[EXOFFI FREELANCE] Empty (Chapter 3)

empty

EMPTY

Indah Milleniyani (Zilian)

Chapter | Teenager

School life |  family | romance

Choi Yuna|Choi Yura|Park Chanyeol|Byun Baekhyun|Oh Sehun|Shim Jung Ah|Kim Seol

Fanfiction ini asli buatan penulis. Cast hanya milik Tuhan dan orang tuanya. Ini adalah cerita fiksi, dan hanyalah semata-mata kecintaan seorang penulis, bukan untuk merusak karakter asli tokoh tersebut. Happy reading, and leave a comment, please 🙂

Amazing cover by Aquerra Artwork @posterchannel

 

CHAPTER 3

Benangnya sangat kusut, aku tidak ingin menguraikannya

Ya Tuhan! Apa lagi sekarang? Apa dia ingin aku mati di bunuh oleh fans-nya itu? Argh! Jebal!

Orang-orang yang lewat mulai menatap dan berbisik-bisik. Aku tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, tapi tentu saja itu bukanlah sesuatu yang baik untuk didengar.

Mungkin perkataan mereka yang kupikirkan sebelumnya: ‘Jangan dekati Oppa-ku!’, ‘Dasar gadis jalang!’, ‘Pergi jauh-jauh sana!’, atau lebih tepatnya ‘Kau ingin mati ya?’ kini sangat berlaku dan tidak diragukan lagi.

Aku mendongak, mendapatinya tengah terpaku di tempat. Melihat itu membuatku meringis, entah sampai berapa lama aku akan berada di rengkuhannya. Ini benar-benar memalukan!

Aku memejamkan mata, tidak tahu apa  yang harus kulakukan. Terlebih, pria itu tidak berbuat apapun. Haruskah aku melarikan diri? Tidak bisa, terlalu banyak orang di sini. Niatnya sih mau melarikan diri, bagaimana kalau aku dihadang? Atau lebih tepatnya mereka tidak ingin aku melarikan diri. Tetapi jika berdiam diri terus, aku akan menjadi bulan-bulanan para fans-nya. Dikiranya aku menikmati momen seperti ini. Cih, aku sama sekali tidak berharap salah satu dari mereka yang berpikir aku menikmatinya.

“Kau, cepat menyingkir.” bisikku tak sabar.

Bukannya menurut, pria itu–Park Chanyeol– malah menaikkan alisnya. Rupanya Chanyeol tidak mengerti maksudku.

“Yuna-ya.” Seseorang memanggil namaku. Aku menoleh menadapati pemilik suara itu yang berada tepat di belakangku.

Belum sempat aku membuka mulut, Baekhyun–pemilik suara itu–menarik tanganku. Membuatku lepas dari rengkuhan Chanyeol.

Baekhyun menuntunku berlari bersamanya, ia berhasil mengeluarkanku dari segerombolan para gadis.

Aku masih belum bisa bernapas lega, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Selama hidupku aku tidak pernah berpikir ini akan terjadi, tidak sama sekali. Terlebih dengan musuh besarku sendiri. Aku hanya bisa berharap kejadian seperti ini yang pertama dan terakhir seumur hidupku.

Dengan nafas terengah dan nada tinggi Baekhyun bertanya padaku, “Kau, bagaimana bisa berada dalam pelukannya sih? Kau bahkan selalu menjaga jarak dengannya.”

Dengan wajah datar, aku menjawab. “Itu terjadi begitu saja.”

“Terjadi begitu saja? Begitu saja apanya?” Baekhyun masih belum menyerah memberikan pertanyaan padaku. Aku tahu, dia sungguh sahabat yang selalu perhatian padaku.

“Ya begitu. Terpentingkan ada kau” balasku sambil menatap sekitar.

“Bagaimana kalau aku tidak ada? Apa yang akan kau lakukan disaat seperti itu? Menangis? Melarikan diri? Atau kau hanya pasrah?”

“Kenapa jadi berlebihan sekali sih?”

Baekhyun memegang erat pundakku. Ia menatap lekat mataku lalu bergeming dengan mata terpejam.

“Tidak mungkin, kau sudah berjanji padaku ‘kan?” aku melebarkan senyumanku.

“Yuna-ya, kau juga harus menjaga diri,” kata Baekhyun lalu melepaskan tangannya yang menggenggam pundakku, “Kali ini kau benar-benar membuatku kesal. Bagaimana kalian bisa berpelukan seperti itu?”

“Berhentilah berbicara. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” balasku yang bergidik ngeri karena membayangkan apa ia lakukan dengan Chanyeol tadi.

Sesaat aku tersadar, Baekhyun benar-benar membuatku berada di tempat yang aman. Bahkan aku sendiri tidak tahu tempat apa ini. Ada sebuah kaca besar yang menempel di tembok. Kacanya terlihat sedikit retak, barang-barang di sini pun sudah dilapisi debu yang tebal. Sepertinya ini adalah tempat latihan yang sudah tak terpakai.

“Tempat apa ini?” mataku tiba-tiba saja mengarah pada kaca yang kini menampilkan diriku seutuhnya.

“Tidak tahu”

“Dari mana kau tahu tempat ini?”

“Aku pernah melewati ruangan ini tapi tidak pernah masuk”

Pandanganku beralih pada sebuah tiang panjang yang berada di dekat tembok. Rasa penasaranku bertambah ketika mataku menemukan sebuah sepatu lusuh. Sebuah sepatu ballet lusuh yang tergeletak begitu saja di lantai. Sudah jelas, ini adalah ruang latihan ballet.

“Ayo kita pergi” pintaku cepat saat menyadari bahwa tempat ini benar-benar bekas ruang latihan ballet.

&&&

Selain fakta bahwa Baekhyun adalah sahabatku, ada sesuatu yang belum kuceritakan pada kalian mengenai dirinya. Sesuatu yang sangat penting, hingga aku bisa seperti ini.

Kalian ingat saat aku menceritakan sedikit kisah hidupku menjadi anak broken home? Sebenarnya Baekhyun-lah yang membuatku bangkit dari semua masalahku. Tidak terpikirkan bukan?

Semuanya berawal ketika saat kali keduanya aku ingin meninggalkan rumah karena Papa. Pertengkaran Papa dan Mama sebelumnya, sebenarnya sangat membekas dalam ingatanku. Saat itulah aku bertemu dengannya. Bagiku, tidak ada yang menyayangiku lagi baik itu Papa, Mama, ataupun Kakak. Mereka meninggalkanku sendirian, bukankah itu sama saja mereka tidak peduli padaku? Dan sekali lagi aku berpikir, untuk apa aku hidup? Untuk siapa senyumku ini? Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, di tempat yang sama. Sungai Han.

Namun saat hendak melompat ke dalam sungai, tiba-tiba saja tangan kecil menahanku. Ingin rasanya memberontak, tetapi tangan itu sangat kuat menahanku. Saat aku berbalik menatapnya, dia berbicara sambil menangis. “Jangan melompat, kau akan sakit.”

Aku menatap lekat mata coklat karamelnya. Terlihat familier. Rambutnya semrawut, tingginya sama denganku, juga pipinya memerah karena kedinginan. “Kau siapa?” dengan wajah polos aku bertanya.

“Byun Baekhyun” jawabnya dengan nada yang masih terisak.

Saat dia mengucapkan namanya, membuatku teringat akan satu hal.  Baekhyun adalah anak yang belum lama ini kutemui. Beberapa hari yang lalu, saat aku sedang merasa sedih aku akan pergi ke taman hanya untuk menghibur diri. Dan kalian pasti tahu benar apa yang kudapat di sana. Tentu saja Baekhyun, dia tiba-tiba saja muncul dari balik pohon dan menghampiriku. Baekhyun bertanya mengapa aku malam-malam bisa berada di sini. Saat Baekhyun bertanya seperti itu aku hanya bisa diam. Jelas terlihat Baekhyun adalah anak orang kaya, dan bukanlah gelandangan. Aku bahkan yang lebih ingin tahu mengapa dia berada di balik pohon malam-malam seperti ini. Dan semua berlalu begitu saja, hingga aku dengannya menjadi sedikit lebih akrab.

Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk menyerah dalam hidupku yang menyedihkan ini. Kemudian Baekhyun-lah alasanku tidak bisa mengakhiri hidup. Sama seperti janjinya, “Yuna-sshi, jangan pergi. Aku berjanji akan selalu menjagamu, jadi jangan pergi.”

Kami yang saat itu tingginya nyaris seratus tiga puluh sentimeter pun akhirnya membuat janji bersama untuk tidak menghilang satu sama lain.

&&&

“Seol-ra! Kumohon kembalikan ponselku!” Jung Ah berteriak sebisanya, saat Seol mulai berniat memasukkan ponsel milik Jung Ah ke dalam lubang closet.

“Tidak mau!” Seol beberapa kali menjulurkan lidahnya. Kulihat dia sangat puas melihat Jung Ah yang hampir ingin menangis.

“Ayolah Seol, kau tidak bisa menguras uangku dengan cara seperti ini! Tidak adil namanya!”

“Kau duluan yang tidak mau memberikan uang padaku.”

“Itu kan hanya ayam goreng saja. Hanya lima puluh ribu won. Lagipula kami belum memakannya”

“Tapi hari ini adalah jadwalmu yang membelikan ayam. Kau bilang hanya lima puluh ribu won? Kenapa kau tidak membayarnya, kalau itu hanya lima puluh ribu won!”

“Kau tahu benar, aku datang terlambat dan lupa membawa dompet”

“Salahmu sendiri, kenapa bisa-bisanya tidak membawa dompet?” Lagi-lagi Seol menjulurkan lidahnya pada Jung Ah.

“Hei, hentikan! Kalian sudah berbicara selama lima belas menit. Kalau kalian melakukannya selama tiga puluh menit, ayamnya akan dingin. Cepat sini, ayamnya aku saja yang bayar.” Ucapku berusaha menengahi perbincangan mereka.

“Tidak bisa! Hari ini bukan jadwalmu yang membayarnya. Jung Ah, ayo cepat bayar padaku sekarang.” Seol masih tetap pada pendiriannya.

“Aku meminjamkannya pada Jung Ah, cepat ambil ini dan makan. Aku sudah sangat lapar.” Aku memberikan uang senilai lima puluh ribu won pada Seol. Awalnya Seol hanya terlihat ragu dan sesekali menatap Jung Ah, namun akhirnya ia menerima uangku.

“Kau berhutang padanya, okey.” Seol pergi meninggalkan kamar mandiku sembari kedua tangannya bersedekap di depan dada.

Sementara aku dan Jung Ah mengekornya dari belakang. Kami bertiga akhirnya duduk dengan sebuah meja berada di tengah-tengah kami.

Suasana pun kembali seperti semula. Tidak ada keributan, hanya candaan dan tawa riang mereka yang menghiasi apartement-ku.

Tiba-tiba saja mulutku rasanya ingin mengatakan sesuatu, “Emm, apa kalian pernah menabrak sesuatu?”

“Sesuatu?” balas Jung Ah yang kemudian disusul oleh Seol.

“Iya. Rasanya seperti dinding beton, tapi hangat.”

“Dinding beton yang hangat? Hei, apa maksudmu?” Seol tersenyum menyeringai lalu menggelengkan kepalanya.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Terus terang sajalah, Yuna-ya.” Jung Ah menepuk bahuku pelan lalu kembali melanjutkan makan sembari sedikit terkekeh.

“Ah, tidak, tidak. Tidak jadi.” Aku menunjukkan ayam goreng yang berada di tanganku pada mereka.

“Oh, kau marah rupanya.” balas Seol yang mulai menggodaku dengan omongannya.

Melihat Seol yang berusaha menggodaku, Jung Ah kembali mengganti topik. “O, ya. Yuna-ya, kudengar tadi siang kau berpelukan dengan Chanyeol di koridor. Aku bingung, kau selalu saja menyebutnya musuh tapi tiba-tiba saja kalian berpelukan. Apa kau sudah tidak membencinya lagi?” Jung Ah bertanya sambil mengunyah makanan, membuatku sedikit tersedak mendengarnya.

“Tidak mungkin. Itu pasti tidak sengaja.” tambah Seol, yang membuatku mengangguk setuju dengan perkataannya.

Tentu, aku tidak akan pernah berniat menghapus kata ‘musuh’ dalam kamusku.

“Tapi, Yuna-ya, bagaimana rasanya dipeluk dengan seorang pemain baseball?”

“Eih, Jung Ah-ya. Percayalah padaku, gadis ini tidak mungkin berpikir sejauh itu. Lihat lah, dia pasti sibuk mengutuk Chanyeol yang telah memeluknya tanpa seizinnya.” ucap Seol sambil mengangguk pasti.

“Rasanya seperti menabrak dinding beton, tapi hangat.” ucapku pelan.

Namun detik berikutnya mereka membuyarkan lamunanku. “Hah?” ucap mereka berbarengan. Kami saling menatap satu sama lain.

Dengan perlahan aku mulai menutup mulut, lalu meneguk ludah. Tanpa sengaja aku sudah melakukan kesalahan besar. Apa yang baru saja kukatakan?

“Hah, kenapa? Memangnya aku salah? Dadanya itu benar-benar seperti dinding beton yang dingin.” kataku, sebisa mungkin tidak terlihat aku salah bicara.

“Benarkah?”

“Jung Ah-ya, kuyakin dia hanya asal bicara. Pendengaranku tidak seburuk itu kan?” tambah Seol yang kemudian dibalas sebuah anggukan oleh Jung Ah.

“Benar! Rasanya kepalaku ingin pecah. Hidungku sepertinya sedikit retak. Apa aku harus melakukan operasi saja? Bahkan rasa sakitnya masih membekas.” Aku memperlihatkan kepalaku dan hidungku kepada mereka dengan wajah memelas.

“Dasar hiperbola.” Bukannya iba, Seol malah menjepitkan hidungku dengan kedua jarinya. Detik berikutnya disusul tawa Jung Ah.

&&&

Aku menenggelamkan wajah dalam ke bantal. Entah mengapa sosok menjulang tinggi itu tiba-tiba saja berada dalam alam bawah sadarku. Kulihat Chanyeol tengah menunggangi kuda putih dengan gagahnya. Tak lupa dengan mahkota yang berkilau. Aku meringis, kemudian lebih menenggelamkan wajahku. Tapi bukannya menghilang, wajah Chanyeol malah semakin terlihat jelas dibandingkan sebelumnya. Aku pasrah dan segera membuka mata.

Aku mengacak-ngacak rambutku kesal. “Memangnya tidak ada bayang-bayang yang bagus apa, selain dia?” gumamku. Lalu pandanganku beralih pada dua gadis yang sedang tertidur pulas.

“Hei, kalian pulanglah. Kenapa tiba-tiba menginap begini, sih.” aku mendorong tubuh mereka yang berada di sampingku.

Seol yang berada di samping kiri ku, tiba-tiba berbalik. “Kami sudah mengantuk, Yuna-ya.”

Aku memutarkan bola mata. “Seol-ra, kau bisa menumpang tidur di rumah Jung Ah ‘kan?”

Tahu-tahu suara Jung Ah mulai terdengar di telingaku, “Tidak bisa, tidak ada orang di rumah.” balasnya.

“Kalau begitu kalian pasti tidak membawa baju untuk sekolah besok? Cepat, cepat pulang sana” aku tersenyum penuh kemenangan. Aku yakin kali ini mereka pasti tidak akan menjawab perkataanku.

Menit berikutnya masih hening, tidak ada jawaban dari mereka. Dan kali ini aku pun tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“San-”

Saat hendak mendorong mereka berbarengan dari samping, Jung Ah buru-buru menjawab. “Kami membawanya kok, kau tidak usah khawatir.”

Aku mengulum bibir sambil memejamkan mata. “HEI!!! Kalian menggangguku tahu! Cepat pergi dari ranjangku!”

Seperti berbicara dengan benda mati, teriakanku sama sekali tidak mendapat respon dari mereka. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ranjang dan pergi menuju balkon.

Yah, seperti inilah. Udara malam, dingin, memang tidak bagus, dan aku juga biasanya tidak menyukainya. Namun saat ini rasanya berbeda.

Tanpa sengaja pikiranku beralih pada syal yang kukenakan saat ini. Syal milik pria mesum waktu itu, aku masih menyimpannya. Aroma tubuh pria itu begitu menyengat dalam syal yang dia berikan padaku. Wangi, sih, tapi aroma ini membuatku sedikit takut. Aroma wangi ini sebelumnya pernah kucium, tapi entah kapan dan siapa pemiliknya.

Sempat aku berpikir pemilik syal ini adalah Baekhyun, namun aku berpikir kembali, saat itu Baekhyun tidak tahu aku sudah kabur dari rumah. Dan juga aroma parfum ini, rasanya bukan aroma parfum yang dipakainya. Postur tubuhnya juga lebih tinggi dibandingkan Baekhyun.

&&&

 

Akhirnyaaaaaa update jugaa:v Oke waktunya membaca komentar kalian, hihihi~

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Empty (Chapter 3)”

  1. Jung Ah kembali mengganti topik??..hahahaha topiknya malah tepat sasaran ya..wkwkwk
    “Rasanya seperti menabrak dinding beton, tapi hangat.” nah lohh kecplos ya..kkk

    Duh sbenernya syal itu milik siapa sih kak?
    Sehun / chanyeol??
    Mungkinkah sehun? Coz klo chanyeol kyanya gx deh coz ktanya dia Musuh yuna, tpi bukan berarti musuh jga gx boleh buat baik kan ya o_O ,aduhh gx tau deh kak..hihihi
    Duh nanti diliat aja deh itu sbenernya Syal milik siapa..wkwk

    Next kak dtunggu klanjutanya^^

    1. Jung Ah diem-diem menghanyutkan ya wkwkwk ><, eh ngga ding, Jung Ah ngga diem haha /apaan si author gaje heuheu/ Yang pasti syalnya bukan milik Baekhyun kekeke~ Karena, musuh juga manusia~ /author otaknya udah error kali ya/? u,u/ Oke oke ditunggu aja yaa~ 😀

  2. Wah akhirnya dinext, seru thor!!
    Penasaran syalnya milik siapa!! Chanyeol kah? Atau sehun? .. hmm.. molla lah, hanya authornya yg tau.. wkwk

    Next thor! Fighting!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s