KAJIMA – BONUS STORY — IRISH

irish-kajima-5

   KAJIMA  

  EXO`s Sehun & Luhan; OC`s Injung & Ahri

   with EXO Members  

  fantasy, drama, supranatural, life, friendship, school-life and romance story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


“Jebal… Jebal kajima…”


Reading list:

〉〉 TeaserChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7 – Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 – Chapter 13Chapter 14Chapter 15  –  Chapter 16  – Chapter 17Final Part TeaserChapter 18 〈〈

BONUS STORY

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

2 0 1 6

“Kemana Ahri mungkin pergi?” sebuah tanya Injung ucapkan pada pemuda berkulit pucat yang sedari tadi berdiri di ujung pintu, mengawasinya dalam diam.

“Aku rasa Kyungsoo punya tanggung jawab penuh untuk mencarinya.”

Decakan kesal tanpa sadar lolos dari bibir Injung. Sudah jelas ia tidak senang mendengar jawaban pemuda tersebut atas pertanyaannya.

“Aku sudah bilang pada Kyungsoo untuk tidak mengajaknya pergi, Sehun. Kenapa ia tidak mendengarkanku? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ahri?” tanya Injung membuat tawa pelan terdengar.

“Jangan terlalu menganggap Ahri seperti anak kecil, Injung-ah. Khawatiran saja dirimu sendiri yang bahkan tidak menjaga diri.” Sehun menyahuti.

Kini, tatapan Injung bersarang pada pemuda Oh tersebut. “Jangan bercanda, Oh Sehun. Kau sedang berusaha bicara dewasa yang sangat tidak cocok dengan sifatmu biasanya.” ujar Injung setengah meledek.

Tak ayal, Sehun akhirnya tertawa pula. Memang, ia sengaja bicara seperti itu untuk mengurangi kekhawatiran Injung, tapi gadis itu rupanya sudah tahu maksud Sehun.

“Kau masih saja kekanak-kanakkan.” gerutu Injung kesal.

Sehun hanya mengedikkan bahu acuh, dirajutnya langkah mendekati Injung yang masih berdiri di tempat yang sama.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Sehun, diliriknya Injung sejenak sebelum ia menghela nafas panjang. “Luhan lagi?” sambungnya berhasil membuat Injung menatap dalam diam.

“Kau mendengarnya?” tanya Injung.

Anggukan pelan Sehun berikan sebagai jawaban. “Ya, sangat jelas.”

Keheningan lambat laun menyelimuti, sementara keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Akhirnya, Injung menyerah. Ia menghela nafas panjang, memutuskan untuk merebahkan tubuh di tepi tempat tidur yang ada di ruangan tersebut, membiarkan Sehun berdiri sendirian.

“Semuanya begitu membingungkan.” Injung memulai.

“Keadaan ini? Atau perasaanmu?” tanya Sehun, masih memandang keluar jendela sementara Injung kini menatapnya dalam diam.

“Perasaanku.” Injung berucap setelah beberapa saat. Ditarik dan dihembuskannya nafas panjang sebelum ia melanjutkan. “Kau jelas bisa tahu dari pikiranku, Luhan … adalah cinta pertamaku. Tapi entah sejak kapan … kurasa ada yang berubah.”

Sehun bergeming, seolah membiarkan Injung larut dalam pikirannya.

“Apa keberadaanku berefek begitu buruk pada perasaanmu?” Injung terkesiap mendengar pertanyaan Sehun barusan.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

Sehun kini menolehkan pandang, terdiam beberapa saat sebelum berucap. “Bagaimana perasaanmu terhadapku, Lee Injung?”

Baru saja Injung akan membuka mulut dan menjawab, seseorang muncul di ujung pintu. Baekhyun.

“Kyungsoo bilang ia tidak bisa menemukan Ahri dimana pun, aku dan Kai akan keluar untuk mencari Ahri, kau ikut, Injung-ah?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

3284LG

Jemari Ahri saling bertautan, di sebelahnya, duduk seorang pemuda yang menunggu reaksi Ahri. Ia baru saja menceritakan seluruh kehidupannya pada sang gadis, bagaimana ia bisa berubah menjadi seorang A-VG, kejahatan apa saja yang pernah ia lakukan, termasuk tentang perang yang cepat atau lambat akan mereka hadapi.

“Aku tidak tahu harus berucap apa, Jongdae-ah.” akhirnya bibir Ahri membentuk kata, sementara pandangnya masih tertuju pada tanah di bawahnya.

“Kau tidak harus mengucapkan apapun, aku tahu keadaanku begitu mengerikan. Yang jelas, aku sudah memberitahumu segalanya, Kim Ahri. Tak ada lagi kebohongan.”

Helaan nafas Ahri keluarkan sebagai jawaban. “Jadi, selama ini kau sudah memanfaatkanku, begitu? Kau berpura-pura baik padaku untuk mencari informasi tentang mereka?” tanya Ahri.

Alis Chen kini bertaut. “Aku tidak berpura-pura saat bersikap baik padamu. Aku hanya berpura-pura saat aku bilang tak ada yang tahu tentang kedekatan kita.”

Sepasang mata Ahri kini terpejam, berusaha keras menemukan dimana sebenarnya kebohongan itu telah Chen selipkan.

“Lalu, apa bedanya dengan membohongiku sepanjang waktu?” tanyanya menuntut penjelasan.

Kini, Chen yang terdiam. “Maafkan aku, Ahri-ah. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya secara keseluruhan, hanya saja … kau hanya perlu tahu jika aku tidak pernah berniat melukaimu.”

“Semua yang kuucapkan pada teman-temanku, semata-mata bertujuan supaya mereka tidak mengusikmu. Mereka percaya aku bisa mengatasi masalah yang mungkin bisa kau timbulkan. Selain cara itu, aku tidak bisa menemukan cara lain untuk menghindarimu dari kemungkinan terluka.”

“Kau sudah melukaiku.” Ahri berucap, “mengatakan kebenaran tentang kau sudah membohongiku sepanjang waktu, adalah hal yang membuatku terluka.”

Ahri terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

“Tapi rasanya aneh, aku seharusnya marah padamu, aku seharusnya membencimu, atau merasa kecewa terhadapmu. Tapi … melihatmu menceritakan semuanya padaku, juga alasanmu, aku bisa memahaminya.”

Tatapan Chen membulat sesaat, sebuah senyum kecil tersimpul di wajahnya.

“Apa kau mau memaafkanku?” tanyanya.

Ahri mengangkat bahu acuh, ditatapnya pemuda Kim tersebut sebelum ia berucap. “Hanya jika kau berjanji tak akan melukai siapapun di perang itu.”

Sejenak, Chen terdiam. Ucapan Ahri benar-benar tidak diduganya, tapi juga enggan ditolaknya. Menekan keinginannya untuk memusnahkan VPGN di perang itu, ada secuil keinginan dalam diri Chen untuk melarikan diri dan membawa serta Ahri bersamanya, meskipun, keinginan itu dipendamnya dalam diam.

“Aku berjanji.” akhirnya Chen berucap.

“Benarkah? Kau tidak akan melukai siapapun?” tanya Ahri memastikan.

Chen mengangguk mantap. “Aku tak akan melukai siapapun.”

“Termasuk Baekhyun?” lagi-lagi Ahri bertanya, pertanyaan yang sanggup membuat Chen teringat pada pemuda yang selama puluhan tahun dikenalnya, dan sudah diberinya sebuah luka mendalam di masa lalu.

“Ya, aku tak akan melukainya.”

Ahri kini tersenyum, memberanikan diri melepaskan tautan jemarinya, Ahri bergerak meraih jemari Chen yang sedari tadi terbebas, digenggamnya jemari pemuda itu sesaat sebelum ia berucap.

“Terima kasih, Jongdae-ah, aku tahu kau bukan orang jahat.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Apa kau mau memaafkanku?”

“Hanya jika kau berjanji tak akan melukai siapapun di perang itu.”

Baekhyun membeku. Dua kalimat yang baru saja didengarnya saja sudah sanggup membuat pemuda itu kehilangan orientasi. Sekarang, lenyap sudah keinginan Baekhyun untuk meluapkan emosinya kala menemukan Ahri tengah bersama dengan Chen.

“Aku berjanji.”

Sebuah tawa kasar lolos dari bibir Baekhyun yang kini memilih berdiri diam diantara beberapa orang yang hendak menyebrangi jalan. Sengaja, ia berdiri di sana, agar Chen—yang duduk bersama Ahri di halte—tidak menyadari keberadaannya.

“Benarkah? Kau tidak akan melukai siapapun?”

 “Aku tak akan melukai siapapun.”

Baekhyun kini terpejam, rahang pemuda itu terkatup rapat, menahan marah, ketika ia sadar ucapan Chen terdengar begitu tulus dalam pendengarannya. Tidak, Baekhyun tidak ingin percaya apa yang ia dengar sekarang. Ia ingin yakin pendengarannya sudah berbohong, mengkhianatinya saat ia begitu membenci Chen.

“Termasuk Baekhyun?”

477170402

Tatapan Baekhyun kini tak lagi berfokus. Beberapa orang di sekelilingnya sudah melangkah menyebrangi jalanan, sementara dirinya hanya sanggup menatap lampu hijau berkedip di seberang sana.

Tak perlu Baekhyun menebak apa yang akan Chen ucapkan. Tak perlu juga Baekhyun berusaha mengingat-ingat apa yang dulu terjadi pada mereka. Dirinya, Chen, dan juga Kyungsoo.

Tiga orang yang dulu berteman dengan begitu akrab, tanpa saling tahu-menahu dan ikut campur pada peperangan yang ada. Sejujurnya, jika saja Baekhyun bisa kembali ke masa itu, ia akan memilih untuk mati saja daripada terbangun dengan membawa serta kenangan yang menyakitkan.

Atensi Baekhyun kini beralih pada lampu hijau yang berkedip makin cepat dan berubah menjadi merah. Akhirnya, Baekhyun memilih untuk bergeming. Hilang sudah keinginannya yang tadinya hendak menyebrangi jalan guna menghampiri Ahri dan Chen yang tak juga menyadari keberadannya.

TIIIINNNN!

Sebuah klakson nyaring membuyarkan lamunan Baekhyun, tatapannya segera tertuju pada seorang gadis yang melangkah beberapa meter di depannya, mengenakan sepasang headset putih, tidak menyadari laju sebuah mobil gelap yang tertuju ke arahnya.

Tak menunggu hitungan detik, Baekhyun melangkah panjang, ditariknya lengan gadis itu tepat beberapa detik sebelum mobil gelap tersebut melewatinya.

Hey!” seruan penuh kekesalan segera menyambut pendengaran Baekhyun.

“Kau mau mati? Tidakkah kau lihat lampu penyebrangan jalan sudah berubah jadi merah?” Baekhyun berucap kesal

“Ya, aku tak akan melukainya.”

Baekhyun mematung, cekalannya pada lengan gadis yang baru saja ditariknya tanpa izin kini mengkuat.

“A-Ah! Hey, lepaskan aku.” sang gadis meronta, dengan cepat ia menarik lengannya dari Baekhyun, sementara pemuda tersebut masih juga mematung.

“Kau berjanji tidak akan melukaiku?” bibir Baekhyun menggemakan ucapan Chen barusan.

“Apa?” gadis di hadapan Baekhyun menatap tak mengerti.

Segera, Baekhyun tersadar bahwa ia baru saja membuat Chen dan Ahri sadar akan keberadaannya. Melihat bagaimana Chen sekarang melempar pandang ke arahnya sementara lengan pemuda Kim tersebut merangkul bahu Ahri dan membawa sang gadis pergi dari tempat mereka semula.

Tanpa bicara apapun, Baekhyun akhirnya melangkah ke arah berlawanan. Enggan mengetahui kemana Chen akan membawa Ahri. Melihat bagaimana lengan pemuda itu mencekal Ahri, melindungi gadis tersebut, Baekhyun tahu, sebuah ketulusan tengah Chen perjuangkan.

Dan ketulusan itu justru membuat Baekhyun marah.

Hey! Tuan!” Baekhyun bahkan mengabaikan teriakan gadis yang baru saja ditolongnya, ia sudah membuta-tulikan diri pada semua hal yang tengah terjadi.

Ia begitu marah, mengetahui bagaimana Chen bisa terlihat tulus dalam pandangannya kini jadi sesuatu yang mengganggu. Ia tidak ingin, tidak ingin melihat Chen setulus itu.

“Baekhyun!” sebuah seruan berhasil memecahkan konsentrasi Baekhyun.

Kyungsoo, kini tengah berlari ke arahnya, Baekhyun tahu, Kyungsoo kelelahan, melihat bagaimana nafas Kyungsoo sekarang bisa terengah-engah, Baekhyun tahu itu.

“Apa kau menemukan Ahri?” tanya Kyungsoo segera setelah ia sampai di tempat Baekhyun menghentikan langkahnya.

Sejenak, Baekhyun terdiam. Kekhawatiran yang tersirat di ekspresi Kyungsoo sekarang juga entah mengapa membuat Baekhyun merasa marah.

Dua orang, dua orang yang terhubung langsung dengan masa lalunya kini tengah menunjukkan kekhawatiran dan ketulusan pada seorang yang sama. Seperti yang terjadi di masa lalu.

“Tidak. Aku tidak melihatnya.”

Dan ya, Baekhyun sesungguhnya enggan mengakui bahwa ia marah karena Chen dan Kyungsoo mungkin telah melupakan eksistensi adiknya yang selama puluhan tahun terpendam dalam kenangan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

night_of_bedroom_by_3d_reality

Injung tak jua bisa terlelap. Meski Ahri sudah kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja—dan enggan mengatakan kemana ia tadi menghilang—tapi tetap saja, Injung tidak bisa tidur.

“Bagaimana perasaanmu terhadapku, Lee Injung?”

Ucapan Sehun menggema dalam benaknya, membuat Injung lagi-lagi menarik dan menghembuskan nafas panjang guna menormalkan kinerja jantungnya yang sedari tadi melompat-lompat tidak karuan.

Ia ingat benar, keadaan serupa pernah ia alami, saat mengingat Luhan dalam pikirannya, Injung ingat jantungnya juga berdebar seperti ini. Injung juga tahu apa alasan yang membuat jantungnya seperti itu, karena Luhan adalah bagian dari kenangan terdalamya.

Lalu bagaimana dengan Sehun?

“Ya, bagaimana denganku, Lee Injung?” Injung terperanjat bukan main saat seseorang baru saja menggemakan pemikirannya.

“Oh Sehun!” seruan cukup keras Injung lontarkan, sementara disadarinya Sehun tengah berdiri di salah satu sudut ruangan yang gelap, entah sejak kapan.

“Siapa suruh kau memikirkan hal seperti itu di tempat ini. Kau jelas tahu semua orang bisa mendengarmu.” ujar Sehun ringan.

Injung memicingkan matanya, menahan kekesalan. Ucapan Sehun tidak juga salah, memang ia seharusnya tidak berpikir macam-macam saat semua orang ada di rumah. Tapi, apa Injung harus terus-terusan memikirkan tentang perang yang tidak terelakkan?

“Kalian seharusnya belajar memberi seseorang privasi untuk berpikir.” sahut Injung setelah terdiam beberapa saat, enggan mengakui kekalahan.

“Privasi?” ulang Sehun dengan sebuah kekehan jahil, sekon selanjutnya pemuda tersebut sudah ada di sebelah tempat tidur Injung, menatap penuh arti.

“Kau ingin sebuah privasi?” tanya Sehun membuat Injung segera menatap curiga. “Apa yang kau rencanakan huh?” tuntutnya.

“Oh, Injung-ah, kau baru saja berpikir aku akan jadi seorang mesum.” Sehun tertawa cukup keras.

Lagi-lagi, Injung merasa pikirannya ditelanjangi, lagipula memangnya siapa yang tidak akan merasa curiga jika seseorang menyelinap masuk ke dalam kamar secara diam-diam?

“Baiklah, aku bisa membuat pemikiranmu jadi kenyataan.” Sehun lagi-lagi berucap.

“Apa? Tidak perlu!” sergah Injung tak nyaman.

“Sudahlah, kau tidak perlu menjelaskan bagaimana perasaanmu padaku. Aku suka padamu, dan kau juga begitu. Kita sudah dapat sebuah kesimpulan bukan?” Sehun berkelakar.

“Apa maksudmu?”

Pertanyaan Injung kini berhasil membuat Sehun memicingkan pandang. “Kau sangat tidak peka, Lee Injung.”

“Apa yang kau—hey!” lagi-lagi Injung berseru kala Sehun tanpa seizinnya merebahkan tubuh di tempat tidur, lengan pemuda itu menarik pinggang Injung dengan cepat, begitu cepat sampai Injung bahkan tak sadar bahwa ia sudah terkungkung dalam dekapan Sehun.

Lagi-lagi, Injung mematung. Bisa ia pastikan, jika terus seperti ini jantungnya mungkin akan tiba-tiba berhenti bekerja, atau minimal, mengalami gangguan kinerja.

“Lepaskan a—” ucapan Injung terhenti saat jari telunjuk Sehun melintang di bibirnya. Dengan sebuah senyum penuh makna, Sehun menatap gadisnya dalam diam.

“Kalau kita melakukannya, seisi rumah ini pasti memberi privasi.” ujar Sehun berbisik.

“Kau gila? Jangan merencakan hal buruk.” dengan tidak nyaman Injung berusaha mengalihkan lengan Sehun yang masih juga mengurungnya.

Tak ingin kalah dengan usaha gadis itu, Sehun malah mempererat rangkulannya.

“Ayolah, Lee Injung. Kita mungkin tak akan punya kesempatan lagi setelah ini.”

“Kesempatan apa yang kau bicarakan?”

“Kesempatan untuk tidur bersama.”

“Oh Sehun! Kau gila!”

“Bukankah kita sama-sama saling menyukai?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

2 0 2 0

“Wah, lama tidak bertemu.”

Sebuah kalimat bernada dingin lolos dari bibir seorang pemuda berpakaian serba gelap yang tengah duduk di kursi jalanan. Sebuah koran terentang di depan wajahnya, sementara tarikan dan hembusan nafasnya terdengar tidak sabar.

“Siapa sangka kita akan ada di dalam halaman depan surat kabar di waktu bersamaan?” ia bicara pada diri sendiri, tapi tawa kasar kini mengekor di ujung ucapannya, terdengar nada sedih yang sarat dalam tawa kasarnya yang mungkin terkesan menyeramkan.

“Tidakkah tindakanmu sekarang sangat lucu, setelah meninggalkan seseorang hingga ia menghadapi kehancuran, kau malah memulai kehidupan romantis bersama seorang journalist.”

Jemari pemuda itu kini bergerak menyentuh judul salah satu berita di koran yang ada dalam genggamannya, berhenti di kata ‘journalist’ yang diam-diam membuatnya merasa terusik, pemuda itu akhirnya mendesah pelan. Pandangannya kini terarah pada satu berita lain yang tercetak lebih besar.

“Mereka bahkan menemukan gambar yang bagus untuk menggantikan wajahku. Sungguh lucu.” gumamnya, tersenyum tanpa sadar ketika mengingat bahwa ia adalah seorang yang tidak terlihat, sekarang.

Shadow of The Dark. Aku suka nama yang penulis berita ini berikan padaku. Haruskah aku berterima kasih padanya?” tawa pelan kini lolos, sementara kurva sempurna masih terpasang di paras sang pemuda.

Dinginnya suhu siang hari yang menusuk permukaan kulit setiap orang bahkan tidak mengusiknya. Ia tidak termasuk dalam kategori orang-orang tersebut, omong-omong. Dan tidak seorang pun mengenalnya.

“Anne.” gumamannya lagi-lagi terdengar. “Dimana aku bisa menemukan gadis ini … Dia mungkin mengenal gadis yang kau kencani, Tuan Alexander Hugo. Aku juga harus berterima kasih padanya karena sudah membuat kita ada di halaman depan surat kabar.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Inside-of-apartment-where-victim-was-shot-2

“Anne Yoo!”

Seruan cukup keras terdengar, membuat bahu seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut panjang bergelung yang tengah sibuk memperhatikan sebuah TKP—Tempat Kejadian Perkara—kini menoleh.

Hey! Jangan terus memanggilku seperti itu.”

“Bukankah namamu memang Anne?” pemuda yang tadi menyerukan namanya, kini melangkah mendekati.

Bibir gadis itu segera mengerucut, sementara jemarinya masih sibuk bergerak di atas notes yang berada di genggamannya.

“Namaku bukan Anne, kau tahu itu.” gerutunya, sementara kepalan kecil tangannya sekarang bergerak menyarangkan tinju kecil di lengan kekar sang pemuda yang terbalut setelan jas senada berwarna navy blue yang dipadukan dengan kemeja berwarna biru muda.

“Baiklah, Anna Yoo, apa bedanya? Kau hanya mengganti satu huruf pada namamu saja.” sang pemuda menyahut acuh, sebuah senyum ia pamerkan sebagai tanda kemenangan.

Menyerah, sang gadis, Anna, akhirnya hanya menggeleng pasrah.

“Terserah kau saja, Tuan Hugo.” sindirnya, lagi-lagi netranya berfokus pada bekas darah mengering yang ada di sana.

Tak lama, seorang opsir polisi masuk ke dalam ruangan tersebut, berdiri tepat di sebelah Anna yang masih menatap serius tiap titik dengan label nomor di atasnya.

“Bagaimana menurutmu, nona reporter?” atensi Anna sekarang beralih, pada sosok opsir yang sudah berdiri di sebelahnya, memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.

“Kali ini siapa pelakunya, Mark?” tanya Anna tanpa basa-basi.

Pemuda yang disebut Mark itu hanya mengangkat bahu. Sementara tatapan jahilnya masih tertuju pada Anna. “Menurutmu?” tanyanya membuat Anna terdiam sejenak.

“Mungkinkah … dia?” ujar Anna terkejut.

Well, siapa?” pancing Mark berhasil menciptakan ekspresi serius di wajah kekanakkan Anna.

Shadow of The Dark.” ia berucap pasti.

Mark Hallan, opsir polisi tersebut, mengangguk lemas.

“Tak ada bukti, tak ada sidik jari, tidak ada rekaman CCTV, tidak ada petunjuk apapun. Blind case, lagi. Kurasa dugaanmu benar, mungkin serial killer favorite-mu adalah pelakunya.”

Bahu Anna berjengit mendengar penuturan Mark. Segera, sebuah senyum terpasang di wajah sang gadis, sementara atensinya sekarang beralih pada Alexander Hugo yang berdiri di sisi lainnya.

“Kau dengar itu, Alex? Benar-benar dia.” ujar Anna bersemangat.

Sang pemuda hanya mengedikkan bahu dan menatap Mark penuh arti.

“Kau tahu, aku tak pernah menemui gadis yang sangat suka pada pembunuh, seperti Anna.” ujarnya asal, tapi segera disahuti Mark dengan tawa terbahak.

“Ya, mungkin juga sosok ini sengaja mencari perhatian Anna.” sahutnya.

Jangan ditanya bagaimana Anna sekarang, ia sudah sibuk dengan kamera digital mungilnya yang selalu melingkar di leher, dengan notes dan bolpoin di saku jaketnya. Bahkan tidak sadar jika seseorang kini tengah mengawasinya dari sebuah titik tidak terlihat.

Well, ternyata kau dan Alexander Hugo punya hubungan lebih dekat daripada yang kuduga, Anna. Haruskah aku memberimu undangan secara pribadi?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

sam_0017

Anna pulang larut hari ini. Setelah menolak ajakan Alexander untuk makan malam, dan menolak tawaran Mark yang ingin mengantarnya pulang. Ada alasan yang membuat Anna enggan melakukan apapun, ia ingin menyelesaikan laporannya.

Karena ia adalah salah satu pembuat berita yang mendapatkan laporan eksklusif tentang pembunuhan yang terjadi sore tadi, Anna tentu tak ingin membuang waktu untuk sekedar makan malam bersama.

chk_captchas

Anna sampai di apertemen mungilnya saat jam sudah menunjuk angka sebelas lebih. Gadis itu baru saja menapakkan kakinya di anak tangga terakhir menuju lantai tiga—tempat apertemennya berada—saat atensinya terenggut oleh sebuah boks yang ada di depan pintu.

“Aku rasa aku tidak membeli paket online apapun …” Anna menggumam, segera dirajutnya langkah panjang dan diraihnya boks yang tergeletak di depan pintu apertemennya.

Henry_LR_5

Tak membuang waktu, Anna masuk ke dalam apertemennya dengan membawa boks tersebut, meletakkan benda mungil itu di atas meja sementara ia sibuk melepaskan beberapa lapis jaket tebal yang ia kenakan.

Anna sudah berniat untuk membasuh wajahnya di kamar mandi saat rasa penasarannya tak lagi bisa ia bendung. Tanpa menunggu lagi, Anna duduk di kursi yang ada di dekat meja, meraih sebuah gunting untuk membuka plester yang menutupi boks tersebut dan membukanya.

“Ya Tuhan!”

Nafas Anna tercekat kala ditemukannya sebuah pisau dapur berlumur darah di dalam sana, dengan bau anyir menyengat yang Anna kenali sebagai darah mengering. Sebuah sticky notes ada di gagang pisau tersebut, dengan sederet kalimat yang berhasil memicu kinerja jantung Anna.

Sebuah catatan ada di sana, tertulis dengan tulisan tangan luar biasa rapi dan menyertakan nama pengirim yang tak pernah Anna duga.

Hai, Anna.

Kukirimkan sebuah hadiah untukmu.

Kita akan sering bertemu bukan?

Dan juga, terima kasih untuk nama cantik yang kau ciptakan untuk memanggilku.

Shadow of The Dark

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

ABNORMAL BONUS: SLIGHT INTERVIEW WITH CAST

tumblr_nrkz57kS4g1unv5w5o1_500

Irish: Karena cerita ini akan berlanjut di Season II, bagaimana menurut Anda, Oh Sehun?

Oh Sehun: Untuk apa aku bangga karena ada Season II? Kau bahkan tidak menjadikanku pemeran utama lagi, author pilih kasih.

Irish: Tapi Saudara Sehun, Anda sudah mendapatkan ending yang diinginkan, bersama dengan Lee Injung, kenapa Saya dikatakan tidak adil?

Oh Sehun: Banyak yang kesal padaku karena chapter terakhir, dasar, author pilih kasih.

Irish: Oh Sehun, tunggu Season II.

suzy grazia 01

Irish: Well, beralih dari wawancara dengan Oh Sehun, bagaimana pendapat Lee Injung tentang Season II?

Lee Injung: Aku suka. Karena misteri yang ada di Season II jauh lebih banyak daripada Kajima, aku rasa pembaca juga akan menyukainya.

Irish: Pft, semoga saja begitu. Dan oh, jangan lupa, apa yang membuat cerita Season II ini berbeda, Saudari Lee Injung?

Lee Injung: Hmm, karena ada Shadow of The Dark? Dan Anna? Oh, Anna adalah seorang anak yang sangat penuh rasa penasaran, lebih daripada aku saat di Kajima.

tumblr_static_tumblr_static_3iza493c7ack084s80gkg0cc4_640

Irish: Anne Yoo, pemeran utama baru di Season II, apa ada kisah yang ingin Anda bocorkan pada pembaca?

Anna Yoo: Pertama, jangan panggil aku Anne, namaku Anna. A-N-N-A, Anne hanya sebutan yang orang-orang gunakan untuk memanggilku di San Carlos Office. Dan kedua, aku bukan pemeran utama. Bukankah Shadow of The Dark adalah pemain utama yang kau ciptakan?

Irish: Pftt, jangan bocorkan bagian itu, tolong.

IMG_1462c

Irish: Beralih dari Anna, biarkan Saya perkenalkan Maaya Halley, pemeran baru dalam cerita season II.

Maaya: Orang-orang sudah mengenalku, bukankah begitu? Tanpa namaku, tidak akan ada chapter terakhir Kajima.

Irish: Maaya, kenapa Anda begitu kejam?

Maaya: Pertama, aku adalah seorang A-VG, dan semua orang berpikir A-VG itu kejam dan jahat. Kedua, aku adalah seorang ‘Peri Nasional’ di Venezuela, jadi aku tak mau berpura-pura baik di depan penulis cerita yang menciptakan karakterku. Ketiga, aku tidak suka keramaian.

Irish: Well, sepertinya wawancara dengan Maaya tidak bisa berjalan mulus.

tumblr_nmwe34WAzF1si7uq6o2_500

Xi Luhan: Apa aku juga diwawancarai?

Irish: Err, tidak. Maaf …

Xi Luhan: Kenapa? Apa aku memang sudah benar-benar mati?

Irish: HAHA. Kata siapa Xi Luhan sudah mati di cerita Kajima?

tumblr_static_tumblr_static_54t9wuyhpu4ocsko4osgs4sg0_640

Alexander Hugo/Park Chanyeol: Aku tidak ingin diwawancarai. Biarkan aku saja yang menjelaskan pada pada pembaca tentang karakterku. Aku bukan lagi Park Chanyeol, untuk sementara waktu kalian bisa memanggilku Alex, atau Hugo. Tentang bagaimana aku bisa bersama dengan journalist Anna Yoo di Venezuela, cerita Season II akan menjawabnya.

Irish: Oke, sudah cukup penjelasan tentang perubahan nama sementara Park Chanyeol menjadi Alexander Hugo bukan?

MaskInlie1

Pembaca: Bagaimana nasib Do Kyungsoo, Suho Kim, Kai Kim, Byun Baekhyun, Xiumin dan Chen?

Irish: Jangan menanyakan mereka, karena mereka mungkin sudah tidak ada di cerita Season II akibat perang.

Pembaca: Kami sudah lelah di-PHP.

Irish: PFT, HAHAHA. BIARLAH MEREKA MENJADI MISTERI.

B6ATnv-CMAER03V

Irish: Wawancara terakhir akan melibatkan Kim Ahri, yang hubungan cintanya dipertanyakan oleh para pembaca.

Kim Ahri: Irish, apa kau tidak bilang pada pembaca kalau namaku juga sudah berganti?

Irish: Belum, biar cerita Season II yang memberitahunya. Sekarang, banyak yang mempertanyakan hubunganmu dengan Kim Jongdae.

Kim Ahri: Kalau begitu, biar cerita Season II menjawabnya.

Irish: Fine, kita impas.

Opera-mask-50aae5997b1c1_hires

Irish: Satu wawancara lagi, dengan tersangka yang jadi pemeran utama dalam cerita ini, Shadow of The Dark.

Shadow of The Dark: Jangan tanyai aku. Jangan mencoba untuk mencariku.

Irish: Err, kami tidak mencarimu. Kami hanya ingin tahu siapa kau sebenar—

Shadow of The Dark: Kau mau mati, huh?

Irish: Maaf ;3; padahal aku tidak menciptakan Shadow of The Dark untuk jadi sekejam ini.

Shadow of The Dark: Hentikan wawancara konyol ini. Aku hanya akan bicara para journalist Yoo.

Irish: OH! BICARA DENGAN ANNA? Ada apakah gerangan di antara Shadow of The Dark dan Anna Yoo?

Shadow of The Dark: Kau ingin aku benar-benar membunuhmu, huh?

Irish: Gidaryeo, gosip terhangat tentang mereka akan segera terbit.

Irish: Well, sekian wawancara ini saya akhiri, mohon maaf atas kekurangan dan kelebihannya. Semoga Season II masih dinanti meski baru akan dipublish pada bulan Agustus. Ada pertanyaan, pembaca?

Pembaca: Kapan Season II mulai di rilis?

Irish: Bulan Agustus.

Pembaca: Apa nanti OT12 lagi?

Irish: Apa EXO bakal comeback OT12?

Pembaca: Apa cerita Season II sudah dalam proses, atau masih baru diciptakan?

Irish: Sudah sampai di chapter sebelas, tinggal beberapa belas chapter lagi.

Pembaca: Siapa Shadow of The Dark sebenarnya?

Irish: Tanya sendiri pada castnya, saya tidak bisa menjawab.

Pembaca: Terus, bagaimana nasib Lee Jangmi, dan Byun Injung yang pernah nampang di Kajima?

Irish: Tunggu saja, mereka masih alive.

Pembaca: Apa ada cuap-cuap di Bonus Story ini?

Irish: Kali ini, tidak ada cuap-cuap. Sekian, terima kasih. Salam cium-peluk satu paket, Irish.

Pembaca: Bagaimana nasib fanfiksi chapter lainnya, Irish?

Irish: GIDARYEO, YA. GIDARYEO.

FIN

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

243 tanggapan untuk “KAJIMA – BONUS STORY — IRISH”

    1. Kaa kalo season II nya udah muncul belum?? Astaga padahal aku udah baca yg chapter ini, aku kira msh ada bonus yg lain terkait sehun injung hahaha aku pengennya lebih banyak chemistry mrk bukakakaak 😃
      Makasih ya kaaa 😘

    2. Ka irish aku udah tau judulnya hehehehe. Arigato kaa lope lope pisan dehh 😘 Aku mau mulai baca nih hahaha 😎

  1. KENAPA ANNA??? KENAPAAA??
    ANNE AJA ANNEEEEEE..
    TERUS NANTI CERITANYA SI ANNE GAK SAMA HUGO. XIUMIN DATENG MENGUMUMKAN KALO DIA UDAH TUNANGAN SAMA ANNE TERUS NGELAMAR ANNE DI DEPAN SEMUANYA. OK FIX.

  2. Haha kreatif bgt ampe ad wawancara ny
    Pertama kali w mikir yg jd shadow of the dark itu luhan loohhh
    Trus yg jd hugo itu sehun
    Hahahaha abaikan saayyyyaaaaaa

  3. akhir perangnya itu gimana sih aku masih belum ngerti
    hmm mungkan bakal dijelasin kali yaa di gidaryeo pas scene scene kajima yang rada gantung

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s