Stuck On You! (Chapter 3) – Shaekiran & Shirayuki

stuck-on-you-jpg.jpeg

Stuck On You!

 

A Colaboration FanFiction By Shaekiran & Shirayuki

 

Main Cast

Bae Irene, Oh Sehun, Park Chanyeol, and  Son Wendy

Genres

School life, romance, funny, friendship, AU etc.

Length: Chapetered

Rating: Teenagers

Disclaimer

Ada yang kenal dengan author dengan pen name Shaekiran atau Shirayuki?

Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua.Merupakan sebuah kerja keras dari dua buah otak yang terus saja bersinergi untuk merangkai ratusan kata demi kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Hope you like the story. Happy reading!

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | [NOW] Chapter 3 |

“Just fall in love without reason.”

 

 

[ CHAPTER 03 ]

 

Author’s Side

Matahari bersinar sangat cerah, secerah wajah gadis yang baru saja keluar dari toilet itu. Mungkin wajahnya  bisa seceria itu setelah puas mengerjai Oh Sehun, Ketua OSIS cerewet yang selalu memberikan petuah-petuah tua pada murid berulah atau mungkin saja wajah gadis itu begitu ceria karena dia sudah mendapatkan pembalut yang sangat dia inginkan. Itu mungkin saja kan? Bahkan bisa dibilang sangat mungkin bagi seorang Bae Irene.

“Kita lihat saja bagaimana wajah Sehun setelah pamornya jatuh di sekolah. Enak saja mengatai pembalutku menjijikkan,” batin gadis itu sambil menggulung-gulung rambut bagian bawahnya sambil berjalan di koridor.

“Maaf atas keributan barusan. Aku ingin meluruskan sesuatu disini.Pengumuman yang tadi jangan diambil serius.Itu merupakan ulah seseorang yang membenci ketua OSIS kita.Jadi tolong, berhentilah menertawai ketua OSIS kita.Dan untuk ketua OSIS kami, ingatlah kalimat ini. Haters gonna hate.”

Irene membelalakkan matanya. What The Hell! Siapa yang berani mengganggu rencana gadis dengan otak di ambang kehabisan kewarasan itu? Dengan langkah menghentak-hentak Irene berjalan kembali ke ruang siaran, tentu saja gadis itu ingin setidaknya ‘menjambak’ orang yang sudah mengganggu rencana yang dia anggap brilian.

“Wendy?”, Irene membatin sambil menghentikan langkahnya. Bae Irene jelas melihat Wendy keluar dari ruang siaran dan Irene sangat yakin suara tadi bukanlah suara Seulgi penyiar sekolah, yah..Irene tau karena nyali Seulgi itu hanya sebelas duabelas dengan setetes embun pagi. Seulgi itu penakut, apalagi pada Irene yang terkenal urakan dan brutal.

Brakk!

“Astaga!”, ucap Seulgi spontan saat pintu ruang kerjanya dibuka paksa untuk ke-4 kalinya hari ini. Gadis itu mendengus, lalu menatap si pelaku.“Irene lagi?”, batin Seulgi saat melihat Irene berdiri sambil memangku tangannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Apa Wendy yang barusan?”, Tanya Irene singkat dengan sebuah senyum miring yang tiba-tiba saja membuat hawa di ruangan itu berubah. Seulgi tau arah pembicaraan ini. Dengan pasrah Seulgi hanya menganggukkan kepalanya takut-takut.

“Terima kasih Seulgi-ssi.”, lajut Irene lalu pergi dari ruangan siaran itu setelah menutup pintu ruang siaran kuat-kuat.

5 kali.”, batin Seulgi kemudian sambil memutar bola matanya malas.

 

Irene’s Side

Huaaa….panas sekali.

Aku mengibas-ngibaskan tanganku ke arah leher, rasanya benar-benar panas.Wendy katanya tadi? Berani juga si nerd itu padaku. Jelas-jelas aku sedang berusaha mengerjai Sehun, enak saja dia mengganggu semua rencanaku.

Brak!

Sekarang bisa kulihat semua manusia yang ada di kelasku menatapku yang baru saja masuk kelas. Tentu saja, aku baru saja menggebrak pintu kelas ini kuat-kuat. Ah, dimana si nerd itu?

“Son Wendy!”, bentakku kemudian sambil menghampirinya. Bisa kulihat gadis nerd itu kini meletakkan buku yang sedang dia baca lalu menatapku dengan mata bertanya-tanya.

Ya! Kenapa kau mengganggu rencanaku, eoh? Mau jadi pahlawan?!”, tanyaku dengan gaya preman ke arah Wendy yang kini berdiri dari duduknya. Sekarang kami sama-sama berdiri berhadapan sambil memangku tangan. Apa-apaan dia. Mau menantangku, hah?

“Oh. Jadi orang itu kau? Si Haters? Justru kau yang apa-apaan, berani-beraninya menggunakan fasilitas sekolah untuk hal-hal kurang kerjaan seperti tadi.”, balasnya dengan nada sok tenang. Hellow, apa katanya tadi? Aku baru tau kalau nerd sepertinya berani juga.

Ya! Kenapa kalian berkelahi disini? Ke lapangan sana.”, aku menatap Chanyeol garang. Anak ini benar-benar. Mau balas dendam karena aku mengganggu scene The Heirs 2 nya di kantin kah? Dasar pendendam!

“Jangan ikut campur Kunyuk! Kau juga sama saja dengannya.”, aku menganga mendengar kalimat Wendy barusan. Heol, sebenarnya apa yang terjadi antara Wendy dan Chanyeol? Gadis ini berani sekali memanggil si picisan itu ‘Kunyuk’. Tidak takut fansnya kumat kah? Aku saja takut kalau fans si tiang listrik itu mengamuk.

Ya! Jangan samakan aku dengan nenek lampir menor ini. Kau tahu, memangnya apa yang kulakukan?!”, Tanya Chanyeol dengan nada tak terima lalu bangkit dari mejanya dan menghampiri kami berdua. Astaga, sekarang bisa kulihat semua murid di kelas ini menatap ke arah kami, bahkan aku bisa mengenali beberapa wajah kelas lain yang mengintip di koridor kelas.

“Kau melakukan banyak hal Kunyuk, kemarin kau..”

“Hei. Ini pertengkaran kita Son Wendy! Jangan mengubah topik ke tiang listrik satu itu.”, lanjutku tak terima sambil melirik Chanyeol. Yang dilirik hanya mendengus lalu menatapku tajam.

“Salahkan kalian berdua yang pendek!”, apa katanya tadi? Enak saja dia bicara. Mentang-mentang dia tumbuh menjulang setinggi pintu saja sudah pamer.

“Ya! Hormonmu saja yang..”

“HENTIKAN!”

 

Sehun’s Side

“Maaf atas keributan barusan. Aku ingin meluruskan sesuatu disini.Pengumuman yang tadi jangan diambil serius.Itu merupakan ulah seseorang yang membenci ketua OSIS kita.Jadi tolong, berhentilah menertawai ketua OSIS kita. Dan untuk ketua OSIS kami, ingatlah kalimat ini. Haters gonna hate.”

Aku tersenyum tipis, aku mengenal suara itu. Aku  melirik ke arah bangku Wendy yang kosong, itu pasti Wendy. Kini gelak tawa tidak lagi terdengar, aku tersenyum lega.

Haters gonna hate. Terima kasih,  Son Wendy.”, batinku sambil memandangi bangku kosong itu. Wendy memang gadis yang baik, teladan, dan tak pernah membuat masalah. Sangat berbeda dengan si Irene menor itu.

“Wah.. Kau beruntung. Si nerd itu membelamu.”, aku melirik Park Chanyeol yang kini memasang wajah kesalnya. Ah, pasti dia kesal karena tidak bisa mengejekku lagi. Poor Chanyeol.

“Tentu saja. Satu lagi, jangan panggil Wendy nerd. Kau hanya iri dengannya dan aku tidak suka kau memanggil Wendy seperti itu.”, balasku dengan senyum penuh kemenangan. Sekarang bisa kulihat Chanyeol menatapku dengan pandangan tak suka. Ngomong-ngomong tak suka, aku juga tak suka perasaan kebelet seperti ini. Lebih baik aku segera pergi ke toilet dan membiarkan si Chanyeol picisan itu tmengomel tak suka sendirian. Aku sih masa bodoh.

Aku menutup pintu toilet perlahan setelah aku selesai dengan urusanku. Ah, keluar dari toilet benar-benar surga. Rasanya benar-benar lega. Aku melirik jam di tangan kiriku. Sebentar lagi bel berbunyi, sebaiknya aku segera kembali ke kelas sebelum Lee-ssaem menghukumku. Lagipula, bukankah Ketua OSIS teladan harus menjadi contoh yang baik? Tapi sepertinya, aku harus menyiapkan ceramahku lagi hari ini, ceramah yang tentunya lebih panjang dan lebar dari biasanya mengingat banyaknya manusia yang berkerumun seperti lalat sekarang.

Demi proposal Pentas Seni yang baru saja ku serahkan ke kepala sekolah tadi pagi, apa-apaan ini? Memangnya kelasku itu teater apa? Kenapa banyak sekali manusia yang berkerumun di pintu?

“Hei. Ini pertengkaran kita Son Wendy! Jangan mengubah topik ke tiang listrik satu itu.”

Tunggu, sepertinya aku mengenali suara itu. Tentu saja, itu suara cempreng Irene si pembuat onar. Son Wendy katanya tadi? Jangan bilang kalau Irene dan Wendy..

“Salahkan kalian berdua yang pendek!”, Demi segala buku panduan siswa di sekolah, itu suara si Picisan nan norak Chanyeol. Apa yang sebenarnya terjadi selama aku di toilet?! Tak tahan, aku segera menembus kerumunan manusia itu. Masa bodoh mereka menatapku sambil melotot. Memangnya apa yang lebih penting dari menghentikan pertengkaran 2 manusia bebal pembuat onar dan ditambah Wendy yang teladan yang tumben-tumbennya terlibat masalah?

“Ya! Hormonmu saja yang..”

“HENTIKAN!”, bentakku keras. Masa bodoh kalau teriakanku barusan membuatku menjadi pusat perhatian seketika. Ini jauh lebih penting.

Ya! Apa yang kalian bertiga lakukan? Bertengkar?!”, kataku mengintrogasi. Baik, ini saatnya mereka tahu kalau aku bukan hanya Ketua OSIS yang tau berbicara sok baik atau sok mengatur, aku juga bisa kasar kalau mereka mengganggu ketertiban sekolah yang kupimpin ini.

“Hentikan apa, eoh? Ini masalahku dengan Wendy!”, balas Irene dengan tatapan tak suka padaku. Ya! Apa hak si urakan itu menatapku seperti tadi?

“Kau yang dengan seenaknya menggunakan fasilitas sekolah untuk mngerjai Sehun. Sadarlah Irene, kau yang salah.” , aku menatap Wendy yang baru saja melontarkan alasan kenapa perkelahian ini terjadi. Gara-gara pengumuman-pengumuman itukah?

“Iya aku salah. Lalu apa hakmu menganggu rencanaku, eoh? Dasar sok pahlawan!”, bentak Irene lagi, kali ini sambil mendorong bahu Wendy dengan jari telunjuknya. Apa-apaan gadis urakan itu.

“Oh, bukan sok pahlawan. Aku lupa jika seorang gadis wajar membela kekasihnya.”

“Apa yang..”

“Hentikan Bae Irene!”, kataku memotong ucapan Wendy dan menarik Wendy berdiri di belakangku. Gadis itu menurut. Aku menatap Irene di depanku. Gadis ini benar-benar. Harus seperti inikah hanya gara-gara masalah pembalut? Enak saja dia marah pada Wendy padahal Wendy hanya membelaku. Dan apa katanya barusan? Gadis membela kekasihnya? Untung saja suaranya tidak terdengar oleh seluruh penghuni kelas kalau tidak..

Tetttt…..tetttt…

Bel sekolah akhirnya berbunyi. Tapi sepertinya mereka semua tidak berniat kembali ke kelasnya. Mereka, maksudnya siswa-siswi SMA Hannyoung sepertinya lebih suka melihat pertengkaran di kelas ini. Ah, kepalaku pening. Aku baru saja masuk ke perkelahian mereka.

“Apa-apaan kau? Masalahku dengan dia belum selesai.”, kata Irene sambil menunjuk Wendy yang berdiri di belakangku tanpa peduli kalau bel masuk sudah berbunyi.Wendy kemudian memberontak, tapi aku terus memegangi tangannya. Bisa bahaya kalau mereka berdua sampai main fisik.

“Kalau begitu masalah kita juga belum selesai Irene. Apa-apaan pengumumanmu itu, hah? Mengerjaiku? Menjatuhkan pamorku? Sadarlah Bae Irene! Kau yang salah disini. Kau tidak sadar kalau Wendy hanya membelaku? Kau hanya iri dengan Wendy lalu mengganggunya. Apa salahnya membela seseorang, hah? Dasar gadis urak-urakan, pembuat masalah. Seharusnya kau belajar dari Wendy. Tidak seharusnya kau membuat heboh sekolah dengan pengumuman tak jelasmu itu, apalagi isinya ingin menjatuhkanku hanya gara-gara masalah pembalut menjijikkanmu itu.”Ucapku panjang lebar penuh emosi. Aku tidak bisa sabar lagi pada gadis urakan itu. Dia benar-benar membuat batas sabarku diambang batas.

“Iya! Lalu kenapa? Aku tahu kau dan Wendy adalah dua orang teladan yang tidak pernah membuat masalah seperti aku ini! Lalu, kenapa kalian mencampuri urusanku? Memangnya siapa yang menantangku melakukan hal ini? Bukankah kau sendiri yang bilang lakukan sesukamu?!”, bisa kulihat Irene menatapku marah sambil berusaha menarik keluar Wendy yang berdiri di belakangku. Aku tetap memegangi Wendy yang nampak ingin melawan. Sepertinya emosi Wendy juga naik sepertiku.

“Oh Sehun. Perkataanmu kelewat batas.”, kata Chanyeol kemudian sambil menahan Irene. Dia memakai punggungnya yang tinggi itu menutupi Irene, persis seperti yang kulakukan pada Wendy. Jadi dia membela Irene? Wah, bukankah sesama makhluk sejenis saling membela?

“Jangan ikut campur Park Chanyeol. Urusi saja urusanmu sendiri.”, balasku tak kalah sengit. Chanyeol kemudian diam. Ah, sadar juga dia ternyata. Dia terlalu ikut campur.

“Iya! Memang bukan urusanku , lalu kenapa? Kata-katamu itu keterlaluan. Mentang-mentang kau yang jadi korban sekarang. Apa lihat-lihat, eoh? Kau mau adu pukul denganku? Aku terima!”, aku menghembuskan nafas pelan. Jadi emosi Chanyeol juga tersulut? Sialan. Enak saja dia menceramahiku seperti itu.

“Apa? Kau benar-benar mau berkelahi, eoh? Ayo! Tapi jangan menangis karena wajahmu…”

Aku menghentikan kata-kataku saat sadar Lee-ssaem ternyata sudah berdiri sambil berkacak pinggang di depan kelas. Melihat sikapku spontan Irene dan Chanyeol menghadap ke arah yang sama denganku dan aku melepaskan tangan Wendy.

“Karena wajahmu apa?”, lanjut Lee-ssaem sambil mengetuk-ngetukkan sepatu hitamnya. Kami berempat hanya diam, menunduk. Neraka sudah menunggu kami, pastinya.

“Kalian berempat itu saya ke kantor BK dan kalian semua BUBAR!”, bentak guru Fisika itu kemudian. Aku hanya bisa menarik nafas panjang. Sementara ketiga manusia lainnya juga melakukan hal yang sama. Neraka sudah menanti.

 

^^

 

Wendy’s Side

Aku merutuk semua hal hari ini. Aku meruntuk hari cerah yang seharusnya indah ini berubah menjadi neraka, merutuk Chanyeol yang menjadi tetangga berlaku keparat dan selalu ikut campur, merutuk Irene yang memulai perkelahian sialan itu, merutuk Sehun yang tersulut emosi dan bukannya melerai, merutuk Lee-ssaem yang sudah menghukum kami dan tentunya merutuk semua murid yang menjadi saksi perkelahian kami. Apa kata mereka tadi? Perkelahian pembalut? Tidakkah mereka bisa memberikan nama yang lebih bagus untuk…ah..sudahlah.

“Cabut rumputnya dengan baik.”Ucap Lee-ssaem kemudian pergi meninggalkan kami ber-4 yang sedang berjongkok-jongkok ria di lapangan sekolah yang luasnya luar biasa. Aku mendengus. Setidaknya Lee-ssaem cukup baik dengan membiarkan aku dan Irene menggunakan pakaian olahraga karena kami akan berjongkok-jongkok ria sampai sore. Kalian pasti tau maksudku kalau kubilang seharusnya kami menggunakan rok seragam kan?

Ne, ssaem.”, jawab kami ber-4 serempak. Demi segala rumus aljabar dan fungsi, aku benar-benar kesal! Seumur-umur ini adalah kali pertama aku dihukum dalam 17 tahun hidupku. Bayangkan saja, aku yang tidak pernah membuat onar tiba-tiba saja harus menjadi tukang kebun sekolah dadakan hanya gara-gara membela Sehun. What the hell! Untung saja aku tidak mengumpat di ruang BK tadi. Enak saja mereka menghukum tanpa melihat siapa korban dan mana yang tersangka dan patut dihukum.

“Ambil rumputmu Wendy. Jangan hanya melamun saja.”Aku menatap orang yang baru saja bicara itu. Park Chanyeol lagi? Sepertinya hidupku rusak setelah bertemu dengan manusia tiang listrik pecicilan nan norak itu. Aku benar-benar kesal dan ingin mengumpat pada orang satu ini.

“Berisik!”, balasku tak suka lalu berdiri. Ah, jongkok sambil memungut rumput benar-benar membuatku encok padahal aku ini masih remaja.

“Wah..jangan bilang kau juga sedang butuh pembalut sekarang. Wanita PMS benar-benar..”

Brughhh!

Ya!”, pekik Chanyeol kemudian.

“Makan saja keranjang sampah itu!”,lanjutku lalu mengambil tong sampah di sebelah Chanyeol kemudian pergi meninggalkan lelaki yang baru saja kutimpuk dengan tong sampahku sendiri. Yah, mungkin lelaki pecicilan itu harus membersihkan kepala dan badannya yang dipenuhi rumput sekarang. Dan satu lagi, aku tidak PMS. Dasar bodoh!

“Kau benar-benar, aish!”, aku menangkap nada tak suka dari Chanyeol, terserah. Aku tidak peduli.

Aku tersontak ketika pergelangan tanganku ditarik oleh Chanyeol secara tiba-tiba. Karena tarikan Chanyeol badanku limbung dan .. tidak jangan lagi. Aku terjatuh menimpa tubuh tiangnya.

“Ini ketiga kalinya, ya?” Dia tersenyum jahil, aku segera mengangkat tubuhku dan segera menjauh darinya namun lagi-lagi tangan gesitnya menggagalkan langkahku.

“Apa yang kau laku–”

“Jangan mengacuhkanku.” Apa katanya?

“Apa maksudm–”

“Aku cemburu.”, aku menghentikan kata-kataku saat Chanyeol dengan seenak jidatnya memotong ucapanku dan semakin mengeratkan genggamannya di pergelangan tanganku. Apa katanya tadi? Ya! Kenapa pipiku tiba-tiba merah?!

“Tak usah merah begitu, aku hanya bercanda.”, lanjut Chanyeol kemudian yang membuatku entah kenapa benar-benar marah. Dia kemudian melepaskan genggamannya.

“Tenggelam saja sana!”, balasku sambil mendorong badan Chanyeol yang hampir setengah duduk hingga punggungnya menghantam tanah sementara aku sendiri berdiri. Aku tidak mendengar kata protes dari Chanyeol, lelaki itu hanya tertawa riang. Puas mengerjaiku untuk kesekian kalinya.

Aish, jangan bilang kau berharap!”, pekikku dalam hati sambil memukuli pipiku yang seenaknya berubah merah lalu berjalan pergi meninggalkan Chanyeol yang tertidur di atas tanah.

“Son Wendy.”Aku membalikkan badanku lalu menatap Chanyeol tak suka.

“Apa lagi?”, tanyaku malas. Sialan, kenapa jantungku sekarang berdetak lebih cepat? Ya! Padahal aku jelas-jelas tidak sedang lari marathon.

“Tong sampahmu ketinggalan.”, katanya sambil menunjuk keranjang plastik berwarna hijau di sebelahnya. Aish, orang ini benar-benar! Sedetik kemudian aku berjalan ke arahnya, mengambil tong sampah plastik itu lalu pergi meninggalkannya yang kini tertawa lepas. Aku menghentak-hentakkan kakiku. Aku kesal, benar-benar kesal tanpa tau alasan kenapa aku bisa sekesal ini.

 

Chanyeol’s Side

Langit benar-benar cerah, secerah hatiku sekarang. Kalian tau, aku benar-benar senang saat tau nerd yang selalu bermasalah denganku itu ternyata adalah tetangga baruku. Itu bukan perasaan senang saat aku ingin membully atau apa, tapi hanya senang. Pure bahagia tanpa aku sendiri tau alasannya. Aneh kan?

“Tong sampahmu ketinggalan.”, bisa kulihat Wendy datang ke arahku sambil menghentak-hentakkan kakinya dan menekuk wajahnya. Dia mengerucutkan bibirnya dan aku rasa itu sangat lucu. Kalian tau? Aku sangat suka menggodanya, seperti sekarang. Aku sangat senang melihat ekspresinya itu. Dulu aku pikir si nerd itu, ah tidak…maksudku dulu aku pikir Wendy hanya punya satu ekspresi, datar. Tapi setelah mengenalnya aku berkata lain, gadis itu penuh ekpresi.

Ekspresi Wendy wajar, seperti kebanyakan ekspresi manusia yang lain. Tapi ntah kenapa aku menyukai ekspresi gadis bermarga Son itu lebih daripada yang lain. Aku suka wajah marah dan kesalnya seperti sekarang, ekspresi penuh emosi Wendy saat bertengkar dengan Irene di kelas, muka polosnya saat berulangkali jatuh karena membaca buku, wajah bahagianya saat makan es krim meski aku tau dia harus menelan gengsinya, ekspresi takutnya saat menarik celanaku yang membuatnya spontan berlari, pipi meronanya saat kami jatuh dalam posisi ‘atas bawah’ sebanyak 3 kali, wajah datarnya saat membaca buku, ekspresi damainya saat tertidur, wajah penuh keringatnya, dan bahkan aku suka ekspresi angkuhnya saat pertama kali kami bertemu di kantin dan dia dengan seenak jidatnya menyemburkan susu coklat ke wajahku. Sepertinya aku kecanduan ekspresi Wendy, bukankah ini gila?

Aku kembali merebahkan badanku ke lapangan rumput. Biar saja seragamku kotor, aku masih punya cadangan di loker. Dasar ssaem aneh, untuk apa menyabuti rumput di lapangan sepakbola jika ada alat pemotong rumput? Pasti dia memberikan hukuman yang ringan karena Sehun dan Wendy yang terlibat masalah. Secara Sehun adalah Ketua OSIS dan Wendy adalah juara umum di sekolah ini. Atau mungkin karena aku? Bukannya narsis, tapi kalian tau kan? Aku ini Pangeran Sekolah dan begini-begini aku juara 2 umum dan kapten team basket yang tahun ini menjuarai kejuaraan tingkat nasional. Kalau karena Irene? Lupakan saja. Ku pastikan Guru BK gemas ingin menghukum gadis itu membersihkan kaca satu sekolah berlantai 4 ini dalam sehari. Tapi jangan salah juga sih, gadis itu pernah membanggakan sekolah dengan dance-nya yang aku akui luar biasa. Hanya saja satu-satunya mantanku itu terlalu urakan dan menggilai laki-laki.

Ya! Apa yang kau lakukan?!”, pekikku tak terima karena tiba-tiba saja wajahku tertutup rumput liar. Dasar Wendy, apa sekarang hobbynya menyiramku dengan rumput?

“Bangun. Hukuman kita sudah selesai.”, kata Sehun sambil menatapku masih tak suka. Aku kira dia Wendy, hehe. Dengan gerakan malas aku kemudian berdiri dari posisi tidur sambil membersihkan badanku dari kumpulan benda hijau bernama rumput itu. Aku melirik jam ku. Tunggu, jam 3?

“Bagaimana ini?”, kataku spontan kemudian.

“Bagaimana apanya?”, Tanya Irene sambil memangku tangannya. Wow, dia berbicara cukup lembut padaku sekarang, tidak seperti biasanya. Ucapan terimakasih karena aku membelanya kah?

“Sudah bisa pulang kan?”, tanyaku berharap. Kalau tidak sia-sia sudah semua yang kulakukan dari sebulan lalu.

“Oh.”, jawab Sehun malas. Mendengarnya aku bersorak riang, setidaknya masih sempat kalau buru-buru.

“Kalau begitu kami duluan. Bye.”, kataku sambil menarik Wendy pergi. Gadis itu Nampak berontak tak suka, tapi aku tetap saja menariknya pergi.

“Ya! Kenapa kau menarikku?”, kata Wendy tak suka mengikuti langkahku berlari. Nada bicara ngos-ngosan. Dasar perempuan. Berlari sebentar saja sudah seperti itu.

“Apa maksudmu? Tentu saja kau harus menuruti janjimu kemarin.”, jawabku sambil tersenyum penuh kemenangan sementara Wendy kulihat hanya memutar matanya malas.

 

^^

 

Author’s Side

Langit yang semula biru lama kelaman berubah kemerahan. Kini hamparan samudera biru berarak awan putih itu berubah menjadi permadani jingga yang membentang luas di angkasa. Suhu udara tak lagi sepanas tadi, bahkan tergolong sejuk dan enak diajak santai sambil duduk dengan segelas mocca dingin.

“Ah, capek sekali.”, kata Irene sambil mendudukkan badannya di lapangan hijau itu.

“Oh Sehun, kau tidak capek menatap Chanyeol dan Wendy yang berlari? Sekarang bahkan mereka sudah menghilang. Atau kau cemburu karena kekasihmu, ehm.”, lanjut gadis itu sambil memperhatikan Sehun yang asyik berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Aku hanya khawatir.”Jawab Sehun lalu duduk di sebelah Irene. Cukup dekat, hanya berjarak setengah meter.

“Kenapa harus khawatir? Ah, tentu saja kau khawatir karena Wendy adalah kekasihmu kan?”, Tanya Irene penasaran, menurutnya ada hubungan yang lebih dari sekedar teman sekelas antara Sehun dan Wendy mengingat sikap mereka berdua atas kasus pembalut ulah gadis itu, dan tentunya Irene yakin kalau yang dikhawatirkan Sehun bukanlah Chanyeol, hei..itu mustahil bung. Yang dikhawatirkan Sehun tentu Wendy ‘kan?

“Wendy bukan kekasihku, tapi dia adalah orang yang penting untukku.”, lanjut Sehun tanpa menatap Irene sama sekali, membuat Irene sedikit tertohok entah kenapa padahal tebakannya tak meleset, mereka lebih dari teman sekelas dan itu membuat hati Irene ntah kenapa serasa mencelos.

Oh.”, jawab Irene singkat. “Cinta sepihak? Sepertinya Sehun menyukai Wendy.” , tambah Irene dalam hati sambil menghembuskan nafasnya pelan.

Hening kemudian menemani kedua manusia itu, Irene tak seperti biasanya. Dia tak suka bicara over atau bertingkah semena-mena pada Sehun, setidaknya sekarang itu yang sedang dilakukan gadis itu. Bosan, Irene kemudian memeluk kakinya sendiri, menikmati angin sore yang berhembus sepoi-sepoi.

“Kau marah?”, Tanya Irene kemudian memberanikan diri. Rasanya benar-benar canggung menjadi pendiam, ini bukan dirinya sama sekali. Bae Irene adalah gadis blak-blakan yang tidak kenal takut, suka mengicar lelaki tampan dengan berbagai cara dan suka heboh sendiri. Gadis itu bukanlah gadis pendiam yang canggung dengan seorang Oh Sehun. Bukan, ini bukan Bae Irene yang sebenarnya.

“Tidak, aku sudah puas membentakmu tadi. Aku tidak marah, toh murid yang lain juga sudah tau titik temunya. Asal kau tidak mengulanginya saja.”, jawab Sehun tanpa emosi sedikitpun. Irene hanya diam, tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Aku minta maaf.”, lanjut Sehun yang membuat Irene kini membulatkan matanya, memandang lelaki itu dengan tatapan bingung.

“Aku rasa perkataan Chanyeol benar. Aku sudah keterlaluan. Ucapanku tadi rasanya benar-benar…pokoknya aku minta maaf, Rene.”, lanjut Sehun tulus, lelaki itu sudah memikirkannya puluhan kali sambil menyabuti rumput di lapangan sepak bola itu, dan dia rasa itu sedikit keterlaluan.

“Ah, gwenchana…lagipula perkataanmu benar semua.”, jawab Irene yang membuat Sehun mencelos.

Ya! Kau membuatku takut. Irene yang ku kenal bukanlah Irene yang duduk di sebelahku sekarang.”, lanjut Sehun dengan nada bergidik ngeri. Rasanya benar-benar horror saat Irene berubah menjadi gadis pendiam dan suka pasrah apa adanya. Setaunya Irene itu macan tutul yang siap menerkam kapan saja.

“Eiii, kau bisa saja Ke-tu-a Oh.”, balas Irene sambil menyenggol bahu Sehun. Kini mereka duduk berdekatan tanpa jarak sedikitpun.

“Ngomong-ngomong, kapan kau menepati janjimu, eoh?!”, pekik Irene tersadar kemudian menepuk bahu Sehun keras. Lelaki itu menatap Irene dengan pandangan tak suka, Irene asli sudah kembali.

“Mau hari ini? Aku ada janji dengannya jam 5 sore.”, lanjut Sehun setelah memutar bola matanya malas. Gadis bernama Irene itu tentu saja langsung mengangguk setuju. Dia sudah menunggu kata itu terucap dari mulut seorang Oh Sehun.

Irene’s Side

Aku mengikuti langkah panjang Sehun memasuki sebuah café model minimalis eropa yang cukup mewah dan nyaman. Banyak pengunjung di café ini, bahkan hampir semua meja sudah terisi. Sehun nampak mengedarkan pandangannya kesegala penjuru café yang ramai pengunjung, lalu berhenti disatu titik.

Kajja.”, kata Sehun sambil menarik tangan kananku ke salah satu meja di sudut café itu, dan benar saja. Aku bisa melihat Baekhyun dengan pakaian casual yang membuatnya manis dan tampan sekaligus sedang duduk santai di sudut itu. Tapi apakah Sehun baru saja menarik tanganku? Ah.. lupakan.

“Baru selesai jadi tukang kebun?”, goda Baekhyun pada Sehun yang kini duduk di depannya yang kemudian berakhir dengan tangan Sehun yang menjitak kepala lelaki Byun itu. Mau tak mau aku kemudian duduk di sebelah Sehun, tentu saja berusaha terlihat semanis dan secantik mungkin.

“Siapa?”, Tanya Baekhyun pada Sehun sambil melirikku yang duduk di sebelah temannya. Aku tersenyum semanis mungkin, tebar pesona pada calon gebetan bukankah langkah bagus?

“Bae Irene, temanku.”, kata Sehun memperkenalkanku singkat.

“Ah…Byun Baekhyun imnida. Senang berkenalan denganmu Irene-ssi.”, kata Baekhyun sambil menyodorkan tangannya. Tentu saja aku segera membalas jabat tangan dari lelaki yang sekarang sedang membuatku deg-degan tak karuan itu.

“Senang berkenalan denganmu juga Baekhyun. Jangan terlalu formal, kita sama-sama tahun ketiga di SMA.”, lanjutku yang dibalas senyuman super menawan yang tentunya membuatku terlena. Dia benar-benar tampan.

Oppa, mian. Toiletnya penuh jadi aku agak lama.”, aku membulatkan mataku pada gadis yang tiba-tiba saja duduk di sebelah Baekhyun dengan nada manja. Siapa gadis ini? Adik Baekhyun kah? Aku melirik Sehun dan Ketua OSIS cerewet itu juga sepertinya tidak tahu, wajahnya menunjukkan kalau dia juga baru bertemu gadis di depanku ini.

“Oh iya Hun. Ini alasannya aku mengajakmu ke café ini hari ini. Dia Kim Yerim, pacarku. Bukankah dulu kita berjanji akan mengenalkan pacar satu sama lain? Sekarang aku punya Yeri.”, kata Baekhyun dengan senyum sumringah, sama seperti ekspresi gadis bernama Yeri di sebelahnya. Tunggu, apa kata Baekhyun tadi? Pacar? Jadi Byun Baekhyun yang aku taksir pada pandangan pertama sudah punya pacar?

“Ah– Ini pacarmu?” Aku mendengar nada kaku dari mulut Sehun.

“Oh, Ini Sehun sunbae ‘kan? Dan ini Irene sunbae.” Aku melirik malas ke arah gadis itu, sok tahu sekali. Dan tingkahnya membuatku ingin mencabik-cabiknya.

“Darimana kau tahu?” Sehun agaknya tertarik dengan permbicaraan ini, kalau aku? Jangan Tanya itu, rasanya aku benar-benar ingin pulang sekarang.

 

Author’s side

“Darimana kau tahu?” Sehun menatap gadis yang merupakan adik kelasnya itu.

“Ah– oppa sering cerita tentang sahabatnya yang sering bertengkar dengan seorang gadis cantik tapi me–” Baekhyun segera menutup mulut kekasih barunya itu. Kini mata Sehun dan Irene menatap seram ke Baekhyun.

“Aku hanya cerita satu kali, kok.” Baekhyun tersenyum kikuk, Ia menarik tangannya dari mulut Yeri lalu menarik pipi gadis itu gemas.

Gadis yang terlampau polos.” Tidak ada hujan tidak ada badai entah kenapa suara hati Sehun dan Irene serempak kali ini.

Irene dan Sehun hanya diam selama lima belas menit sambil menonton adegan mesra khas pasangan baru di depan mereka. Jujur saja, Irene baru kali ini jatuh cinta sungguh-sungguh dan rasanya benar-benar tidak enak menurutnya. Bahkan vanilla latte traktiran Baekhyun sama sekali tidak ia sentuh karena terlalu panas melihat kedua orang di depannya. Kenapa dia harus gagal sebelum memulai? Tidak tahan menonton orang yang dia sukai sedang asyik bermesra-mesra ria dengan kekasihnya maka Irene pun memutuskan untuk pulang.

“Ah iya aku lupa kalau hari ini aku ada urusan, aku pulang duluan ya, Sehun, Baekhyun, Yeri. Terimakasih traktirannya.” Irene bangkit berdiri, menunduk sesaat lalu mulai beranjak meninggal kursinya. Sehun hanya menatap gadis itu penuh tanya, ia hanya memikirkan satu hal. “Apakah Irene menyerah?” Irene bahkan tidak menoleh sedikitpun ke belakang.

Sebenarnya Sehun juga tidak tahan menjadi anti nyamuk bagi Baekhyun dan Yeri tak selang lima menit dari kepergian Irene, akhirnya Sehun pun memutuskan untuk meninggalkan pasangan baru itu secepatnya sebelum dia benar-benar menjadi anti nyamuk gratisan.

“Baekhyun-ah terimakasih traktirannya, tapi aku juga tidak bisa lama-lama disini karena setumpuk laporan menungguku dirumah. Kau tau, aku sedikit sibuk gara-gara pentas seni bulan depan. Aku duluan ya Baek, Yeri.” Sehun bangun dari duduknya lalu beranjak meninggalkan café itu cepat-cepat. Ntah kenapa dia memilih mengikuti arah kepergian Irene tadi meskipun Sehun tau arah rumahnya berlawanan dengan arah tersebut.

 

^^

 

 Sehun’s side

Aku berlari kecil, entah kenapa aku berniat mengejar Irene. Dan untunglah aku masih bisa mengejar gadis itu. Aku penasaran dengan reaksinya. Aku mempercepat langkahku namun langkahku tersendat ketika gadis menor itu tiba-tiba berjongkok di tengah jalan, tepatnya ditengah trotoar yang penuh manusia berlalu lalang. Sepertinya dia sudah tidak menggunakan otaknya dengan baik. Orang gila mana yang berjongkok di tengah jalan? Ah, aku lupa. Bukankah aku sendiri yang sering mengatai gadis itu gila?

Ya! Bae Irene!” Irene tidak merespon. Dia tetap saja berjongkok ria ditengah trotoar tanpa memperdulikan sekitarnya yang mulai memperhatikan gadis itu sambil tertawa. Aish! Aku kemudian mendekati Irene perlahan lalu berjongkok tepat di depan gadis itu, membuat kami menjadi pusat perhatian untuk kesekian kalinya.

“Bae Irene.”, kataku lembut sambil memegangi kedua bahu gadis itu yang sedikit berguncang. Sedetik kemudian Irene mengangkat kepalanya, membuat mataku bertatapan langsung dengan manik gelapnya yang berair dan mulai memerah. Dia menangis.

“Hiks”

Aku membulatkan mataku tak percaya karena tiba-tiba saja Irene menghambur ke arahku sehingga membuatku terjatuh dalam posisi terduduk di trotoar dan Irene yang…memelukku?

“Hiks.”

Ya…Bae Irene. Kenapa kau menangis, eoh?”, tanyaku gugup karena jujur otak dan jantungku tak bekerja sejalan sekarang. Bahkan aku merasa pipiku memerah seketika.

“Sehun-ah, kenapa rasanya begitu menyakitkan? Ntah kenapa rasanya sangat perih hingga membuatku menangis.”, Tanya Irene sambil memukul-mukul dadanya sendiri dengan tangan kanannya sementara yang satunya lagi masih melingkar memelukku. Ntah kenapa, kalimat Irene barusan jelas membuat hatiku mencelos.

“Menangislah sepuasmu.”, lanjutku spontan sambil memeluk Irene yang masih menangis. Ntah tindakan berani apa yang sedang kulakukan sekarang. Masa bodoh dengan semua mata yang kini memperhatikan aku dan Irene yang berpelukan sambil duduk di tengah-tengah trotoar. Bukankah sudah kubilang otak dan tubuhku tak bergerak sejalan? Aku rasa akal sehatku mungkin sudah rusak karena diterpa terik matahari berjam-jam di lapangan atau stress karena banyaknya laporan OSIS yang menunggak untuk dikerjakan hingga aku sulit mengartikan tindakanku sendiri.

“Sehun?”, lirih Irene yang tentunya kaget dengan tindakanku ini. Aku semakin memperat pelukanku.

“Menangislah. Basahi saja seragamku sepuasmu.”, lanjutku semakin memperat pelukanku pada Irene yang kemudian membuat tangis Irene kembali pecah. Aku hanya diam, tetap memeluk gadis itu dalam diam meski kuyakini seragammku kini penuh air mata Irene. Aku meletakkan tangan kanaku ke kepala Irene, mengelus rambutnya belakangnya pelan.

“Tenang saja, aku akan selalu ada untukmu Bae Irene. Menangislah sepuasmu, lalu lupakan dia. Kau tau, ntah kenapa rasanya hatiku panas saat melihatmu menangis karena Baekhyun. Mungkinkah ini namanya cemburu?”

 

(To Be Continued)

49 thoughts on “Stuck On You! (Chapter 3) – Shaekiran & Shirayuki

  1. Ping-balik: Stuck On You! (Chapter 4) – Shaekiran & Shirayuki | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: Stuck On You! (Chapter 5) – Shaekiran & Shirayuki | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: Stuck On You! (Chapter 06) – Shaekiran & Shirayuki | EXO FanFiction Indonesia

  4. ini bikin saya mau terbang ke langit aja, kamu sukses udah membuat imajinasi saya menyebr ke tujuh lautan layaknya mau ke Grand Line hahhahha *abaikan -_- ditunggu updatenya lagi ^_^ terima kash

    • Waduh terbang ke langit? Minjem sayap siapa nih? 😄 Nyebur lagi? Wihwih, tau renag kan? Entar kalo tenggelam kan susah 😄😄 mohon ditunggu ya, thankyou❤

  5. Aku sukaaaaa. Aku suka moment manis mereka semuaa. Terutama hunrene. Kalo wenyeol manis tapi konyol hahah. Tapi tapi gatau sii mungkin aku aja yg ngerasa beginj. Aku ngerasa kaya kecepetan. Soalnya kaya tiba tiba aja gitu sehun jadi ada rasa cemburu gitu sama irene. Pen ngelindungin irene gitu. Atau disini berlaku ‘suka karena terbiasa’? Terbiasa berantem jadi suka? Ah ntaahhh hahah. Tapi aku masih tetep suka kok. Suka bangeetttt! Bikin gemaayyyyy {}
    Keep writing yaah duo bhaday hahah. Semangaaatttt!!!

    • Hihi kamu suka sama momennya yah? 😄😄 Iya bener tuh, Wenyol sweet but kocak 😄😄
      Thanks ya sarannya 😊 emang agak kecepatan kisahnya tapi thankyou kalo kamu tetep suka 😄😄
      Kamu juga bikin gemayyy ❤ thanks yaa 😍

  6. Duh asli bikin ngakak, irene-sehun, wendy-chanyeol berantem kok lucu ya. Pas nyabutin rumput chanyeol kyaknya ktduran, trus cara wendy bngunin dia lucu. Wkwkwk. Dan irene yg tiba-tiba jadi diem gitu kok rasa-rasanya aneh. Aku pikir janji apa sehun sama irene. Eh ternyata janji ktmu sama baekhyun di cafe. Tpi kasian irene, baekhyun udh pnya pcar ternyata. Dan pas irene duduk ditrotoar, sehun datengin dia trus irene nangis trus mereka pelukan. Kok aku bahagia bgt ya baca momen ini. Duh kayaknya sehun udh ada rasa-rasa gimana gitu sama irene. Buktinya dia mau irene basahin seragamnya. Duh manisnya.

    • Ngakak ya chingu?😂😂
      Iya, wenyeol berantem nya lucu yah, gemes ane. Mana rumput jadi saksi lagi, wen..kesian si CEYE ganteng” disiram rumput.😂😂
      Hunrene , aduh kok baper yak?bahagia yak?😆
      Itu irene parah hati, si sehun sweet banget lagi, pakek meluk di trotoar. Nyak, kapan ane digituin sama sehun? /PLAKK/ 😂😂
      Thanks for reading chingu, ditunggu yaw next chapnya. 😉☺😊

  7. Good thor😀 sukaa banget sma sehun-irene, banyakin cerita mrknya dong thor =) wendy-chanyeol kayanya ada kemajuan nihh, wendy jadi banyak ngomong wkwk.. Lanjutt thor

    • Diusahain hunrene makin banyak ya, iya nih ada kemajuan, wendy jadu banyak ngomong, gak nerd mulu..😆
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

  8. Hahaha sumpah ini mah bner2 konyol tingkah mereka😀 tapi trkhirnya aku baper bin laper kak liat irene sehun :’) aku harap sih kelanjutannya gak bikin feel funny nya ilang, tapi ditmbh sweet moments nya aja wkwk😀 keep writing kak!😉

    • Konyol + baper yak..😂😂😆
      Semoga funny gak ilang ya, ditambah ntar sweetnya, biar makin baper..😆😆
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

  9. Ini keren Thor, keren !! kenapa semakin kesini yang tadinya ngakak liat tingkah Irene ke Sehun jadi baver (╯︵╰,) eh btw Cy ama Wendy juga unik banget, langka gitoh(?) yang satunya make sumpah serapah rumus2 ama penemu yang satunya sulit dijelaskan(?) Ditunggu kelanjutannya ya Thor !! semangat 💕

    • Wkwkwk, awalnya ngakak terakhir”nya baperan,😂
      Pasangan unik, nyumpahin orang pakek rumus, satunya lagi gak taulah, pecicilan banget, pedenya selangit.😂😂
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

  10. Waah asikkk ceritanya makin kesini makin seruuu tentunyaa aku suka moment chanyeol-wendy itu si chanyeol usil banget sma wendy wkwkwk
    Sehun-irene akhirnyaa yah ada juga adegan moment mereka yang romantis aahh aku juga pengen dipeluk sama sehun hihi.. kak eki next chapter banyakin moment sehun-irene yah?? Biar mereka tmbah dekat gituu wkwk ditunggu yaa kelanjutannya semangatt kak!!

    • Syukur deh kalo ceritanya makin seru..😆
      Itu chanyeol emang usil banget sama wendy, kurang kerjaan pan? Wkwk..😂
      Wkwk, dipeluk sama sehun eki juga mau..(*plakk.. 😂), akhirnya ada adegan romantis antara hunrene selain ceramah, wkwk.😂
      Diusahain ya next chapnya hunrene makin banyak.😉
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

    • Makasih lo udah bilang cerita abal” ini keren, terhura kami..😳😳
      Kami semangat kok, wkwk..😆😆
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

    • Siapapun ingin digituin sehun chingu, duduk di tengah trotoar yg rame orang lewat terus dipeluk sambil dielus rambutnya, makk….adek baper..😍😍😘😂😳😳
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading. 😉☺😊

  11. Aw aw aw akhirnya moment mereka keluar juga (?) Sumpah senyum” sendiri Eon bacanya :’v JADIAN JADIAN JADIAN /demo/
    Tinggal nunggu moment Chanyeol sama Wendy🙂 Next and Faighting ^_^

    • Moment apaan nih yg keluar terus bikin senyam-senyum sendiri? Wkwk, awas dikira otaknya rada miring sama yg ngelihat gegara senyam-senyum sendiri chingu..(*pengalaman pribadi eki..😂/plakk/😂)
      Noh, di demo jadian ama readers wahai para cast..😂😂
      Tinggal nunggu wenyeol yak, next chap mungkin chingu..😂
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

  12. Sakit banget jadi Irene harus nyerah sebelum berperang, tapi Bagus deh kalo baekhyun udh punya pacar kan jadinya Irene sama Sehun terus Chanyeol nya sama aku (ngarep)😑
    Ditunggu ya next chapternya banyakin part Sehun-Irene ya kak 😊

    • Kalah sebelum perang iti nyes lo chingu..(*macam lo pernah ngerasain aja ki../Plakkk/😂), iya..Bagus si baek punya pacar, biar irene move on ke sehun, itu ceye sama kita berdua aja chingu, kita bagi” (*lo kata sirup marjan dibagi-bagi ki? /plakk/😂)
      Duh, itu hunrene udah banyak banget lo chingu, ntar wenyeol demo ke eki atau shira..😂
      Ditunggu yaw next chapnya, thanka for reading.😉☺😊

  13. “Oh, bukan sok pahlawan. Aku lupa jika seorang gadis wajar membela kekasihnya.” wendy itu kekasih sehun???
    Tapi kata sehun :
    “Wendy bukan kekasihku, tapi dia adalah orang yang penting untukku.”,
    Eiii apa maksudnya nih??? #bingung
    Aish.. sbenernya sehun sma wendy ini ada hubungan apa sihh??
    Aduh aku pnasaran deh

    Apa iniii??? kox kyanya wendy jdi suka sma chanyeol sdangkan sehun ke irene??
    Aduuhhh maaf ya klo banyak (?) ..hihihi

    Lah itu abang baek udah punya pacar?
    Sehun sma irene dtrotoar pelukan?. aduh dri pda bingung
    Next ya dtunggu klanjutanya^^

    • Hayooo, ada hubungan apa antara wendy dan sehun kak ly? Hayooo??????😂😂😂 masih rahasia yaw..😉
      Siapa suka sama siapa hayo? Masih rahasia egen (* kemudian besoknya kedua author ditemukan terkapar bersimbah darah deket sungai.😂😂)
      Gpp kok banyak nanyak, wkwkwk..😉😄😂
      Iya, abang baek dah punya pacar rupanya, si irene modus (*PLAKKK/😂), atau malah Sehun yg modus? (*PLAKKK EGEN.. 😂)
      ditunggu yaw next chapnya, thanka for reading kak ly.😉☺😊

    • Syukur deh kalo cerita nya makin seru,😉
      Iya nih, kayaknya sehun mulai suka sama irene, dia selingkuh dari eki (*PLAKK/OPEN YOUR EYES EKI!😂)
      ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

    • Sehun cemburu, jangan cemburu hun, tenang, masih ada eki Setia menunggumu /Plakkk/ OPEN YOUR EYES EKI!😂😂/
      Syukur deh kalo ceritanya makin seru chingu..😉😄
      Ditunggu yaw next chapnya, thanks for reading.😉☺😊

  14. Tenang saja aku akan selalu ada untukmu Bae Irene, Sehun mulai suka nih sama Irene? kalau cemburu? Cemburu itu tanda cinta Hun. Wendy seseorang yang penting bagi Sehun,malsudnya apaan?
    Aku ngakak guling2 pas Sehun itu ngumpatin Irene ama Chanyeol. Chanyeol si tiang listrik yang pecicilan? Irene gadis menor yg urakan. Tapi ngomong2 mulutnya Sehun nggak capek ngengumpat ama ceramah terus? Aku sih capek,tapi Sehun? Di tunggu kelanjutannya kak,ceritanya seru banget. Next kak,

    • Ayo lo Hun, ditanyain readers nih, ente suka sama irene? Hayoo, katanya cemburu?😂😂 itu eki juga kurang tau chingu, monggo ditanyak sama sehun, tapi jangan kaget ya sama jawaban sehun kalo dia bilang sehun sukanya sama eki (*Plakkkk/ OPEN YOUR EYES KI!😂) HAYOO, wendy sapanya sehun? Kok orang penting?😂
      Iya chingu, sehun hobbynya emang ngumpat anak orang, yakali irene sa chanyeol di umpatin kayal gitu,😂 masa ada tiang listrik yg pecicilan, tiang listrik dekat rumah ane diam ayem mulu, jadi pengen tau yg pecicilan kayak gimana..(*Plakkk/😂) irene, dirimu diumpat sehun nak, gampar balik sana (*ajaran sesat kemudian digampar..😂)
      Sehun sudah terbiasa chingu, ceramah + ngumpat is his style…(*eakkk…sok bule /Plakkk/😂)
      Ditunggu next chap ya chingu, thanks for reading.😉☺😊

  15. Ini nih yang aku suka, sama² ngelakuin yg diperintahkan hati*bahasanya cuy* udah ah,irene sama sehun ajaa. eh tapi yg wendy itu orang yg penting buat sehun itu apa maksudnya -_- . ditunggu nextnya deh kakak² authornim ^^ fighting

    • Emang ngelakuin yg diperintahkan hati maksudnya apa chingu? /plakk/😂
      Hayoo, apa maksudnya wendy orang pentingnya sehun? Iya, sehun sama siapa hayoo? Sama irene atau wendy? Kalo chanyeol mah gampang, udah eki boking /plakkkk/ (*ngimpi lo ki..😂)
      Ditunggu yaw next chapternya, thanks for reading.😉☺😊

    • Baks..😂 Cinta pandangan pertama kenangan mantan dimana-mana? Pengalaman pribadi ya chingu?😂😂😂 /plakk/
      Iya chingu, 2 couple..😳
      Thanks for reading, tunggu next chap yaw..😉☺😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s