SILHOUETTE | 7

Cover2.jpg

SILHOUETTE

 by :Starring

Oh Sehun |  Kang Mirin | Xi Luhan | Song Yerin

PG-17

Sad  | Romance | Lil hurt

Chapter

A.N :

Halo halo Bandung !!! gimana kabarnya disana? Keyo dateng lagi bawa chapter 7. Langsung aja ya.. Jangan lupa rules nya

Apresiasinya guys… jauhi niat copas. Niatkan dari sekarang untuk memberikan sepatah dua patah katanya di kolom komentar. Tunjukkan wujud kalian. Ayokk kita kenalan. Aku ga makan orang, FYI. Udah segitu aja. Simple kan rules nya?

 

Nah kalau udah ngerti, langsung aja kita baca bareng-bareng.

Happy reading ^^

 

 

*****

Previous Part : PROLOG |1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |

****

 

“Selamat bersenang-senang, nona,”

Mirin hanya mampu tersenyum kecil sambil membuka helmnya. Tidak tahu kenapa, tapi sejak pagi tadi dia mendapati Luhan didepan rumahnya, sapaan ‘Selamat pagi nona’ yang ia dapatkan. Luhan memanggilnya ‘nona’. Dan bagi Mirin itu menggelitiknya.

“Bisakah kau berhenti?” meski nadanya terdengar kesal tapi tidak dengan wajahnya. Iya, bisa dibilang Mirin menikmatinya.

“Tidak bisa, nona. Ini kewajiban saya. Kalau saya melanggar, saya akan dapat hukuman,”

Ohhh percayalah, Mirin merasakan perutnya geli dari dalam. Memaksanya mengeluarkan tawa yang tidak ada anggun-anggunnya dengan mulut yang terbuka lebar tanpa ada niatan ia tutup dengan telapak tangan. Lihat? Mana ada seorang gadis yang dipanggil nona, diperlakukan khas seorang bangsawan tertawa ekstream sepertinya?

Ternyata berkat permainan konyol saat makan ramyeon itu masih membekas pada Luhan. Dia kalah saat main kartu, Luhan terpaksa jadi pesuruh yang membereskan bekas kekacauan mereka. Sekilas dilihatnya Luhan ikut tertawa. Mengingat hal yang sama dengan Mirin. hanya saja tawanya terdengar lebih teratur dan bernada.

“Hei, sudah berhenti Mirin, semua orang melihat kita sekarang,”

Mirin berdehem mencoba menetralkan kembali ekspresi dan emosinya. Baginya tidak masalah dipandang aneh orang-orang. Toh, siapa disekolah ini yang tidak kenal Mirin dengan kegilaannya? Dan kecuekkannya yang terlalu berlebihan –katanya- untuk seorang perempuan. Yang berbeda hanya partner menggilanya hari ini. jika biasanya dia bersama partner sehidup-sematinya Ji Ae, maka kali ini dia bersama Luhan yang dapat dipastikan adalah seorang pangeran berkuda putih dimata para siswi genit yang sudah memandang Luhan lapar dari berbagai sudut.

“ummm.. Mirin..” mendengar namanya dipanggil tanpa embel-embel nona membuat Mirin sadar Luhan sedang mencoba serius. Dia menatap lurus mata Luhan. Menunggunya bicara lebih lanjut.

 

“Pulang sekolah nanti…..”

 

Apa? Ada apa dengan pulang sekolah? Mendengar kalimat terputus dari Luhan memancing batin Mirin untuk berteriak-teriak menebak dan bertanya-tanya. Sementara matanya masih lurus dan fokus pada Luhan dengan kening berkerut. Cukup lama Luhan diam. Menggigit bibirnya, membuka sedikit mulutnya lalu ditutup lagi.

 

“Aku…”

Aku apa? Lagi-lagi isi kepala Mirin berteriak bertanya kesetanan karena penasaran.

 

“Aku ingin…”

 

“Arghhhh… Luhan sebaiknya kau bicara sekarang atau kepalamu dan helm ini akan beradu seperti bola billiard !!!” kali ini gantian Luhan yang tertawa jauh dari kata anggun. Kalau saja sekarang dia sedang tidak duduk dimotor, dia pasti sudah guling-guling diaspal. Persetan dengan image cool dan ketampanannya. Dia hanya ingin puas menertawakan wajah frustasi Mirin karena penasaran yang sekarang berganti wajah kesal sambil mengangkat helm putih ditangannya sejajar dengan kepala Luhan. Wajah mereka sama-sama merah. Luhan karena menertawakan wajah marah Mirin yang merah padam. Dan Mirin karena kesal pada wajah merah padam Luhan yang tertawa lepas.

Luhan berhenti. Dia mulai menatap takut helm putih di genggaman Mirin. Setelah semuanya netral, dan tangan Mirin turun, Luhan menarik Mirin. Memintanya untuk berdiri lebih dekat.

 

“Pulang sekolah nanti… tunggu aku.. aku akan menjemputmu…”

 

Mirin melotot ketika lagi-lagi Luhan mencegegat kata-katanya. Luhan tertawa kecil, kemudian kembali melanjutkan setelah sebelumnya menarik Mirin hingga sebelah wajah manis Mirin begitu dekat denganya. Mirin yang sadar Luhan akan membisikkan sesuatu, mendekatkan telinganya. Merasakan rambut halus di tubuhnya menegang karena sapuan halus nafas Luhan.

 

“…temani aku…”

 

“……dengan sepenuh hati aku memintamu…”

 

“….karena saat ini aku ingin…”

 

“………………..makan toppoki….”

 

Plakkk

Luhan merasakan kepalanya pusing disaat dirinya ingin tertawa. Tangan Mirin barusan memukul helm dikepalanya keras hingga isi kepalanya seakan ikut bergetar karena pukulan-tenaga-kuli Mirin.

“Ku kira kau mau bilang apa!! Bilang saja kau minta traktir! Dasar idiot!!” tawa Luhan menjadi-jadi. Rasa puas itu menjalari dirinya yang untuk pagi ini berhasil membuat emosi Mirin naik ke ubun-ubun. Bahkan, saat Mirin menyerahkan –atau melempar- helmnya, Luhan belum berhenti tertawa.

Oh atau seharusnya dia dapat hetrick? Karena dia juga suda berhasil membuat pasangan diujung jalan sana menggeram dengan mata yang menggelap tanda emosi.

Dan akhirnya, tanpa sadar senyum miring asimetris mengembang dibalik helm full-face nya.

 

 

“Nice Shot, Xi,”

 

 

***

 

“Sehun kau terlambat!”

Sehun melirik arlojinya yang menunjukkan pukul delapan malam lewat sepuluh menit. Mirin benar, dia terlambat satu jam sepuluh menit. Dia membuang nafasnya. Dilihatnya Mirin yang mengerucutkan bibirnya. Sehun tersenyum kecil sebelum menyerahkan helm hitam kepada Mirin.

“Tidak mau pulang?” Mirin tidak bergerak. Belum berniat mengambil helm yang disodorkan Sehun. Ia tidak bisa melihat keseluruhan wajah Sehun. Laki-laki itu hanya membuka kaca helmnya hingga dia bisa melihat matanya yang menatap bingung. Bagian bawah wajahnya tidak terlihat karena tertutup bagian helm fullfacenya.

Sehun benci keheningan ini! di tariknya kembali helm itu dari hadapan Mirin. Ia letakkan ditangki depan motornya untuk tumpuan lipatan tangannya. Kalau sudah begini tidak ada jalan lain kecuali bersikap manis.

“Aku minta maaf, okay? Kai menahanku diapartemennya tadi,” Sehun menggigit bibirnya yang tertutup bagian helm full face. Sedikit berbohong meski tidak sepenuhnya. Menyembunyikan fakta kalau sebenarnya bukan Kai yang menahannya. Tapi suasana menyenangkan yang didapatkan dari teman-temannya. Mereka sudah lama tidak berkumpul. Kapan lagi seperti ini?

Lalu dengan setengah hati dia mengabaikan telfon dari Mirin untuk bercanda tidak jelas dengan teman-temannya

Tapi sayangnya Mirin masih mengerucutkan bibirnya. Belum tergerak untuk menurunkan lipatan tangan didadanya.

“Mirin ayolah…. Jangan marah, ya? Bagaimana kalau besok aku bayar dengan….. Ice cream strawberry? Waffle coklat? Permen kapas?”

Sehun menaik turunkan alisnya. Menggoda Mirin dengan makanan manis kesukaan Mirin. Ini jalan terakhir. Kalau Mirin masih marah, dia tidak tahu harus apa.Berguling-guling diaspal? Atau mungkin naik ke tower di ujung jalan sana? Jujur dia lelah setelah bermain seharian dengan kumpulan pria yang jadi sahabatnya tadi siang. Yang dia inginkan hanya istirahat dikasur. Ponsel nya juga sudah rebut bergetar disaku celananya.

‘Pasti mereka sedang ribut digrup’ batin sehun dengan rasa gemas ingin bergabung. Perlu beberapa menit dia menunggu. Sampai perlahan-lahan Mirin melunakkan ekspresinya. Kemudian naik ke jok belakang Motor Sehun.

“Kadang aku bingung. Yang pacarmu itu sebenarnya aku atau Kai?” Sehun tidak menjawab. Dia hanya tersenyum simpul dibalik helm nya sambil menarik tangan Mirin untuk memeluk pinggangnya lebih erat sebelum membelah Seoul diterangi lampu jalan.

 

 

“Hei, Sehun! Kau lihat apa sih?” Suara Yerin membuyarkan lamunannya. Tidak. Bukan lamunan, tapi seberkas ingatan tentang dia dan Mirin.

‘Itukah Luhan?’ Sehun masih ingat kejadian tempo hari. Saat dia refleks memanggil Mirin. Memintanya bicara tanpa tahu apa yang perlu dibicarakan. Tujuannya hanya satu. Menghentikan bibir Mirin mengucapkan nama Luhan. Dia tidak bilang kalau dia memujanya, tapi matanya yang berbinar cukup bagi Sehun untukmenjelaskan semuanya.

Matanya masih menatap satu titik. Seorang gadis yang mencak-mencak heboh karena kesal. Dan seorang pria diatas motor putih yang tertawa lepas bersamanya. Beberapa bulan yang lalu dia yang ada disana. Membayangkan Mirin memeluk pinggang pria yang berkemungkinan bernama Luhan itu membuat dadanya panas.

‘Dia bahagia, ya?’ Sehun tersenyum. Menutupi perih akibat jarum-jarum kecil tak kasat mata yang mengores-gores hatinya didalam sana mengetahui Mirin bahagia bersama laki-laki lain. Mirin tertawa bersamanya.

Lalu, oh tidak. Sehun menyesali keputusannya untuk terus menatap satu titik disana. Melihat wajah Mirin dan Yerin diam-diam memperhatikannya. Sehun sakit. Pasti. Karena sekarang hatinya juga sakit sakit karena ternyata dihati Sehun masih ada sisa-sisa kehadiran Mirin.

“Hei! Ayo sebentar lagi bel!” Yerin menarik tangan Sehun. Mencoba optimis dengan mengabaikan fakta yang baru tentang Sehun dan Mirin. Tapi lagi-lagi, hatinya seperti dicabut dengan gerakan cepat dan di buang ke gorong-gorong begitu Sehun dengan cepat menghempaskan tangannya. Jika kau melihatnya, ada kesan tak rela jika Sehun di pegang bahkan sedikit saja oleh Yerin.

Dan begitu seterusnya. Belum cukup dengan menghempas tangan Yerin, Sehun meninggalkan Yerin. Membiarkannya menatap aspal dengan tatapan kosong dan bibir yang dia gigit sekuat mungkin. Menyembunyikan airmata yang siap meluncur dari sana. Tapi tidak. Dia tidak menangis. dan meskipun dia menangis, dia tidak akan menunjukkannya didepan Sehun. Menurutnya, dia harus kuat. Untuk bisa merebut Sehunnya kembali beserta seluruh hatinya.

Yerin melangkah dengan mantap. Ditariknya lengan Sehun hingga dia reflek membalikkan tubuhnya.

Mendapati wajah dingin Sehun, membuat Yerin harus menarik nafasnya dalam-dalam dan memberanikan diri terlebih dahulu.

“Mau kemana kau? Kita belum selesai,” Mirin merutuk dalam hatinya. Memarahi dan mengutuk diri sendiri karena menampilkan sisi lain dirinya yang hanya dia tunjukkan untuk orang-orang tertentu yang dirasa pantas untuk ditindas. Tapi, bukan Sehun namanya. Kalau tidak membalas dengan senyum sinis dan tatapan dingin.

“Kau mungkin lupa. Tapi kita dalam perjalanan menuju sekolah, Miss. Dan beberapa saat yang lalu, kau bilang kita hampir terlambat”

Woww…. Ini adalah kalimat terpanjang yang Sehun katakana padanya selama hampir satu mimggu diabaikan keberadaannya. Dia bersorak dalam hati, yahh sedikit kemajuan, batinnya.

 

“Tapi kau juga lupa sesuatu, Tuan Muda Oh,” Mirin maju satu langkah mendekati Sehun. Menatap sengit mata dingin Sehun.

 

“Kau memintaku untuk membantumu melepaskan diri dari Kang Mirin sialan itu,”

Sehun tidak lupa. Dia ingat semuanya dengan detail bagaimana kehancuran ini dibuat oleh ulahnya itu.

 

“Aku minta maaf, Yerin. Tapi kurasa aku tidak butuh bantuanmu lagi,” iya. Sekarang ada sesuatu yang harus Sehun luruskan. Dia bersiap berbalik. Sebelum akhirnya dia dipaksa lagi berhenti. Kali ini bukan karena cengkraman Yerin di lengannya. Tapi karena tawa sinis Yerin dan kata-kata selanjutnya dari bibir gadis itu membekukannya ditenpat.

“Tidak semudah itu, Sehun,”

 

“…..aku sudah hampir melupakanmu sebelum kau menarikku ke taman belakang –kalau kau ingin tahu,”

 

“….dulu, aku pernah membiarkan punggung ini berjalan begitu saja,”

 

“….cukup sekali… dan aku tiak mau kejadian yang sama terulang lagi,”

 

“….jadi, permintaan maafmu, ditolak,”

 

***

 

Mirin membanting tubuhnya kekursi begitu sampai dikelas. Emosinya masih meledak-ledak karena Luhan. Ia sadar sedang diperhatikan dari tadi. Dan ia juga bisa memperkirakan tatapan itu karena emosinya yang meledak-ledak, atau karena kehadiran Luhan di gerbang sekolah. Ia terpejam. Mengulang kejadian yang membuatnya kesal tadi didalam memorinya diakhiri dengan melempar tas nya keatas meja. Dan,

Plukk

Sebuah kertas yang Mirin perkirakan awalnya ada di mejanya terjatuh dilantai. Keningnya berkerut. Perlahan dia mengambil kertas itu.

Bekas corat-coret ulangan, batinnya. ketika sekilas melihat jejeran angka tak beraturan disalah satu sisinya yang terlipat. Mirin bangun dari duduknya. Berniat membuangnya sebelum suara cempreng Ji Ae menghentikan langkahnya.

“Morning, Sunshine !!!”Mirin menutup telinganya. Tidak berniat menjawab sapaan Ji Ae. Menjaga agar benda itu tidak rusak karena teriakan luar biasa Ji Ae.

“Apa itu?” Mirin mengikuti arah mata Ji Ae, kemudian mengangkat bahunya acuh.

“Surat cinta,” jawabnya asal yang kemudian disesalinya. Karena dengan gerakan kilat dan senyum aneh yang mengembang, Ji Ae mengambil alih surat itu dari tangan Mirin dan membuka lipatan yang sebelumnya tidak berniat untuk dibuka oleh Mirin.

Sambil menunggu Ji Ae membuka lipatannya, Mirin memainkan imajinasinya. Membayangkan reaksi drama queen dihadapannya ini begitu melihat apa isi dari kertas corat-coret tidak berharga yang baru saja akan Mirin buang. Mungkin setelah ini dia akan berkata, ‘kurang ajar kau, Rin,’ atau ‘Kau idiot.’ Atau mungkin dia akan menghadiahinya dengan kalimat sacral empat huruf, f**k.

Mirin yang tadinya diam mulai penasaran. Kertas itu sudah sepenuhnya terbuka dihadapan Ji Ae. Tapi anak itu sama sekali tidak menunjukkan reaksinya –seperti yang dia bayangkan tadi. Dengan tidak sabaran Mirin menarik kertas itu dari tangan Ji Ae. Tidak hanya reaksi Ji Ae yang diluar bayangannya ternyata. Tetapi juga isi kertas itu, yang sangat jauh dari apa yang dia bayangkan.

“Apa itu termasuk pernyataan cinta?” suara Ji Ae terdengar mengkerut di telinganya. Dia takut, dan Mirin juga sama. Tidak ini bukan pernyataan cinta. Berapa kali pun kau membacanya, ini jauh dari pesan pengungkapan perasaan. Sekali lagi Mirin membacanya. Namun dengan suara dari mulutnya dengan volume yang hanya dia dan Ji Ae yang bisa dengar.

 

“Die and go to hell. You Slut!!!”

 

***

 

Mirin melangkahkan kakinya lebar-lebar diikuti Ji Ae satu meter dibelakangnya. Firasatnya buruk. Bibir bawahnya yang pucat dia gigit. Sekedar untuk meredakan rasa takutnya. Well, sebenarnya Mirin tidak takut kalau harus adu jotos dengan orang. Dengan dua syarat. Pertama, orang itu menampakkan dirinya. Kedua, orang itu bukan Yerin. Dan masalahnya adalah, dia tidak tahu orang yang mengirimnya surat aneh tadi pagi,. Dan satu nama yang dia ingat begitu dia membaca pesan itu adalam Song Yerin.

Bukan. Mirin tidak takut kalau harus jambak-jambakkan ditengah lapangan. Dia hanya takut rasa sakitnya yang hampir sembuh terasa lagi begitu dia melihat Mirin. Dia masih adadi tahap beristirahat.

Setelah selesai dengan acara curhat-curhatannya dengan Ji Ae, Mirin berlari dengan segera keluar sekolah. Berharap Luhan yang dia minta untuk menjemputnya lebih cepat sudah ada digerbang sana dengan motornya.

Suasana hatinya makin buruk, begitu sadar sekolahnya sudah sepi dan bunyi sepatu Mirin dan Ji Ae yang saling beradu adalah satu-satunya bunyi yang dapat ditangkap pendengarannya. Keadaan itu tetap bertahan. Sampai mereka harus melewati lapangan parkir terbuka yang sudah kosong diujung lorong utama yang dilewatinya sekarang. Mirin bisa tersenyum lega begitu melihat Luhan ada di motornya. Menunggunya. Menatapnya bingung dan menuntut penjelasan.

“Mirin, kau kesana, ya. Yixing ternyata menjemputku di gerbang satunya. Ish,,, dasar anak itu,” Mirin mengangguk dan meneruskan jalannya. Membiarkan Ji Ae berlalu dengan langkah setengah berlari ke sisi lain sekolah. Entah kenapa dengan dirinya, kenapa dengan perasaannya. Saat ini, dia ingin segera sampai kesisi Luhan. Satu-satunya tempat yang dia yakini aman.

Sedikit lagi. Mirin bisa merasakan langkahnya yang mengikis jarak dia dan Luhan.

 

Ttakkk

 

Tapi senyumnya yang hampir merekah kembali menyusut karena sesuatu mengenai kepala belakangnya. Entah apa itu tapi Mirin yakin benda itu juga yang melepaskan cairan dingin yang sekarang membasahi tengkuknya.

Mirin merasa kosong. Bingung apa yang terjadi. Dia masih mencari tahu apa yang terjadi dengan menyentuh kepala belakangnya sambil berusaha menatap Luhan yang tubuhnya menegang. Lalu apa yang dilihatnya tambah membingungkannya. Dan dia sungguh benci dengan dirinya yang hanya diam seperti orang tolol.

Luhan turun dari motornya terburu-buru sampai dan motor itu terbanting seketika. Saat Mirin ingin memutar badannya, menghadap sumber dimana benda yang baru Mirin sadari adalah telur itu berasal. Dia dihadapkan dengan dada Luhan. Semakin bingung dengan apa yang terjadi karena sekian detik kemudian Luhan merengkuh tubuhnya protektif. Semakin erat, seiring dengan bunyi beruntun hantaman sesuatu yang bertumbukkan dengan punggung Luhan. Bunyinya sama seperti saat telur mengenai kepala Mirin tadi.

Mirin kira sudah selesai. Tapi begitu sekilas dia mendengar bunyi hantaman yang berbeda dan melihat bubuk putih melayang diudara dari balik punggung Luhan, Mirin menarik lagi kata-katanya.

“Luhan –“ Mirin merasa suaranya tercekat. Mendongakkan kepalanya untuk melihat mata Luhan yang terpejam, dengan rahang yang mengeras. Dan Mirin? Semakin menghakimi dirinya yang ,mendadaak tolol. Bahkan melanjutkan kalimatnya pun tidak bisa.

“Kau tidak apa-apa?”

Akhirnya Luhan berbicara setelah bunyi hantaman itu positif selesai. Masih di posisi yang sama, Luhan yang menunduk dan Mirin yang mendongak. Mirin tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Menjawab pertanyaan Luhan, atau menenangkan Luhan yang matanya menggelap karena emosi. Alhasil, Mirin hanya diam. Meremas baju Luhan dibagian dada untuk menumpahkan keterkejutannya disana sambil berusaha tidak menangis.

Luhan menggelap. Emosinya memuncak. Melihat Mirin yang tadi pagi masih berani menantangnya dengan helm ditangan, yang kemarin semalam sudah tertawa bodoh bersamnya, kini meringkuk seperti anak anjing dipelukannya. Refleksnya otomatis menggerakkan tanganya. Merengkuh Mirin semakin dalam. Menyembunyikan wajah Mirin didadanya. Takut Mirin semakin terguncang karena sebentar lagi, dia akan meledak.

 

“OH SEHUN BRENGSEK!! DIMAKA KAU ?! KELUAR KAU SEKARANG JUGA!!!”

 

…entah bagaimana takdir menjelaskannya. Suara Luhan yang menggema ke seantero sekolah itu, berhasil memanggil Sehun karena sekarang, laki-laki itu sudah berdiri di ujung koridor utama tempat Mirin keluar tadi. Dengan wajah panik dan nafas terputus-putus. Memandang lurus Mirin dipelukan Luhan dalam diam.

 

 

 

 

-to be continued-

 

 

 

Chapter 7 is done!!! Mohon maaf bagi yang mengharapkan interaksi Sehun Luhan karena aku baru mau bikin wkwkwk. To be honest, ini favorite part aku kayanya soalnya aku bisa ngebayangin muka Luhan waktu marah marah itu /asdsffgghfjgfj

Dan yang minta dipanjangin, ini udah. Aku ga tau kudu panjang segimana lagi.. so please… stop minta perpanjangan okay? Karena pantatku ga kuat duduk lama-lama/ini serius

Dan oh iya aku mau ngomong serius.

Aku mau ralat omongan aku di chapter sebelumnya yang bilang ini hampir selesai, karena ternyata masih ada beberapa adegan yang diperankan mereka.

Dan……..aku ga pernah bosan untuk menunggu kalian menampakkan diri di kolom komentar atau di tempat like

Emang kalian ga mau kenalan sama aku? Ntar kalau aku udah jadi istri Sehun/Luhan nyesel loh, ga sempet kenalan. Mereka kan overprotective /apasih thor

Jadi ayo kita mengenal satu sama lain. Siapa tahu entar ketemu di konser EXO, Siapa tahu kita tetangga. Siapa tahu kita temen SD. Siapa tahu kita jodoh /plakk

So this is the end for my capruk..

 

With hug, Keyo

 

XOXO ❤

 

78 tanggapan untuk “SILHOUETTE | 7”

  1. Bneran deh Yerin boleh dmasukin empang ga?-_-
    ngeselin bgt, uda dtolak jg msih nyrocos aja,,
    oya btw ada bnyak nma Mirin yg hrusnya Yerin, jdi agak bngung bcanya krna tngkat kepahamanku yg lemot .-.
    Aduh mreka jgn adu jotos dnk, itu kn ulahnya Yerin, yakin bgt 100persen, neexxxtttt

  2. Awal ketengah masih aman. Masih bisa iri sama mirin yg asik sama luhan. Eehh begitu mirin dapet pesan singkat itu mulai bingung dan degdegan sendiri. Itu beneran yerin kah yg ngirim? Terus itu mirin kenapa dilemparin gitu? Sama yerin juga??
    Aku juga suka part ini. Sukaaaaaa sekali! Dan sama! Bisa dibayangin gimana muka ganteng luhan marah marah. Ohmaayyyyy ._.
    Emm sama koreksi dikit aja sii. Mungkin sebelum di up dibaca ulang. Soalnya kaya ada ketuker nama gitu. Yerin jadi mirin. Udah itu ajaa. Selebihnya neomu joha ^^
    -XOXO-

  3. Wah asik nih ceritnya.. aku dukung2 aja sih ntar mirin sm sp aja luhan atau sehun hahaha. Partnya dipanjangin boleh jg dong, smp 20an gitu hahaha
    Eh btw, td kynya ada yg salah ketik yg harusnya yerin, jadi mirin
    Lanjut terus keyo! Ditunggu next chapternya

  4. Ini udah lumayan panjang kok eonn 😀
    Sadis amat sih si yerin aka nenek sihir x_x
    Untung ada luhan, kalo ga….. Hadeuh ga kebayang.
    Sehun jg knpa pake lari2 sgala? 0.0 mau nolong mirin gitu? Telaaat hun-_-

  5. ceritanya makin seru, Luhan di sini kelihatan semakin keren, sampai rela melindungi Mirin dari lemparan telur2, yang pasti itu perbuatannya Yerin, huh dia jahat banget sih, malah udah kayak psikopat itu anak, hmm

  6. Kenapa luhan yang terlihat lebih mempesona disini??? Bias aku kan sehun??? Tapi kok aku malah pengen menghujat sehun jadinya???

    Kyaa~~ keyoo~ kau membuat hatiku porak poranda dengan dua mahkluk sempurna ituuu~~
    plis lanjut lanjut aku udah kepo tingkat dewa inimah..

    1. selingkuhin aja sehunnya.. beda tipis inikok wkwk
      maafkan daku yang datang seperti angin puting beliung /?
      okayy.. selamat berkepo ria 🙂

  7. bentar lagi berantem ni kayaknya luhan sehun, hehehe. ya ini udah panjang kok thor,sayangnya masih bnyak typo antara yerin sama mirin, alhasil jadi agak bingung deh bacanya tapi keseluruhan ceritanya keren kok.
    keep writing keyonim. fighting!!

  8. Semakin kesini kok rasanya jadi sebel dan kesel sama sehun ya… gara” dia mirin jadi kena getahnya.. klo mau putus ya baik” aja lah gausa sampe bawa yerin segala… gara sehun mirin dibully yerin… huft… gerem deh…
    Hehehehe…. menurutku dari chap 1 sampe 7 yg ke7 paling bagus bikin aku ilfeel banget sama sehun dan yerin… ship banget mirin luhan…

  9. Aduh, Yerin gak takut masuk neraka? Sehun putus aja sama tuh dedemit /plak maaf kak/ 😀 Luhan, Luhan, Luhan, kok aku jadi pengin dia gak menghilang yah? Aduh ada adu tinju gak nih? Aku tegang banget nunggu chap selanjutnya 😀

    1. jangan hilangkan luhandulu. dia masih ada jatah disiniwkwkwk
      mau ada atau ga? kalau ga ada, kita tinju yerin bareng-bareng wkwwkk
      selamat tegang /?

  10. Anjaiii lah itu pasti kelakuan si yerin, dasar rubah hitan eh hehehhe, tar tuh luhan salah paham ma sehun jadinya rumit lg duuhhkah piye iki eh hahhhaa lanjutkan lanjutkan 😉😉

  11. Omg.. itu yg teriak luhan kah 😲 waw.. ternyata sehunnya udah nongol.. si yerin jahat bener, minta di tombak nih 😄 wkwkwk..

    Next thor!! Fighting

  12. Luhan sweet banget deh…uh jadi kepingin.
    Tuh kan Sehun udah mulai sadar tuh..cie…
    aduuh mau ngomong apa lagi ya..intinya ff ini bener” sweet banget pokoknya

  13. Wkwkwk kita sama Eon gue juga lagi ngehayal gimana wajah luhan lagi marah+teriak” gitu :’v wahhhh pasti ini kerjaan si Yerin, ckckck kurang asem ntu anak -_- Next and Faighting Eon ^^

  14. Yerin makin aja berulah aja. Gak mau menampik fakta kalo Sehun emg susah move on dr Mirin–”
    Demi apa Luhan manly sekaleng :v
    Sehun bakal makin panas ya liat Mirin dipeluk erat sama Luhan kkk *ketawa jahat

  15. Aku tau ini kelakuan siapa pasti ulah yerin ishh menyebalkan sekarang luhan pasti salah paham dikiranya itu sehun gak mungkin kan dia setega itu dengan mirin ahh aku jadi penasaran dengan kelanjutannnya ditunggu ya next chapternya buat kak keyo semangat teruss!!

  16. Woahh.serruuu..

    Aiishh..yerin itu bener” ya..ck
    Duhh makin rumitt aja nih gegara yerin.
    Aduh kak next ya aku pnasaran nih^^

    Hahaha.. dri kmarin kakk ngomongin panta*nya gxkuat duduk lma” mulu..wkwkwk^^v
    Segini jga gpp kak^^ , cukup ko’
    Woah ternyata gx jdi ya kakk mau endnya?
    Duh klo gtu aku mau tau dong kakk luhan marahin sehun and klo perlu berkelahi skalian/Ehh
    Masih panjang kah kak chapnya?

    Iya jgn bosen” bca coment aku yg kek gni ya kak..hihihi^^
    Gx#bcanda..kkk
    Jgn sma sehun oppa dong eon, ehh sma luhan oppa jga jgn deh#plak/dugh/pluukk/brakk/ditimpuk barang yg ada di dekat kak keyo..becanda kak^^v / mungkin sehun jga d lempar ke aku/Eehh^^v mian..hihihi

    Ayo..ayo kita knalan lg ya kak^^ ..wkwkwk
    Salam kenall kak keyoo^^..

    Eehh prasaan banyakan ngomongnya dri pda coment ceritanya o_O ..wkwkwk^^v
    Dtunggu ya kak klanjutanya 🙂

    1. Iya.. duh.. aku anaknya ga bisa diem lama soalnya.. wkwkwk maap ya kata p*ntat itu keluar terus wwkwkk
      ntar aku hasut Luhan sama Sehun biar gelut.. /Thumbs up
      Gak bisa dibilang panjang juga sihh.. hoohooho aku mau bikin kalian semua penasaran
      Gak bosen kok..malah seneng bacain komen :v
      Sehun mah ga akan aku lempar apalagi Luhan /masukin karung
      iyaa salam kenal juga lyoungie 🙂
      selamat menunggu kelanjutanya 🙂

  17. Waaahhh seru nih kayaknyaa lucu lagi kalo sehun luhan jotos jotosan di chapter selanjutnyaa eonn😂😂 HAAA AKU SUKA BANGET CHAPTER INIII. Pasti yang ngelempar telur itu, yerin yakaaann eonni plis, lebih greget lagi kalo sehun sama luhan ikut marahin yerinn AKU PENGEN DIA DI MARAHIN DUA COWOK ITUUUU HAAA, oh iya eonnn kalo intro di comment, aku maluu wkwk

    1. Yerin bukan ya? kasian dia kalau di fitnah wkwkwk… bentar, aku hasut mereka dulu biar mau marahin ntu bocah wkwkk
      lah kok malu? intro dibawah ketek sehun aja yukk biar ga malu /? wkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s