SPRINGFLAKES – Slice #5 — IRISH’s Story

irish-springflakes

   SPRINGFLAKES  

  EXO`s ??? & OC`s Chunhee 

   with EXO & iKON Members  

  adventure, slight!action, fantasy, romance, slice of life story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved

— release hurt with a truth —

Reading list:

〉〉   Slice #1Slice #2Slice #3Slice #4   〈〈

 Slice #5

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Prince’s Eyes…

“Aku tak punya teman, tak punya keluarga, semua orang hanya menurutiku karena aku pangeran. Untuk alasan itu, aku benci manusia. Karena mereka bisa bersikap seperti keluarga dan teman bagi semua orang disekitarnya.”

“Pangeran …”

“Ya Chunhee?”

“Ayo kita lakukan ritual itu.”

Aku tersentak mendengar ucapan Chunhee.

“Apa?”

“Jika memang itu bisa membantu, ayo kita lakukan.” ucapnya yakin.

Aku tersenyum samar. Dan mengulurkan tanganku, menunjuk ke arah pisau kecil yang ada disampingnya.

“Berikan pisaumu.”

“Untuk apa?”

Ppaliwa.”

Ia tak bicara apapun dan akhirnya memberikan pisau itu padaku. Dengan cepat aku menggoreskan pisau itu ditelapak tanganku. Darah berwarna merah samar bercampur dengan kilatan silver keluar dari tanganku. Chunhee tampak terkejut.

“Darah? Vampire bisa berdarah?” ucapnya.

Aku mengulurkan pisau itu.

“Kau berani melukai tanganmu?” tanyaku membuatnya mendengus pelan.

“Kau bercanda?” ucapnya sambil dengan yakin menggores telapak tangannya.

Darah segar segera keluar dari luka yang ada di lengannya, membuatku menahan diri agar taringku tidak keluar. Aku menarik tangannya, dan dengan tak mengerti ia hanya pasrah saat aku melakukannya.

Aku kemudian mempertemukan telapak tangan kami. Menyatukan darah. Itulah tujuan ritual ini. Tanpa sadar aku menggenggam tangan kanannya, dan memperhatikan reaksinya.

“Apa sakit?” tanyaku.

“Tidak. Tidak terasa apapun.” jawabnya sambil kemudian mengeratkan jemari kurusnya. Aku tersentak saat merasakan detakan jantung ditubuh yang seharusnya sudah mati ini. Dan ekspresi Chunhee, sangat tak bisa kuartikan.

“Aku tidak bernafas.” ucapnya terkejut.

Aku mengarahkan punggung tanganku ke dekat hidungnya, dan ia memang tak bernafas. Aku segera bergerak menyentuh pergelangan tangannya, tapi tak menemukan denyut nadinya.

Sementara degupan jantung ini masih terasa sangat nyata ditubuhku.

“Jantungku berdetak.” ucapku.

Chunhee terbelalak. Ia menggerakkan tangan kirinya menyentuh pergelangan tanganku. “Kau punya denyut nadi!” tangannya bergerak menyentuh pipiku, membuatku terkesiap.

“Dan kulitmu tidak dingin.” lanjutnya.

Aku memejamkan mataku saat dadaku terasa sangat sesak. Dan degupan jantung berisik itu hilang. Aku juga mendengar helaan nafas Chunhee.

“Aku bernafas lagi.” ucapnya, memperhatikan wajahku, ia kembali menyentuh pergelangan tangan dan pipiku.

“Kau juga tak punya denyut nadi lagi. Kulitmu juga dingin.” ucapnya.

Aku menggerakkan pergelangan tangan kiriku, dan sadar bahwa ditangan kami sudah tidak ada darah lagi. Saat melepaskan genggamanku pada Chunhee, aku hanya bisa melihat dua bekas luka goresan berwarna merah muda, dan saat kutarik tangan Chunhee, di telapak tangan kanannya ada luka serupa.

“Aku tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini.” ucapku pelan.

“Apa yang terjadi setelah ini? Oh!” ia tiba-tiba saja tampak begitu terkejut.

“Ada apa?” tanyaku tak mengerti, sementara Chunhee masih menatapku dengan kedua mata membulat kaget. “Apa mungkin kau akan terluka kalau aku terluka?”

“Apa?”

Ia mencoba mencubit dirinya, tapi aku masih tak merasakan apapun.

“Tidak terjadi apapun.” ucapku.

Aku terkesiap saat ia mengambil pisau kecil itu dan bergerak menggores tangannya lagi. Membuatku refleks menahan tangannya.

“Kau bodoh? Kenapa mau melukai dirimu sendiri?”

“Lalu apa aku boleh melukaimu untuk membuktikannya?”

Aku mengerjap kaget.

“Kau gila? Bagaimanapun aku tetap pangeran disini.”

Ia tertawa pelan, tapi kemudian ujung pisau itu menggores lengannya, hanya menciptakan luka goresan kecil.

Tidak terjadi apapun.

“Kurasa tidak seperti yang kau harapkan.”

“Ah, baguslah kalau begitu. Aku tidak mau membayangkan kau terluka kalau aku terluka,” aku terdiam mendengar ucapannya.

“Apa maksudmu?”

“Aku tetap penjagamu bukan? Dan kalau aku terluka, bayangkan bagaimana sulitnya jika kau ikut terluka? Musuh-musuhmu mungkin akan tahu dan malah melukaiku untuk membuatmu terluka. Bukankah begitu?”

Aku mengerjap cepat.

“Ah, ya. Kau benar.”

Chunhee kemudian menghembuskan nafas panjang.

“Sebaiknya tidak ada yang tahu tentang ini, vampire lain mungkin tahu kelemahan ritual ini dan menggunakannya untuk menyerangmu.”

Aku terdiam menatapnya, entah mengapa, tak satupun kata yang terucap dari bibirnya terdengar sebagai kebohongan.

“Chunhee-ah, kau benar-benar akan melindungiku?”

Chunhee memandangku sejenak. Dan kemudian tersenyum.

“Siapapun vampire ketua yang menandaiku, aku akan mematuhi ucapannya, perintahnya, melindunginya, dan tak akan sekalipun membantahnya. Kesakitannya berarti adalah kesakitanku. Dan nyawanya jauh lebih berarti daripada nyawaku.”

Chunhee terhenti, masih dengan senyum yang sama, ia melanjutkan. “Aku tidak bisa mengingkari sumpah yang kuucapkan dengan sukarela, pangeran.”

Kali ini aku yang terdiam. Dan melihat kediamanku, Chunhee berdiri, bergerak mengambil pedangnya.

“Haruskah aku mengajarimu cara menggunakan pedang?”

“Apa?” aku tersentak mendengar ucapannya. Menggunakan pedang? Khususnya, pedang perak? Apa ia sedang menawariku untuk melukai diri sendiri?

“Jika mereka tahu kelemahanmu, mereka akan menyerangmu. Tapi jika kelemahanmu sudah bisa kau atasi, bagaimana mereka akan menyerangmu?” ucap Chunhee membuatku terdiam.

“Kau akan mengajariku?” tanyaku kemudian. Chunhee mendekatiku, membuatku menyernyit saat pedang itu juga mendekat.

“Peganglah ini, aku akan mengajarimu.” bisiknya dengan penuh keyakinan.

“Kau tidak lihat lingkar keperakan digagang pedang itu?” aku menolak.

Chunhee kemudian menggerakkan pedangnya, sekaligus membuatku berjengit menjauhinya. Ia akhirnya menghela nafas panjang.

“Kau benar. Aku akan membuatkanmu sebuah pedang. Pedang perak yang tak akan melukaimu.”

Lagi-lagi, aku terdiam mendengar ucapannya.

“Kau bisa membuatnya?”

Chunhee mengangguk.

“Tentu saja. Banyak hal yang aku bisa lakukan. Dan sementara aku membuat pedang itu untukmu, bagaimana kalau kita saling bercerita? Bukankah kita sudah saling mempercayai sekarang?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Chunhee’s Eyes…

Entah kenapa aku bisa bernafas lega setelah tahu ritual itu tak mengubah apapun selain membuat luka gores di tanganku. Dan melihat ekspresi pangeran itu membuatku tertawa geli karena ia tampak takut pada pedang perak itu.

“Aku mungkin harus membuatnya di tempat manusia. Apa ada tempat di istana ini yang tidak diketahui banyak orang? Kita harus membuat tempat persembunyian sendiri.” ucapku kemudian.

“Kau bisa menggunakan tempat ini.”

“Apa?”

“Tidak ada yang tahu tentang tempat ini. Dan ada pintu keluar disini yang berujung ditengah hutan.”

“Benarkah?”

“Tapi, apa kau akan meninggalkanku disini dan kembali ke tempat manusiamu?” ia bertanya dengan nada serius.

Entah mengapa, aku terkejut juga mendengar pertanyaannya. Ya, aku memang akan meninggalkannya. Mengapa ia harus mempertanyakan hal itu?

“Hanya sebentar. Aku janji aku pasti kembali.” ucapku akhirnya.

“Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?” lagi-lagi pertanyaannya mengejutkanku.

Benar. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada—tidak. Tunggu. Bagaimana jika hal sebaliknya justru terjadi? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?

“Kau mau ikut denganku?”

Ia menatapku tak mengerti.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

Aku menghela nafas panjang. Membayangkan diriku berkeliaran di luar istana bukanlah hal yang menyeramkan. Sungguh. Aku sudah terbiasa menghadapi keadaan yang buruk, setidaknya mentalku sudah disiapkan untuk itu.

Tapi bagaimana dengannya? Ia adalah seorang pangeran, bagaimanapun, ia hidup untuk dilindungi. Meski ia beratus tahun lebih tua daripada aku, tetap saja, ia selalu dilindungi.

Dan pastinya ia tak pernah menghadapi keadaan yang membahayakan nyawanya, sendirian.

“Aku juga khawatir terjadi sesuatu padamu.”

Ia menatapku, tanpa bicara apapun. Sekon kemudian tarikan dan hembusan nafas panjang ia hembuskan.

“Aku tak yakin diluar akan aman.” ujarnya membuatku tergelak.

Mengapa sekarang ia terdengar seolah tidak mempercayaiku?

“Kau punya aku yang akan melindungimu. Apa lagi yang kau takutkan?” tanyaku masih membuatnya bergeming.

“Aku hanya tidak yakin jika—” ucapannya terhenti saat aku mencekal kedua tangannya. Sontak ia menatapku, tidak dengan penolakan yang harusnya ia berikan karena seorang sepertiku tengah menyentuhnya, tapi justru sarat akan pertanyaan.

“Percaya padaku, kau akan baik-baik saja bahkan saat kau ada ditempat manusia. Aku tidak akan biarkan apapun terjadi padamu, pangeran.”

Ia terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menarik kedua lengannya terlepas dari genggamanku dan mengangguk.

“Baiklah.”

“Jadi, kita pergi sekarang?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

Salah. Ini benar-benar salah. Aku tak seharusnya menyetujui keinginannya untuk membawaku keluar dari istana.

Tapi ia … tak bisa ditolak.

Dan disinilah aku sekarang. Berdiri kaku diantara manusia-manusia. Tanpa jubahku, tanpa mereka tahu bahwa aku seorang vampire.

“Siapa yang bersamamu Chunhee-ah?” seorang pemuda bertanya pada Chunhee, membuat Chunhee menatapku sejenak, dan memandang pemuda itu lagi.

“Menurutmu dia siapa, Hanbin-ah?” Chunhee balik bertanya, sepertinya gadis itu bingung untuk menyebutku seorang vampire, seorang pangeran dari istana ini, seorang yang sudah menandainya, atau mungkin ia akan berbohong pada orang-orang ini bahwa aku adalah seorang ma—

“Apa kau bertemu dengannya di luar istana ini Chunhee-ah? Dia berhasil kabur dari cekalan vampire kejam mana?”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Tunggu, apa yang ia katakan? Vampire kejam? Tidakkah ia tahu dengan siapa ia sekarang bicara?

“Bukan begitu Chanwoo-ya.” ucap Chunhee, ia masih sibuk menimang-nimang lempengan besi, heran sekali kenapa ia repot-repot melakukannya sambil memandang ke arahku.

“Lalu?” dua pemuda bernama Hanbin dan Chanwoo itu menatapku bergiliran, memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah. Seolah mencari bukti bahwa aku adalah orang jahat.

Mengapa pula mereka melakukannya? Apa mereka menganggap semua vampire jahat? Cih. Keterlaluan.

Aku tersentak saat salah satu dari mereka bergerak mendekatiku, mengamati kedua mataku, tentu saja ia ingin memastikan bahwa aku adalah manusia.

“Bisa kulihat mulutmu? Kami harus pastikan kau benar-benar manusia.”

Oh ayolah, mereka bercanda? Bukankah warna silver di mataku saja sudah cukup jadi bukti bahwa aku bukan manusia?

“Jangan menyen—” ucapanku terhenti saat Chunhee tiba-tiba saja menarik kerah pakaian kedua orang itu, menyarangkan pukulan cukup keras di bagian belakang kepala masing-masing mereka sebelum mendelik kesal.

“Kau mau mati?”

Walaupun tinggi tubuh Chunhee tak sampai di bahu dua pemuda itu, tapi mereka tampak seolah tak ingin membantah Chunhee.

“Aku kan hanya ingin memastikan saja.” ucap pemuda bernama Chanwoo dengan merengut kesal. “Lagipula, kemana kau kemarin malam? Aku melihatmu mengendap-endap keluar dari rumah.” pemuda bernama Hanbin menambahkan.

Chunhee lagi-lagi menyarangkan tepukannya di kepala pemuda bernama Hanbin itu. Dan hal itu entah mengapa membuatku ingin tertawa geli. Chunhee adalah seorang wanita, dan melihatnya bisa bertindak seperti ini sungguh mengejutkan.

Maksudku, ia memang mengejutkan. Karena ia adalah seorang wanita yang kuat, tapi reaksi dua orang laki-laki—yang kuperkirakan bagaimanapun jauh lebih kuat daripada Chunhee—ini lah yang membuat Chunhee terlihat seolah ia adalah manusia paling kuat.

Mereka tak tahu saja jika Chunhee bisa tergeletak tak berdaya selama lebih dari tujuh hari karenaku.

“Pergi.” ucap Chunhee kemudian.

“Tidak bisa, kami berdua kan memang bertugas untuk mengawasi siapapun orang baru yang masuk ke daerah kita.”

“Kau benar-benar mau mati?” ucap Chunhee sarat akan nada kesal, ditariknya pedang dari pinggangnya sebelum ia mengarahkan ujung runcing benda tersebut ke arah dua pemuda tadi.

Tak hanya kedua pemuda itu yang terkejut, tapi aku juga. Beruntungnya aku berada di sisi yang dekat dengan Chunhee hingga aku tak harus menghadapi pedang tersebut di depan wajahku.

Salah satu pemuda itu akhirnya menghela nafas panjang, sementara satu lagi hanya memamerkan cengiran seolah pedang tersebut hanya sebuah candaan untuknya.

“Aku akan mengawasi kalian berdua dari luar.” pemuda yang tadi menghela nafas panjang berucap. Segera, mereka melangkah keluar tenda kecil tempatku dan Chunhee berada.

“Teman-temanmu?” tanyaku membuat Chunhee mengalihkan pandangannya ke arahku. “Ya, tapi sudah kuanggap mereka seperti saudaraku sendiri.” ucap Chunhee, di tangannya sekarang tampak selembar lempengan perak.

“Kau benar-benar akan membuatkanku pedang?” tanyaku dan dijawab anggukan yakin oleh Chunhee. “Ya, memangnya kenapa?”

Aku menggeleng pelan. “Gomawo, Chunhee-ah.”

Chunhee tersenyum samar, dan membungkus lempengan perak tebal itu dengan kain. Sebelum ia akhirnya menatapku.

“Keberatan jika kita berjalan-jalan diluar?”

“Kemana?” ucapku terkesiap.

Chunhee tertawa pelan. Sementara ia tampak menyembunyikan lempengan perak itu diantara tumpukan jerami yang ada disana.

“Mencari akar pohon, kajja.” tanpa seizinku, ia menarik tanganku dan membawaku keluar dari tenda.

Ada banyak hal yang Chunhee lakukan tanpa seizinku hari ini. Ia bahkan sudah membuatku berubah menjadi sosok asliku. Mengingat hal ini, entah mengapa, aku memang benar-benar bisa mempercayainya.

Aku tak bisa percaya pada siapapun, tidak terkecuali pada penjaga istana. Tapi bagaimana bisa aku begitu saja mempercayai Chunhee padahal aku hanya bertemu dengannya beberapa kali?

Hey! Kalian mau kemana?!”

Seharusnya dua orang—yang Chunhee sebut sudah seperti saudaranya sendiri—itu jadi prioritas instingku sekarang. Karena aku bahkan tak sadar sejak kapan mereka lagi-lagi menghalangi jalan kami.

Memang, mereka hanya bertanya kemana kami akan pergi. Tapi aku merasa seolah ia tengah berusaha mengawasiku, mereka mencurigaiku. Apa mereka benar-benar mengawasi kami diluar?

Aish, dua bocah ini benar-benar ingin mati.” gumam Chunhee, tangannya mengapit erat lenganku, seolah … melindungiku.

“Kau akan kemana?” salah satu dari mereka mengulang pertanyaannya saat mereka sudah tiba di hadapan kami.

“Bukan urusanmu.” Chunhee menyahut ketus.

“Chunhee-ah! Aku akan ikut denganmu.” ia—lagi-lagi—berucap, dengan penuh penekanan.

Benar dugaanku bukan? ia pasti tengah berusaha mengawasiku. Apa kediamanku terlihat mencurigakan di matanya?

“Aku tidak mengizinkanmu ikut.” ucap Chunhee menyahut singkat.

“Kenapa?” tanyanya, menatapku sejenak dari atas sampai bawah sebelum ia kembali menatap Chunhee.

“Apa kalian sudah makan?” tanya Chunhee.

Serempak, mereka berdua sama-sama menggeleng. Satu sikap manusia yang seringkali membuatku bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa mengutarakan apa yang mereka pikirkan?

“Baiklah, aku akan mencarikan makanan untuk kalian.” ujar Chunhee, lengan rapuhnya bergerak menepuk lengan dua pemuda itu bergiliran sebelum jemarinya kembali mencengkram erat lenganku, membawaku menjauh.

Ugh, sudah berapa kali ia menyentuhku tanpa izin?

Aku sedikit heran saat dua orang itu membiarkan kami pergi dengan ekspresi kaku. Dan tatapanku akhirnya bersarang pada Chunhee.

“Apa ucapan itu sebuah kode?”

“Apa?” ia menatapku, menyernyit.

“Permintaanmu pada mereka.”

Chunhee mengangguk-angguk. “Kau peka juga rupanya. Ya, yang aku katakan pada mereka memang sebuah kode.” ujarnya menjelaskan.

“Lalu apa artinya?” tanyaku penasaran.

Chunhee menatapku sejenak.

“Kau ingin tahu?” tanyanya tak lantas kujawab. Aku hanya menatapnya, karena aku sangat tidak suka bicara berulang kali—apalagi bertanya.

“Aku katakan pada mereka aku akan mencari senjata.” Chunhee akhirnya berucap. Kurasa sedikit-banyak ia mudah mengerti tentang kebiasaanku.

“Untuk apa?” tanyaku lagi.

Apa Chunhee tengah menjelaskan pada mereka bahwa ia sedang mencarikan senjata untukku? Atau ia tengah berusaha menjelaskan tentang keadaanku pada mereka? Mana bisa aku memahami bahasa isyarat yang mereka ciptakan?

“Untuk membuat mereka pergi tentu saja. Apa lagi?” jawabannya kini membuatku menatap curiga.

“Benarkah?” tanyaku.

“Kau tidak percaya padaku, pangeran?” tanyanya sarat akan nada tidak terima.

Mendengarnya bicara seperti ini, setidaknya aku tahu ia tidak sedang berbohong padaku. Aku bisa mengerti Chunhee, ekspresinya akan menunjukkan bagaimana terlukanya ia ketika seseorang menuduhnya berbohong.

Aku akhirnya menggeleng pelan.

“Aku percaya padamu.” ujarku.

Kajja,” Chunhee akhirnya menarik lenganku untuk melangkah mengikutinya

Kami berjalan menyusuri hutan lebat, hanya berdua, dalam keheningan. Satu-satunya suara yang tercipta awalnya adalah suara rerumputan, dan berangsur-angsur, aku bisa mengenali degup jantung Chunhee.

Beberapa belas menit terakhir, berulang kali aku mendengar Chunhee berdecak pelan. Aku tak mengerti kenapa ia terus bersikap seperti itu, tapi decakannya mengganggu pendengaranku.

“Apa masalahmu?” ucapku akhirnya.

Chunhee memandangku, sebelum ia menghela nafas panjang.

“Kau membunuh banyak tanaman.”

“Apa?”

Chunhee mengarahkan jemari kurusnya ke belakang, dan membuatku melihat tanaman-tanaman yang layu karena langkahku.

Ah, benar. Manusia memang terkadang tidak mengenali keberadaan kami di antara mereka. Tapi alam memahaminya dengan lebih baik. Entah karena apa, tanaman selalu layu atau mati tiap kali bangsa kami menyentuhnya.

“Aku tidak bisa mencegah hal seperti itu.”

Chunhee lagi-lagi menghela nafas panjang.

“Sudahlah, kajja, bangsaku mungkin akan merasa aneh jika melihat tanaman mati, mereka mungkin akan mengikutinya.” ucap Chunhee sambil kemudian melanjutkan langkahnya.

Kini, langkahku yang terhenti.

“Lalu kau ingin aku melayang di udara?” tanyaku membuat Chunhee mengerjap cepat, terkejut. “Apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.

Aku tak lantas menjawab. Kualihkan pandangan sebelum akhirnya kulanjutkan langkahku yang sempat terhenti.

“Kau sudah membuatku kesal hari ini, Lee Chunhee. Jangan sampai aku berkeinginan untuk menghukummu.”

“Apa? Hey! Apa salahku?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Chunhee terus diam di sepanjang perjalanan kami. Tampaknya, ia benar-benar enggan berbuat salah sehingga aku tak harus menghukumnya. Bisa kupahami, membantah sudah jadi kebiasaannya, karena ia tak suka diperintah.

Tapi aku suka memerintah. Dan aku tak suka dibantah. Jadi tiap kali aku berkomentar atau memerintahnya sepanjang perjalanan, Chunhee hanya melakukannya dalam diam.

Butuh satu jam bagi kami untuk sampai di bagian terdalam hutan, dimana hanya pepohonan tua besar yang jadi naungan kami, sementara Chunhee masih dengan usahanya menghindari hukuman dariku.

Kami sampai di pepohonan besar, dan Chunhee dengan cepat mengeluarkan pedangnya.

“Duduklah dulu, pangeran, aku akan menyelesaikannya dengan cepat.” ucap Chunhee sambil mulai memilih-milih akar yang tumbuh sampai ke atas tanah itu. Aku akhirnya duduk di salah satu batu besar disana. Dan memperhatikan Chunhee.

“Chunhee-ah,”

“Ya Pangeran?”

“Bekas luka apa yang ada di wajahmu?” tanyaku akhirnya.

Ia terhenti sejenak, tapi kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya. “Apa aku tampak begitu mengerikan?” ia balik bertanya.

“Mengerikan? Apa maksudmu?”

Chunhee menatapku. “Kau tahu maksudku. Kau pasti tidak pernah melihat gadis lain dengan bekas luka seperti ini di wajah mereka. Aku juga tahu, semua gadis di koloni kecil kami merasa bersyukur karena setidaknya mereka tidak harus memiliki wajah yang hancur sepertiku.”

Penuturan Chunhee sekarang membuatku terdiam.

“Apa aku terlihat seolah menganggap wajahmu mengerikan?” tanyaku.

“Ekspresimu berkata seperti itu.” Chunhee menyahut.

Aku terdiam. Mungkinkah ia menyadarinya saat aku menyernyit tadi?

“Aku hanya penasaran. Tentang … bagaimana kau mendapatkan luka itu.” kataku akhirnya. Chunhee terdiam sejenak, masih sibuk dengan pedangnya sementara aku menunggu jawabannya.

“Song Yunhyeong.”

“Song Yunhyeong?” ulangku, terkejut mendengar nama yang begitu familiar dalam pendengaranku kini terucap dari bibir Chunhee.

“Kau mengenalnya?” tanya Chunhee.

“Ya, sangat mengenalnya.” aku menatap Chunhee sejenak. “Dia yang membuat luka di wajahmu?”

Chunhee mengangguk pelan.

“Ya, dia pemimpin pasukan yang sangat kuat bukan?” Chunhee tersenyum kecil, kembali, jemarinya bergerak dengan pedang di tangan. “Dia dulu satu-satunya saingan yang aku miliki. Sekarang juga tampaknya masih begitu.” sambung Chunhee.

“Saingan? Dia … masih manusia?” tanyaku tak percaya. “Bagaimana bisa ia melukaimu?” sambungku.

“Empat tahun lalu aku menemukannya bergabung bersama kelompok vampire, bukan sebagai vampire, atau pengabdi, tapi ia masih manusia. Dan saat itu aku begitu bodoh karena tidak sadar ia tengah berusaha membawaku ke kastil tempat ia bergabung.”

“Dan karena aku menolak ajakannya, ia melepas beberapa orang vampire untuk menyerangku. Aku tidak begitu ingat, tapi aku tahu seseorang mencakarku dan membuat luka mengerikan ini.”

Chunhee tertawa pelan. Dihempaskannya tubuh di atas batang pohon yang tumbang sebelum ia menatapku.

“Aku tak menyalahkan bangsamu, tapi aku menyalahkan Yunhyeong.” ujarnya, seolah tak ingin aku mengira bahwa ia tengah menyalahkan bangsaku atas luka permanen yang membekas di wajahnya.

“Aku akan membunuh mereka.” tiba-tiba saja bibirku berucap.

“Apa?”

Aku menghela nafas panjang. Membayangkan wajah puas keji manusia yang berhasil melukai Chunhee, mengingat bahwa sosok yang melukai Chunhee adalah sosok yang kukenal juga … rasanya aneh.

Aku tahu ia terluka karena tengah mempertahankan martabatnya sebagai seorang manusia. Mengingat bahwa Chunhee sebenarnya tak pernah ingin hidup di bawah tekanan seperti sekarang.

Dan ia bahkan sudah mengorbankan hidupnya, untukku, untuk melindungiku. Tidakkah aku jadi bagian jahat dari kehidupan klasiknya juga?

“Kupastikan aku akan membunuh mereka yang melukai wajahmu … dengan tanganku sendiri, Chunhee-ah.”

Chunhee terdiam. Cukup lama sampai sebuah senyum muncul di wajahnya.

“Kalau begitu kupastikan tak seorang pun bisa melukaimu selama aku masih hidup, pangeran.” ujarnya.

Lagi-lagi, ia berhasil mengucapkan kalimat yang terdengar tak masuk akal dalam pendengaranku, tapi sekaligus masuk akal.

Chunhee, seorang wanita, berjanji akan melindungiku dengan kehidupannya sementara aku hanya bisa menjanjikan beberapa kematian kecil sebagai imbalan. Bukankah tidak pantas?

Tidak. Harga ini cukup pantas. Mengingat bahwa aku tak akan berubah menjadi pemimpin vampire yang kejam yang mungkin bisa melukai manusia. Tidakkah Chunhee akan bahagia ketika bangsanya masih bertahan hidup?

Aku tak perlu memberi imbalan padanya, aku hanya perlu membuat manusia-manusia di istana kecilku merasa aman. Dengan begitu Chunhee akan merasa perjuangannya sekarang tak akan sia-sia.

“Kau tidak akan menyesal karena sudah mengabdi padaku.”

Chunhee menatapku, sejenak sebelum ia mengangguk yakin.

“Aku tak akan menyesal, pange—”

“Baekhyun.”

“Apa?”

“Namaku, Byun Baekhyun. Kau tak harus terus memanggilku dengan sebutan pangeran, aku jenuh mendengarnya.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

BUTUH PERJUANGAN KERAS BUAT MENENTUKAN NAMA SIAPA YANG BAKAL DISEBUT DI AKHIR CHAPTER INI.

Dan ya emang, waktu itu aku sudah bikin vote ya, tapi aku juga di sana sudah jelas bilang kalau: castnya sudah aku tentukan, apapun dan siapapun yang menang di vote gak akan berpengaruh sama cast yang aku gunakan.

Well, kupilih Baekhyun atas banyak pertimbangan. Diantaranya: satu, dia bias; dua, dia bias; tiga, dia bias; empat, Sehun sudah dapat jatah buat jadi main cast (lagi!) di satu fanfiksi hadiah yang akan muncul sekitar awal bulan depan; kelima, Sehun akhir-akhir ini terlalu bening, tapi keliatan bocah sekali (sekarang) sampe imej dia bener-bener maknae di mata aku yang terus memanggil ‘Sehunnie’ padahal aku bukan nuna-nuna pedopil; enam, BAEKHYUN DAN RAMBUT HITAMNYA ADALAH PERUSAK IMAN PERAWAN (KHUSUSNYA AKU DALAM HAL INI) DAN AKU MERASA DIRUGIKAN KARENA GAK BERKEDIP SAAT NGELIAT BAEKHYUN DENGAN RAMBUT ITEM ITU MENGURAS TENAGA JUGA GAK BAIK BUAT JANTUNG.

Sekian, maaf buat kalian yang berharap Sehun jadi main cast cerita ini. Aku enggak memaksa kalian untuk terus membaca cerita ini dan enggak juga mengusir kalian untuk enggak baca. Warm hug dariku dan terima kasih karena sudah mendukung Sehun, sayang sekali Sehun enggak menang dalam pilihan hati, maklum: fanfiksinya diketik secara personal, jadi nepotisme pasti menang.

PFT. KATA-KATA DI ATAS UDAH KAYAK WINNER SPEECH.

BTW, AKU RAJIN POSTING YA MINGGU INI. LOLOLOLOL. SEMOGA BISA TERUS RAJIN. PFT ~~

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

182 tanggapan untuk “SPRINGFLAKES – Slice #5 — IRISH’s Story”

  1. ok actually i expected sehun to be the main cast of this story but yasudah lah its okay. idk but image funny yg baekhyun punya agak kurang pas hehe. BUT ONCE AGAIN ITS OKAYY THORR GOOD JOB!! Looking forward to the next chapter♥️

    P.S: ini ff pertama yg aku baca yg main castnya baekhyun♥️

  2. Hahaha… nepotisme pasti menang!! 😀 yaelah nepotisme, selalu ada d mana mana. Aku suka mas cabe jadi maincast nya!! Bravo kak irish!

    Betul kak, mas mas cabe memang perusak iman. Aku juga korban :v

    Keep your spirit ya kak ♡♡♡

  3. AHHHHH aku lupaaa udah comment di chapter berapa ajaaa T….T yang pasti 1,2 sama 3 udah’-‘ ke-4 aku lupaaaa hikss aku juga lupa chapter 5 nyaa T-T
    Gatau lagi mau ngomong apaan deh,udah jatuh hati banget sama ff kak irishhh apalagi yang main cast nya si nyonya baek,bias ku yang tercintaaa wkwkwkwk
    mau angsung otw ke chapter 6 nyaa hehehe,izin baca yaaa lopp yu kak irish,lopp yu baekhyun wkwkwk

  4. Ngebaca nama byun baekhyun di ff tuh rasanya waaah banget!!!!!!!,ntah kenapa baekhyun emang cocok untuk jdi pangeran di cerita ini😂,duh bahagia 😂😂,ini kali pertama aku baca yg chap ini,karena terakhir kali aku cuman baca sampe chap 3/4 kalau ngak salah ,dan aku udh ngulang baca dati chap 1😂😂,makin semangat nih baca ff nya Irish yg satu ini,ditungguin next chap nya,fighting!

    1. Wkwkwkwkwk,kejadian nya itu aku lagi menjelajahi email,dan ketemu lah pemberitahuan chap ke 5 ff ini 😂😂,pas liat poster nya muka baek,langsung kebayang pasti baek yg menangin voting dulu itu 😂,jdi ku baca dri awal lagi biar lebih seru 😂😂

  5. Assa…baekhyun ternyata maincast nya. Penggoda iman perawan. Kurasa ku juga setuju. Dia tuh keliatan imut, sekseh, dan berkarisma secara bersamaan. Pokoknya nih ff kerennnn

  6. *ketika reader lama baru muncul lagi setelah berbulan bulan*

    Sumpah kagt pas liat works nya udh banyak T.T bingung mnu baca yg mana :v

    Yeyyyy dari ep1 emang main cast nya sudab baekhyun dibayangan aku :* ternyata beneran baekhyun ._.

  7. Byun Bebek ku teringat irisistible love (nama ff nya ngasal) ohhhhh baek cocok jadi vampire apalagi kalo manly hem lanjutin kak irishhh palli ku tak tahan

  8. Huaaaaaa….gegara baca ff kak Irish, Zii menduakan … Eh menigakan Oppa Sehun ;(
    # mian Oppa …aku selingkuh…

    Sekareng nie jd suka melototin oppa Baek n chanyeol …nyegerin mata n otak yg dah kerja rodi ngerjain pr2 yg setumpuk #jd curcol

    Btw kak…siapapun main cast nya saat kak irish yg hadirkan jadi ok buatku….
    Next episode …ditunggu kaaaaaaaaaa
    .

  9. Ah, KBBI yg dpt role Prince 🙂 dr awal bc mostly visualisasi yg tergambar emang si Baek tp klo pas scene2 tertentu, ky pas Chunhee di hkm sang Prince dgn di gi2t leher’ny yg tervisualisasi itu Sehun-i yg jd Prince ^ ^ /ngarep/ trus2.. pas ritual itu kirain bkl ky Chanyeol di ff apa tuh, yg pangku2an, slng tuker saliva & drh itu, kyaa~ 😀 trnyt cm jabat tangan ja, Irish ga rela y bikin ritual’ny Baek cem Chanyeol itu?! wkkk~
    Ini bkl smp brp chptr y? panjang kah? Semangat terus berkreasi Irish, kami nantikan lannjutan2 u/ stiap ff kamu yg lg on going/tbc.. love u.. ^.^

  10. Kak irish plis jangan bikin aku mati penasaran ama ini cerita, aku terus setia menunggu dan terus kecewah karna belum di lanjut juga 😢 aku tau kakak pasti sibuk, tapi hati ini tetep memaksa pengen baca kelanjutan cerita ini. Maap kan aku yang egois ini, tapi aku tetep bakal setia dan dukung kak irish biar ceritanya cepet di lanjut 😁😁 go go go!!!!!

    1. XD aku engga bikin siapapun mati di sini XD wkwkwkwkwkk astagfirullah maafkan daku yang begitu nista dan lama melanjutkannya XD

  11. Plis ini aku ga fokus di ceritanya wkwkwk, fokus ke lead male nya doang wkwkwk baru baca tadi dari abis magrib. Males komen gegara lead male nya ghaib hahah maaf ya irish. Tapi pas tau di chap 5, aku teriak sampe bangun dr tempat tidur takut salah2 sama bacaan IN BAEKHYUN EYES…. ternyata cabe nomor satu ku yg jadi lead male nya HAHAHA. Padahal dr chap 1 emg nyebayangin baekhyun terus dan ternyata emg bener diaa orangnyaa baru tadi ngevote baekhyun juga wkwkwk parah yaah bacanya sistem kebut se7jam, diaa yg paketan sm irish kalo di bikin ff always baekhyun dan tidak mengecewakan haha baekhyun tuh emg penggoda iman nomer 1 dengan rambut item badainya dia dasar cabe emg huh tapi AKU SUKA.. Besok baru mau komen di chap sebelumnya aah hihihi gpp kan yaa, sekalian baca ulang lagi. Ditunggu kelanjutannya di astral in aja gpp kok rish, bener deh.

  12. Seneng banget Baekhyun jadi main cast lagi yuhuuuu~ dari awal emang udah bayangin Baek sih😂
    KAK IRISH KITA SAMA DONG NGGA KUKU LIAT BAEK RAMBUTNYA ITEM GITUU APALAGI KALO TAMBAH SMIRK. YA LORD.

    buat kak Irish, semangat dong!!! Semangat semangat semangat😁

    1. XD buakakakaka iya si cabe lagi-dan-lagi jadi main cast XD wkwkwk
      YA LORD, JANGAN INGETIN AKU SAMA RAMBUT HITEM DIA, NANTI AKU KEJANG-KEJANG

  13. Yakkk baekhyun kau terpilih menjadi vampire lagi SELAMAT😄 akhirnya terungkap sudah sang pangeran kekeke~~ cieee kak irish bakal rajin ngepost, tapi sayang aku masih belum bebas jadi cuma bakal nyuri” waktu buat refreshing.. jadi lama deh buat baca ff kakak😔… semangat kak irish!!! Keep writing and fighting!!!

  14. Aku tidak biaa bnayk berkomentar kak irish

    KARENA AKU SENENG BANGET SO CABE JADI ,AIN CASTNYA SERASA TERBANG KE AWANG2, UDAH NGERASA BEDA PAS BACA BAEKHYUN’S EYES DAN AKU KEWATIN GITU AJA EH PAS SADAR AKU SCROLL LAGI KE ATAS DAN TERIAK SETELAH SADAR BAHWA BAEKHYUN MAIN CASTNYAAA
    AAAAAAACABEEEEEEEEE

  15. Tuh kan feeling guee bener kalo ga Sehun pasti Baekhyun . Ga jauh jauh dari mereka
    Dari awal udah ngebayangin cast nya Baekhyun
    NEXT kak di tunggu kelanjutannyaaa 🙆🙆☺

  16. Gue juga yakin pangeran itu si Baek,
    Dari slice 1 gue baca yg ada di bayangan gue itu si Baek,
    Dan orang yg gue cintai itu juga si Baek,
    BAEKHYUN :*
    buat kak Irish terimakasih bnyak karna jadiin si Baek main castnya
    Saya tunggu kelanjutannya 🙂
    Semangat kak Irish!!

    1. XD buakakakakak pengennya itu si sehun pertamanya, terus belok baekhyun, belok sehun lagi, belok baekhyun lagi XD labil ya? XD

  17. Aaaa sayang kmu jdi main castnya!!! /lari peluk gendong si Baek ala bridal style terus diputer-puter(?)/ kok kebalik? Ok abaikan.
    Ketika kaka pendamping MOS lgi ceramah dan karna ngantuk dengernya aku iseng malah jdi asik baca ff kak rish sambil minum/biasa anak baik mah gini😂/ dan ku melihat tulisan ‘In Baekhyun’s Eyes’ what the hell??
    Dan mampus akhirnya aku kewalat, keselek batuk bengek ga berenti2😭/seketika jdi pusat perhatian kelas-_- janji gabakal nakal deh:( kapok/ aku sampe scroll keatas mastiin ga salah baca ff dan trnyta bener si Baek jdi pangeran!! Ugh rasanya klo boleh aku pen nyanyi+joget cheer up terus gogoseran+gogoakan, tpi sadar masih dikelas-_- ampe cem cacing kepanasan, gatel nahan pen joget😭 Ohiya dikira tdinya pas ngelakuin ritual bakal ketuker masa si Baek jdi manusia trs chunhee jdi vampire, yakali aneh bet😂
    Yup! Bener nih! Baekhyun dengan rambut hitam bangsadhnya itu bahkan mampu membuat anak perawan kejang2 beranak 10(?) hmm apalagi si Baek pnya abs+jakun+otot tangan?? Bagaimana jdinya nasib anak perawan kedepannya?😭 #saveanakperawan
    Eumm awalnya aku udh ngira kek nya pangeran itu si Baek soalnya kak rish prnh bilang ‘karna main cast nya si anu jdi semangat’ secara dia kan bias kak rish:D tpi pas tau bnyk yg nge vote sehun jdi pasrah aja udh nyangka psti sehun:( tpi karna bias utama ttp optimis mikir Baekhyun:D Dan trnyata eh ternyata JRENG TUMANIMING JOTJOTAN si ByeonCabe bias tersemelehoy tpi aku ttp cinta yg telah berhasil menghasut hati kak rish untuk jdi main cast nya😂 /ketawa jahat/
    Dikira komen ku udh panjang bet dan kak rish psti bosen atau bahkan males untuk baca tpi gpp yg penting aku ninggalin jejak😁 ditunggu next chapternya! OK sekian terima nikahnya kai bin rakjel dengan setengah sendal pegot swallownya sehun dibayar nyicil😭 sahhhh~ jozz lngsng bulan madu sama suholkay(?)

    1. IH SAYANG-SAYANG KE CABE, DIA SAYANGNYA AKU ~ /kemudian ditampar/ wkwkwk XD

      EH CIYEH YANG LAGI MOS XD AKU TERHURAY KAMU BACA INI EPEP DITENGAH-TENGAH MOS, TITIP SALAM BUAT KAKAK KELASNYA YANG CAKEP YA, KALI AJA ADA YANG MIRIP SAMA BAEKHYUN /APAAN/ XD XD XD

      XD entahlah aku harus seneng atau kasian ketika kamu keselek, tapi kayaknya mendingan aku ketawa seneng aja ya? XD wkwkwkwk XD XD

      EH ASTAGFIRULLAH, ANAK PERAWAN KEJANG-KEJANG SAMPE BERANAK INI BAHAYA BANGET. BTW, KALO SI CABE+ABS+BISEP+JAKUN MUNGKIN AKU MATI … #SAVEPERAWANGENERATION2016

      INI BTW LAGI, SALFOK SAMA JRENG TUMANIMING JOTJOTAN, INI LAGU DAERAH ATAU APA SIH KOK BIKIN NGAKAK? XD XD XD WKWKWKWKWKWK

      AKU ENGGA BOSEN SIH bacanya, tapi balesnya nunggu buka Microsoft Word dulu XD wkwkwkwk thanks yaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s