Chagia gwenchana?” Luhan hendak mengendong Sohee kembali keatas ranjangnya tapi saat itu juga tangan Sohee menolak tangan Luhan untuk menyentuhnya.

“Jangan sentuh aku oppa.” Ucap Sohee membuat Luhan terkejut.

“Wae? Ada apa denganmu?” Luhan menangkup pipi Sohee dengan kedua tangannya. Tapi tak lama kemudian tangan Sohee menepisnya lagi.

“Kubilang jangan sentuh aku oppa! Apa kau tak lihat. Aku cacat oppa! CACAT!!! Untuk apa kau disampingku lagi! Aku hanya akan menyusahkanmu!!! Kau akan malu berada disampingku!!! Kau akan menyesal menemaniku!!! Aku, aku bukan gadis yang sempurna lagi oppa!!! Untuk berdiri saja sangat sulit, aku – “ Belum selesai Sohee meneruskannya Luhan telah membungkam mulut Sohee dengan kecupan bibir. Dingin dan basah. Ya, Luhan ikut menangis. Ia merasa bersalah karena tak bisa melindungi Sohee saat itu.

Kecupan demi kecupan Luhan berikan untuk Sohee. Lewat kecupan itu Luhan berharap Sohee akan kembali tenang. Sesekali Luhan mengelus punggung Sohee dan mengeratkan pelukannya. Tak lama Sohee membalas kecupan itu. Dan tak lama juga kecupan itu berubah menjadi lumatan halus yang Luhan rindukan selama Sohee tertidur. Dengan berat hati Luhan melepaskan tautan bibir mereka. Kini matanya menatap lekat wajah Sohee yang masih setia memejamkan matanya.

“Sohee dengarkan aku. Aku tak akan pernah menyesal berada disampingmu. Aku bahkan sangat bahagia berada disampingmu. Aku sangat mencintai dan menyayangimu Sohee. Maafkan aku yang tak bisa melindungimu. Maafkan aku yang tak becus menjagamu. Aku akan membantumu Sohee. Aku akan membantumu berjalan lagi. Jangan cemaskan itu ne. Aku janji. Saranghae Sohee. Jongmal saranghae.” Luhan terus meneteskan airmatanya dipundak Sohee. Gadis itu sadar Luhan menangis. Ia segera mengangkat wajah Luhan dan menatap matanya lekat.

“Uljima oppa. Mianhae aku akan menyusahkanmu. Mianhae oppa. Jangan tinggalkan aku.” Sohee kini bergantian memeluk Luhan. Ia menyandarkan kepalanya didada bidang Luhan. Tangannya memeluk erat pinggang Luhan.

“Aku tak akan meninggalkanmu chagi.” Luhan mengecup kepala Sohee. Namja itu membalas pelukan Sohee dengan lembut.

Sudah lima hari  Sohee berada dirumah sakit. Setiap hari Luhan menemani Sohee dirumah sakit. Dan setiap hari juga Luhan membantu Sohee berjalan agar kakinya dapat berfungsi lagi. tak jarang Sohee terjatuh, tapi belum sempat Sohee mencium tanah Luhan dengan sigap menangkapnya.Bahkan Luhan rela ijin tak masuk sekolah sampai satu minggu hanya untuk menemani Sohee. Ia memutuskan melakukan home schooling. Itupun jika ia sempat. Sohee sering memaksa Luhan masuk sekolah tapi Luhan selalu menolaknya dengan alasan yang sama. Luhan tak ingin meninggalkan Sohe sendiri dirumah sakit.

“Oppa kapan kau akan masuk sekolah?” Ucap Sohee sambil menatap Luhan lekat.

“Sampai Jong In pulang. Bahkan sampai kau sembuh.” Luhan menjawabnya dengan santai.

“Hya oppa. Jangan bercanda. Aku bahkan akan melakukan home schooling sampai kakiku sembuh. Pasti itu akan lama. Lebih baik kau pulang sekarang dan istirahat. Jangan menungguku.”

“Aku sudah berjanji pada Jong In akan menjagamu selama ia pergi. Jangan memaksaku masuk sekolah lagi. itu tak akan terjadi jika kau terus memaksaku.”

“Call. Oppa kabulkan satu permintaanku.”

“…”

 

.

.

.

~TBC~

19 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] You are My Lantern (Chapter 8)”

    1. Mmm apa yaa, liat aja hari selasa/kamis/sabtu nanti yah,
      mianhae, baru sempet bales..
      kamsahamnida ^^

  1. untung aja nggak amnesia. luhan setia banget :3
    um.. tapi ko aku ngerasa ceritanya agak terburu-terburu ya. heheh.. *cuma dugaan ko* 🙂
    ditunggu kelanjutannya!!

    1. Luhan mah selalu setia. Bahkan Luhan masih inget uri magnae. huhu miss hunhan T_T
      lupakan, ikutin terus yahh, kamsahamnida^^

  2. Hamdallah sohee nggak amnesia..waaah sohee minta apa tuh..nggak mungkin minta anak kan ya?*eh😂😂
    Kak apa ini??kenapa pendek sekaliiii😢😢😢ku ingin yg panjang😂😂
    Next kak gpl😘fighting💪💪

  3. Hwaah untunglah sohee gx amnesia..huft
    Aduh ya ampunn luhan oppa baiikkk bangeettt.,

    Permintaan apa yg sohee buat untuk luhan???

    Next kakk dtunggu klanjutanya^^

    1. engga amnesia. aku juga ngga suka bikin cerita yang ujung-ujungnya hilang ingatan. ngga ada fluff nya sama sekali.

      permintaan apa ya???

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s