Call Me Maybe

call me maybe

Call Me Maybe

Sehun >< Yoo Se Mi, Luhan >< Song Nikaa

Oneshoot

Romance

PG-13

Note’s : Sehun >< Luhan kembar identik

 

Jam istirahat di Seoul Arts High School. Sehun dan Se Mi tengah duduk di kantin. Muda mudi itu Sibuk membolak-balik buku menu untuk memilih makan siang hari ini.

“aku pesan satu mangkok sup rumput laut, 1 porsi jjajangmyeon, 1 porsi bulgogi, 1 porsi kimbab, 1 porsi kue beras dan segelas soft drink. Itu saja pesananku. Sehun-ah, kau ingin pesan apa?” Se Mi melirik ke arah Sehun yang sedang terbengong-bengong karena mendengar pesanan gadis itu.

“eoh? A-aku pesan 1 porsi ramen dan segelas babble tea.” Respon Sehun tergagap.

“oh baiklah, pesanannya akan segera diantarkan.” Balas si pelayan dengan sigap.

“oia, jangan lupa kimchi-nya ya, aku lupa menyebutkannya tadi. Terimakasih.” Serobot Se Mi ketika pelayan itu hendak berbalik menuju dapur.

Sehun mengernyitkan dahi, ia masih ber hipotesis ria mengenai gadis bertubuh ramping dihadapannya yang tiba-tiba memiliki nafsu makan seperti kuli.

“kau yakin bisa menghabiskan semua makanan yang kau pesan tadi?”

“kan ada kau. Kau mau kan membantuku menghabiskan semuanya, chagiya. Mau ya?” jawab Se Mi dengan enteng.

“menurutku itu banyak sekali.”

“oh, jadi kau keberatan dengan permintaanku. Huh…mendadak nafsu makanku hilang. Aku tidak jadi makan.” Kata Se Mi lalu melengos pergi.

Ck. Sehun mendengus kemudian mengejar gadisnya. Perasaannya tidak enak. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Se Mi.

“hey, kau jangan begitu. Kau harus makan siang dulu, nanti maag-mu kambuh.” Bujuk Sehun sambil menahan lengan Se Mi.

“aku malas.”

“ayolah, hanya sedikit saja.”

“kau pilih diam atau kau yang akan menjadi makan siangku!?”

“hmm, baiklah. Sekarang aku tanya sekali lagi. Kau mau apa?” tanya Sehun dengan nada bicara dibuat serendah mungkin.

“aku buah persik.”

“hah? Sekarang kan bukan musimnya.”

“oh jadi kau tidak mau mencarikannya untukku?! Lupakan makan siang kita. Aku mau kembali ke kelas. Bye!”

Makan saja aku! Makan sekarang juga! Jerit Sehun dalam benaknya.

 

***

 

Sehun menerobos kamar Luhan yang tidak terkunci sambil mengacak rambutnya. Wajahnya tak karuan. Seakan habis ditekuk lalu diremas sampai lecek. Bercermin pun menjadi kegiatan hal yang mustahil untuk saat ini. “hyung, tolong aku!” Sehun memelas pada kembarannya itu yang lahir 5 menit lebih awal dari dirinya.

“kau kenapa?” Luhan beralih dari layar laptopnya. Ia mendapati adik nya terkapar dikasur. Dilihat dari bahasa tubuhnya, Sehun sedang tidak bersemangat. Wajahnya murung dan tubuhnya lunglai. Pria itu tidak ada bedanya dengan ikan paus yang tengah terdampar. Gelagapan tanpa air.

“kenapa wanita itu berubah jadi monster jika sedang PMS, hah? Ini membuatku frustasi.” Celoteh Sehun dengan menggebu-gebu.

“bukankah itu hal yang lumrah?” balas Luhan.

“iya, tapi…”

Kalimat Sehun terpotong. Ia dikejutkan oleh dering ponselnya. Buru-buru ia menjawab panggilan itu.

“halo sayang, kau sedang apa? Aku rindu padamu.” Kata seseorang di ssebrang sana.

“aku sedang mengobrol dengan kakakku. Aku juga merindukanmu.”

(lebih pantasnya sedang mengeluh mengenai kelakuanmu) benaknya berkoar lagi.

“7 menit yang lalu aku mengirim sms kepadamu. Kenapa belum dibalas. Menyebalkan.”

“sayang, maaf ya. Aku baru saja memegang ponsel. Tadi ponselnya aku simpan di tas.” Elak Sehun.

“ah alasan saja. Kau sudah tidak peduli ya kepadaku? Oke fine, bye!” klik. Sambungan terputus.

“bu-bukan begitu. Halo… halo…Se Mi kau masih disana?”

Tut…tut..tut…

“Aaaagggrrr.” Erang Sehun sambil guling-guling di ranjang Luhan sampai semua asesoris di ranjang itu berantakan. Seprai, selimut, bantal dan guling sudah betebaran dimana-mana. Luhan yang melihatnya, mendecak dan geleng-geleng kepala. Tingkah Sehun saat ini lebih parah dibandingkan beberapa tahun yang lalu, ketika Sehun mengamuk minta dibelikan mainan tembak-tembakan yang bisa berbunyi ‘fire…fire’ dan ada lampunya yang berkedip-kedip.

“hyung, kau dengar sendiri kan? Tidak ada yang salah dengan ucapanku, malah dia yang membuat masalah.” Sehun membuka kembali sesi curhatnya.

“hmmm…menurutku Se Mi memang sedikit berlebihan.” Komentar Luhan.

“Apakah Nikaa juga seperti itu jika sedang PMS.”

“tidak, dia biasa saja. Mungkin faktor usia juga berpengaruh.” Jawab Luhan yang mengingat perbandingan usia dengan kekasihnya yang lebih tua 2 tahun dari dirinya.

“oia hyung, aku punya ide.”

Luhan menelan ludah. Mendadak perasaannya tidak enak. Ide gila apa lagi yang melintas dikepala pria itu?

***

 

Matahari telah mengudara. Tanpa ampun menyengat mereka yang tak berteduh. Salah satunya Sehun, pria berkulit putih yang tidak takut terik si raja siang. Dia juga tidak peduli apabila kulitnya gosong terbakar sianar ultra violet. Pria itu terus menarik gas motor Kawasaki Ninja 250 berwarna putih milik Luhan. Rodanya menggilas aspal jalan menuju tempat les biola di bilangan Daegu provinsi Gyeongbuk untuk menjemput Nikaa, kekasih Luhan. Luhan…Luhan…Luhan…semua milik Luhan. Karena mulai hari ini sampai beberapa hari kedepan, Sehun akan berperan sebagai Luhan.

~sebelum kesepakatan~

“aku tidak tahu, apakah ini semacam wangsit atau sejenisnya. Tapi tiba-tiba saja ide ini muncul di otakku…”

“….” Luhan terdiam, masih menunggu kelanjutan kalimat Sehun yang menurutnya masih menggantung.

“bagaimana kalau kita bertukar posisi? Kau jadi aku, aku jadi kau?”

Bugkkk… Luhan memukul kepala Sehun dengan gulungan buku yang lumayan tebal. “kurasa isi kepalamu kosong, disimpan dimana otakmu, hah?” cecar Luhan.

Sehun meringis sambil mengusap kepalanya. “jebal, untuk kali ini saja. Aku sudah cukup stress dengan tugas-tugas akhir semester genap yang menggila. Aku bisa mati berdiri jika ditambah meladeni gadis itu. Setuju ya hyung dengan ideku?” bujuk Sehun, posisinya memeluk kedua kaki Luhan. Bak gembok raksaksa yang menggelayuti kaki pria itu.

“hanya seminggu! Tidak ada kontak fisik! Dan jaga nama baikku! Deal?!”

Luhan menyerah tanpa perlawanan. Jika Sehun bukan adik satu-satunya, mungkin ia sudah menendang bokong pria itu. Dan kalau dipikir-pikir, pria berkulit pucat pasi itu akan menghantuinya jika benar Sehun mati berdiri. Mengerikan.

~sepakat~

 

Seorang gadis yang mengenaikan pakaian denim melambaikan tangan kepada Sehun (yang dia kira Luhan). Ia menghampiri pria itu sambil menenteng tas biolanya.

“hai, kau sudah lama menunggu?” tanya Nikaa.

“tidak juga, aku baru saja sampai. Baiklah, kemana kita hari ini? Aku siap mengantarmu.” Jawab Sehun dengan antusias.

“hmm,,,aku ingin ke rumah pamanku untuk menengok hewan-hewan peliharaannya yang lucu-lucu itu. Lalu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sangat indah. Jangan tanya dimana? Karena hanya aku yang tahu. Dan terakhir…kita makan malam dirumahku. Aku akan memasak untukmu. Oke?!” papar gadis itu.

“oke. Sepertinya menyenangkan.” Respon Sehun dengan senyum yang mengembang.

***

 

BRAKKK!

Sehun mendorong pintu kamar Luhan sampai terpantul ke dinding. Luhan yang tengah membaca komik langsung tersentak. ‘Wajah itu lagi’ gumamnya dalam hati. Wajah Sehun yang jauh dari kata ceria. Semakin kacau dari sebelumnya.

“bagaimana harimu dengan pacarku?” Luhan mencoba mengorek informasi.

“lupakan perjanjian kita. Gadis mu itu sungguh mengerikan.”

wae?

”aku di ajak kerumah pamannya. Dia bilang ingin menengok hewan peliharaan lucu disana. Tapi, setelah sampai disana…aku melihat ribuan ulat bulu. Ternak ulat bulu dia bilang lucu? Hah,,,bulu kuduk ku berdiri semua. Ihhhhh…” Sehun meliuk-liukkan tubuhnya.

Luhan menahan tawanya. Ia tahu betul bahwa kembarannya itu sangat takut dengan serangga, terutama hewan melata penuh bulu itu. Sejujurnya, ia merasa ironi : pria manly seperti Sehun ternyata fobia terhadap ulat bulu.

“oh, karena itu wajahmu ditekuk seperti itu?” respon Luhan, masih berusaha menelan tawa.

“bukan hanya itu. Kau kan tahu jika aku itu mabuk laut. Dia malah membawaku ke pelabuhan, lalu kami berputar-putar di sekitar pelabuhan dengan perahu motor. Oh astaga, itu membuatku ingin pingsan. Perutku rasanya sedang diaduk-aduk menggunakan mixer. Dan dia juga bilang ‘ingin berlayar keliling dunia’. Kalau begini caranya, bisa-bisa aku pulang tinggal nama saja.”

“hmmm…lalu?” luhan merasa ceritanya belum selesai.

“bagian ini meyakinkan aku bahwa pacarmu itu adalah wanita yang sadis…” Sehun menghela napas panjang. “dia memasak daging rusa, kau dengar…rusa!” Sehun menekan suaranya di kata ‘rusa’. “yang benar saja, masa dia tega memasak dan memakan hewan se imut itu, eoh?” sambungnya lagi.

Luhan hendak membuka mulut untuk menimpali curhatan Sehun, namun niat itu ia urungkan ketika suara ketukan pintu di depan kamarnya. “Sehun, ada Se Mi mencarimu. Temui dia diruang tamu.” Teriak ibu si kembar dari balik pintu. Sehun langsung menimpali, membuat wanita kepala empat itu berlalu dari kamar mereka.

hyung, dia ingin bertemu denganmu!”

“kau! Bukan aku. Kau baru saja membatalkan perjanjian kita. So, mulai detik ini aku bukan lah Sehun dihadapan Se Mi.”

“oh iya, benar juga.” Gumam Sehun yang sel otaknya sudah stabil kembali, setelah seharian mengalami konsleting karena gadisnya Luhan.

 

***

 

Sehun keluar dari kamar menuju ruang tamu. Ia menemukan Se Mi tengah duduk dengan kaki yang disilangkan. Setiap hari gadis itu tampak anggun dengan dress casual-nya dan juga gerak-geriknya. Namun siapa sangka, gadis itu bisa berubah 360˚ jikalau masanya datang.

“hai.” Sapanya sambil melambaikan tangannya yang lentik.

“hai juga.” Sehun membalas sapaan Se Mi setenang mungkin, menganggap perjanjian absurd-nya dengan Luhan tidak pernah terjadi. Lalu ia mengambil tempat di sebelah gadis itu.

“ini benar Oh Sehun-ku!” kata Se Mi seraya menangkupkan kedua tangannya di wajah tirus pria itu.

“…” lidah Sehun jadi kelu. Ia masih terkejut untuk sekedar menanyakan ‘kenapa?’

“Seharian ini kau tidak bersamaku. Tapi orang lain yang menghabiskan waktu bersamaku.” Lanjut Se Mi.

“apakah Luhan yang memberitahumu?” Sehun panik, rahasianya terbongkar.

Se Mi menggeleng lemah. Ia merangkul pundak Sehun dan menopang dagunya disana. “maafkan aku. Aku telah bersikap berlebihan jika sedang PMS. Mulai hari ini aku akan meredam emosional ku. Kau melakukan ini, karena itu bukan?” Se Mi mengungkapkan penyesalannya. Ia tidak berhak marah-marah. Sehun seperti itu juga karena ia-lah alasannya.

 

Sehun merenggangkan otot-otonya yang mengencang. Ia membalas pelukan gadis itu. Menepuk-nepuk pelan punggungnya. Cukup memberikan jawaban ‘semuanya baik-baik saja’.

 

EPILOG

“dia itu sangat takut dengan serangga, mabuk laut dan tidak suka jika hewan favoritnya disakiti. Seperti rusa, kelinci, dan kuda. Jadi, tugas utamamu adalah membuat dia ilfil kepadamu dengan hal-hal yang aku sebutkan tadi.” Luhan menjabarkan rencananya kepada Nikaa via telfon.

“yaa, tidakkah kau terlalu kejam kepada adikmu? Kau cukup memberitahuku tentang perjanjian kalian, maka aku akan hati-hati.”

“ck, anak itu perlu diberi pelajaran, agar dia tidak bertindak seenak jidatnya.”

 

~THE END~

17 tanggapan untuk “Call Me Maybe”

  1. Bwahahaha sudah ku duga idenya sehun oppa bkal kya gtu..wkwkwk sehun kena kan lohh..hihihi
    Luhan oppa tega deh..hahahaha
    Critanya bagus kakk^^

  2. kkkk~~ senyum-senyum sendiri bacanya. pas mainan tembak” an yang bunyi “fire fire” langsung nyanyi bts fire :v. keren thor! like it!

Tinggalkan Balasan ke pandasa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s