[EXOFFI FREELANCE] PROPOSAL MARRIED (Chapter 3)

proposal merried.jpg

PROPOSALMARRIED
Chapter 3

Author             : Rhifaery

Main Cast       :  Sehun EXO  and Irene Red Velved

Genre              : Romance, Comedy, After married!^^

Rate                : NC 17

Desclimer        : All of the story based on my imagine ^^

Irene POV

Handphoneku berbunyi. Ada tulisan Wendy call dilayarnya. Aku ingat dia mungkin khawatir akan kejadian semalam. Handphone ku memang sengaja kutingal di Hotel. Ada sekitar 75 missed call dan itu berasal dari member Red Velved dan beberapa member EXO. Aku yakin mereka pastinya berdebat panjang tentang apa yang terjadi.

“Hallo Eonnie, apa ini kau?”

Sudah jelas aku mengangkatnya mengapa dia masih bertanya, “Ya ini aku.”

“Wahhh… eonnie, apa ini benar-benar kau? Kau sudah baik-baik saja kan? Kau kembali bersama Sehun kan?” Suara yang berbeda yang kuduga Seulgi langsung menyerangku. Sejujurnya aku memang malas bercerita tentang kejadian semalam. Tidak ada yang terjadi padaku. Kami hanya terpisah gara-gara gerombolan fans lalu aku tersesat lalu aku menunggu Sehun di tempat yang sama dalam waktu yang sangat lama sampai akhirnya dia datang menemukanku. Tidak ada yang spesial tapi semua member itu memaksaku untuk menceritakan kejadian itu kembali.

Tidak ada yang spesial kecuali tentang satu hal.

“Wendy-yah, aku ingin menceritakan sesuatu hal padamu, tapi bisakah kau menjauh sebentar dari para member?” Kataku tiba-tiba.

“Apa… Baiklah, aku sudah menjauh sekarang.”

Aku menggigit bibir bawah. Terlihat ragu untuk menceritakan atau tidak. Haruskah aku menceritakan saja, tidak ada salahnya bukan. Sejauh ini Wendy adalah satu-satunya member yang dewasa dan juga mengerti aku.

“Hei Irene, sampai kapan kau diam, aku sudah lari ke toilet untuk mendengarkan ceritamu itu!” Ujarnya mengagetkanku.

“Ehm… baiklah. Ini soal….” Aku mulai gugup. Oh ayolah Irene. Ini hanya cerita yang tidak berarti.

“Apa ini soal Sehun?” Tanyanya yang bagaimana mungkin bisa begitu tepat.

“Tidak eh iya sih.”

“Baiklah, apa yang dilakukan dia semalam, Dia khawatir padamu bukan?”

“Ya tentu saja. Dia sangat khawatir padaku sampai-sampai harus bolak-balik mencariku.”

“Lalu?”

“Yah… waktu itu aku melihatnya seperti orang gila yang berteriak-teriak memanggil namaku. Begitu aku muncul dia langsung memelukku.”

“Lalu….”

“Lalu?”

“Ya tentu tak mungkin jika kalian hanya berpelukan, pastinya ada sesuatu yang lebih.” Nada suaranya terdengar kesal.

“Ya benar sih, lalu… kita lalu…-

“Dan kita berciuman mesra.” Suara itu tiba-tiba berada disampingku bahkan belum sempat aku membuka mulut.

Hyaaakkk!!! Oh Sehun Plakkk!!! Respek aku memukul kepalanya dengan majalah setelah secara kurang ajar dia mencampuri pembicaraanku dengan Wendy. Segera kumatikan teleponnya sebelum Wendy bertanya tentang yang tidak-tidak gara-gara makluk sialan ini.

“Kau ini, apa kau tak punya hobby lain selain memukulku, jika fans ku melihatnya kau pasti langsung dibunuh!” Protesnya.

“Itu karena kau selalu menyebalkan!”

“Menyebalkan apanya, bukankah itu yang memang ingin kau katakan?”  Dia menatapku kesal. Itu berarti sudah lama dia berada disini dan menguping semua pembicaraanku tadi. Aigoo… benar-benar menyebalkan.

“Ya, untuk kali ini, kau tak perlu berakting, tidak ada yang ingin membayarmu.” Sambungnya memaparkan senyum menggoda. Tak peduli dengan kondisi wajahku yang semakin memerah. Dia lantas berjalan ke lemari pakaian mengambil jaket dan juga topinya.

“Kita mau kemana hari ini?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Maaf Irene-ah, hari ini aku akan pergi sendiri. Ada sesuatu yang harus kuurus.”

Mendadak pernyataannya itu membuatku mencelos. Benarkah apa yang barusan dia katakan? Rasanya sungguh diluar dugaan jika dia pergi tanpa mengajakku.

“Baiklah pergilah. Aku akan menghabiskan waktu disini.”

“Apa kau kecewa?” Sehun tiba-tiba berada di dekatku  dan memegang pundakku. “Aku memang tak bisa mengajakku hari ini, tapi nanti malam aku akan mengajakmu jalan-jalan. Ini dua hari terakhir kita menikmati bulan madu bukan, ralat maksudku bulan madu bohong-bohongan kita?”

“Ya ini memang hari-hari terakhir kita dan aku harap aku bisa lepas darimu setelah ini.” Jawabku sinis. Dia hanya tersenyum menanggapiku tidak seperti biasa yang langsung kesal.

“Nanti malam, jam delapan di Central Park. Kau tahu arah kesana bukan, aku akan menunggumu disana.” Katanya dan bergegas pergi meninggalkanku.

-o0o-

Sepeninggal Sehun, aku pun segera berbenah diri. Jangan kira jika dia bisa berpergian sendiri, lantas aku hanya mendekam di kamar hotel sendiri pula. Tidak akan! Aku baru ingat jika salah satu EXO memberi hadiah sebuah voucher belanja dalam kado yang kubuka kemarin. Itu berarti aku bisa menggunakan sendiri bukan?

Bergegas kulangkahkan kaki ke sebuah Departement Store yang kebetulan tak jauh dari lokasi hotel. Tempat pertama yang aku kunjungi adalah toko pakaian. Ada banyak pakaian bagus yang bisa kutemukan di tempat itu. Sayangnya tak satu pun dari pakaian yang dipajang sesuai dengan selerahku. Sebenarnya untuk apa pula aku membeli pakaian jika aku sendiri sering mendapatkan pakaian dari sponsor?

Segera kuberbalik arah menuju toko kosmetik. Udara di Jepang memang sedikit panas jadi aku perlu membeli Sunblock untuk menjaga kulitku agar tidak terbakar juga membeli parfum untuk menjaga tubuhku agar tetap wangi. Nyatanya pembelian menggunakan voucher ini masih sisa banyak. Aku tak tahu harus membeli apa lagi. Sempat aku melirik tokoh perhiasan yang tepat di sebelah namun buru-buru kuurungkan. Tidak selama aku menunggu Sehun untuk memberikan kalung cantiknya itu nanti malam.

Tak ada pilihan lain. Aku pun akhirnya masuk ke toko buku saja, mengingat aku tidak bisa ke gerai makanan jika wajahku saja sudah tertutup masker. Aku menelusuri pada rak fiksi. Tak jelas buku apa yang akan kubeli. Dari cover-covernya saja, sama sekali tak ada yang menarik minatku. Tidak sebelum aku menemukan buku dengan cover gambar wajahku dan Sehun. Rasanya aku ingin tertawa dengan buku ini. Sebuah fan fiction dengan cast utama aku dan Sehun. Judulnya  Proposal Married. Benar-benar judul yang aneh. Apa penulisnya tidak bisa membuat judul yang lebih bagus sedikit, pantas saja stoknya masih banyak. Ckckck

Berhubung hari ini aku sedang berbaik hati, maka kuputuskan untuk membeli buku fan fiction itu. Ini adalah bentung apresiasi seorang idol untuk fans yang sampai bermalam-malam tidak tidur demi membuatkanku cerita ini. J

Segera ku menuju kasir untuk melakukan pembayarannya. Tanpa sadar tangan seseorang tiba-tiba menyentuh pundakku dari belakang. “Irene-ah?”  Panggilnya.

Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi mungkin dia adalah rekan sesama artisku menilik gaya pakaiaannya yang tak jauh beda denganku. Dia pun lantas mengajakku ke bagian rak yang agak sepi lantas membuka maskernya.

“Kim Jumyeon…!!!” Pekikku tak percaya. “Bagaimana bisa kau ada di sini?”

Dia lalu memakai kembali maskernya. Menyelesaikan pembayaran kasir lalu mengajakku berjaan di sampingnya.

“Aku ada jadwal pemotretan di sini untuk beberapa hari. Bagaimana kau bisa disini?” Dia lalu bertanya tentangku. Aku hanya tersenyum. Tidak mungkin aku bilang bahwa aku disini untuk menghabiskan bulan maduku dengan Sehun.

“Dimana Sehun, apa dia tak bersamamu?” Tanyanya lagi.

“Aniyo, aku hanya sendirian.”

“Sendirian? Jinja???” Aku mengangguk.

“Irene-ah, ini Jepang, bagaimana bisa Sehun meninggalkanmu sendirian disini? Harusnya dia bersamamu. Dimana sebenarnya dia sekarang, aku benar-benar ingin memukul kepala bocah itu.”

“Gwanchena,  dia memang ada urusan sedikit, lagi pula sekarang aku kan sudah bersamamu.”

Kulihat wajahnya tiba-tiba memerah. Ya, dia akan memerah jika aku melontarkan kata-kata semacam itu. Mengingat dulu kita juga pernah berkencan. Hanya jalan dan makan malam seperti biasa. Sampai akhirnya seorang fans tiba-tiba melihat kita dan marah-marah. Dia bahkan mengancam akan mempublish foto jika kita tidak mengakhiri hubungan kami karena dikiranya kami sudah resmi berpacaran. Aku pikir karena kejadian itulah hubunganku dan Jumyeon berhenti di tengah jalan dan dia tidak pernah menghubungiku lagi.

“Apa tidak apa-apa jika kita disini?” Tanyaku sedikit kawatir saat dia mengajakku untuk makan di tempat yang agak terbuka.

“Tenanglah, fans di Jepang tak semetakutkan fans di Korea. Lagipula aku sudah kenal baik dengan pemilik tempat ini.” Katanya. Seorang pelayan lalu menghampiri kami dan memberi kami buku menu. Kesempatan bersama Kim Jumyeon, aku pun memesan banyak makanan dari yang termahal yang ada di tempat ini. Untuk orang sekaya itu, tentunya tidak akan jadi masalah dibanding dengan Sehun yang menyuruhku memakan makanan sampel.

Makanan  tiba lebih cepat dari yang kubayangkan. Segera aku coba makanan itu satu persatu memastikan jika makanan itu benar-benar enak atau tidak.

“Apa kau tak pernah melihat makanan sebanyak ini saat kau bersamanya?” Jumyeon memulai lagi. Aku tahu niatnya kali ini adalah menjelek-jelekkan Sehun tapi tidak harus berkomentar tentang makananku segala. Ini membuat mood lapar ku menjadi hilang.

“Aku hanya bercanda Irene-ah, lanjutkan makanmu.” Sambungnya tiba-tiba.

Aku memang melanjutkan makanku walaupun ucapannya tadi benar-benar menyayat hatiku. Hanya saja niatan untuk memakan semua makanan ini menjadi berkurang.

“Bagaimana pernikahanmu, apa kau bahagia?” Tanyanya tiba-tiba. Ini sangat jauh di luar konteks. Walaupun konteks sebenarnya adalah soal makanan.

“Ehmm… tentu saja.”

“Dia… maksudku Sehun, apa dia memperlakukanmu dengan baik?”

“Tentu saja, mengapa kau bertanya seperti itu?” Tanyaku balik.

Kim Jumyeonkelihatan salah tingkah, “Kukira dia masih sering bersifat kekanak-kanakkan. Dia memang seperti itu jika bersama dengan Hyungnya.”

“Ya, kadang dia juga seperti denganku. Hanya saja itu membuatku sedikit terhibur.” Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak menjelek-jelekkan Oh Sehun dihadapannya. Aku tidak mau dia mengirah bahwa keputusanku menikah dengan Sehun adalah keputusan salah. Biarkan saja dia merasa bersalah saat lebih memilih popularitasnya dari pada aku dulu.

“Boleh ku tahu apa alasanku menikah dengannya?”

Aku tersendak mendengar pertanyaannya. “Minhae, aku kira pertanyaan tersebut terlalu pribadi.”

Memang terlalu pribadi. Tidak ada yang mengetahui alasan pastiku menerima lamaran yang diajukan eomma Sehun. Tidak juga Sehun, tidak juga keluarganya apalagi seluruh teman-teman red velvedku.,

“Maafkan aku, kau benar.”

Keadaan menjadi canggung setelahnya. Baik aku ataupun Jumyeon Oppa sama-sama tidak nafsu makan. Makanan hanya tergeletak di mangkok tidak tersentuh mulut. Sampai tiba-tiba ponselku bergetar menandakan adanya sms masuk.

Dari Sehun

Dimana kau?

Mengapa dia mengirimiku sms seperti ini, bukankah seharusnya aku yang bertanya dimana dia.

Jangan kira aku tidak melihatmu sekarang. Cepat kembali.

Apa ini? Apa dia sedang mengintaiku sekarang? Aku memandangi sekitar tapi tak kutemukan sosoknya itu.

Kau berani main-main denganku, kubilang cepat kembali!!!

Pesan itu masuk lagi. Dimana sih dia? Apa benar dia sedang mengintaiku sekarang?

Masih belum beranjak juga?

Aku baru ingin membalasnya tapi bagaimana caraku membalas jika pesannya terus menerus muncul

Cepat kembali atau kau akan mati!!!

Aissshhh sudalah. Segera kuambil tasku dan berniat beranjak, “Jumyeon, minhae. Aku rasa pertemuan kita sampai disini.”

“Kau mau kemana?”

“Menemui orang gila!!!”

-o0o-

Sehun POV

Aku menunggunya di depan hotel. Dari sana ku lihat Irene sedang berlari terbirit-birit dengan menenteng sebuah tas plastik. Pasti dia baru berbelanja di mall terdekat. Menghabiskan voucher yang diberi para Hyungku untuk dirinya sendiri. Semakin mendekat aku pun mendengar nafas gadis itu semakin tidak beraturan. Dan dari dahinya aku bisa melihat keringatnya mulai bercucuran.

“Kau dari mana saja sih?” Tanyaku lembut sambil mengelap keringatnya dengan tanganku sendiri.

“Kau…- Dia masih mengatur nafas. “Kau ini keterlaluan sekali, mengapa mengirimiku pesan semacam itu yang seolah-olah kau sedang mengintaiku?”

“Pesan…?”Aku bertanya bodoh seolah-olah tak percaya atas apa yang barusan dia katakan. Barulah ketika sadar apa yang dimaksud aku pun menjadi tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, jadi kau berlari tunggang langgang hanya karena pesanku itu, hahaha!!!” Matanya terbelalak bulat masih belum mengerti maksudku.

“Sayangku, mana mungkin aku menguntitmu, sms itu hanya iseng!” Sambungku.

“Hyakk, Plakkk! Kau menyebalkan Oh Sehun!!!” Dia lantas memukuliku dengan tangannya sendiri. Kubiarkan saja karena aku mengerti betapa capeknya dia berlari tadi. Tapi mengingat bagaimana cepatnya dia berlari tadi membuatku sekali lagi ingin tertawa. Hahaha.

“Memangnya apa yang membuatmu takut aku ikuti, hey?” Aku balik bertanya. Seketika ekspresinya mendadak berubah.

“Aniyo, tidak ada apa-apa.”

“Bohong, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku bukan? Lalu apa yang ada di plastik itu, berikan padaku!”

Plak! Plak! Plak!  Dia memukulku lagi. Mengapa tangannya ringan sekali sih. Para pengunjung hotel sampai melihat ke arah kami. Jika ini adalah sejenis penyiksaan rumah tangga, pastilah aku tergolong suami-suami takut istri.

“Memang kau sendiri kenapa? Bukankah kau bilang kau akan pulang nanti malam?” Tanyanya lagi.

Sejenak aku merasa ingat untuk apa tujuanku kembali sebelum waktunya. Aku menarik nafas panjang dan bicara dengan lirih, “Irene-ah, minhae. Aku tidak bisa pulang malam ini.”

“Apa?”

“Ada sebuah masalah dan itu membuatku tak bisa denganmu untuk malam ini. Bisakah kita menundanya besok?” Aku benar-benar merasa bersalah saat mengucapkannya. Apalagi saat melihat gurat kesedian di wajahnya.

“Jadi malam ini kau tidak pulang dan meninggalkanku tidur, maksudku memakai kamar sendiri?” Tanyanya. Memang sejak kejadian cerita hantu itu Aku dan Irene memang tidur sekamar. Bukan apa-apa. Hanya sekamar karena dia tidur di ranjang dan aku di bawah.

“ Nde, tapi kau tidak perlu kawatir. Salah satu orang SM sepertinya juga berada di Jepang. Aku bisa menyuruhnya tidur bersamamu jika kau ketakutan.”

“Tidakkah ini sama saja dengan kau meninggalkanku di tempat ini sendiri?” Ucapanya semakin lemah. Sungguh, aku bukan tipe laki-laki pengecut yang meninggalkan istrinya begitu saja di tempat asing. Kugenggam tangannya erat supaya dia mengetahui bahwa akupun sulit melakukan ini padanya.

“Beri aku alasan agar aku dapat melakukannya.” Ucapnya lagi.

Sebelum memberi penjelasan, aku menarik nafas panjang, “Irene-ah, temanku baru saja masuk ke rumah sakit. Dan dia harus dioperasi malam ini juga. Kedua orang tuanya masih di Korea dan aku adalah orang yang satu-satunya dikenalnya disini.”

Cukup lama dia berdiam, mengigit bibir bawahnya sekaligus menatapmu ragu. Aku tidak bohong. Temanku itu baru saja mengalami kecelakaan karenaku. Jika bukan karenaku tentunya aku tak akan sedilema ini memikirkan operasinya nanti.

“Baiklah, tidak apa-apa.” Ucapnya spontan yang seketika membuat mataku terbelalak.

“Baiklah kau boleh pergi.  Tak apa jika aku sendiri malam ini.” Sambungnya.

“Kau serius, aku bisa menyuruh orang itu menemanimu tidur nanti.”

“Tidak usah. Aku bisa sendiri. Kau pikir mudah beradaptasi dengan orang baru selama semalam. Apalagi aku belum kenal betul siapa orang yang kau maksud itu.”

“Apa kau benar-benar tidak takut?”

“Untuk apa aku takut. Dibanding dengan setan aku lebih takut padamu.”

“Aishh… kau ini, untuk apa kau takut pada pria tampan sepertiku?” Dia lantas tertawa. Padahal biasanya dia akan langsung memukulku jika aku bergenit-genit di depannya.

“Sehun-ah… temanmu itu pastinya sangat berarti bagimu.” Katanya aneh. Aku menggenggam erat tangannya dan kujawab. “Kau istri yang sangat berarti bagiku.”

-o0o-

Setelah berbicara sedikit kepada Irene, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit lebih cepat. Nyatanya operasi dilakukan lebih cepat dari yang aku duga. Dan sekarang Naomi sudah dipindah di ruang perawatan.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanyaku bergegas duduk di sampingnya. Dia langsung beranjak begitu aku datang, tapi buru-buru kucegah mengingat kondisinya yang mungkin saja masih lemah.

“Aku tidak apa-apa Oh Sehun.” Katanya tersenyum.

Jika benar tidak apa-apa pastinya aku bisa pulang lebih cepat dan tidur bersama Irene. Tapi buru-buru kutepis pemikiran itu jika tidak mau di sebut orang yang tak tahu berterima kasih.

“Harusnya kau tak melakukannya.” Tuturku lirih.

Mengingat kejadian tadi pagi saat aku baru saja keluar dari supermarket seorang pengendara motor tiba-tiba mengendarai motornya secara oleng. Naomi tiba-tiba menghalangi laju motor itu dengan cara mengorbankan dirinya. Akibatnya dirinya lah yang mengalami kecelakaan.

“Sehun, harusnya kau tidak perlu mempermasalakannya.” Balasnya.

“Apanya yang tidak dipermasalahkan, kau menyelamatkanku dan mengorbankan dirimu sendiri apa kau pikir aku suka?”

Naomi tetap melayangkan senyumnya walaupun sudah kumarahi begitu. Aku khawatir kepalanya terganggu karena benturan tadi.

“Kau sedang memaraihku sekarang tapi yang sebenarnya kau takut jika aku terluka bukan?” Dia lantas bertanya di luar ekspektasiku. Tidak. Bukan itu maksudku. Bagaimanapun hubungan kita hanyalah sebatas teman. Dan tentu saja aku kawatir jika apa-apa terjadi padanya apalagi jika itu terjadi karena menolongku.

“Sehuna… harusnya kau bisa menungguku.” Katanya perlahan. Aku tahu pembicaraan akan berlangsung serius setelah ini.

Yang kurasakan saat ini adaah keheningan. Mengingat kenangan akan  tujuh tahun lalu. Ya, Naomi memang mantan teman sekalasku. Dia adalah seorang gadis Jepang yang sengaja pindah ke Korea karena kepindahan orang taunya. Tak bisa dipungkiri bahwa aku dulu sangat menyukainya. Kita sempat dekat dan berkencan beberapa kali. Sampai akhirnya semua itu harus berakhir saat dia memutuskan kembali ke Jepang mengejar cita-citanya. Sementara aku disini menyibukkan diri dengan EXO dan perlahan melupakannya.

“Naomi, sudahlah….” Aku mengelus punggung tangannya. Sejujurnya aku tak ingin mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Tak peduli perasaannya padaku sekarang bagaimana, tapi kau tahu kan, sudah orang lain sekarang.

“Wanita yang kemarin bersamamu, itu istrimu kan?”

Aku menganggukan kepala. Dan ekspresi kekecewaan lagi-lagi tergambar kecewa di wajahnya. Entah kenapa banyak wanita yang sudah ku kecewakan hari ini.

“Aku tak bisa berpikir bagimana kau memutuskan untuk menikah secepat ini.”

“Kau memang tak usah berpikir berat dulu.” Aku menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Berharap dia lekas tertidur dan tidak menanyakan pertanyaan yang aneh-aneh lagi. “Tidurlah.”

“Kau tidak boleh pergi. Temani aku malam ini!” Ucapnya to the point. Aku segera mengangguk. Memang itulah yang kurencanakan untuk menepis rasa bersalahku.

“Aku tidak akan kemana-mana.”

-o0o-

Saat kupastikan Naomi sudah tidur, aku pun beringsut duduk di arah shofa yang dekat dengan pintu. Kukeluarkan handphone-ku  untuk menghubungi- ya kau tau lah siapa- seseorang yang benar-benar aku rindukan malam ini. Untuk pertama kalinya aku tidak bisa benar-benar tidur sebelum mendengar keadaannya terlebih dahulu. Selain itu aku juga tak mau dianggap suami kurang ajar yang meninggalkan istrinya untuk menemani wanita lain tidur.

“Hallo….” Katanya setelah aku menunggu lama untuk menjawab panggilanku.

“Kupikir kau sudah tidur, kenapa lama sekali angkat teleponnya?”

“Aku sedang mandi.” Jawabnya singkat.

“Benarkah, jadi kau benar-benar berani sendirian yah, jangan sampai tengah malam nanti ada sesuatu yang…-

“Oh Sehun, jangan macam-macam atau aku akan memanggil pelayan hotel untuk tidur bersamaku.” Potongnya cepat. Aisshhh… apa-apaan wanita ini. Apa dia pikir itu lucu?

“Aku tidak bisa tidur disini.” Tuturku seketika.

“Kau kan sedang di rumah sakit, kamu bisa menyuruh perawat untuk menyuntikkan obat bius untukmu.”

“Aku tidak bisa dibius dengan bahan-bahan kimia seperti itu….”

“Apa maksudmu?”

“Nyanyikan aku sebuah lagu.”

“APAAA???” Seperti dugaanku ucapannya jadi lebih tinggi.

“Kau penyanyi bukan, jadi nyanyikanlah sebuah lagu biar suamimu ini bisa tidur dengan tenang.”

“Kau kan juga penyanyi,  menyanyilah untuk dirimu sendiri.” Dia tak mau kalah.

“Aku ini seorang rapper, bukan main vocalis.” Jawabku tak mau kalah pula.

“Kalau begitu kau telepon saja Kyungsoo dan mintalah sebuah lagu darinya.”

Lama-lama aku benar-benar frustasi dengannya. Sebenarnya dia type wanita seperti apa ? Mengapa tak pernah peka dengan apa yang aku katakan. “Hei… bukankah kau seorang leader Red Velved, setidaknya tunjukkan eksistensimu dengan menyanyi untukku.”

Suasana tiba-tiba hening. Jika keadaan sudah diam begini aku pasti dia sedang berpikir apakah akan menyumbangkan suara pas-pas-an nya untukku atau tidak. Tapi karena diamnya terlalu lama, maka kuanggap iya.

“Nyanyikan aku lagu AOA…!”

“AOA…??? Mengapa AOA??” Teriaknya yang hampir memekakan telingaku.

“Tentu saja karena aku adalah fanboy mereka.”

“Kau mempunyai istri seorang member Red Velved tapi kau malah meminta dia menyanyikan lagu AOA?”

“Oi… istri, jadi kau sudah menganggap dirimu istriku yah?” Memang inilahku yang aku tunggu-tunggu. Saat Irene mengakui bahwa dia adalah istri seorang Oh Sehun. Memang terlihat menjijikkan tapi untukku ini jelas pernyataan yang luar biasa. Mengingat rasa gengsi gadis itu sudah setinggi Namsan Tower.

Irene terdiam dalam waktu yang cukup lama. Aku yakin kalau sekarang dia sedang salah tingkah. Menggigiti bantal atau menendang-nentang kakinya sendiri di udara.

“Hallo, tuan putri, tes-tes… apakah anda sudah siap.???” Tanyaku menggoda. Dan setelah itu sebuah suara lembut tiba-tiba menggema di telingaku.

Oraedoen Storywa geu nare meomchun na… Saranghan siganboda deo orae …Ibyeolhaneun jungingeol….Eunhasu neomeoe adeukhi meon gose…Hayan uriui gieogeul geonneoneun na… Kkumsogirado gwaenchanheunikka….Uri dasi manna….”

Suara itu berakhir seolah-olah aku merasa terbius di dalamnya. Lagu yang indah yang dinyanyikan oleh suara pas-pas-an. Tapi penghayatan dalam lagu itu sungguh luar biasa. Membuatku terdiam beberapa detik.

“Bagaimana, mengagumkan bukan. Itu adalah lagu baru Red Velved. Belum keperdengarkan pada siapapun kecuali dirimu.?” Tuturnya setelahnya.

“Hah? Mengagumkan? Kau tahu pasien di kamar sebelah tiba-tiba memanggil dokter karena mendengar suaramu ini. Aku tidak suka lagu Red Velved, nyanyikan aku lagu AOA!!!”

“Hyakk… Oh Sehun, kau ini.”

“Lagi pula lagunya terlihat mellow, membuat orang sakit jadi semakin sakit. Sudahlah nyanyikan saja lagu AOA yang miniskirt. Pasti temanku ini langsung sembuh mendengar lagu yang penuh semangat ini.”

“Oh Sehun lupakan KLIK!” Telepon dimatikan secara sepihak. Membuatku semakin tertawa-tawa saja. Aku hanya ingin menggodanya tapi dia menganggap serius ucapanku. Ya sudahlah. Memang sudah saatnya baginya dan bagiku untuk tidur.

Sebelum sempat mataku terpejam aku menyempatkan diri mengirim pesan singkat.

Selamat tidur kita akan bertemu lagi di salah satu malam.

-o0o-

Irene POV

Pagi harinya aku terbangun karena bunyi alarmku yang sengaja ku pasang pukul tujuh. Sengaja aku bangun pagi-pagi sekali karena ini adalah hari terakhirku di Jepang sebelum besok pagi kembali ke Korea. Bagaimanapun paket honeymoon ini berlaku untuk tiga hari tiga malam. Dan Sehun mana mungkin dia mau memperpanjangnya mengingat dia adalah sosok yang pelit uang.

Mengenai Si Pelit Sehun itu, aku hampir lupa jika dia tidak bersamaku malam ini. Begitu aku bangun dan mengecek bawah tempat tidur, hanya ada dua pasang sandalku yang sengaja kuserakkan. Tidak ada Sehun yang biasanya meringkuk dalam selimut.

Hei! Ada apa dengan pagi-pagi ini? Mengapa sudah memikirkan Sehun? Belum ku berdiri ponselku tiba-tiba berbunyi. Wah… panjang umur sekali dia.

“Hallo, kau sudah bangun?” Tanyanya.

“Dasar bodoh! Mana mungkin aku tidur jika aku membalas teleponnya.” Ujarku ketus. Dia hanya tertawa.

“Sudah mandi?” Tanyanya lagi.

“Aku baru akan melakukannya.”

“Jika mau mandi kau harus pakai air!” Aish… perkataannya semakin nyeleneh saja.

“Hei… aku sudah tahu. Kau pikir selama ini aku mandi pakai batu!” Dia kembali tertawa mendengar teriakanku. Aku pikir dia memang sengaja membuatku begitu.

“Setelah mandi kau harus makan yah.”

“Nde, aku tahu!” Jawabku yang terasa hambar. Sebenarnya aku ingin menanyakan kapan dia pulang. Namun pertanyaan itu seolah-olah tertahan oleh lidahku sendiri.

“Sehun-ah….” Sebuah suara wanita tiba-tiba terdengar dari sini. Suara siapa itu? Apa Sehun  bersama seorang wanita sekarang?

“Irene-ah, sudah dulu yah… nanti ku telepon kembali. Klik! Telepon tiba-tiba diputus searah. Menimbulkan kecurigaan berlebih tentang apa yang dia lakukan saat ini.

Sesudah sarapan, aku  masih belum bisa melupakan siapa pemilik suara wanita yang tadi ku dengar. Ingin rasanya aku pergi ke rumah sakit itu dan memastikan apa yang terjadi. Karena sebelumnya Sehun juga memperbolehkanku pergi ke sana jika  aku ingin.

Baiklah, setelah berpikir beberapa kali, aku akan pergi kesana. Lagi pula tidak ada yang kulakukan disini. Sampai disana aku mencari mencari-cari dimana ruangan yang ditempati Sehun itu. Aku tidak bisa bertanya pada resepsionis rumah sakit karena aku tidak tahu siapa nama teman Sehun itu.

Sekitar satu jam, aku berputar-putar dan mengintip setiap kaca kamar. Sampai akhirnya aku pun menemukan sosok Sehun yang berpakaian sama dengan hari kemarin. Kuperhatikan dia sedang menenteng obat dan berjalan di kamar VIP. Dia tidak menyadari kehadiranku. Aku ragu, haruskah aku menemuinya disana? Lantas apa yang akan dipikirkan kepadaku setelah ini?Ah… masa bodoh, tidak seharusnya aku menakutkan hal-hal yang tidak penting.

Segera aku melangkahkan aku menuju pintu itu. Belum sempat ku membukanya, aku pun melihat Sehun mendekati wanita yang berpakaian rumah sakit. Aku ingat siapa dia. Seorang wanita yang sempat ditemuinya untuk berbincang-bincang dalam waktu yang lama dengan Sehun.

Kulihat wanita itu menangis. Kedua tangan Sehun merengkuh wajah gadis itu dan menciumnya….

Drek!

Segera kupalingkan wajahku dari tempat itu. Seolah tak percaya tentang apa yang kulihat. Dia Sehun! Seberapa kali aku menggelaknya pria tadi tetaplah Oh Sehun. Benar-benar Sehun.

Tanpa terasa air mataku menetes. Aku sendiri tak mengerti mengapa air mata ini terjatuh. Sebelum sempat ketahuan, aku pun segera menjauh dari tempat itu. Smakin cepat ku berlari air mata itu semakin mengalir tak terbendung lagi.

Tuhan… aku yang aku pikirkan. Jika dari awal aku menyetujui pernikahan ini harusnya aku menyadari konsekuensi apa yang kudapat. Sehun sama sekali tak mencintaiku. Dia menikah hanya atas perintah eommanya. Harusnya aku dapat mengerti cepat atau lambat hal ini akan terjadi.

Wanita itu mungkin saja adalah kekasihnya. Mereka mungkin sengaja dipisahkan adanya pernikahan ini. Harusnya aku pun paham akan posisiku yang sekarang ini.

Terlalu lelah aku menangis, sampai akhirnya baru kusadari seseorang menepuk pelan bahuku, Kim Jumyeon.  Aku segera mengusap wajahku supaya tidak ada jejak  tangisan yang ada.

“Kau kenapa disini, ada yang sakit?” Tanyanya kepadaku.

Aku menggeleng pelan, “Ani aku hanya jalan-jalan dan kebetulan lewat.”

Dia menghela nafas panjang, “Jalan-jalan sendiri lagi?”

“Apa?”

“Aku perhatikan dari kemarin kau selalu jalan-jalan sendiri tanpa ditemani Sehun, kalian tidak ada masalah kan?” Perkataan Jumyeon membuatku sedikit bergidik. Bahkan orang lain pun lebih peka dari dirinya sendiri.

“Gwanchena, aku memang suka jalan sendiri.”

Kelihatannya dia tak menggubris perkataanku. Kita berjalan seiringan sampai akhirnya Jumyeon dengan sedikit merangkul pundakku membawaku ke rumah makan yang lokasinya tak jauh dari keramaian. Hanya ada segelintir orang disana dan kebanyakan adalah yang sudah berumur. Jadi tidak masalah jika kita melepas topeng sebagai figur idola.

“Aku melihatmu semakin kurus akhir-akhir ini, jadi aku memutuskan mengajakmu makan.” Tuturnya. Seorang pelayan datang dengan membawa beberapa makanan ke meja kita. Kelihatannya memang enak, namun aku sedang tidak nafsu makan.

“Aniyo, sebenarnya aku tadi sudah makan.” Jawabku jujur. Ingat kan, sebelum datang ke rumah sakit itu aku memang sudah makan.

“Tidak apa-apa. Bagaimana jika menemaniku makan?” Dia bertanya dengan ekspresi yang dibuat-buat. Seperti menunggu reaksiku untuk menjawabnya. Namun aku malah memaingkan muka. Tidak mau jika Jumyeon berpikiran macam-macam mengenai hubungan kita nantinya.

“Irene-ah…” Katanya pelan dengan makanan yang masih tersumpal di mulutnya.

“Jika dia berbuat yang tidak-tidak, maksudku jika dia sengaja menyakitimu atau membuatmu menangis…-nada suaranya mulai merendah- Kau bisa mencariku kala itu….”

“Tentu saja hal itu tidak akan terjadi Hyung!” Suara itu muncul begitu saja bersamaan dengan sosok tinggi yang saat ini berada disampingku. Bingo! Sehun benar-benar datang di saat yang tidak diharapkan saat ini. Kim Jumyeon membulatkan mata dan segera meminum air putih supaya bisa menetralisir keadaan dirinya.

“Kau kemana saja tadi, aku mencarimu di hotel dan ternyata kau malah disini dengan seorang pria?” Dia menyenggol bahuku pelan sambil melahap makanan di meja.

Jumyeon Oppa mendadak salah tingkah.Meskipun gaya bicara Sehun terlihat bercanda tapi kata-katanya sedikit menohok dirinya, “Tenanglah Sehun-ah, ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku tidak sengaja berjalan dan bertemu dengannya di rumah sakit.”

Harusnya Jumyeon tidak perlu menceritakan hal itu padanya jika itu hanya membuat Sehun menatapku curiga. “Rumah sakit, Apa kau sakit?”

Aku buru-buru menggeleng dan memalingkan tatapanku. Ingin rasanya aku memukul wajah mulusnya itu. Dia sama sekali tak menampilkan rasa bersalah setelah apa yang dilakukan dengan wanita itu.

“Hei Oh Sehun, rupanya sikapmu sama sekali tak berubah yah, Kau seharusnya lebih perhatian padanya.” Jumyeon memulai. Dan ucapannya itu aku dukung seratus persen.

“Jika aku tidak perhatian, tak lantas kau bisa mengajaknya pergi tanpa seizinku Hyung.” Ucapnya tak mau kalah. Sebenarnya sejak kapan aku butuh izinnya. Dia mencium orang dengan sesuka hatinya apa itu membutuhkan izinku?

“Bagaimana aku meminta izin darimu, kau saja terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri.”

“Untuk itulah jangan memintah izin dariku, jangan temui istriku, jangan mengajaknya kemana-mana tanpa aku disampingnya.!!” Tukasnya cepat.

Dia sengaja menekankan kata ”istriku” sehingga Jumyeon merasa kalah dalam perdebatannya. Tak ku kira, beginilah kelakuan seorang maknae pada sang leadernya. Sebenarnya Yeri juga sering mendebatnya tapi tak separah Sehun. Jika aku di posisi Junmyeon, aku pasti akan menjambak rambutnya hingga rontok.

“Irene-ah, katakan padaku kau ingin jalan-jalan kemana, ini hari terakhir kita di Jepang bukan?” Kata-katanya mendadak manis di telingaku. Namun bukannya aku tak sadar, dia hanya menjadikanku obyek kemenangannya atas Jumyeon.

“Aku tidak ingin jalan-jalan, kau jalan-jalanlah sendiri saja!” Tukasku cepat yang langsung mengundang wajah ceria Jumyeon.

“Hei, kita sudah melewatkan satu hari kemarin tanpa kemana-mana, haruskah kita melewatkannya lagi tanpa melakukan apa-apa?”

“Kemarin aku sudah jalan-jalan dengan Jumyeon, jadi hanya kau seorang yang tidak melakukan apa-apa.”

“WAE????” Katanya tersendak, “Ap-apa yang sudah kalian lakukan?”

“Tunggulah Sehun-ah, ini tidak seperti yang kau pikirkan…!”Jumyeon menatapku seolah menyuruhku meralat ucapanku. Jauh dari kenyataan, apa yang kukatakan hanyalah sebagai bentuk kekesalanku pada Sehun.  Kita hanya bertemu di depan toko buku dan makan bersama. Jika hal itu memang membuatnya sedih atau marah, aku tak peduli.

“Kami hanya bertemu dan aku mengajaknya makan…!”

“Mengajaknya makan tapi hanya berdua, kau sama sekali tak menghargaiku Hyung, tidakkah kau pikir aku tak sanggup membelikannya makan sendiri?”

“Sehun-ah… tolong dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau kira, Irene-ah, kenapa kau bicara seperti ini sih?” Katanya yang sepertinya frustasi. Namun aku sudah menolak memberikan penjelasan berlebih. Aku sedikit tertawa membayangkan bagaimana akhir hubungan leader dan maknae ini. Mungkin EXO sebentar lagi akan tertimpah masalah.

Saat itu Sehun segera mengajakku pergi dari tempat itu. Kita bersama-sama naik taksi dan turun tepat di hotel. Baru kusadari ternyata perlakuannya kepadaku sungguh berbeda. Dia membukaan pintu untukku, menyiapkan air panas atau setidaknya tidak mengomel melihat kondisi hotel yang kutinggal berantakan.

“Kau tahu kan aku tidak bisa berlama-lama marah kepadamu jadi berhentilah melakukan tindakan yang membuatku marah.” Katanya sesaat dia menanyakan apa saja yang kulakukan dengan Jumyeon. Benar-benar munafik. Apa dia juga tidak bisa marah pada gadis itu.

Aku hendak berbaring di atas tempat tidur sebelum kutemukan sebuah paper bag yang sepertinya sudah disiapkan untukku. Kubuka perlahan untuk melihat apa isinya, sebuah gaun berwarna ungu dengan motif bunga di bagian bawahnya. Sangat indah sekaligus warna kesukaanku.

“Pakailah, aku ingin nanti malam melihatmu memakai itu.” Ucapnya sebelum sempat aku bertanya. Sehun bernisiatif menyentuh puncak kepalaku seperti yang sering ia lakukan belakangan ini. Namun saat itu pula memory tentang kejadian itu terulang lagi.

“Kenapa? Kau tidak mau?” Tanyanya sesaat melihat reaksiku. Kuputuskan untuk dia saja dan membiarkannya berspekulasi sendiri.

“Kau tahu kan, ini malam terakhir kita di Jepang. Aku hanya ingin segalanya terasa spesial.” Ucapnya lagi seolah belum menyadari apa yang aku pikirkan.

“Aku benar-benar tidak sabar melihat kau memakainya, kau pasti akan tampak cantik nanti malam.” Aku tahu dia memang berinisiatif memujiku suapa aku membuka suara. Sungguh aku tak bisa melakukannya sekalipun aku ingin membalas semua kata-kata itu.

“Sehun… aku tidak mau!” Suaraku hampir tercekat saat menyampaikan empat kalimat tersebut.

“Apa??? Hey, apa kau mau memakai t-shirt Mickey Mouse pembelian Xiumin Hyung lagi???” Teriaknya seolah tak mengerti apa yang aku maksud.

“Sehun… tolong berhenti bicara, aku… aku lelah sekarang!” Kuhiraukan Sehun dan berbaring di tempat tidur. Sengaja aku memalingkan muka karena aku benar-benar tak ingin melihatnya sekarang.

“Kenapa, kau sakit?” Dia memeriksa keningku.

“Aku… hanya ada sedikit masalah.” Kataku pelan tapi sepertinya cukup terdengar  olehnya. “Sehun…bisahkah kau meninggalkanku sendiri sekarang?”

Tak ada sahutan. Dia benar-benar tidak sadar atas apa yang dia akukan padaku. Aku tidak tahu apa dia masih menatapku atau sudah mengabaikanku seperti biasanya.

Kurasakan belaian tangan tangan lembut menyentuh rambutku. “Baiklah, kau bisa memanggilku saat kau butuh.” Ucapnya sebelum aku mendengar langkah kaki itu pergi menjauh. Semakin jauh dan mudah-mudahan tidak sejauh aku bisa merahinya kembali.

-o0o-

Sehun POV

Sebenarnya aku sudah menanti-nantikan malam ini sejak lama. Malam di saat aku akan menyatakan seluruh perasaanku padanya. Akan kubuat Irene menangis haru hingga tak bisa menolakku. Sudah kupesan sebuah tempat di sebuah bukit lengkap dengan meja dan dua kursi. Dari bukit ini kita akan bisa melihat bintang-bintang yang berbaur dengan gemerlap lampu-lampu kota Jepang. Sangat cantik. Kupastikan tidak ada satupun orang Korea yang menemukan tempat ini. Dan aku akan membagi tempat favoriteku ini bersama Irene.

Mengenai perasaannya hari ini, aku benar-benar tak tahu mengapa dia begitu. Jika dia marah karena ku tinggal, harusnya aku lebih berhak marah sesaat membayangkan Irene yang kencan berdua dengan member EXO yang sudah kuanggap Hyung-ku sendiri. Sengaja aku menekan rasa marahku itu demi malam spesial hari ini.

Yang jelas aku sudah menyuruhnya, lebih tepatnya memaksanya untuk datang kemari. Sengaja aku berangkat lebih dulu agar bisa memastikan semuanya tertata dengan baik. Namun tak perlu khawatir, aku juga sudah memesankan taksi untuk mengantarnya kesini jadi tak perlu takut dia kembali hilang.

“Kau datang?” Saat itu kudengar bunyi langkah kaki yang mendekat ke arahku. Begitu aku membalikkan badan ternyata yang muncul bukanlah Irene, melainkan Naomi.

“Kau… apa dokter sudah mengizinkanmu pulang, keadaanmu belum sembuh benar.” Kataku sedikit khawatir melihat dia yang masih memakai pakaian rumah sakit dengan perban di kepalanya. Aku curiga dia memang sengaja mengikutiku kemari.

“Aku tidak sengaja melihatmu tadi dan aku putuskan untuk mengikutimu.” Katanya tepat sesuai dugaanku. Pandanganya beralih di sekitar sini. Dan terlihat takjub pada apa yang telah kupersiapkan untuk Irene.

“Apa ini tempat yang kau maksudkan dulu?”

“Apa?”

“Kau dulu pernah menyuruhku datang ke tempat ini bukan, aku benar-benar menyukainya Oh Sehun….” Dia lantas menarikku ke sebuah meja kursi yang penuh dengan makanan.

Sebuah meja yang dulu sudah kupersiapkan untuknya dulu, tapi Naomi mengecewakanku dengan tidak datang menemuiku. Jadi tidak seharusnya dia meminta hal sama ketika kesempatan itu sudah aku berikan pada orang lain.

“Sehun, tunggu apa lagi, cepat nyalahkan lilinnya.” Katanya lagi. Tunggu, sepertinya dia sudah paham tentang hal ini. Aku tidak menyiapkan semua ini untuknya. Bagaimana cara menjelaskannya.

“Naomi, maaf sebenarnya…-

“Apa ini,  wahh… aku juga menyiapkan anggur kesukaanku rupanya. Cepat buka aku ingin mencicipinya.”

Dia terus saja berkata, namun lidahku seolah-olah kelu untuk mengeluarkan satu kata pun.

“Sehun, kenapa diam. Cepat buka!”

Ya bagaimana bisa aku berkata jika keadaannya saja sudah salah paham begini. Tak perlu menunggu lama aku merahi tangan mungil itu yang dulunya sempat ku genggam. Menatap teduh seperti saat menatapnya dulu namun dengan perasaan yang jauh berbeda.

“Apa ini semua untuk Irene?” Belum sempat ku berkata rupanya Naomi sudah mampu menebaknya sendiri. Ya benar. Ini untuk Irene, harusnya dia tak mengikutiku sampai sejauh ini.

“Maaf.” Ucapku tulus. Hanya itu satu-satunya kata yang mampu kuucap pada gadis yang dulu pernah mengisi hidupku ini.

Air matanya mula merebak. Sama seperti pagi tadi saat kukatakan bahwa aku tak bisa kembali padanya. Sekalipun dia telah mengucap beribu-ribu penyesalannya untukku, tapi waktu tak akan semudah itu di ajak kembali.

“Sehun, boleh aku minta sesuatu padamu?”

Aku mengangguk. Sejauh itu yang aku bisa, aku akan memberikannya pada gadis yang tadi pagi menyelamatkan hidupku.

“Sesuatu yang di tanganmu itu, harusnya itu milikku bukan?”

Dia bebicara tentang kalung yang ada di genggaman tanganku. Kalung yang sebenarnya sudah berniat ku berikan pada Irene. Namun pada kenyaaannya Naomi memang benar. Sebuah kalung yang sama saat aku menunggunya di sini dulu. Kalung yang tak sempat di ambilnya.

Perlahan tanganku terulur mengaitkan kalung itu ke lehernya. Begitu terpasang, dia memulukku erat namun aku tidak membalasnya hanya menepuk punggung itu sejenak.

“Kuantar kau kembali.”

“Tak perlu, kau sedang menunggu dirinya bukan?” Naomi tersenyum memaksa.

“Aku panggilkan taksi kalau begitu?”

Segera kutarik tangannya menuruni bukit. Saat itu kurasakan sentuhannya memang rapuh. Begitu taksi datang, dia segera masuk ke dalamnya kembali ke rumah sakit.

Saat itu aku benar-benar tersenyum lega. Satu bebanku telah terlepas dan aku bisa memfokuskan diri untuk hal yang baru. Mengenai kalung itu, sempat ku berpikir apa yang nanti akan kuberikan pada Irene jika hadiah yang kujanjikan sudah di ambil. Ah, sudalah aku bisa menundanya sampai kembali ke Korea bukan?

Saat itu aku merasa perasaanku benar-benar tidak enak. Sudah satu jam lebih aku menunggu dan Irene belum menunjukkan batang hidungnya. Terlihat sejak kedatangan Naomi sampai aku mengantarkannya kembali. Irene belum ada di tempat.

Segera ku keluarkan pnsel untuk menanyakan keberadaannya. “Hallo Irene-ah?”

Klik! Sambungannya mendadak di putus. Ada apa ini, mengapa dia mereject panggilanku? Ku tekan tombol call lagi untuk mengetahui keberadaannya sekarang. Namun usahaku nihil. Nomor itu mendadak tidak aktif tanpa sebuah alasan.

Aku mendadak kalut. Kenangan dua hari lalu saat aku dan Irene terpisah terbayang daam pikiranku. Apa dia tersesat? Tidak mungkin, lokasi ini mudah di jangkau dan sudah kupesankan taksi untuknya tadi. Ku telepon sopir taksi itu, dan jawabannya sungguh di luar dugaan. Sopir taksi itu terpaksa pulang karena dia sudah menunggu satu jam namun orang yang di tunggunya tak datang-datang.

Tak perlu menunggu lama lagi, aku segera memanggil taksi dan dan kembali menuju hotel. Betapa terkejutnya saat aku kembali keadaan hotel sudah hampir berbeda. Tidak ada Irene di dalam dan kamar itu tampak rapi tanpa adanya beberapa pakaian yang berserakan. Begitu ku periksa lemarinya kusadari bahwa Irene sudah mengemasi pakaiannya dan kopernya pun sudah tiada.

Telepon berdering tanpa sempat membaca namanya, “Hallo?”

“Oh Sehun kau brengsek!” Aku terperanjak.

“Kau sedang mencari Irene bukan, dia sudah berada di Seoul sekarang!”

“Apa????

-o0o-

 

Maaf sebelumnya udah nunggu lama. Pastinya kalian pada kangen sama Hunrene Couple, iya kan? Oh iya, jangan berharap banyak joke di chapter selanjutnya. Soalnya akan banyak masalah rumah tangga yang bakal mereka alami. Banyak rahasia yang akan terbuka juga nantinya.

And Well, udah lebaran kan, saya mohon maaf jika ada kesalahan kata eh kesalahan tulisan yang mungkin menyinggunng para reader sekalian. Dan karena setelah lebaran kita nggak lagi puasa, jadinya aku berencana buat… ehm… buat itu tuh… aduh aku malu ngomongnya. Tapi plisss jangan tertawa setelah gua ngomong ini…

Naikin NC-nya

Hahahahah

*kabooorrrrrr

 

 

 

 

52 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] PROPOSAL MARRIED (Chapter 3)”

  1. NC dinaikin? Langsung melekk! #plakk!
    aaaa demen ama ff ini, apalagi ngeliat irene nya jaelous gitu.
    Maap thor baru komen, baru tau kalo chapter 3 udh update.
    Fight fight thorr! Sering2 bikin ff castnya bang sehun yakk!

  2. ngapain sihh naomi muncul lagi di kehidupan sehun,padahal kan sehun udah mulai bahagia sama irene..pasti nyeseeeekkkkk banget irene gara” liat yg tadi.liat manusia gk punya dosa mesra” an.

  3. ngapain sihh naomi muncul lagi di kehidupan sehun,padahal kan sehun udah mulai bahagia sama irene..hhheeuuhhh emang dasar tuh naomi perusuh hubungan orang.pasti hati irene sakit gara” liat tadi…

  4. Authornya curhat. Aduh irene knp hrus ngambek sma sehun. Naomi dih kok ak gk ska ya sma naomi. Psti td irene ngeliat sehun yg masangin kalung ke naomi. Duh masalahnya mulai muncul nih. Cepetan naikkan ratingnya thor, gk sbr nunggu sehun irene. Wkwk

    1. iya nih, tau aja kalo aku curhat… hehehe nggak bisa naikin rating say… tangan gua kalo nulis yang gitu2 gemetarnya minta ampun…. hehehe

  5. Uwaaaaaah, makin menarik ceritanya thor. Tp kok aku ngerasa agak kecepetan yah alurnyaa:(( syedihhh. Ini ff yg ku tunggu2 loh thor, jan lama2 ya updatenyaaa:(( dan penasaran irene tiba2 udah ke seoul ajaa wkwk. Di tunggu thorr🙌

    1. wah.. agak kecepetan yah??? iya juga sih… aku nulisnya ngebut tuh pas malam takbiran… btw thanks masukannya yah…. akan lebih baik di chapter selanjutnya… 🙂

  6. Nyesek yaampun nyeseeekkkkkkk. Tbcnya pun ngepas banget disaat lagi nyesek nyeseknyaahhh. Naomi kok ya gitu banget. Jangan kepedean atuh. Gatau perasaan cewe lain emang ._.
    Yg bilang sehun berengsek siapa? Wendy kah? Ah kudu cepet update pokoknyaa huehehe. Aku penasaraaaannnn!!
    Semangat yah author-nim ^^
    -XOXO-

    1. wendy yg bilang sehun brengsek….
      abis main nyosor orang sih, di rumah sakit pula??? nggak punya duit buat nyewa tempat kali! atau exo belum nerima gaji kali!! *alasanajanih
      tunggu chapter selanjutnya… udah dikirim kok, tinggal di pos adminnya… 🙂

  7. Yg ditunggu akhirnya dtg juga😂
    Wah irene galaw nih..sehun juga gitu siih..knpa nggak jujur aja kalo dia mau nemuin naomi..kan jd salah paham gini
    Next kak gpl ya😆faiting💪💪

  8. Hallo thor, aku readers baru.
    Aku suma sama ceritanya, di tunggu kelanjutannya ya dan izin baca untuk chapter sebelumnya :):).
    Fighting :):)

  9. Aiishh.. naomi bner” ya..ck

    Ehh ko’ irene udah nyampe d seoul aja? Apa jgn” irene ngeliat pas waktu naomi and sehun pelukan?
    Aduhh next kakk aku pnasaran sma klanjutanya^^

    1. udah deh kayaknya? gak mungkin juga kan di kabor kalo gak bener2 marah sama sehuni…
      hehehe tunggu kelanjutannya yah, udah dikirim kok, tinggal di pos…

  10. Wahh makin seru nih ceritanya ….
    Bikin pesarannnn…
    Sorry kak baru coment ,,
    Aku readers baru disini hehe ,,salam kenal ya kak ,,,
    Next chap kakk so tunggu !!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s