Le Dernier Arret – Side Story 1 “Ahn Chi” [1/2]

LDA

Le Dernier Arret – Side Story 1 [1/2]

Ahn Chi

Minseok / Sehun / Reen / Runa

AU / lil!Comedy / Fantasy / Friendship / Romance / Sad / Teen

anneandreas & l18hee

We own the plot and OC

.

Side Story of Le Dernier Arret

⇓ PREVIOUS ⇓

Teaser – Chapter 1 – Chapter 2 Chapter 3

= Side Story 1 – Ahn Chi [1/2] =

.

Awal mula Minseok terjebak dalam kubus hukuman, melepas ego untuk membiarkan sang gadis aman

.

.

Oppa!”

Atensi Minseok berpaling seiring dengan sahutan ceria yang keluar dari bibirnya, “Reen? Sudah pulang?”

Si gadis yang dipanggil Reen mengangguk semangat lantas mendudukkan dirinya di samping sang lelaki. Seakan tidak sabar untuk berbagi cerita, ia mengucap “Oppa, hari ini aku mendapat teman banyak sekali.”

Mau tak mau Minseok ikut tersenyum melihat gadis di sampingnya ini berceloteh bahagia, “Benarkah? Banyak sekali? Kau suka pergi sekolah dan belajar bersama manusia?”

Tanpa menunggu sekon berlalu, Reen menganggukkan kepalanya semangat. Kemudian ia pun berdiri lalu berputar di hadapan Minseok, membuat rok sekolah yang ia kenakan mengembang sempurna. “Tentu saja. Aku suka sekolah. Lihatlah seragam yang kupakai ini, sangat manis, kan?”

“Manis sekali. Lebih manis lagi karena kau yang memakainya,” sahut Minseok sambil mengangguk, membuat rona merah muncul tanpa diundang di kedua pipi milik Reen. Daripada semakin salah tingkah karena dibilang manis dari si lelaki pujaan, Reen mendudukkan dirinya kembali di samping Minseok dan berusaha merubah bahan perbincangan, “Oppa, manusia-manusia itu, mereka baik. Mereka tidak seperti yang kaum kita seringkali bilang. Buktinya mereka mau berteman denganku. Mereka juga mengajakku pergi menginap di penginapan tradisional milik nenek Seulgi di tengah hutan sana.”

Bukannya menunjukkan ketertarikan atau rasa semangat, Minseok justru memutar matanya dan menatap Reen tajam, ada sedikit rasa panik yang mencuat dari sana. “Kau jangan ikut bila pergi ke hutan.”

Senyum yang sedari tadi betah bertengger di bibir si gadis pun musnah, ini pertama kalinya Minseok melarang sesuatu yang ingin ia lakukan. “Kenapa? Kan, sudah kubilang, manusia itu baik-baik oppa,” jawabnya setengah mendesak.

“Sudah kubilang jangan. Mereka baik padamu karena mereka tidak tahu bahwa kau bangsa vampir!” Sebuah kalimat berintonasi tegas yang disampaikan Minseok membuat Reen mengerjap, lantas menghasilkan bulir air hangat di sekeliling pelupuk matanya, siap untuk menerobos keluar kapan saja.

Minseok bukannya orang jahat. Ia juga ingin Reen dapat berbaur dengan manusia, jika itu yang diinginkan si gadis. Tapi Reen adalah vampir yang masih kecil, ia bahkan masih belum bisa mengendalikan naluri vampir yang ada di dalam dirinya sendiri. Pun ia belum mengerti benar bahwa dunia manusia dan vampir sungguh berbeda, dan Minseok merasa percuma untuk menjelaskannya pada Reen. Biarlah seiring berjalannya waktu Reen akan mengerti. “Kau boleh ikut kalau aku juga ikut,” sahut Minseok kemudian.

Tepat saja seperti yang Minseok duga sebelumnya, rona wajah Reen secepat kilat berubah ceria. “Benarkah? Aku boleh ikut jika oppa ikut? Baiklah, aku akan memohon pada Seulgi supaya oppa boleh ikut. Tapi janji, loh, aku boleh ikut.”

Minseok mengangguk lantas tersenyum sambil mengacak pelan rambut si gadis. Berusaha mengesampingkan kekhawatirannya, dalam hati ia merapal doa semoga semua baik-baik saja. Semoga semua berjalan dengan baik-baik saja.

-0-

Oppa, sudah siap?”

Minseok tersenyum, bahkan ia tidak perlu menolehkan kepalanya untuk mencari tahu identitas si pemilik suara ceria. “Yap. Kau sudah membawa jaket?”

“Sudah.”

“Di hutan cuacanya dingin, anak kecil sepertimu harus menggunakan pakaian hangat,” lanjut Minseok lagi, kali ini seraya berjalan mendekati Reen dan mengalungkan syal lembut bergambar beruang di sekeliling leher sang gadis. Membuat rona merah lagi-lagi terpatri dengan jelas di sana.

“Aku bukan anak kecil, aku sudah empat belas tahun. Mentang-mentang tahun ini sudah delapan belas tahun, kau jadi merasa sudah dewasa begitu?” Setidaknya mengalihkan pembicaraan lebih baik ketimbang rona merahnya yang tak kunjung hilang terlihat oleh si lelaki.

“Ya, tentu saja aku sudah dewasa karena aku sudah delapan belas tahun. Dasar nona pipi merah, mengalihkan pembicaraan saja. Ayo, kita berangkat nanti teman-temanmu menunggu,” sahutnya sambil tertawa. Sementara Reen semakin tenggelam dalam rona merah pipinya sendiri yang kini sudah lebih pekat ketimbang warna kepiting rebus.

.

.

.

Minseok berjalan santai di dalam hutan, entah sudah berapa lama dirinya tidak menikmati alam seperti ini. Namun Minseok tetap tidak lengah, matanya kerap memandang ke depan, memerhatikan Reen yang berjalan ceria bersama empat anak─dua perempuan dan dua laki-laki─ seusianya. Kalau Minseok tidak salah ingat, gadis dengan rambut di kuncir kuda itu namanya Seulgi dan yang rambutnya lurus sebahu itu Joy. Sedangkan anak laki-laki yang memakai baju kotak-kotak itu Kyungsoo, yang berjalan di sampingnya─yang warna kulitnya agak gelap─dipanggil Kai.

Sebenarnya, Minseok tidak akan secemas ini jika saja Reen tidak pergi ke hutan. Tentu saja semua tahu bahwa hutan adalah tempat tinggal hewan liar, dan mungkin semuanya juga sudah tahu bahwa makanan vampir dibuat dari darah hewan. Meskipun tadi pagi Minseok sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Reen telah meminum sarapannya, namun tetap saja Minseok khawatir jika saja gadis itu melihat hewan berkeliaran dan tiba-tiba saja insting vampirnya bangkit serta─

Dor!

Mereka berenam otomatis berhenti melangkah kala suara tembakan senapan tidak jauh dari tempat mereka berpijak terdengar. Bahkan beberapa dari mereka menekan-nekan telinganya karena dengungannya masih begitu menusuk. Baiklah, selain hewan yang berkeliaran, senapan salah sasaran juga bisa menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan Minseok terhadap─

“Aaaakkhh!”

“Reen!! Mengapa kau memakannya?!”

“Reen memakan rusa itu!”

Jantung Minseok rasanya jatuh sampai ke perut ketika segerombol jeritan milik teman-teman Reen menggema di udara. Ia lengah. Ia lupa bahwa bunyi senapan tadi bisa saja berlanjut pada hewan liar yang terluka dan bau darahnya membangkitkan insting vampir yang ada di dalam diri Reen.

Dan kini sudah terlambat.

Minseok menatap Reen yang sedang berjongkok di samping rusa dewasa yang sebagian tubuhnya sudah rusak, karena darahnya dihisap oleh gadis vampir itu tentu saja. Dan ia masih tampak menikmati makanan lezat yang ada di hadapannya itu, lupa dengan teman-teman manusianya yang sedang melayang tatapan takut─dan jijik, tentu saja.

“Kau vampir?” Minseok mendengar salah seorang dari mereka berbicara, anak perempuan yang dikuncir kuda, Seulgi.

“Jadi, vampir benar-benar ada? Kupikir ibuku berbohong.” Kali ini suara si anak lelaki berkulit agak hitam. “Aku juga baru tahu kalau vampir benar-benar ada,” sahut anak lekaki lain yang berbaju kotak-kotak. Matanya yang membulat sungguh melengkapkan suasana tegang.

“Menjijikan.” Anak perempuan terakhir, Joy, ikut berbicara. Sebuah kata yang terdengar menyakitkan di telinga Minseok. Sebuah kata yang membuat Minseok tidak suka bergaul dengan manusia. Ingin rasanya ia meneriakkan sampai semua manusia tahu, vampir tidak menjijikan, vampir hanya berbeda.

Sebuah kata yang keluar dari bibir Joy itu jugalah yang akhirnya menyadarkan Reen. Minseok tahu dari kilat matanya yang sudah kembali normal, dan kini bahkan tampak tertekan dan merasa bersalah. Sementara semua teman-teman manusianya semakin memandang rendah pada si gadis.

“Ayo kita pergi! Aku takut sebentar lagi kita juga dimakan oleh vampir menjijikan ini!” Kalimat barusan terujar dari bibir Joy lagi, dan bahkan Minseok tidak tahu kapan gadis kecil itu sempat mengambil sebuah kerikil untuk ia timpukkan tepat ke dahi Reen yang masih mematung di samping bangkai rusa menyedihkan itu.

Joy yang pertama mengambil langkah untuk berlari, disusul kedua teman lelakinya yang sebelumnya sempat melontar tanya, “Haruskah kita laporkan pada Guru Kim?” Sedangkan Seulgi masih mematung di tempatnya berdiri, memandang Reen dengan tatapan takut. Reen baru saja berdiri dan hendak berjalan mendekati Seulgi ketika sebuah batu lagi-lagi ditimpukkan tepat ke kepalanya sehingga ia mengaduh pelan. Disusul suara Joy kemudian, “Seulgi, cepat lari! Nanti kau dimakan vampir jelek itu!”

Minseok yang sedari tadi terpaku merasa tidak sanggup lagi melihat gadisnya hanya diam saja saat menerima lemparan batu─dua kali─dari manusia yang sebelumnya disebut teman. Bahkan Minseok sendiri tidak menyadari bahwa dirinya juga melakukan pelanggaran lain─selain Reen yang menunjukkan jati diri secara terang-terangan di depan manusia─ketika dirinya tiba-tiba saja berlari dengan kecepatan tidak biasa ke arah Reen, mengangkat tangannya dan menggunakan kekuatannya untuk menghapus semua ingatan keempat manusia itu. Keempat bocah kecil tadi rebah ke tanah. Minseok menggenggam jemari Reen lagi sebelum berteleportasi ke tempat lain yang menurutnya jauh dan aman.

Bahkan Minseok masih sibuk mengurus Reen yang berlumur darah hewan lengkap ketika sebuah panggilan tercipta di alat komunikasinya. Dan sang lelaki tersadar, suka tidak suka sebentar lagi sebuah bencana besar akan menerpa dirinya.

Kantor pusat melakukan panggilan, dan Minseok tahu ia harus mengangkatnya.

.

.

.

-0-

.

.

.

Seorang gadis berkisar umur dua belas tahunan terlihat baru saja selesai mengikat rambut ke belakang. Dia meraih pena terdekat, menggoreskan berbagai macam huruf hingga terbentuklah sebaris kalimat bermakna.

Sehun dilarang masuk. Aku dilarang masuk, nih?”

Si gadis menoleh, mendapati lelaki dua tahun di atasnya─yang baru saja berucap─tengah menggores kernyit heran. Sang lelaki langsung merebut kertas sang gadis, mengangkatnya tinggi-tinggi, “Apa-apaan? Kenapa hanya aku yang tidak boleh masuk? Jelaskan ini, Kwon Runa.”

Runa menyedekapkan tangan di depan dada, “Karena cuma Oh Sehun yang suka masuk ruang penelitian pribadiku tanpa permisi.” Mendengarnya Sehun menahan tawa, “Ruang penelitian pribadi dari mana? Ini lebih ke gudang barang-barang anehmu, tahu.” Sehun seakan memandang remeh pada beberapa barang di sana. Dari mulai monitor tak terpakai yang sudah tak menyala─lengkap dengan keyboard dan speaker, buku-buku tebal tentang sejarah vampir─beberapa juga yang berkaitan dengan manusia, dan berlembar-lembar sketsa yang Runa sebut sebagai bahan penelitiannya. Sang gadis memang sangat suka meneliti hubungan vampir dengan manusia. Walau kenyataannya ia sendiri belum pernah diizinkan melangkahkan kaki ke dunia sesungguhnya di sana.

“Kalau tidak suka tidak perlu kemari! Sini kembalikan!” Kembali Runa mencoba meraih kertasnya, namun Sehun mengangkat kertas itu lebih tinggi. Dengan seringai yang sudah terpeta Sehun inginnya tertawa. Dia senang melihat bagaimana Runa memasang raut kesal setengah mati sekarang. Sebelum si gadis melayangkan pukulan, cepat-cepat Sehun mengambil langkah kabur. Dikiranya Runa tidak akan mengejar hanya untuk mendapatkan kertas yang lumayan tak berguna. Tapi, sang gadis justru semakin terpancing emosinya.

“Sehun jelek! Kembalikan!”

O, mungkin Runa sedang ingin main kejar-kejaran.

“Hanya kertas kenapa dikejar, sih?” Sehun sedikit kesal juga melihat Runa mati-matian mengambil langkah lebar di belakang. Sebal juga mengetahui bukannya berhenti untuk menyerahkan kertas, dia justru semakin ingin berlari. Reflek tengah dikejar masih dirasakannya. Seperti tetap ingin menghindar walau tahu jika ia berhenti itu akan menghasilkan efek lebih baik nantinya.

“Pokoknya kau akan jadi vampir paling jelek selama lima puluh tahun kalau tidak mengembalikannya!”

“Hei, kenapa mengutukku begi─WAKH!” Karena tak fokus pada jalanan di depan, Sehun berhasil menabrak salah seorang petugas khusus berseragam hitam. Biasanya petugas yang berkeliaran di kantor pusat mengenakan stelan dominan putih. Jika ada yang memakai warna hitam itu artinya akan ada sidang khusus sebentar lagi. Sidang untuk vampir pelanggar, tentu saja.

“Tuan Sehun, baik-baik saja?” O, ya, petugas seragam hitam juga bawahan devisi hukum. Berhubung Sehun anak dari Ketua Di visi Hukum, tentu tak heran banyak yang mengenalinya.

Dibantu salah seorang petugas, Sehun berdiri. Dia lantas mencari kertas yang tadi tak sengaja ia lepas. Maniknya menelisik cepat hingga terjatuh pada tangan seseorang yang baru saja memungut kertas incarannya. Seorang gadis dengan gaun corak merah kini tengah membaca deret huruf di sana─

“Sehun, sudah kubilang─eh?” Tepat saat Runa sampai, ia langsung bersitatap dengan gadis tadi. Ada semacam kode permohonan yang Runa kirim melalui tatap matanya. Membuat sang gadis gaun corak merah lantas mengulungkan kembali kertas tadi, menatap Sehun dan Runa bergantian.

“Reen, sidangnya sudah dimulai.” Petugas yang sebelumnya sudah membantu Sehun berdiri angkat bicara. Membuat gadis itu memutus kontak mata dengan Runa untuk bergegas pergi.

“Baunya membuatku lapar.” Yang pertama berucap adalah Sehun, memancing Runa mengernyit heran, “Bau darah. Dia baru saja melakukan sesuatu?” Dia terdiam beberapa saat hingga menyadari Sehun akan kembali mencuri kertasnya. Lekas Runa mengelak, melipat kertasnya cepat-cepat sebelum disarangkan di saku celana. “Lihat sidang, yuk.”

“Malas. Kita, kan, sudah lihat berkali-kali. Bagaimana jika main saja?” Berbagai macam jenis permainan sudah membentuk bayangan di atas kepala Sehun. Namun dengan cepat Runa menepisnya, “Ada vampir seumuranmu, lho. Aku bisa punya teman, dan kau bisa punya pacar. Bukankah itu menguntungkan semua pihak?” Memasang wajah datar adalah yang Sehun lakukan, “Apa kau serius ingin lihat sidang karena itu?”

“Ada vampir perempuan, Sehun. Ayo, lihat.”

Sejenak Sehun menatap Runa, sampai akhirnya ia mengangguk. Membiarkan Runa bersorak kecil sebelum menuntun mereka menuju ruang sidang. Tapi tidak semudah itu sampai di ruang sidang dengan gadis tadi─Reen─di dalamnya. Ada beberapa ruang sidang yang harus mereka teliti. Di ruang kesembilanlah akhirnya manik Runa berbinar semangat, “Itu, itu, dia yang tadi.” Ditariknya ujung pakaian Sehun yang malah terkesan malas-malasan.

Ruang sidang itu memiliki berderet-deret tempat duduk yang mengelilingi sebuah kursi di tengah ruangan. Ada kaca khusus yang memisahkan kursi terdakwa─sebut saja begitu. Juga, lantai untuk hakim dan bangku-bangku lain sengaja dibuat tinggi. Sungguh semakin memberi kesan mengintimidasi. Apalagi dilengkapi dengan alat keluaran terkini perusahaan mereka yang sanggup menampilkan bukti dari setiap sudut nyaris tanpa cela.

Sekarang, di kursi tengah ruangan, duduk seorang lelaki dengan pakaian berbercak yang sama pada gaun Reen. Memasang ekspresi tak tergambarkan seraya menatap Reen yang berdiri gugup di luar kaca. Kendati sudah dipersilakan duduk oleh petugas yang mengawalnya, Reen bergeming. Rasanya kurang ajar sekali dia bisa duduk enak di saat seperti ini. Namun tatap menenangkan milik Minseok terlampau mudah merasuki benaknya. Ketika sebuah sentuhan mendadak Reen rasakan di pundaknya, ia menoleh cepat. Mendapati gadis yang ia temui sebelumnya sudah berdiri di sampingnya.

“Kurasa lelaki itu ingin kau duduk.” Senyum yang disuguh mengingatkan Reen pada beberapa kawannya yang dengan tega telah menyakitinya. Dia sedikit menjauh, “Kau … vampir?”

“Kau pikir di kantor vampir ada siapa lagi selain vampir?” jawaban ketus ini terlontar dari bibir seorang lelaki yang mengekor gadis tadi. Reen langsung terdiam. Membuat gadis di depannya menyikut rusuk sang lelaki, “Sehun, jangan begitu, nanti kau makin jelek.” Yang dipanggil dengan nama Sehun menunjukkan ekspresi sebal.

“Aku Runa, dan … yah, aku vampir.” Rasanya aneh memperkenalkan diri sebagai vampir, mengingat Runa sendiri menghabiskan seumur hidupnya bersama vampir yang tak pernah bertanya dia vampir atau bukan. Ah, sudahlah, semakin lama kenapa terasa semakin membingungkan?

Merasa aman yang didekatnya adalah vampir, Reen lantas memasang ekspresi sedikit lega. Dia menangkap kode dari Runa untuk mengambil tempat duduk. Tadinya Runa ingin membuka pembicaraan lagi, nyatanya sidang justru dimulai lebih cepat.

“Kim Minseok. 18 tahun. Dua pelanggaran berat dan satu pelanggaran ringan.”

Runa memerhatikan Ayah Sehun─Ketua Oh─yang duduk paling tengah. Rahang tegasnya sama persis dengan milik Sehun, yang berbeda hanya pada matanya yang lebih terkesan lebar. Bingkai kacamata membuat sang ketua semakin terlihat berwibawa. Sedikit berbeda dengan kesan wajah dingin yang Sehun tunjukkan.

Beberapa peraturan awal dan sepatah dua patah kata pembukaan yang biasa dilakukan saat sidang terdengar. Sampai pada akhirnya Ketua Oh sampai pada pembacaan pelanggaran.

“Menggunakan kecepatan di depan manusia, apa itu benar?” Ketua Oh berkata dan menatap Minseok yang menyuguh aura tenang. Sepertinya tahu hal seperti ini akan terjadi padanya. “Ya, saya melakukannya.”

“Menghapus ingatan empat anak manusia di bawah umur, benar?”

Minseok mengambil jeda sebelum menganggukkan kepala, mengucapkan kalimat yang sama, “Ya, saya melakukannya.” Lantas Ketua Oh membenarkan kacamatanya, “Melakukan teleportasi dengan sengaja, benar?”

“Ya, saya melakukannya.” Sekuat tenaga Minseok menahan diri untuk melabuhkan tatap pada Reen. Mencoba terlihat baik-baik saja. Mengatakan dia melakukannya dengan kalimat yang sama, karena tak ada lagi yang bisa ia katakan selain itu, kan?

“Tunggu sebentar,” alis Ketua Oh menyiku, “Di sini disebutkan ada dua vampir. Kenapa hanya ada satu yang kusidang?” Terlihat tak suka, beliau mengajukan protes pada pria paruh baya di sampingnya. Pria paruh baya barusan langsung mendekatkan diri untuk membisikkan sesuatu. Membuat Ketua Oh manggut-manggut. Entah kenapa, Minseok yang tadinya menyuguh wajah tegang mendadak sedikit mengembus napas lega ketika Ketua Oh tak membahasnya lagi.

Sidang kembali berjalan. Tidak begitu lama dan menegangkan berkat Minseok yang sama sekali tak memberi sanggahan. Dia menceritakan detail kejadian tanpa bumbu, pas dengan bukti yang sudah ada dalam genggaman Ketua Oh.

Hingga pada akhirnya keputusan final penuh pertimbangan pun diambil. Ketua Oh mengucapkannya dengan yakin setelah sedikit berdiskusi dengan dua pria paruh baya di sampingnya. Kala mencapai ucapan final─

“… hukuman Ahn Chi selama dua belas tahun dunia manusia.”

─tahu-tahu saja Reen pingsan.

.

.

.

.to be continue

Side Story masih belum selesai. Kabar baiknya lanjutan akan dirilis secepatnya. Secepat angin kentut Sehun/gak/ Secepat senyum melelehkan Minseok/eaaak/ditabok/

Ada kejutan di Side Story lanjutan lho 😉 Jadi cuap-cuap di sini gak bakal banyak. Baca lanjutannya juga yaaah… Love u gaes ❤

.anne&nida.

38 tanggapan untuk “Le Dernier Arret – Side Story 1 “Ahn Chi” [1/2]”

  1. Karena sebelumnya aku udah nonton drama “Orange Marmalade” aku jadi kebayang dengan hukuman Ahn Chi! Omg, horrible! Kasian Minseok Oppa T_T

    penasaran! lanjut ah next chap!
    *btw, aku new reader yang langsung marathon wkwk*

    1. iya kasian 😦 ya gitu deh, kan gak enak tuh ya dihukum kek gitu, jadi ikut terpuruq /g
      wiiih, makasih banyak udah kuat baca ff kamii, maaf ini author”nya lagi sok sibuk sama real life 😦

  2. waaahhh.. hari ini aku bener bener coment marathon, berhubung minggu minggu ini sinyal internet soak dan bikin emosi, jadi ini awal mulanya si reen ketemu ama sehun runa ya.. sehun ama runa ternyata udah temenan dari kecil, dan jahil nya sehun kayaknya udah bawaan ya.. hahaha
    oke lah pokoknya aku langsung baca next chapternya ya

    1. ciye yang komen marathon/laluditampar/canda/
      kami doakan sinyalmu lancar terus hashek~
      yap, ini awal mula gimana reen bisa ketemu sehun-runa, dan bisa akrab gitu wk
      iya sehun-runa udah temenan dari kecil soale anak anak di kantor pusat dulu cuma mereka :’)
      iya sehun mah aslinya begitu, dari lahir dia
      okeee~ silakan~ ❤

  3. Sehun Runa ini ngingetin kenangan masa kecil banget 😀 wkwk
    Kalok Umin Reen puy kesan dewasa gitu2 😀 /nad kamu teh ngomong apa:3

    1. eyak haha iya emang mereka masa kecilnya bikin baper orang/gakgitu
      iya umin-reen emang udah dewasa, jadi sering sowit bikin ngiri gimana gidu wkwk

  4. Reen imut2 bgt sih.. & Umin ngemong bgt. Uwah.. Sehun anak Ketua Div. Hukum toh, pantes skp tuan muda angkuh sangat kentara dr diri’ny. mana jail sangat! /cm ke Runa sih/
    12th wkt manusia tuh brp lama wkt vampire? Dr deskripsi ruang sidang’ny kebayang ruang sidang di kntr Kementrian Sihir film Harry Potter. Enak’ny Runa udah sm2 Sehun dr jmn bocah gt.

    1. ahaha mereka pasangan yang lebih dewasa yak… udah dari jaman dulu soale wkwk
      yap bener, pas banget sehun sama posisi anak ketua bagian hukum, tuan muda banget ahaha
      12 tahun manusia sama kayak 12 tahun vampir (kalau hitungan waktu) bedanya itu perubahan pertubuhan mereka. kalau vampir pertumbuhannya bakal lebih lambat dibanding manusia kalau udah di umur 18, ini semoga kamu ngerti hehe
      kami nulisnya ngebayangin itu btw hahaha cucok ya/dibalang
      iya sayangnya hubungan mereka belum jelas jelas 😦

    2. oh.. gitu ya 🙂
      moga hub sehun-runa scptny da progress & bs ber-romens2 ria ky couple umin-reen ^ ^ tp wlw hub sehun-runa blm jlas2, msh sring brantem, tp kocak jg they’re in romance-hate relationship, cute!

  5. okeee aku pikir ahn chi nama orang atau nama apa…
    ternyata itu nama hukuman!!! oala ini otakkk wkwkkw
    tapi aku suka fanfic inii… semangat thor

    1. iyaa soswit banget dia, bikin ngiri/plak
      itu dia begitu karna ngerasa bertanggung jawab juga sih sama reen 🙂 gambaran pacar idaman eyaaaakkk

    1. iya kasian mereka 😦 hubungan kedua kapel ada aja ya rumitnya haha/gak
      yap, makasih masih menunggu, kami terharu :’) sini sini peluk {}

  6. Temen temennya tega banget, apalagi si Joy minta dijambak :v
    Sehun ma Runa dari kecil sudah nempel nieee, kapan pacaran cobak
    Lama banget hukumannya….. 12 th was
    Fighting thor!

    1. itu mungkin karna pandangan mereka yang buruk tentang vampir yah haha
      iya mereka udah nempel karna anak-anak di kantor cuma mereka :’v kapan ya pacaran wkwkw
      12 tahun pun tak akan mengalahkan cinta umin-reen EYAK HAHA
      makasih makasih banyaaaaakkk

  7. ohh i know sekarang..sok inggris
    kirain ahn chi itu nama orang yg menghukum, nyatanya memang otak saya susah klopnya hahaha

  8. Ohh jadi itu yang namanya hukuman ahn chi wah aku jadi penasaran ama kelanjutannya ditunggu next chapternya semangat yaa kak!!

  9. Ternyata hukuman ahn chi itu bgtu? Tpi masih blm jelas sih kak..hehe
    Ngebayangin sehun and runa msih kcil gmna gtu ya..kkkk
    “Ada vampir seumuranmu, lho. Aku bisa punya teman, dan kau bisa punya pacar. Bukankah itu menguntungkan semua pihak? Aduh runa kmu itu..ckckck

    Woah ada kejutan apa nih kak? Aku pnasaran nih^^
    Next kak dtunggu loh ya 🙂

    1. di side story ahnchi [2/2] bakal dijelasin lebih detail lho wkwk (aku yakin kamu udah baca, karna aku balesnya ini telat/digeplak kaknean)
      ahaha runa ngomongnya asal gimana gitu ya wkwk
      makasih banyak udah terus nunggu buat fic kami ini sini sini peluk {}

    2. Iya kak, aku udah ngerti.. Bner tuh di side story yg ke 2 detail banget..hihi iya aku udah baca kok kak^^. Telat juga kan pasti ada kendala / semacamnya yg harus kakk urusin lebih dulu 🙂 aku maklumin kok kak^^
      Iya kak..
      Sama sama kakk.. /pepukpeluk..wkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s