[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 18)

draftnew2

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Oh Sehun – Bae Irene – Kim Kai – Kang Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak saya yang rada geser.
#Beberapa plot terinspirasi dari potongan-potongan drama korea dan anime.

Visit – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Enjoy^

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 17]

-18-

Irene membuka mata perlahan. Melirik ke arah sumber cahaya yang menembus kamar Sehun. Lalu beralih pada jam kecil di atas nakas. Dia menghela nafas, dikiranya ia sudah terlambat. Lantas gadis itu segera beranjak. Melangkah keluar kamar lalu menemukan Sehun tengah sibuk di dapur memunggungi seisi ruangan di apartemen. Lelaki itu menoleh kebelakang.

“Pagi, Irene.” Sapanya lalu kembali fokus pada menu sarapan yang sedang dibuatnya. “Kakimu sudah baikan?”

Irene diam di ambang pintu kamar itu. Pagi ini rasanya seperti ada sesuatu yang baru tumbuh dalam dadanya. Perasaan melenyap tiba-tiba mendesir keseluruh aliran darahnya ketika mendengar sapaan pagi dari Sehun. Hal yang jarang sekali didengarnya, karna biasanya Sehun akan mengomel-ngomel setiap pagi gegara dirinya yang susah dibangunkan. Pagi ini rasanya berbeda, entah atas dasar apa dia bisa bangun lebih awal.

Lelaki itu menoleh lagi, “We? Kakimu masih sakit?” Tanya Sehun lagi. Membuat gadis itu tersadar, dia lalu mengangkat kaki dan menggerakkannya. Memastikan bahwa kakinya benar-benar sudah lebih baik.

“Hm.” Jawab Irene sambil tersenyum. Sehun diam, menatap Irene datar. Lalu kembali pada aktivitasnya.

Sesudahnya Irene masuk ke dalam kamar mandi. Dan menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Sebelum dia keluar dari kamar, Irene berdiam diri sejenak. Memandangi diri sendiri di depan cermin. Ingatannya melayang, kembali ke hari kemarin. Lalu merembet ke hari-hari sebelumnya. Terus memanjang sampai semua ingatan mengenai dirinya dengan Sehun dan Kai tergambar dalam benaknya tanpa sisa. Dia rasa, dirinya mulai menyadari sesuatu. Tentang perkataannya yang pernah ia lontarkan pada Seulgi waktu itu. Aku mungkin menyukainya sebagai teman, atau mungkin menyukainya sebagai.. Seorang laki-laki? Aku tidak bisa membedakannya. Aku tidak tau bagaimana rasanya. Kini Irene sudah menyentuh dadanya. Perlakuan Sehun kemarin adalah puncak kesadarannya. Saat dia tiba-tiba merasa aneh mendapati dirinya dan Sehun menyambut pagi di tempat yang sama –bukankah itu sudah biasa?

Kemudian ingatannya kembali terkumpul, saat beberapa waktu lalu mereka berdua pernah menyambut malam dan pagi berdua setiap hari, di tempat yang sama. Berbagi sarapan. Bahkan semalam saja, lelaki itu meminjamkan kamar pribadinya untuk Irene. Lalu ia kembali mengingat pertanyaan Sehun tentang apakah pertemanan laki-laki dan perempuan memang berjalan seperti ini?

“Kurasa tidak.” Gumam Irene. Jantungnya tiba-tiba bergemuruh tak jelas.

Irene merasa sudah sangat bodoh. Apa saja yang ada dalam otaknya selama ini, sampai melewati hal penting semacam itu? Dia mulai menyadari bahwa hubungan dirinya dengan Kai atau hubungan dirinya dengan Sehun, agak berbeda. Tidak, Irene rasa sangat berbeda. Dia pikir dirinya sudah masuk ke dalam hidup Sehun lebih jauh dari yang dia bayangkan. Satu hal; apakah dia harus mengelak? Pura-pura bahwa dirinya masih tidak sadar? Bahwa ia menyayangi Sehun, bahkan lebih dari seorang teman. Dan tak pernah ingin kehilangannya sampai kapapun.

xxxx

Suasana sarapan di minibar dapur Sehun pagi itu lebih hening dari biasanya. Beberapa kali Sehun melirik Irene, memperhatikan gadis itu yang sedari tadi menyantap sarapan dengan fokus, tanpa menoleh kemanapun selain pada piringnya.

“Irene? Kau sakit?” Tanyanya penasaran.

“Eh?” Gadis itu menoleh, menatap Sehun dengan tatapan polos. Lalu menggeleng, “Tidak. Aku tidak sakit.”

“Lalu kenapa kau diam terus? Aku jadi merasa apartemenku sama saja sepinya seperti saat kau tidak ada.”

Irene kembali menatap isi piringnya, dan menyuapkannya kembali dengan santai. Mengunyahnya tanpa menjawab apapun, membuat Sehun menunggu.

“Apakah sesuatu terjadi?” Tanyanya lagi masih penasaran.

Irene menggeleng, dia meraih gelas dan meneguk air putih sampai tersisa setengahnya. Berusaha bersikap sesantai mungkin.

“Aku hanya sedang merasa aneh.” Akhirnya gadis itu menjawab, meski masih tak berani membalas tatapan Sehun.

“Aku juga merasa aneh melihatmu yang seperti ini.” Protes Sehun.

Kali ini Irene melipat kedua tangannya di atas minibar, lalu menatap Sehun. “Sehun.”

“Hm?”

“Ini terakhir, ya.”

Alis Sehun bertautan. Terakhir? Apanya? Seolah matanya dengan jelas bertanya-tanya seperti itu.

“Terakhir menginap di sini. Aku rasa, aku tidak akan bisa menginap lagi, bahkan bermain disini.”

“Bukankah kau memang tidak bisa bermain lagi kesini karna ayahmu, kan? Semalam itu kau hanya berhasil berbohong.” Jawab Sehun dengan nada yang terdengar membingungkan.

“Kalau aku mau, aku bisa berbohong seperti kemarin kapanpun aku menginginkannya.” Suara Irene menurun, terdengar semakin tidak semangat. “Aku –Berada berdua disini denganmu setiap pagi, jadi terasa aneh bagiku, Sehun.”

Gadis itu akhirnya mengeluarkan kalimat itu begitu saja. Begitu jujur dan apa adanya. Kalimat yang seharusnya dia rahasiakan saja untuk dirinya sendiri, namun malah dengan entengnya terlontar pada Sehun. Lelaki itu kini diam, memandang Irene semakin aneh. Sejenius apapun otaknya, ia tetap tidak begitu paham apa maksud Irene.

Tangan Sehun naik, mendekati kening Irene untuk sekedar meraba dan memastikan bahwa suhu badan gadis itu masih normal, “Kau aneh sekali sih –“ Namun dengan refleks, Irene mencegah tangan Sehun, menepisnya pelan. Membuat lelaki itu sedikit terkejut karna biasanya Irene tidak pernah mengelak apa saja perlakuannya. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Membuat Irene merasa bersalah, dia pun segera memasang senyum.

“Aku tidak apa-apa, Sehun.” Sahutnya, mencoba memastikan. Namun lelaki itu masih menatapnya dengan serius. “A-ah.. Sepertinya aku akan datang bulan. Moodku benar-benar aneh pagi ini.” Irene segera berdiri dari tempat duduknya, mencoba bersikap kembali seperti Irene yang biasanya. Dia lalu meraih ransel.

“Kali ini aku yang berangkat lebih dulu, ya.” Lanjutnya sambil memasang senyum lebar dan berjalan ke arah pintu dengan gaya cerianya, tanpa menunggu respon dari Sehun.

Lelaki itu masih diam di tempat, hatinya seperti tercubit sesuatu. Dia tetap tak merasakan Irene yang biasanya, meski gadis itu terlihat baik-baik saja. Penolakan yang dilakukan gadis itu tadi, membuatnya agak tersentil.

Ketika pintu sudah ia tutup kembali, Irene menurunkan ekspresi wajahnya. Lagi-lagi jadi seserius sebelumnya. Dia menghela nafas, merasa sangat-sangat bersalah karna sudah merusak pagi mereka. Ini lebih rusak ketimbang pagi yang rusuh karna Irene terlambat. Pagi yang lebih rusak ketimbang Sehun yang marah-marah karna buku catatannya lupa Irene taruh dimana.

xxxx

Kemarin Kai, hari ini Irene. Sehun benar-benar heran. Kali ini dia mencium ada yang aneh dari Irene sejak pagi tadi sampai jam makan siang saat ini. Gadis itu jadi super fokus pada menu makan siangnya di kantin seperti ketika sarapan tadi. Dia juga menghilang saat jam istirahat pertama.

“Kau tadi kemana?” Tanya Sehun, memecah kebisuan meja mereka.

“Perpus.” Jawab gadis itu singkat, tanpa menoleh kemanapun. Mungkin Irene memang terlihat santai seperti biasanya. Namun Sehun yakin, dia merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari diri Irene.

“Tumben.” Sahut Kai dan Sehun berbarengan. Jelas saja, bukankah biasanya Irene akan meminta Sehun yang mengantarnya ke perustakaan dan mencarikan buku yang dibutuhkannya. Ketimbang Kai, Irene masih jauh lebih malas untuk menyusuri lemari perpustakaan.

“Aku sudah mau bertaubat, malah dibilang tumben.” Decak Irene, masih tak mau menatap Sehun maupun Kai.

Kedua lelaki di hadapannya saling melempar pandangan bingung kemudian memandangnya lagi. “Tumben, tidak ajak-ajak. Maksudku.” Sergah Sehun, mencoba memancing.

Irene diam. Segera menyuapkan satu suapan penuh ke dalam mulutnya. Benar, kan. Gadis itu tak bisa menjawab dengan cepat. Pasti memang ada sesuatu yang disembunyikan, seperti saat Kai bersikap amat ceria tanpa menceritakan apapun. Namun apa yang terjadi pada Irene pastilah sesuatu yang tidak menyenangkan, pikirnya. Sehun heran, sejak kapan kedua sahabatnya itu senang bersembunyi?

“Aku tadi buru-buru. Jadi tak sempat mampir ke kelasmu.” Alibi Irene. Gadis itu menyuap lagi, kali ini lebih terlihat dengan gerakan sebal. Dan masih tak mengangkat matanya sama sekali.

“Kau tidak mengajak Kai?”

“Dan untuk apa kau terburu-buru?” Tanya Kai selanjutnya. Keduanya tak memberi jeda untuk Irene menjawab pertanyaan satu-satu. Membuat gadis itu akhirnya mengangkat wajah dan menatap kedua teman lelakinya.

“Ish. Banyak tanya, deh.” Ringis Irene kesal. Kai dan Sehun kembali saling bertatapan.

Sehun mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa Irene memang sangat aneh hari ini. Dia tidak ingat, ada sesuatu yang telah membuat emosi Irene jadi kacau. Bukankah kemarin hari yang sangat menyenangkan? Dia masih ingat bagaimana mata gadis itu begitu amat berbinar ketika berhadapan dengan Minseok, kakak Seulgi. Dia juga masih ingat betul, selebar apa Irene tertawa setiap melihat dirinya dikerumuni anak-anak panti. Irene bahkan… Memeluk lehernya saat digendong sampai kamarnya di apartemen. Lalu meminta dirinya untuk menemani Irene sampai gadis itu benar-benar terlelap. Dan semua menjadi aneh saat pagi datang. Selama dia mengenal Irene, gadis itu tidak pernah mengalami kerusakan mood seperti ini jika sedang datang bulan. Yang ada, justru Irene malah semakin cerewet. Protes sana-sini seperti ibu-ibu yang sedang sakit gigi. Atau mengomeli Kai setiap melakukan kesalahan barang sedikit saja. Dan bukannya asik sendiri seperti ini.

Kini mereka bertiga berada di perpustakan dengan beberapa buku materi dan buku catatan. Belajar bersama di 2 jam pelajaran terakhir karna tiba-tiba seluruh guru harus menghadiri rapat dan sekolah sama sekali tidak dibubarkan. Jadi, meski masih merasa aneh, Sehun menerima ajakan Irene dan Kai yang ingin melanjutkan belajar di perpustakaan. Namun gadis itu ternyata tetap sama.

Sejak tadi Irene tidak menoleh kemanapun selain pada halaman buku cetak dan buku catatan miliknya. Sama sekali tidak menoleh pada Sehun dan Kai sesentipun. Walaupun Sehun merasa sedikit lega, Irene masih ingin serius belajar. Malah lebih serius dari biasanya. Begitu fokus, dan aktif bertanya tak seperti biasanya. Tidak juga mengantuk, atau mengeluarkan protes tiba-tiba. Dan mengerjakan soal dengan seksama.

“Beruntung rapat ini digelar saat jam pelajaran Mrs. Luna.” Sahut Irene tiba-tiba dengan suara yang pelan, sambil mencatat beberapa teori dalam bukunya.

“Kau pasti tidak mengerjakan tugas?” Tebak Kai lalu terkekeh pelan. Irene mengedikkan bahunya.

“Aku mengerjakannya, tentu saja. Tapi aku kan habis menginap. Jadi bukuku ada dirumah sekarang.”

Kembali hening beberapa menit. Sampai tanpa Irene sadari kini kedua lelaki itu tengah memandanginya lekat-lekat. Sementara gadis itu begitu asik membaca ulang teori, sesekali ia mengangguk-anggukkan kepala, tanda memahami.

“Ini bukan perasaanku saja, kan?” Tanya Kai.

Irene tak menoleh, tidak sadar bahwa pertanyaan itu tertuju pada dirinya.

“Irene.” Panggil lelaki itu.

Oh?” Balasnya, masih tak menoleh sedikitpun. Membuat mata Kai berputar sebal.

“Ini sepertinya bukan perasaanku saja. Tapi kau memang sangat aneh hari ini.” Protes Kai akhirnya.

Irene diam, tak menjawab sama sekali. Ataupun menoleh sedikit saja. Kemudian gadis itu menghela nafas cepat, “Aku tidak aneh. Moodku hanya sedang berantakan.” Jawab gadis itu berusaha santai.

“Lihat aku.” Kini Sehun yang menyahut. Dengan suara yang amat dalam dan serius. Namun itu tak mempengaruhi Irene yang masih tak ingin menatap siapapun.

“Irene, lihat aku.” Perintahnya sekali lagi.

Kali ini Irene menyerah. Gadis itu pun mengangkat matanya, membalas tatapan Sehun yang teduh. Namun terasa amat tajam bagi Irene. Terasa begitu menusuk, dan membuat jantung Irene menderu hebat. Dan yang bisa dilakukannya hanya menarik nafas, menahannya beberapa detik kemudian mengeluarkannya dengan samar.

“Kubilang moodku hanya sedang rusak.” Balas Irene lagi memastikan, mencoba menggunakan nada sesantai mungkin.

“Kau benar-benar aneh. Moodmu rusak. Tapi begitu mudahnya kau masih bisa belajar dan menerima materi lebih cepat dari biasanya. Ada apa sebenarnya? Ini bukan karna ayahmu, kan?” Jelas Sehun.

“Sehun benar. Pasti sesuatu sudah terjadi.”

Irene menundukkan matanya lagi beberapa detik, sambil menggigit bibir bawah. Lalu kembali menatap Kai dan Sehun secara bergantian. Dan lagi-lagi, menghembuskan nafas dengan pelan.

Moodku sebenarnya bukan rusak. Tapi aku agak sedikit terganggu saat ini. Itu bukan soal ayah, dan aku tidak bisa menceritakannya pada kalian.” Terang Irene pelan.

We? Kenapa kita tidak boleh tau?” Tanya Kai penasaran.

Irene diam sejenak, “Ini urusan perempuan!” Cibir gadis itu lalu menjulurkan lidahnya, membuat Kai hanya bisa berdecak sebal. “Dan soal belajar. Mungkin karna aku kelewat fokus, jadi aku benar-benar belajar serius hari ini. Sesuatu yang mengangguku itu ada sedikit hubungannya dengan masalah peringkat. Jadi, yah. Hari ini aku hanya memikirkan bagaimana aku harus belajar lebih jauh lagi agar nilaiku bisa membantu menaikkan peringkat.”

“Kenapa peringkat begitu penting bagimu?” Ada nada tidak rela dari suara Sehun. Terdengar seperti tidak ingin tersaingi apapun untuk diperhatikan Irene, termasuk dengan belajar sekalipun.

Irene menghembuskan nafas lagi. Sambil kembali merundukan pandangan dan melanjutkan mencatat materi lain dalam bukunya, “Supaya aku bisa tetap bersamamu sampai lulus, bodoh.” Jawab Irene dengan samar. Namun suasana perpustakaan yang sepi, tetap membuat suara Irene sampai ke pendengaran Kai dan Sehun.

Ugh, manisnya. Sepertinya aku hanya cameo disini.” Sahut Kai.

Sehun diam. Tidak tau harus menjawab apa, selain menatap Irene dengan wajah temboknya yang lempeung. Disisi lain, Irene sudah menggerutu dalam benaknya. Dia keceplosan. Kenapa kalimat semacam itu harus terlontar dengan mudahnya? Irene menggelengkan kepala pelan. Jika dia mengatakan hal itu di saat dirinya belum menyadari apapun tentang perasaannya, mungkin akan menjadi hal yang sangat biasa dan lumrah terdengar. Namun tidak saat ini. Semua itu jadi terasa begitu ambigu, bagi Irene. Benar-benar memalukan.

xxxx

Sore itu ruang latihan dance cukup ramai seperti biasanya. Setelah UTS selesai. Itu hari pertama club dance kembali beraktivitas. Anggota club biasa mulai berkumpul sesuai dengan level dan kelompoknya masing-masing. Melakuan stretching bersama. Begitupun dengan tim kompetisi yang berkumpul di satu titik berdekatan dan melakukan hal yang sama seperti orang-orang.

Kali ini, mood Sehun yang jadi sedikit rusak. Gegara Irene yang keanehannya masih belum bisa ia pahami sampai detik ini. Mengenai kalimat gadis itu tadi di perpustakaan, Sehun tak begitu memikirkannya terlalu jauh. Bukankah itu kalimat yang biasa dan lumrah didengar Sehun? Tapi dirinya malah diam terpaku, saat tadi. Tak tau harus menjawab apa, membuatnya jadi gusar. Dan lihatlah, Irene saat ini melakukan stretching sembari asik mengobrol dengan Seulgi dan Krystal. Tersenyum, lalu tertawa pelan sesekali. Hal yang seharusnya membut dirinya lega dan teduh. Malah membuatnya kepanasan. Karna hal itu tak dilihatnya sama sekali selama mereka bersama hari ini.

“Ternyata Irene bisa seperti itu juga. Sangat menyebalkan.” Protes Sehun dengan suara berbisik. Kai yang berada dekat di sampingnya menoleh lalu terkekeh pelan.

“Perhatikan kalimatmu yang barusan itu. Terdengar seperti kesal, di antaranya karna Irene begitu aneh, atau kesal karna dia tertawa dengan orang lain dan tidak denganmu.” Cibir Kai.

Sehun menoleh dan menatap Kai, “Perhatikan juga kalimatmu itu. Benar-benar teori yang tidak bisa kupahami.” Decak Sehun kemudian mendelik.

Lawan bicaranya terkekeh, “Cih. Kau benar-benar hanya bisa memahami teori Limit. Giliran soal seperti ini, mikirnya jadi limit. Ah, lemot lebih tepatnya.” Nyinyir Kai lagi dengan puas.

Tim kompetisi sore itu berlatih lebih lama dan lebih sulit ketimbang dari anggota club lainnya. Jelas saja, mereka akan menghadapi final. Dan nanti, performance yang harus di tampilkan akan lebih dari 2 penampilan. Itu akan menjadi persaingan sengit antar 3 SMA. Babak yang paling ditunggu-tunggu anggota tim kompetisi, juga anggota club lainnya yang akan selalu mendukung dari jauh.

“Kau tidak ingin memastikannya pada Krystal sunbae? Dia pasti lebih mengerti soal seperti ini.” Kata Seulgi dengan suara berbisik, sembari mengelapi peluh-peluh yang bercucuran di dahinya. Setelah Irene selesai meneguk seisi botol air esnya, dia mengedikkan bahu dan menggeleng.

“Tidak. Aku yakin, aku tidak salah lagi, Seulgi. Ada sesuatu seperti sudah membersihkan isi otakku sampai benar-benar bersih dan sanggup membuat akalku berpikir sampai situ. Dan aku tidak mau ada orang lain tau selain kau.” Jawab Irene, tak kalah berbisik.

Seulgi menatap Irene dengan seksama, “Tapi aku senang kau mengakuinya.” Senyumnya kini sedikit mengembang, tersungging menggoda ke arah Irene.

“Mau bagaimana lagi. Itu sudah tak terelakkan.” Mata Irene berpindah, melirik Sehun dari kejauhan. Dan memandanginya dengan bimbang. Tanpa disadari kini tangannya sudah berada di tengah dada, dan merasakan jantungnya mulai kembali berdentum.

“Kupikir hal seperti ini takkan terjadi pada cewek sinting sepertiku.” Keluhnya lalu menatap Seulgi dengan ekspresi merengek. Juniornya itu malah tertawa geli melihat tingkah Irene.

“Aku rasa, kau hanya gelisah karna baru menyadarinya sekarang. Tapi kau pasti akan kembali bersikap seperti biasa. Yah, meskipun tidak akan persis sama. Setidaknya, kau sudah terlihat sangat terbiasa bersama Sehun dan Kai sunbae.” Seulgi tersenyum, mencoba menghibur Irene kemudian mengusap keringat yang mengalir di dahi Irene dengan handuk miliknya.

xxxx

Setelah club dance bubar, Kai pamit pulang lebih dulu karna dia harus segera menyusul kelompokya yang sudah berkumpul untuk mengerjakan tugas presentasi besok. Maka tinggalah, Irene dan Sehun berdua berjalan bersama melewati koridor-koridor menuju lobi gedung sekolah.

Keduanya berjalan dengan pelan dan santai, Irene terlihat agak gontai dan tatapannya kembali lurus. Sementara Sehun beberapa kali melirik ke arah gadis di sampingnya dengan gemas.

“Hari ini cukup menyebalkan, ya.” Sahut Sehun, memecah keheningan.

“Bukan karna aku, kan?” Balas Irene pelan.

“Pertama, karna kau. Kedua, karna Junmyeon terus saja membanggakan dirinya setiap aku lewat. Dan ketiga, karna orang-orang masih menuduh kau sebagai penyebab peringkatku turun.”

“Memang benar, kan?”

“Apanya?” Sehun menoleh lagi.

“Memang aku yang membuat peringkatmu turun, kau lupa?” Jawab Irene dengan suara pasrah, siap menjadi bulan-bulanan siapa saja yang ingin menudingnya ini-itu. Tapi Sehun tentu tidak seperti orang-orang.

Dia mengedikkan bahu. “Satu-satunya yang kuingat kenapa aku rela menurunkan peringkat adalah agar kau tetap disisiku.”

Dada Irene tersentak, lagi-lagi kalimat yang ambigu terdengar oleh telinganya. Namun Sehun terdengar datar seperti biasa. Tak merasa aneh sedikitpun dengan kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya.

Saat keduanya sudah sampai di gerbang sekolah. Irene segera melambaikan tangannya tanpa melihat ke arah Sehun, “Aku duluan, dah –“

Namun lelaki itu tak kalah cepat, dia meraih pergelangan Irene. Mencegahnya untuk melangkah menjauh. Membuat gadis itu kaget. Kakinya terpaku di tempat, spontan wajahnya naik dan menatap Sehun dengan bingung. Tapi lelaki itu tak kunjung mengatakan apapun, selain menatap Irene dan membuatnya kembali tak kuasa menahan deburan jantung yang mulai terpacu. Terpaksa, dia mengalihkan pandangan lagi. Menghindari bola mata Sehun yang menusuk.

“Lihat aku, Irene.” Pinta Sehun pelan. Beberapa saat gadis itu tak mengindahkan permintaan Sehun. “Irene.” Panggilnya lagi. Akhirnya gadis yang dipanggilnya terpaksa menoleh kembali, membalas tatapannya.

Lalu Sehun tak mengatakan apapun yang penting, selain bergumam, “Kau sangat aneh.”

Entah berapa lama keduanya berada di posisi itu tanpa melakukan pergerakan apapun. Seolah waktu tiba-tiba berhenti hanya untuk mereka berdua. Namun tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Keduanya masih saling bertatapan sampai seseorang dari dalam mobil itu menyahut, “Bae Irene.”

Mau tak mau, Sehun dan Irene sama-sama menoleh. Satu detik setelah menyadari siapa orang yang baru saja memanggilnya, Irene segra melepaskan tangannya dari genggaman Sehun.

A-appa?” Gumam Irene terkejut.

Sehun masih menatap ayahnya Irene dengan datar. Sama sekali tak merasa takut kala pria paruh baya itu membalas tatapannya dengan dingin. Lantas Tuan Bae mengangkat jemarinya, mengisyaratkan pada putrinya untuk masuk ke dalam mobil.

“A-aku duluan.” Pamit Irene lalu segera menghampiri mobil dan masuk ke sisi ayahnya.

Mobil mewah itupun melesat begitu saja dari hadapan Sehun.

xxxx

“Jadi itu yang namanya Sehun?” Sahut ayahnya.

“Tumben sekali, appa menjemputku.” Irene mengalihkan pembicaraan.

“Aku baru sempat mengobrol lagi dengan Kepala Sekolah. Jadi aku baru tau, kalau peringkatmu naik menjadi ke 12.” Irene diam tak menjawab apapun. “Aku juga baru mendengar darinya kalau kau sempat membolos saat sebelum jam makan siang. Bersama anak lelaki bernama Sehun itu.” Lanjut ayahnya, tanpa menoleh kemanapun selain ke luar jendela di sampingnya.

Irene menggigit bibir bawahnya. Oh ayolah. Dia sedang sangat tidak mood untuk membicarakan hal semacam ini.

“Tapi peringkat dia turun, kan? Jadi no. 2.” Terlihat sebuah senyuman tipis terukir di bibir Tuan Bae, “Kau pintar memanfaatkannya juga, ya.”

“Aku tidak memanfaatkannya. Dialah yang rela melakukannya untukku.”

Jawaban tegas dari putrinya, membuat Tuan Bae menoleh dan menatap Irene. “Aku tau dia tampan, Irene. Aku juga tau kau sebenarnya sangat cantik. Tapi bisakah kau tidak usah terlibat hati dengannya?” Kali ini kalimat ayah membuat kepala Irene berputar dengan pening. Apa yang baru saja dibicarakan ayahnya, cukup membuat Irene bingung.

“Meskipun dia tampan dan pintar?” Entah kenapa, tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari mulutnya dengan mudah, semudah kalimat keceplosannya siang tadi pada Sehun.

“Bukan itu masalahnya. Kau ini masih anak ingusan. Tau apa soal hati.” Cibir ayahnya lalu terkekeh pelan. “Dan lagi, kau harus ingat. Sedekat apapun kau memiliki hubungan dengan seseorang di sekolahmu itu, kau akan tetap pergi –“

Appa, bisakah kau beri aku ruang? Biarkan aku menjalani sekolah sesuai yang aku mau. Setidaknya pernah memiliki teman lebih baik daripada tidak sama sekali.” Sergah Irene, suaranya mulai bergetar.

Ayahnya diam. Kembali menatap ke luar jendela. “Aku hanya tidak ingin kau merasakan lagi luka karna kehilangan, Irene.” Suara ayahnya kini terdengar menurun. Membuat Irene hilang kata-kata. Gadis itu menoleh, memandangi ayahnya yang tengah memasang ekspresi tak terbaca di samping jendela mobil.

“Bagaimana kau tau, aku akan kehilangannya atau tidak.” Gumam Irene. Dia mengalihkan pandangan, melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Menatap keluar jendela. “Kau tidak tau, betapa aku terluka karna kehilangan sosok ayah yang dulu. Jadi untuk apa mengkhawatirkanku soal itu? Aku sudah terbiasa kehilangan, appa. Aku sudah hafal rasanya.”

Ayah Irene tak menjawab. Suasana di dalam mobil berubah jadi amat hening. Keduanya berkeliaran dalam benak masing-masing. Saat ini perasaan takut kembali menjalar dalam diri Irene. Perasaan khawatir yang pernah ia ceritakan pada Sehun, semakin meruak dalam dadanya. Meskipun, dia sudah mengaku-ngaku kalau kehilangan adalah hal yang sudah biasa dan ia hafal bagaimana rasanya. Namun tetap saja, perasaan yang baru ia sadari ini, membuat semuanya jadi semakin mengkhawatirkan.

–To be continued–

Gak penting yg di penting-pentingin:

Uhuk,pendek. Uhuk. Pendek gitu? Iya, kalau dibandingin sama chapter sebelumnya. Hihihi. Duh, nulis note absurd kaya gini tuh udah jadi kebiasaan, rasanya kaya ada yg kurang kalo ditutupnya cuma pake tobecontinued. Terus jadinya sok akrab deh kekekekk. Btw, jangan berprotes ria ya atas apa yang sedang terjadi pada Irene. Karna sudah begini adanya. Aku gategaaaaa. Ceritanya udah mo kelar hikseu /alay/. Nggak deng masih lumayan kok kkkkk. /gakjelas /abaikan /dtimpuk

Tyar buka lapak baru nih gaes. Yang punya wattpad yok di follow yok @realtyar. Yang gak punya wattpad, mari bikin yok terus follow. Yang ngga mau follow, gaakan kebagian flying kiss nya mas sehun /iniapaa/. huahahahahahahhh maksa, ya. Biarin.

Fyi aja, buat yang suka nungguin draft /pedemeter si tyar lol/. Sejauh ini Draft selalu terbit setiap hari sabtu, ya. Hehehe selamat membaca, semoga terhibur dan terima kasih sudah selalu membaca muach. Tinggalkan jejaknya jusseyooo~ ^^

73 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 18)”

  1. Yahh irene kok aneh sih,,, gue emang berharap dia cpt sadar sih sama perasaannya tapi kok sikapnya berubah,, tapi gpp mungin dia cma btuh penyesuaian, scene terkhir sama sehun sweet, mskipun gak bnya seenggaknya masih bertebaran moment hunrenenya

  2. Gak salah emang baca maraton, ff-nya seru dan menurut saya ini ff yang beda dari yang lain. Next kak, maaf ya baru comment di sini soalnya saking kebawa baper ceritanya.. 🙌😅

  3. Gak salah emang baca maraton, ff-nya seru dan menurutku sih beda dari yang lain. Maaf ya kak baru sempet comment di sini, next kak!!! 🙌👍

  4. Baru nemu tadi sore dan langsung rampung 18 chapter. Ya ampun kenapa karakter suho oppa licik gitu sih? Baekhyun juga nyebelin..
    Nggak sabar pengen tau kelanjutan antara sehun dan irene. Terus apa nanti seulgi bakal nerima kai?
    Buat authornya, FIGHTING!!! ^^

  5. aduh thor jangan suka bikin readers baper deh hahahaha ga deng canda
    greget banget,semoga kedepannya bisa update draft diwattpad
    hmmm…aku jrg comment kalau di wordpress tp ini ga nahan pengen comment
    hmmm bikin sehun akhirnya ngaku juga dongg bikin seromantis mungkin hehehe
    fighting bikin ffnya

    1. Daku juga baper sesungguhnyaa wkwkwkwkk mungkin klo udah tamat aku publish di wattpad /mungkin/ wkwk thanks yaa ^^

  6. Uwaaaaaaa seperti biasa selalu bikin gereget. Pas lagi manis manisnya aja udah bikin gereget. Ini lagi saling sadar perasaan tapi cuek tuh bikin makin gereget dan gemes. Suka ngakak sendiri sama tanggepannya kai yg bilang hunrene manis wkwkwk. Jadi cameo segala laah hahahahah. Sangat ditunggu chapter selanjutnyaaaahhhhh. Semangaaaatttt!!

  7. Ihhh akhirnya setelah kembali membuka FF ini dah ada 3 chapter lagi yg baru :”
    Duh suka deh akhirnya irene dah mengakui perasaannya
    Duh pake tatap2an gakuku duhhh :”
    Kai seulgi juga makin deket ><
    Minseoknya jg jd ikut bayangin gmna gemesnya wkwkwk
    Klo update tiap sabtu jadinya bsk dah update dong :" ulululu gk sabarrrr
    Lanjutkan author-nin!!!
    Semangat terusss!!! Wkwkwk

  8. Fiuhhh…, ngebut dari chap 1 sampe sekarang yang ke 18 akhirnya tercapai, ceritanya kerwn banget dan berharap kedepan akan lebih seru, baca terua bukin deg degan gak cuman irene aja hehe , semngat ya untuk lanjutannya!!!, thank you!!!

  9. aduhhh kenapa irene jadi kayak gitu ke sehunnnn
    udah dong biasa aja, kan enak bisa deket terus sama gebetan, wkwkwkwk
    semoga nanti irene balik sinting lagiiiii dan gk baperan lagiiiii yaaaaa
    author FIGHTING!!!!

  10. Saya ga protes soal Irene nya. Tapi protes soal cerita nya pendek daripada sebelum nya hehehe.
    Semoga minggu depan cerita nya panjang kayak biasa nya atau kalo boleh dan kalo bisa jadi panjang nya dua kali lipat. Hitung2 buat nambahin chapter yg ini hehe *tetep maksa*
    😀

  11. author nimmm untuk eps 15 16 17 18 (sepertinya) aku numpang komen lngsung disini yaa hehe soalnya lngsung bca dr eps itu sampe ini jdi kupikir komennya sekalian deh hehe

    bener” penasaran ama selanjutnya.. knp irene hrs di kekang sampe begtu ‘^’

    semangat langjutinnya authornim~~

  12. Waaaa tyarrr, kau selalu membuat cerita yg tak terdugaaa! Bagus baguss keren batt.
    Ni ff paling lope lope dahh. Bahasanya sama tanda2 bacanya juga udh bagus.

    Draft tuh bener2 ff sehun paling bagus yg pernah kutemukan #lebayy akutt

    Tapi emang bener. Sukses thor!! Fight!! Keep writting!

    Aku suka karya2 ff mu. Sering2 bikin ff castnya sehun yakk!!!

    1. Yha~ jan gituu wkwkwk 😂
      Sek asek makasih yaaa hoho bisa dipastikan sehun bakal sering lolos casting /lah 😁😁

  13. Heol irene udah ngaku kalo dia naksir sehun. Tapi masih aja kaku kaya kanebo kering wkwk tapi bikin greget. Pokoknya persatukan sehun-irene kai-seulgi ya thor gamau tau wkwkwk. Moga chapternya makin panjang😉

  14. Annyeong tyaarr… Sorisori nih aq br kliatan lg hehe… Fokus ramdhan(ceilah)
    Lah??? Udah mw ending aja?? Andwaeee… Epep kesayangan aing… Hikseu
    Tar klo bkin epep pairingnya hunrene lg yeth?? Aing dukung dah 100% wkkkk..
    Next chap ditunggu yaa..

  15. Astaga makin seru aja thor ^^
    hmhmhm….intinya jangan pisahin irene dan sehun ya thor aku gk rela bgtt pake BANGET. dan bikin happy ending yaa nantii *mianmaksa* kkk~ aku tunggu next chapternyaa,jangan lama2 yaa thor 😀

  16. Duhh iren kok sifatnya jadi kaku gitu sihh ama sehun ahh percakapan airen sma appa nya bikin sedih gregetan itu nanti gimana mereka bakalan pisah? Huhu ditunggu kelanjutannya yaa thorr

  17. ngikutin DRAFT tu kaya kebiasaan,jd ga sreg klo lum ketemu DRAFT/ duh istilahnya aneh bnget/
    – aku suka DRAFT plus maincast nya,,apalagi Penulisnya ..Tyar I lope U .. aku padamu weys…kkkkkkk….
    – aku jg pasti bc authors note,,itu buat lbh kenal ,,,
    – ku tunggu DRAFT selanjutnya,,,

  18. pengin banting nih hp gua gegara irena yang aduuuhhhh bikin greget sehunnya juga sih -_- tapi author keren bikin reader nya juwet sendiri 😀

  19. Please next
    Suka banget sama cerita nya
    Dan aku lagi mencoba move on dari sehun Krystal shipper:'(
    Walaupun tetap gak rela Krystal sama kai. Hiks hiks

    1. Eleuh eleeuh ini apalah aku yg kaiseul shipper yg karam di tengah laut :(( /malah curhat/ wkwkk yash pasti next kok thanks yaa ^^

  20. sorry thor chap 17 aku komen disini sekalian..
    hehehe

    sejauh ini sih ceretanya masih lurus aja sesuai alur menurut aku..

    lanjut thor fighting !!

  21. kyaaaa, seruuu
    makin geregett euyy
    sehuniiii, ampun dehh
    irene-ah fighting
    jongin, kamu memang cameo.. wkwkwk

    next ya kak^^
    fighting

  22. cieeee sehun diakui ama appanya irene klau si sehun tampan…
    lanjut thor…….
    makin gregetan nihhhhhh……
    semangat thor buat lanjutin karyanya..
    (maaf baru berani koment skrng)

  23. Aku gak komen buat chapter ini… karena aku baru sadar ngak baca chapter 17 atau aku lupa ya, akh pokoknya see you di chapter 17 HunRene. Keep writing and fighting kak tyar 😉

  24. Padahal aku sbenernya nunggu Irene teriak bilang suka sama sehun Thor haha 😁😁
    Oya,aku udah follow wattpad-nya kok ,,,huhuu keep writing ya thor!!
    ‘Phylosophy Of Love’-nya juga cpetan update yaa
    Di wattpad nungguin teruss

  25. Ya ampun airiiiiiin duh.. kok.. gitu siiiih. sedih bacanya /hiks/ ngaku aja kenapa sih. tapi.. enggak usah ding :v biar Sehun aja yang duluan ngaku :v baper nih baper baper. Kak tyar kudu tanggung jawab oi xD duh.. beneran deh sedih gitu HunRene jadi kek gini /mewek/
    Mana bapaknya nambah-nambah masalah lagi. ngrusak moment jugak ih. padahal udah nge-fly sendiri bayangin Sehun natep airin xD eh, bapaknya dateng. What the valakk xD
    Oke, Sehuuuunn.. lu kudu cepetan sadar kalo lu suka sama airin. entar keburu ilang tuh anak :v apa perlu gue getok dulu pake kursi biar sadar? /dikroyok/
    Keknya udah berkali-kali deh aku bilang kek gini xD saking gregetnya mereka nggak pacaran-pacaran mulai dari chapter 1 sampek chapter 18 xD
    Atau kak Tyar aja yang digetok? /ditendang/ :v
    Haaaah beneran deh ini chapter tergalau, terbaper, tergloomy sepanjang sejarah cerita HunRene di draft. duh. ya ampun. hah. Ya Tuhan.
    NEXT KAK TYAAAAR NEEEEEXT >_<

  26. Gregetan bgt sma tingkahnya irene, adeeeeehhhh….
    Sehun jga gitu, gk peka bgt yaaa…
    gk sabar nunggu part selanjutnya…smoga cpet jadian lah…trus ada romantis2 ya…
    Hahahahahahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s