ENSURED [2] Encouragement – JSHA™

 

ensured

Red Thread Spread Between Them

JSHA™ Storyline & Art

Starring:

Sehun Landsteiner ♣ Janice Wiener ♣ Albert J Kai

Chanyeol Janskydi Kara Lister

15+ [for Harsh words and Hard scene]

Multi-Chapter

Romance ● Friendship ● Crime ● Dark ● Alternate Universe

‘This story, plot, and original character is mine, so please don’t plagiarist.’

Previous► [0] Teaser [1] Identify

Now in Chapter 2 – Encouragement

PERHATIAN!

Cerita hanyalah fiksi, terdapat beberapa fakta yang dirubah mengikuti alur cerita penulis. FanFiction ini mengandung tema dan muatan dewasa, bagi pembaca yang belum cukup umur atau tidak nyaman dengan konten tersebut, dianjurkan untuk tidak membacanya.

∙∙∙

Sehun Landsteiner

tumblr_nyunjhust91riav2to1_500

Chanyeol Janskydi

2d911f631059db905c6463cd8666ff22

Albert J Kai

tumblr_inline_o14kg3hlzq1saipdg_540

Janice Wiener

d10365e87c804d57a254004ca276aaa9_th

Kara Lister

dakota_fanning

∙∙∙

Washington DC, USA

“Jadi kesimpulannya para pemilik senjata itu sudah meninggal dan dimuseumkan? Apa kau bercanda? Mana mungkin pelaku mencuri salah satunya dari museum dengan tingkat penjagaan yang seketat itu? Mustahil!” Hardik Chanyeol di tengah rapat crusial bersama Sehun dan Kris.

Kris menghela napas. “Kenapa mustahil? Bagaimana jika ia memiliki relasi di dalamnya? Dengan mengorbankan sedikit uang di kantong dan selanjutnya … DOR! Misi selesai.” Tukasnya. Tidak ada yang berbicara setelahnya, seakan mengerti jika Kris belum menyelesaikan kalimatnya. “Aku mendengar kabar, salah satu penjaga museum mengundurkan diri tepat seminggu sebelum peristiwa penembakan terjadi, sekarang dia bekerja di Walmart. Aku harus me-ah tidak, kita harus menemuinya. Kita bertiga.”

“Ya, tetapi aku harus menyelesaikan bagianku terlebih dahulu, sial gadis itu membuang waktu!” Sambung Sehun geram.

Kris memandang Sehun dengan alis berkerut-penuh selidik. “Kau belum berhasil membujuknya? Dan ada apa dengan suaramu? Sedikit berbeda.”

Chanyeol menepuk punggung Kris, sedikit berbisik. “Ku beritahu padamu, dia seharian berdiri di depan pintu dengan berteriak – teriak seolah pria putus cinta. Memohon untuk bertemu seorang gadis bahkan ia menyelipkan nomor teleponnya.”

Sayang, bisikan itu terlalu memekakkan bagi sosok yang menjadi bahan pembicaraan. Gurat kesal pada wajahnya pun terlihat meski dalam jarak pandang terjauh, barangkali. “Hei, aku dapat mendengarmu, Bodoh!” cibir Sehun dengan melempar bolpoint dan tepat mengenai sasaran.

Chanyeol tak gentar meski merasakan sedikit nyeri dibagian pipi. Ia mengusap sebentar yang setelahnya melanjutkan, menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Oh, ini menyenangkan!, batinnya berbinar. “Dia juga membeli sebuah cincin tadi-”

“Rapat selesai! Aku pergi!” Sehun beranjak dari tepatnya dan menuju pintu. Dua tangannya ia masukkan ke dalam saku, salah satu merasakan benda kecil seperti batu. Sial, itulah benda yang Chanyeol baru bicarakan. Membuatnya harus menahan malu dengan pergi dari ruangan itu.

Kris terlonjak. “Hei, Hun! Aku belum menjelaskan semuanya!” Percuma, Sehun sudah muak, ia menutup telinga dan hilang dibalik pintu yang tadinya terbuka. Kini Kris melempar pandang pada Chanyeol. “Lihatlah, dia marah karena ulahmu! Ah! Benarkah dia membeli cincin? Menurutmu untuk siapa?”

“Sehun tidak marah mungkin sedikit malu, cih! Aku bahkan bisa melihat gelagatnya secara gamblang. Dia itu jenis orang tak pandai menyembunyikan apapun.”

“Yah, kau benar aku juga merasakannya. Sudahlah ayo kejar dia!”

grading-papers-table

Sehun tampak berfokus pada meja kerjanya yang dipenuhi laporan kasus penyelidikan. Namun bukanlah itu sekarang yang memenuhi otaknya. Ia tampak memangku dagu dan jemarinya mengetuk meja ragu. Kara Lister. Lagi – lagi gadis itu mengacaukan pikirannya. Membuat Sehun harus mengabaikan tumpukan laporan yang seharusnya diperiksa.

“Hei! Apa yang kau pikirkan?”

Oh ya, dia sudah melupakan pria itu-Kris. Mereka memutuskan untuk mencari makan dan menuju sebuah restoran. Namun Sehun tak terlihat berminat sehingga Kris dan Chanyeol memilih pergi ke apartemen Sehun dan memakai jasa layanan pesan-antar, sayang detik itu juga Chanyeol mendapatkan telepon hingga pria itu tidak dapat ikut membaur.

“Tidak ada.”

“Cih! Pembohong.” Cibirnya menyindir. “Kau pikir aku bodoh? Kau berkali – kali menghembuskan nafas-”

“Bukankah itu normal? Kau juga menghembuskan nafas.” Potong Sehun

“Hei! Jangan memotong! Aku belum selesai! Kau menghembuskan nafas gusar, seperti ini-” Kris memperagakan dengan berlebihan. “-seperti ada yang hendak mencabut nyawamu, ayolah! Ceritakan padaku, sekiranya ada yang bisa kubantu? Mungkin tentang wanita?” Kris yang sedikit memancing Sehun.

Sehun tampak berfikir. Ia mendekat dan duduk di samping Kris. Sedikit ragu tapi… “Bagaimana kau mengambil hati seorang wanita?”

Mata Kris melebar mengabaikan pizza yang ia pesan lima belas menit lalu, terkejut? Sudah dua tahun Sehun tak ingin berbicara wanita terlebih cinta. Kris menyambar kedua bahu Sehun. “Oi! Oi! Oi! Siapa dia? Kenapa kau tidak mengenalkannya pada kami? Kau anggap apa aku dan Chanyeol? Pertemanan lima tahun kita apa kabar? Hah! Jawab aku! Kenapa kau diam saja?”

“Bagaimana aku bisa menjawab, kau terus berbicara.” Seloroh Sehun kemudian.

Kris mengangguk lalu melepaskan tangannya dari bahu Sehun. “Oh, ya, kau benar.”

“Bukan seperti apa yang ada di otakmu, ini berbeda konteks.”

“Jadi?”

Sehun menyerahkan kartu nama Kara di hadapan Kris, pria itu tampak berkerut bingung namun tak melontarkan kalimat tanya. Hanya menuntut penjelasan dari arti tatapan yang ia berikan. “Suho sudah menjelaskannya kan? Dia itu gadis keras kepala! Lihatlah suaraku sekarang seperti kodok dari sungai Amazon.”

“Oh, jadi kau tinggal meminta dia menciummu lalu kau berubah menjadi pangeran kembali dan menikah, selesai. Apa yang perlu dipusingkan?”

Sehun terkesiap. “Bodoh! Apa – apaan itu? Kau pikir ini cerita negeri dongeng? Sudahlah memang aku seharusnya diam saja.”

Kris terbahak. “Hei bercanda! Kau hanya perlu bersikap sedikit tak peduli-meski kau sudah tipikal seperti itu, seorang gadis biasanya jatuh hati pada pria seperti itu, jangan terlalu mengejar dan mengabaikan.”

“Bagaimana mungkin? Tidak peduli? Bahkan kita membutuhkannya untuk sebuah informasi.” Sehun berkata penuh nada frustasi.

Kris melanjutkan menyantap pizza, jeda sejenak. “Yahh itu gambaran secara umum. Aku ingin melihat gadis itu, mungkin sedikit membantu. Kau tahu kan wanita itu sulit ditebak, detik ini mereka tertawa detik berikutnya menangis tersedak. Tapi tetap saja, kupu – kupu membutuhkan bunga, seorang pria membutuhkan wanita di sisinya. Kau harus mencatat baik – baik soal itu, kita tak bisa menghindari takdir. Oh! Kata – kataku barusan keren sekali, kan?”

Sehun memutar mata jengah, hendak menjawab ketika benda tipis di meja malah mengalihkan fokusnya. Bergetar sesekali dengan suara nyaring memenuhi ruang kerjanya. Segera tangan Sehun menyambut. Sebuah panggilan masuk dari Chanyeol. Tak butuh pikir panjang untuk ia menekan tombol hijau di layar yang kemudian didekatkannya pada sang indra.

“Kalian! Temui aku esok pagi!” Selesai mengatakan itu sambungan telepon terputus secara sepihak. Meninggalkan kebingungan dan rasa penasaran kedua pria tampan tersebut.

Paris, France

Di awal minggu, toko roti Madame Morrin tampak lenggang terkecuali pada jam makan siang. Janice melayani beberapa pelanggan yang antre dihadapannya, menggantikan Madame Morrin sejenak karena wanita paruh baya itu tengah mengaduk adonan di dapur. Membuat pesanan ratusan potong roti yang diterimanya pagi tadi.

Janice tidak merasa canggung saat menyapa para pengunjung dan menyebutkan menu favorit hari ini. Meskipun dirinya bukanlah seseorang yang gemar memasang wajah ceria namun senyum simpul di bibir rasanya sudah cukup untuk membuat mereka puas dengan layanan toko. Nada sopan juga gadis itu tunjukkan membuatnya tak jarang menerima beberapa kalimat pujian maupun serangkai kata rayuan.

Perlahan antrean mulai berkurang, sekarang hanya tersisa satu pelanggan.

“Totalnya dua puluh lima euro, dengan nama siapa?” tanya Janice, yang berfokus mengetik sejumlah menu pelanggan. Tak kunjung mendapat jawaban, gadis itu mendongakkan kepala. “Dengan nama-eh, kau? Bukankah kau yang menolongku waktu itu?”

Pria itu tersenyum, dia masih ingat rupanya. Lalu mengangguk membenarkan. “Kai, Albert J Kai.”

Tak salah lagi. Lelaki dengan kaus ‘I Will Tell Good Everything’ itu dia. Si Jantan yang menolongnya, membabat habis dua pria brengsek hingga lari terbirit. “Eh, maaf?” Ucap Janice setelah sadar dari lamunan singkat. Terkejut, sedikit tidak menyangka mereka akan bertemu dua kali di sini dari luasnya kota mode dunia.

“Dengan nama Albert J Kai.” Ulangnya dengan senyum.

“Termakasih sekali lagi untuk waktu itu. um…aku tidak tahu jika kita akan bertemu dan syalmu masih di rumahku.” Janice berani membuka pembicaraan.

“Tidak masalah, kau bisa mengembalikannya kapan saja, Janice. Tidak perlu terlalu dipikirkan.” Jawab Kai santai masih dengan senyumnya. Oh, pria yang hangat.

Janice ikut tersenyum. “Baiklah. Apa kau tinggal di daerah ini?”

Beberapa menit yang lalu Kai meminta Janice untuk menjadi teman bicara. Merasa tak keberatan dan memiliki waktu luang, Janice mengangguk setuju. Tidak nyaman ketika makan sendirian, pria itu beralasan. Keduanya sepakat memilih meja dekat counter, memudah gadis itu ketika pelanggan datang. Mereka duduk berhadapan, saling bertatapan. Mereka diam sibuk dengan kegiatan kecil seperti mengetuk pelan meja dan menggoyangkan kaki. Hingga pada akhirnya Janice memilih bersuara.

“Tidak, aku tinggal cukup jauh dari sini, lima blok kurasa. Kenapa? Ingin berkunjung?” canda Kai dengan tawa kecil disana.

Janice sedikit terperangah. “Oh.. tidak begitu maksudku, kita bertemu di daerah ini dua kali, jadi kupikir kau tinggal di sini. Pantas saja jika aku tidak pernah melihatmu.”

Pernyataan Janice ditanggapi dengan senyum yang melintas di bibir Kai. “Benarkah? Apa kau menghafal semua orang di sini? Aku kemari hanya jika ada perlu, itu saja.”

Bibirnya mengerut, Janice tak langsung menjawab. “Yah, aku tidak bisa menyebutnya hafal, hanya sekadar ‘wajah asing’ dan ‘wajah familiar’. Aku sudah cukup lama mengenal daerah ini begitu juga dengan masyarakatnya.”

“Menarik, sejak kapan bekerja di toko roti?”

Perbincangan berlanjut, mereka berbagi banyak hal. Semakin dekat, semakin hangat. Rasa bosan enggan menjadi sekat diantara keduanya. Detik jam yang menempel pada dinding toko pun seakan sengaja memperlambat waktu. Red velvet dan soda yang dipesan Kai juga harus bersabar lantaran hanya menjadi hiasan. “–oh! Ada pelanggan!” Pekik Janice yang langsung meluncur meninggalkan Kai saat melihat pintu terbuka. Meski sempat terbesit rasa tak rela. Ugh, fokus kerja! Racaunya dalam hati.

enhanced-buzz-10625-1361555201-8

Pria itu? Tentu menunggu Janice dengan menyeruput es soda maupun mengunyah red velvet yang sempat ia abaikan terbaring di atas meja. Sesekali mencuri pandang ke arah Janice yang tampak serius mengulang pesanan si pelanggan. Perlahan ia merasakan kehangatan berbeda mengetuk hatinya. Bahagia?

Washington DC, USA

excellnet-masculine-bedroom-design-with-low-profile-platform-bed-and-grey-window-curtain-also-corner-brown-sofa-bed-plus-drum-shape-standing-lamp

Cahaya matahari yang menembus gorden terasa hangat dan tidak terlalu menyengat. Desau air conditioner terdengar halus. Sehun membenarkan posisi bantalan kepalanya. Menarik selimut hingga menutupi dada. Tubuhnya bergerak malas, menyamping ke kiri dan kanan. Berganti posisi. Tidurnya terusik oleh dering ponsel di meja kecil samping tempat tidur. Cukup lama ia mengumpulkan tenaga untuk sekadar merenguh ponselnya. Tampaknya sebuah panggilan telepon, tanpa melihat siapa, Sehun menerima panggilan tersebut. Alangkah terkejutnya ketika suara raungan singa terlepas dari kandang menyapa indra. Oh! Tentu saja bukan, itu sahabatnya. Chanyeol Janskydi.

“Hei, TUAN MUDA! Kenapa lama sekali menjawabnya! Aku menyuruhmu menemuiku pagi pagi! Kau dimana, HAH?”

Sehun menjauhkan ponselnya dari telinga, demi menyelamatkan diri dari cengkraman buas seekor singa. “Iya, aku tidak lupa Yeol, ini masih pagi dan kau seenaknya mengganggu tidurku.”

Chanyeol terlihat membuang nafas kasar disana, menahan sabar. “Kau bilang apa? Pagi? Ini jam sebelas, Bodoh! Aku tahu kau selalu di-didik sebagai seorang tuan muda tapi ingat kita setara dalam tugas ini!”

Sehun menguap, “Ah, kau meracau tidak jelas, aku akan kesana dalam lima menit!”

“Ya, ya, cepatlah! ajak Kris juga.”

Dan sambungan tertutup setelahnya. Sehun beranjak dari tempat tidur. Sedikit melakukan peregangan pada ototnya sebelum melangkah untuk bebenah diri. Hari yang panjang telah menunggu.

Sehun dan Kris membuka pintu ruang otopsi. Bau – bauan formaldehida langsung menyergap hidungnya tanpa memberi cela. Seseorang dengan masker dan sarung tangan elastis berjalan mendekat, itu Chanyeol yang baru saja mengamati mayat perdana menteri mereka-Danniel Dyo.

“Pakai ini, dan ikuti aku.” Titahnya sembari memberi dua pasang sarung tangan dan masker seperti yang ia kenakan.

Seperti yang Chanyeol perintahkan, Sehun dan Kris memakai perlengkapan mereka lalu mengikuti Chanyeol dari belakang. Ketiganya berjalan mendekati seseorang yang tergeletak dalam meja otopsi. Beberapa orang juga tampak menngelilinginya.

Sehun mengamati sosok itu, beberapa bagian kepalanya sudah tak terbentuk, tak jauh berbeda dengan leher sang mayat yang hancur. Kulit pucat sebagai tanda tak ada lagi jiwa disana, membuat Sehun enggan untuk menyentuhnya jika bukan tuntutan kerja. Sama halnya dengan Kris yang tak akrab dengan tempat seperti ini, lebih memilih tub dengan puluhan wanita penghibur. Sial, bahkan dalam keadaan seperti ini tetap saja wanita nomor satu dalam pikirannya.

“Bisakah kau cepat menjelaskannya? Aku mual melihat yang sejenis ini, kau tahu, kan?” protes Kris yang langsung menutupi hidungnya. Meski sudah terhalang masker, namun tak cukup membuat bau menyegat cairan pengawet ini menyerah untuk melancarkan aksinya meracuni indra pencium.

“Ya baiklah, lihatlah ini!” Chanyeol mengambil darah dari mayat tersebut dan meletakkanya di sebuah plat kecil. “Sekarang, apa yang kalian pikirkan?”

Sehun dan Kris mendekatkan diri pada plat tersebut. Memerhatikan seksama sebelum memberi pendapat.

obat-gumpalan-darah-di-otak

“Pengumpalan darah? Aglutinasi? Bagaimana bisa?” Sehun terperanjat.

Chanyeol menunjuk sebuah luka suntik di sekitar siku. “Orang ini salah satu pasien hemodialisis di rumah sakit George Washington. Menurut arsip rumah sakit tersebut, beliau mengidapnya selama enam bulan terakhir dan baru melakukan cuci darah sebanyak dua kali. Pertama kali, 3 bulan lalu dan terakhir kali seminggu lalu. Pada jam 5 pagi, sebelum dia berangkat ke Paris untuk penyambutan. Ada yang ganjal dengan proses dialisis kedua, aku menemukan zat yang berfungsi menggumpalkan darah dalam hasil laboratorium hari ini. Zat ini bekerja cepat, hanya butuh waktu beberapa jam saja untuk menggumpalkan darah dan korban akan meninggal saat itu juga.”

Kris tertegun, “Apa mungkin peristiwa penembakan itu hanya kamuflase masyarakat? Bukankah kasus ini seharusnya terbalik? Pelaku biasanya tidak melakukan penembakan secara publikasi, memilih menggunakan dengan penyakit korban sendiri untuk menutupi kejahatannya. Aku sungguh tidak mengerti.”

“Bukan! Bukan Danniel Dyo fokusnya, ada orang lain yang mereka inginkan-shit!” Sehun mengumpat, lantas melepas sarung tangan dan maskernya, membuangnya sembarangan. Ia secepatnya pergi meninggalkan kedua rekannya yang tampak bingung saling berpandangan.

“Hei! Hun! Kau kenapa? Tidak bisakah kau jelaskan pada-”

Teriakan itu tak lagi terdengar ketika ia membating pintu untuk keluar ruangan. Terburu – buru. Sehun melebarkan langkahnya keluar gedung, mencari mobilnya. Menekan pedal gas secara tak berperasaan. Enggan mengamati spidometer yang kini entah menunjukkan angka berapa, dapat dipastikan masuk dalam deret ratusan. Beberapa kali ia harus menerima umpatan para pengguna jalan.

‘Hei! Hati – hati!’

‘Kau mau mati? HAH!’

‘Anak muda, perhatikan jalanmu!’

‘Dasar gila!’

Tapi dia tetaplah seorang Sehun Landsteiner, tak mengindahkan perkataan orang lain untuknya. Fokusnya sekarang hanya pada- Ponselnya berbunyi dalam saku, cukup nyaring membuat Sehun tak lagi dapat berfokus. Sedikit mengurangi kecepatan mobilnya saat ia hendak menerima telepon. Sungguh ia akan memakan seseorang yang mengganggunya saat ini.

“Jangan menggangguku, aku sedang-”

“Ah, apakah aku mengganggu? Maaf, aku akan menutup telponnya sekarang.”

Sehun terkejut. “Tunggu!” Siapa yang menelponnya? Suara wanita yang cukup asing di telinga Sehun. “Siapa kau?”

“Ini aku, Kara Lister.” Jawab seberang. Sehun terdiam, sesaat maniknya terbeliak tak percaya. “Kau sedang sibuk? Aku ingin bertemu denganmu namun mendengar kau sibuk-”

“Tidak! Aku tidak sibuk.” Potong Sehun cepat – cepat.

Gadis itu terdiam. Begitu pula Sehun. Kini lelaki itu dapat mendengar hembusan nafas lawan bicaranya. Entah apa yang mengganggu pikiran Kara. Apa gadis itu berubah pikiran?

“Jadi.. bisakah kita bertemu?” Suara gadis itu terdengar ragu.

Sehun sedikit terkejut namun langsung mengangguk mengiyakan seakan sadar bila Kara tak melihatnya ia pun berucap, “Tentu, kau sekarang dimana?”

Paris, France

Janice menghampiri Kai, pria itu masih menunggunya meski terlihat dilanda rasa bosan. Menyapa Kai yang masih sibuk melihat padatnya lalu lintas jalan. Gadis itu menempati kursi yang ia tinggalkan sebelumnya. “Maaf membuatmu menunggu, Kai.”

Kai menoleh, sedikit terkejut mendapati Janice sudah berada di depannya. “Oh, kau sudah selesai? Tidak perlu meminta maaf, bukankah aku yang seharusnya meminta maaf karena mengganggu waktu kerjamu?”

Janice menggeleng cepat. “Aku tidak merasa terganggu.”

Kai tersenyum mendengarnya.

“Sudah berapa lama kau tinggal di Paris?” Lagi – lagi Janice yang harus melempar kalimat tanya. Entahlah ia sedikit penasaran pada sosok ‘superhero’-nya. Itu saja. Biasanya gadis itu tidak akan banyak berbicara, terlebih dengan pria asing. Bahkan Baekhyun butuh waktu tiga bulan untuk benar – benar merasa akrab dengan dirinya. Bukannya ‘jual mahal’ namun hanya menjaga diri, tak salah bukan?

Kai tercengang, menaikkan alisnya. Memandang gadis di depannya tak percaya. Mudah sekali gadis itu menebaknya. Apakah dia paranormal? Kai membuang pemikiran bodohnya cepat – cepat. Terlalu banyak mengkhayal, mungkin ia harus membuang kumpulan komik fantasinya sampai di rumah. “Bagaimana kau tahu aku pendatang?”

Janice tertawa kecil dan Kai semakin tak mengerti dibuatnya. Mengerti keadaan Janice berhenti tertawa. “Kai, apa kau serius menanyakannya? Itu sangat mudah dilihat. Secara fisik, masyarakat disini berkulit pucat dan kau um.. cukup asiatis dengan kulit coklat eksotis, kurasa-”

“Janice!”

Merasa namanya disebut, Janice mencari sumber suara. Dipandangnya setiap sudut hingga menemukan sosok yang membawa sekantung berisi sayuran. Oh, rupanya suara itu milik Baekhyun saat ini sedang membuka pintu dan berjalan menghampirinya. Apa dia baru saja belanja?

“Hai, Baek! Kau tak mengajar?”

“Tidak, hari ini tak ada kelas. Aku kesini untuk membeli beberapa pesan-“ Baekhyun menatap sosok lelaki yang duduk bersama Janice. Siapa dia? Teman kuliah? Tampak asing, jelas itu bukan salah satu mahasiswa yang Baekhyun ampu, mungkin saja kelas lain. Ah tidak! Wajahnya terlalu ‘baru’ untuk Baekhyun. Kulit tan, badan tegap, bibir penuh, cukup kharismatik dan pastilah menjadi perbincangan panas para gadis di kampusnya.

Janice sadar kemana Baekhyun mengarah, cepat – cepat ia membuka suara untuk memperkenalkan dua pria yang masih saling bertukar pandang. “Oh! Baek ini Kai, pria yang menolongku waktu itu, kau mengingatnya?”

Baekhyun termangu sebentar lantas mengangguk, tentu saja dia ingat. Janice yang disandra atau bahkan hampir diperkosa sepulang dari supermarket dan ditolong pria asing yang kebetulan lewat, bagaimana mungkin ia bisa melupakan kejadian yang menohok jantungnya? Ia bahkan harus berterimakasih pada sosok pria asing itu jika bertemu karena telah menyelamatkan ‘adik perempuan’nya. Dan mungkin sekarang adalah saatnya. “Bekhyun Mechnikov, senang bertemu denganmu dan terimakasih karena telah menolong Janice, aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana jika saat itu kau tak datang.”

“Albert J Kai, tidak masalah waktu itu kebetulan aku melintasi mereka.” Balas Kai sopan.

“Tapi tetap saja, aku merasa harus berterimakasih kau telah menolongnya. Aku lega.”

Kai tidak menjawab hanya menyunggingkan tersenyum. Berbagai pertanyaan pun muncul dalam benaknya. Apa lelaki ini kekasihnya? pikir Kai. Melihat bagaimana perilaku Baekhyun barusan, itu mungkin saja. Dan sekarang ada apa dengan hatinya? Sedikit sesak di dalam sini.

“Oh! aku hampir saja lupa, bisa kau tolong mengambilkan pesanan yang biasanya, Jan?” ujar Baekhyun.

Janice mengangguk dan hendak beranjak. “Ya, kalian dapat mengobrol lebih dahulu disini. Aku akan mengambil pesananmu, Baek.”

Baekhyun memberi tanda OK dari jemarinya, lantas duduk dikursi yang sebelumnya Janice tempati. “Awalnya ku pikir kau salah satu teman kuliah Janice, namun setelah aku pikir ulang sepertinya tidak. Apa kau masih kuliah?”

Kai mengangguk. “Ya, semester akhir. Bagaimana denganmu?”

“Aku dosen di kampus Janice, Ecole Normale Superieure.”

Seperti selayaknya pria pada umumnya, mereka cepat merasa akrab meski umur mereka terpaut cukup jauh. Berbagai topik telah mereka pilih seperti club bola kebanggan mereka atau sekadar hobi masing masing pribadi. Baekhyun yang lebih mendominasi suara dari pada Kai. Cukup lama keduanya berbicara karena Janice masih sibuk memilah roti pesanan Baekhyun di counter. Baekhyun pun dapat memberi kesimpulan bahwa Kai versi laki – laki seorang Janice Wiener. Tidak banyak bicara, tidak pandai berbasa – basi, cukup sekenanya saja, dan itu harus langsung pada titik fokusnya. Mereka mungkin akan menjadi pasangan yang unik. Baekhyun! Apa yang kau pikirkan?!

Washington DC, USA

Kara mengamati balik luar jendela. Ia mencoba meyakinkan diri untuk menghubungi pria bernama Elliot Landsteiner yang mengaku salah seorang polisi. Sempat ia acuh dengan membuang kartu nama lelaki itu namun bayangan kalimat yang pernah dikatakannya terus menghantui, hingga ia rela mengais sampah untuk kembali menemukan nomor teleponnya. Menghubunginya untuk meminta bertemu. Berakhirlah ia disini sekarang, sebuah restoran tengah kota. Beberapa menit lalu seorang waitres menghampirinya namun ia enggan memesan dan mengatakan bila gadis itu akan menunggu temannya terlebih dahulu. Waiters itu pun menggangguk mengerti dan meninggalkan Kara seorang diri.

tumblr_ntyeiaeyxp1rkcbsko1_500

Tak butuh waktu lama, sekarang gadis itu dapat melihat lelaki yang baru saja keluar dari mobil silver salah satu koleksi lamborghini. Kara mengangkat tangannya saat lelaki itu kelimpungan di pintu masuk restoran. Lelaki itupun kini menghampirinya, tampak necis dengan dark jeans, kaus hitam, dan kacamata senada. Jika orang lain, mungkin salah mengira bahwa dia ini bekerja menjadi artis bukan seorang abdi negara.

“Maaf sudah membuat Anda menunggu, Nona Lister.” Ucapnya sopan, jauh berbeda ketika berada ditelepon.

Kara tersenyum ringan. “Tidak masalah Tuan Landsteiner. Silahkan duduk.” Ajaknya.

Sehun mengangkat tangannya ke udara untuk memanggil pelayan, memesan makanan guna mengisi kekosongan meja yang menjadi sekat antara dirinya dengan Kara. Usai pelayan itu mencatat dan pergi, giliran Sehun yang bersua. “Sedikit tak menyangka dan terkejut ketika Anda menghubungi untuk menemui saya.”

Kara menaikkan alisnya. “Yah.. sayangnya begitu, saya selalu mengingat perkataan Anda di depan pintu, bahkan hingga detik ini.”

“Benarkah? Saya tersanjung mendengarnya.” Sahut Sehun menyundang tawa kecil di bibir Kara. Meski aku juga ingin menemuimu tadinya, timpal Sehun dalam hati.

Mereka terdiam. Tak tahu harus memulainya dari mana. Hanya terdengar bincangan pengunjung dan denting pertemuan sendok piring. Mereka sibuk bertemour pada pemikirannya masing – masing. Sehun yang bertanya apa gerangan gadis itu memintanya datang bertemu, dan Kara yang masih meyakinkan diri untuk membuka luka yang baru ditutupnya.

Namun bukanlah seorang Sehun Lansteiner jika ia rela berlama – lama kalut dalam dunianya sedangkan sang waktu terus melangkah maju. “Jadi untuk apa Anda meminta saya datang kemari Nona?” ujar Sehun mendorong Kara untuk bercerita.

Kara sedikit tak yakin dan Sehun dapat melihatnya dengan jelas. “Kau ingin kesaksianku, benar?”

Sehun mengangguk dengan tegas. Cukup untuk sekadar menjawab pertanyaan sederhana itu. Bahkan tak perlu satu detik untuk memikirkannya.

Kara menghela napas. Sepertinya beban yang ada di pundaknya terlampau berat. Mungkin ia harus melepaskannya satu persatu dari sekarang. “Dia ayahku.” Kara memejamkan mata. Sehun menunggu kalimat selanjutnya. “Danniel Dyo, dia ayahku, ayah tiri sebenarnya. Menikah dengan ibuku lima tahun lalu. Asalnya perancis dan dia juga memiliki anak di sana. Istri pertamanya meninggal karena serangan jantung saat melahirkan. Dan … aku tahu dia di bunuh-”

Sehun terbelalak. “Lantas kau diam saja seperti ini? Apa itu yang kau lakukan sebagai anaknya? Ataukah karena dia ayah tirimu jadi kau merasa tak peduli?” Hilang sudah sopan santun lelaki itu.

Kara tersenyum kecut mendengar hinaan Sehun. “Tidak, bukan begitu. Cukup rumit untuk menjelaskannya dan Anda tidak akan mengerti Tuan Elliot.”

“Apanya-” Dering ponsel mengintrupsi Sehun untuk berkata. Cepat – cepat ia merogoh sakunya. Sehun melirik Kara sebelum menjawab panggilan. “Apa? Aku sedang sibuk, bisakah kau tidak menghubungiku dahulu? Ya.. aku akan menjelaskan. Temui aku di apartemen satu jam lagi.” Ucapnya dengan seseorang di seberang.

Kara berkerut. Pria di depannya kini benar – benar seseorang yang sibuk. Bahkan belum genap lima menit duduk dengannya. Gadis itu seharusnya beruntung dapat bertemu dengan lelaki ini. Tanpa sadar Kara kembali menghela nafas. Sedikit menenangkan batinnya yang terjerat siksa.

Sehun meletakkan ponselnya. “Aku tidak mempunyai banyak waktu Nona, jadi aku akan langsung saja. Ayahmu menderita gagal ginjal bukan? Beliau melakukan dialisis kedua beberapa jam sebelum menuju Paris, baru diketahui darahnya menggumpal dan temanku mengatakan ada yang salah dengan proses dialisisnya jadi dapat dikatakan kematian Beliau karena penembakan di Paris adalah kebohongan publik demi seseorang yang menjadi pusat segala akar permasalahan ini dan aku beranggapan bahwa seseorang tersebut bukanlah mengincar ayahmu tetapi mereka sedang menekan orang lain dan orang tersebut adalah..” Sehun menatap Kara lekat – lekat.

“Kau.”

“Anda cukup cerdas, Tuan Elliot Landsteiner. Sayangnya spekulasimu agaknya melenceng.” Sahut Kara.

Sehun menggeleng cepat. “Tidak, aku yakin itu benar.”

Kara berdecak, mengambil sesuatu dari tas yang dibawanya. “Joseph, tidak mengincarku.”

Perancis, France

article-2652684-1e986dcb00000578-596_634x394

Jam kerja Janice sudah berakhir satu jam yang lalu. Ia saat ini tengah berada di sebuah jembatan gebok cinta yang terkenal di kota Paris. Gadis itu dapat menemukan gembok cinta aneka warna di kedua sisi pagar jembatan. Mereka mengaitkan lambang ikatan cinta di jembatan ini, menuliskan nama mereka bersama pasangan di gembok, menguncinya di pagar, lalu membuang kuncinya di sungai. Dengan begitu mereka percaya jika cinta mereka akan abadi. Meskipun jembatan ini juga populer sebagai tempat pameran seni, tempat piknik saat summer, dan studio terbuka bagi seorang pelukis, seniman dan fotografer. Jembatan ini dikenal dengan Pont de Arts. Penghubung Institute de Paris dan Museum Louvre.

Hari ini nampaknya tak banyak gembok cinta yang Janice lihat. Ah, mungkin baru dibersihkan. Dibersihkan? Kenapa? Karena pemerintah dan sebagian warga Paris sendiri tak setuju dengan konsep tersebut. Mereka, khususnya pemerintah menganggap bila gembok cinta dapat merusak pemandangan dan menghilangkan nilai estetika dari salah satu monumen penting di Paris. Terlebih dengan jumlah ribuan gembok, dapat membebani jembatan dan mengurangi kekuatannya, sehingga dianggap mengancam kekokohan jembatan ini kedepan. Dan Janice setuju dengan anggapan itu, cukup logis.

Janice duduk pada salah satu bangku yang masih kosong, menikmati semilir angin yang berhembus menerpa wajahnya, membuat beberapa anakan rambutnya beterbangan kesana kemari mengikuti haluan. Semburat bias jingga tampak melukis langit kala itu, seakan tak ingin kalah pada beberapa pelukis yang tampak di sudut jembatan. Ia tampak memikirkan sesuatu.

Kau mempunyai waktu luang weekend nanti? Bagaimana jika kita menonton bersama?

Ajakan Kai siang tadi sebelum lelaki itu pamit pergi. Entah apa yang membuat Janice mengangguk mengiyakan tanpa pikir panjang. Namun ia merasa nyaman dengan lelaki itu, seperti ada yang melindunginya. Tentu saja Baekhyun juga begitu, namun ini terasa berbeda mungkin dia …. jatuh cinta?

Cepat – cepat Janice menggelengkan kepalanya. Terlalu dini untuk berpikir cinta. Bahkan belum genap satu hari ia mengenal lelaki itu. Janice beranjak dari tempat duduknya. Ia harus cepat cepat ke apartemen dan mengerjakan tugas kuliahnya untuk besok pagi.

Washington DC, USA

Chanyeol sedang bermain game portable saat Sehun memasuki apartemennya. Tak terkejut, baik Chanyeol maupun Kris sudah hafal diluar kepala enam digit angka apartemennya. Sehun menuju dapur yang tak jauh dari ruang tamu tempat Chanyeol duduk. Menegak habis satu gelas air putih disana. Merasakan sejuk dinginnya suhu lemari es di hadapan.

“Dimana, Kris?” Sehun duduk di seberang Chanyeol.

Chanyeol meletakkan game portable yang sebenarnya milik Sehun di sampingnya. “Sedang ada janji dengan Gwen.”

“Siapa? Bukannya Lynne?” Sehun berdecak, dan menimpali. “Ah! Ya, aku tahu seperti apa dia. Bisakah kau beri tahu dia untuk berhenti bermain dengan wanita? Aku jengah!”

Chanyeol mengangkat bahu. “Jadi, kemana kau tadi siang?”

“Bertemu Kara Lister.”

Chanyeol tampak tertarik. “Jadi kau berhasil membujuknya? Dengan cara apa? Cincin itu?”

Sehun mendelik. “Hei! Berhentilah berbicara cincin!”

“Memangnya kenapa-oke oke aku akan berhenti berbicara cincin.” Chanyeol mengalah lantaran mendapat tatapan menusuk dari Sehun. Oh bahkan itu lebih tajam dari pisau di dapur. “Jadi?” imbuhnya.

Sehun lalu bercerita ketika gadis itu-Kara Lister menelpon ingin menemuinya di sebuah restoran tengah kota. Juga saat gadis itu mengakui bila Danniel Dyo adalah ayahnya, gagasan Sehun bahwa Kara yang menjadi incaran pelaku, dan gadis itu menyangkalnya. Semuanya, tanpa terlewat sedikitpun. Begitu pula dengan Chanyeol yang serius menyimak setiap kata yang Sehun ucapkan. Mengangguk, terperanggah, memotong, begitulah kira – kira respon Chanyeol sepanjang Sehun mendongeng. Mereka tampak seperti ayah yang membaca buku cerita sebelum tidur dan sang anak yang mendengarkan penuh rasa penasaran.

Chanyeol mengangguk untuk sekian kalinya. “Bukan Kara yang menjadi titik fokus pelaku? Lalu siapa?”

Sehun menyerahkan sebuah foto kusam, tiba – tiba pertemuan dengan Kara melintas diingatannya.

Kara berdecak, mengambil sesuatu dari tas yang dibawanya. “Joseph, tidak mengincarku.” Gadis itu memberi Sehun selembar foto gambaran remaja dengan seragam sekolah menengah tampak tersenyum lebar.

Sehun mengambilnya. “Siapa Joseph? Dan gadis ini?”

“Joseph mungkin seseorang yang ada di balik ini semua yang kau anggap sebagai akar permasalahan kasus ini, seperti yang kubilang bukan aku yang dia ingin dapatkan, tapi gadis itu, foto ini diambil sekitar tujuh tahun lalu, aku menemukannya di ruang kerja ayahku saat bebenah, aku tak tahu siapa dia dan dimana dia, tapi aku dapat memastikan bahwa seseorang yang pria itu incar tak lain dan tak bukan adalah dia.”

“Bagaimana kau tahu jika itu Joseph, seperti yang kau katakan? Kau mengenalnya? Kurasa kasus ini akan cepat selesai ketika aku tahu siapa rajanya.”

Kara tersenyum remeh. “Apa Anda berpikir dengan mudah menangkapnya? Jika iya, sayangnya Anda harus menelan kekecewaan mentah – mentah.”

“Kenapa begitu?” Sehun berkerut.

“Joseph selalu menjadi bayangan, Tuan Landsteiner. Dia tak pernah menampakkan diri dan bahkan aku hanya dapat mengetahui nama dan suaranya. Dia beberapa kali menelponku dengan nada yang luar biasa mengerikan. Beberapa kali dia mengancamku dan mungkin sekarang aku harus berterimakasih padanya sedikit membuatku terbiasa akan hal – hal bengisnya. Dan mengenai foto yang Anda pegang itu anak kandung ayahku. Jika aku boleh berpendapat, kupikir Joseph sedang mengawasi gadis itu sekarang. Semoga ini membantumu Tuan Landsteiner. Alasan aku menutupi ini karena tak ingin ayahku dibawa – bawa dan membiarkan dia tenang di alam sana, namun mengingat kembali pernyataanmu membuatku sadar, terimakasih.

“Cantik, namun sayang terlalu muda untukku.” Celoteh Chanyeol sembari mengetuk – ngetuk foto.

Sehun melirik Chanyeol. “Jika aku mengatakan foto ini diambil tujuh tahun lalu, bagaimana? Apa kau ingin merubah pikiranmu?”

“Oh? Benarkah? Yah tergantung situasi. Siapa namanya?” Chanyeol penasaran.

Sehun menggeleng lemah. “Kara pun tak tahu siapa dan dimana dia.”

“Lantas bagaimana dia dapat menyimpulkan gadis ini pusat segalanya?”

“Dia menemukan di ruang kerja ayahnya, dan menurutku itu juga benar. Ya… untuk memastikan kita harus menyelidiki seluk beluk masalalu Danniel Dyo, kurasa. Entah pernikahan pertama maupun kedua.” Jelas Sehun.

Chanyeol mengangguk mengerti. Kemudian getar ponsel membuatnya terkejut. ‘power pole’ terpampang dilayar ponselnya. “Ada apa, Kris?” Chanyeol melirik Sehun sebentar. “Ya, aku sedang bersamanya, oke baiklah tunggu disana.

Sehun menaikkan salah satu alisnya. “Ada apa?”

“Dia meminta kita untuk menemui si ‘walmart’, ayo! Aku tak membawa mobil, jadi kau yang menyetir, oke?” Pinta Chanyeol dengan mata berbinar.

Sehun mendengus dan segera beranjak dari duduknya. Tak ingin membuat Kris menunggu. Karena ia pun benci jika harus menunggu dan membuang waktu.

o

Kris berdiam diri dari balik kemudi mobil. Mengamati bangunan yang terlihat ramai dikunjungi puluhan orang. Walmart, perusahaan yang didirikan Walton family di bidang departement store. Perusahaan itu disebut sebagai perusahaan publik terbesar di dunia dalam hal pendapatan, meski sempat menutup cabangnya di beberapa negara karena merugi.

Sudah sepuluh menit berjalan semenjak ia menghubungi Chanyeol dan Sehun untuk menyusul. Namun dua lelaki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Deru kendaraan terdengar mendekat. Oh, itu rupanya mereka. Kaca mobil ia turunkan. Mereka bertika saling bertukar pandang.

“Lima menit lagi, pria itu akan keluar untuk membuang sampah.” Tutur Kris yang mendapat anggukan dari kedua rekan kerjanya.

Chanyeol tersenyum tipis. “Jadi, pria? Oh! Aku sungguh bersemangat, kita tak perlu repot – repot dan tinggal menggunakan cara biasa.”

“Meski begitu, kita harus tetap hati – hati dan tidak memandang sebelah mata.” Sehun memperingati.

Tidak ada yang berkata setelahnya, mereka berfokus pada pintu samping bertuliskan ‘STAFF ONLY’ dan benar saja tepat menit kelima mereka menunggu, seorang pria nampak keluar dengan empat kantung sampah berukuran sedang. Sehun, Chanyeol, dan Kris seakan tak ingin membuang waktu, ketiganya keluar dari mobil melakukan tugas masing – masing. Good luck, bro. batin ketiganya secara bersama. Mereka berjalan mendekati pria itu.

“Permisi, Tuan.” Sapa Kris sopan.

Pria itu sedikit terkejut dengan kedatangan mereka namun mengulas senyum kemudian. “Ya, ada apa?”

Chanyeol membalas senyum. “Dapatkah Anda membantu kami?”

“Ya, tentu. Apa yang bisa aku bantu?” Pria itu sedikit ragu dan meneliti Chanyeol dan Kris dari ujung kepala hingga kaki.

“Tidak sopan mengamati seseorang seperti itu. Namun, aku semakin yakin kau itu pekerja museum yang mengundurkan diri.” Sehun bersuara.

Pia itu terlonjak. “Ap-apa yang kalian mau? Si-siapa yang k-kalian maksud?”

Chanyeol memutar mata pura – pura, sedikit bercanda dan bermain dengan suasana. “Hei, kau membuatnya takut ,Hun, santailah sedikit. Ah kau ini!”

“Yah.. bagaimana ya, aku tak tahan melihat wajahnya.” Sehun menggaruk tengkuk yang tidak gatal, menyeringai. “Maaf kan aku, apa boleh buat kita langsung selesaikan saja.”

“K-kalian mau a-apa , aku si-sibuk. Permisi.”

Kris menahan pria itu dengan mencengkeram lengannya. “Bukankah Anda ingin membantu kami? Ayolah kami membutuhkan bantuan!”

SLAPP! Pria itu mencoba melawan Kris dan tentu saja gagal total. Tangan Kris lebih dahulu menahan tangan pria yang hendak memukulnya. Kris menatapnya tajam. “Oh! itu sebuah kesalahan besar, Tuan.”

BUG! Kris melemparnya pada tembok, membuat pria itu meringis kesakitan. Pria itu meraih salah satu kantung sampah dan melemparnya pada Kris. Kris dengan mudah menangkisnya, hanya sebuah tendangan kaki. Kris berjalan menghampiri pria itu yang terlihat ketakutan, berjongkok menyama ratakan tinggi mereka, hendak memukul namun tertahan oleh tangan Sehun. “Hei! Aku ingin pria ini sadar, Kris. Cukup! Kita harus membawanya sebelum menarik perhatian para pengunjung. Aku yang akan mengurusnya. Kau cukup membawa mobilmu kemari.”

“Huh, baru saja aku bersenang – senang!” Protes Kris sembari beranjak.

Sehun mengganti tempat Kris, berjongkok di depan pria itu. Tangannya terulur meremas bahu lawan. Pria itu terlihat ketakutan, “Le-lepaska-kan a-aku.” Lirihnya meminta pada Sehun. Sayangnya tak mendapatkan balasan apapun, justru Sehun menatapnya seolah ingin memangsa.

“Sepertinya Anda butuh istirahat sejenak, bukan?” ujar Sehun dengan senyum tipis. Pria itu bergidik melihat Sehun. Mereka bertemu tatap. Ia dapat merasakan manik Sehun yang dalam, gelap dan tajam, menusuk hingga ulu hati, barang kali. Detik kemudian, pria ‘walmart’ itu kini sedang berada di bawah sadarnya, atas kuasa Sehun.

BRAK!

“Ada apa ini? Siapa kalian?!” Pintu bertuliskan ‘STAFF ONLY’ itu terbuka, menampakkan sosok pria berotot dengan lengan kekar yang terlihat dari cetakan kaus ketat yang dipakainya. Pria itu terlihat geram ketika melihat temannya tersungkur di dekat tembok. “Apa yang kalian lakukan, Brengsek! Akan kuhajar kalian!” Melancarkan aksinya hendak memukul Sehun yang berada dalam jangkauan terdekatnya.

Namun, sayangnya mungkin ia harus mencoba lagi lain kali lantaran Sehun dengan santai menahan sebuah pukulan dengan satu tangan, itupun tangan kirinya. Sehun mengunci pergerakan pria berotot itu dan langsung menghabisinya dengan pukulan perut, dada, kaki, dan berakhir pada sikuan punggung. Membuat pria penuh otot itu langsung tergeletak tak berdaya di samping kakinya. Seperti biasa, sepuluh detik. Laki – laki itu tak ingin membuang waktu.

“Yeol, urus pria ini. Aku akan mengurus target kita. Kris, bawa mobilmu kemari.” Titahnya.

“Baiklah.” Sahut Kris melepaskan pria itu yang kemudian berlalu.

Chanyeol masih terpaku dengan aksi Sehun. Selama lima tahun bekerja sama, dapat dihitung dengan jari Chanyeol melihat Sehun menghajar habis lawannya karena pria itu pasti akan menyerahkan hal ini pada Kris dan Chanyeol sepenuhnya. Dengan dalih dirinya tak mau repot menghabiskan tenaga. Detik kemudian Chanyeol pun tersadar. “Oh, oke.”

Rembulan bersinar dengan terang malam ini. Bersama taburan bintang di sekelilingnya. Menyisakan mereka yang masih sibuk berpacu waktu dalam pekerjaan. Berbeda cerita pada pria yang tampak berumur lebih dari setengah abad, memandang lautan gemerlap susunan beton pencakar langit dengaan khidmat. Ketukan pintu membuatnya berhenti menyesap teh putih yang baru saja ia terima dari pelayanannya. Meletakkan secangkir kopi yang masih terisi penuh di atas meja sampingnya, sebelum beralih fokus pada pria yang sedang menggenggam benda tipis di tangan.

“Ada telepon untuk Ada, Monsieur.” Ujarnya penuh rasa hormat.

Pria yang dipanggil tuan tampak menatap anak buahnya heran, sebelum mengambil alih kuasa pada benda tipis tanpa kabel. “Kau bisa pergi sekarang.” Perintahnya.

Anah buah itu mengangguk patuh. Meninggalkan tuannya seorang diri.

Suara dari seberang mulai terdengar. “Boss, ada penyerangan terhadap salah satu anak buah kami, dan mereka berhasil menangkapnya.”

Pria itu menegaskan rahang. “Brengsek! Siapa dia? Berani – beraninya dia menyerang anak buahku!” Raut wajahnya terlihat murka, otot – otot pipinya saling menarik tegang, tak jauh berbeda pada kedua alis yang saling mendekat ingin bertemu.

“Kami belum dapat memastikannya Boss, tidak ada CCTV di area penyerangan, kami hanya menemukan Charlos yang tergeletak tanpa kesadaran. Itupun dalam gudang penyimpanan barang baru datang.”

Si Tuan termangu tak percaya, bahkan Charlos dapat dihabisinya dengan mudah? “Cepat selidiki siapa dia! Katakan pada Charlos, aku ingin mendengar laporannya dalam tiga jam dari sekarang!”

Sambungan terputus, ia melempar ponselnya sembarang arah. Ia kebakaran jenggot, emosinya berada dalam skala teratas. Bahkan cangkir yang tadinya berisi teh kesukaannya pun harus rela menghantam secara kasar pada lantai marmer kediamannya, pecah bertumpah ruah sepenuhnya dengan isi. Pria paruh baya itu murka dengan segala hal yang berkecamuk dalam dada. Bersumpah dalam diri bahwa ia akan menghabisi siapa saja yang menghalangi jalannya. Meski hanya sebuah batu kerikil atau kubangan air.

►Chapter 2 – Encouragement: END◄

Kotak Penulis

Diksi disini ku akui kurang banget, entahlah karena ini sistem SKS alias Sistem Kebut Semalam atau moodku sedang tidak baik. Jadi mohon maaf bila mengecewakan. Aku sebagai author merasa bersalah banget huahhhhhh~~~ tapi lega akhirnya bisa nyelesein chapter ini tengah malem eeheheeh~~ Dibagian action kayaknya kurang banget ya? Sadar kok sadar, aku bingung, muter muter nyari film action di leptop yang sebenarnya membeludak tapi ku tak pandai berkata kata dan ini ff action pertamaku jadi begitulah masih pemula huhuhuhu, semoga kalian tetep sukaa~~

►Yang kemarin nebak siapa yang nolong Janice? Apa itu Kai? SELAMAT! Kalian benar! Hadiahnya dapet ketjup tjinta dari aku hohoho~ #ditabok

►Yang komen adegan Sehun yang pertama itu jadi inget romanoff sekali lagi SELAMAT! Inspirasinya dapet dari sana wkwkwkwk tapi gak mirip mirip banget kan? Udah aku ubah sedemikian rupa ehehehe~

►Yang nebak Kai bakal gabung bersama ChanHun tapi ternyata malah Kris, maafkan aku (T,T) sebenernya konsep awal sih mereka bertiga tapi dipikirkan lagi Kai itu pantes dapet peran yang ‘lebih’ jadi yaa~~ aku ubah konsepnya~

►Yang bilang Baekhyun jadi dosen itu pantes banget. Sebenarnya nih ya~~ ini inspirasi datang tak terduga, ingat gak pemberitaan foto yang pernah buat geger EXO L gara – gara ada dosen yang mirip sama si Baek?? Kalau nggak ingat, fotonya di bawah ini. Iya inspirasinya dari sini wakakkaak~

crayr_uuwaev6_0

Dan selama di chapter dua ini apa kalian sedikit menemukan titik cerah dari berbagai pertanyaan yang kalian pikirkan??? hihihi

Oh aku lupa bilang yaa~~ ENSURED bakal diupdate setiap HARI MINGGU. Setiap part sejauh ini udah dijadwal meski baru perjalanan part 4 sih~ jadi ditunggu yaa, santai aja ini bukan nunggu kepekaan gebetan yang nggak pasti kok #digampar

‘cewek kipas’nya Oh Sehun, Shareena LB

Dimohon ketersediaan pembaca untuk meninggalkan kesan di kolom komentar.

85 tanggapan untuk “ENSURED [2] Encouragement – JSHA™”

  1. yaaah ada kris sebenernya aku kurang sreg sama peran kris setiap kris ambil bagian dialog aku agak males baca wkwkwk tapi tetep keren kok 👍entah kenapa yaa pengen bangeet nantinya tuuh chanyeol yang sama kara lister eh tapi disini malah si sehun nya naksir ya /? Ga tau deh… Makin bikin penasaran :v semangat teruss

  2. Joseph itu Kai kan? tapi kenapa joseph ngincer janice? kalo ngincer hartanya kayaknya gak mungkin deh, ato si joseph emang udah cinta mati gitu dari dulu sama janice? Wahh jadi makin penasaran… terus pria paruh baya itu siapa lagi sih? jadi makin penasran aja gue .. hmmm

  3. 👍👍👍👍makin bagus ceritanya sehun dan chanyeol keren banget, aku ketawa terus pas sehun bilang “Lihatlah suaraku sekarang seperti kodok dari sungai Amazon.” terus kris jawab “Oh, jadi kau tinggal meminta dia menciummu lalu kau berubah menjadi pangeran kembali dan menikah, selesai. Apa yang perlu dipusingkan?”.😁😁😁👄:)).semoga kakak semangat buat lanjutin ffnya. ditunggu next chapternya

  4. astaga.. aksinya sehun sebentar tapi sangay berkesan. sepuluh detik?? ckckck.. chanyeol aja masih kagum,
    kapan chan kris sama sehun ketemu janice??

  5. Wduh thor ini gue bca cpt gegara ketinggln bgt n pengen tau lnjutn’x |curcol*abaikn
    Btw itu kenpa ya kok kai ngincer janice??oke deh gue bca chapt brikut’x aj,ijin bca ya thor 🙂

  6. Sehun bisa keren gt sih, makin cintahh ❤
    Kayaknya sih ya si joseph itu si kai deh (mungkin) wkwk. Soalnya yang lagi deket sama janice kan si kai

  7. Kai yang nyelamatin jan, tapi dia ada niat buruk gak ya? Kenapa jan diincer? Joseph siapa pula?
    Mau baca lanjutannya
    Semangat author!!!^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s