[EXOFFI FREELANCE] All Is Patient (Chapter 5)

image

Title:
All Is Patient

Author:
Candyness

Lenght:
Chaptered

Genre:
Romance

Rating:
PG-15

Main Cast:
Park Chanyeol (EXO)
Oh Sehun(EXO)
Son Wendy (RED VELVET)
Kang Seulgi (RED VELVET)

Other Cast:
EXO member
RED VELVET member
Seohyun (SNSD)
SM Artist
And many more

Disclaimer : Fanfict ini murni karangan Author, dan fiktif belaka. Ff ini juga di publish di candynessblog.wordpress.com
Note: Hai-hai, maaf lagi-lagi gak update cepet, tapi makasih banget buat yang mau komentar di chapter sebelumnya, apalagi yang komen dari chapter 1 sampai 4, aku hafal kamu loh. Hehe. Gak usah lama-lama deh..
Happy reading guys!~
.

Chapter 5
Chanyeol mendudukkan dirinya di sofa depan televisi. Ia merasa bosan. Ia juga merasa lapar. Karena itu, Ia memutuskan menghubungi Wendy yang sedang keluar agar gadis itu sekalian membeli bahan untuk memasak. Namun sial, Wendy tidak membawa ponselnya.
“Dasar!” Umpat Chanyeol.
Akhirnya Ia memutuskan untuk pergi sendiri menuju ke supermarket untuk berbelanja bahan untuk memasak.
Ia berjalan kaki, karena jarak supermarket terbilang cukup dekat dengan rumahnya.
“Bagaimana gadis itu bisa membiarkanku kelaparan?” Ujar Chanyeol.
Saat Chanyeol melewati rumah di sebelahnya, Ia melihat seorang wanita yang Ia yakini adalah Wendy, namun gadis itu tidak sendiri, Ia bersama orang lain, dan terlebih lagi orang itu adalah pria, Wendy sedang memeluk pria itu. Entah, Chanyeol merasa agak marah, padahal Ia tidak memiliki perasaan pada Wendy. Ia menghampiri Wendy.
“Kau mau Aku kelaparan?” Suara berat Chanyeol membuat Wendy melepas pelukannya pada pemuda tadi.
“Chan.. Chanyeol-ssi” Wendy tergagap.
Chanyeol menatap pria disamping Wendy. Pria itu menatap tepat di bola mata Chanyeol, membuat Chanyeol menatap Pria itu tajam.
“Aku adalah suaminya” Ujar Chanyeol lalu menarik Wendy menyisakan sang pria itu yang sedang kebingungan.
Chanyeol menarik Wendy menuju ke rumah Mereka.
“Yaa!, apa Aku mengizinkanmu melakukan itu seenaknya?” Chanyeol membentak Wendy dengan mencengkeram tangan gadis itu kuat. Wendy takut pada Chanyeol.
“A.. Aku ha..hanya—” Kata Wendy terputus.
“Hanya apa? Kau hanya berpelukan begitu? Bagaimana kalau ada Abeoji atau Noona mengetahui Kau berpelukan dengan orang lain?” Chanyeol masih berkata dengan nada tinggi.
“Kau tahu kan Ayahku itu? Beliau adalah orang yang keras. Bagaimana Kita bisa bertahan 6 bulan jika Kau begini?” Lanjut Chanyeol.
Wendy ingin mengatakan maaf, tapi rasanya takut, lidahnya kelu. Ia pikir Chanyeol sedang sangat marah sekarang. rasanya Wendy ingin menangis saat itu juga. Namun Ia berusaha menahannya.
Chanyeol melihat mata Wendy yang siap mengeluarkan air. Chanyeol membuang nafasnya kasar. Lalu Ia menghempaskan tangan Wendy. Wendy memijat tangannya yang terasa sakit karena dicengkeram Chanyeol tadi. Ia menunduk, tak mau menatap Chanyeol.
“Beli sesuatu untuk dimasak. Aku lapar” Ujar Chanyeol sambil menuju ke lantai atas. Menuju ke ruang musiknya.
Wendy sebisa mungkin menahan air matanya, tapi percuma saja, airmata itu tetap jatuh, dan Ia tetap menuju ke supermarket sesuai perintah Chanyeol. Ia terus teringat dengan pria tadi alias tetangga barunya.
Flashback
“Son Wendy?”
“Jongdae Oppa?” Wendy berkata lirih pada pria di hadapannya.
“Son Wendy, benar, Kau Son Wendy” Ujar Pria yang ternyata bernama Jongdae itu dengan muka terkejut dan tak percaya. Wendy tidak percaya pada sosok di depannya itu. Wendy mencoba meneliti Jongdae dari atas sampai bawah.
“Oppa, Jinjja Jongdae Oppa?” Wendy masih tidak percaya bahwa yang disebelahnya adalah Jongdae. Jongdae mengangguk.
Wendy tersenyum lalu memeluk Jongdae dengan erat. Ia merasa sangat merindukan Jongdae. Dulunya, Jongdae adalah pengisi hatinya. Walaupun Mereka tidak berpacaran, tapi Mereka mengerti satu sama lain.
“Bogosippo Oppa!” Lirih Wendy.
“Nado” Ucap Jongdae berniat membalas pelukan Wendy.
“Apa Kau mau Aku kelaparan?” Sebuah suara berat menginterupsi kegiatan Jongdae dan Wendy. Jongdae menoleh ke sumber suara saat Wendy melepas pelukannya. Jongdae menatap Chanyeol tepat di bola matanya, Chanyeol pun menatap tajam Jongdae.
“Aku adalah Suaminya” Chanyeol menarik Wendy.
Flashback End
Setelah selesai belanja bahan memasak di supermarket, Wendy kembali ke rumah. Di jalan Ia melihat Jongdae masih di luar rumahnya.
“Wendy!” Panggil Jongdae. Wendy mendengarnya, namun Ia pura-pura tidak mendengar, walaupun dalam hatinya Ia sangat ingin mengobrol dengan Jongdae. Ia tak mau Chanyeol ataupun keluarga Chanyeol memergokinya.
Jongdae bingung dengan tingkah Wendy. Ia juga teringat dengan Pria yang mengaku sebagai suami Wendy. “Ah, Dia sudah bersuami” Gumam Jongdae lesu.
Sesampainya di rumah, Wendy menghela nafasnya. “Bagaimana bisa Aku menghindarinya seperti ini?” Gumam Wendy.
………………………………
Sehun dan Seulgi menuju ke tempat pemakaman Ibu Sehun. Disana banyak orang yang datang untuk memberikan rasa bela sungkawa. Tapi disana tak ada keluarga Park sama sekali. Keluarga Sehun memang sengaja tidak memberikan berita pada keluarga Park, karena keluarga Mereka baru saja melangsungkan pernikahan Chanyeol Wendy. Sehun sudah lebih tenang, karena sedari tadi Seulgi selalu memberikan motivasi padanya, supaya jangan sedih.
Ayah Sehun dan Saeron langsung menyambut Sehun dan Seulgi. Mereka langsung melakukan ritual mereka.
Sehun terlihat sedih, tetapi tidak sesedih kemarin. Ayah Sehun bersyukur Sehun tidak sesedih kemarin. Beliau juga berterima kasih pada Seulgi.
Ayah Sehun meminta Seulgi mampir ke rumah Sehun. Seulgi menolak, karena hari ini Ia harus ke Kantor.
Ah ya, Seulgi lupa kalau hari ini Chanyeol dan Wendy absen kantor, begitupun Sehun, Sehun masih dalam keadaan syok. Chanyeol dan Wendy juga belum dikabari kalau Ibu Sehun baru saja meninggal. Karena orang-orang tak mau mengganggu hari pernikahan Chanyeol.
“Seulgi-ya, Aku akan berangkat” Ucap Sehun pada Seulgi.
“Tidak, Kau harus istirahat” Nasehat Seulgi.
Sehun menggeleng.
“Aku akan tetap berangkat. Pekerjaan adalah kewajibanku”
“Tapi Kau tidak perlu melakukan hal ini. Banyak pegawai yang bisa menggantikanmu. Matamu terlihat sayu” Seulgi kekeuh dengan nasehatnya.
“Tidak, bagaimana dengan perusahaan jika Aku dan Chanyeol Hyung tak ada?” Tanya Sehun.
Benar juga kata Sehun. Tapi Seulgi tetap tak mau. Ia menatap Sehun.
“Kau tidak harus memaksakan diri seperti itu” Ujar Seulgi.
“Tidak. Aku harus berangkat” Sehun teguh pendirian.
“Bagaimana kalau nanti Kau sakit?”
“Tidak. Aku baik-baik saja”
Akhirnya Seulgi mengalah, Sehun dan Seulgi tetap pergi ke Kantor.
……………………………..
Wendy memasak untuk Chanyeol, namun entah dimana pikirannya saat ini. Saat mengiris bawang, tangannya tergores pisau.
“Aww” Jerit Wendy. Chanyeol tidak mendengarnya. Ia langsung mencuci tangannya di wastafel lalu membalut luka kecil itu dengan plester.
Wendy memang pandai memasak, karena Ia suka makan.
Ting-tong..
Bel rumah berdering. Wendy melihatnya melalui interkom. Ternyata Yoora datang.
Wendy cepat-cepat membukakan pintu.
“Anyeong Eonni! Masuklah” Ujar Wendy ramah.
Yoora tersenyum lalu masuk.
“Kau sedang memasak ya?” Tanya Yoora yang melihat Wendy memakai apron. Wendy mengangguk-angguk.
“Mana Chanyeol?” Yoora bertanya lagi sambil melihat sekeliling ruangan.
“Ah, Ia sedang di lantai atas” Ujar Wendy.
“Ah begitu. Rumah ini cukup besar. Oh ya, apa kalian sudah berniat memberikanku keponakan yang lucu?” Yoora menggoda Wendy.
Wendy merasa Ia tak mungkin sekali memberikan keponakan pada Yoora.
“Kami belum merencanakan apapun, abeonim juga bilang pada Kami untuk tidak memikirkan anak dulu” Jawab Wendy jujur.
“Begitu ya?” Yoora terlihat kecewa.
Tiba-tiba Chanyeol turun dari lantai atas. Ia melihat Yoora yang datang.
“Chan, Kau tega sekali membiarkan istrimu memasak sendiri, pengantin baru kan harus romantis, memasak bersama dong!” Yoora mengomeli Chanyeol. Chanyeol menutupi sebelah telinganya karena suara kakaknya yang begitu cempreng. Ia sudah hafal betul bagaimana kakaknya ini menceramahinya karena hal-hal macam ini yang menurut Chanyeol tidak penting.
Wendy menuju ke dapur karena kegiatan memasaknya belum selesai.
“Chan, Ayah bilang padamu untuk tetap ke Kantor besok” Ujar Yoora.
“Ya, memang itu rencanaku”
“Lalu bagaimana dengan Choi Sulli yang menjadi kepala editor sekarang?”
“Mwo?” Chanyeol terlihat sangat terkejut.
“Jangan bilang Kau baru mendengarnya sekarang”
Chanyeol hanya menatap kakaknya itu. Ketika Ia mendengar nama Sulli, entahlah, Ia merasa tidak enak. Bagaimana Ia bisa satu kantor dengan gadis yang ditolaknya? Pasti akan sakit rasanya bagi gadis itu.
…………………………….
Sehun dan Seulgi berangkat bersama, orang-orang kantor memandang heran pada Mereka. Tatapan Mereka seolah bertanya apa hubungan antara Sehun dan Seulgi. Seulgi merasa tidak nyaman dengan tatapan-tatapan itu. Tapi Sehun hanya diam saja dan terkesan melamun.
Saat jam kerja pun Sehun tidak fokus. Bahkan Ia tidak mengenali siapa Sulli itu, padahal jelas-jelas Chanyeol pernah menceritakan Choi Sulli si anak dari Jin Group yang berpengaruh di Perusahaan milik keluarga Park berkali-kali.
Kini, Sehun sedang duduk di rooftop. Seulgi yang seperti tahu Sehun ada disana menyusul ke atas.
image

“Aku tahu Kau masih tidak fokus untuk bekerja” Seulgi duduk di sebelah Sehun lalu memberikannya air putih. “Minumlah”
Sehun menerimanya.
“Seulgi-ya, Kau tahu bagaimana Ibuku kan?” Tanya Sehun sambil menerawang.
Seulgi hanya mengangguk.
“Dia juga baik padamu” Lanjut Sehun. Lagi-lagi Seulgi hanya mengangguk.
Sehun mendongak menatap langit.
“Ibu pasti akan bahagia disana kan?”
“Tentu, bagaimana bisa manusia sebaik Ibumu tidak bahagia?” Seulgi ikut menatap langit. “Dan juga, kebahagiaanmu adalah kebahagiaannya”
Sehun beralih menatap Seulgi.
“Jadi, jika Kau bahagia dan selalu mengingat Ibumu, Ibumu juga pasti akan bahagia. Ia tahu seberapa dalam sayangmu padanya” Seulgi tersenyum menenangkan.
Entah ini pikiran Sehun atau apa, Ia merasa senyum Seulgi menenangkan seperti senyum Ibunya. Ia selalu merasa nyaman bersama Seulgi.
“Seulgi-ya, gomawo” Sehun berucap tulus.
“Tentang?”
“Semuanya. Tentang Kau mau menjadi temanku dan tentang semua kebaikanmu selama ini”
Seulgi tersenyum lalu menatap Sehun. “Aku yang harusnya lebih berterima kasih padamu. Kau dan Wendy yang membuat hidupku tidak sesedih dulu”
Mereka saling menatap. Tidak tahu apa yang akan diucapkan, Mereka hanya berkomunikasi lewat mata. Entah seperti apa.
………………………………
21.00 KST
Malam-malam, Chanyeol lapar lagi. Ia ingin memasak tapi hasilnya pasti akan sangat berantakan. Ia menghampiri kamar Wendy. Ya, Mereka tidur terpisah.
Chanyeol mengetuk pintu kamar Wendy. Pemilik kamar membuka pintu. Ia kaget melihat Chanyeol.
“Ada apa?” Tanya Wendy.
“Aku lapar” Ucap Chanyeol canggung. Tidak tahu kenapa Ia begitu canggung.
Wendy mengangguk. Ia masuk ke kamarnya lagi lalu memakai mantel, karena diluar dingin. Bahan masakan yang di beli tadi pagi hanya cukup sampai makan siang.
Wendy menuju ke Supermarket, membeli bahan-bahan yang di butuhkan lalu pulang jalan kaki.
Sayang sekali hujan turun dengan deras, Wendy mencari tempat berteduh, namun sia-sia saja, Ia tetap kehujanan. Ia pun menerobos hujan itu. Ia sempat takut di jalan karena ada petir.
Chanyeol yang ada dirumah merasa khawatir. Satu poin yang belum pernah ada pada diri Chanyeol, menghawatirkan wanita selain Ibunya. Bahkan dulu saat Ia berpacaran tidak pernah khawatir sampai seperti ini.
Sesampainya di rumah, Chanyeol melihat Wendy basah kuyup. Ia hanya memandang Wendy, tak mengatakan apapun.
Wendy yang tadinya merasa Chanyeol akan mengatakan sesuatu beralih menuju ke dapur karena Chanyeol tidak mengatakan kata sedikitpun. Sungguh Chanyeol kelewat cuek. Harusnya pria itu membawakan belanjaan Wendy atau apa, pasalnya yang lapar kan Chanyeol. Jauh dalam lubuk hati Chanyeol, Ia ingin mengomeli Wendy yang nekat menerobos hujan, namun Ia tidak mau melakukan itu.
Setelah berganti baju, Wendy langsung memasak, diam-diam Ia merasa kedinginan, namun tidak mau Chanyeol mengetahuinya.
Chanyeol merasa aneh pada Wendy, walau disembunyikan, Chanyeol tetap tahu kalau Wendy kedinginan. Chanyeol menyalakan pemanas ruangan, membuat Wendy merasa sedikit hangat.
Saat memasak, Chanyeol menatap Wendy. Ia melihat jari telunjuk kiri Wendy yang di plester. Ia ingin bertanya tetapi tidak jadi. Sebisa mungkin Chanyeol mencoba acuh tak acuh.
Tidak membutuhkan waktu lama, makan malam sudah tersaji. Tanpa Wendy duga, Chanyeol menghabiskan makanannya seperti tadi pagi, ya walaupun sedikit. Chanyeol, Ia menyukai masakan Wendy. Menurutnya sangat enak.
Namun entahlah, Wendy tidak nafsu makan. Ia izin pada Chanyeol untuk tidur. Chanyeol mengiyakan.
~
08.30 KST
Keesokan harinya, Chanyeol dan Wendy sudah rapi.
Sebenarnya, pegawai kantor belum ada yang mengetahui kalau Chanyeol dan Wendy sudah menikah kecuali Sehun dan Seulgi. Kemarin, Ayah Chanyeol hanya mengundang orang kelas atas. Bahkan Wendy mati-matian meminta Chanyeol untuk memasukkan Seulgi dan Irene ke dalam daftar tamu undangan. Pernikahan yang aneh. Tidak tahu pasti alasannya apa, tapi sepertinya Ayah Chanyeol sengaja meredakan rumor ‘gay Chanyeol’ yang sudah terdengar oleh para investor dan pemegang saham di perusahaan Park.
Saat memasuki Kantor, Wendy bersikap seperti biasa, sebagai anak magang. Bahkan senior-seniornya masih menyuruh Wendy ini itu yang berat-berat. Padahal kalau Mereka sekarang tahu kalau Chanyeol dan Wendy adalah suami-istri, Mereka pasti akan sangat menghormati Wendy. Chanyeol yang mengetahui hal itu sebenarnya tidak tega. Sekarang ini Ia heran pada perasaannya sendiri. Dulu bahkan Ia tidak peduli sama sekali pada Wendy di Kantor, namun sekarang berbeda. Mungkin karena Ia memiliki ikatan pernikahan dengan Wendy, walaupun bukan pernikahan umumnya yang berdasar cinta.
Wendy bertemu Seulgi di Kantor.
“Wendy! Kau kenapa sudah berangkat? Bukankah ini baru hari kedua pernikahanmu?” Tanya Seulgi.
“Memangnya Kita dirumah mau melakukan apa? Berbicara saja jarang” Ungkap Wendy jujur. Seulgi menjadi tidak enak mendengarnya.
“Maaf, Aku tidak bermaksud menyinggung hal itu. Lalu, Direktur berangkat?” Tanya Seulgi.
“Iya” Wendy menjawab singkat.
“Tunggu, wajahmu pucat. Kenapa?” Seulgi menatap wajah Wendy.
“Pucat? Mananya? Aku baik-baik saja” Wendy menyangkalnya.
“Sungguh, aku tidak berbohong, Kau pucat seperti saat pingsan waktu itu”
“Benarkah?”
“Iya, lebih baik Kau beristirahat, Direktur pasti akan memaklumi”
“Tidak, kemarin Aku sudah tidak masuk, hari ini pekerjaanku double. Kalau hari ini tidak bekerja lagi, besok juga pasti pekerjaannya akan semakin menumpuk”
“Aku tahu perasaanmu. Tapi cobalah beristirahat. Kemarin Aku sudah menghadapi seseorang yang pucat, sekarang lagi?”
“Memang siapa?”
“Sehun. Ibunya mening—”
Gawat. Seulgi keceplosan, Sehun bilang padanya untuk jangan memberitahu Wendy dan Chanyeol dulu tentang hal ini, namun Seulgi keceplosan.
“Mwo?!” Wendy bersuara keras sekali membuat orang-orang disana terkaget.
Wendy meminta maaf berkali-kali. Namun masih banyak yang tidak terima.
“Hey Son! Bicaramu keras sekali! Kurang ajar”
“Kalau bicara jangan keras-keras! Konsentrasiku pecah!”
“Dasar!”
Berbagai kata terlontar dari para karyawan, banyak yang berkomentar, banyak juga yang diam, lalu tak sedikit yang menatap Wendy tajam.
Seulgi tambah merasa bersalah.
“Kenapa Kau baru memberi tahu?” Wendy mengomeli Seulgi.
“Mian, Sehun hanya tidak mau memberitahu berita buruk pada kalian. Kalian kan baru saja menikah”
“Kenapa tidak? Bahkan pernikahan ini adalah berita buruk” Wendy merengut.
“Tidak. Aku yakin suatu hari akan ada hikmahnya” Ujar Seulgi.
Wendy hanya mengulum senyum.
Saat makan siang, Wendy mendengar berbagai percakapan yang membuatnya diam.
“Kalian tahu? Direktur Park sudah menikah 2 hari lalu. Kenapa Ia tidak mengundang kita ya?” Ujar seorang karyawan.
“Benarkah? Bukankah Ia gay?”
“Mungkin pernikahan itu hanya akal-akalan. Dan kalian tahu? Mantan calon tunangannya ada disini” Lanjut pegawai yang lain dengan menunjuk seorang wanita yang sedang membeli coffee.
Wendy mengikuti arah telunjuk karyawan itu. Wanita yang ditunjuk begitu modis dan kelihatan dari penampilannya kalau orang itu kaya. Wendy menghela nafas. Ia meninggalkan kantin, Seulgi mengikutinya.
“Waeyo?” Tanya Seulgi bingung.
“Aku hanya tak mau mendengar gosip-gosip yang menyangkut diriku” Ujar Wendy.
“Lihatlah, Kau bertambah pucat” Seulgi memeriksa suhu tubuh Wendy.
“Kau sepertinya demam”
“Tidak. Aku baik-baik saja. Hatchi!!”
“…Dan flu juga” Kata Seulgi lagi.
“Ini Cuma bersin biasa”
Seulgi menghempaskan nafas, Wendy memang keras kepala seperti Sehun.
~
Wendy selesai mengerjakan tugasnya dengan baik, walaupun Ia terkadang memijat kepalanya yang terasa pening. Mungkin ini karena Ia kehujanan saat pergi ke supermarket tadi malam, Ia juga bersin-bersin. Untungnya kemarin Ia membeli banyak bahan untuk memasak, jadi hari ini Ia tidak perlu repot ke Supermarket.
Chanyeol memberikan Wendy tumpangan, tidak seperti pagi tadi. Tadi pagi Wendy berangkat dengan bus.
Di mobil, Wendy semakin merasa pening.
Sesampainya dirumah, Wendy berdiri dengan sempoyongan. Chanyeol bingung sendiri. Ada apa dengan Wendy? Chanyeol melihat wajah Wendy yang pucat. Ia terkejut saat tiba-tiba Wendy pingsan, untung saja Ia sigap menangkapnya. Ia menggendong Wendy menuju kamarnya.
“Dasar bodoh! Kalau sakit seharusnya tak usah bekerja dulu” Chanyeol mengatakan itu saat membaringkan Wendy di kamar.
Chanyeol menatap wajah Wendy.
“Apa yang harus kulakukan?” Gumamnya. Ia belum pernah mengurusi orang demam sebelumnya.
Akhirnya Chanyeol menelepon Dokter yang biasa memeriksanya saat sakit. Tak butuh waktu lama untuk dokter itu sampai di rumah Chanyeol.
“Tenang saja, Nona Park hanya demam” Ujar Dokter itu memanggil Wendy Nona Park. Memang benar kan? Wendy sudah sah menjadi istri Chanyeol. Chanyeol merasa ganjal dengan 2 kata itu, namun Ia hanya mengangguk.
Setelah Dokter pamit, Chanyeol mengompres Wendy seperti yang dikatakan Dokter. Ia sendiri heran kenapa mau melakukan hal ini. Hatinya yang menyuruh. Terpaksa Chanyeol tidur malam sekali karena merawat Wendy. Bahkan Ia sempat tertidur di sofa kamar istrinya itu.
~
Pagi harinya, Wendy merasa seperti di tempat asing.
“Ah ya, ini kamar baruku” gumam Wendy setelah tersadar.
Dan kompres, wendy bingung dengan kompres itu. Ia mengingat-ingat sesuatu. Ia langsung memukuli kepalanya sendiri saat sadar tadi malam Ia pingsan karena demam.
“Apa Chanyeol yang menggendongku?” Tanya Wendy pada diri sendiri. “Bagaimana bisa Aku pingsan di depan orang itu?”
Dengan hati-hati Wendy keluar dari kamarnya. Ia mendapati Chanyeol sedang duduk di sisi meja makan dengan kopi dan roti selai di depannya. Wendy merasa bersalah karena tidak memasak untuk Chanyeol pagi ini. Jadi Chanyeol hanya memakan roti dan membuat kopi sendiri.
“Kau sudah bangun?” Tanya Chanyeol. Chanyeol merutuki mulutnya sendiri, kenapa Ia harus bertanya segala pada Wendy?
Wendy hanya tersenyum canggung.
Chanyeol menyerahkan segelas madu dan jeruk yuja pada Wendy.
“Ini bagus untuk flu” Ucap Chanyeol datar pada Wendy.
Wendy terkejut dengan perkataan Chanyeol. Sejak kapan Pria itu peduli padanya?
“Terima kasih” Wendy ingin duduk di sisi meja juga tetapi ada Chanyeol, jadi Ia mengambil gelas itu.
“Mau kemana? Minum disini saja” Kata Chanyeol dingin.
Wendy berbalik lalu duduk di seberang Chanyeol. Ia meneguk minuman itu tanpa melihat Chanyeol sama sekali.
“Jika Kau masih merasa sakit tidak usah berangkat kerja dulu”
“Tidak!” Sergah Wendy cepat. “Aku sudah sangat baikan” Wendy mencoba tersenyum pada Chanyeol.
Chanyeol menatap Wendy heran. “Benarkah?”
Wendy mengangguk yakin.
“Baiklah”
……………….
Wendy berangkat kerja bersama Chanyeol. Wendy meminta turun di halte bus agar orang Kantor tidak tahu kalau Mereka sudah menikah. Chanyeol menyetujui.
Saat di jalan menuju Kantor dari halte, Wendy melihat Sulli.
“Anyeong! Kau istri Chanyeol kan?” Tanya Sulli terdengar angkuh.
Wendy bingung harus menjawab apa. Beruntung tempat ini sepi.
“Tak usah canggung begitu. Aku Choi Sulli, mantan calon tunangan Park Chanyeol” Ujar Sulli menekankan kata ‘mantan calon tunangan Park Chanyeol’. Wendy tahu kalau Sulli adalah orang angkuh dengan melihat sikapnya.
“Ah ne, Saya istri Park Chanyeol. Son Wendy”
“Kenapa tidak berangkat bersama Chanyeol?” Sulli seakan mengintrogasi Wendy.
“Maaf, Saya terburu-buru” Wendy beralasan, Ia pergi meninggalkan Sulli.
“Aku tahu Kau hanya Istri sementaranya” Sulli tersenyum sinis. Wendy berhenti berjalan dan hendak berbalik, tapi tidak jadi. Ia kembali berjalan.
“Dasar orang miskin sombong! Tidak tahu malu!” Sulli mengumpati Wendy. “Tunggu saja apa yang akan kulakukan”
…………………………..
12.30 KST
Siang harinya, Wendy dipanggil ke ruangan Chanyeol.
“Ada apa?” Tanya Wendy pada Chanyeol.
“Laporan meeting tadi Kau yang membuat kan?”
“Iya”
“Lain kali jangan mau untuk mengerjakan tugas orang sekalipun Ia adalah seniormu”
“Ne?”
“Jangan mudah disuruh-suruh”
“Tapi, Dia senior saya. Kalau saya melawan pasti tidak baik”
“Bukankah sekarang Kau istri Direktur? Kau bahkan bisa mengajukan nama orang untuk kupecat jika memang orang itu tidak becus” Ujar Chanyeol.
Wendy menganga. Sejak kemarin, Ia merasa Chanyeol peduli padanya. Walaupun Chanyeol selalu memasang muka datar dan dingin padanya, tapi Ia merasa Chanyeol menaruh perhatian padanya.
‘Stop! Kau terlalu percaya diri Son Wendy! Dia tidak mungkin menaruh perhatian berlebih karena cinta. Dia pasti hanya kasihan. Ya, kasihan’ Batin Wendy.
“Kenapa melamun?” Tanya Chanyeol.
“Ah tidak” Sergah Wendy.
“Hyung!” Sehun masuk ruangan Chanyeol “Oh maaf mengganggu” Sehun membungkuk lalu keluar. Ia melihat sepertinya Chanyeol dan Wendy sedang berbicara serius.
Melihat Sehun, Wendy menjadi ingat apa kata Seulgi.
“Chanyeol-ssi, ah tidak, Direktur” Wendy bingung memanggil Chanyeol. Dirumah Ia biasa memanggil langsung namanya, tetapi kali ini Ia di kantor.
“Ada apa?”
“Apakah Anda tahu kalau Ibu Wakil Direktur Oh telah meninggal dunia?” Tanya Wendy.
“Mwo?” Chanyeol kaget.
“Aku baru saja tahu kemarin, padahal Ibunya meninggal saat hari pernikahan Kita” Ujar Wendy.
“Lalu kenapa baru bilang sekarang?” Chanyeol agak mengeraskan suaranya. Wendy menunduk takut.
“Kemarin saya sakit, jadi lupa memberitahu. Maaf”
“Lupakan, kau boleh kembali bekerja” Chanyeol berkata lalu keluar dari ruangannya. Ia menuju ruangan Sehun.
Wendy menghela nafas lalu keluar dari ruangan Chanyeol, baru saja Ia berpikir Chanyeol perhatian padanya, eh palah Chanyeol membentaknya tadi.
“Sehun, kenapa Kau tidak memberitahuku?” Tanya Chanyeol langsung pada Sehun.
“Memberitahu apa?” Tanya Sehun polos.
“Tentang Ibumu. Seharusnya Kau berkata padaku”
“Maaf Hyung. Aku hanya tidak mau merusak kebahagiaanmu”
“Tetap saja. Kau harus memberitahuku. Aku turut berbela sungkawa. Maaf tidak menghadiri pemakaman”
“Tak apa” Ujar Sehun.
“Kau harus bersabar” Chanyeol tersenyum dan menepuk pundak Sehun. Ia berniat kembali ke ruangannya.
“Hyung! Aku akan menyewa detektif terbaik di Korea untuk mencari pelaku sebenarnya”
“Baiklah. Aku akan membantumu” Ujar Chanyeol.
Sehun tersenyum.
Chanyeol keluar dari ruangan Sehun. Sebenarnya, Sehun memang ingin sekali mengetahui pelaku yang menabrak Ibunya waktu itu. Ia merasa ada yang aneh. Polisi bilang tabrakan itu hanyalah murni kecelakaan yang disebabkan oleh Ayahnya sendiri yang sedang menyetir waktu itu.
……………………………
Malam harinya, selesai kerja.
Sehun terlihat lesu, Seulgi menyapanya.
“Sehun! Kenapa melamun sih?” Seulgi menyenggol lengan Sehun. Ini sudah tidak di Kantor, jadi Seulgi bicara informal.
“Hey, Kau mengagetkanku!” Sehun mengomeli Seulgi tapi langsung tersenyum.
“Seulgi-ya, ayo makan malam diluar” Ajak Sehun.
“Mwo? Bagaimana dengan Yeri?” Tanya Seulgi.
“Ayolah, nanti Kau bisa memasakkan Yeri di rumah. Atau Kita bawakan makanan, ayolaah”
“Tidak Sehun. Aku kasihan pada Yeri, Ia sendirian di rumah”
“Ayolah Seulgi, anggap saja ini sebuah kencan” Kata Sehun.
Seulgi menatap Sehun.
“Ayo” Ucap Sehun lagi.
“Baiklah” Ujar Seulgi akhirnya.
Awalnya Seulgi kira Sehun akan mengajaknya ke restoran romantis atau apa, ternyata Sehun palah mengajaknya ke sebuah kedai ddukbokki. Apa-apaan Sehun ini.
“Kenapa? Kau tidak suka ddukbokki sekarang? dulu Kau menyukainya” Tanya Sehun.
“Tidak, Aku menyukainya” Jawab Seulgi cuek.
“Lalu kenapa tidak dimakan?” Sehun bertanya polos.
“Ini Aku makan” Ujar Seulgi sambil mulai menyumpit ddukbokki-nya dengan sedikit kesal. Sehun terkekeh.
Setelah keluar dari kedai ddukbokki, Sehun mengajak Seulgi pergi ke sebuah toko ice cream, namun Ia hanya membeli satu untuk dirinya sendiri tidak membelikan untuk Seulgi, menawarinya saja tidak, Seulgi menjadi malas, Ia pikir hari ini Sehun aneh.
Seusai dari toko Ice cream, Sehun menarik Seulgi masuk ke sebuah toko boneka.
“Mau apa kesini?” Tanya Seulgi.
“Mau membeli boneka lah, memangnya apalagi?”
“Kau bercanda Hun? Kau bahkan benci boneka dulu”
“Entahlah, tapi sekarang Aku ingin sekali kesana. Kupikir Kau akan suka”
Akhirnya Seulgi menurutinya, kali ini Seulgi masih kesal pada Sehun.
Tetapi sesaat kemudian, senyum Seulgi merekah saat melihat boneka teddy bear yang besar.
“Aigoo, imut sekali” Seulgi langsung memeluk boneka itu.
“Kau suka?” Tanya Sehun. Seulgi mengangguk, matanya berbinar-binar, Sehun mengacak rambut Seulgi.
“Kalau begitu belilah!” Ujar Sehun cuek, Seulgi kesal. Ia pikir Sehun akan membelikannya boneka itu.
“Heish, lupakan” Seulgi menaruh boneka itu kembali lalu pergi keluar dari toko boneka itu. Sehun tersenyum lalu mengejarnya.
“Beruang sedang marah ya?” Sehun menggoda Seulgi.
Seulgi hanya diam, Ia berjalan mendahului Sehun.
“Hey, Aku punya hadiah untukmu, jadi jangan marah” Ucap Sehun lagi.
Seulgi tetap saja berjalan tak mau menoleh pada Sehun.
“Ayolah, jangan marah” Sehun tetap berjalan di belakang Seulgi tanpa berniat berjalan bersebelahan.
Seulgi juga masih kesal dan tak berniat menoleh.
Seulgi terus berjalan, namun Ia merasa hanya berjalan sendiri, Ia menoleh ke belakang, dan benar saja. Sehun tidak ada di belakangnya. Seulgi tambah kesal. Ia berpikir Sehun seperti sedang bermain-main dengannya.
Seulgi kembali berjalan ke depan dan tiba-tiba Ia mendapat pelukan dari belakang. Seulgi menegang. Jantungnya berdetak sangat cepat.
“Biarkan seperti ini sebentar saja” Ujar orang yang memeluknya, tak lain adalah Sehun.
Seulgi merasa suara Sehun terdengar lemah. Kenapa Sehun begitu lemah seperti ini? Masalah apa lagi yang menghampiri? Padahal baru saja Ia tersenyum lalu sekarang apa?
Seulgi menunggu Sehun sampai Pria itu melepas pelukannya.
“Waeyo?” Tanya Seulgi menghadap Sehun saat orang itu melepas pelukannya. Ia melupakan semua rasa kesalnya saat melihat Sehun seperti ini.
Sehun diam, persis seperti saat Ia tiba-tiba datang ke rumah Seulgi saat Ibunya meninggal.
Seulgi menatap Sehun sambil menghela nafas, Ia menarik Sehun dan masuk ke mobil Pria itu, Sehun menurut. Seulgi yakin Sehun tidak akan membuka mulut di jalan yang terbilang ramai ini.
“Sekarang cerita padaku. Aku akan membantu bila Aku bisa” Tutur Seulgi.
Sehun menunduk kemudian melihat iris mata Seulgi yang terlihat serius.
“Ayah….” Sehun membuka mulutnya.
Seulgi menunggu ucapan Sehun selanjutnya.
“Ayah…. Ayah bilang akan menikah lagi” Ujar Sehun.
Seulgi terlihat terkejut, namun Ia segera menghilangkannya. Jadi ini alasan Sehun terlihat aneh hari ini? Senyuman Sehun memang terlihat terpaksa.
“Lalu, Mereka benar-benar akan menikah?” Tanya Seulgi.
Sehun menggeleng pertanda Ia belum tahu. “Ayah, Aku kira Ayah akan selalu setia pada Ibu, tapi Ia bahkan langsung berencana menikah setelah Ibu meninggal, bahkan sekarang belum genap satu minggu. Aku marah padanya sekarang. Malas pulang”
“Sehun-ah, mungkin Ayahmu butuh pendamping untuk mengurusi bisnisnya, dan juga Ia mungkin butuh orang untuk menemanimu saat Beliau tidak dirumah, mencari seseorang yang mau memasakkan makanan untukmu dan Ayahmu setiap hari” Seulgi menggenggam tangan Sehun.
“Tidak, Aku tidak butuh teman dirumah. Dan juga, bukankah pembantu bersedia memasakkan makanan untukku dan Ayah?” Sehun berkata masih menatap Seulgi.
Seulgi hanya bisa diam, ucapan Sehun tidak salah.
“Sehun, Aku tahu bagaiana perasaanmu. Tapi, Aku yakin Ayahmu akan memikirkanmu sebagai Anaknya dan akan berpikir ulang mengenai pernikahan” Seulgi tersenyum.
“Tidak, Aku.. Aku hanya tidak percaya Ayah memiliki rencana seperti itu. Saat Aku mendengar Ayah meminta izinku untuk menikah lagi, kurasa Ayah terdengar kejam. Aku terus menolak dan tak mengizinkan hal itu. Aku pikir Ayah tidak menyayangiku dan Ibu” Ucap Sehun.
“Aku tahu Beliau sangat menyayangimu Sehun. Aku melihatnya sejak dulu Kita berteman”
“Buktinya? Ia tidak menyayangiku dan Ibu”
“Buktinya bukankah Ayahmu merasa sangat terpukul saat Ibumu meninggal?”
Sehun terdengar berpikir tentang pertanyaan Seulgi tersebut. Saat Ibunya meninggal, Ayahnya memang terlihat terpukul, namun tidak sesedih dirinya.
“Tidak, Ia tidak sesedih diriku”
“Itu karena Beliau sudah mengikhlaskan Ibumu”
“Bagaimana bisa Ia ikhlas secepat itu?”
Seulgi memutar bola matanya jengah, Sehun ini manja dan keras kepala sekali.
“Sehun, coba nanti Kau rundingkan hal ini bersama Ayahmu, Kau tidak boleh langsung menyalahkan Ayahmu. Mungkin Ia hanya meminta pendapatmu, bukan untuk meminta izin darimu. Aku yakin hati seorang Ayah pasti tidak tega melukai perasaan Anaknya” Seulgi tersenyum manis saat mengatakannya.
Sehun memberi tatapan seolah mengisyaratkan kata ‘benarkah itu?’
“Setelah beberapa tahun berteman denganmu, Aku tahu bahwa Ayahmu adalah orang baik. Ia begitu tulus menyayangimu. Begitupun Ibumu. Keluargamu sangat harmonis. Aku merasa menjadi bagian dari keluarga kalian saat kedua orangtuamu mengobrol dan bercanda denganku. Saat itulah Aku merasa hidupku tidak lagi gelap. Aku memiliki teman yang baik sepertimu dan memiliki orang yang bisa memberiku sedikit perhatian sebagai orangtua” Seulgi menatap kosong. Tangannya masih menggenggam tangan Sehun. Sehun yang melihat mata Seulgi berkaca-kaca menjadi bingung harus bereaksi apa.
“Kau tahu Aku tidak memiliki orangtua kan? Kau pasti tidak tahu bagaimana rasanya kesepian dirumah dan harus melakukan apapun sendiri bersama saudaramu tanpa orangtua. Aku melakukannya selama bertahun-tahun. Tidakkah Kau beruntung masih memiliki Ayah di sisimu?” Seulgi mulai membendung air matanya.
“Maksudku bukan be—”
“Kalau begitu berbaikanlah dengan Ayahmu. Kau akan menyesal jika tidak melakukannya” Seulgi memotong kata-kata Sehun.
Sehun mengelap airmata yang jatuh dari mata indah Seulgi. “Mianhae, pembicaraan Kita berujung seperti ini”
Seulgi tersenyum. “Tidak apa-apa. Tapi Kau harus berbaikan pada Ayahmu. Aku yakin Kau juga menyayangi Ayahmu, walau tak sebesar rasa sayangmu pada Ibumu”
Sehun menyetujuinya. Ia akhirnya sadar bahwa Ayahnya ingin melakukan yang terbaik untuknya. Memang Ia tak pernah bisa membenci Ayahnya. Ayahnya selama ini memang baik sekali pada Sehun. Ia dalam hati sangat berterima kasih pada Seulgi.
Selanjutnya, Sehun dan Seulgi sama-sama diam, Sehun terlihat memikirkan sesuatu dengan keras, wajahnya juga terlihat gugup.
“Seulgi-ya, Aku sebenarnya punya sebuah rencana menikah juga tahun ini” Sehun berucap di sela-sela keheningan. Seulgi membulatkan matanya. Dadanya bergemuruh.
“Be.. benarkah?” Hanya kata itu yang terucap dari mulut Seulgi. Ia merasakan cemburu di hatinya.
Sehun mengangguk. “Aku sudah melakukan banyak persiapan, Namun Aku masih belum menyatakan perasaanku pada orang yang ingin kunikahi. Tapi yang pasti wanita itu sangat cantik dan baik”
Seulgi merasa dadanya sesak mendengar itu. Kenapa Sehun mengatakan hal itu padanya?
“Aku ingin sekali menyatakan padanya tentang perasaanku. Bahkan Aku ingin menyatakannya sekarang juga” Sehun berucap jujur dengan senyum yang terpatri di wajah tampannya yang tidak lagi bersuara lemah seperti tadi.
Muka Seulgi semakin terlihat kecewa, marah, sedih bercampur menjadi satu.
“Kalau begitu temui wanita itu sekarang dan nyatakanlah. Wanita itu pasti akan menerima pria baik sepertimu” Ucap Seulgi dengan dada yang terasa semakin sesak. Ia sendiri tak percaya bisa mengatakan hal itu, padahal sebenarnya Ia sangat ingin menikah dengan orang yang dicintainya, tak lain adalah Sehun. Ia sudah mencintai Sehun sejak dulu. Lalu apakah penantiannya pada Sehun sia-sia seperti ini?
“Haruskah?” Sehun terlihat gugup.
Tak terasa mata Seulgi kembali berkaca-kaca dan airmatanya terbendung bersiap keluar. Ia menunduk.
“Kang Seulgi” Panggil Sehun. Seulgi ingin menatap Sehun tapi Ia tidak bisa karena matanya sudah memanas.
Sehun memegang dagu gadis itu lalu menghadapkan wajah Seulgi padanya. Sehun kaget melihat airmata di wajah Seulgi.
“Kenapa?” Tanya Sehun khawatir.
Seulgi menyeka airmatanya cepat. “Tidak, Aku hanya bahagia mendengar rencanamu akan menikah tahun ini. Wanita mana yang sangat beruntung bisa menikah denganmu?” Ia mengatakannya dengan suara parau khas orang menahan tangis. Dan tersenyum paksa.
Sehun tersenyum lagi.
“Kau berpikir begitu? Kalau begitu Kau adalah wanita beruntung itu” Sehun mengucapkannya dengan mantap, berusaha melawan detak jantungnya yang berpacu cepat yang membuatnya gugup.
Seulgi yang mendengarnya langsung tercengang. Ia tidak begitu maksud dengan perkataan Sehun.
_TBC_
Halo. Ini chapter 5 nya guys. Aku banyakin Seulhun moment nih.
So, RCL juseyoo! (

31 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] All Is Patient (Chapter 5)”

  1. Yawlaaa itu bapaknya sehun udah mau nikah lagi ajaa😌😌 padahalkan baru aja ibunya sehun ninggal 😢😢 jahatt hikss

    Cieeee seulgiii diajak nikah sama sehunn (?)

  2. OMG seulgi di lamar sehun so sweet deh…yg tadi nya udh kecewa, dan pasrah denger berita begitu gk tau nya wanita yg di mksd sehun itu seulgi…Cye cye kapan yeh gw begitoh #ngarep bat loh

  3. Pasti Chanyeol udah mulai naksir sama Wendy tuh yuhuuuu~
    Coba tolong Sulli jgn jadi jahat, jangan ganggu wenyeol:(
    Omoooo!! Akhirnya Sehun ngelamar Seulgi juga aaaaaaa suka❤

  4. Wah bahagianya seulgi…wendy msih merana gara2 chanyeol…chanyeol sifat n sikapya bkin bingung…ternyata jongdae toh tetangga chanyeol dikira tkg kebun.

  5. GUPYAAAAAAAAA GEBYAR HORAA Seulgi ama Sehun!!!!!!! eh author-nim kenapa nggak dipost di blog pribadi? ff bagus lohhhh~ aku seringnya commmentar di WP Pribadimu author-nim. salam kenalll ya, bias saya Baekhyunnnnn~

    1. Iya nih, belum sempet ngepost di wp pribadi.
      Salam kenal clara! 😊
      Terima kasih komentarnya yaa. Aku kira di wp pribadiku gak ada yang komen. Hiks hiks
      Waah baekhyun ya? Biasku mmm siapa ya? Haha. Aku mulai suka nct soalnya. 😁😁

  6. asiiiik, update jg akhirnya! yeeeah, sehun ngelamar seulgi??? waaah, so sweet. btw itu chanyeol kynya udh mulai punya hati buat wendy. penasaran sm kelanjutannya thooor!!

  7. eonni banyak”in part seulhun ya.*soalnya gue nge-ship mereka^^

    sehun sweet bgt jadi baper gue.

    mian baru bisa komen sekarang soalnya baru buat email.

    eonni daebakk………!!

    ditunggu chapter berikutnya^^

  8. Apakah kematian ibu sehun perbuatan ayahnya, mana mngkin baru jga ditinggal mati seminggu udah mau nikah lagi, jgan jgan mau nikah sama ibunya wendy ?
    Ahh sehun romantis banget, tapi kasian juga seulgi dipermainkan kaya gitu :v

    1. Aku blsnya jdi satu gppkan yak..wkwkw

      Hwahaha.. pantesankak..kkk
      Tdi smpet mikir kok pnya aku blm d bls, apa kakknya lupa gtu..eehhh ternyata..hihihi adi d atass..
      sma kaya kak eki kmaren jga^^v
      Iya gpp kak 🙂
      Iya nih lebih panjang dri yg sbelumnya,
      Aku jga ngrasa klo part ini jga lebih panjang kak..
      Ok kakk aku tunggu kok^^
      Ne you’re wellcome..hihihi

  9. wuhuu. komentarmu lebih panjang dari yang kemarin kemarin. 😁
    ditunggu chapter selanjutnya yaa. habis lebaran mau update. heheh. 😊. thanks young komentarnya ^^

  10. Waa ini ditunggu banget
    Aku seneng aja liat se-ulgi barengan
    Kayaknya mereka bakalan kelewat romantis daripd chan-dy.
    Lanjut ya kak.

  11. Sehun ngelamarnya sweet banget pengen cepet” cerita nya lanjut, terus pengen chanyeol nya gak dingin lagi ke wendy, tapi salut sama chanyeol yang dingin kaya gitu bisa khawatir, ya walaupun gak berani bilang kalo dia khawatir sama wendy
    Pokoknya ditunggu lah next chapternya
    Fighting kak 🙌

  12. Itu sehun kok sweet ya ngelamarnya? Jadi ngeblush ane..😳😳
    Eh Yeol, kalo perhatian terus terang aja, jangan disembuyiin, ntar nyesal lo. 😊
    Sulli, kaukah antagonis disini???😂😂 duh bang chen, ada part nyanyi gak disini? (*yaelah tong, ini ff bukan konser, masa chen lo suruh nyanyi..😂)
    Ditunggu next chapnya ya thor, hwaiting!!😄

  13. Hwaa daebakk..

    Ehhh.. jdi namja yg sma wendy itu jongdae oppa toh, kirain siapa gtu..hihihi
    Eits., ternyata wendy pernah suka sma jongdae?? , itu kliatanya jga klo jongdae suka tuh sma wendy tpi terlambat..

    “Chan, Kau tega sekali membiarkan istrimu memasak sendiri, pengantin baru kan harus romantis, memasak bersama dong!” benerr tuh kata yoora eonni..hihihi

    Wah chanyeol udah mulai perhatian tuh sama wendy..kkk

    “Dasar orang miskin sombong! Tidak tahu malu!” Sulli mengumpati Wendy. “Tunggu saja apa yang akan kulakukan”..Aishh kau itu yg tidak tahu malu..ck mau apa?? Aduhh sulli mau apa dia sma wendy, jgn bilang klo mau ngehancurin rumah tangganya wendy and chanyeol!
    Sehunn oppa mah gtu.. bisa aja..kkkk
    Mau dongg..wkwkwk^^v

    Aiishh kok ayahnya sehun mau nikah lg sih gx mikir apa klo istrinya bru mninggal..iish
    Next kakk dtunggu klanjutanya ya 🙂
    Fighting!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s