[EXOFFI LINE@] It’s Okay (Oneshot)

it's okay

[FF from adders] It’s Okay

Tittle : It’s Okay
Author : Denosa312
Lenght : Oneshot
Genre : Brothership-Family
Main Cast : Suho (EXO) – Baekhyun (EXO)
Disclaimer : ©Denosa312
Author’s Note : Sebenarnya untuk ultah suho bulan lalu tapi, belum sempet pulish.

“…semua akan baik-baik saja.”
-Lets reading-

Suho bersyukur hari ini tidak ada lembur. Pulang dengan naik kereta bawah tanah, kepalanya ia sandarkan dan tertidur. Badannya lelah, walau tidak bekerja sampai larut malam, tumpukan laporan yang dikerjakannya tadi sangat menguras tenaga. Belum lagi ceramah rutin dari ketua devisinya, jika diurut maka akan panjang. Badannya sesekali akan bergoyang otomatis kepalanya terantuk, tidak nyaman sekali. Tunggu sampai rumah dia ingin segera terlelap. Menghiraukan tatapan penumpang lain yang melihat aneh ke arahnya. Terserahlah, Suho merasa dirinya tampan, padahal yang dilihat orang lain adalah cara dia tidur dengan mulut terbuka kemudan terkejut karena terantuk, sangat lucu.

Suho melangkah keluar begitu kereta sampai tujuannya, sesekali membenarkan berkas yang dibawa pulang, file-file yang besok harus ia berikan ke Kris, ketua divisi yang cerewet. Suho mengumpat.

Berjalan lima belas menit dan terlihat flat dimana Suho tinggal bersama adik laki-lakinya. Ah iya, apa yag sedang dilakukan Baekhyun sekarang. Suho membuka pintu dan menemukan adiknya tiduran di sofa tunggal yang benar-benar tunggal karena hanya satu-satunya yang mereka miliki.

“Aku pulang.”

“Selamat datang.”

“Kau belum tidur Baek?” meletakkan tas kerja di gantungan dan file di meja kerjanya. Menghela saat melihat beberapa kertas berantakan di atas meja. Ini pasti ulah Baekhyun, Suho diam saja.

“Ini masih terlalu sore, listrik mati Hyung belum membayar tagihan, aku bosan tidak bisa menonton.”

“Menabung, gajiku tak seberapa, apa Play Station bisa membuatmu pintar, apa menonton TV bisa membuatmu kaya.”

“Hyung sengaja tidak bayar listrik karena ini!”

“Aku belum gajian.”

“Bohong, ini kan tanggal muda.”

“Kenapa kau tidak bisa mengerti keadaan kita Baek, listrik mati sehari kau ribut begini, bagaimana kalau seminggu aku diamkan saja, apa kamu akan mengamuk.”

“Hyung kenapa marah.” Baekhyun duduk dari tidurannya. Baekhyun tidak pernah suka jika di dikte, tidak suka sekali.

“Aku tidak, Baek. Mengertilah.”

Suho lelah dan butuh istirahat kenapa adiknya ini tidak mengerti. Melihat Baekhyun menatapnya tajam, Suho hanya menghela napas kasar mengusap wajahnya. “Uang sekolah belum kau bayar, aku malu saat wali kelas mengatakan itu, sekarang kau malah marah-marah. Tidak ada yang mau berteman dengan ku dan hanya dengan game saja mereka mau datang ke rumah. Tapi hari ini, mereka langsung pergi setelah tahu listrik kita diputus! Bagaimana kalau mereka tidak mau datang lagi, Hyung senang aku tidak punya teman, iyakan.

Suho diam melihat Baekhyun masuk ke kamar mereka, sekali lagi hanya helaan untuk mengurangi bebannya. Inginnya marah, tapi tak bisa. Baekhyun masih dalam masa remajanya, Suho harus lebih memahami. Bekerja di kantor penerbitan memang tidak seberapa gajinya. Apalagi tempat kerjanya itu masih baru. Bukan perusahaan yang besar. Mau bagaimana lagi, Suho hanya lulusan SMA yang beruntung saja dapat bekerja disana. Keadaan ini sering terjadi, tapi kali ini Suho lelah, batinnya, perasaan dan pikirannya.

Suho dan Baekhyun dua bersaudara yang hidup berdua, setelah orangtuanya meninggal. Saudara dari ayah maupun ibu berada di daerah yang berbeda. Sejak lulus SMA, Suho yang mengurusi adiknya Baekhyun, yang pada saat itu masih di Junior high school. Mulai belajar tanggungjawab, dengan bekerja serabutan dan akhirnya dapat masuk ke perusahaan kecil yang sekarang namanya masih terdaftar sebagai anggota Design art. Terkadang Suho akan berada dititik lemahnya, seperti sekarang. Tekanan terus datang dan Suho tidak tahu harus bagaimana. Ia lelah, ingin istirahat sejenak dan bersenang-senang seperti teman sebayanya, mencari pasangan lalu berkencan mungkin. Tapi tidak sebelum Baekhyun adiknya dapat mandiri. Suho berdoa semoga itu cepat terjadi.

Paginya Baekhyun berangkat lebih cepat dari biasanya, tidak ingin bertemu Hyungnya. Baekhyun masih marah, ia kesal. Kenapa Suho hyung tidak pernah memahaminya. Suho hyung hanya sibuk bekerja, tidak pernah bermain dengannya lagi sejak ibu dan ayah meninggal. Selalu berada di luar rumah, berangkat pagi pulang malam. Sampai sekarang masih begitu. Yang dilakukannya hanya memberi uang setiap awal bulan untuk SPP sekolah atau uang saku. Tidak pernah sekalipun menanyai kegiatannya di sekolah, bagaimana hubungannya dengan teman-teman. Nilai lapor yang hanya dilihatnya sekilas, Suho hyung hanya mementingkan pekerjaan. Jadi, Baekhyun rasa dia tidak salah kalau sekarang hanya uang yang dibahas dan diminta dari Hyung nya itu.

Baekhyun tidak pernah punya teman, yang benar-benar teman. Teman bohongan tentu banyak. Baekhyun tidak bodoh, sangat mengerti apa yang mereka mau saat bermain di rumahnya. Baekhyun tetap diam walau mengerti hal itu, karena Baekhyun butuh teman. Rumahnya akan ramai dan dia tidak akan sendiri menunggu sampai malam Hyung menyebalkannya itu pulang dari kerja. Tapi mendapati banyak DVD game di rak TV, Suho hyung pasti mengomel, tentang boros uang lah, hemat listrik, memintanya menabung. Semua dianggap angin lalu, jika kesenangannya dibuang Baekhyun akan sendiri lagi. Baekhyun tidak suka rumahnya sunyi, membuatnya ingat kalau sekarang tak ada lagi Ibu yang memanjanya, dan Ayah dengan nasehat bijaknya. Semua hal itu akan membuatnya sesak napas, dan menangis.

“Ayo datang ke rumahku, ada game baru yang bisa kita mainkan,” ajak Baekhyun.

“Bukannya listrik rumahmu diputus Hyun.”

“Tenang saja, semua beres.”

Baekhyun akan melakukan semua ini, sampai kapanpun. Sampai Suho hyung mempunyai waktu untuknya, bukan sekedar bekerja untuk uang.

Pikiran Suho kemana-mana, sedari tadi tidak fokus. Suho memikirkan Baekhyun, pekerjaannya juga, dan banyak hal lain yang benar-benar dapat membuatnya pening. Sudah dua hari hubungannya dengan Baekhyun tidak membaik, saling diam, membuatnya frustasi. Menarik rambutnya kasar menyenderkan punggungnya ke kursi. Suho lelah, ini titik jenuhnya. Dia butuh bersenang-senang, hanya hari ini saja Suho ingin melupakan masalahnya dulu, melepas penat.

Suho memutuskan untuk datang ke bar, menerima tawaran teman kerjanya yang selama ini selalu ditolaknya, karena tak ingin membiarkan Baekhyun sendiri terlalu lama di rumah. Gelas kedua minuman beralkohol, belum mampu membuatnya lupa akan bebannya dan dia menambah lagi. Suho ingin bersenang-senang, tak ingin kalah dari Baekhyun yang selalu bermain dengan teman-temannya. Kekanakan sekali, dan Suho membiarkan dirinya yang seperti itu, hanya malam ini saja biarkan ia egois.

Tetapi Suho tidak pernah tahu, tidak berpikir jika keegoisannya berakhir ia membentak Baekhyun, memarahinya untuk pertama kali. Suho tidak sadar, karena pengaruh alkohol dalam dirinya. Segala perasaan yang disimpannya ia keluarkan, mencaci maki Baekhyun yang tidak pernah bisa memahaminya. Menyalahkan Baekhyun atas hilangnya kebebasan sebagai seorang pemuda, membuatnya harus bekerja dan terus bekerja tanpa memikirkan kebutuhan sendiri.

“Yang kau tahu hanya bermain dan menghamburkan uang, apa kau tidak pernah berpikir betapa susahnya mendapatkan uang itu, tahukah kamu waktu yang kugunakan hanya untuk mencari uang, dan kau hanya tahu cara menghabiskannya, menghamburkannya. Sepanjang hidupku setelah ayah ibu pergi hanya untuk membiayaimu, mencukupi mu Baekhyun, tapi kau tidak pernah mengerti, kau hanya tahu cara meminta uang, tidak pernah kau gunakan dengan benar. Pengorbananku sia-sia, kau tidak pernah bisa bersyukur, aku lelah mengurusi ini semua, apa kau tahu itu!”

“Kulakukan karena Hyung yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, sibuk mencari uang, yang kubutuhkan bukan hanya materi, tapi kasih sayang mu Hyung, aku membutuhkan itu, aku ingin itu, apa kau mengerti..”

Air mata Baekhyun adalah hal terakhir yang dilihatnya, sebelum kegelapan menghampiri.

“…maafkan aku.”

Suho terbangun dengan rasa sakit dikepalanya. Tenggorokannya kering, ia butuh minum. Membuka lemari es mengambil air mineral. Matanya bergerak mencari Baekhyun, tempat tidurnya sudah terlipat rapi dipojok ruangan. Tumben sepagi ini dia sudah bangun padahal hari minggu. Sedetik kemudian ia ingat, sekelebat bayangan semalam saat ia memarahi Baekhyun menohok hatinya. Pusing langsung menghampirinya, Suho butuh mandi baru ia akan mencari Baekhyun.

Hingga sore hari, Baekhyun belum kembali. Suho mulai khawatir, dia sungguh keterlaluan karena membentak Baekhyun. Mau mencari kemana, Suho tidak tahu. Mecari ke rumah teman-teman Baekhyun, atau ke tempat yang mungkin Baekhyun kunjungi, semua tidak ada yang ia lakukan. Kenapa baru sekarang Suho sadar, sekedar nama dari teman-teman adiknya saja tidak tahu, atau hal yang sering Baekhyun lakukan selain bermain game, Suho sama sekali tidak tahu. Hyung macam apa dirinya, mengabaikan satu-satunya keluarga sampai terasa asing begini.

“Hyung.”

“Baekhyun dari mana saja kau hah? Kau membuat Hyung khawatir apa kau tahu?!”

Baekhyun menundukkan kepalanya, terdiam sesaat. Kemudian menjelaskan kalau dirinya butuh udara segar, menjernihkan pikiran jadi Baekhyun memilih berjalan-jalan seharian. Suho paham dan tidak bertanya lebih dari itu. Memeluk Baekhyun adalah yang dilakukannya sebelum kata maaf terlontar.

“Maafkan aku Baekhyun, sama sekali tidak bermaksud menyakiti perasaanmu.” Sesalnya.

Baekhyun menggeleng, “Tidak. Mungkin kita yang sama-sama salah, ini hanya kesalahpahaman Hyung, aku juga minta maaf.” Suaranya bergetar, ini sulit untuk berkata.

“Aku memang hanya tahu bermain dan menghamburkan uang, aku hanya tahu bersenang-senang tanpa memahami kau susah mendapatkannya. Maafkan aku, tapi semua kulakukan hanya karena tidak mau sendiri. Aku selalu menunggumu pulang hingga larut, sejak ayah dan ibu tiada yang Hyung pikirkan hanya bagaimana cara mendapatkan uang, aku butuh Hyung juga, bukan hanya uang.”

‘Hyung bahkan tidak punya waktu untuk berbicara denganku, Hyung terlalu sibuk dengan pekerjaan, aku tidak suka itu Hyung.” Ungkap Baekhyun, dan Suho langsung memeluknya tak ingin melihat air mata Baekhyun. Semua dari awal memang salahnya, hanya memikirkan materi tanpa memberi kasih sayang untuk Baekhyun, adik semata wayangnya.

“Ini, untukmu.” Baekhyun menyerahkan amplop coklat tebal ketangan Suho.

“Ini apa?” dibukanya amplop tersebut kemudian terkejut melihat isinya. “Uang dari mana ini Baek.” Tanya Suho khawatir.

Mengusap air matanya, Baekhyun menjawab “Hasil aku menjual Play Station, uang itu cukup kan hyung membeli waktu mu seharian ini. Apa bisa kita melakukan berbagai hal hari ini?”

Suho hanya mengangguk tak sanggup menjawab. Sungguh terharu melihat pengorbanan adiknya, dan berjanji masalah ini tidak akan terulang lagi. Suho menangis saat mendengar suara bisikan Baekhyun dalam pelukannya.

“Selamat ulang tahun, Suho hyung. Aku menyayangimu.”

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI LINE@] It’s Okay (Oneshot)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s