KAJIMA – Slice #18 – FINAL — IRISH’s Story

irish-kajima-5

   KAJIMA  

  EXO`s Sehun & Luhan; OC`s Injung & Ahri

   with EXO Members  

  fantasy, drama, supranatural, life, friendship, school-life and romance story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


“Jebal… Jebal kajima…”


Reading list:

〉〉 TeaserChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7 – Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 – Chapter 13Chapter 14Chapter 15  –  Chapter 16  – Chapter 17Final Part Teaser 〈〈

CHAPTER 18

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Tidakkah seharusnya aku merasa aneh dan takut? Saat keadaan di sekolah semakin memburuk? Saat tidak ada lagi sosok Luhan yang kukenal? Berganti dengan sosok dingin, yang tidak pernah menganggapku ada.

Hebatnya, aku tidak merasa aneh, ataupun khawatir. Pemikiranku terus kuisi dengan bagaimana cara menyelamatkan para VPGN. Atau setidaknya cara untuk membuat diriku bisa berguna jika perang mereka benar-benar terjadi.

“Kau tidak perlu melakukan apapun. Cukup duduk manis dan jaga jiwa itu.”

Aku menoleh saat Sehun angkat bicara. Ia sekarang bahkan bisa dengan cuek bicara soal Jiwa di depan A-VG, dan hebatnya, hal itu berhasil membuat Luhan dan Yixing menatap tajam kami.

“Mereka benar-benar terlihat liar saat kita bicara soal Jiwa.” ledek Sehun, tampak bicara padaku, padahal aku yakin ia tidak benar-benar berniat bicara padaku.

Sehun kini duduk di hadapanku. Aku yakin ia memperhatikan raut cemberutku sekarang. Dan sebentar lagi aku yakin ia akan terta—

Benar bukan? Sekarang Sehun tertawa geli.

“Oh Sehun!” bentakku marah.

“Ekspresimu benar-benar menghibur.” aku merengut mendengar ucapannya.

“Tidak ada hal menghibur disini.” ucapku ketus.

Sehun mengacak-acak rambutku, membuatku mendelik kesal. Tapi kemudian ia diam. Aku tersadar, ia pasti mengetahui sesuatu yang salah.

“Ada apa?” tanyaku.

Sehun menggeleng.

“Tidak ada. Aku hanya merasa bersalah karena membuatmu dan Ahri jadi seperti ini.” ucap Sehun.

Aku tersenyum kaku. “Perasaan bersalah selalu muncul di akhir bukan?” ucapku berusaha mencairkan suasana.

Aku tidak pernah menyesali perkenalanku dengan VPGN disini, atau mengenal A-VG seperti Luhan. Aku tidak pernah menyesali pengorbananku untuk menjaga Jiwa ini dan terpaksa membuatku kehilangan dua orang yang aku sayangi. Tidak. Empat orang yang aku sayangi.

Nyatanya, aku yakin … hidupku akan membaik.

Gomawo, karena berpikir seperti itu Injung-ah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku melangkah pelan menuju rumah Sehun. Sendirian. Ah, memangnya aku berharap tengah berjalan dengan siapa?

Aku dan Ahri tinggal di rumah Sehun selama beberapa hari—yang penuh dengan perang dingin dan pertengkaran samar—Sehun bilang bahwa tidak aman bagiku dan Ahri untuk berada di rumah sementara Luhan dan yang lainnya sudah tahu tentang keberadaan Jiwa yang ada pada kami.

Baekhyun juga berkata begitu, karena ia tak mau kami terluka lagi. Walaupun nyatanya kami memang terluka. Luka yang mungkin akan sulit untuk di sembuhkan.

Walaupun perang ini berakhir, tidak ada tujuan lain bagi kami.

Aku dan Ahri tidak bisa hidup bersama mengingat bahwa aku ingin membangun hidupku jadi lebih baik. Dan tidak pantas bagi Ahri untuk tinggal bersama saudara sekacau aku. Meskipun ia memaksa, aku tidak yakin aku akan benar-benar membiarkannya untuk memaksa tinggal denganku.

Satu fakta lain yang sama menyedihkannya. Kami harus berpisah.

Bukan hanya aku dan Ahri.

Tapi VPGN itu juga.

Seperti yang Kai katakan. Mereka tidak bisa hidup bersama setelah kejadian ini. Walaupun aku tidak pernah tahu sedekat apa mereka, atau seperti apa masa lalu mereka. Aku rasa pasti begitu menyakitkan saat harus mengalami perpisahan seperti ini.

Apa kami nantinya akan bertemu lagi? Entahlah.

Seperti apa kehidupan kami akan berlanjut? Tidak ada yang bisa menjawabku dengan pasti. Semuanya tergantung pada apa yang nanti terjadi.

Bahkan aku tidak bisa memastikan apa semua VPGN ini akan selamat—aku tidak suka membayangkan kehilangan salah satu dari mereka—dan aku tidak ingin membayangkan hal itu.

Pikiranku selalu dipenuhi oleh hal-hal itu untuk sekarang.

Pemikiran tentang apa yang akan terjadi pada kami di masa yang akan datang. Apa kami akan hidup dengan normal, atau dipenuhi dengan kenangan masa lalu—yang dalam arti adalah apa yang akan kami hadapi sekarang—atau apa kami akan bisa hidup berbaur dengan yang lainnya, apa perang ini akan melukai kami … dan kemungkinan terburuk … apa kami akan selamat dalam perang ini?

Seperti yang aku bayangkan tadi.

Aku tidak ingin salah satu dari mereka terluka. Terutama Ahri. Saudaraku. Sebenci apapun aku pada masa laluku yang begitu kelam, aku tidak bisa membenci Ahri. Ia sama sekali tidak bersalah atas masa laluku. Dan aku tidak mau menghujaninya dengan amarah dan juga kebencianku.

Juga, aku tidak ingin ia terluka. Ia sangat berbeda denganku. Jika aku hidup dengan mempertaruhkan nyawa, Ahri hidup untuk dilindungi.

Mungkin karena kami saudara? Entahlah.

Untuk sekarang … Aku hanya berharap … Tidak satupun dari kami akan terluka nantinya. Karena perang itu … atau luka karena kehilangan.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Ahri hancur.

Kepergian ibunya, dan pembicaraan kecilnya dengan Chen tempo hari, juga keadaan yang berbalik total di sekolah, adalah alasan yang membuat Ahri hancur.

Ia tak lagi punya siapapun, selain Injung, saudara yang tak benar-benar dikenalnya. Chen tak lagi menemuinya, mengingat pemuda itu sudah tahu Ahri menyimpan ketertarikan padanya. Sekolah tak lagi jadi tempat menyenangkan, karena kemanapun Ahri pergi, ia merasa seseorang mengawasinya.

Ahri bahkan tak punya kesempatan untuk sekedar menemui Chen saat ia ingin—terutama saat ia tidak berada di sekolah—karena Injung sudah memaksanya untuk tinggal di rumah Sehun.

Ia benar-benar hancur.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Ahri, gadis itu merasa kesepian.

“Kau sudah makan, Ahri?” sebuah tanya membuyarkan lamunan Ahri.

Jika saja dibiarkan sendirian, Ahri mungkin bisa menghabiskan sepanjang hari dengan melamun di depan jendela.

Si gadis Kim akhirnya menolehkan pandang, menatap pemuda bermata bulat yang mengawasinya dari pintu.

“Aku akan makan nanti.” jawab Ahri.

Do Kyungsoo, Ahri tahu nama pemuda itu, tapi tak pernah bicara dengannya.

Selain Kai, Sehun, dan Chanyeol, Ahri tak mengenal siapapun. Meski ia menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah itu dan mengetahui tentang VPGN lebih dulu daripada Injung, tapi entah mengapa, Ahri merasa ia tidak tahu apa-apa.

“Kau tidak makan sejak kemarin, Ahri.” Kyungsoo lagi-lagi berucap.

Ahri menghela nafas panjang. Sejujurnya, ia tak lagi punya nafsu untuk makan.

“Aku tidak lapar.” lagi-lagi Ahri menolak.

“Apa kau bosan di dalam rumah?” tanya Kyungsoo membuat Ahri menatapnya beberapa saat sebelum dengan yakin menjawab, “Ya.”

Sebuah senyum akhirnya muncul di wajah Kyungsoo. Jelas sudah alasan yang membuat Ahri jadi benar-benar pendiam. Ia benci keadaan mencekam yang tercipta secara tidak langsung seperti ini.

Tidak seperti Injung yang bisa bertahan melawan keadaan apapun, Ahri adalah pribadi lembut yang lebih sensitif dan perasa.

“Mau berjalan-jalan di luar?” tawar Kyungsoo.

Senyum sumringah akhirnya Ahri berikan sebagai jawaban. Lekas, Ahri bangkit dari tempatnya sedari tadi mengunci diri, diiringi langkah mendekati Kyungsoo, ia lagi-lagi berucap.

“Apa kita boleh keluar?”

Kyungsoo mengangkat bahu acuh. “Tentu saja, aku akan menemanimu.”

“Terima kasih, Kyungsoo-ssi.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Ahri’s Eyes…

Aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara seperti apa pada Kyungsoo. Karena ia benar-benar menemaniku, meskipun yang kami lakukan sekarang hanya berjalan mengelilingi kompleks rumah Sehun, tapi entah mengapa … perasaanku jadi sedikit lebih baik.

“Apa kau bersedih karena Chanyeol?” tiba-tiba Kyungsoo bertanya.

“Apa maksudmu?”

Ia terdiam sejenak, seolah berusaha mengatur kata-kata yang akan ia ucapkan, sebelum ia melirikku. “Karena kau sebelumnya sangat dekat dengan Chanyeol, dan insiden Lee Jangmi … entah kenapa aku tak lagi melihatnya dekat denganmu.”

Apa Kyungsoo menyadarinya?

“Tentu saja, Ahri. Kau seorang yang sangat sensitif, dan lembut. Perubahan sikapmu saja sudah jadi penjelasan bahwa sesuatu tidak berjalan dengan benar.” ujar Kyungsoo menyahuti pikiranku.

“Tapi aku bahkan tidak mengeluh soal hal itu. Kau tahu, aku hanya … merasa aneh. Semuanya terjadi dengan sangat tiba-tiba, dan tidak bisa kuduga. Kedatangan Injung, kebenaran tentang kalian semua, dan … para A-VG. Semuanya jadi sangat membingungkan dalam pikiranku.”

Terdengar tawa lembut lolos dari bibir Kyungsoo, sementara pandangannya masih tertuju pada jalanan kosong di depan kami.

“Kau memikirkan semua perubahan itu, rupanya. Ternyata, meskipun kau dan Injung bersaudara, kalian hampir tak punya kemiripan.” ujarnya.

“Entahlah, mungkin karena aku dan Injung tumbuh di lingkungan yang berbeda, jadi aku dan dia punya pemikiran yang berbeda juga.” sahutku dijawab Kyungsoo dengan anggukan samar.

“Benar juga, Injung selalu berani mengambil resiko apapun. Tapi kau berpikir dengan hati-hati. Injung tak pernah memikirkan perasaan siapapun saat mengambil keputusan, tapi kau selalu memikirkan orang lain.”

“Mungkin itu juga alasan yang membuat perang ini tertunda.”

“Apa maksudmu?” kini aku menatap Kyungsoo dengan alis berkerut.

“Di mataku, Injung adalah sebuah bom perang, yang bisa meledak kapan saja jika salah seorang dari kami menarik pengamannya. Dan kurasa, sampai saat ini, alasan yang membuat Injung tidak bersikap seenaknya adalah kau, karena kau saudaranya, dan dia memikirkanmu.”

Aku terdiam, memikirkan kebenaran dibalik ucapannya yang sepenuhnya tak pernah kusadari. Apa Injung memang bersikap seperti itu karena aku? Atau memang karena semua ini adalah bagian dari rencananya?

“Beberapa, mungkin ya, bagian dari rencananya. Tapi bagian lain adalah perasaannya, yang tidak ingin melukai orang-orang di dekatnya, yang tak tahu harus mengambil keputusan seperti apa.”

“Jadi maksudmu … Injung …”

“Pada dasarnya setiap rencana yang ia ambil selalu berdasarkan pemikiran tentang apa yang mungkin bisa terjadi padamu, Ahri.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kyungsoo meninggalkanku di depan rumah Sehun, ia bilang, aku boleh memiliki waktu untuk sendirian, sementara ia akan menunggu di dalam rumah. Aku juga tak merasa begitu takut, karena setidaknya … aku berada di tempat yang aman.

“Kim Ahri.” aku mendongak saat mendengar namaku dipanggil, oleh sebuah suara yang sangat familiar dalam pendengaranku tapi entah kapan terakhir kali kudengar.

“Jongdae?”

Ya. Dia. Kim Jongdae.

“Kenapa kau ada di sini?” tanyaku, terkejut saat sadar bahwa ia tidak seharusnya ada di tempat ini, di depan persembunyian musuhnya.

Segera, aku bangkit, berdiri di hadapannya, memastikan bahwa yang berdiri di hadapanku memang benar-benar Jongdae, sebelum aku meraih lengannya dan menariknya untuk melangkah menjauh dari rumah Sehun.

“Kau tidak boleh ada di sini, Jongdae-ya. Kalau yang lain melihatmu mereka mungkin—”

“Aku merindukanmu.”

Langkahku sontak terhenti.

“Apa?” tanyaku, memandangnya, sementara ia tersenyum padaku.

“Aku merindukanmu, Kim Ahri. Beberapa hari tidak melihatmu saja sudah membuatku ingin membawamu pergi menjauh dari kekacauan ini, tapi aku tahu … kau tidak mungkin meninggalkan Chan—”

“Jongdae-ya.” potongku, terkejut pada ucapannya.

Tanpa bicara apapun, ia memandangku.

“Apa yang kau bicarakan? Kukira kau … tidak ingin aku menyukaimu.” ujarku, mengingat dengan jelas apa yang Jongdae ucapkan terakhir kali.

“Apa aku sekarang terlihat sedang mempermainkanmu?” tanyanya makin membuatku terkejut, mempermainkanku? Apa aku bicara seperti itu padanya?

“Tidak, sungguh. Aku hanya … tidak mengerti. Beberapa hari lalu kau bilang bahwa aku tak boleh menyukaimu, tapi yang sekarang kau ucapkan malah membuatku—” aku menghentikan kalimatku, enggan melanjutkannya.

“Membuatmu?” Jongdae menunggu.

“Membuatku merasa kau membiarkanku untuk menyukaimu.”

Keheningan tercipta beberapa saat, membuatku entah mengapa, merasa tidak nyaman. Ketakutanku tentang keberadaan Jongdae di tempat ini saja sudah membuatku merasa tidak nyaman, sekarang, pembicaraan kami lah yang membuatku merasa semakin tidak nyaman.

“Ahri-ah, kalau aku mengatakan semuanya padamu, apa kau akan tetap menyukaiku?”

“Apa?” kuyakini sekarang dahiku berkerut karena ucapannya.

“Jika aku … memberitahumu segalanya, tentang masa laluku, tentang rencanaku, tentang hal buruk yang sudah kulakukan padamu, apa mungkin … kau masih akan menyukaiku?”

“J-Jongdae-ah …”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Perang itu datang. Setelah satu bulan yang mencekam. Sekarang kami harus menghadapi perang itu.

“Tenanglah Ahri … Kau akan baik-baik saja.” ucap Sehun berusaha menenangkan Ahri. Sehun, Sehun yang mengucapkan hal itu. Bukan Chanyeol. Sekarang, aku semakin tidak memahami sejak kapan hubungan Chanyeol dan Ahri merenggang.

Dulu mereka sangat dekat. Tapi setelah hilangnya Jangmi, Chanyeol lebih banyak diam. Kurasa ia terluka karena lagi-lagi kehilangan orang yang ia sayangi. Tapi apa itu berarti ia harus mengabaikan Ahri juga? Tidakkah ia seharusnya lebih berfokus pada masa sekarang saja daripada berlarut-larut dalam masa lalu?

“Tidak mudah untuk melupakan seseorang dari masa lalu, kalau kau tahu.” Kyungsoo berbisik padaku, menyahuti pikiranku. “Dan perang ini pasti akan berujung pada sebuah perpisahan.”, sambung Kyungsoo lagi.

Aku tidak ingin ada perpisahan lagi … sebenarnya.

“Aku juga Injung-ah. Perpisahan adalah hal terberat dalam hidup. Aku sudah mengalaminya satu kali. Dan untuk mengalaminya lagi … rasanya aku tidak ingin. Tapi ini resiko bukan?” ucapnya membuatku tersenyum tipis.

“Benar. Ini resiko …” gumamku mengulang ucapannya.

Untuk diketahui, kami sekarang tengah terjebak. Di sekolah—yang sudah berubah menjadi medan perang tanpa adanya satu pun orang disini—dan aku yakin Luhan dan yang lainnya lah yang membuat semua ini.

“Mereka benar-benar picik.” ucap Sehun menyahuti pikiranku.

“Bukankah perang ini memang sudah harus terjadi?” ucapku.

“Benar. Tapi tidak di tempat ini. Seharusnya ia membawa saja kami ke tempat lain. Biarkan perang ini terjadi dengan alami.” ucap Sehun.

“Tidak ada tempat yang pasti untuk kita bukan? Kita hidup berpindah.” ucap Baekhyun menanggapi.

Aku duduk memeluk lutut. Ahri tampak melakukan hal yang sama, tapi ia berada di dekat pemilik Jiwa yang ada padanya. Aku yakin tiga orang itu akan melindungi Ahri.

Baekhyun menepuk punggung tanganku perlahan. Berusaha menenangkanku.

“Semuanya akan baik-baik saja Injung-ah. Kita tunggu saja permainan mereka.” ucap Baekhyun.

Kami sama-sama terkesiap saat tanah di sekitar kami bergetar. Baekhyun melemparkan pandangannya ke arah Kyungsoo. Membuat pemuda itu membulatkan matanya.

“Aku tidak melakukannya. Ini ulah mereka.” ucap Kyungsoo membuatku menyernyit bingung.

Apa yang ia maksud?

“Kekuatan seperti ini yang Kyungsoo punya Injung-ah.” ucap Baekhyun, menarikku untuk berdiri, ia menggenggam tanganku erat, sementara ia masih mengawasi keadaan di sekitarnya.

Ahri sudah aman bersama Chanyeol. Dan Sehun ada di dekatnya. Sementara aku melemparkan pandanganku ke arah gerbang. Terperangah saat melihat enam sosok A-VG itu di sana. Melangkah ke arah kami.

Cih, mereka mau melawan kita dengan sosok mutannya.” ucap Sehun.

“Kurasa tidak. A-VG tidak pernah mempunyai strategi seperti itu. Berubah menjadi mutan adalah pertahanan terakhir yang akan ia—”

Ucapan Baekhyun terhenti saat tanah di sekitar kami kembali bergetar. Kali ini lebih keras. Dan berhasil merobohkan bangunan di dekat kami.

Aku dan Ahri selamat berkat perlindungan VPGN di sini.

“Rasanya sangat tidak adil jika mereka mempermainkan kita dengan labirin.” ucap Kyungsoo, memandang bangunan baru yang sekarang ada di hadapannya.

“Apa itu?” tanyaku pada Baekhyun.

“Labirin Arena. Jika kami mau menghadapi mereka, kami harus melewati labirin itu. Karena labirin itu akan berujung di arena peperangan kami yang sebenarnya.” jawab Baekhyun, menatap kosong ke arah dinding tinggi yang sekarang berada tak jauh di depan kami.

“Kau ingat aturan Labirin Arena bukan?” ucap Kai.

“Hanya satu orang yang bisa masuk di setiap pintu labirin.” ucap Sehun.

Aku terkesiap.

“Itu artinya aku dan Ahri harus—”

“Kalian tidak masuk ke sana.” ucap Sehun.

“M-Mwo?” aku memandangnya tak mengerti.

Sehun tersenyum tipis. Bukan senyum meremehkan, atau senyum sombong yang biasa ia pamerkan. Senyumnya kali ini … seolah menggambarkan kesedihan.

“Ini bukan perang kalian … Ini perang kami.” ucap Sehun.

“Tapi—”

“Diamlah disini bersama Ahri. Jika keadaan sudah berbalik normal, atau jika ada bahaya yang mengincar kalian … larilah.” ucap Sehun.

Apa ini awal perpisahan kami? Apa setelah ini aku masih bisa bertemu dengan mereka? Bagaimana jika salah satu dari mereka menghilang?

“Kalian masih menyimpan Jiwa kami. Hanya jika mereka tidak merusak jasad kami, kalian bisa menghidupkan kami dengan sisa Jiwa yang ada pada kalian. Kalian lah yang harus selamat dalam perang ini. Injung. Ahri.”

Aku memandang Ahri. Ia sudah memucat. Tidak sanggup membayangkan hal seburuk ini akan terjadi di depan matanya.

“Kalian harus kembali.” pesanku sebelum aku melangkah mendekati Ahri.

Sehun lah yang pertama kali masuk ke dalam labirin itu. Pintu labirin yang di masuki Sehun dengan cepat menutup. Baekhyun dan Kyungsoo masuk bersamaan dari pintu yang berbeda. Dan aku merasakan nyeri di dadaku. Bukan karena Jiwa ini. Tapi karena rasa sedihku.

Chanyeol masuk terakhir kali, setelah Suho dan Kai masuk. Ia sempat memeluk Ahri beberapa saat sebelum masuk ke dalam labirin. “Jiwaku sudah tidak ada padamu Ahri-ah. Jika aku tidak kembali … Kau harus hidup dengan baik.” ucap Chanyeol sebelum ia masuk ke labirin itu.

Hanya tinggal aku dan Ahri. Berdua. Keadaan di sekitar kami benar-benar sunyi. Apa yang mungkin terjadi di dalam sana? Apa hal buruk terjadi pada mereka?

Seperti apa perang itu sebenarnya? Apa mereka akan selamat?

“Injung-ah

“Ya Ahri?”

“Apa kita benar-benar akan berdiam disini tanpa membantu mereka?” tanya Ahri, suaranya bergetar, bisa kuketahui ia takut.

Dan aku? Takut?

Tidak. Tidak ada Injung yang penakut sebelum ini. Tidak ada Injung yang menuruti perintah. Aku adalah pemberontak. Sikap yang sekarang kulakukan benar-benar bukan aku.

Kenapa aku berdiam disini? Apa yang aku pikirkan? Bukankah aku seharusnya berada bersama mereka dan memastikan bahwa mereka akan selamat? Memastikan bahwa tidak akan ada perpisahan selamanya lagi?

Bodoh! Sudah cukup aku kehilangan Appa, Eomma, Halmeoni, dan Jaekyung Unnie. Aku tidak mau lagi kehilangan salah satu orang yang berarti di hidup menyedihkanku!

“Tidak. Kita tidak bisa berdiam disini.” ucapku sambil menarik Ahri ke salah satu pintu labirin.

“Bukankah kita harus masuk sendiri?” tanya Ahri.

“Kau mau menuruti aturan bodoh itu?” ucapku, menarik lengan Ahri untuk masuk ke dalam labirin tersebut. Peraturan masuk sendiri adalah untuk VPGN. Bukan kami. Aku dan Ahri adalah manusia bukan?

Aku terkesiap saat pintu labirin di belakang kami menutup. Sekarang aku dan Ahri berada di jalur berkabut tebal. Labirin ini tidak terbuat dari rerumputan tinggi seperti yang pernah kulihat di film. Melainkan terbuat dari dinding beton. Dingin dan gelap.

Kajja” ucapku sambil menggenggam lengan Ahri, tidak akan kubiarkan ia terlepas sedetik pun.

“Kanan atau kiri?” tawarku pada Ahri.

Ia memandangku, lalu menggeleng.

“Terserah padamu Injung-ah. Aku ikut denganmu.”

“Baiklah. Kanan.” ucapku sambil menarik tangan Ahri ke arah kanan.

Kurasa aku tidak memutuskan dengan baik. Jalanan di depan kami semakin sempit dan berkabut. Bahkan aku dan Ahri tidak bisa berjalan berdampingan. Dan ini membuatku tidak bisa berhenti mengawasi Ahri.

“Kurasa … Kita harus berjalan saling memunggungi.” ucapku.

“M-Mwo?” Ahri terkesiap.

Gwenchana Jika ada bahaya, kau tinggal berteriak saja,” kataku berusaha menenangkan Ahri.

Ahri akhirnya mengangguk. Dan kami sekarang berjalan saling memunggungi. Berjaga-jaga satu sama lain. Langkah kami sama-sama terhenti di persimpangan lain.

“Kanan atau kiri?” ucapku.

“Kanan saja …” Ahri berucap pelan.

Aku memandang ke arah kanan, dan mengangguk.

“Kita tetap berjalan seperti ini.” ucapku saat kami kembali melangkah menyusuri lorong labirin pilihan kami.

Langkahku kembali terhenti saat kalung yang ada di leherku tiba-tiba bersinar begitu terang dan menyilaukan. Membuatku terkesiap. Ahri tentu tidak melihatnya, karena ia membelakangiku, dan tampaknya Ahri juga tidak tertarik untuk berbalik dan bertanya padaku tentang apa yang terjadi.

Tak lama cahaya berpendar dari kalung itu menghilang, dan samar-samar aku melihat sosok yang kukenal berjalan tak jauh di depanku. Tidak masuk akal! Ia belum berhasil keluar dari labirin ini!?

Sosok itu berbalik karena gemeresak yang di ciptakan langkahku dan Ahri. Ia tampak sama kagetnya denganku.

“Injung! Ahri! Apa yang kalian lakukan disini!?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Inikah perang menakutkan yang kau ancamkan pada kami?”

Sebuah ekspresi meremehkan Sehun pasang saat ia dan yang lainnya sampai di sebuah ruangan bernuansa abu-abu terang. Berbentuk melingkar, tanpa ada satu pun pintu. Beratap begitu tinggi. Dan tidak menampakkan jalan keluar selain dengan menghancurkan ruangan itu.

“Ruangan ini bukan ruangan sembarangan.” ucap Yixing santai sambil melangkah mendekati enam orang VPGN yang sudah tampak siaga di depan mereka.

“Santailah … Kalian tidak akan mati dengan cara menyedihkan jika saja kalian menyerahkan Jiwa kalian.” ucap Kris.

Sehun tertawa mendengus. Memandang sosok jangkung tersebut.

“Bermimpilah bahwa kalian akan bisa memusnahkan kami.” ucap Sehun tak mau kalah.

Luhan kali ini maju, tersenyum memandang ke arah Sehun. Dari cara Sehun bicara saja pemuda itu sudah tahu jika Sehun sekarang tengah ketakutan. Walaupun Luhan tidak tahu apa yang membuat pemuda itu takut, Sehun membatasi pikirannya.

“Kau jelas ketakutan … Oh Sehun.”

Sehun memandang pemuda mungil itu. Ingatannya kembali berputar pada Injung. Gadis yang sekarang tidak ia ketahui keadaannya.

“Bukankah seharusnya kau yang takut?” ucap Sehun.

Luhan menyernyit.

“Untuk apa? Aku hanya tinggal melenyapkanmu.” ucap Luhan dingin.

Sehun tertawa sinis. “Kau tidak bisa dan tidak akan mau membuatku aku terluka. Karena jika sesuatu yang buruk terjadi padaku … hal yang sama akan terjadi pada Injung.”

Luhan terperangah. Tidak hanya pemuda itu. Tapi Baekhyun, Kyungsoo, dan VPGN yang lain juga melemparkan pandangan yang sama. Tak percaya.

“Jangan bercanda. Injung akan aman … Aku akan membawanya ke tempat yang aman.” ucap Luhan penuh penekanan.

Sehun tersenyum santai.

“Aku tidak hanya menitipkan Jiwa-ku pada Injung. Kami bertukar kehidupan. Dan jika terjadi sesuatu yang buruk padaku … hal yang sama akan terjadi pada Injung. Sedikit saja kau, atau teman-temanmu melukaiku, luka yang sama akan di dapatkan oleh Injung. Sama sakitnya … dan akan melukainya.” ucap Sehun

Luhan mengkeretakkan rahangnya dengan marah. Emosi pemuda itu membuatnya menghempaskan Sehun ke tembok di belakangnya.

Akh!” Sehun merintih kesakitan.

“Jangan pernah kau berani menganca—”

“Akh Neomu appo

Luhan terhenti. Dengan jelas ia mendengar rintihan Injung di pikirannya. Pemuda itu terperangah. Memandang Sehun tak percaya. Benar-benar tidak menyangka jika ucapan pemuda itu adalah sebuah kebenaran.

Sehun berdiri, mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

“Kenapa kau diam? Tidak melemparku ke sisi tembok yang lain?” ucap Sehun menyadari perubahan emosi Luhan.

Dari yang tadinya begitu marah, sekarang berubah menjadi keraguan dan ketakutan yang sangat sarat di matanya. Luhan memandang Sehun tajam, tangan pemuda itu mengepal, sangat ingin melenyapkan Sehun saat itu juga, tapi ia tidak ingin Injung terluka.

SRAAASSSSHHH!

Perhatian mereka langsung terpecah saat Kris tersungkur. Dan jelas-jelas sekarang Chanyeol berdiri dengan api di sekujur tubuhnya.

“Kalian terlalu banyak membuang waktu. Dan kau Kris, seranganku ini masih pembukaan. Karena rasa sakit Jangmi … belum terbalaskan.” ucap Chanyeol dingin.

Luhan menepuk tangannya pelan. Menciptakan suasana yang semakin aneh di tengah-tengah keadaan mencekam itu.

“Wah. Kurasa kita sama-sama akan dapat lawan yang imbang. Kau ingin berusaha melawan Kris bukan? Park Chanyeol?” ucap Luhan.

Api kemarahan Chanyeol semakin membesar. Jelas menampakkan kebencian pemuda itu pada Kris.

“Dan kau … Byun Baekhyun.” ucap Chen, memandang ke arah Baekhyun.

“Lawanmu adalah Kyungsoo … Jongdae-ya.” ucap Baekhyun, tidak sedingin yang lainnya, nada bicara pemuda itu menyimpan sebuah kesedihan.

Chen tersenyum sinis ke arah Kyungsoo. Pemuda itu jelas tidak mengerti mengapa Baekhyun berkata bahwa dia lah lawan untuk Chen.

“Kau harus berhadapan denganku … Xiumin.” ucap Baekhyun, menunjuk ke arah Xiumin yang tengah berdiri dengan senyum tenang di wajahnya.

“Kakak yang tengah menuntut balas atas kematian adiknya huh?” ucap Xiumin remeh, membuat emosi Baekhyun seketika berubah, tatapan marah pemuda itu jelas terarah tajam pada Xiumin.

Luhan memandang satu persatu lawan nya. Lalu tersenyum sinis.

“Lalu? Apa lagi yang kita tunggu? Lebih cepat di mulai … perang ini akan lebih cepat berakhir.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Ahri’s Eyes…

Aku tidak ingin menyaksikan perang ini. Dan tidak ingin ada satu pun di antara pemuda-pemuda itu nantinya terluka. Dulu, aku mungkin tak ingin Chanyeol terluka. Tapi mengingat Jongdae juga akan terlibat dalam perang ini sungguh membuatku merasa tidak nyaman.

Dan sekarang aku tidak punya pilihan lain selain menuruti apa kata Injung. Saat ia memutuskan untuk masuk ke labirin … saat ia menentukan pilihan-pilihan pada belokan yang akan kami ambil. Saat ia memutuskan untuk berdiri saling memunggungi.

Semua yang Injung paksakan padaku, entah mengapa membuatku merasa bahwa aku harus berani. Aku harus bisa melawan rasa takutku. Sebenarnya aku sangat ingin berdiam saja, tapi aku sadar … pemikiran Injung tidak mengizinkannya untuk berdiam diri di saat keadaan berubah menjadi seperti ini.

Injung tidak bisa diam saat terjadi perang ini di depan matanya.

Ia akan berusaha menolong, walaupun mungkin ia tidak akan punya begitu banyak cara untuk menolong. Dan sekarang, aku tidak bisa untuk tidak melibatkan diriku dalam perang ini. Aku menyimpan dua buah Jiwa. Dan aku tidak bisa diam saat membayangkan salah satu pemiliknya terluka … atau mati.

Aku tidak mengerti bagaimana pikiran Injung sebenarnya, atau apa tujuannya sejak awal melibatkan diri dalam masalah ini. Dan bagaimana asalnya aku pada akhirnya aku bisa ikut terlibat dalam keadaan serumit ini.

Padahal aku bisa saja hidup dengan normal seperti gadis seumuranku yang lain.

Injung selalu memaksa kehendaknya. Dan ia selalu menang.

Injung tidak pernah berpura-pura. Dan ia selalu mendapatkan kesungguhan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Entah bagaimana kharisma itu bisa Injung miliki … tapi aku … kagum padanya. Pada keberaniannya. Pada kepintarannya … Dan pada keberuntungannya.

Langkah Injung terhenti. Mungkin kami sedang berhadapan dengan persimpangan lain. Aku diam. Menunggu Injung untuk bertanya padaku, atau mungkin ia akan memutuskannya sendiri.

“Injung! Ahri! Apa yang kalian lakukan disini!?”

Aku terkesiap. Dan berbalik. Terperangah saat melihat Sehun berdiri tak jauh dari kami. Memandang kami dengan kemarahan yang sudah sangat biasa untuk ada di wajahnya.

“S-Sehun!?” ucapku tak percaya.

Sehun berlari kecil mendatangi kami. Sementara Injung masih diam. Tunggu. Sehun belum berhasil menemukan pintu keluar labirin ini? Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Apa mereka juga masih terjebak disini?

“Kau belum berhasil keluar?” tanyaku.

Sehun tersenyum miring.

“Ya. Keadaan gelap disini sangat mengganggu. Kajja, kalian harus kupastikan berada di tempat yang aman.” ucap Sehun sambil melangkah di depan kami.

Injung berjalan dalam diam. Ia memperhatikan Sehun dari atas sampai bawah. Kurasa Injung tak percaya jika Sehun belum berhasil menembus pintu labirin. Aku juga, tapi setidaknya, dengan adanya Sehun disini, aku merasa bahwa aku dan Injung akan lebih aman.

“Tunggu disini … Aku harus pastikan tidak ada bahaya.” ucap Sehun sambil melangkah ke persimpangan sebelah kiri di hadapan kami.

Tak lama, ia kembali, dan berjalan ke arah kanan, lalu kembali lagi.

“Kurasa lewat kanan lebih aman. Ayo.” ucap Sehun.

“Kau yakin?” tanya Injung.

Ppaliwa!” ucap Sehun sedikit membentak, aku yakin ia tidak betah berlama-lama di tempat ini.

Aku sedikit heran kenapa Injung tidak banyak bicara. Apa karena ada aku disini jadi mereka merasa kaku? Atau karena Injung juga sedang berpikir tentang keselamatan yang lainnya? Sehun sekarang berada disini, ada kemungkinan jika yang lain juga masih di labirin kan?

Sehun kembali terhenti. Ia menyernyit memandang persimpangan di depan kami. Ia memandang aku sebentar, lalu melemparkan pandangan nya ke arah Injung.

“Injung-ahGidaryeo.” ucap Sehun sebelum ia melangkah ke persimpangan.

“Injung-ah. Gwenchanayo?” tanyaku pada Injung.

Ia memandangku, lalu memandang arah perginya Sehun.

Gwenchana.” jawabnya terdengar kaku.

“Kau diam saja sedari tadi.” ucapku pelan.

Injung lagi-lagi diam. Ia masih memandang ke arah labirin gelap itu. Lalu menghela nafas panjang. Entah apa yang tengah ia pikirkan, yang jelas aku merasa aneh.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Aku sangat tidak percaya jika Sehun masih berada di labirin ini. Ia cerdas. Ia bisa menemukan seribu macam ancaman untukku. Mana mungkin ia bisa terjebak di labirin ini? Bagaimana dengan yang lainnya? Baekhyun? Kyungsoo? Apa ada salah satu dari mereka yang juga terjebak disini? Atau hanya Sehun?

Tunggu. Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin jika hanya Sehun yang ada disini. Terjebak di tempat bodoh ini.

“Tunggu disini … Aku harus pastikan tidak ada bahaya …”

Aku tersadar dari lamunanku. Memandang Sehun yang berjalan ke arah persimpangan itu. Rasanya aneh … tidak biasanya Sehun ragu-ragu seperti ini.

Ia kembali, dan melangkah ke persimpangan lain. Aku menunggu sampai ia kembali. Melihat keanehan apa lagi yang akan ia lakukan.

“Kurasa lewat kanan lebih aman. Ayo.” ucap Sehun.

Sehun rasa? Ia tidak pernah seperti ini …

“Kau yakin?” tanyaku, Sehun biasanya sangat tidak suka jika aku tidak yakin padanya. Ia selalu memaksaku menurutinya.

Ppaliwa!”

Sehun membentak. Dan akhirnya aku dan Ahri mengikuti langkahnya. Setidaknya ia masih jadi pemaksa yang memaksa orang untuk menuruti pilihannya.

Kami kembali berjalan dalam diam. Tidak ada pembicaraan apapun yang rasanya menarik untuk di bicarakan dalam keadaan seperti ini. Tidak ada hal yang akan bisa mengalahkan rasa takut kami sekarang.

Sehun kembali berhenti di persimpangan lain. Apa ia akan memeriksa labirin itu lagi sekarang? Seperti yang tadi ia lakukan? Dan ia akan bilang bahwa ia merasa di sini atau mungkin di sana lebih aman, dan memaksaku juga Ahri untuk menurutinya lagi.

Ayolah. Lalu dimana perang nya akan terjadi? Aku harus memastikan bahwa semua VPGN ini selamat. Satu sisi positifnya, aku tahu Sehun bersamaku, dan selamat.

“Injung-ahGidaryeo.”

Aku terperangah. Bukan karena tebakanku benar. Tapi …

“ …Injung-ahGidaryeo …”

Kalimat itu … Kenapa … Kenapa sangat mirip?

AkhNeomu appo …” aku terduduk, rasa sangat sakit tiba-tiba menusuk punggungku.

“Injung-ah! Gwenchanayo?” ucap Ahri panik.

Aku menyentuh bibirku saat merasakan sesuatu yang lembap keluar dari bibirku, darah … Apa … Apa yang terjadi?

“Injung! Gwenchanayo?” ucap Sehun saat ia kembali.

Sehun membantuku untuk berdiri. Walaupun rasa sakit itu masih mengerambati punggungku.

Gwenchana.” ucapku pelan, berusaha memerangi rasa sakit berlebihan itu.

“Kurasa sesuatu yang buruk terjadi …” ucap Sehun pelan.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

Sehun memandangku. Lalu menggeleng pelan.

Gwenchana. Ayo, aku akan menuntunmu.” ucap Sehun sambil hendak membantu langkahku. Tapi aku menolaknya.

“Tidak apa. Aku masih bisa berjalan sendiri.” kataku sambil berdiri di sebelah Ahri. Aku tidak merasakan sesuatu yang baik.

Seperti yang tadi Sehun ucapkan. Aku juga merasa, sesuatu yang buruk tengah terjadi. Dan aku tidak yakin jika … mereka semua akan selamat.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Luhan hanya memandang diam pemuda di depannya. Sementara yang lain sibuk dengan perang mereka. Luhan sama sekali tidak berani menyerang balik sosok di depannya. Pemuda itu tahu, satu saja luka didapatkan Sehun, Injung akan dapat luka yang sama.

“Kau tidak membalasku sama sekali. Apa kau mau mati karenaku?” ucap Sehun sesaat sebelum ia menyarangkan satu serangan lagi pada Luhan.

Sementara pemuda itu mati-matian berusaha menahan dirinya untuk tidak berubah menjadi sosok mutannya. Padahal beberapa orang disana sudah berubah menjadi sosok mutan dan menyulitkan VPGN yang lain.

“Kenapa … Kenapa kau menukar hidupmu dengan Injung? Ia tidak pantas untuk ikut terluka karena Virus sepertimu.” ucap Luhan.

Sehun tersenyum tipis.

“Karena aku menyukainya. Luhan, kau pikir hanya kau saja yang bisa menyentuhnya? Kau salah. Injung jelas tidak akan sudi mengenal pembunuh sepertimu.” ucap Sehun membuat Luhan tertunduk.

Pemuda itu sangat tidak ingin kalah dengan sosok di depannya. Terutama karena Luhan sendirilah yang memilih untuk membunuh Sehun. Melenyapkan pemuda itu karena rasa cemburunya.

Satu hal yang tidak di duga Luhan, bahwa Sehun sudah bertukar kehidupan dengan Injung. Membuat perang ini menjadi sangat tidak imbang bagi Luhan.

SPLAASSSSHHH!

Luhan dengan cepat menangkis serangan dari Xiumin yang hampir mengenai Sehun. Tatapan pemuda itu jelas menampakkan betapa takutnya ia. Takut jika Injung terluka.

“Kenapa? Apa kau sekarang berbalik melindungiku? Demi Injung?” ucap Sehun.

Luhan memandang marah pemuda di hadapannya.

“Kau pengecut Oh Sehun! Menggunakan nyawa seorang gadis untuk menjadi tamengmu! Kau pikir itu bukan hal memalukan!?” teriak Luhan marah.

“Untuk apa aku malu? Akulah yang akan bersama dengan Injung. Bukan kau.” ucap Sehun kembali membuat api kemarahan Luhan memuncak, dan tanpa sadar melemparkan Sehun ke tembok.

“Tidak! Maaf! Maaf … Maaf Injung-ah …” Luhan segera menahan tangannya. Pemuda itu sekarang gemetar ketakutan.

“…Akh … Apa yang sebenarnya terjadi? Sakit … Rasa sakit ini seperti ingin membunuhku …”

“Tidak … Injung … Kau tidak boleh terluka …” Luhan menggenggam erat jemarinya, menahan rasa bersalahnya yang sangat sarat ketika ia tahu tindakannya kembali melukai Injung.

Sementara itu Sehun tersenyum sinis, berdiri. Melangkah mendekati Luhan yang masih berusaha berbaur dengan rasa bersalahnya.

“Kenapa? Kau merasa bersalah karena lagi-lagi melukai Injung? Ah … Akan sangat menarik jika Injung disini … Melihat bagaimana kau  melukainya.” ucap Sehun membuat Luhan terhuyung mundur menjauhi pemuda itu.

“Tidak. Kau licik Oh Sehun! Kau licik!”

“Aku tidak licik. Aku menggunakan strategi.” ucap Sehun.

Luhan tertawa mendengus.

“Dengan menjadikan nyawa Injung sebagai ancaman? Apa bagimu nyawa Injung adalah permainan!? Kau pikir nyawamu lebih berharga daripada nyawanya!? Kau hanya Virus yang harus di lenyapkan!” teriak Luhan.

“Lenyapkan saja aku. Dan Injung akan lenyap bersamaku. Membuatmu hidup selamanya dengan rasa bersalah. Kau mencintainya bukan, Luhan?” ucap Sehun.

Luhan tersentak.

Tak percaya jika Sehun dengan jelas bisa melihat perasaannya pada Injung. Yang bahkan tidak berani Luhan ungkapkan pada gadis itu.

“Kau harus lenyap Oh Sehun. Aku yakin kau bisa di lenyapkan tanpa melukai Injung …” ucap Luhan dingin.

Sehun tersenyum sinis.

“Rupanya, kau masih tidak tahu posisimu.”

Luhan terkesiap. Sadar bahwa Sehun tidak hanya menyiapkan satu ancaman untuknya. Tapi lebih. Dan hal itu sama sekali tidak pernah Luhan berhasil curi-dengar dari pikiran Sehun. Entah bagaimana cara pemuda itu melindungi pikirannya.

“Oh Sehun … Kau … Rencana apa lagi yang kau pikirkan …”

SRAASSSSHHH!!

Tubuh Luhan berhasil menabrak tembok di belakangnya saat Sehun menghempaskan pemuda itu.

“Kau pikir rencana busukmu akan cukup untuk melawan kami? Kuperingatkan kau Luhan … Jika ada satu saja dari VPGN disini mati … Kau akan sangat menyesal …” ucap Sehun.

Luhan menatap tajam pemuda itu.

“Apa maksudmu?”

“Kau ingin aku mati bukan? Jika teman-temanmu berhasil membunuh VPGN ini … Aku juga akan ikut mati bersama mereka … dan membawa serta Injung … Cara yang pintar bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Aku tidak berpikir jika Sehun bisa tersesat di labirin melihat bagaimana ia bisa membawa kami dengan rasa yakin, dan nyatanya kami bisa sampai di tempat-tempat yang lebih baik—dan membuatku setidaknya bisa merasa aman.

“Tunggu aku oh? Aku akan kembali …”

Walaupun berulang kali aku dan Ahri harus merasa takut saat Sehun memeriksa keadaan di persimpangan. Tapi kurasa, ada hal aneh pada Sehun yang lebih mengusik ku. Membuat Sehun tidak terlihat seperti dirinya.

Sehun kembali, dan kali ini untuk pertama kalinya dengan wajah yakin.

“Ayo,” ucap Sehun.

Ia tidak memeriksa keadaan persimpangan lain. Dan rasanya aneh …

Aku dan Ahri mengikuti langkah Sehun. Kami terhenti di sebuah pintu. Menampakkan lapangan sekolah.

“Ayo keluar, kita sudah aman …” ucap Sehun.

DEG!

Aku segera menahan langkah Ahri. Membuatnya memandangku bingung.

“Kau bilang kita sudah aman? Kau tidak memikirkan yang lainnya?” ucapku.

“Yang lainnya mungkin sudah aman juga,” ucap Sehun.

Aku tersenyum sinis.

“Ini bukan kau Oh Sehun … Sehun tidak pernah ragu saat bertindak … Sehun adalah seorang yang selalu memerintahku untuk mengikutinya.” ucapku.

Sehun menyernyit.

“Apa maksudmu Injung-ah?”

“Caramu bicara … Aku tahu kau bukan Sehun. Karena satu-satunya orang yang selalu menyuruhku menunggu … adalah Luhan. Kau adalah Luhan. Benar kan?” ucapku

Cahaya menyilaukan muncul dari kalung yang ada di leherku. Aku tidak yakin apa Ahri melihatnya mengingat ia hanya bisa memandang terperangah ke arah Sehun dan Aku. Tidak mengerti arah pembicaraan kami.

Aku terkesiap saat sosok Sehun di hadapanku benar-benar berubah. Dia Luhan. Seperti dugaanku. Dia benar-benar Luhan.

“Ikutlah denganku Injung, aku akan pastikan kau selamat.” ucap Luhan. Aku mengeratkan peganganku pada Ahri. Lalu menggeleng kuat-kuat pada Luhan.

“Aku tidak akan berdiam disini sementara nyawa orang-orang yang kusayangi sedang terancam … Jangan mengusikku. Aku tidak membutuhkanmu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Apa kau pikir kau akan bisa mengalahkanku?”

Baekhyun memandang tajam pemuda di depannya yang sudah siap dengan perisai es. Kekuatan Baekhyun jelas tidak bisa mengimbangi kekuatan pemuda itu. Tapi kebencian di dalam diri Baekhyun meyakinkan pemuda itu jika ia akan berhasil membunuh Xiumin yang sekarang berdiri di hadapannya.

“Aku harus memastikan kau mati … Agar adikku bisa tenang …” ucap Baekhyun dingin, sementara Xiumin menimpalinya dengan tawa meledek.

“Kau pikir adikmu yang lemah itu akan senang? Hah. Kau hidup selama ini hanya dengan kenangan sebodoh itu?” ucap Xiumin enteng.

Baekhyun dengan segera menyerang pemuda itu, hanya berbekal kekuatan tubuhnya. Dan tentu saja dengan mudah Xiumin menangkis serangan pemuda itu. Membuat Baekhyun meringis saat es tajam Xiumin berhasil menembus kulitnya.

“Wah. Sayang sekali Virus kita bisa berdarah.” ucap Xiumin meledek, melangkah mendekati Baekhyun.

“Byun Baekhyun, apa kau tidak tertarik untuk tahu apa yang terjadi di akhir hidup adikmu?” ucap Xiumin.

Baekhyun menatap tajam pemuda itu. Nada bicara Xiumin yang begitu tenang jelas membuat Baekhyun semakin marah.

“Waktu itu … salju sebenarnya tidak turun, dan gadis lemah itu bersama dengan Kyungsoo.”

BUGK!

SRAASSSHHH!

Xiumin mengusap tepi bibirnya yang berdarah karena pukulan dadakan Baekhyun. Pemuda itu meludah dengan kasar.

Hah! Sepertinya cerita ini akan jadi dongeng kematianmu. Kau tahu apa yang terjadi setelah itu Byun Baekhyun? Adikmu … menangis saat Kyungsoo pergi. Pemuda bodoh itu jelas tidak tahu. Apa kau tahu apa yang adikmu tangisi?” ucap Xiumin saat ia menyarangkan puluhan pecahan es di tubuh Baekhyun.

Aakkhhh!”

Baekhyun berteriak kesakitan. Bukan hanya pada tubuhnya, tapi juga batin pemuda itu. Jelas ia sangat benci fakta bahwa ia bahkan tidak sanggup melawan Xiumin yang sudah membunuh adiknya.

“Adikmu menangis … Berkata bahwa ia ingin mati dan menyusulmu.” ucap Xiumin membuat Baekhyun memandangnya tak percaya.

“Kau jelas membunuhnya!” teriak Baekhyun.

Xiumin tertawa hambar. Lalu ia menepuk kasar pipi Baekhyun.

“Kau pikir aku jahat? Aku adalah orang baik. Sesaat setelah adikmu berkata seperti itu, aku menurunkan suhu di sana, membuatnya mati membeku. Ta-da! Keinginannya terwujud!” ucap Xiumin

Baekhyun lagi-lagi berusaha melawan Xiumin, tapi puluhan pisau es tajam kembali menyerang pemuda itu.

“Sayang sekali waktu itu ia tidak bertemu denganmu karena kau sudah jadi Virus seperti ini. Kurasa … sekarang ia akan senang. Kakaknya akan menyusulnya di neraka. Kau harus tersenyum Byun Baekhyun, aku akan mengirimmu untuk bertemu adikmu.”

SRAASSHHH!

Xiumin tersenyum tipis saat melihat sosok Baekhyun tersungkur tidak berdaya di tanah kosong di bawahnya.

“Aku … akan membalasmu, Xiumin.”

“Kau seharusnya mengucapkan selamat tinggal, Byun Baekhyun.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Orang selicik kau sudah seharusnya mati Park Chanyeol.”

“Licik? Bukankah kau tengah mengatakan hal itu pada dirimu sendiri?” balas Chanyeol dengan nada dingin.

Kris tertawa sinis.

“Aku bukanlah seorang yang licik. Aku tidak sepertimu. Yang menipu perasaanku hanya untuk melupakan orang yang aku sayangi di masa lalu.” ucap Kris sontak berhasil membuat Chanyeol terpaku.

Melihat ekspresi itu, Kris kembali tertawa.

“Benar bukan? Kau adalah orang licik yang berpura-pura mencintai manusia lain, padahal pikiranmu masih di penuhi oleh gadis itu. Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri?”

SRAASSHH!

Kris meringis saat api Chanyeol berhasil melukainya.

“Kau membunuhnya! Kau membunuh Jangmi!” teriak Chanyeol, tidak hentinya menyarangkan api di tubuh Kris.

Sementara pemuda itu berusaha untuk bangkit, masih tidak puas untuk mengungkit masa lalu Chanyeol.

“Bukankah kau yang membuatnya terbunuh? Jika kau tidak masuk ke kehidupannya, dia mungkin tidak akan mati dengan cara menyedihkan!” teriak Kris sontak membuat Chanyeol kembali menyarangkan api kemarahan nya pada pemuda itu

“Jangan bicara lagi!” teriak Chanyeol sebelum ia mengeluarkan api yang begitu besar, dan membuat Kris membelalak.

“Sial!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau tahu kenapa kau harus melawanku?”

Kyungsoo memandang diam pemuda di depannya.

“Karena kau dulu pernah disukai oleh Injung, benar bukan?”

Chen tersenyum.

“Benar. Kukira kau akan sebodoh dulu … Ternyata tidak.” ucap Chen

Kyungsoo tersenyum miris. “Aku tidak tahu jika kau sejahat ini Jongdae-ya …”

Chen berdecak pelan.

“Kau ini selalu jadi orang bodoh. Itulah kenapa kau sangat tidak pantas untuk bersama dengan Injung. Gadis seperti dia, tidak pantas untuk bersama pemuda bodoh.” ucap Chen, namun tak berhasil memancing emosi pemuda di depannya.

“Jika kau pikir kau pantas bersamanya, kau tidak seharusnya diam saat melihatnya terbunuh.” ucap Kyungsoo tenang.

“Untuk apa? Jika aku menyelamatkannya, kau akan tetap jadi parasit dalam hidupnya.” ucap Chen.

Kyungsoo menggeleng pelan.

“Setiap hari Injung selalu memikirkanmu. Mencarimu. Kau pasti tidak tahu tentang hal itu bukan?” ucap Kyungsoo membuat Chen kali ini terdiam.

Bayangan seorang gadis kekanak-kanakkan yang selalu memandangnya dengan wajah merengut sekarang berputar di ingatan Chen. Gadis yang sangat di sayanginya, tapi juga gadis yang merupakan adik dari musuh yang harus ia lenyapkan.

“Jangan berusaha mengalihkan pikiranku!” ucap Chen kasar.

“Aku tidak sedang berusaha mengalihkanmu. Aku hanya memberitahumu. Selama ini kau tidak tahu tentang hal itu kan? Injung sangat merindukanmu di saat itu. Ia tahu kau berbeda … ia tahu kau membenciku. Tapi ia masih mencarimu. Tidakkah kau lihat, siapa di antara kita yang lebih berarti bagi Injung?”

Chen tanpa sadar gemetar. Takut. Tidak menyangka jika ia akan mendapatkan serangan semenyakitkan ini di saat ia sudah akan melenyapkan musuhnya.

“Kau akan tetap kubunuh meskipun kau bercerita seperti ini.” ucap Chen berusaha terdengar dingin. Kyungsoo tahu benar nada kesedihan di ucapan Chen. Bahkan pemuda itu juga sebenarnya sama terlukanya seperti Chen.

“Kita menyayangi orang yang sama Jongdae-ya. Tapi kenapa kau malah membunuhnya? Kenapa kau melukainya? Kau tidak menyesal karena hal itu? Kau pasti tidak pernah melihat isi kamar Injung bukan? Semua benda darimu … ada disana.”

Chen tertawa kaku.

“Kau sedang bercerita tentang penderitaanmu?” ucap Chen.

“Bukankah kau yang sekarang menderita? Aku tahu kau sangat merindukannya. Aku tahu kau lah yang paling terluka saat Injung tidak ada. Aku tahu … kau bukan orang jahat Jongdae-ya.”

“Tidak! Hentikan semua ucapanmu!”

“Apa kau sekarang takut, Kim Jongdae? Karena rasa bersalahmu? Karena rasa rindumu pada Injung?”

Chen terduduk. Tanpa sadar butiran bening keluar dari pelupuk matanya. Ia dan Kyungsoo sama-sama tersakiti oleh satu gadis yang sama. Tapi rasa sakit itu seolah tercipta oleh hal berbeda.

“Kau berbohong. Kau berbohong padaku.” ucap Chen, menatap nanar pemuda di depannya. Kyungsoo melangkah pelan mendekati Chen. Meletakkan sebuah perahu kertas kecil yang sudah tampak sangat lusuh di telapak tangan Chen.

“Kalian sering membuatnya bersama bukan? Dan ini adalah perahu pertama yang kau buatkan untuk Injung. Aku menyimpannya, karena aku tahu … kau pasti sadar.” ucap Kyungsoo.

Chen memandang perahu kertas lusuh di tangannya. Air matanya bahkan berhasil membasahi kertas itu. Ia memandang Kyungsoo.

“Aku tahu kekuatanmu Kyungsoo. Hancurkan kami … Biarkan aku menemui Injung.”

Kyungsoo terdiam sejenak. Ya, memang, kekuatan yang ia miliki bisa dengan mudah menghancurkan segalanya. Tanpa bicara apapun, Kyungsoo lantas berdiri, hendak melangkah meninggalkan Chen saat pemuda itu lagi-lagi bicara.

“Kim Ahri.” ujarnya membuat Kyungsoo terhenti.

“Apa?”

Chen menatap sekitarnya, memastikan semua orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing saat ia akhirnya kembali berucap.

“Dibandingkan dengan Lee Injung yang hanya memiliki nama juga fisik yang sama dengan Byun Injung, Kim Ahri … adalah cerminan Byun Injung.”

“Apa maksudmu?” tanya Kyungsoo tak mengerti.

“Aku sudah mencari tahu, tanpa sepengetahuan temanku yang lain.” Chen lagi-lagi berucap, diusapnya air mata yang membasahi wajahnya.

“Kau tidak pernah bicara dengannya? Dia adalah Byun Injung yang terlahir kembali ke dunia ini, Kyungsoo-ya.” tutur Chen membuat Kyungsoo tersentak.

Sekarang, semuanya terlihat jelas. Bagaimana seorang Lee Injung memiliki fisik yang sama persis dengan Byun Injung, dan bagaimana Chen mengatakan bahwa Kim Ahri memiliki perangai yang sama persis seperti Byun Injung.

“Dulu … Injung tidak hanya mati karena serangan Xiumin bukan?” tanya Kyungsoo dijawab Chen dengan sebuah senyuman.

“Ada alasan yang membuatku tidak bisa berbuat apapun selain menyaksikan kematiannya. Ada juga alasan yang membuatku memilih terus bersama dengan A-VG. Alasan yang juga membuat, Byun Baekhyun jadi seorang VPGN yang berbeda.”

Kyungsoo terdiam. Ya, tentu. Dia tentu ingat bahwa Chen bukan seorang tolol yang begitu saja mengubah perangainya hanya karena kecemburuan. Jauh, di dalam hati Kyungsoo, ia masih percaya bahwa Chen adalah sosok hangat yang tak bisa dikalahkannya.

“Jika kau selamat dari perang ini, temukan dua gadis itu. Mereka adalah jawaban untuk mengakhiri semua mimpi buruk dan kehidupan mengerikan kita …” Chen menghentikan kalimatnya sejenak, untuk tersenyum pilu sebelum ia menatap Kyungsoo lagi.

“Dan tolong, jaga Ahri, untukku.”

Kyungsoo mengerjap cepat. Sebuah fakta tak kasat mata baru saja terucap dari bibir Chen. Hal yang bahkan tak pernah diduganya akan terjadi.

“Jongdae-ya … Mungkinkah kau … dan gadis itu …”

“Aku jatuh cinta padanya, Kyungsoo. Sudah kukatakan ia adalah cerminan Injung yang sama-sama kita cintai bukan? Itulah mengapa, jaga dia, jika aku nanti tidak ada. Aku tahu, kau bisa jatuh cinta padanya seperti pada Injung dulu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Aku berlari. Terus berlari bersama Ahri. Tidak peduli pada pertanyaan yang terus Ahri cecarkan padaku. Tidak peduli apa Luhan mengikuti kami atau tidak.

Aku terus berlari mengikuti jalur acak yang ada di depanku. Berharap jalur ini akan berujung pada suatu tempat … yang jauh lebih aman dan—

Tunggu. Labirin ini berujung.

Aaakkhhh!!”

Aku terpaku saat rasa sakit kembali menusukku. Jauh lebih menyakitkan daripada yang sebelumnya.

Akh … Apa yang sebenarnya terjadi? Sakit … Rasa sakit ini seperti ingin membunuhku …”

Ahri berjongkok di dekatku dengan raut sangat khawatir.

“Injung-ahGwenchanayo?” suara Ahri bergetar menahan tangis. Aku mengangguk. Masih berusaha menetralisir rasa sakit itu.

Ahri membantuku untuk berdiri, dan ia menuntun langkahku. Sekarang kami berjalan menuju ujung aneh dari labirin ini.

“Itu mereka …”

Aku membuka mataku saat mendengar suara Ahri. Dan rasanya semua rasa sakit di tubuhku beberapa saat lalu langsung hilang begitu melihat mereka semua ada disana.

Aku tidak yakin berapa lama aku dan Ahri sudah tertinggal. Yang jelas … mereka benar-benar berperang.

“Baekhyun!” tanpa sadar aku berteriak saat melihat tubuh Baekhyun penuh darah di tanah.

Tidak … Tidak … Tidak boleh …

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Injung berlari ke arah Baekhyun. Dan teriakan gadis itu berhasil membuyarkan konsentrasi Luhan, membuat Luhan terlempar ke tembok untuk ke sekian kalinya.

“Oh Sehun!” teriak Luhan marah dan menghempaskan Sehun ke sisa es Xiumin

Efeknya? Tentu saja seperti yang terjadi sebelumnya. Luka yang terjadi pada Sehun, akan terjadi pada Injung.

Aakkhh!”

Luhan terkesiap saat ia melihat darah mengalir keluar dari lengan Injung. Sama persis seperti keadaan Sehun.

“Apa yang … terjadi?” Injung menatap Sehun dan Luhan bergiliran, sangat tak percaya. Sehun berusaha untuk bangkit, lalu melangkah ringan ke arah Luhan yang kini terhuyung mundur. Takut.

“Seharusnya kau sedikit membaca tentang Jiwa kami. Jika aku terluka parah … Jika Injung mengembalikan Jiwaku. Jiwa itu akan meminta satu nyawa pengganti untuk menggantikan hidupku.” ucap Sehun santai, sementara ia sekarang melemparkan Luhan ke sisa es milik Xiumin, membuat Luhan mendapatkan luka yang sama dengannya.

“Jiwa ini menyerap kehidupan orang yang sangat dekat dengan Inangnya. Dan mungkin saja … kau masuk dalam hitungan salah satu orang yang sangat dekat dengan Injung bukan?” ucap Sehun.

Luhan tersentak. Semuanya tampak sangat jelas bagi pemuda itu sekarang. Kematian nenek Injung, dan Jaekyung. Dan pemuda itu merutuki dirinya sendiri karena tidak tahu tentang hal itu lebih cepat.

SRAAASSSHHHH!!

Aaaakkhh!!”

Ugh!”

“Xiumin!”

Luhan berteriak dengan marah. Ia melemparkan Xiumin ke tembok. Membuat pemuda itu terluka.

“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan!?” teriak Luhan.

“Tentu saja melenyapkan Virus itu.” sahut Xiumin enteng.

“Kau sedang mencoba untuk membunuh Injung!” teriak Luhan, ia melemparkan pandangan nya ke arah Injung yang sekarang bersimbah darah.

“Tidak! Injung …” Luhan melepaskan cekalannya pada Xiumin.

Hah! Nyawa manusia itu tidak berarti, Luhan.” ucap Xiumin membuat Luhan berbalik. Menatapnya dengan penuh kemarahan.

“Nyawa Injung jauh lebih berarti dari apapun yang ada di dunia ini.” ucap Luhan dingin sebelum ia berbalik, tapi pemuda itu kembali terpaku. Injung tengah berusaha mencapai Sehun, dengan sisa-sisa kekuatan yang gadis itu miliki. Padahal dua orang itu sama-sama kesakitan.

“Aku harus kembalikan Jiwamu …” ucap Injung, melepaskan kalungnya. Membiarkan cahaya berpendar halus keluar dari kalung itu.

“Tidak! Tidak Injung!” Luhan berteriak, tapi tentu saja Sehun melemparkannya untuk menjauh. Tubuh Sehun berangsur pulih saat Jiwanya kembali. Begitu juga dengan keadaan Injung. Luka di tubuh gadis itu sudah tidak mengirimkan rasa sakit ke sekujur tubuhnya.

Akh …” kali ini Luhan yang tersungkur, rasa sakit akibat lemparan Sehun berefek terlalu menyakitkan baginya.

“Injung-ah …” ucap Sehun.

“Ya?”

“Apa kau ingat tentang Jiwa itu?”

“Yang menghisap nyawa orang yang dekat denganku?” ucap Injung.

“Ya …” Sehun berucap pelan.

“Aku mengingatnya … Wae geurae?”

Sehun memandang ke arah Luhan yang sekarang tengah merintih kesakitan.

“Tidakkah kau pikir … nyawa Luhan yang sekarang tengah di renggut untuk menggantikan hidupku?” ucap Sehun membuat Injung terbelalak. Gadis itu memandang Luhan, segera, membuatnya tertatih-tatih menghampiri Luhan.

“Luhan! Andwae!”

Luhan mendongak, tersenyum kaku pada gadis itu.

“Injung-ah … Kau ada disini …” ucap Luhan pelan, tangannya berusaha mencapai Injung, menggenggam lembut tangan gadis itu sementara sang gadis kini tersedu-sedu.

Belum selesai Injung dengan keterkejutannya, ia sudah kembali dikejutkan oleh getaran hebat di tempatnya sekarang berada. Gadis itu memandang sekitarnya, dan terperangah saat sadar … kekuatan Kyungsoo berhasil membuat A-VG lain ambruk.

Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya, menatap Luhan.

Andwae … Luhan-ah … Kau tidak boleh mati … Kau tidak boleh mati …” Injung terisak, tidak menyangka jika hidup Luhan lah yang akan terenggut.

“Injung-ah … Aku sangat menyayangimu … Sejak kau kecil … Sampai sekarang … Aku sangat sayang padamu …”

Injung tidak sanggup berkata apapun. Gadis itu masih menangis. Tidak pernah, dalam beberapa bulan ini Injung merasa begitu menginginkan Luhan, dan sekarang, di saat pemuda itu meregang nyawa di hadapannya, Injung merasakan sebuah kesedihan yang sungguh menyiksanya.

“Aku sangat senang karena kau disini … Untuk kedua kalinya … Kau ada di detik-detik terakhir hidupku …”

“A-Apa?” suara Injung bergetar hebat saat ia berucap.

Luhan tersenyum tipis. “Aku sangat membencimu dulu. Karena kau … aku mati. Saat itu … Aku berteman dengamu … karena ingin membalas rasa benciku. Tapi … kau malah membuatku menyayangimu. Menyayangimu lebih dari apapun …” ucap Luhan pelan, tangan pemuda itu berusaha meraih wajah Injung, mengusap air mata di wajah gadis itu.

“Jadi … kejadian itu … kau …”

Luhan tersenyum.

“Ya … Itu aku Injung-ah. Dulu … Aku mati karenamu. Dan sekarang … Aku juga mati karenamu. Aku … memang tidak di izinkan untuk bersamamu Injung-ah.” Luhan menutup matanya, berusaha bernafas dengan sisa-sisa kekuatannya.

Jebal … Kajima … Luhan-ahKajima …”

Luhan memandang Injung. Tatapan yang selama ini sangat Injung rindukan, tatapan dari Luhan yang selalu mengisi relung kerinduan di hati gadis itu, perlahan kembali.

“Kau berucap … seperti aku di hari itu … Uljima Injung-ah … Pergilah. Mereka sudah menunggumu. Kau harus hidup dengan baik.”

Injung merasakan tangan di bahunya, tapi gadis itu masih enggan beranjak.

“Kumohon, pergilah …”

Injung mengusap wajah Luhan, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang di derita pemuda itu. Sebuah kecupan Injung sarangkan di bibir Luhan yang sudah penuh darah, sementara sekuat tenaga ia berusaha menghapus kesedihan yang membelenggu batinnya.

“Apa aku … harus menunggumu?” ucap Injung pelan, dan hanya di jawab Luhan dengan senyuman tipis.

“Aku akan kembali … Injung-ah. Gidaryeo …”

FIN

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

HEYHO~ BERJUMPA DI CHAPTER TERAKHIR KAJIMA YANG BEGITU PANJANG LEBAR DAN MENGGANTUNG DAN PENUH PERTANYAAN.

Well, aku sangat-sangat meminta maaf karena kemoloran publish ini, semuanya terjadi karena sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba sekitar jam sembilan malam kemarin, yang membuat diri ini baru sadarkan diri jam segini, LOL.

Maaf ya, maaf.

Dan juga, seharusnya chapter ini bisa lebih panjang lagi, tapi karena aku merasa tanggung, jadi … kembali aku menyuguhkan sebuah kuis! Hadiahnya juga lumayan menghibur, LOLOLOL.

TEKA-TEKINYA:

APAKAH JUDUL SEASON II KAJIMA?

CARA MENCARI:

CARILAH KATA DI GAMBAR YANG ADA DI BAWAH SECARA HORIZONTAL DAN VERTIKAL.

teka teki

CLUE:

JUDUL SEASON II TERDIRI DARI SATU KATA, BERBAHASA KOREA.

Kalau yang menebak benar lebih dari lima orang, aku akan publish sebuah BONUS STORY di tanggal 3 Juli 2016 berisikan kisah setelah perang dan ehem, kisah terpotong yang sengaja kuskip di atas sana (ituloh yang dari Ahri ketemu Chen, terus tetiba perang), sama ada part ehem antara Sehun-Injung juga sih sebenernya.

Gimana? Menggiurkan? Enggak? Ya sudah gak usah menebak.

Oho! Siapakah lima orang hebat yang berhasil menemukan judul keduanya?

Sekian, see you in the next story, guys!

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

313 thoughts on “KAJIMA – Slice #18 – FINAL — IRISH’s Story

  1. Hey kak Irish. Kayaknya aku yang paling telat komen ya? hehe. Aku baru bikin WP baru soalnya yang dulu aku lupa sandinya. Dan lagi nyari2 ff yang bagus juga.
    Jahat banget kan. Dari awal Chapter sampe akhir Chapter baru komen sekarang. Tapi btw dunia imajinasinya luas banget. Dapet ide darimana coba. G double O D J O B dah pokoknya.. 😁😁😁
    Tapi momen Sehun-Injungnya mana??? Dikit banget. Dan gak ada adegan romantisnya. Ada sih. Satu tapikan? Dua? Atau tiga? Pokoknya bisa dihitunglah. Pokoknya. KURANG BANYAKKK….

  2. Hey kak Irish. Kayaknya aku yang paling telat komen ya? hehe. Aku baru bikin WP baru soalnya yang dulu aku lupa sandinya. Jahat banget kan. Dari awal Chapter sampe akhir Chapter baru komen sekarang. Tapi btw dunia imajinasinya luas banget. Dapet ide darimana coba. G double O D J O B dah pokoknya.. 😁😁😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s