[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (Chapter 8A)

COVER EXOFFI CHOOSE ONE

Title : Choose One

Author : RF.Aeri

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Sad

Rating : PG-17

Cast : Bae Irene RV, Oh Sehun EXO, Kang Seulgi RV

Main Cast : Son Wendy RV, Byun Baekhyun EXO, Kim Jong In EXO

 

Disclaimer : Fanfiction pertama yang dibuat Author real 100% buatan author, tapi beberapa bagian diambil dari kisah nyata autor*abaikan*. dan beberapa bagian terinspirasi dari drama korea dan cerita-cerita romance lain. Dan ingat! Typo bertebaran dimana-mana, maklum pemula. Okey cukup basa basinya, selamat membaca~ ^_^

CHAPTER 8 A

Sehun mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, Sehun sedang menuju apartement-nya. Sehun tidak dapat mengendaikan amarahnya. Tidak peduli kecelakaan atau tidak, Sehun tetap terus mengendarai moblnya dengan kecepatan penuh.

Di dalam apartement, Sehun hanya berjalan kesana kemari. Sesekali berteriak kesal, megacak rambutnya. Lalu Sehun berhenti di depan cermin ukuran sedang. Sehun menetapi dirinya di cermin itu.

Apa aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan Irene? Apa aku hanya akan berdiam diri disini? Lantas apa yang harus aku lakukan? Menuju rumah sakit?. Ucap Sehun dalam hati. Sehun menatapi terus dirinya dalam cermin.

Deg! Sehun melihat sesuatu di cermin.

Irene?.

Sehun melihat sosok Irene di cermin, Sehun benar-benar kaget. Irene terlihat sedang tersenyum penuh kesedihan, dengan cepat, Sehun berbalik ke belakang, dan … tidak ada siapapun disana.

Sehun kembali menatap dirinya dalam cermin. Bayangan Irene terlihat kembali, perlahan tapi pasti, bayangan itu mulai mendekat, bayangan Irene menyentuh pundak Sehun, meskipu itu hanya bayangan, tetapi Sehun dapat merasakan sentuhan Irene.

Apa kau hanya akan diam disini? Apa kau akan melupakanku? Apa kau akan meninggalkanku? Hm? , Bayangan Irene berbicara dengan sedikit senyuman yang dapat di lihat Sehun dari cermin.

Sehun segera bangun dari tidurnya, wajah dan badannya penuh dengan keringat, Sehun melihat sekitar, tidak ada siapapun.

“Hanya mimpi?” Sehun bergumam. Sehun diam sebentar, lalu ia tiba-tiba teringat sesuatu, ia segera berdiri, menuju kamarnya.

Sehun melihat jam dinidng yang menempel di dinding kamarnya, waktu menunjukkan pukul 10 pagi, pagi?.

Ketika Sehun pulang ke apartement-nya, Sehun sangat shock dengan kejadian yang menimpa kekasihnya. Itu membuat Sehun tertidur semalaman, dengan keadaan pakaian yang belum diganti.

Dan soal mimpi itu, Sehun merasa itu benar-benar nyata, hawa keberadaan Irene sangat terasa, seperti Irene benar-benar datang ke apartement-nya.

Sehun mengambil handuknya dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sehun mengambil ponselnya yang berada di atas meja belajarnya, lalu memasukkannya kedalam saku jeans yang ia pakai, lalu segera menuju luar kamar. Sehun kembali bercermin di cermin. Merapikan sedikit rambutnya, lalu menatap dirinya lagi.

Haruskah aku pergi ke rumah sakit? Aku tidak tega melihatnya seperti itu, tiba-tiba Sehun teringat darah yang menagalir dari belakang kepala Irene kemarin. Apa Irene baik-baik saja?.

Tiba-tiba, ponsel Sehun bergetar, dengan cepat ia mengambilnya. Ternyata itu panggilan dari Baekhyun.

“Ada apa?” Sehun membuka percakapan.

Apa kau tidak akan pergi ke Universitas?

“Sepertinya tidak akan” Sehun menghembuskan nafas panjang.

“Baiklah kalau begitu. (ya, apa kau dengar berita terbaru? Joy mengikuti Irene ke rumah sakit, lalu Joy melihat Seulgi masuk ke ruangan Irene saat tidak ada siapapun, Joy mendengar teriakan Irene. aku tidak tau itu benar apa tidak, yang pasti, Joy mengatakan, ia sangat kasihan kepda Irene)” terdengar suara mahasiswi sedang asyik mengobrol, mendengar hal itu, tiba-tiba amarah Sehun naik, dan kini sudah berada di puncaknya.

Sehun langsung mematikan panggilan, menatap cermin sebentar, lalu menonjokknya hingga cermin itu pecah. Sehun segera berlari keluar apartement dan segera menuju parkiran.

Sehun membuka kunci mobilnya lalu masuk kedalam mobilnya. Sehun menyalakan mesin mobil lalu menancap gas, sekencangnya. Tanpa Sehun sadari, tangannya terluka akibat ia menonjok cermin. Darah terus mengalir dari tangannya.

Sehun memarkirkan mobilnya di area parkir rumah sakit. Dengan cepat Sehun keluar dari mobilnya, Sehun berlari menuju dalam rumah sakit. Tidak lupa membawa dan mengunci kembali mobilnya, Sehun Menuju tempat informasi.

“Permisi, apa ada pasien yang bernama Bae Irene?” Tanya Sehun kepada suster yang sedang bejaga.

“Tunggu, akan saya cek dulu”

Sehun menunggu, suster itu mengecek.

“Oh ada, di ruangan VIP no 20” Suster itu menunjukkan arah.

Kamsahamnida” Sehun membungkuk lalu segera mencari ruangan no 20.

Setelah hampir 7 menit mencari, akirnya Sehun menemukan kamar yang di tempati Irene. Sehun hanya berdiri dan diam di depan pintu runagan no 20. Menghela nafas capek, butuh perjuagan untuk datang ke ruangan VIP ini, sebab, Ruangan VIP berada di lantai 6 rumah sakit.

Saat Sehun sedang berdiri di depan pintu, seseorang berjalan kearahnya. Ia adalah ibu Irene.

Neo, Nuguya?” Ibu Irene memulai percakapan. Sehun tersadar, dan segera melihat kearah suara, lalu membungkuk sopan.

Annyeong Haseyo, aku te.. teman Irene” Jawab Sehun ragu.

“Kau mau menjenguk Irene?” Tanya ibu Irene, Sehun hanya mengangguk, mengiyakan.

“Oh begitu, terimakasih sudah mau menjenguk Irene. tetapi Irene baru saja tertidur” Ujar ibunya.

“Tidak apa-apa, aku akan menunggunya” Sehun tersenyum. ibu Irene hanya mengangguk. Tetapi tiba-tiba, raut wajah ibunya berubah.

“Tetapi, jika kau menunggunya hingga Irene bangun, akan percuma” Raut wajah Ibu Irene menunjukkan ekspresi sedih.

Wa.. waeyo?” Tanya Sehun terputus-putus.

“Irene mengalami hilang ingatan untuk sementara” Mata Ibu Irene memerah.

“Apa penyebabnya?” Sehun tersentak kaget ketika mendengar itu.

“Karena benturan yang sangat keras dan stress” Ibu Irene menitikkan air matanya, “Aku belum bisa menjadi ibu yang baik untuknya” Lanjutnya sambil menghapus air matanya.

Sehun hanya terdiam, mematung. Lalu ibu Irene menepuk pundak Sehun pelan, membuat Sehun tersadar.

“Baiklah sepertinya penjelasannya sudah. Aku ingin menitipkan Irene sebentar, aku ada urusan sebentar, apa tidak apa?”

“Ne, baiklah” Sehun mengangguk. Ibu Irene berjalan menuju luar rumah sakit.

Dengan ragu, Sehun masuk ke ruangan Irene, Irene masuk kamar VIP. Sehun dapat melihat dengan jelas, seorang perempuan cantik, yang sangat ia sayangi sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit yang berwarna putih itu.

Jarum infus tertancap di tangan kanan Irene, kepalanya di balut perban, di sebelah ranjangnya terdapat pengejut jantung dan beberapa alat medis lainnya.

Sehun duduk di kursi yang berada di dekat ranjang rumah sakit, ia menatap Irene, rasanya ia ingin menangis, tetapi tidak bisa, Sehun meraih tangan kiri Irene, menggenggamnya erat.

Suara pintu ruangan terbuka. Dengan cepat Sehun melihat ke sumber suara, ternyata yang datang adalah Wendy. Wendy melihat Sehun kaget. Lalu Wendy membungkuk sopan, lalu berjalan menuju sofa yang ada di dekat jendela. Menyimpan barang yang ia bawa. Lalu duduk.

“Wendy-ya, apa Irene ingat kepadamu?” Sehun menatap Wendy.

Eung, Irene mengingatku” Wendy mengangguk.

Geurae, siapa saja tidak Irene ingat?” Suara Sehun bergetar.

“Hampir semuanya, bahkan kepada ibunyapun ia tidak ingat, dan sunbae-pun, tidak ia ingat” Wendy berdiri dari duduknya, berjalan kearah jendela lalu menghadap ke luar.

“Apa kau tau, apa saja yang terjadi pada Irene?” Sehun-pun ikut berdiri, menghampiri Wendy.

“Kemarin aku bersama dengan ibu  Irene untuk menemui dokter, dokter bilang, Irene mengalami hilang ingatan untuk sementara, itu di sebabkan benturan yang keras dan stress, lalu tulang bahu kirinya retak, dan Irene mengalami pendarahan di bagian kepalanaya” Wendy menjelaskannya dengan detail. Sehun hanya bisa diam, matanya membulat, tidak percaya, separah itu kah? Apa kau dapat bertahan?, Sehun berbicara dalam hati.

“Tenang sunbae, dokter berkata, Irene itu perempuan yang kuat, pemulihannya-pun sangat pesat. Biasanya, pasien-pasien yang mengalami hal serupa dengan Irene mebutuhkan pemulihan yang lama. Irene hanya membutuhkan sehari untuk pemulihan, dan hari-hari berikutnya untuk istirahat dan ‘perbaikan’ tulang bahunya” Wendy berbalik dan melihat Sehun sedang menundukkan kepalanya.

“Baiklah” Sehun mengangkat kepalanya.

“Tetapi, tadi pagi. Pukul 7. Sesorang datang dan membuat kondisi Irene menjadi tidak stabil, tulang bahunya mengalami keretakan yang lebih. Dengan cepat, para dokter menangani Irene dengan baik. Tetapi kemungkinan besar tangan kiri Irene tidak bisa di gerakkan lagi, tetapi dokter berusaha dengan keras untuk menyembuhkan Irene” mata Wendy berkaca-kaca. Sehun membulatkan matanya, tidak percaya.

kenapa hal seperti ini terjadi padaku? Kenapa Irene?. lagi-lagi Sehun berkata dalam hatinya.

“A.. apa Irene sedang tertidur?” Sehun berkata dengan suara yang bergetar, lebih dari yang sebelumnya. Wendy hanya menggeleng lalu menundukkan kepalanya.

Tiiiiiiittttttt………

Suara dari alat medis yang berada di sebelah ranjang Irene berbunyi, sontak membuat Sehun dan Wendy menghampiri ranjang Irene. irene terlihat seperti sedang mencari oksigen, badannya bergerak, dengan cepat, Wendy memencet tombol yang tertempel di dinding ruangan, memanggil dokter.

Seling satu menit, dokter telah datang bersama para suster. Dengan cepat, dokter dan suster menangani Irene.

“Maaf, silahkan menunggu di luar” salah satu suter menyeret Wendy dan Sehun untuk keluar dari ruangan. Pintu di tutup.

Sebelum keluar ruangan, Sehun sempat melihat sebuah jarum suntik di suntikan ke tangan Irene. Tanpa Sehun sadari, ia menitikan air matanya.

Sehun menghapus air matanya, sebelum ada yang melihatnya. Wendy dan Sehun sedang menunggu di kursi tunggu, Wendy hanya menggigiti kukunya sendiri. Sementara Sehun, ia menautkan kedua tangannya, berdoa sambil menutup matanya.

Sehun dan Wendy sudah menunggu hampir 20 menit, tapi dokter tidak kunjung keluar dari ruangan Irene. Sehun mulai cemas, begitupun dengan Wendy.

“Apa Irene akan baik-baik saja?” kata Sehun tiba-tiba.

“Dia pasti baik-baik saja, Irene perempuan yang kuat” Wendy berkata sangat yakin.

Setelah itu, tidak ada yang berbicara lagi. Sampai akhirnya, dokter keluar dari ruangan Irene. dengan cepat, Sehun dan Wendy menghampiri dokter itu.

“Dok bagaimana dengan keadaan Irene?” Tanya Wendy terburu-buru.

“Dia akan baik-baik saja, Ia sudah melewati masa kritisnya” Dokter itu tersnyum.

“Ahh… syukurlah” Wendy bernafas lega, “Kapan Irene akan sadar?” lanjut Wendy.

“Mungkin sekitar beberapa jam lagi, dia akan tersadar. Yasudah, saya pergi dulu” Dokter meninggalkan ruangan Irene.

***

1 bulan berlalu, Sehun menjalani kehidupan kampusnya seperti biasa, belajar, presentasi, mengerjakan tugas, dan banyak hal, termasuk mengunjungi kekasihnya di rumah sakit.

Keadaan Irene kian membaik, Sehun sangat senang mendengarnya, dan juga sedikit demi sedikit, ingatan Irene mulai pulih, Irene mulai mengingat Sehun dan ibunya, tetapi belum dengan temannya yang lain. Setiap hari, ada saja yang menjenguk Irene, itu membuat Irene sangat senang.

Alat-alat medis yang berada di ruangan Irene kini mulai berkurang, hanya tersisa alat infus dan alat medis ringan. Perban di kepalanya sudah di lepas.  Sehun sedang duduk di sofa dekat jendela, Sehun sedang membaca buku, sedangkan Irene sedang sarapan di temani Wendy dan Ibunya.

Terdengar suara-suara dari televisi, rupanya, Irene, Wendy dan Ibu Irene sedang menonton televisi, terkadang terdengar tawaan Irene, Wendy dan Ibunya yang membuat Sehun tersenyum sebentar, lalu melihat kearah Irene tersenyum, Irene-pun melihat kearah Sehun dan tersenyum.

“Eo, Irene-ah, sepertinya Eomma akan keluar sebentar, tak apa kan?” Ibu Irene berdiri dan mengambil tasnya, Irene hanya mengangguk sambil tersenyum.

Ibu Irene membuka pintu dan berhenti sebentar.

“Irene-ah, ada yang ingin bertemu deganmu” teriak Ibu Irene

“Suruh masuk saja” jawab Irene.

Tak lama kemudian, seorang perempuan masuk ke ruangan Irene, wajahnyanya tidak terlihat karena perempuan itu menunduk. Akhirnya ia mengangkat wajahnya, dan… Seulgi.

Wendy tersentak kaget ketika melihat siapa yang datang, Irene-pun begitu. Sehun belum menayadarinya, sampai Irene berbicara, Sehun baru menyadarinya.

“Ada perlu apa kau datang kesini?” Irene membuka percakapan.

“Emmm.. apa boleh hanya kita yang berbicara beruda disini?” Seulgi memainkan jari tangannya.

Sehun dan Wendy melihat kearah Irene, lalu Irene mengangguk. Sehun dan Wendy keluar dari ruangannya. Irene mematikan televisi, sepi, tidak ada yang berbicara. Seulgi mearasa canggung, tetapi tidak dengan Irene.

Mianhae” ucap Seulgi sambil menundukkan kepalanya.

“Untuk?” jawab Irene datar.

“Untuk, semuanya, untuk semua yang sudah aku lakukan padamu, aku benar-benar minta maaf, tentang kejadian di atap Universitas itu, aku benar-benar sangat menyesal, hingga membuatmu seperti ini dan cuti kuliah, aku minta maaf” Wendy mengangkat kepalanya. Irene hanya diam.

“Irene-ah, apa kau mau memaafkanku?”

“Iya, tidak apa-apa, bukan sepenuhnya salahmu” Irene tersenyum.

Akhirnya, Seulgi dan Irene berbaikan , Irene mulai melupakan ingatan buruk tentang Seulgi. Mereka saling melempar senyuman.

“Apa kau akan pulang hari ini?” Tanya Wendy kepada Irene yang sedang membereskan baju-bajunya, walaupun membereskannya dengan satu tangan, tetapi Irene membereskannya dengan sangat rapih.

“Iya, Dokter sudah mengizinkanku pulang, sebentar lagi Eomma akan datang kesini” Irene tersenyum bahagia.

Wendy-pun tersenyum, ikut bahagia.

Irene telah selesai membereskan bajunya, Wendy sedang keluar sebentar. Di ruagan hanya ada Irene dan Sehun. Irene menghampiri Sehun yang sedang duduk di sofa sambil membaca novelnya.

“Sedang baca apa?” Irene duduk di sebelah Sehun.

“Novel sejarah” jawab Sehun datar.

“Ohh begitu, apa bukunya seru?” Irene bertanya lagi.

“Ya” jawab Sehun singkat.

“Sunbae, ada apa? Kenapa kau begitu cuek?” Irene mulai kesal karena sikap Sehun yang dingin kepadanya.

“Tidak” Jawab Sehun singkat, kini Irene benar-benar kesal, ia bergeser menjauhi Sehun, mepoutkan bibirnya kesal.

Menyadari itu, Sehun berhenti membaca dan memperhatikan tingkah kekasihnya itu, lucu sekali. Sehun tersenyum kecil, lalu bergeser mendekati Irene.

Aigoo~ kau ini” Sehun mengusap rambut Irene pelan.

“Sunbae” Irene menghadap ke arah Sehun dengan tatapan sinis.

“Hm?” Sehun menatap mata Irene.

“ Kau begitu menyebalkan ketika sedang membaca” mata Irene menyipit sinis. Sehun hanya tertawa kecil, lalu mencubit kedua pipi Irene.

“Aaaa!! Sakit! Lepaskan!” Irene mencoba melepaskan cubitan Sehun. Sehun melepaskan cubitannya, meninggalkan bekas merah di pipi Irene. Irene memegangi pipinya yang sakit.

“Irene-ah, aku akan selalu ada di sisimu” ucap Sehun secara tiba-tiba yang membuat Irene kaget.

“Kenapa tiba-tiba seperti itu?” Irene heran.

Percakapan mereka terhenti ketika seseorang masuk kedalam ruangan, Ibu Irene. Irene dan Sehun segera berdiri, Sehun membungkuk sopan lalu kembali ke posisinya semula.

“Eomma? Siapa yang ada di belakangmu?” Irene melihat seorang laki-lai berdiri di belakang Ibunya.

“Ahh… dia, ayah barumu” Ucap Ibu Irene sambil menarik tangan laki-laki itu. Irene hanya teridam.

“Ayah baruku?”Tanya Irene tidak percaya.

“Iya” Ibu Irene tersenyum.

“Sebentar, berarti kalian? Sudah menikah?” Irene menunjuk Ibu dan laki-laki itu. Ibunya hanya mengangguk.

“K..Kapan?” Irene mundur perlahan, ia menabrak Sehun, dengan cepat Sehun menahannya.

“Seminggu sebelum kau kecelakaan” Ekspresi wajah Ibu Irene berubah.

“Kenapa? Kenapa Eomma menyembunyikannya?” Tanya Irene.

Eomma tidak bermaksud untuk menyembunyikannya, hanya saja” belum selesai Ibunya berbicara, Irene sudah memotongnya.

“Hanya apa? Hah?! Sejak awal aku tidak setuju jika Eomma menikah lagi dan aku tidak setuju dengan pernikahan kalian, tapi kenapa? Kenapa kalian tetap melakukannya?! Bahkan kalian telah ‘melakukannya’” Irene berteriak kesal, air matanya menetes. Irene mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang rumah sakit, Irene pergi dari ruangannya. Dengan cepat, Sehun menyusul Irene.

“Irene-ah! Tunggu” Sehun menyusul Irene. Irene terus berjalan tanpa mempedulikan Sehun. Sampai akhirnya Sehun meraih tangan Irene hingga membuat Irene berbalik badan.

“Kenapa kau jadi sangat sensitif seperti ini? Kau tidak boleh seperti itu kepada orang tuamu” Sehun menatap Irene.

“Aku tidak suka! Aku tidak suka Eomma menikah lagi”Irene menundukkan kepalanya, menangis.

“Irene-ah, kau tidak boleh seperti ini, kau harus segera meminta maaf”

“Aku, Aku…. “ Irene menyandarkan kepalanya di dada Sehun. Sehun melepaskan tangan Irene. melihat sekitar, untung saja koridor sedang sepi, jadi tidak ada yang akan melihatnya.

Sehun mengusap kepala Irene lembut.  Lalu memeluk Irene erat.

“Mianhae” Sehun meminta maaf. Irene hanya terus menangis.

“Sudah malam, ayo kita pulang” Sehun berdiri dari duduknya, tetapi Irene menahannya dan memerinthakan Sehun untuk kembali duduk.

“Kau tidak ingin pulang?” Tanya Sehun. Irene mengangguk.

“Ahh baiklah jika itu keinginanmu” Sehun menyerah.

Sehun dan Irene sedang berada di taman kota, Irene ingin merilekskan pikirannya, selama ini, Irene terlalu larut dalam pikirannya, terlalu memaksakan diri.

“Irene-ah, ketika di rumah sakit, kau berkata kepada ibumu, telah ‘melakukannya’, maksudnya melakukan apa?” Sehun menatap wajah Irene yang sedang menatap orang-orang berlalu lalang.

“Sunbae tidak perlu tau” Jawab Irene datar.

“Ayolah, beritahu aku” Sehun memohon.

“Sunbae pasti tau, kelakuan seorang ibu yang sedang jatuh cinta terhadap lawan jenisnya” Irene menatap kearah Sehun yang masih belum mengerti.

“Eo, maksudmu, ‘Melakukan’ itu?” Sehun menadarinya, lalu tertawa kecil.

“Sunbae, kau kenapa?” Tanya Irene heran.

“Tidak” Jawab Sehun masih tertawa.

“Tck, pikiran sunbae, mesum” ujar Irene, membuat Sehun berhenti tertawa.

Wae? Laki-laki memang seperti ini” Sehun tersenyum kepada Irene, senyuman Sehun berbeda dari yang sebelum, sebelumnya. Senyuman Sehun membuat pikirannya jauh dan merambat kemana-mana. Pipi Irene memerah.

“Ada apa dengan pipimu hm?” Sehun menunjuk pipi Irene. Dengan cepat, Irene memegangi pipinya.

“Mungkin karena hawa disini panas, hanya itu saja” Irene terus memegangi pipinya yang semakin lama semakin memerah.

“Pikiranmu liar” Sehun mendorong pelan kepala Irene. lalu tersenyum.

“Ini karena kau Sunbae, kenapa kau tersenyum seperti itu kepadaku?” Irene kesal. Lagi-lagi Sehun hanya tersenyum, senyuman yang sama.

“Kau mau ‘melakukannya?’” Tanya Sehun tiba-tiba, membuat Irene kaget.

“Sunbae, kau bilang apa sih? Aku tidak mengerti” Irene mengalihkan pandangannya.

“Ahh lupakan” Sehun terkekeh pelan.

Setelah itu sepi, tidak ada yang berbicara, hanya terdengar suara orang-orang yang sedang mengobrol bersama teman-teman mereka, suara percikan air yang di hasilkan oleh kolam ikan, suara anak kecil menangis.

Ddrrtt.. ddrrtt.. ponsel Sehun bergetar, dengan cepat Sehun mengangkatnya. Sehun berdiri dan pindah ke tempat lain. Setelah hampir lima menit, Sehun kembali.

“Irene-ah, ada urusan penting di rumahku, jadi bisakah kita pulang sekarang?” Sehun terllihat begitu terburu-buru.

“baiklah” Irene berdiri. Sehun dan Irene berjalan menuju mobil Sehun yang terparkir di pinggir taman kota, letaknya lumayan jauh. Sehun menggenggam tangan Irene, sontak membuat Irene kaget. Tetapi Irene langsung membalas genggaman Sehun.

Irene membaringkan badannya di atas ranjang kamar Irene. rasanya hari ini sangat capek sekali. Keberadaan ayah baru Irene membuat Irene malas untuk keluar kamar, Irene keluar dari kamar hanya untuk mengambil makanan, dan setelah itu tidak keluar lagi.

“Menyebalkan” gumam Irene sambil memainkan ponselnya.

“Eo, kau sudah datang, Sehun-ah?” seorang laki-laki paruh baya itu menyapa Sehun.

“Ne, Abeoji, aku sudah datang” Sehun membungkukkan badannya.

“Sini, duduklah” Ayah Sehun menepuk sofa di sebelahnya. Sehun mengangguk lalu segera duduk di sebelah ayahnya.

Ketika Sehun duduk, sebuah pemandangan membuat Sehun malas untuk berada di tempat itu. Raut wajah Sehun berubah.

“Baiklah, Sehun-ah, to the point saja, Abeoji ingin kau segera memiliki pendamping hidup, Karena pasti Abeoji tidak akan selamanya hidup di dunia ini, selama ini kau hidup hanya denganku saja, Abeoji ingin kau segera menikah. Abeoji sudah memilih pasangan hidupmu” Ayah Sehun menepuk pundak Sehun.

“Namanya Kang Seulgi, bukankah ia cantik?” lanjut Ayah Sehun.

 

TBC

Akhirnya menuju Chapter akhir, Chapter ini Author bagi jadi dua bagian, soalnya kalo di gabungin bakal terlalu panjang. Hehe… , jadi tinggal 1 bagian chapter akhir lagi. Kayaknya Irene bakal ditinggalin*eh* engga, engga, liat aja di bagian chapter berikutnya. Jangan sampai ketinggalan loh!:D

Sebenernya chapter ini udah dibuat jauh jauh hari, tapi karena ketidak PD-an Author, jadi baru sekarang di publishnya, kkkk~.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (Chapter 8A)”

  1. Lah lah itu seulgi minta maaf gitu doang?? Kok gampang banget yak di maafinnya. Mana tau tau di jodohin sama sehun lagih. Jangan laaahhhh. Sehun sama irene ajaahhhh ._.
    -XOXO-

  2. Jangaannn!!! Pokoknya sehun harus sama irene#maksa^^v

    itu seulgi apaan sih..Aiish jinja.
    Sini tak unyel”.
    Sono gih jgn dketin sehun..ugh aku bner” kesel sma seulgi..ish
    seulgi itu bner” minta maaf gx sih sma irene?? / dia gx tau klo mau djodohin sma sehun??? Klo udah tau sharusnya dia nolak aja..Aishh
    Kakk ini ff smoga Happy Endingnya Sehun sma Irene dong yayaya, jgn sma seulgi.
    Jeball, persatukan irene and sehun klo perlu mnikah skalian deh#maksaamatya..kkk
    And smoga ayahnya sehun ngrestuin irene sma sehun deh..
    Jgn smpe aku kcewa deh d endingnya 😦
    Next kakk dtunggu klanjutanya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s