[Vignette] Not Perfect

not perfect

 

Not Perfect

Presented by Honeybutter26

Chanyeol x Dasom [OC]

Sad Romance

PG -17

Vignette

Soundtrack : Sistar – I Like That (dengerin aja.. insyaallah nyambung)

“Segalanya begitu sempurna, sampai ketika kamu katakan aku tidak sempurna.” [from Andrei Aksana – Mencintaimu, Pagi, Siang, Malam]

 

Dasom pikir porsi dalam mencinta itu hanya omong kosong saja. Ia selalu tahu bahwa dua pihak dalam satu hubungan mempunyai porsi yang sama dalam mencinta. Sebut saja perbandingannya limapuluh dan limapuluh. Atau mungkin katakan enampuluh dan empatpuluh. Dimana perbedaan itu tak terlalu mencolok.

Yang Dasom rasakan selama ini mereka seperti sepasang tangan yang saling menguatkan, menghapus air mata, menyeka keringat, atau seperti kombinasi roti dan selai stroberi. Nyatanya mereka hanya sepasang sepatu, yang berdampingan tapi tak pernah bersatu. Bukan minyak dan air melainkan soda dan susu, enak di lidah namun merusak organ.

Ia sungguh tak menyangka bahwa Chanyeol, pria yang selama ini ia percaya mencintainya dengan tulus ternyata hanya satu dari sekian spesies brengsek yang suka memberi harapan palsu pada wanita. Belaiannya yang selembut beludru, kata cintanya yang semanis madu, dan senyumnya yang seindah rekahan kelopak mawar itu ternyata bukan hanya Dasom yang mendapatkan.

Hari itu akhirnya Dasom sadar betapa bedebahnya seorang Park Chanyeol. Di usia hubungan mereka yang menginjak bulan kelima, Dasom diberi hadiah pisau tajam untuk menyayat nadinya. Park-brengsek-Chanyeol dan seorang wanita China dengan umur jauh di atas mereka bercumbu di kamar yang berseberangan dengan kamar apartemen mereka.

Pantas saja, ia merasa dingin meski ada Chanyeol di sisi. Ia merasa sepi meski pesan Chanyeol selalu membuat ponselnya berdering. Matanya memanas seketika, betapa menyakitkan kala setiap rengkuhan hangat kedua lengan Chanyeol pada wanita itu menjadi pedang yang menebas lehernya hingga hampir putus. Saat Chanyeol memberikan kecupan kupu-kupu di leher yang membuat si wanita China itu mengerang, Dasom merasakan paku menembus melalui pori kulitnya.

Sakit dan perih.

“Sialan kau, Park Chanyeol!”

***

Move on.

Dua kata yang mudah diucap sulit untuk direalisasikan. Kenyataan bahwa Dasom memberi porsi terlalu banyak pada hubungan mereka membuat ia merasa dijatuhkan dari ketinggian. Genap satu bulan sudah mereka berpisah. Namun bayang seorang Park Chanyeol tiada henti mengikuti setiap langkahnya.

“Oh, Ya Tuhan! Apa salahku? Kenapa aku harus merasa tersakiti sebegini banyak oleh si brengsek itu?”

Membuang semua potret mesrah bersama, barang-barang couple, boneka, atau hadiah lain yang mengingatkanmu pada dia yang sudah menjadi mantan kekasihmu adalah hal terbaik –katanya- dalam memulai ritual let’s move on.

Past is just a past, future must be brighter.

Dasom rapalkan kalimat itu berkali-kali dalam sanubari. Berharap mendapat kekuatan untuk menghancurkan semua kenangan alih-alih sebuah realita bahwa api tak pernah bisa membakar kenangan itu.

Kini dia hanya bisa menatap sendu semua barang yang berhubungan dengan Chanyeol yang teronggok di hadapannya dengan keadaan setengah hangus. Memikirkan Chanyeol selalu membuat satu sudut dalam dirinya meraung nestapa. Teriakkan pilu dari dalamnya luka yang koyak oleh sembilu.

“Kupikir … kupikir setidaknya jarak kita seperti langit dengan nirwana. Tidak apa jika kenyataannya aku mengambil lebih banyak bagian untuk mencintai, untuk berkorban dan menunggu. Itu tidak mengapa asal jarak kita sebatas itu. Bukan seperti surga dan neraka. Kenapa, Chanyeol? Kenapa cintamu harus menjadi neraka yang jahat sekaligus indah seperti ini?”

***

Tiga hari setelah kejadian itu akhirnya Chanyeol pulang ke apartemen mereka. Dengan senyum yang merekah seperti mawar, Chanyeol hampiri Dasom dan merangkulnya dengan hangat.

 

Hangat ya?

 

Biasanya memang seperti itu, lalu kenapa sekarang Dasom hanya merasakan dingin? Karenanya Dasom tepis lengan Chanyeol dan memilih memalingkan wajah.

 

“Ada apa? Sesuatu terjadi?” tanya Chanyeol. Seperti biasanya pula, nada berat nan dalam itu menjatuhkan Dasom pada perasaan nyaman. Tapi sedetik kemudian ia tepis perasaan itu jauh-jauh. Kembali pada pertanyaan Chanyeol tentang sesuatu yang terjadi di antara mereka, Dasom butuh kejelasan.

 

“Park, aku ingin kau berjanji.” Dasom tatap kepingan hitam Chanyeol dalam-dalam. Chanyeol berkedip beberapa kali karena kebingungan dengan permintaan Dasom yang begitu tiba-tiba. Dasom mengumpati Chanyeol dalam hati, di saat seperti ini kenapa Chanyeol masih bisa menjatuhkannya pada sumur cintanya yang gelap dan pengap?

 

“Berjanji, Park!”

 

“Tunggu! Janji untuk apa?”

 

“Berjanji saja!” Wanita, selalu meminta tanpa memberi keterangan lebih lanjut pada permintaannya dan pada saat seperti ini pihak pria mau tak mau harus mengiyakan.

 

“Baik, sayangku. Aku berjanji … entah untuk apa janji itu.” Satu cengiran mengakhiri kalimatnya.

 

“Katakan sejujurnya tanpa ada yang ditutupi. Katakan semuanya tak peduli itu membelahku sampai tak berbentuk atau membuat mataku mengeluarkan darah.”

 

Perasaan bingung sebesar batu turun ke kening Chanyeol dan meninggalkan tiga kerutan di sana.

 

“Apa artiku untukmu? Apa aku masih ada di hatimu? Apa … aku satu-satunya, atau … ada wanita lainnya?”

 

“Sayang, apa yang ..”

 

“Jawab saja, Park! Aku tidak butuh pertanyaan, aku butuh pernyataan yang jelas darimu. Aku satu-satunya … atau ada yang lainnya?”

 

Mereka tak pernah terjebak dalam keadaan seperti ini sebelumnya. Terlalu canggung, terlalu banyak yang disembunyikan, dan terlalu banyak tanya yang terpancar tanpa malu dari dua pasang mata masing-masing. Chanyeol yang pertama memalingkan wajah. Desau napasnya terdengar berat juga kasar. Dasom sampai dapat merasakan bahwa ia mulai goyah, menyesali keberaniannya untuk bertanya alih-alih memilih diam dalam balutan luka.

 

“Dari mana kau mendapatkan semua pemikiran itu?” Atmosfer semakin dingin seiring dengan nada bicara Chanyeol yang ikut turun beberapa derajat celcius.mungkin hampir menyentuh titik minus.

 

“Tidak usah bertele-tele, Park. Ada atau tidak?”

 

“Ada.”

 

Batu yang begitu besar jatuh tepat di atas kepala Dasom. Ia pening. Chanyeol bahkan menuruti kata-katanya untuk tidak bertele-tele.

 

“Sudah berapa lama?”

 

“Satu bulan.”

 

“Brengsek.” Geraman itu sampai di telinga Chanyeol dan membuat pria itu terbahak mendengar gadisnya mengumpat.

 

“Dari mana kau tahu?” Chanyeol terlihat santai sekarang. Seperti beban yang membelenggu saluran pernapasannya telah hilang.

 

“Aku melihat kalian bercumbu di atas ranjang dengan begitu panas … dari jendela kaca di kamar kita. Rasanya seperti melihat pacarmu bermain dalam film porno.”

 

Chanyeol kembali terbahak, kali ini lebih kencang.

 

“Karena kau sudah melihatnya aku akan mengatakan semuanya. Seperti pintamu.”

 

Mereka saling menatap, menyelam dalam-dalam mencoba mencari makna yang berbeda.

 

“Awalnya kupikir kau sempurna. Kupikir kita bisa menjalaninya hingga waktu yang lama. Lima bulan, dan ternyata aku bosan padamu. Kau … terlalu kaku.”

Dasom masih mengingat dengan baik semua kata cinta Chanyeol untuknya. Sulit baginya untuk percaya bahwa Chanyeol telah berkhianat. Seperti apa yang Chanyeol katakan, mereka terlihat sempurna di awal tapi nyatanya ia tak mampu menjadi sesuatu yang lebih berarti untuk Chanyeol. Kesempurnaan itu pupus oleh kata putus yang Chanyeol ucapkan hari itu. Yang bisa Dasom lakukan untuk mengisi harinya tanpa Park Chanyeol hanya melamunkan pria itu sampai matanya membesar dan air mata di pipinya berubah jadi kerak.

 

FIN

4 tanggapan untuk “[Vignette] Not Perfect”

  1. Kak honey… kangen ff kakak euyy punya blog pribadi ngak kak? aku selalu suka fanfict kakak apalagi Sehun ama Hani dan Sena… kapan buat fanfict mereka lagi wkwk kutunggu ya kak keep writing and fighting 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s