[EXOFFI FREELANCE] You are My Lantern – Chapter 5

1457522185860

Title                 : You are My Lantern Chapter 5

Author            : Galaxy Fan (@SalzaaFernindaa)

Length            : Chaptered

Genre             : Romance, Hurt, Sad, School Life, Friendship

Rating            : PG – 17

Main Cast       : Luhan (EXO-M) Sohee (OC) Jong In (OC) and more other cast

Disclaimer        : Alo. Annyeong chingu. Lagi baca-baca FF ya. Uluh serius amat. Ini nih aku buat FF baru lagi. Selama ini aku belum pernah bikin FF pake main cast Luhan, eh tiba-tiba aja kepikiran bikin FF ini. Selamat membaca ^_^

“Selamat pagi.” Sebuah suara terdengar familiar ditelinga Sohee yang sedang sibuk membaca buku sejarahnya dikelasnya.

“Oppa…” Sohee sedikit terkejut melihat Luhan tiba-tiba muncul dihadapannya.

“Apa kau datang sepagi ini hanya untuk membaca buku membosankan seperti itu?” Ucap Luhan setelah melihat buku yang sedang Sohee baca. Sampai-sampai yeoja itu tak sadar jika Luhan datang menemuinya.

“Apa yang oppa lakukan sepagi ini disekolah?”

“Hya. Kau ini kebiasaan. Jika aku bertanya jawablah dulu sebelum kau bertanya balik. Kau ini membuatku gemas saja.” Luhan mencubit pipi Sohee yang sedikit tembem. Sohee yang menerima perlakuan manis dari Luhan hanya tersipu malu.

“Mianhae. Lalu kenapa oppa kemari?”

“Aku hanya ingin melihatmu. Jong In bilang kau selalu datang pagi kesekolah.”

“Geurae. Kau sudah melihatku bukan? Sekarang pergilah. Aku tidakmau teman-temanku curiga karena kita hanya berdua dikelas ini.”

“Apa barusan kau mengusirku?” Luhan menatap Sohee dengan lekat. Ia tak berniat untuk mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Sohee.

“Bukan begitu oppa. Kumohon.” Sohee menatap mata Luhan dengan penuh harapan. Ya mau tak mau Luhan harus menurutinya.

“Baiklah aku akan pergi. Belajarlah dengan baik.” Luhan mengecup pipi Sohee singkat dan segera keluar dari kelas itu. Dan kalian tau, pastinya wajah Sohee kembali memerah.

 

Chapter 5

Siapa diantara kalian yang menyukai ulangan harian secara mendadak? Ada kah dari kalian yang menyukai system para seonsaengnim yang seperti itu. Sepertinya tidak. Karena kalian harus mengerjakan soal yang diberikan seonsaengnim tanpa mengetahui materi sama sekali. Itu yang dirasakan siswa dikelas Sohee. Mereka sibuk mencari jawaban dari siswa lain. Termasuk Young Ah yang sedari tadi memanggil nama Sohee berkali-kali.

“Sett.. Sohee. Kim Sohee.” Suara Young Ah benar-benar seperti orang berbisik. Tapi meskipun begitu, alat pendengaran Sohee masih bisa menangkap suara Young Ah.

“Wae?” Jawab Sohee sama pelannya dengan Young Ah.

“Beri tau jawabmu. Kita teman bukan?” Young Ah menunjukkan sederetan gigi putihnya. Mengerti dengan maksud Young Ah, Sohee memberi tau 65% hasil kerja keras otaknya.

“Sudah kan? Aku mau keluar.” Sohee segera berdiri dari bangkunya dan mengumpulkan soal berserta jawabannya diatas meja seonsaengnim. Semua mata sekarang tertuju pada Sohee. Mereka sangat kagum dengan kecerdasan Sohee. Daebak!.

Setiap akhir minggu disekolah ini memang diberlakukan ulangan harian atau bisa dibilang semacam kuis dadakan. Entah apa maple yang akan diujikan para siswa tak tau. Mereka hanya perlu menyiapkan mental dan ilmu mereka yang telah disiapkan selama seminggu mengikuti pelajaran para seonsaengnim. Dan Sohee adalah orang yang selalu selesai terlebih dahulu dibandingkan teman-temannya yang lain.

Sohee berjalan menyusuri koridor sekolah seorang diri. Karena siswa yang lain, maksudnya siswa kelas 1 sampai 3 masih belum ada yang keluar dari huniannya. Ya, pasti mereka masih sibuk mengerjakan ulangan akhir minggu. Ia terus berjalan sampai matanya tertuju pada dua namja yang mendekat kearahnya.

“Sohee-ah.” Jong In berjalan kearah Sohee bersama sahabatnya. Luhan.

“Oppa…”

“Oppa yang mana maksudmu? Aku atau Jong In?” Luhan menggoda Sohee secara blak-blakan. Ucapan Luhan barusan membuat Jong In sedikit bingung.

“Oppaku Op –“ Sohee membekap mulutnya sendiri. Ah, dia lupa jika Jong In belum tau jika ia sudah jadian dengan Luhan.

“Kenapa? Ayo teruskan.” Ucap Luhan semakin membuat Jong In penasaran.

“Ada apa dengan kalian? Apa ada yang salah?” Jong In menatap Luhan dan Sohee secara bergantian.

“Ah, apa dongsaengmu ini belum memberi tau mu?”

“Mwo?”

“Dia yeojachinguku sekarang.” Luhan menatap Sohee dengan senyum evilnya. Sohee yang melihat tingkah namjachingunya hanya bergidik sebal.

“MWO? Sejak kapan?” Suara Jong In tiba-tiba meledak membuat Sohee dan Luhan reflek menutup kedua telinganya.

“Aish, suaramu membuat telingaku hancur Kkamjong.” Kesal Luhan.

“Mian. Kalian berdua tega sekali menyembunyikannya dariku. Dan kau Sohee kenapa kau tak memberi oppamu ini eoh? Apa kau sudah tak menganggapku lagi?”

“Anni-yo. Bukan seperti itu. Jong In oppa, jangan beri tau yang lain ne. Terutama Young Ah. Aku tak mau melihatnya sakit hati padaku. Karena Young Ah…” Sohee menggantungkan ucapannya. Tapi tak usah menunggu kalimat selanjutnya, Jong In sudah tau apa maksudnya.

“Arraso. Kajja kita kekantin. Kau belum sarapan kan?” Ucap Jong In dibalas dengan anggukan Sohee.

.

.

.

“Oppa berikan ramyunku.” Rengek Sohee ketika ramyunnya direbut paksa oleh Jong In. ya, mereka berdua selalu bertengkar dalam hal yang sepele.

“Makanlah pancake ini dulu. Ramyunnya pasti akan datang sebentar lagi.” Melihat yeojachingunya yang merasa kesal, Luhan menyodorkan pancakenya pada Sohee.

“Ah ne.Gumawo oppa.” Sohee hanya bisa tersenyum pada Luhan yang duduk disampingnya. Bahkan sekarng ia merasa sedang diamati oleh sepasang mata cantik milik Luhan. “Hya oppa. Jangan memandangiku seperti itu.” Nada Sohee tiba-tiba meninggi karena Luhan tak berkedip menatap wajahnya.

“Wae? Aku hanya ingin melihatmu makan. Kau benar-benar sangat lucu.” Karena gemas Luhan mencubit pipi Sohee lagi.

“Hya kalian berdua. Berhentilah memamerkan kemesraan didepan orang lain.” Jong In yang merasa gerah dengan pasangan baru yang ada dihadapannya kini mulai angkat bicara.

“Dongsaengmu ini sangat menggoda Kkamjong. Apa aku boleh membawanya pulang?”

“Hya oppa!” Sohee mendaratkan pukulan pertamanya dibahu Luhan. Bukannya kesakitan, Luhan malah tertawa melihat tingkah Sohee.

Luhan, Sohee, Jong In. mereka bertiga sedang asik bercanda dikantin seusai menguras pikiran mereka. Luhan yang duduk disamping Sohee sesekali mengelus rambut Sohee sayang. Maklum lah pasangan baru. Beberapa menit mereka tertawa bersama, hanya dengan melihat seseorang yang datang menghampiri mereka, ketiga anak muda itu langsung terlihat canggung .

“Annyeong Luhan sunbae, Sohee, Jong In sunbae kau juga.” Young Ah datang dengan kue coklat yang ada ditangannya.

“Duduklah disini Youngi.” Sohee bergeser satu kursi dari tempat duduk Luhan. Melihat apa yang dilakukan Sohee, Luhan sedikit tak rela karena sekarang bukan Sohee yang duduk disampingnya melainkan Young Ah.

“Luhan sunbae. Ini aku bawakan kue lagi. kali ini rasanya coklat. Kuharap kau menyukainya.” Young Ah menyodorkan kue coklatnya dihadapan Luhan dengan perasaan senang.

“Ne.”

“Apa kau tak mau mencobanya?” Young Ah menatap kecewa ketika Luhan tak berinisiatif untuk mencicipi hasil karyanya.

“Aku kenyang Young Ah.” Ucap Luhan membuat Young Ah merasa kecewa untuk kesekian kalinya. Melihat wajah Young Ah yang terlihat bersedih, Sohee menjadi tak tega melihatnya.

“Sunbae, cobalah sedikit. Young Ah sudah membuatnya susah payah semalam.” Sohee membantu Young Ah membujuk Luhan agar mau memakan kue itu. Dengan terpaksa Luhan mencicipi kue itu.

“Bagaimana?” Young Ah sedikit lega karena Luhan akhirnya mau mencicipi kue buatannyA.

“Enak.” Singkat Luhan. Jong In yang sedari tadi diam, merasa mendapat tontonan ‘cinta segitiga’ gratis secara live.

Bersalah. Perasaan itu tiba-tiba menghantui Sohee lagi. melihat Young Ah yang semakin menaruh harapan besar pada Luhan. Berbohong. Ia terus berbohong pada Young Ah tentang hubungannya dengan Luhan. Ingin jujur tapi Sohee terlalu taku membuat Young Ah merasa kecewa. Masalah ini terlalu berat untuk Sohee.

“Oppa aku ingin pergi sebentar.” Sohee angkat bicara disela kecanggungan mereka berempat. Jong In hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan dongsaengnya itu.

“Aku juga harus pergi sebentar ketoilet. Young Ah kau tunggu disini saja bersama Jong In.” Luhan ikut berdiri dari tempatnya meninggalkan Young Ah bersama Jong In dikantin. Melihat Luhan pergi meninggalkannya, Young Ah kembali harus menelan kecewa.

Luhan POV

Aku segera keluar dari kantin setelah Sohee beranjak pergi. Aku mencarinya kemana-mana, tapi aku belum menemukannya. Apa dia marah padaku? Kemana dia? Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Ku telusuri setiap koridor disekolah ini, tapi hasilnya nihil. Ku coba menghubunginya, tapi tak ada jawaban.

Sampai diatas atap sekolah akhirnya aku bisa melihatnya sedang berdiri menatap kosong pandangan didepannya. Kulangkahkan kakiku perlahan mendekat kearahnya. Semakin dekat dan semakin dekat. Tapi dia belum sadar dengan kehadiranku disini. Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan. Tanpa ragu, ku peluk ia dari belakang dan ku letakkan daguku dibahu kanannya. Sepertinya ia sedikit terkejut dengan tindakanku.

“Apa yang kau lakukan disini eoh? Aku mencemaskanmu.” Ucapku sambil mengecup lehernya yang tertutup oleh rambut panjangnya.

“Eobseo. Aku hanya sedang ingin disini.” Kulihat Sohee masih menatap pemandangan yang ada dihadapannya.

“Kenapa kau tiba-tiba pergi? Apa kau marah padaku?” Ku balikkan tubuh mungilnya menghadap kearahku. Sekarang mata kami saling menatap.

“Anni. Sudah kukatakan aku hanya ingin disini. Itu saja.” Kutatap mata coklatnya dengan lekat untuk mencari titik kebohongan disana. Tapi sepertinya tak ada.

“Sungguh?” Ucapku hanya dibalas dengan anggukan.

“Kenapa oppa kemari? Bagaimana dengan Young Ah?” Apa yeoja ini bodoh. Kenapa ia selalu memikirkan orang lain tapi tak peduli dengan dirinya sendiri.

“Kenapa kau selalu memikirkan kebahagiaan Young Ah? Kapan kau akan memikirkan kebahagiaanmu?” Nada bicaraku sedikit meninggi karena hatiku terasa sedih mendengar ucapannya. Kulihat ia menunduk. Ah, sepertinya aku mengatakan hal yang membuatnya sedih. Dasar Luhan pabo. “Mianhae Sohee-ah. Jongmal mianhae. Aku tak bermaksud membuatmu bersedih.” Kudekap tubuhnya kedalam sebuah pelukan hangat. Kurasakan dada ku terasa basah. Apa ia menangis.

“Oppa apa aku salah menyukaimu? Apa aku merebutmu dari Young Ah?” Ku dengar suaranya sedikit terisak. Benar dia sedang menangis.

“Anni. Kau tak salah. Aku sangat mencintaimu Sohee. Asal kau tau, semenjak kau melangkahkan kakimu disekolah ini aku lebih dulu menyukaimu. Jadi kau tak perlu berfikir bahwa kau merebut ku dari Young Ah. Uljima. Jebal ” Kueratkan pelukanku agar ia merasa tenang. Sesekali kukecup kepalanya sayang. Aku tak sanggup melihatnya seperti ini.

.

.

.

~TBC~

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] You are My Lantern – Chapter 5”

  1. Apa gak lebih baik mrk jujur aja sama youngah…skrg ato nanti sama aja yg psti younga sedih tpi klo smpe youngah tau sndiri malah tmbah sakit…di saat youngah mati2an buat deketin luhan malah dy di gituin

  2. iih lu han bikin kesem-sem deh wkwkwk :v yah kok di chapter ini dikit amat sih yah ceritanya -_- jadi sedih deh aku sebagai pembaca ~_~

  3. Aduhh duh.. aku masih kpikiran nih gmna jdinya klo yong ah tau klo luhan sma sohee itu pcaran..
    Next kakk dtunggu loh ya 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s