FATA CRUENTA [Episode 3] – by Gecee

fata-cruenta - poster 1

 

Gecee proudly present

 

F A T A C R U E N T A

Starring :

EXO’s Chanyeol
Kim Yoojung

 

Ide cerita punya Gecee, tapi semua castnya bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on FATA CRUENTA:
[TEASER] | [EP 1] | [EP 2]

This awesome poster was made by HRa @ Poster Channel

“Duduk saja dulu di sini. Aku akan ke dapur untuk mengambil minum.”

Yoojung menundukkan kepalanya sedikit. “Ah, ne. Gamsahabnida.” Gadis itu pun duduk di salah satu sofa hitam yang ditunjuk lelaki itu. Sementara lelaki itu meninggalkannya untuk ke dapur, Yoojung mengedarkan pandangannya melihat-lihat sekelilng.

Rumah itu tidak terkesan besar dari luar, namun siapa sangka ternyata di dalam rumah itu ternyata luas? Ruang tamu ini diisi dengan sofa hitam panjang dengan meja coklat muda di hadapannya. Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah vas cina berukuran besar yang Yoojung yakin harganya sangat mahal, sementara di sudut lainnya terdapat sebuah pahatan kayu berbentuk beruang yang siap menerkam. Di dinding tergantung beberapa foto keluarga yang juga berukuran besar, dibingkai dalam sebuah figura berukir.

Yoojung tersenyum. Rumah ini terlihat menarik. Sepertinya lelaki itu adalah seseorang yang memiliki nilai seni tinggi.

“Overdozed-ssi,” Yoojung berusaha memanggil lelaki yang sedang berada di dapur itu. “Rumahmu benar-benar keren!” puji gadis itu. “Aku melihat banyak karya seni di sini. Apakah kau seorang kolektor barang antik?”

“Tidak juga,” jawab lelaki itu singkat dari dapur.

Yoojung berujar lagi, “Kalau kau tidak keberatan, aku ingin bertanya sesuatu. Apa pekerjaanmu?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Dan ya, aku keberatan.”

Gadis itu menundukkan kepalanya. “Ah, mianhaeyo. Aku hanya penasaran.”

“Jangan tanya macam-macam. Duduk saja dulu di situ.”

Ne.”

***

Chanyeol mengeluarkan dua cangkir teh dari lemari dapurnya. Dengan hati-hati ia menuang air panas ke dalam cangkir, lalu meletakkan dua kantong teh ke dalam masing-masing gelas. Ia hanya perlu menunggu dua hingga tiga menit sampai ekstrak teh itu keluar.

Sementara menunggu, lelaki jangkung itu mengeluarkan sebuah plastik kecil dari kantong celananya. Kantong kecil itu berisi sedikit serbuk putih, serbuk putih yang dapat menyebabkan siapapun yang mengonsumsinya dapat langsung kehilangan kesadaran saat itu juga.

Baiklah, ia tidak akan berlama-lama. Rasanya sudah terlalu lama ia meladeni gadis bernama Kim Yoojung itu. Ini bukanlah tipikalnya untuk membiarkan seorang gadis yang sudah jatuh ke tangannya hidup berlama-lama. Ia sudah memutuskan untuk menghabisi Yoojung sekarang juga.

Perlahan, Chanyeol merobek bungkusan itu dan mulai menuangkan isinya ke salah satu cangkir. Namun ia merasakan sesuatu yang menepis tangannya. Chanyeol menoleh. Dilihatnya adik perempuannya sudah berdiri di sebelahnya sambil menahan pergelangan tangannya.

“Yoora-ya,” ujar Chanyeol. “Sedang apa kau di sini?”

“Tidak bisakah kau hentikan semua tindakan menyedihkanmu ini, oppa?” balas Yoora dengan suara bergetar.

Chanyeol menggeleng kuat. Ia tidak boleh goyah. Ia harus tetap pada pendiriannya. “Tidak bisa, Yoora-ya. Aku sudah terlanjur sampai di titik ini. Aku harus menyelesaikan semua.”

“Lalu apa? Apa yang oppa dapatkan setelah membalaskan semua dendam oppa?”

Chanyeol bermaksud untuk mendiamkan adiknya – arwah adiknya – tersebut. Ia kembali dengan niat awalnya menuangkan bubuk mematikan ke dalam cangkir. Melihat itu, Yoora merebut bungkusan itu dari tangan kakaknya dan melemparnya sembarangan. Chanyeol menjadi kalap. Lelaki itu akhirnya membanting salah satu cangkir ke lantai.

PRANG!!!

“AISH!!” Chanyeol mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Ditatapnya Park Yoora yang sedang berdiri mematung dengan mata yang berkilat-kilat marah.

“Kau tahu apa rasanya kehilangan? Kau tahu kesedihan yang selama ini kutanggung akibat kau yang pergi begitu saja meninggalkanku? Apa kau mengerti rasa marah yang kurasakan karena tidak mampu menjagamu dengan baik?”

Yoora menggelengkan kepalanya, terisak. “Oke, aku memang tidak tahu! Tapi apakah itu berarti oppa harus melakukan semua ini? Apakah semua tindakanmu itu dapat menghidupkanku kembali? Dapat mengisi kekosongan hati oppa? Huh?”

“Yoora-ya, kau – “

Kata-kata Chanyeol terpotong begitu ia mendapati adiknya telah menghilang dari hadapannya, digantikan oleh sosok Yoojung yang sedang menatapnya khawatir. Entah sejak kapan gadis itu sudah berada di sini.

“Overdozed-ssi, gwaenchanhayo?” tanya gadis itu.

“Huh?” Untuk sejenak Chanyeol merasa kebingungan, tetapi kemudian ia mengangguk. “Eoh.”

“Kau sedang berbicara pada siapa? Kenapa kau sampai berteriak-teriak seperti itu? Dan, astaga… kenapa cangkir ini bisa sampai pecah?”

Chanyeol seperti baru tersadarkan akan sesuatu. Melihat Yoojung yang sedang berjongkok sambil memungut pecahan kaca di lantai, buru-buru ia mengambil pecahan-pecahan itu dari tangan Yoojung, kemudian mencegah gadis itu mengambil pecahan cangkir lainnya.

“Biar aku saja,” ujar Chanyeol.

Gadis itu menggeleng. “Aniyo. Walaupun aku hanya tamu tetapi sepertinya kau butuh bantuan.”

“Biar aku saja,” ulang lelaki itu. “Kau boleh pulang sekarang.”

“Aku tidak mengerti,” Gadis itu menyilangkan tangannya di depan dada. “Setiap kali kau mengajakku berkencan, kencan kita akan berakhir dengan kau mengusirku. Sebenarnya apa maumu? Kalau aku membawa masalah untukmu, bilang saja.”

Chanyeol menatap Yoojung tajam. “Berhenti berdebat denganku, atau kau akan – Aduh!”

Setetes darah segar mengalir dari telunjuk Chanyeol yang rupanya tertusuk pecahan kaca.

Gadis itu langsung terlihat panik. “Aduh! Kau tidak hati-hati, overdozed-ssi. Lihat kan, kau memang butuh bantuanku?” Yoojung berdiri, kemudian membuka laci dapur satu per satu. “Dimana kau menyimpan perban serta obat merah? Luka itu harus segera diobati.”

Chanyeol cepat-cepat bangkit lalu menghampiri gadis itu untuk memegang pergelangan tangannya, berusaha menahan Yoojung meneruskan kegiatannya. “Yoojung-ssi, aku tidak butuh bantuanmu. Jadi lebih baik kau pulang sekarang. Biar aku yang pesankan taksi untukmu.”

Sejenak gadis itu menatap jemari Chanyeol yang terluka, kemudian tertawa kecil. “Oh, astaga. Kau tidak membutuhkanku? Baiklah, aku juga tidak membutuhkanmu. Siapa yang sebenarnya dari awal mengajak untuk melanjutkan kencan yang tertunda?” Gadis itu berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil tas tangannya. Chanyeol hanya mengikutinya dari belakang.

“Dengar overdozed-ssi,” ujar gadis itu sejenak sebelum benar-benar meninggalkan rumah Chanyeol. “Mulai sekarang aku harap di antara kita tidak ada hubungan apapun lagi. Jangan pernah menghubungiku, mengirim pesan kepadaku, dan jangan harap aku akan merindukanmu atau mencarimu atau semacamnya.”

***

Begitu Yoojung kembali ke apartementnya, hal yang pertama kali ia lihat adalah Rahee dan Youngdo yang sedang menonton film di sofa ruang tengah sambil saling merangkul. Keduanya tertawa-tawa terlihat menikmati film, berbeda jauh dengan suasana hati Yoojung saat ini.

Rahee yang pertama kali menyadari keberadaan Yoojung. “Oh, Yoojung-ah. Neo wasseo?”

Yoojung hanya merespon dengan anggukan pelan.

Nuna? Wae geuraeyo?” Youngdo bertanya. Tetapi Yoojung hanya menggeleng.

“Rahee-ya, Youngdo-ya, aku masuk dulu,” ujar Yoojung. Gadis itu berjalan menuju kamarnya. Masuk, lalu menutup pintu.

Yoojung merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Dipejamkannya kedua matanya. Otaknya mencoba berpikir kesalahan apa yang pernah ia buat kepada Overdozed-ssi. Jujur, Yoojung tidak habis pikir mengapa lelaki itu seperti mempunyai kekesalan tersendiri padanya. Mengapa kencan buta mereka tidak pernah berakhir dengan baik. Mengapa lelaki itu selalu mengusirnya.

Pintu kamar Yoojung terbuka. Dilihatnya Rahee yang sedang berjalan ke arahnya, lalu duduk di tempat tidurnya.

Rahee menepuk paha Yoojung pelan. “Ada apa denganmu? Kau pulang cepat lagi malam ini, apa terjadi sesuatu?”

“Hmm.” Hanya itu respon Yoojung.

“Gara-gara Overdozed-ssi? Karena kencanmu dengan Overdozed-ssi?” tanya Rahee lagi.

Yoojung menegakkan badannya dan duduk di tempat tidur. Lengannya memeluk erat sebuah bantal. “Aku tidak mengerti kesalahan apa yang pernah aku perbuat padanya. Rasanya aku selalu bersikap sopan di hadapannya, selalu menunjukkan sisi ramahku, berusaha bertingkah laku yang baik dan manis padanya. Tapi pada akhirnya, ia selalu mengusirku, menolakku.”

“Mungkin ia tidak suka padamu?”

Yoojung menatap mata Rahee tidak mengerti. “Maksudmu?”

Rahee berdeham sejenak. “Ehm, maksudku adalah, kau dengannya kan baru mengenal satu sama lain. Bahkan kalian bertemu melalui sosial media. Mungkin ia merasa sikapmu itu terlalu agresif, kau terlalu ingin cepat dekat dengannya.”

“Apa masalahnya dengan itu?”

“Ia tidak nyaman.”

“Aaah….” Yoojung mengangguk, kemudian ditatapnya lagi sahabatnya itu. “Tapi, tidak bisakah ia menjelaskan ketidaknyamanannya itu dengan cara yang lebih baik, tanpa harus melukai perasaan seperti ini?”

Rahee hanya menggeleng pelan. “Entahlah.”

“Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

Rahee meletakkan tangannya pada pundak Yoojung. “Jauhi saja ia. Jangan dekati dia, jika ia meminta untuk bertemu, bilang saja kau sedang sibuk. Mungkin ia bukanlah jodoh yang Tuhan kehendaki untukmu.”

Perkataan Rahee tersebut membuat Yoojung menundukkan kepala dan menghela napas. “Aku juga inginnya begitu. Otakku mengatakan untuk berhenti menemuinya, tetapi hatiku berkata lain.”

***

Pintu besi itu berdecit untuk kesekian kalinya, menawarkan suasana ngeri bagi siapapun yang membuka. Hawa dingin menyambut, disusul dengan bau pekat yang membuat bulu kuduk merinding. Chanyeol melangkahkan kakinya masuk ke ruang bawah tanah tersebut, sebelum kembali menutup pintunya.

Tungkainya membawanya menyeberangi ruangan, menuju ke sebuah pojok dimana terdapat jeruji besi. Ia berjongkok, menyamakan tingginya dengan jeruji tersebut. Dikeluarkannya senter kecil dari kantong jaketnya, lalu mengarahkan sinarnya pada sesosok gadis di dalam. Gadis yang Chanyeol culik kira-kira tiga hari yang lalu itu sedang terduduk dengan kaki terangkat dan wajah tertelungkup. Menangis, sama seperti hari Chanyeol membawanya kemari. Hal itu membuat Chanyeol bertanya-tanya, apa selama ini kerja gadis itu hanya meratapi nasib?

“Kemari, Tinkerbell,” panggil Chanyeol seraya mengulurkan tangannya ke dalam. Senyumnya terukir – senyum jahat.

Gadis yang dipanggil Tinkerbell itu mengangkat kepalanya sedikit, menengok pada Chanyeol lalu menatapnya dengan penuh ketakutan. Terlihat jelas bahwa badan gadis itu menggigil, membuat senyum Chanyeol tambah lebar.

“Tak perlu ketakutan seperti itu. Memangnya kau akan kuapakan?” ujar Chanyeol. “Ayo, kesini, Tinkerbell. Nama kontakmu Tinkerbell kan?”

Rahang gadis itu mengeras. Tatapan ketakutan bercampur benci belum hilang. “Mau apa kau, Peterpan-ssi?” sahutnya tajam, tapi lemah.

“Makanya, kemari dulu.”

Terjadi ajang mempertahankan keinginan masing-masing untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Tinkerbell menyeret tubuhnya menuju ke jeruji tersebut. Chanyeol mengelus puncak kepala gadis itu, tidak mempedulikan tatapan benci nan jijik yang dilemparkan padanya.

“Coba kalau kau menurut sejak tadi, kita tidak perlu menghabiskan waktu yang berharga,” kata Chanyeol seraya mengeluarkan kunci dari kantong jaketnya. “Aku akan mengeluarkanmu, lalu memberikanmu makan. Aku tidak tega melihat rupamu yang kurus kering seperti itu. LIhat, betapa baiknya aku ini, makanya sudah sepantasnya sejak tadi kau menurut,” lanjut Chanyeol dengan tangan yang sibuk membuka gembok jeruji besi tersebut.

Tinkerbell tidak memberi respon apa-apa.

Pintu jeruji terbuka. “Cha..” Chanyeol mengulurkan tangannya. “Ayo keluar!”

Tinkerbell tidak bergerak.

“Ayo!”

Tinkerbell masih belum bergerak.

“Sepertinya kau terlalu lemas untuk bergerak sendiri, ya? Perlu kubantu?”

Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Chanyeol membawa gadis itu dalam gendongannya. Tinkerbell ingin menolak, namun apa daya, ia bahkan sudah tidak punya tenaga untuk sekedar berteriak. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah memanjatkan berlaksa-laksa doa agar Yang Kuasa menjaga nyawanya.

Chanyeol membaringkan gadis itu pada sebuah tempat tidur, kemudian memasang borgol pada kedua tangan serta kedua kakinya pada rangka tempat tidur. “Makanannya harus kubeli dulu, sayang,” ujarnya sambil membelai rambut sang gadis. “Kau diam di sini dulu, jangan sampai kabur. Aku tak akan lama.”

Rupanya itu bukanlah sebuah tempat tidur biasa. Tanpa mempedulikan aksi meronta Tinkerbell, menggunakan remote hitam yang ada di atas meja, Chanyeol menekan sebuah tombol yang membuat tempat tidur itu ditutupi oleh sebuah penutup setengah lingkaran, sehingga tempat tidur itu sekarang layaknya sebuah peti mati. Sudut bibir lelaki itu terangkat.

“Nikmati perjalananmu, sayang,” celetuk Chanyeol, sebelum jarinya menekan sebuah tombol lagi yang, bila ditekan, akan membuat alat tersebut menyemprotkan gas Hidrogen yang beracun, namun tak berbau dan tak berwarna, yang akan membuat semua yang menghirupnya kehilangan nyawanya.

“Itulah mengapa ketika orang tuamu mengatakan jangan sembarangan berkenalan dengan orang asing, kau harus mendengarkannya,” ujar lelaki itu, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut, membiarkan kotak itu melaksanakan tugasnya.

***

Pagi ini, ketika sedang bercermin, Kim Yoojung merasakan ada sesuatu yang janggal padanya. Matanya berulang kali menatap pantulan bayangannya di cermin, dari atas sampai bawah untuk mencari kejanggalan tersebut. Sampai akhirnya pandangannya tertumbuk pada daerah leher, dan gadis itu menyadari bahwa kalung liontin lumba-lumbanya hilang.

“Eh? Kalungku kemana, ya?” ujar Yoojung pada dirinya sendiri. Gadis itu melongokkan kepalanya ke bawah meja rias, takut-takut kalungnya terjatuh. Nihil. Tak ada terlihat benda mengilap dari bawah sana. Yoojung mencoba meraba-raba permukaan meja riasnya, siapa tahu kalung itu tergeletak di sana. Tidak ada juga. Bahkan gadis itu menghampiri kamar mandi apartementnya dan berjongkok untuk melihat siapa tahu kalungnya terjatuh di lantai kamar mandi. Tidak ada.

Yoojung menghela napas. Otaknya mencoba mengingat-ingat dimana ia terakhr melihat kalung tersebut. Bukannya apa-apa, kalung itu adalah peninggalan terakhir mendiang ibunya, salah satu kenangan Yoojung akan sang ibu. Ia yakin ibunya akan sangat sedih kalau sampai Yoojung menghilangkan kalung tersebut.

Ingatannya membawanya ke hari kencan keduanya bersama tuan Overdoze. Yoojung ingat jelas ia sempat mengenakan kalung tersebut sebelum mengaplikasikan lipstick pada bibirnya. Setelah itu Yoojung memasuki acara kencan – kencan gagal –, lalu pulang ke rumah, dan sudah tidak memperhatikan kalung itu lagi.

Seolma, kalung itu terjatuh di rumah Overdoze-ssi?” batinnya.

Mungkin saja. Yoojung ingat ketika sedang menanti lelaki itu di sofa rumahnya, tangan Yoojung memegang-megang liontinnya – kebiasaannya kalau sedang bosan. Apakah mungkin pada saat itulah kalung itu terjatuh?

Yoojung mengambil ponselnya, hendak membuka aplikasi Let’s Meet dan mencari kontak tuan Overdoze. Jemarinya mengetik pesan untuk lelaki itu.

Overdoze-ssi. Apakah anda melihat kalung berliontin lumba-lumba di rumah anda?

Tuan Overdoze membalas pesannya tiga menit kemudian. Ya, saya menemukannya di bawah kursi saat sedang menyapu tadi. Apa itu milikmu?

Ya.

Berhubung aku sedang di rumah, kau mau ke rumahku sekarang untuk mengambilnya?

Yoojung menatap pesan terakhir dari tuan Overdoze, berusaha mencerna kalimatnya dengan baik, seraya otaknya mempertimbangkan banyak hal. Jujur, ia masih trauma mengingat sikap tuan Overdoze yang agak kasar terhadapnya. Bukan tidak mungkin mood lelaki itu akan tidak stabil lagi hari ini dan akan kembali mengusirnya. Tapi, Yoojung teringat akan kalungnya. Akhirnya ia mengganti pakaiannya dengan pakaian pergi yang sopan, dan mengambil ponsel, mengirimkan pesan balasan untuk lelaki itu.

Baiklah. Aku akan segera kesana.

TO BE CONTINUED

.

 .

.

 

A/N
Hola…. Chanyeol-Yoojung kembali!!!

Apakah menurut kalian cerita ini tambah aneh atau tambah nggak jelas kah? Maafkan kalau misalnya masih ada typo dan sebagainya ya…

Don’t forget to RCL! 😀 And mind to review? 😀

© 2016 Gecee’s Story
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

9 tanggapan untuk “FATA CRUENTA [Episode 3] – by Gecee”

  1. character ceweknya lemah bgt.. in the end bikin kesal . I mean bukan gak Ada cowok yang suka sama dia tapi kenapa dia desparte bgt sama PYC.. Dan polos ya kebangatan

  2. cuma mau bilang karakter ceweknya lemah bgt .. hahaha but anw from the idea is kind of good..tapi aneh kalo endingnya nanti jadi love story

  3. Duh yg biasanya jadi happy virus sekarang jadi psyco giniiii. Semoga aja tetiba chanyeol jadi jatuh cinta sama yoojung. Dan butuh banget flashback chanyeol yg bikin dia jadi beginiihhhhh. Ditunggu kelanjutannyaaaahhh. Semangaat!!
    -XOXO-

  4. Wahh akhirnya di up jga 🙂
    Aku udah nungguin nih kak^^

    Duhh chanyeol kek gtu banget ya smoga nanti chanyeol sadar deh and mungkin chanyeol nanti sma yoojung..kkkk

    Adub smoga yoojung gpp and chanyeol gx ngelakuin hal buruk pda yoojung. Ehh tapi knapa stiap kali chanyeol mau berbuat yg tidak” sma yoojung pasti si arwah adiknya chanyeol dateng ya, kok bisa gtu ya o_O

    Next kak dtunggu klanjutanya ya^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s