[Vignette] L O V E – Honeybutter26

love.jpg

 

Love

Presented by Honeybutter26

Jongdae x Darla

Fluff, Romance

Vignette

visit >> https://honeybutter26.wordpress.com

Summary:

“Aku memang hanya sekali mencintaimu. Namun untuk seumur hidupku.” [from Andrei Aksana – Mencintaimu Pagi, Siang, Malam]

Darla tak pernah berpikir bahwa Jongdae akan melakukan hal ini. Berlutut di hadapannya dengan sebuket mawar  dan kotak berisikan cincin berlian. Jongdae bersinar, lebih terang dari matahari dan Darla merasa silau. Jongdae tampan, tuksedo putih itu membuatnya seperti seorang pangeran dari negeri antah berantah. Darla rasa lututnya melemas, jadi jeli, atau yang lebih parah jadi kuah kari.

“Jongdae ….”

“Darla, will you marry me? Ah tidak, bukan seperti itu. Aku tidak sedang meminta tapi memohon padamu. Marry me, please.”

Netra Darla berpendar, mendapati seluruh atensi sekitar tertuju pada ia dan Jongdae.  Kembali memandang Jongdae lagi lalu berpendar ke sekitar. Jantungnya bertalu dengan begitu kencang. Darahnya berdesir kencang, yang anehnya bukan naik ke ubun-ubun alih-alih berhenti di pipi dan memanaskannya hingga memerah.

“Darla, kumohon beri jawaban yang indah.”

Oh, Jongdae sialan! Kepribadian Darla seakan-akan terpecah jadi beberapa karakter. Ada sisi yang membuat Darla ingin berteriak norak lalu memeluk Jongdae dan mengatakan “Ayo Jongdae, kita pergi ke geraja sekarang.” Ada juga yang hanya ingin berdiam diri saja, membiarkan Jongdae memohon lebih lama yang akhirnya membuat pria itu tak sabar lalu menarik Darla untuk dibawa pergi ke gereja. Peduli setan dengan Darla yang setuju mau dinikahi atau tidak. Ada pula sisi yang dominan muncul, Darla yang hanya berdiri diam, bingung harus apa, tak tahu harus mengatakan apa. Sisi yang membuat ia masih merasa sangsi dan takut akan apa yang akan terjadi nanti.

“Jongdae, berhenti bermain-main,” Darla mencicit, lirih tapi Jongdae tahu apa yang Darla katakan dari gerak bibir si gadis. Jongdae berdiri, menepuk celana di bagian lututnya yang kotor karena posisi jongkoknya di tanah. Menarik napas dalam-dalam, Jongdae embuskan dengan kasar kemudian. Darla melihat kaki Jongdae berjalan mendekat. Jantungnya semakin berpacu gila-gilaan.

Jongdae berhenti tigapuluh senti di depannya. Ia dapat mendengar pria itu kembali mengambil dan membuang napasnya secara kasar. “Darla, aku tahu kau meragukanku. Aku tahu kau tidak percaya dengan apa yang aku lakukan sekarang. Tapi kali ini aku serius. Demi Naptunus dan lautan, Darla, ayo kita menikah.”

***

“Kim Jongdae? Maksudmu Kim Jongdae si brengsek dari Lio Corp itu? Oh Tuhan, mana mungkin aku mau dengannya?”

“Istri? Asal kau tahu saja, kalau hanya tersisa makhluk itu di bumi aku lebih memilih bunuh diri daripada harus jadi istrinya.”

“Dia itu kasar sekali. Peringainya seburuk babi. Yang dia tahu hanya ranjang dan lingerie. Oh, kau harus tahu seberapa kasar dia. Dia mendekati wanita sosialita untuk merampas harta mereka kemudian mencampakkannya. Yang kudengar bahkan dia melakukan tindak kekerasan fisik. Ya Tuhan, pria itu benar-benar mengerikan.”

Semua mata tertuju padanya, tapi Darla tak peduli. Dengan ponsel yang masih menempel pada telinganya Darla terus saja mengoceh tentang Jongdae bersama entah siapa di seberang line sana. Suaranya tak bisa dibilang pelan, tapi itu juga lebih dari lantang. Nadanya bahkan dilebihkan setengah oktaf. Darla harus banyak minum setelah ini, mengoceh tentang Jongdae dengan nada ala pidato hari kemerdekaan akan membuatnya dehidrasi akut.

Sementara di pojok ruangan cafe, Jongdae hanya tersenyum kecil dengan apa yang ditangkap oleh indra pendengarnya. Oh, betapa manisnya Darla. Cara wanita itu cemburu sungguh menggemaskan. Jika sedang tidak dalam misi pemburuan, sudah Jongdae tarik tangannya kemudian bekap bibir itu dengan bibirnya.

“Tuan Kim, sepertinya saya harus permisi.” Wanita yang sedari duduk bersebelahan dengan Jongdae berkata tiba-tiba usai terdiam cukup lama untuk mendengar ocehan Darla.

“Oh, kenapa buru-buru sekali, Non? Duduklah dan tinggal lebih lama lagi. Kita bisa bicarakan tentang masa depan kita. Dengan lebih santai pastinya. Duduk dan pesan semua yang kau ingin.” Jongdae menarik pergelangan wanita itu agar terduduk kembali di posisinya. Dipasangnya wajah polos dan senyuman kecil di sudut bibir. Senyuman biskuit, kecil mengandung banyak glukosa, begitulah Jongdae selalu menyebutnya.

“Kurasa tidak kali ini. Kita bisa membicarakan tentang lagumu kapan-kapan. Temui saja sekretarisku untuk mengurusnya. Saya permisi.” Melepas pegangan Jongdae pada pergelangan tangannya dengan perlahan, dia kemudian melangkah pergi tanpa berniat menoleh lagi. Tinggallah Jongdae sendiri di posisinya sambil mengurut hidung.

Derap langkah hasil dari ketukan ujung stiletto dengan lantai menggema dalam pendengaran. Jongdae menolehkan kepala dan didapatinya Darla yang melangkah diatas keangkuhan sepatu hak tingginya.

“Rasakan itu!” katanya kemudian berlalu begitu saja. Jongdae terbahak kemudian. Geli menyerang perut hingga pinggang, lantas naik ke hati. Dia sungguhan merasa ringan sekarang. Gravitasi tak lagi mengikatnya, Jongdae terbang menuju nirwana.

***

Gerutuannya menyertai sepanjang jalan. Kalau pekerjaan Darla bukan seorang jurnalis, mungkin mulutnya sudah mengeluarkan busa. Di belakangnya Jongdae mengikuti dengan langkah yang terlalu ringan, sesekali menggerakkan badannya sedikit bengkok ke samping untuk sekadar melihat wajah wanitanya yang sedang kesal. Darla yang kesal adalah gula termanis kedua setelah Darla yang tersenyum.

“Berhenti mengikutiku, Kim!” Darla berbalik tiba-tiba hingga Jongdae nyaris kehilangan detak jantungnya saat itu juga. Dua detik kemudian Jongdae mengembalikan ekspresinya lantas berucap, “Siapa yang mengikutimu, Non? Saya ingin pulang.”

“Kalau begitu pulanglah sendiri! Tidak usah mengikuti orang lain! Dasar maniak!”

“Maniak? Hei, jaga kata-kata anda. Saya hanya ingin pulang, and for your information, dengan segala hormat saya kepada Nona, rumah saya ada di seberang sana. Satu arah dengan tempat yang anda tuju.”

Api membakar wajah Darla hingga semerah bara besi yang siap tempa. “Terserah padamu saja!”

Jongdae terbahak cukup keras. Cukup untuk membuatnya jadi pusat perhatian.

***

Kekesalan Darla berubah jadi keterkejutan saat mendapati rumahnya diisi puluhan balon yang melayang di udara. Darla berjalan perlahan sambil menetralisir perasaan terkejutnya. Sialnya, alih-alih sembuh, keterkejutan itu justru semakin menjadi.

Ada pita yang diikatkan di balonnya dan di ujung terdapat foto Darla dari berbagai momen. Darla terharu sampai berurai air mata. Pria ini memang brengsek, tapi Darla suka. Ini adalah momen tersial dalam hidupnya, sungguh.

“Jongdae,” ujarnya sembari berbalik. Jongdae berjalan mendekat, ada balon di tangan kanannya.

“Kau menyukainya?” Darla mengangguk keras lantas menarik Jongdae dalam pelukan. Jongdae balas memeluk dengan lebih erat. Embusan napas saling menggelitiki tengkuk. Detak jantung mereka saling bercumbu. Senada dalam ritme.

“Darla, ayo kita menikah.” Melepas pelukan, saling memandang mata dengan mata. “Aku harap ini jadi lamaran terakhirku. Kau tahu? Rasanya aku seperti mati berkali-kali saat kau menolak lamaranku.”

“Berlebihan. Aku hanya menolakmu tiga kali.”

“Tiga kali? Itu lima kali, darling. Pertama kali aku melamarmu di cafe pacarnya Minseok. Kedua kali aku melamarmu di depan gedung tempatmu bekerja. Ketiga kali aku melamarmu di jalan tol, aku berharap saat itu kau menerimaku karena kau tak punya pilihan menolak atau kau akan pulang jalan kaki. Tapi nyatanya keras kepala dan keras hatimu itu masih belum terbantahkan.”

Darla terbahak, ia ingat itu. Ia juga tak tahu kenapa ia begitu keras kepala. “Keempat?”

“Keempat kali aku melamarmu di depan orang tuamu secara langsung. Dan hasilnya kau berhasil membuatku malu sampai rasa malu itu menusuk ginjalku. Kelima kali, aku melamarmu dengan cara teromantis sepanjang abad 21, aku menghabiskan setengah dari stok uangku di bank, menyewa kapal pesiar untukmu. Kupikir cara burjois itu berhasil. Tapi kau kembali menolakku. Bahkan mengancam akan terjun ke laut jika aku meneruskan lamaranku. Kau ini kejam sekali, kau tahu?”

Darla terbahak lagi. Tapi Jongdae suka, tawa Darla seperti gemerincing uang koin dalam sakunya.

“Jika kali ini aku menolakmu lagi?”

“Ketujuh kali saat aku melamarmu, aku akan melakukannya di atap gedung dengan tigapuluh lantai.” Kening Darla berkerut bingung. “Agar saat kau menolakku, aku bisa langsung terjun dari sana. Aku bukan kucing yang punya sembilan nyawa, jadi aku hanya akan mati tujuh kali saja.”

Darla memukul pelan dada Jongdae. “Jahat sekali. Maksudmu kau menyuruhku menikahi mayat, begitu?”

“Kau bisa menikahi yang masih hidup kalau kau tidak mau menikahi mayat. Jangan menolakku lagi, Kumohon.”

Kecemasan tumbuh subur di wajah Jongdae. Berharap Darla mengakhiri perjuangannya kali ini dengan dua kata ajaib. Meski sebenarnya ia juga sudah siap mati lagi kali ini kalau-kalau ia ditolak –lagi-.

“Jongdae.”

“Ya?”

 “Dimana cincinnya?”

“Cincin?”

“Aku menerimamu. Kita menikah, tapi dimana cincinku?” Darla membawa tangannya di depan wajah Jongdae.

“Ah benar, pegang ini.” Ia berikan balon yang sedari tadi dipegangnya pada Darla lalu mulai meraba seluruh saku yang ada pada bajunya. Nihil. Darla bahkan tidak melihat salah satu saku di baju Jongdae menyembul karena pria itu menaruh kotak itu di sana.

“Dimana?” Kesabarannya terkikis secepat gravitasi.

“Tidak ada.” Jongdae nyengir, Darla mendengus.

“Aku tidak mau …”

“Kenapa tidak kau coba buka tanganmu dan biarkan balon itu lepas di udara?” potong Jongdae sebelum sempat Darla menyelesaikan kalimatnya. Dengan penuh kecurigaan Darla melepas genggaman tangannya dan biarkan balon itu melayang di udara.

“Ya Tuhan!”

“Itu cincinmu.”

Jongdae  melangkah lebih dekat, melepas cincin itu dari tali yang mengikatnya lantas memasangkannya pada jari sang kekasih.

“Jongdae, aku ingin menangis.” Jongdae tertawa mendengar penuturan Darla alih-alih merasa simpati. Ia bawa tangannya menangkup pipi Darla dan menatapnya dalam-dalam.

“Jongdae, jangan menatapku seperti itu. Aku bisa jadi zombie kalau kau menatapku seperti itu.” Jongdae tertawa lagi. Gemas sekali dengan kelakuan kekasihnya itu.

“Darla, tatap aku. Ini serius.”

“Aku juga serius, Kim. Aku bisa jadi zombie karena kehilangan detak jantungku kalau kau menatapku seperti itu,” bantahnya –lagi-. Jongdae menarik napas dalam-dalam, membuat ruang di paru-parunya penuh oleh oksigen lantas mengembuskannya perlahan.

“Darla,” panggilnya lirih namun sarat akan perintah. Mau tak mau Darla menurut. Menatap Jongdae tetap di mata. Sejujurnya, Darla suka sekaligus benci momen ini. Dia suka karena tatapan Jongdae memperlihatkan betapa tulus perasaan Jongdae untuknya. Dia benci karena tatapan itu membuat lututnya berubah jadi kari. Dia lemah kalau ditatap Jongdae seperti itu. Rasanya seperti tenggelam dalam lumpur hisap. Tapi lumpurnya semanis karamel.

“Dengarkan baik-baik. Darla, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu lebih dari apapun kecuali Ibuku. Aku memang hanya sekali mencintaimu …,” Darla mecoba berontak saat Jongdae berada di akhir kalimatnya, tapi ditahan oleh pria itu.

“Dengarkan dulu sampai selesai. Kau ini kebiasaan sekali menyela pembicaraan orang,” ujarnya yang dibalas satu cengiran tanpa rasa bersalah.

“Aku memang hanya sekali mencintaimu. Namun untuk seumur hidupku.”

“Benarkah?” lirih Darla. Jongdae mengangguk. Mata mereka masih saling beradu, hangat napas saling memeluk. Darla tersenyum, Jongdae ikut tersenyum. Darla memiringkan kepalanya ke kanan, Jongdae ke kiri. Darla mengelus wajahnya, Jongdae memejamkan mata, meresapi.

“Jongdae.”

“Ya, sayangku?”

“Kenapa kau hanya sekali mencintaiku tapi berkali kali mecintai gadis lain? Barbara, Elsa, Blair, Pearl, Cathy, Maggy, dan siapa lagi yang kau pacari selama bersamaku?”

Jongdae mendengus, Darla adalah penghancur suasana nomor satu di dunianya.

“Mereka hanya … ikan dori.”

Batu kebingungan jatuh tepat di atas kepala Darla.

“Mereka hanya sekedar pemandangan bagi para penyelam. Tidak lebih.” Darla mengangguk.

“Kalau begitu aku ini apa?” tanyanya. Jongdae terdiam, ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Dihindari mati, dijawab ia juga mati.

“Kau itu … laut. Ya, laut!”

Kening Darla berkerut lagi. Lantas mimiknya berubah. Tangannya berkacak di pinggang. Jongdae bahkan melihat kepulan asap keluar dari ubun-ubun Darla.

“Kau mencoba menyinggung berat badanku?”

“Tidak, sayang. Bukan seperti itu. Astaga. Asal kau tahu saja, dada dan bokongmu adalah yang paling pas di tanganku.”

“Keparat!” Darla hampir mendaratkan satu tamparan di wajah tampan Jongdae tapi Jongdae lebih cepat untuk menangkap tangannya kemudian menariknya hingga tubuh mereka erat tanpa jarak. Satu kecupan singkat mendarat tanpa peringatan di atas bibir Darla.

“Kau tahu? Mau bagaimanapun air berkelana di siklusnya, dia akan selalu kembali ke laut. Sama sepertiku, kau adalah rumah, dunia, dan napasku. Aku mungkin tak bisa berjanji seperti apa yang drama picisan itu katakan. Tapi satu hal yang pasti, kemanapun aku pergi, kau adalah tempat untukku kembali. Setelah ini kau akan jadi satu-satunya. Aku akan berhenti bermain. Sungguh.”

Darla menangkap kesungguhan di mata Jongdae. Itu membuat segala pikiran negatif Darla pada pria itu sirna seketika. Memang benar, Jongdae hanya bermain, dan permainan itu dilakukannya untuk membuat api cemburu membakar Darla hingga jadi abu. Untuk sekadar membuktikan, bahwa Jongdae masih cukup berarti untuk pria itu bertahan memperjuangkan dirinya.

“Jongdae.”

Yes, Darl.”

“Aku …”

“Ya?”

“Aku … aku lapar.”

See. Darla adalah penghancur suasana terhebat di dunia Jongdae.

“Darl, please.”

“Ini sungguhan, Jongdae. Aku lapar. Karena kau, karena aku menguntitmu tadi, karena aku sibuk mengoceh tentangmu dengan ponsel yang mati aku jadi melupakan makan siangku.”

Oh, God. Darl, kupikir kau akan mengatakan ‘Jongdae, aku mencintaimu’ tapi …. Ya Tuhan!”

“Memangnya aku tidak? Aku akan mengatakannya nanti. Tapi cinta tidak bisa dimakan, Jongdae. Kita butuh makanan untuk bertahan hidup. Kau harus hidup dengan realita, Tuan. Jangan hidup di bawah imajinasimu.”

“Ya Tuhan.”

FIN

cuma diedit sekali sambil ngantuk, jadi mumpung suasana lebaran, maapin saya dan typo yaaaaaa :3

7 tanggapan untuk “[Vignette] L O V E – Honeybutter26”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s