[EXOFFI FREELANCE] Our Handsome Cat (Chapter 6)

coverrr

Our Handsome Cat

Tittle            : Our Handsome Cat (Chapter 6)

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • Kim Junmyeon / Suho (EXO)
  • Huang Zi Tao / Tao (EXO)
  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Gong Kyujin (OC)
  • Hyun Ah Jin / Kimberly (OC)
  • Ryu Jung In (OC)

Other Cast        :

  • Lee Taeyong (SM Rookies)
  • Kim Jong Dae / Chen (EXO)
  • Kim Namjoon / Rap Monster (BTS)
  • Xi Luhan (EXO)
  • Jung Eunji (A Pink)
  • Song Naeun (A Pink)
  • Im Yoona (SNSD)
  • Mr. Tuxedo (Secret cast)
  • And other you can find in the story

Genre        : Romance, Fantasy, Friendship, School Life and other

Rating        : T

Length        : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

 

Sunbae.”

 

Baekhyun langsung menghentikan langkah saat mendengar suara Jung In yang memanggilnya.Tepat di samping kiri gerbang sekolah, gadis itu berdiri sambil bersedekap. Matanya yang tajam tak berani menatap langsung pria di hadapannya itu. Baekhyun tak tahu harus bersikap bagaimana, rasa canggung muncul akibat teringat bagaimana dia menampar Jung In waktu itu.

 

“Aku akan ikut perkemahan seperti yang kau inginkan.”

 

Meski lirih, Baekhyun bisa mendengar jelas kalimat yang barusan gadis di depannya bilang. Baekhyun tersenyum lebar, senang karena rencananya akan berhasil. Kemudian dia teringat jam berapa sekarang, tidak banyak waktu yang tersisa. Dia harus segera pergi ke tempat sepi, atau yang paling aman dia harus sampai di rumah dan mengurung diri di kamar terlebih dahulu sebelum berubah.

 

“Terima kasih Jung In. Tapi, kita bicara lagi besok ya. Pai pai!”

 

Tanpa menunggu balasan Jung In, Baekhyun segera berlari menuju rumahnya. Jung In yang masih berdiri di tempat yang sama hanya menatap punggung seniornya yang semakin jauh dan menghilang dengan pandangan tak menyangka. Tapi kemudian dia juga berbalik untuk pulang.

 

“Jung In-ah.”

 

Kini giliran langkah Jung In yang terhenti. Sumpah demi apapun, dia belum siap untuk bertemu secara langsung dengan Kyujin saat ini. Mungkin juga selamanya.

 

“Maafkan aku, a-aku…”

 

“Aku sudah memaafkanmu.”

 

“Bisa kita berteman lagi?”

 

Hening. Kyujin menanti jawaban gadis itu yang tak kunjung keluar dari mulutnya.

 

“Kurasa… tidak.”

 

Kyujin mendongak, matanya memanas dan cairan itu siap keluar kapan saja.

 

“Kau terlalu bodoh, kau terlalu mudah di pengaruhi. Sudah cukup aku berteman dengan gadis sepertimu. Apa kau pikir, setelah kejadian itu, kita masih bisa berteman?” senyuman miring Jung In membuat Kyujin sedikit bergidik, “Dengar Kyujin-ssi, setelah ini anggap kita tak saling mengenal. Kau urusi urusanmu dan jangan pernah ikut campur dalam kehidupanku.”

 

Jung In berjalan mendekati Kyujin yang sudah menangis terisak, begitu jarak mereka tak begitu jauh, Jung In membisikkan kalimat telak untuknya.

 

“Jangan pernah berani muncul di hadapanku.”

 

*Kyujin POV*

 

“Jangan pernah berani muncul di hadapanku.”

 

Kalimat itu, kalimat yang paling menyakitkan untukku. Tidak, ini semua bukan salah Jung In. Aku yang salah!, karena kebodohanku inilah Jung In harus menjadi gadis yang tertindas di sekolah. Kyujin bodoh! Kyujin bodoh! Kyujin bodoh!.

 

Langkah kaki Jung In yang menjauh membuat perasaanku semakin sakit. Dia memang sudah memaafkanku, seperti yang dia bilang tadi.Tapi aku yakin betul kalau dia masih menyimpan perasaan sakit itu. Aku memang tak tahu banyak tentang Jung In, gadis dingin yang tak disukai murid sekolah.Tapi setidaknya aku tahu bagaimana sikap gadis itu. Dia selalu menyimpan dan menekan perasaannya.

 

“Tidak, aku tak bisa membiarkannya begitu saja.” Kataku menguatkan diri. Aku tak bisa membiarkan Jung In melarangku untuk berteman dengannya. Hanya aku, hanya aku orang yang diperbolehkan dekat dengan Jung In. Dan jika dia melarangku mendekat, itu berarti dia akan menutup diri dari orang luar lagi.

 

“Tarik kembali ucapanmu!”

 

Baru saja aku berbalik untuk mengejar Jung In, di hadapanku sudah menampakan sosok Jung In dimana tangannya sedang di cekal oleh seorang pria yang tak aku kenal. Siapa pria tinggi itu?. Aku berjalan mendekat, dan bisa kulihat pria itu tak hanya tinggi. Tapi juga tampan!. Matanya yang tajam dan berkantung hitam, hidung mancungnya, dan bibirnya juga indah. Haduh!, apa yang aku pikirkan sih?!.

 

“A-anda siapa?” tanyaku masih sedikit terpaku akan ketampanannya.

 

Mata elangnya itu menatap tegas kepadaku. Dia tersenyum!, tapi senyuman yang terlihat sangat kejam seperti psikopat!. Aku bersembunyi di balik punggung Jung In yang tangannya masih di pegang oleh pria itu. Kenapa suasana jadi menyeramkan begini sih?. Mana matahari sudah mulai tenggelam lagi!.

 

“Siapa kau?” kini Jung In yang bertanya dengan informal. Pria itu balik menatap tajam Jung In, jelas sekali kalau pria ini benci pada sikap tak sopan Jung In. semoga dia maklum.

 

“Tak perlu kau tahu, yang jelas aku tahu betul siapa kau.” Ujar pria itu.

 

“Lepaskan tanganmu!.” Titah Jung In dingin.

 

“Tidak akan sebelum kau tarik ucapanmu pada gadis ini dulu!.” Pria itu balas memerintah Jung In dengan nada bicara tak kalah dingin.

 

Jung In mendengus kemudian melirikku yang berada di belakangnya. Dengan kasar gadis itu mencoba menepis tangan pria itu tapi gagal!. Bisa kau bayangkan Ryu Jung In yang begitu kuat menurutku tak sanggup melepas genggaman tangan pria ini!. Pria bermata tajam ini balik mendengus dan tersenyum iblis -begitulah aku menyebut senyuman mautnya.

 

“Tarik ucapanmu lagi dan minta maaf pada gadis itu.”

 

*Tao POV*

 

Sinar terang mengelilingi tubuh kucingku. Perlahan aku bisa merasakan perubahan pada tubuhku.Tak sampai satu menit aku sudah berubah menjadi manusia. Syukurlah!, aku sudah muak menjadi kucing hitam yang di benci banyak orang. Padahal jika mereka melihat wujud asliku -terutama para gadis- mereka akan mengagumi betapa tampan dan kerennya seorang Huang Zi Tao!.

 

Aku segera berpakaian, lantas segera pergi mencari tempat penginapan yang sesuai dengan keadaan uangku. Ya, sebelumnya aku dan Baekhyun sepakat untuk saling membantu. Dan bocah itu memberikanku uang juga pakaian untukku. Aku sangat bersyukur, terima kasih sekali untuk bocah Byun itu.

 

Saat berjalan-jalan mataku menangkap sosok gadis yang Baekhyun maksud waktu itu. Baekhyun bilang dia harus ikut kemah dan keadaannya tak memungkinkan, oleh karena itu dia memintaku untuk ikut juga dan menyamar menjadi dirinya meski itu hal yang sulit. Tentu saja!, tinggiku dan secara fisik kami sangat berbeda. Tapi terserah saja, aku hanya mengikuti.

 

Kembali soal gadis itu. Baekhyun bilang dia akan meminta bantuan gadis itu, entah dengan cara bagaimana. Dia juga mengatakan bagaimana ciri-ciri dan sifat gadis tersebut. Bocah itu juga menunjukkan fotonya -entah bagaimana dia dapat, mungkin Baekhyun adalah stalker?- sesuai dengan foto, wajah gadis itu juga sangat dingin dan menyebalkan untuk di lihat.

 

Gadis itu sedang bersama gadis lain yang memakai seragam sama dengannya. Oke, sebut saja gadis itu Jung In seperti yang Baekhyun bilang. Jung In sedang bicara serius pada gadis itu, dari sini aku bisa dengar pembicaraan mereka.Ternyata menyebalkan juga dia.

 

Pembicaraan mereka selesai dan Jung In berjalan kearah dimana aku berdiri. Mungkin ini saat yang tepat untuk memperkenalkan diri padanya.

 

“Stop right there girls.” Kataku seraya mencekal tangannya.

 

Dia menatapku datar dan berusaha melepas genggaman tanganku, tapi jelas saja usahanya gagal. Aku adalah juara pertama turnamen whusu di China dan jangan lupa tentang banyaknya piala dan medali yang disimpan di rumahku.

 

“Tarik kembali ucapanmu!” titahku dingin.

 

Tapi sepertinya gadis ini tak takut sama sekali, ia malah balas menatapku tajam. Ho ho!, hendak menantang kah?. Gadis yang tadi bicara dengan Jung In mendekat kearah kami, dia bertanya siapa diriku dengan formal. Kalau dilihat-lihat, manis juga dia. Tapi sayang bukan tipe ku. Aku lantas memberikan senyum terbaik yang kupunya, namun dia malah bersembunyi di balik punggung Jung In. Sial!, memang aku sebegitu menakutkannya kah?!.

 

“Siapa kau?”

 

APA?!. Kurang ajar betul gadis ini, beraninya bicara padaku dengan bahasa informal!. Yak Ryu Jung In!, walau aku berasal dari China setidaknya aku ini bisa bahasa Korea dengan baik.

 

“Tak perlu kau tahu, yang jelas aku tahu betul siapa kau.” Kataku.

 

“Lepaskan tanganmu!” perintah Jung In dengan dingin. Mau menantang Huang Zi Tao ya?.

 

“Tidak akan sebelum kau tarik ucapanmu pada gadis ini dulu!.” Balasku memerintah Jung In dengan nada bicara tak kalah dingin.

 

Dia mendendengus, “Memang kau siapanya gadis ini?. Dengar ya tuan misterius, kau tidak berhak untuk memerintahku.”

 

Aku melepas tangannya, bukannya menyerah, tapi memberi ruang untuk gadis ini mengekspresikan diri. Aku hanya penasaran, bagaimana bisa seseorang bertahan tanpa ekspresi saat orang lain bebas tertawa, sedih, dan lainnya. Mungkin Ryu Jung In punya tekanan mental atau pernah mengalami masalah berat.

 

Mr. Mysterious mohon menyingkir karena kau menghalangi jalanku.”

 

Dia melenggang pergi, aku biarkan saja.Dia tipikal gadis keras kepala, waktuku yang berharga bisa terkuras hanya untuk menyadarkannya.

 

“C-chogiyo…”

 

Ah iya lupa!, masih ada gadis lainnya. Aku menoleh, gadis ini menunduk dan terus memilin ujung kemejanya. Dia takut padaku atau memang dia tipikal pemalu?.

 

“M-mohon maklumi Jung In, di-dia sebenarnya baik.Hanya saja sikapnya agak sedikit kurang sopan.”

 

AGAK SEDIKIT KURANG SOPAN?!. Apa kepalanya habis terbentur atau bagaimana?, yang seperti tadi dia bilang AGAK SEDIKIT?. Mungkin hanya dia satu-satunya orang yang peduli pada iblis semacam Jung In.

 

“Tak apa.” Kataku, “Oh iya, siapa namamu?” tanyaku, siapa tahu dia juga ikut perkemahan dan aku butuh bantuannya saat menyamar nanti.

 

“Saya Gong Kyujin.”

 

Gadis yang sopan. Ah!, aku harus pergi sebelum waktu bebasku habis.

 

“Kalau begitu, sampai jumpa Kyujin-ssi!”

 

*Author POV*

 

“Kudengar, dua hari lagi kau akan ikut perkemahan sekolah ya?”

 

Baru juga bangun tidur, baru juga tubuhnya kembali menjadi manusia, Baek Beom, kakak Baekhyun sudah berdiri di depan pintu kamarnya sambil bersedekap dan memasang wajah angkuh.

 

“Ya.” Jawab Baekhyun dan secepat mungkin pergi ke kamar mandi, atau kemanapun asal bisa menjauh dari kakaknya.

 

“Kau yakin bisa bertahan selama lima hari?, biasanya juga, ‘eomma! Aku lapar, aku sakit’ bisa-bisa nanti eomma harus datang ke tempat perkemahan karena kau terus merengek minta pulang.”

 

Baekhyun kesal, memang benar apa yang kakaknya katakan tentang dia. Tapi itu dulu, saat dirinya masih kecil dan tak mampu melakukan apapun karena lumpuh. Baekhyun memang pernah lumpuh pada tubuhnya sebab kecelakaan. Beruntung dia bisa sembuh setelah tergolek lemah di kasur selama lima tahun. Sekarang dia sudah belajar untuk mandiri, namun Baek Beom terus-terusan menganggunya dengan ledekan yang sama, membuatnya pusing karena dianggap lemah dan manja. Padahal kecelakaan dan kelumpuhannya itu bukan keinginan Baekhyun tapi sudah dituliskan Tuhan sebagai takdirnya.

 

“Hyung, bisa kau berhenti meledekku seperti itu?.Apa kau tidak lelah terus menggerakan mulutmu setiap bertemu aku?”

 

Baek Beom tertawa karena perkataan Baekhyun barusan.Pria itu melangkah mendekati Baekhyun yang sudah sangat dekat dengan kamar mandi, bahkan tangannya telah memegang gagang pintu.Dengan gerakan cepat Baek Beom menyingkirkan tangan Baekhyun lantas memasuki kamar mandi.Baekhyun menatapnya terkejut sementara Baek Beom memberikan senyuman miring.

 

“Tidak kecuali kau menghilang dari dunia ini.”

 

Kemudian pintu ditutup dengan keras, beruntung tak mengenai wajah Baekhyun. Dengan emosi yang meluap Baekhyun menggedor pintu kamar mandi tanpa peduli akan seruan sang ayah memintanya untuk tenang. Baek Beom sendiri acuh, dia menikmati air pancuran sambil membayangkan bagaimana dia akan merasa tenang jika adiknya menghilang. Suatu hal yang dia inginkan sejak dulu.

 

***

 

Hampir semua kursi di kantin penuh, bahkan Kimberly yang biasanya makan sendiri -atau setidaknya dengan Rapmon- kini ditemani beberapa siswi. Mereka bahkan banyak mengobrolkan apa yang belum pernah Kimberly tahu tentang gossip di sekolah. Entah kenapa sejak kebakaran gudang banyak murid yang bersimpati padanya, mereka lupa dengan setiap gossip panas tentang gadis itu dan sekarang terang-terangan ingin berteman dengan Kim.

 

Semua seolah bertolak belakang dengan apa yang biasanya terjadi. Kimberly yang dulu sangat tidak disukai para siswi, kini menjadi lebih sering bersama murid perempuan lain. Walaupun dia sendiri masih bingung harus bersikap bagaimana.Kimberly sangat risih berkumpul dengan banyak orang kemudian membicarakan hal yang seharusnya menjadi privasi.Tapi dia cukup menikmati karena ada pada akhirnya dia tahu bagaimana orang-orang di sekolah dan dia bisa leluasa mencari partner tari untuk lomba.

 

“Eoh Kim-ah!, coba kau lihat gadis setan itu!”

 

Semua siswi yang duduk di meja Kimberly sontak menatap ke meja yang ada di pojok kantin. Ryu Jung In, dan ‘gadis setan’ adalah nama baru untuknya di sekolah. Orang-orang di sekolah benar-benar percaya kalau Jung In merupakan kaki tangan Gong Sera yang sudah mencelakai Kimberly. Sebab itu mereka menjadi benci dan terus mengganggunya. Kim hendak mengatakan yang sesungguhnya, tapi sikap Jung In yang terlalu peduli pada orang lain membuatnya dongkol sehingga membiarkan berita palsu beredar begitu saja.

 

“Ckckck, masih berani dia pergi ke sekolah setelah apa saja yang sudah kita lakukan padanya. Menyebalkan!” ujar siswi yang duduk tepat di depan Kim.

 

Gadis di sebelahnya menimpali, “Betul itu!.Aku sudah muak melihat wajahnya. Kapan dia akan menyerah?” dengan nada manja.

 

“Kimberly, dari banyaknya murid yang terus mengganggu kau sama sekali tak melakukan apapun terhadap dia. Ternyata kau berhati mulia ya.”

 

Kimberly hanya tersenyum kaku lalu kembali melihat Jung In yang tengah makan sendiri. Setelah mendapat gangguan dari banyak siswa akhirnya gadis itu bisa makan dengan sedikit tenang walau masih ada saja murid pria yang mengganggunya dengan melempari Jung In dengan sayuran atau bahkan kuah sup rumput laut.

 

“Loh!, kenapa Taeyeong sunbae duduk disana?”

 

Kali ini seluruh pandangan orang-orang yang ada di kantin tertuju pada meja Jung In. Pria yang sempat Kimberly lihat di ruang latih tari, yang matanya membuat gadis itu tertarik untuk melihatnya lebih lama, pria itu kini sudah duduk berhadapan dengan Jung In.

 

“Apa Taeyong sunbae sudah berpisah dengan Naeun sunbae?, jadi sekarang dia mendekati gadis setan?”

 

Celetukan gadis yang duduk di depan Kimberly dihadiahi pukulan telak dari sang teman-teman di kepalanya membuat gadis itu mengerang kesakitan. Setelah itu seseorang berdiri di dekat mereka, wajah dinginnya itu tak akan mudah dilupakan setiap orang.

 

“Na-Naeun… sunbae?”

 

Gadis itu menoleh, “Jangan bicara macam-macam. Aku dan Taeyong tidak akan pernah putus. Mengerti?” nada bicaranya terdengar sebagai sebuah ancaman bagi gadis-gadis itu. Mereka mengangguk pelan kemudian bisa bernafas lega saat Naeun sudah menjauh.

 

“Lihat!, sekarang dia menuju meja si gadis setan. Mungkin setelah ini akan ada perang dunia kelima!”

 

“Benar!, salah sendiri mendekati pacar orang lain. Setelah ini Jung In akan dapat masalah, aku harus cepat-cepat merekam mereka!”

 

*Jung In POV*

 

Aku masih belum melanjutkan makan, mataku masih terpaku pada sosok pria di depanku ini. Siapa ya namanya?, aku lupa… tapi aku ingat kalau dia adalah kekasih Naeun sunbae, anggota kedisiplinan sekolah. Mau apa dia kemari?, tidak sedang bersimpati pada Ryu Jung In kan?. Soalnya aku tidak butuh rasa simpati siapapun, hanya akan merepotkan saja.

 

“Kenapa tidak lanjut makan?”

 

Tunggu dulu!, kenapa Naeun sunbae ikut duduk disini?. Ada apa dengan mereka sih?.Tapi tanpa pikir lebih panjang lagi aku lanjut makan, toh tinggal semangkuk sup yang harus ku habiskan. Terang saja, hanya dua macam menu makanan yang bisa kumakan di piringku ini, karena tiga menu lain yaitu bulgogi, kari, juga telur gulung sudah diambil siswa-siswa brengsek itu. Sisanya hanya sup rumput laut dan nasi -hitung nasi sebagai menu juga-.

 

Setelah selesai makan aku berdiri. Kantin terasa sepi, bukan karena siswa lain sudah pergi ke kelas masing-masing, tapi karena mereka terdiam entah kenapa. Mungkin karena dua sunbae ini?, entah aku tak peduli. Baru hendak berbalik untuk pergi kekasih Naeun sunbae memanggil namaku. Jadi dia ingat namaku?, haha terdengar kejam padahal aku sendiri lupa namanya.

 

“Kami sudah menemanimu makan, kau tidak berterima kasih atau sekedar memberi hormat pada senior?”

 

Aku menghela nafas. Beberapa siswa yang sedari tadi memperhatikan kami ada yang tersenyum ada juga yang sudah menyiapkan kamera untuk merekam.Ck ck ck, mereka ini kenapa sih? Kampungan!.Apa mereka pikir aku akan berkelahi? Dasar bodoh.

 

“Terima kasih, sunbae.” Kataku sambil membungkuk.

 

Tiba-tiba Naeun sunbae mencekal tanganku. Aku bisa mendengar keterkejutan orang-orang. Apa mungkin Naeun sunbae marah karena kekasihnya duduk satu meja denganku?, kurasa dia tidak sebodoh itu untuk cemburu. Ia berdiri menatapku dengan tatapan angkuhnya itu. Kemudian mengedarkan padangannya kesekeliling kantin.

 

“Aku Song Naeun kelas 12 anggota kedisiplinan siswa, meminta setiap murid di sekolah untuk tidak lagi mengganggu Ryu Jung In dari kelas 11. Jika masih ada yang memperlakukannya tidak baik, aku tidak segan-segan melaporkannya pada kepala sekolah dan meminta orang tersebut agar segera di keluarkan dari sekolah!”

 

Mataku melotot saking terkejutnya. Apa-apaan sunbae ini?, ke-kenapa dia seolah membelaku di depan banyak orang. Sebelumnya tidak, bahkan kejadian Kyujin sejak kelas satu. Yah, aku tahu memang kejahilan yang kuterima lebih parah dari Kyujin tapi… entahlah, apa sunbae ini mengibarkan bendera perang untuk para pelanggar?. Aku tidak mau repot-repot percaya diri kalau dia sedang membelaku.

 

“Ini juga berlaku untuk semua murid. Barang siapa menerima perlakuan buruk bisa melapor padaku atau anggota kedisiplinan yang lain. Aku bersungguh-sungguh jadi jangan sampai ada yang melanggar. Kalau mau coba-coba, silahkan saja. Tapi aku tidak memberikan toleransi apapun!”

 

Setelah puas, Naeun sunbae melepas tanganku. Kekasihnya mengulurkan tangan kanannya kemudian disambut oleh Naeun sunbae. Mereka keluar kantin dengan bergandengan tangan, di iringi tatapan terkejut dari semua murid disini.

 

“YAK!, apa kau kini berlindung di balik punggung Song Naeun?”

 

Salah satu kakak kelas pria yang tadi mengambil makananku menghampiri dan langsung membentakku. Aku mendengar dengan jelas apa kata-kata yang dia ucapkan, tapi otakku terlalu terkejut untuk memaknainya. Kakak kelas lain menarik kerah seragamku dengan kuat sampai aku hampir menubruk dadanya.

 

“Kau pikir kami takut karena kau ada pelindung sekarang?. Gadis munafik!”

 

Kini kesadaranku pulih seutuhnya. Mungkin aku bisa bersabar dan acuh sebelumnya, tapi lama-lama aku lelah. Mungkin ini saat yang tepat untuk melawan, aku butuh sedikit hiburan.

 

“Lee Junghyun!, sebenarnya siapa yang munafik disini?”

 

“Beraninya kau bicara dengan banmal padaku!, KAU MAU MATI?!”

 

Dasar pria gila!. Kau yang cari mati karena sudah berteriak tepat di wajahku!.

 

‘bugh’

 

Pria itu jatuh seraya memegangi perutnya. Ternyata satu tendangan sudah cukup untuk membuatnya ambruk. Aku beralih menatap dua kakak kelas lainnya, siapa korban berikutnya?.

 

“BERANINYA KAU!”

 

Kakak kelas berambut cepak melayangkan tinjunya yang tak sempat aku hindari. Ujung bibirku berdarah, lumayan juga pukulannya. Dia hendak menggunakan kepalan tangannya untuk menyakitiku lagi, aku tak tinggal diam dan segera menangkap tangannya kemudian memutarnya. Dia kesakitan, aku tidak peduli. Dengan sekali tendangan di perut dia sudah ambruk tak jauh dari Junghyun. Tinggal satu pria sial lagi yang harus kuhabisi. Sepertinya yang ini cukup mudah mengingat dia tidak begitu pandai berkelahi.

 

“Selesai belum?, aku mau ke kelas. Atau kau mau menyerang juga?”

 

Sudah kuduga dia akan lari. Dasar payah!, oh iya ada yang mau aku katakan pada si Junghyun.

 

“Jangan pernah kalian menggangguku lagi, seperti yang Naeun sunbae bilang. Apa kalian hendak berurusan dengan anggota kedisiplinan?, atau lebih parahnya, menghadapiku, pe-cun-dang.”

 

*Author POV*

 

“Hey Baekhyun!, jadi kau benar-benar putus dengan Taeyeon noona?”

 

Chanyeol memasuki kamar Baekhyun dan langsung menanyakan pertanyaan yang paling dia hindari. Buru-buru sang pemilik kamar mengunci pintu agar Baek Beom yang libur kuliah tidak mendengar apapun percakapan antara dia dan Chanyeol.

 

“Bisakah kau berhenti menanyakan itu?.Jelas-jelas aku sudah tak bersamanya lagi.”Jawab Baekhyun seraya merebahkan diri di sofa tak jauh dari meja belajar.

 

Chanyeol duduk bersila diatas kasur, “Kenapa?, bukankah kau sangat menyukainya?”

 

“Ya mau bagaimana lagi, keputusan yang terbaik adalah berpisah.”

 

Kali ini Chanyeol mengganti posisi duduknya dengan tidur tengkurap. “Siapa yang memutuskan duluan?, kau atau dia?”

 

“Tentu aku lah!, mana mungkin Byun Baekhyun di putuskan wanita.”

 

Sebuah lemparan bantal telak mengenai kepala Baekhyun.Chanyeol si pelaku mendengus karena kepercayaan diri Baekhyun yang terlalu tinggi.

 

“Sekali-sekali aku ingin membakar isi otakmu itu.” Tukas Chanyeol, kembali dia merubah posisinya menjadi tidur terlentang.

 

Seekor kucing hitam memasuki kamar itu lewat jendela.Kucing itu menghampiri Baekhyun, dari sorot matanya seolah kucing tersebut sedang meminta sesuatu pada pemiliknya.

 

“Kau ambil sendiri saja di kulkas.”

 

“Meong~”

 

“Ah iya, kan ada si Baek Beom. Kalau begitu kau cek di teras, siapa tahu tukang susu sudah mengantarnya.”

 

“Meong~”

 

“Iya, sudah sana pergi!”

 

Kemudian kucing hitam itu pergi setelah memberi cakaran kecil di kaki Baekhyun.Pria itu mengeluh sakit dan mengatai kucing hitam tersebut yang keluar lewat jendela. Chanyeol menatap keduanya dengan bingung, bagaimana bisa Baekhyun bicara dengan kucing dan mengerti apa yang kucing itu katakan?.

 

Terlebih lagi… BUKANKAH ITU KUCING PELIHARAANNYA?!.

 

Pria itu melompat menuju Baekhyun membuat temannya terkejut bukan main.“BAGAIMANA BISA CHANBAEK KEMARI?!”

 

“Yak!, kecilkan suaramu!”

 

“Cepat jelaskan bagaimana Chanbaek bisa kemari?”

 

“Jadi kucing hitam sialan itu kucingmu?!”

 

“Kau kan pernah aku beritahu kalau aku menemukan kucing hitam sebulan lalu, kau juga sudah melihatnya kan?”

 

Baekhyun mengingat-ingat lagi, dan begitu memori itu muncul ia lantas memukul dahinya.

 

“Sialan!, ternyata Tao itu kucing mu!. Arrrgh kenapa aku baru sadar sih!”

 

Chanyeol memiringkan sedikit kepalanya dan memasang ekspresi bingung.“Nama kucing itu Chanbaek bukan Tao!”

 

Baekhyun melirik sahabatnya sebentar, “Iya aku tahu!. Sudahlah, lebih baik aku packing untuk kemah lusa.” Ia beranjak ke lemari mengeluarkan koper biru yang biasa dia gunakan untuk berpergian.

 

“Eoh?, memang sudah lusa ya acaranya?”

 

Masih sambil memilah pakaian mana yang akan dibawa Baekhyun menjawab, “Tentu saja, kau tidak segera packing eoh?”

 

“Sudah sejak seminggu lalu. Kebetulan Yura noona yang menyiapkan sebelum dia berangkat ke Jepang.”

 

“Kakak mu kakak yang baik.”

 

Chanyeol mencibir, “Kadang-kadang dia juga menyebalkan.”

 

“Setidaknya tak semenyebalkan Baek Beom hyung.”

 

“Memang dia masih sering menganggumu?” tanya Chanyeol seraya memperhatikan ikan peliharaan Baekhyun di aquarium kecil.

 

“Sangat sering.” Jawab Baekhyun yang sedang memasukan setiap keperluan kemah ke dalam koper.

 

“Yak!” Chanyeol berbalik menghadap Baekhyun, “Sepertinya dia iri kepadamu. Jangan dibuat risau, lama-lama juga lelah sendiri.”

 

“Masalahnya, kapan dia akan lelah untuk menggangguku?”

 

***

 

“Aku pulang.”

 

Jung In berjalan memasuki rumah tradisional bergaya Jepang.Rumah itu cukup luas dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya, bedanya rumah itu satu-satunya rumah bergaya Jepang.Begitu sampai di sebuah ruangan yang merupakan ruang tamu, terlihat beberapa pria berpakaian serba hitam sedang mengobrol dengan pria paruh baya yang memakai jubah tidur. Tapi dialog mereka terhenti saat menyadari keberadaan Jung In.

 

“Aku pulang.” Jung In membungkuk pada pria-pria tersebut dan segera pergi ke kamarnya.

 

Isi rumah ini cukup luas dan terdapat banyak ruangan dengan pintu yang sama. Cara untuk mengenali ruangan apa tersebut adalah dengan melihat tulisan kanji yang tertulis di depan pintu tersebut. Saat sampai di depan kamarnya, Jung In mengeluarkan kunci lantas membuka pintunya.

 

“Selamat datang nona Ryu.” Sapa seorang pelayan wanita yang tengah mengepel lantai. Wanita itu bicara dengan bahasa Jepang.

 

Jung In mengangguk kecil dan membiarkan wanita itu pergi untuk mengepel daerah rumah yang lain. Jung In hendak memasuki kamarnya jika saja sebuah tangan tak menahan langkahnya.

 

“Sudah bertemu paman Osaka?” tanya pria yang menahan lengan Jung In. gadis itu menggeleng, “Belum.” Jawabnya.

 

“Dia ada di taman belakang, sedari tadi dia mencarimu.” Kemudian pria itu melepaskan tangan Jung In lantas beranjak. Namun Jung In balik menahan lengan pria itu.

 

“Apa kakek juga datang?”

 

Pria itu menggeleng, sejak tadi ekspresinya sama, datar dan dingin seperti Jung In. sorot mata mereka juga sama-sama tajam.

 

“Kakek belum pulang, masih menunggu Han Sol sembuh. Mungkin lusa mereka datang.”

 

Jung In menundukkan kepalanya, “Tapi lusa aku tidak ada di rumah.”

 

“Memangnya kau ada acara apa?. Han Sol akan segera pulang tapi kau tidak ada di rumah, oh iya ayah tadi-”

 

“Yuta!, Yukari!”

 

Keduanya menoleh. Di ujung sana berdiri si pria dengan jubah tidur tadi dan pria dengan pakaian serba hitam di belakangnya. Di sebelah pria dengan jubah tidur tersebut ada pria muda yang wajahnya seperti bukan orang asia. Dia memasang senyuman saat sudah berhadapan dengan Jung In dan pria berwajah dingin bernama Yuta itu.

 

“Yukari, kau pasti ingat dengan Jhonny kan?” pria dengan jubah tidur memperkenalkan siapa pria yang tengah berdiri disampingnya itu.

 

“Annyeonghaseyo, Jhonny imnida.”

 

“Nde, annyeong.” Balas Yuta dan Jung In bersamaan.

 

“Yuta, kau temui paman Osaka dan suruh menemuiku di ruang baca.”

 

“Baik ayah.” Dan Yuta segera melaksanakan apa yang di perintahkan ayahnya. Pria berpakaian serba hitam tersebut mengikuti kepergian Yuta. Kini tinggal pria berjubah tidur itu, Jung In dan Jhonny.“Ada yang ingin ayah bicarakan bertiga.Mari ikuti aku.”

 

“Baik tuan Watanabe.” Kata Jhonny yang langsung berjalan di belakang Watanabe. Jung In mengikuti saja, meski ada beberapa spekulasi buruk yang bermunculan di otaknya tentang kemana arah pembicaraan mereka nanti.

 

~TBC~

 

Haloo halooo~

Bagaimana chapter kali ini? membosankan kah atau malah jadi seru?

Sebenarnya author bingung FF ini mau diterusin apa nggak soalnya ini hanya FF sampingan dimana author masih mengerjakan FF utama yaitu The One Person Is You. Jadi author minta saran pembaca apakah ini harus diteruskan atau stop di chapter ini saja?. Soalnya keinginan pembaca mah penting juga atuh…

Untuk soal FF emang rada pendek sih ya soalnya ini FF udah lama juga nongkrong di laptop tanpa tahu kelanjutannya. Jadi maaf kalau kurang panjang ceritanya hehehe..

Yaudah sih ya, monggo RCL Juseyooo~~

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Handsome Cat (Chapter 6)”

  1. pembicaraan buruk, ya? semoga Jung In tetep baik2 aja dan semoga Kyujin bisa baikan sama Jung In, kek nya Baek Beom itu jahat deh

    dilanjutin kak, jangan distop, aku suka banget sama cerita ini, jadi tolong dilanjut
    Fighting

  2. Ff ini seru kok kak.. Lanjut yaa please jangan di stop ffnya! Oh iya klo boleh saran,, jgn kebanyakan cast baru aku jadi bingung hee.. :Dv *mian

    ok deh ditunggu chapter selanjutnya,, fighting thor! :Dd .

  3. ini seu kok kak
    lanjutttiinn kak, emangnya kakak mau apa reader satu ini lumutan terus penasaran akan lanjutanya
    next ya kak author-nim, the one person is you nya juga 😀
    fighting

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s