DECISION [EPISODE 8] – by GECEE

req-grace-decision1

GECEE proudly present

 

D E C I S I O N


WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER] | [EP 1] | [EP 2] | [EP 3] | [EP 4] | [EP 5] | [EP 6] | [EP 7]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“Just looking at you makes me tear.”

–The Only Person (K. Will)

 

 

 

 

==HAPPY READING==

BEL pintu apartment itu berdering untuk ketiga kalinya. Seperti beberapa menit sebelumnya, Jane berusaha untuk tidak menghiraukannya. Pikirnya, paling-paling itu hanyalah ulah orang iseng belaka, yang kalau dibiarkan akan berhenti sendiri. Ataupun kalau benar ada tamu yang ingin berkunjung ke apartment-nya, tentulah tamu itu pasti akan menunggu untuk beberapa menit ke depan sampai ia membuka pintunya. Jane tetap melanjutkan kegiatannya mencuci piring.

Setelah membilas piring yang terakhir, Jane mematikan keran yang menyala dan mengeringkan tangannya dengan kain lap yang tergantung di dinding. Sesudah itu barulah ia berjalan ke pintu apartment-nya dan melihat siapa tamu yang datang.

“Baekhee-ya!” seru Jane begitu mendapati bahwa sahabatnya itu berdiri di depan pintu apartment-nya. “Ada apa? Sendirian saja?”

Baekhee tersenyum. Tidak seperti biasanya, senyum itu tidak terlihat seperti senyum cerah dan tulus yang biasa gadis itu tunjukkan di sekolah. Kali ini senyum Baekhee terlihat seperti senyum yang dipaksakan. Bahkan terkesan bahwa gadis itu sebenarnya tidak ingin tersenyum.

Jane menangkap ekspresi murung dari wajah sahabatnya itu. “Ada apa? Mengapa kau terlihat sedih?”

Baekhee tidak menjawab apa-apa. Dengan perlahan ia masuk ke apartment Jane dan duduk di salah satu sofa berwarna merah hati yang ada di ruang tamu.

“Mau kubuatkan minuman? Cokelat panas? Jus jeruk?” tanya Jane.

Kali ini barulah Baekhee menoleh ke arahnya. “Jus jeruk saja.”

Di dapur Jane menghabiskan kira-kira lima menit untuk membuat dua gelas jus jeruk dingin, sekaligus memikirkan ada apa gerangan tiba-tiba sahabatnya itu datang kemari tanpa pemberitahuan sebelumnya, mengapa raut wajahnya terlihat murung seperti orang yang datang dengan masalah. Apakah Baekhee memang benar dalam masalah? Atau… apakah ia bertengkar dengan Baekhyun?

Jane kembali lagi ke ruang tamu dengan dua gelas jus jeruk dingin. Ia juga tidak lupa menghidangkan satu stoples kukis cokelat pemberian tantenya. Dua hari yang lalu tantenya berkunjung kemari untuk memastikan keadaan Jane serta membelikannya beberapa kebutuhan pokok, seperti bahan makanan dan peralatan mandi. Juga kukis cokelat ini.

Jane menatap Baekhee lekat-lekat. Sahabatnya itu terlihat berbeda dari biasanya. Terlihat sedih dan murung. Matanya terlihat bengkak seperti habis menangis. Dan gadis itu sepertinya tidak sadar atau tidak tertarik dengan jamuan yang sudah disajikan di hadapannya. Pandangan mata Baekhee terlihat kosong.

“Baekhee-ya,” panggil Jane. “Kau mau minum dulu mungkin?”

Suara Jane berhasil menyadarkan Baekhee. Gadis itu mengerjap beberapa saat kemudian menoleh ke arah Jane dan tersenyum meminta maaf. Baekhee mengambil gelas jus jeruk di hadapannya dan menyesapnya perlahan.

Jane kembali menatap Baekhee. Hatinya terasa sesak melihat sahabatnya ini hanya duduk diam dengan pandangan kosong. “Baekhee-ya… Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kau sedang dalam masalah? Apa kau bertengkar dengan Baekhyun?”

Sahabatnya itu meletakkan gelas jus jeruk yang ia pegang di meja kemudian balas menatap Jane. “Han Jaein, actually I came here because I had something to ask you. Hal ini berkaitan dengan Baekhyun oppa.”

Jane mengangguk. “Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan?”

Baekhee tidak langsung menjawab. Gadis itu menggigit-gigit bibirnya. Sebagai sahabat yang sudah mengenal gadis itu cukup lama, Jane tahu bahwa itu adalah kebiasaan Baekhee jika sedang berpikir.

“Jaein-ah..” Kata-kata Baekhee terpotong sejenak. Gadis itu kembali menggigit bibirnya lagi.

“Hmm?”

“Kau…” Baekhee terlihat sedang memejamkan matanya. Jane menunggu kelanjutan kata-kata gadis itu. Sepertinya apa yang ingin diucapkan sahabatnya itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diucapkan. Itulah sebabnya dari tadi Baekhee terlihat berpikir dan berpikir.

Baekhee kembali berbicara. “Apakah kau sedang mencintai orang lain…. selain Baekhyun oppa?”

Jane terlonjak mendengar pertanyaan Baekhee barusan. Apa maksudnya ini?

Di luar dugaannya, Baekhee malah tersenyum kepadanya. Senyum itu menunjukkan senyum pengertian, senyum maklum, senyum yang sepertinya memahami isi hati Jane. Jantung Jane berdegup kencang. Sepertinya sahabatnya ini bisa membaca pikirannya hanya dengan menatapnya, dan itu berbahaya.

“Aku tahu, Jane,” ujar Baekhee. Kali ini kata-katanya terdengar tulus penuh pengertian. “Kau jatuh cinta pada lelaki lain, bukan?”

Untuk sejenak, Jane tidak mampu berkata-kata. Ia hanya membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Mulutnya menolak untuk digerakkan.

Baekhee kembali tersenyum. “Tenang saja. Aku datang ke sini karena inisiatifku sendiri, bukan mewakili Baekhyun oppa untuk menanyakan perasaanmu terhadapnya.”

Jane masih belum bisa berkata-kata.

Baekhee melanjutkan, “Aku sudah mengamatinya selama beberapa hari ini. Akhir-akhir ini kau terlihat murung dan seperti orang yang sedang banyak pikiran. Baekhyun oppa juga sering bercerita kepadaku bahwa akhir-akhir ini kau terlihat lain. Kau seperti tidak senang berada bersamanya. Kau terkesan tidak nyaman berada bersamanya. Terkadang kalau Baekhyun sedang berbicara denganmu, kau seperti tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan sibuk dengan pikiranmu sendiri.” Baekhee berhenti sejenak untuk kembali menyesap jus jeruknya. “Akhirnya aku berkesimpulan bahwa kau sedang jatuh cinta dengan lelaki lain. Namun aku bukanlah orang yang puas dengan kesimpulanku sendiri. Itulah sebabnya aku datang untuk mengkonfirmasi kesimpulanku tersebut. Apa aku benar?”

Jane memalingkan wajahnya dari Baekhe dan tertunduk. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa Baekhee berhasil menebak isi hatinya seperti ini. Dan sekarang Jane berada dalam dilema. Apakah ia harus memberitahukan sahabatnya itu hal yang sejujurnya atau tidak? Apakah ia harus mengakui perasaannya sendiri walaupun itu mungkin terdengar menyakitkan?

“Apa benar, Jane?” tanya Baekhee kembali. Suaranya terdengar begitu lembut.

Akhirnya, setelah terdiam cukup lama, Jane mengangguk perlahan, diikuti dengan setetes air mata yang meluncur dari matanya. Mungkin kenyataan ini terdengar menyakitkan, tetapi ia tidak tega bila ia juga harus membohongi sahabatnya sendiri.

Baekhee mengulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk punggung Jane. Jane mengangkat kepalanya, berusaha menatap sahabatnya itu. Di balik penglihatannya yang sedikit buram akibat air mata, Jane juga bisa melihat bahwa mata Baekhee juga berkaca-kaca.

“Aku benar kan?” tanya Baekhee dengan suara bergetar. “Kesimpulanku benar, bukan?”

Jane menghambur ke pelukan Baekhee, dan sahabatnya itu melingkarkan lengannya di punggung Jane erat-erat. Untuk beberapa menit berikutnya, Jane hanya menangis di pelukan sahabatnya itu. Menumpahkan semua perasaan sesak yang selama ini menghimpit dadanya.

“Aku tahu aku salah, Baekhee-ya…” ujar Jane di sela-sela isak tangisnya. “Aku tahu tidak seharusnya aku merasakan perasaan ini. Tidak ditengah aku sendiri masih mempunyai kekasih. Aku juga tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini datang. Aku hanya merasakannya begitu saja.” Jane berhenti sejenak untuk menarik napas. “Awalnya aku berencana untuk memberitahukan ini kepada Baekhyun, mungkin sekaligus memutuskan hubungan kami, agar aku tidak terlalu merasa bersalah dalam merasakan perasaan ini. Tetapi setiap kali aku ingin benar-benar memutuskan hubunganku dengan Baekhyun,” Gadis itu kembali memejamkan matanya seraya air mata kembali mengalir turun ke pipinya, “entah mengapa aku merasa tidak tega, baik pada Baekhyun juga padamu. Aku tahu bahwa Baekhyun mencintaiku sungguh-sungguh, dan seperti yang kau katakan, ia mencintaiku lebih daripada yang aku kira. Akan sangat tidak adil baginya bila aku memutuskan hubungan begitu saja hanya gara-gara sebuah perasaan suka kepada lelaki lain. Dan tentangmu,” Jane mengangkat kepalanya dan menatap Baekhee, “aku tahu peranmu cukup besar dalam hubunganku dan Baekhyun. Kau membantu Baekhyun untuk mendekatiku. Kau menjadi tempat cerita ketika aku punya masalah dengan Baekhyun, begitu pula sebaliknya. Dengan memutuskan hubungan kami berarti membuat usahamu selama ini terkesan sia-sia. Dan kau pasti akan marah padaku, bukan?” Jane mengusap air mata yang mengalir di pipinya. “Jadi aku memutuskan untuk diam saja. Kupikir perasaanku ini hanyalah sebuah perasaan main-main yang akan hilang dengan sendirinya bila kubiarkan. Di luar dugaanku, semuanya bertambah parah, dan tambah menyakitkan. Baik untukku, untuk Baekhyun, dan juga untukmu. Bagaimana dengan perasaan sukaku?” Jane tersenyum pahit untuk beberapa saat, kemudian dengan cepat membenamkan wajah kembali di pelukan Baekhee. Isakannya kembali terdengar.

“Aku masih mencintai Park Chanyeol oppa…” isaknya.

Baekhee menepuk-nepuk punggung Jane dan mengelus-elus lengan gadis itu berusaha untuk menenangkannya. Setelah tangis Jane mereda, Baekhee mengangkat kepala Jane meminta gadis itu untuk menatapnya.

“Jadi selama ini itu yang kau pikirkan? Bahwa aku dan Baekhyun akan marah padamu? Itu sebabnya kau memendam perasaanmu itu sendiri?”

Jane mengangguk.

Baekhee tersenyum. “Seharusnya kau menceritakannya padaku. Mungkin ini memang terdengar menyakitkan bagiku, apalagi untuk Baekhyun oppa. Tetapi memendamnya sendirian tidak membuat semuanya membaik, bukan? Kau malah terjebak dalam perasaanmu sendiri dan segala sesuatunya terasa memburuk. Rasanya pasti tidak menyenangkan telah membohongi Baekhyun oppa, membohongiku, dan terlebih membohongi dirimu sendiri.”

Jane tertunduk. “Maafkan aku,” ujarnya lirih.

“Tidak apa-apa,” ujar Baekhee masih dengan senyum. “Perasaan bukanlah sesuatu yang bisa kau paksakan.”

“Apa yang terjadi pada Baekhyun jika aku mengatakan yang sebenarnya?”

“Tentu saja Baekhyun akan sedih, tetapi kupikir dia cukup bijak untuk melakukan suatu hal yang akhirnya akan menguntungkan kalian berdua. Mungkin hubungan kalian akan berakhir, tetapi percayalah bahwa apa pun yang terjadi, itu adalah hal yang terbaik untuk kalian berdua.” Baekhee kembali tersenyum. “Dan aku, sebagai sahabatmu dan juga adik dari Baekhyun oppa, akan mensyukuri setiap keputusan yang akhirnya kalian buat.”

“Jadi menurutmu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Jane.

Baekhee menunjuk dada Jane. “Apa yang ingin hatimu perbuat, perbuatlah itu.”

***

Kafe kecil yang menjual macam-macam makanan barat itu terlihat sepi. Tidak banyak orang yang datang. Alunan musik bernuansa mellow memenuhi setiap sudut kafe tersebut. Di salah satu sudut, sebuah televisi baru saja menyiarkan acara sekilas beritanya. Sesekali terdengar suara bel pintu yang selalu berdering bila pintu dibuka. Di sudut lain kafe tersebut, dua orang sahabat sedang duduk dalam diam.

Oh Sehun mengamati kentang goreng dan sosis yang dipesan oleh Park Chanyeol. Pesanan telah datang dari sekitar tujuh menit yang lalu dan sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa Chanyeol akan memakannya. Sehun sendiri telah memesan seporsi spaghetti carbonara dan karena lapar ia sudah menghabiskan spaghetti tersebut sampai tandas. Sejujurnya Sehun masih merasa lapar. Melihat Chanyeol yang sepertinya tidak akan menyentuh kentang goreng sosis tersebut, Sehun mengulurkan tangannya mengambil satu potong kentang goreng.

“Ya, hyung! Apa kau benar-benar tidak akan memakannya? Aku minta satu potong ya.”

Chanyeol mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. “Silakan saja. Aku sedang tidak berselera untuk makan sekarang.”

Sehun mengernyitkan dahinya lalu menggelengkan kepala. “Astaga, kalau begitu mengapa kau pesan?” Sehun menarik piring kentang goreng tersebut ke arahnya kemudian mulai memakan satu demi satu potong kentang goreng yang ada dengan lahap. “Yang benar saja, kau tidak ingin memakannya? Astaga… kentang goreng ini benar-benar enak!”

Geureonde hyung…” ujar Sehun dengan mulut yang penuh kentang goreng. “Sebenarnya ada apa kau mengajakku kemari? Kau bilang ada sesuatu yang ingin kau ceritakan.” Sehun menelan kentang goreng di dalam mulutnya. “Apa kau ada masalah?”

“Kau tahu aku menyukai Han Jaein, bukan?”

Sehun menganggukkan kepala.

“Menurutmu…” Chanyeol menerawang sejenak. “Apakah salah jika aku mengharapkan Jaein untuk menjadi kekasihku?”

Sehun tersedak mendengar pertanyaan Chanyeol barusan. Cepat-cepat ia mengambil gelas teh lemon dingin yang ia pesan dan segera meminumnya banyak-banyak. “Ya! Hyung! Bukankah gadis itu sudah mempunyai kekasih? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?”

Chanyeol tersenyum samar. “Itulah sebabnya aku bertanya.”

Sehun menggelengkan kepala. “Kau benar-benar mencintainya rupanya.”

Chanyeol kembali menerawang. “Terkadang sebuah ide gila terlintas di pikiranku. Aku ingin hubungan Jaein dengan kekasihnya berakhir sehingga aku bisa bersama dengan gadis itu. Atau terkadang aku ingin gadis itu bersikap egois dengan memilih berselingkuh denganku. Tetapi setelah kupikir-pikir, itu adalah ide gila terburuk yang pernah kupikirkan, hal paling egois yang pernah kuharapkan. Aku tahu bagaimana rasanya dikhianati, tetapi aku berharap bahwa gadis yang aku cintai mengkhianati orang lain demi mendapatkan apa yang aku harapkan. Aku pasti sudah gila karena tidak memikirkan apa perasaan orang yang dikhianati tersebut.”

Chanyeol menatap Sehun lekat-lekat. “Terkadang ada perasaan di hatiku bahwa aku ingin melupakannya. Kalau boleh, aku ingin kembali memutar kembali waktu dan kembali ke masa-masa dimana aku belum mengenal dia. Kalau boleh memilih, rasanya aku lebih memilih untuk tidak mengenal Han Jaein.” Chanyeol akhirnya mengambil sepotong kentang goreng dan memasukkannya ke dalam mulutnya. “Tetapi ketika kupikir kembali, apakah ketika waktu benar-benar diputar ulang, aku lebih memilih untuk tidak mengenalnya? Kurasa aku tetap lebih memilih untuk mengenalnya. Aku tidak pernah menyesal bisa bertemu dengannya, bertetangga dengannya, bertengkar dengannya, bercanda dengannya. Dan aku juga tidak pernah menyesal bisa mencintainya.”

Sehun mengangguk-angguk mendengar penjelasan Chanyeol. Ia sudah bisa menebak bahwa sahabatnya itu benar-benar mencintai gadis bernama Jane Han itu. Sehun sering memperhatikan bahwa perasaan Chanyeol seperti ditentukan oleh gadis itu. Chanyeol bisa tersenyum ceria karena gadis itu, tetapi Chanyeol juga bisa meneteskan air mata karena gadis itu. Sehun mengerti bahwa bagi Chanyeol, gadis itu adalah segalanya.

“Ngomong-ngomong,” Sehun memasukkan satu potong sosis ke dalam mulutnya. “Bagaimana dengan rencana kuliahmu waktu itu? Benar kau ingin melanjutkan kuliah di Paris?”

Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Hanya iseng. Guru musik Kang menyuruhku mendaftar untuk beasiswa sekolah musik di Paris dan menyertakan satu lagu karyaku. Aku tidak sungguh-sungguh melakukannya, karena memang aku tidak berminat untuk melanjutkan sekolah di sana. Aku lebih suka untuk menetap di Seoul.”

“Bagaimana kalau kau terpilih? Kau akan meninggalkan teman-temanmu di Seoul, bukan? Dan kau pasti juga akan meninggalkan Han Jaein. Apakah itu sebabnya mengapa kau menceritakan semua hal tadi padaku?”

Lagi-lagi Chanyeol menggelengkan kepala. “Tidak mungkin. Kudengar seleksi masuk sekolah musik itu sangat ketat, tidak banyak peserta yang bisa diterima di sana. Dan karyaku yang kubuat dengan tidak sungguh-sungguh itu sudah pasti tidak akan lolos seleksi. Jadi tidak mungkin aku bisa masuk ke sana.” Chanyeol tersenyum. “Tenang saja, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu sendirian di Seoul.”

Sehun menganggukkan kepala tanda mengerti.

“Ngomong-ngomong, apa kau tidak punya cerita tentang dirimu sendiri? Sudah lama aku tidak pernah mendengar kisah cintamu,” celetuk Chanyeol diiringi dengan senyum jahil.

Sehun menatap sahabatnya itu dengan mata yang berbinar. “Kau tidak perlu takut, hyung. Aku memang berencana untuk menceritakannya hari ini padamu. Kau tahu apa?” Sehun menyesap teh lemon dinginnya. “Aku memang sedang jatuh cinta.”

***

Suasana apartment itu terasa dingin dan juga canggung. Dua orang sedang duduk di sofa ruang tamu apartment tersebut dalam diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dua cangkir kopi hangat yang dihidangkan dari tadi sudah mulai mendingin dan belum disentuh. Satu-satunya suara yang terdengar dari ruangan tersebut hanyalah suara jam dinding yang berdetak.

Chanyeol mendengus. Ia mulai menyesali dirinya mengapa ia harus membukakan pintu untuk tamunya kali ini. Entah angin apa yang membawa Choi Minho ke apartment-nya malam ini. Padahal tadinya Chanyeol ingin menikmati malam ini dengan tenang dan sendirian di dalam kamarnya, tetapi kedatangan Minho mengacaukan segalanya.

Dulu mungkin Chanyeol akan selalu menanti kedatangan Minho ke apartment-nya. Mereka bisa melakukan macam-macam bila Minho sedang berkunjung. Mencoba resep kue mangkok yang mereka dapat dari internet, membaca komik, atau mungkin menonton empat sampai lima film berturut-turut. Dulu tidak jarang Minho menginap di apartment-nya. Tetapi semenjak lima bulan yang lalu, semuanya berubah. Choi Minho menjadi orang yang paling Chanyeol benci untuk menginjak apartment-nya.

Chanyeol berdeham. Ia memutuskan untuk menghentikan kecanggungan ini. Bagaimanapun ia harus cepat-cepat mengusir Minho keluar dari apartment-nya. Jika mereka hanya diam-diam saja, Chanyeol pikir Minho akan berada di sini untuk waktu yang cukup lama, dan Chanyeol membenci hal tersebut.

“Jadi, apa yang membawamu kemari?” tanya Chanyeol. Nada suaranya sama sekali tidak terdengar ramah.

Minho mengangkat bahu. “Hanya memastikan keadaanmu, apakah kau masih hidup atau tidak. Lagipula sudah lama kita tidak saling berbicara, lebih tepatnya sudah lama kau mendiamkanmu.”

“Tentu saja aku mendiamkanmu. Kau pikir apakah aku bisa dengan mudah melupakan apa yang sudah kau perbuat terhadapku?”

Minho tetap terlihat tenang, dan itu membuat Chanyeol kesal. “Kau masih belum memaafkanku rupanya,” ujar Minho.

“Memangnya kau pikir memaafkanmu adalah hal yang mudah?” balas Chanyeol sinis.

“Ayolah, aku datang kemari bukan dengan maksud untuk memulai perdebatan denganmu. Aku datang kemari dengan damai. Dan soal itu, hubunganku dengan Seolri sudah berakhir.”

“Aku tahu,” Chanyeol mulai menyesap kopinya yang sudah mulai dingin. “Dan itulah yang membuat aku makin tidak peduli dengan kalian berdua.”

Minho mengamati wajah Chanyeol dan hal itu membuanya risih. Chanyeol segera membuang muka dan menatap jendela.

Minho tersenyum. “Kau masih belum berubah rupanya.”

“Apa?”

“Ekspresi wajahmu.” Minho menyesap kopinya. “Kalau aku tidak salah tebak, kau sekarang sedang menyukai seorang gadis. Tetapi sepertinya lagi-lagi kau tidak mendapat balasan dari rasa cintamu itu. Entah gadis itu tidak menyukaimu atau gadis itu sudah mempunyai kekasih. Apa aku benar?”

Chanyeol terkejut mendengar perkataan Minho barusan. Cepat-cepat ia menatap Minho dengan mata terbelalak. “Bagaimana kau tahu?”

Minho tertawa kecil. “Kau mungkin lupa atau tidak mau mengingatnya kembali. Tetapi bagaimanapun, aku ini pernah menjadi sahabatmu. Dan mungkin aku adalah sahabatmu yang paling lama. Jadi wajar saja kalau aku benar-benar mengenalmu.”

Chanyeol mendengus. Bagaimana pun kata-kata Minho kali ini benar.

“Jadi bagaimana?” Lagi-lagi Minho tersenyum. “Apa kau akan berusaha mengejar gadis itu atau membiarkan gadis itu pergi? Kalau melihat ekspresi wajahmu, sepertinya kau tidak rela untuk membiarkan gadis itu pergi begitu saja.”

Chanyeol mengangkat bahu, berusaha untuk tidak peduli. Ia sama sekali tidak berniat membahas tentang Jane Han kepada Minho. Mereka dulu memang pernah bersahabat dekat, tetapi tidak untuk sekarang. Bagaimana pun Chanyeol telah kehilangan kepercayaan terhadap Minho.

“Baiklah kalau kau tidak ingin menceritakannya kepadaku, aku tidak akan memaksa.” Minho meletakkan cangkir kopinya di meja. “Tetapi izinkan aku memberikan saran untukmu. Menurutku, kau tidak usah melepaskan gadis itu. Pertahankan rasa cintamu padanya. Kalau kau betul-betul mencintainya, buat gadis itu yakin bahwa kau betul-betul mencintainya. Kalau mau jujur, itulah kesalahan yang kau perbuat pada Choi Seolri. Ketika aku merebutnya darimu, kau tidak berusaha untuk merebutnya kembali. Kau hanya membiarkan Seolri pergi begitu saja, lalu kau memendam amarahmu terhadapku dan terhadap gadis itu, sampai sekarang.”

Chanyeol menatap lelaki berambut cokelat itu tajam. “Jadi menurutmu apa yang harus aku lakukan? Dan kalau kupikir lebih lanjut, bukankah tindakan yang kau sarankan itu akan membuat kekasih gadis itu sedih? Bukankah itu artinya aku memaksa gadis untuk meninggalkan kekasihnya?”

“Bukan itu maksudku,” ujar Minho. “Intinya, lakukan saja apa yang harus kau lakukan, apa yang hatimu ingin untuk kau lakukan. Bagaimana kelanjutannya, itu sudah bukan urusanmu lagi.”

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

A/N

YUHU!!! Aku kembali!! Ada yang kangen sama decision kah??? /gaaaa

By the way, ada yang sadar perbedaan chapter ini dengan chapter-chapter sebelumnya??

YAP! Nggak ada preview next episode! 😀
Semacam disengajakan.. hehehee… aku nggak akan buat password untuk chapter ending-endingnya, tapi tetep aku ingin menggelitik(?) rasa penasaran kalian 😀 /geplak author Gecee/

Sampai jumpa di episode berikutnya! Tetap sayang sama Jane, Chanyeol, dan Baekhyun yaaa~

 

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

30 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 8] – by GECEE”

  1. Akhirnya update juga! Aku akuuuuu!! Aku nungguin ff iniihhh ._. Aku rindu author Gece. Eh maksud ku aku rindu jaein, chanyeol dan baekhyun hahah.
    Tapi tapi aku ingun cerita yg lebih panjang ceee hehehe. Tapi kalo takbisa diperpanjang pun tak apa. Aku akan setia menunggumu! /apaini?!/ yasudaah baaayyy gecee-ssi. Semangaaattt!!
    -XOXO-

    1. Ahahahahaa…. Terima kasih kak udh sabar menunggu… 😄😄

      Okay nanti utk chap selanjutnya aku usahakan lbh panjang yaa… Jangan kecewa hihihi.. 😀
      Terima kasih utk apresiasinyaa

  2. disini baekhyunnya ngenes banget, jadi sedih nih, hiks hiks…. jgn khawatir, baek, lakon mah menangnya belakangan kekekeke….. semoga jane nyesel seumur hidupnya setelah mutusin si baek, tapi perasaan mah kagak bisa di paksa sih, aish… terserah authornya aja deh ntar gimana, pinginnya sih jane ntar ama si baek. okay, ditunggu nextnya, kalo bisa ntar kagak pake pw2an, ya gecee. fighting!!!

    1. Aku juga turut berduka cita untuk baek hwhwhwhhw sini baek sama aku aja.. Jane menolak(?) dirimu aku siap nerima kok baek….

      Ahahahhaa ditunggu aja ya kak kelanjutannya… Terimakasih utk apresiasinya 😄

  3. kyaaaaaaaaa^^ aku aku, akuuuuuu 😀
    tambuahh seruuuuuuuuuu, kak
    tetep sayang kok sama mereka, sama yang nulis apa lagi, wkwkwk
    btw, baekhyun bakalan sakit hati tuh sama jane…
    kayaknya nanti giliran yeolli yang tawa tawa kayak orgil, ehh-
    pokoknya buat baekbaek, yeolli, and jane.. fighting yakk^^ kutunggu kau di chap berikutnhyahh/bayy/
    kak author , nexttt yahhh
    fighting!^^

  4. Sehun suka sama Baekhee? Baekhyun sama Jaein mau putus? Chanyeol tetep mempertahankan perasaannya ke Jaein kah?

    Kurasa perbedaan dari chap ini dan chap sebelumnya adalah nggak ada preview nya terus perbedaannya lagi, yang part ini isinya sedih semua jadi bikin aku nangis /apa ini? 😀 😀

  5. Anyyeong Gecee^^
    Abis ngobrak ngabrik efef eh nemu yg menarik hehe, maaf ketinggalan bacanya tp seru bngt ceritanya
    Hitungan jam aja aku baca dr part 1 wqwq~
    Ditunggu Ep selanjutnya yaaaaaa 😘

  6. Akhirnya dinext ><
    Oke, kita lihat kelanjutannya.. Apakah Jane akan memutuskan Baekhyun dan menjalin hubungan dengan Chanyeo? Atau.. Tetap berhubungan dengan Baekhyun? Nantikan saja next chapter di EFI setiap hari /lahngawur 😂😂🔫

    1. Jiaahhh 😄😄😄 terima kasih vilaaeri sudah menjadi penyiar iklan ffku wakakakka XD
      Eh, penyiar iklan apa lbh ke komentator sih? Wkwkwkw

      Terima kasih ya udah baca dan memberi apresiasi 🙂

  7. Aku makin greget nih sama chan sama jane. Udah saling cinta gitu kenapa buat bersama itu susah banget yak? Next la thor. Sia2 kalo aku bilang jangan lama2 cause aku sudah terbiasa untuk menunggu ff ini sampe jamuran *plakk wkwkwk
    Tapi tetel akan kutunggu ❤

    1. Karena cinta itu butuh pengorbanan…. /plaaak

      Sorry for the late update… Next time bakal aku buat lebih cepat kok 🙂 tapi terima kasih loh sudah mau menunggu… Aku terharu :’)

  8. Akhirnya release juga yang kutunggu” sudah lama looo :3 kepo banget sama chapter selanjutnya, kangen channyeol-jaein scene dstu gk adaa , chapter depan adain yaaa wkwkwk /? maksa :’v kutunggu selanjutnya yaaa Semangat !!!

    1. Iyaaa…. Jd selama ini tuh jaein hatinya bukan buat baek.. Kasian ya si baek…
      Ya sudah kalo belum menemukan dek heheheh
      Terima kasih sudah baca dan memberi apresiasi yaaa

    1. Hibur gih chanyeol nya kasian dia galau… /gaaa
      Hehehehe.. Terima kasih utk semangatnyaaa 😄
      Terima kasih juga sudah memberi apresiasi

  9. akhirnya .. Keluar juga nih lanjutanya, huhuhu kasian baekhyun, kakak jngan buat baekhyun sedih ya. Kalo emang jane gak suka lagi, suruh dia mengakhiri dengan baik2 tanpa menyakiti baekhyun *plak apaan nih aku kok jadi ngatur2 kakak sig.. Hehe mianheo, i alwayas waiting for your story.. Nice poster kak aku suka..

    1. Yang pasti kalau baekhyun sedih aku siap menghibur dia kok.. (Apa ini?)
      Wakakakak.. Tenang jaein mah baik… Dia ga akan bikin baek tambah nangis…

      Hihihi… Terima kasih ya sudah baca dan memberi apresiasi…. Wah.. Ditungguin? Aku terharu :’)

      Posternya bukan bikinanku dek btw hehehehe 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s